Ayu Candra mengangkat mukanya dari dada Joko Wandiro. Akan tetapi, dalam keadaan seperti itu ia nampak makin jelita sehingga Joko Wandiro mengerutkan kening dan terpaksa ia mengalihkan pandang matanya.
"Hal itu
harus kupertimbangkan lebih dulu, Joko. Memang semestinya aku mentaati pesan
ayah, akan tetapi bagaimana mungkin aku diam saja karena ayah dan ibuku
terbunuh orang? Akan kuselidiki mengapa ayah dan ibu sampai tewas di tangan
orang dan Apa pula sebabnya ayah meninggalkan pesan seperti itu...... "
"Mungkin
karena musuh itu luar biasa saktinya, Ayu. Melihat luka di dada ayahmu, memang
pukulan itu amat luar biasa, keji dan hanya dapat dilakukan orang yang sakti
mandraguna. Agaknya ayahmu tidak ingin engkau bermusuhan dengan orang sakti
itu, demi keselamatanmu sendiri."
"Kalau
itu sebabnya, tidak mungkin aku berdiam diri saja!" Ayu Candra berkata
marah, mencabut sebatang rumput dan mengigit-gigit rumput itu di antara kedua
baris giginya.
"Kalau
sebabnya hanya karena musuh amat sakti, aku tidak takut. Dan aku yakin bahwa
engkau akan suka membantuku. Bukankah engkau suka membantuku, Joko?"
"Tentu
saja, Ayu. Akan tetapi amatlah tidak baik kalau tidak mentaati pesan terakhir
ayahmu sendiri. Ada hal yang lebih penting.... lagi"
"Hal Apa
lagi? Kalau menurut pendapatmu, aku harus bagaimana?"
"Daripada
mencari musuh yang tidak diketahui siapa dan yang dilarang pula oleh ayahmu,
lebih baik apabila engkau mentaati pesan ayahmu, pergi mencari Joko Seto
tunanganmu, Ayu"
Tiba-tiba Ayu
Candra meloncat bangun dan berdiri dengan muka merah dan mata terbelalak.
"Tidak
mungkin!!" Ia membanting-banting kaki kanannya.
Joko Wandiro
juga bangkit berdiri, membujuk.
"Mengapa
tidak mungkin, Ayu? Ayahmu sudah meninggalkan pesan yang amat jelas. Joko Seto
adalah putera Ki Darmobroto di kaki Gunung Merbabu. Biarlah aku membantumu,
Ayu. Kita pergi bersama mencari rumah calon mertuamu............ "
"Joko.........!!!"
Ayu Candra
menjerit, sepasang mata yang tadinya bersinar sayu itu kini memancarkan api
kemarahan.
"Sekejam
itukah hatimu? Seganas itukah engkau hendak menyiksa hatiku? Engkau hendak
membalas karena engkau marah mendengar ayah menjodohkan aku dengan orang lain?
Joko, kau tahu bahwa itu kehendak ayah, bukan kehendakku, dan ayah tidak tahu
bahwa ada engkau.."
"Ah,
engkau salah mengerti, Ayu. Aku bicara dengan hati tulus ikhlas, aku tidak
menyindir, tidak ingin merusak hatimu, Ayu, percayalah, sebaiknya kalau aku
antarkan engkau mencari tunanganmu........!"
"Cukup!!”
Kembali Ayu Candra menjerit.
"Joko,
engkau....... engkau tega mengeluarkan kata-kata seperti itu setelah kau tahu
bahwa hal itu tidak mungkin kulakukan? Kau masih bicara seperti itu padahal
engkau tahu bahwa aku aku bahwa kita...... ah, Joko, tak tahukah kau bahwa tak
mungkin aku menjadi..... isteri orang lain ? Ataukah...... kau kini hendak
mengaku bahwa sikapmu yang lalu itu hanya palsu belaka? Engkau sengaja hendak
mempermainkan aku?"
