Badai Laut Selatan ; Bagian 117


Ayu Candra mengangkat mukanya dari dada Joko Wandiro. Akan tetapi, dalam keadaan seperti itu ia nampak makin jelita sehingga Joko Wandiro mengerutkan kening dan terpaksa ia mengalihkan pandang matanya.
"Hal itu harus kupertimbangkan lebih dulu, Joko. Memang semestinya aku mentaati pesan ayah, akan tetapi bagaimana mungkin aku diam saja karena ayah dan ibuku terbunuh orang? Akan kuselidiki mengapa ayah dan ibu sampai tewas di tangan orang dan Apa pula sebabnya ayah meninggalkan pesan seperti itu...... "
"Mungkin karena musuh itu luar biasa saktinya, Ayu. Melihat luka di dada ayahmu, memang pukulan itu amat luar biasa, keji dan hanya dapat dilakukan orang yang sakti mandraguna. Agaknya ayahmu tidak ingin engkau bermusuhan dengan orang sakti itu, demi keselamatanmu sendiri."
"Kalau itu sebabnya, tidak mungkin aku berdiam diri saja!" Ayu Candra berkata marah, mencabut sebatang rumput dan mengigit-gigit rumput itu di antara kedua baris giginya.
"Kalau sebabnya hanya karena musuh amat sakti, aku tidak takut. Dan aku yakin bahwa engkau akan suka membantuku. Bukankah engkau suka membantuku, Joko?"
"Tentu saja, Ayu. Akan tetapi amatlah tidak baik kalau tidak mentaati pesan terakhir ayahmu sendiri. Ada hal yang lebih penting.... lagi"
"Hal Apa lagi? Kalau menurut pendapatmu, aku harus bagaimana?"
"Daripada mencari musuh yang tidak diketahui siapa dan yang dilarang pula oleh ayahmu, lebih baik apabila engkau mentaati pesan ayahmu, pergi mencari Joko Seto tunanganmu, Ayu"
Tiba-tiba Ayu Candra meloncat bangun dan berdiri dengan muka merah dan mata terbelalak.
"Tidak mungkin!!" Ia membanting-banting kaki kanannya.
Joko Wandiro juga bangkit berdiri, membujuk.
"Mengapa tidak mungkin, Ayu? Ayahmu sudah meninggalkan pesan yang amat jelas. Joko Seto adalah putera Ki Darmobroto di kaki Gunung Merbabu. Biarlah aku membantumu, Ayu. Kita pergi bersama mencari rumah calon mertuamu............ "
"Joko.........!!!"
Ayu Candra menjerit, sepasang mata yang tadinya bersinar sayu itu kini memancarkan api kemarahan.
"Sekejam itukah hatimu? Seganas itukah engkau hendak menyiksa hatiku? Engkau hendak membalas karena engkau marah mendengar ayah menjodohkan aku dengan orang lain? Joko, kau tahu bahwa itu kehendak ayah, bukan kehendakku, dan ayah tidak tahu bahwa ada engkau.."
"Ah, engkau salah mengerti, Ayu. Aku bicara dengan hati tulus ikhlas, aku tidak menyindir, tidak ingin merusak hatimu, Ayu, percayalah, sebaiknya kalau aku antarkan engkau mencari tunanganmu........!"
"Cukup!!” Kembali Ayu Candra menjerit.
"Joko, engkau....... engkau tega mengeluarkan kata-kata seperti itu setelah kau tahu bahwa hal itu tidak mungkin kulakukan? Kau masih bicara seperti itu padahal engkau tahu bahwa aku aku bahwa kita...... ah, Joko, tak tahukah kau bahwa tak mungkin aku menjadi..... isteri orang lain ? Ataukah...... kau kini hendak mengaku bahwa sikapmu yang lalu itu hanya palsu belaka? Engkau sengaja hendak mempermainkan aku?"

Joko Wandiro meramkan kedua matanya. Jantungnya terasa dibetot-betot, ditusuk-tusuk. Ia masih meramkan kedua mata menahan keluarnya air mata ketika menjawab dengan suara gemetar,
"Ayu Candra...., adikku sayang............. ketahuilah, hal itu tidak mungkin.......... antara kita... aku...... aku adalah Joko Wandiro, aku......... kita kakak adik sekandung........ ibumu adalah ibuku, berlainan...... ayah"
"Aduh Gusti!!"
Tubuh Ayu Candra menjadi limbung dan tak dapat berdiri lagi, lemas seluruh sendi tulangnya. Ia jatuh berlutut dan menangis, mengguguk di belakang kedua telapak tangannya. Kenyataan yang menjadi pukulan kedua benar-benar meremukkan kalbunya. Kematian ayah bundanya membuat ia kehilangan pegangan, sebatangkara di dunia. Namun di sana masih ada Joko yang telah merebut hatinya, orang yang dicintanya sepenuh jiwa raga, yang menjadi pegangan terakhir baginya. Kini pegangan itupun direnggut kenyataan bahwa laki-laki yang dipuja dalam hatinya itu adalah kakak tirinya, sekandung, dan bahwa ia harus ikut dengan laki-laki lain, menjadi isteri laki-laki lain.
"Ayah ibu........ kenapa tidak membawaku bersama ? Kenapa meninggalkan aku hidup seorang diri menderita siksa ini........ ?" Ia merintih di antara tangisnya.
"Jagad Dewa Batara kuatkanlah batin hamba!" Joko Wandiro berdoa sambil menekan perasaannya, menarik napas panjang beberapa kali. Setelah guncangan batin itu mereda dan kedua matanya tidak terasa panas lagi, ia membuka matanya. Sambil menggeleng-geleng kepala ia memandang dara yang mengguguk dalam tangisnya itu. Beberapa kali ia menggerakkan bibir, namun suara hatinya tak terucapkan. Lalu ia mendekat dan berlutut pula, menyentuh kepala Ayu Candra.
"Ayu, adikku jangan engkau khawatir. Ada kakakmu disini, aku pengganti ayah bundamu, aku akan mengantarmu mencari Joko Seto tunanganmu." Ia berkata dengan suara halus menghibur.

Tiba-tiba Ayu Candra menghentikan tangisnya, menurunkan kedua tangannya dan wajah yang kini berada di depan Joko Wandiro dan memandangnya, adalah sebuah wajah pucat sekali dengan sepasang mata yang telah lenyap sinar dan semangatnya. Ayu Candra memandang sejenak, lalu meloncat bangun sambil menjerit,
"Tidak! Tidak!!"
Kemudian ia lari meninggalkan Joko Wandiro yang masih berlutut di atas tanah. Joko Wandiro meloncat pula berdiri, akan tetapi mengurungkan niatnya mengejar. Ia menarik napas panjang, wajahnya juga pucat dan ia malah kembali ke pinggir telaga. Percuma menemui Ayu Candra pada saat itu, pikirnya. Dara itu baru saja mengalami pukulan batin yang luar biasa hebatnya. Sedangkan dia sendiri yang hanya kehilangan ibu kandung yang belum pernah dilihatnya dan mendengar bahwa dara yang dikasihinya itu ternyata adik sendiri, sudah merasa betapa jantungnya serasa ditusuk-tusuk. Apalagi Ayu Candra yang kehilangan ayah bunda yang tak pernah berpisah semenjak kecil, yang amat dicintanya, ditambah lagi kenyataan bahwa satu-satunya orang yang diharapkannya ternyata adalah kakak sendiri dan karena itu terpaksa mereka akan berpisah pula karena ia harus menikah dengan laki-laki lain. Penderitaan yang berat, terutama bagi seorang wanita yang perasaannya tentu lebih halus.