Joko Wandiro
meramkan kedua matanya. Jantungnya terasa dibetot-betot, ditusuk-tusuk. Ia
masih meramkan kedua mata menahan keluarnya air mata ketika menjawab dengan
suara gemetar,
"Ayu
Candra...., adikku sayang............. ketahuilah, hal itu tidak
mungkin.......... antara kita... aku...... aku adalah Joko Wandiro,
aku......... kita kakak adik sekandung........ ibumu adalah ibuku,
berlainan...... ayah"
"Aduh
Gusti!!"
Tubuh Ayu
Candra menjadi limbung dan tak dapat berdiri lagi, lemas seluruh sendi
tulangnya. Ia jatuh berlutut dan menangis, mengguguk di belakang kedua telapak
tangannya. Kenyataan yang menjadi pukulan kedua benar-benar meremukkan
kalbunya. Kematian ayah bundanya membuat ia kehilangan pegangan, sebatangkara
di dunia. Namun di sana masih ada Joko yang telah merebut hatinya, orang yang
dicintanya sepenuh jiwa raga, yang menjadi pegangan terakhir baginya. Kini
pegangan itupun direnggut kenyataan bahwa laki-laki yang dipuja dalam hatinya
itu adalah kakak tirinya, sekandung, dan bahwa ia harus ikut dengan laki-laki
lain, menjadi isteri laki-laki lain.
"Ayah
ibu........ kenapa tidak membawaku bersama ? Kenapa meninggalkan aku hidup
seorang diri menderita siksa ini........ ?" Ia merintih di antara
tangisnya.
"Jagad
Dewa Batara kuatkanlah batin hamba!" Joko Wandiro berdoa sambil menekan
perasaannya, menarik napas panjang beberapa kali. Setelah guncangan batin itu
mereda dan kedua matanya tidak terasa panas lagi, ia membuka matanya. Sambil
menggeleng-geleng kepala ia memandang dara yang mengguguk dalam tangisnya itu.
Beberapa kali ia menggerakkan bibir, namun suara hatinya tak terucapkan. Lalu
ia mendekat dan berlutut pula, menyentuh kepala Ayu Candra.
"Ayu,
adikku jangan engkau khawatir. Ada kakakmu disini, aku pengganti ayah bundamu,
aku akan mengantarmu mencari Joko Seto tunanganmu." Ia berkata dengan
suara halus menghibur.
Tiba-tiba Ayu
Candra menghentikan tangisnya, menurunkan kedua tangannya dan wajah yang kini
berada di depan Joko Wandiro dan memandangnya, adalah sebuah wajah pucat sekali
dengan sepasang mata yang telah lenyap sinar dan semangatnya. Ayu Candra
memandang sejenak, lalu meloncat bangun sambil menjerit,
"Tidak!
Tidak!!"
Kemudian ia
lari meninggalkan Joko Wandiro yang masih berlutut di atas tanah. Joko Wandiro
meloncat pula berdiri, akan tetapi mengurungkan niatnya mengejar. Ia menarik
napas panjang, wajahnya juga pucat dan ia malah kembali ke pinggir telaga.
Percuma menemui Ayu Candra pada saat itu, pikirnya. Dara itu baru saja
mengalami pukulan batin yang luar biasa hebatnya. Sedangkan dia sendiri yang
hanya kehilangan ibu kandung yang belum pernah dilihatnya dan mendengar bahwa dara
yang dikasihinya itu ternyata adik sendiri, sudah merasa betapa jantungnya
serasa ditusuk-tusuk. Apalagi Ayu Candra yang kehilangan ayah bunda yang tak
pernah berpisah semenjak kecil, yang amat dicintanya, ditambah lagi kenyataan
bahwa satu-satunya orang yang diharapkannya ternyata adalah kakak sendiri dan
karena itu terpaksa mereka akan berpisah pula karena ia harus menikah dengan
laki-laki lain. Penderitaan yang berat, terutama bagi seorang wanita yang
perasaannya tentu lebih halus.
Pagi hari
sampai sore, sehari penuh, Joko Wandiro duduk termenung di pinggir telaga.
Tidak pernah ia berkisar dari tempat duduknya, merenungi nasibnya yang buruk.