Pagi hari sampai sore, sehari penuh, Joko Wandiro duduk termenung di pinggir telaga. Tidak pernah ia berkisar dari tempat duduknya, merenungi nasibnya yang buruk. Dalam renungannya ini, tampaklah jelas-jelas dalam ingatannya betapa tepat sekali wejangan gurunya. Ki Patih Narotama pernah memberi wejangan kepadanya, bahwa sekali hati menikmati kesenangan, maka hati itu pun takkan kebal terhadap kedukaan. Atau, singkatnya, siapa menikmati kesenangan harus siap untuk menderita kedukaan. Sebelum ia bertemu dengan Ayu Candra hatinya kosong, batinnya tenang dan ia berada dalam kebahagiaan, karena sesungguhnya kebahagiaan letaknya di antara susah dan senang, letaknya di tengah-tengah di mana tiada kesenangan dan kesusahan.
Akan tetapi, begitu berjumpa dengan Ayu Candra, hatinya jatuh, darah mudanya menuntut dan menggelora, dan ia menikmati perasaan senang yang luar biasa. Siapa kira, baru beberapa hari saja, saudara kembar kesenangan, ialah kedukaan, muncul dan menggantikan kedudukan dalam hatinya. Lenyap kesenangan, datang kedukaan! Menjelang senja hari itu, batin Joko Wandiro mulai tenang setelah ia teringat akan pelajaran gurunya ini. la bangkit dan merasa heran bercampur kaget melihat bahwa cuaca sudah mulai gelap. Tidak disangkanya bahwa saat itu sudah senja. Tidak terasa waktu terlewat sedemikian cepatnya. Ia teringat akan Ayu Candra dan ia bernapas panjang dengan hati lega. Wejangan gurunya itu menyadarkannya dan kini ia mengenang Ayu Candra dengan hati lega, menganggap dara itu adiknya dan mulailah ia dapat mengganti rasa kasihnya dengan kasih seorang kakak.
"Kasihan Ayu, aku harus menghiburnya........!!"

Ia lalu berjalan perlahan menuju ke pondok. Pondok itu sunyi, sesunyi hati Joko Wandiro. Lebih sunyi lagi hatinya ketika ia memasuki pintu pondok dan mendapatkan pondok itu kosong. Ke manakah perginya Ayu Candra? Ia keluar lagi dan mencari-cari di sekitar pondok. Tidak hanya Ayu Candra, juga Ki Jatoko tidak tampak! Rasa khawatir menyelinap di dada Joko Wandiro. Ia mulai memanggil-manggil, tiada jawaban. Kemudian ia memasuki pondok, memasuki bilik dara itu. Semua pakaian Ayu Candrapun tidak ada lagi di dalam bilik. Jelas kini bahwa Ayu Candra telah pergi, pergi meninggalkan Sarangan, meninggalkan pondok, meninggalkan dia. Joko Wandiro duduk di atas bangku depan pondok, keningnya berkerut. Kalau Ayu Candra pergi seorang diri, hal itu tidak akan menggelisahkan hatinya benar. Dara itu cukup perkasa, cukup mampu menjaga keselamatan diri sendiri.
Akan tetapi, yang benar-benar mencemaskan hatinya adalah lenyapnya Ki Jatoko, laki-laki buntung itu. Ia tidak percaya kepada Ki Jatoko dan kalau Ayu Candra pergi bersama Ki Jatoko, benar benar membuat hatinya tidak enak. Berpikir demikian, Joko Wandiro lalu meloncat dan lari untuk mencari jejak dan mengejar. Sebentar saja ia telah meninggalkan tempat itu. Memang tepat Apa yang dikhawatirkan Joko Wandiro itu. Ayu Candra bukan pergi seorang diri, melainkan bersama Ki Jatoko. Dan juga kepergiannya atas bujukan Ki Jatoko pula. Ketika tadi ia meninggalkan Joko Wandiro sambil menangis, Ki Jatoko menyambutnya.
Dara ini tidak tahu bahwa orang buntung yang kelihatannya lemah itu sesungguhnya berilmu tinggi dan tadipun telah mendengarkan semua percakapannya dengan Joko Wandiro. Ketika dara itu meninggalkan Joko Wandiro dan berlari ke pondok, Ki Jatoko telah mendahuluinya dan kini menyambut dara itu dengan muka serius.
"Kasihan sekali engkau, nini!"
Suara Ki Jatoko menggetarkan keharuan, karena sesungguhnya Ki Jatoko memang menaruh rasa iba yang amat besar terhadap gadis yang diam-diam dicintanya itu. Ki Jatoko selama hidupnya belum pernah mencinta orang, mencinta dalam arti kata yang semurninya. Biasanya ia mencinta wanita berdasarkan nafsu berahi semata. Kini entah bagaimana, ia betul-betul jatuh cinta dan melihat gadis itu berduka, ia merasa kasihan dan juga ikut menderita. Namun di samping perasaan ini, kelicikan juga membuat ia melihat kesempatan baik sekali untuk melaksanakan maksud dan niat hatinya.

Orang yang sedang berduka dan tertimpa malapetaka, apalagi kalau ia wanita, paling tidak kuat mendengar orang yang menyatakan iba hatinya.Mendengar ucapan Ki Jatoko yang menggetar penuh keharuan, makin menggungguk tangis Ayu Candra. Dara ini menjatuhkan diri duduk di atas bangku depan pondok, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis, memanggil-manggil ayah ibunya.
"Ayu Candra, aku mengerti betapa sakit hatimu dan betapa engkaupun bingung karena tidak tahu siapa pembunuh ayah bundamu. Akan tetapi jangan khawatir, bocah ayu, pamanmu ini jelek-jelek tahu siapa musuh besarmu dan percayalah, aku bersumpah kepada Dewa Yang Maha Agung untuk membantumu mencari musuh-musuhmu dan membalaskan sakit hatimu."
Seketika Ayu Candra menghentikan tangisnya. La menurunkan tangan dan memandang laki-Iaki buntung itu dengan mata terbelalak kaget.
"Engkau.. engkau tahu betul siapa pembunuh ayah bundaku, paman........................... ?"
Ki Jatoko mengangguk-angguk dan memandang kedua kakinya yang buntung, lalu menarik napas panjang.
"Tidak hanya tahu, bahkan musuhmu itu juga musuh besarku, Ayu Candra. Ketika ayahmu dalam pesannya mengatakan bahwa ibumu adalah ibu Joko Wandiro, maka jelaslah semua bagiku. Bukankah ibumu itu bernama Listyokumolo?"
Lenyap seketika keraguan hati Ayu Candra. Ia ingat betul bahwa selama ini tidak pernah ia menyebutkan nama ibu kandungnya. Dari mana si buntung ini mengetahui nama ibunya kalau tidak memang mengetahui hal ini sejak dahulu? Akan tetapi kalau tahu nama ibunya mengapa tidak mengenal Joko Wandiro? Betapapun juga, peringatan Joko Wandiro kepadanya agar ia berhati-hati terhadap orang buntung ini membuat Ayu Candra berhati-hati. Ia cukup cerdik, maka untuk meyakinkan hatinya, ia bertanya,
"Paman Jatoko, kalau engkau mengenal ibuku, tentu engkau mengenal pula puteranya yang bernama Joko Wandiro."

Ki Jatoko menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku tidak pernah melihat puteranya karena puteranya itu hilang ketika masih kecil, diculik musuhnya, ibu kandungmu, kalau benar dia itu ibu Joko Wandiro, tentu bernama Listyokumolo. Dahulu ibumu itu adalah isteri Raden Wisangjiwo, putera kadipaten di Selopenangkep. Nah, kemudian muncullah musuh besar keluarganya, menculik ibumu dan puteranya yang baru berusia setahun bernama Joko Wandiro. Agaknya kemudian ibumu menikah dengan ayahmu dan mempunyai anak engkau ini. Mendengar ucapan mendiang ayahmu, tidak salah lagi, ibu dan ayahmu tentu pergi mencari Joko Wandiro itu dan bertemu dengan penculik yang menjadi musuh besarnya, kemudian bertanding. Memang musuh besarnya itu amat sakti mandraguna sehingga ibumu tewas dan ayahmu terluka hebat. Tidak bisa salah lagi. Aku sendiri mengalaminya. Kedua kakiku ini buntung karena mereka"
"Mereka.......... ?"

<<< Bagian 116                                                                                      Bagian 118 >>>

No comments:

Post a Comment