Dalam renungannya ini, tampaklah jelas-jelas dalam ingatannya betapa tepat
sekali wejangan gurunya. Ki Patih Narotama pernah memberi wejangan kepadanya,
bahwa sekali hati menikmati kesenangan, maka hati itu pun takkan kebal terhadap
kedukaan. Atau, singkatnya, siapa menikmati kesenangan harus siap untuk
menderita kedukaan. Sebelum ia bertemu dengan Ayu Candra hatinya kosong,
batinnya tenang dan ia berada dalam kebahagiaan, karena sesungguhnya
kebahagiaan letaknya di antara susah dan senang, letaknya di tengah-tengah di
mana tiada kesenangan dan kesusahan.
Akan tetapi,
begitu berjumpa dengan Ayu Candra, hatinya jatuh, darah mudanya menuntut dan
menggelora, dan ia menikmati perasaan senang yang luar biasa. Siapa kira, baru
beberapa hari saja, saudara kembar kesenangan, ialah kedukaan, muncul dan
menggantikan kedudukan dalam hatinya. Lenyap kesenangan, datang kedukaan!
Menjelang senja hari itu, batin Joko Wandiro mulai tenang setelah ia teringat
akan pelajaran gurunya ini. la bangkit dan merasa heran bercampur kaget melihat
bahwa cuaca sudah mulai gelap. Tidak disangkanya bahwa saat itu sudah senja.
Tidak terasa waktu terlewat sedemikian cepatnya. Ia teringat akan Ayu Candra
dan ia bernapas panjang dengan hati lega. Wejangan gurunya itu menyadarkannya
dan kini ia mengenang Ayu Candra dengan hati lega, menganggap dara itu adiknya
dan mulailah ia dapat mengganti rasa kasihnya dengan kasih seorang kakak.
"Kasihan
Ayu, aku harus menghiburnya........!!"
Ia lalu
berjalan perlahan menuju ke pondok. Pondok itu sunyi, sesunyi hati Joko
Wandiro. Lebih sunyi lagi hatinya ketika ia memasuki pintu pondok dan
mendapatkan pondok itu kosong. Ke manakah perginya Ayu Candra? Ia keluar lagi
dan mencari-cari di sekitar pondok. Tidak hanya Ayu Candra, juga Ki Jatoko
tidak tampak! Rasa khawatir menyelinap di dada Joko Wandiro. Ia mulai
memanggil-manggil, tiada jawaban. Kemudian ia memasuki pondok, memasuki bilik
dara itu. Semua pakaian Ayu Candrapun tidak ada lagi di dalam bilik. Jelas kini
bahwa Ayu Candra telah pergi, pergi meninggalkan Sarangan, meninggalkan pondok,
meninggalkan dia. Joko Wandiro duduk di atas bangku depan pondok, keningnya berkerut.
Kalau Ayu Candra pergi seorang diri, hal itu tidak akan menggelisahkan hatinya
benar. Dara itu cukup perkasa, cukup mampu menjaga keselamatan diri sendiri.
Akan tetapi,
yang benar-benar mencemaskan hatinya adalah lenyapnya Ki Jatoko, laki-laki buntung
itu. Ia tidak percaya kepada Ki Jatoko dan kalau Ayu Candra pergi bersama Ki
Jatoko, benar benar membuat hatinya tidak enak. Berpikir demikian, Joko Wandiro
lalu meloncat dan lari untuk mencari jejak dan mengejar. Sebentar saja ia telah
meninggalkan tempat itu. Memang tepat Apa yang dikhawatirkan Joko Wandiro itu.
Ayu Candra bukan pergi seorang diri, melainkan bersama Ki Jatoko. Dan juga
kepergiannya atas bujukan Ki Jatoko pula. Ketika tadi ia meninggalkan Joko
Wandiro sambil menangis, Ki Jatoko menyambutnya.
Dara ini tidak
tahu bahwa orang buntung yang kelihatannya lemah itu sesungguhnya berilmu
tinggi dan tadipun telah mendengarkan semua percakapannya dengan Joko Wandiro.
Ketika dara itu meninggalkan Joko Wandiro dan berlari ke pondok, Ki Jatoko telah
mendahuluinya dan kini menyambut dara itu dengan muka serius.
"Kasihan
sekali engkau, nini!"
Suara Ki
Jatoko menggetarkan keharuan, karena sesungguhnya Ki Jatoko memang menaruh rasa
iba yang amat besar terhadap gadis yang diam-diam dicintanya itu. Ki Jatoko
selama hidupnya belum pernah mencinta orang, mencinta dalam arti kata yang
semurninya. Biasanya ia mencinta wanita berdasarkan nafsu berahi semata. Kini
entah bagaimana, ia betul-betul jatuh cinta dan melihat gadis itu berduka, ia
merasa kasihan dan juga ikut menderita. Namun di samping perasaan ini,
kelicikan juga membuat ia melihat kesempatan baik sekali untuk melaksanakan
maksud dan niat hatinya.
Orang yang
sedang berduka dan tertimpa malapetaka, apalagi kalau ia wanita, paling tidak
kuat mendengar orang yang menyatakan iba hatinya.Mendengar ucapan Ki Jatoko
yang menggetar penuh keharuan, makin menggungguk tangis Ayu Candra. Dara ini
menjatuhkan diri duduk di atas bangku depan pondok, menutupi mukanya dengan
kedua tangan dan menangis, memanggil-manggil ayah ibunya.
"Ayu
Candra, aku mengerti betapa sakit hatimu dan betapa engkaupun bingung karena
tidak tahu siapa pembunuh ayah bundamu. Akan tetapi jangan khawatir, bocah ayu,
pamanmu ini jelek-jelek tahu siapa musuh besarmu dan percayalah, aku bersumpah
kepada Dewa Yang Maha Agung untuk membantumu mencari musuh-musuhmu dan
membalaskan sakit hatimu."
Seketika Ayu
Candra menghentikan tangisnya. La menurunkan tangan dan memandang laki-Iaki
buntung itu dengan mata terbelalak kaget.
"Engkau..
engkau tahu betul siapa pembunuh ayah bundaku, paman...........................
?"
Ki Jatoko
mengangguk-angguk dan memandang kedua kakinya yang buntung, lalu menarik napas
panjang.
"Tidak
hanya tahu, bahkan musuhmu itu juga musuh besarku, Ayu Candra. Ketika ayahmu
dalam pesannya mengatakan bahwa ibumu adalah ibu Joko Wandiro, maka jelaslah
semua bagiku. Bukankah ibumu itu bernama Listyokumolo?"
Lenyap
seketika keraguan hati Ayu Candra. Ia ingat betul bahwa selama ini tidak pernah
ia menyebutkan nama ibu kandungnya. Dari mana si buntung ini mengetahui nama
ibunya kalau tidak memang mengetahui hal ini sejak dahulu? Akan tetapi kalau
tahu nama ibunya mengapa tidak mengenal Joko Wandiro? Betapapun juga,
peringatan Joko Wandiro kepadanya agar ia berhati-hati terhadap orang buntung
ini membuat Ayu Candra berhati-hati. Ia cukup cerdik, maka untuk meyakinkan
hatinya, ia bertanya,
"Paman
Jatoko, kalau engkau mengenal ibuku, tentu engkau mengenal pula puteranya yang
bernama Joko Wandiro."
Ki Jatoko
menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku tidak
pernah melihat puteranya karena puteranya itu hilang ketika masih kecil,
diculik musuhnya, ibu kandungmu, kalau benar dia itu ibu Joko Wandiro, tentu
bernama Listyokumolo. Dahulu ibumu itu adalah isteri Raden Wisangjiwo, putera
kadipaten di Selopenangkep. Nah, kemudian muncullah musuh besar keluarganya,
menculik ibumu dan puteranya yang baru berusia setahun bernama Joko Wandiro.
Agaknya kemudian ibumu menikah dengan ayahmu dan mempunyai anak engkau ini.
Mendengar ucapan mendiang ayahmu, tidak salah lagi, ibu dan ayahmu tentu pergi
mencari Joko Wandiro itu dan bertemu dengan penculik yang menjadi musuh
besarnya, kemudian bertanding. Memang musuh besarnya itu amat sakti mandraguna
sehingga ibumu tewas dan ayahmu terluka hebat. Tidak bisa salah lagi. Aku sendiri
mengalaminya. Kedua kakiku ini buntung karena mereka"
"Mereka..........
?"
No comments:
Post a Comment