Badai Laut Selatan ; Bagian 125


Joko Wandiro tersenyum dan mengeluh dalam hati. Puteri ini lincah, gembira, dan nakal! Namun ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya,
"Apa yang paduka maksudkan?"
"Kau tunggu saja sampai kau berjumpa dengan orangnya, Joko Wandiro! Ah, kalau saja kami mempunyai sepasang jagoan seperti kalian!"

Kini wajah Joko Wandiro yang menjadi merah dan jantungnya berdebar aneh. Endang Patibroto! Hampir ia lupa lagi bagaimana wajahnya. Sudah terlalu lama ia berpisah dengan anak itu. Anak yang nakal sekali! Puteri ayah angkatnya, terbayang di dalam ingatannya betapa dahulu seringkali ia bertengkar dengan anak perempuan itu. Dan sekarang telah menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala! Bagaimana mungkin ini? Ayah angkatnya, Pujo dan juga eyangnya, Bhagawan Rukmoseto atau Sang Resi Bhargowo, adalah pembela-pembela Kerajaan Panjalu, seperti juga gurunya, Ki Patih Narotama. Bagaimana sekarang Endang Patibroto bisa menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala? Teringat pula ia akan peristiwa di Pulau Sempu, ketika eyang mereka, Sang Resi Bhargowo, menyerahkan pusaka Mataram kepada mereka. Makin merah mukanya ketika ia teringat betapa Endang Patibroto anak nakal itu memilih keris pusaka yang luar biasa ampuhnya, sedangkan ia mendapat bagian warangkanya, yaitu patung kencana yang ia simpan dalam cabang pohon randu alas yang besar di Pulau Sempu. Semua ini terbayang dalam ingatannya dan membuatnya termenung.
"Sayang aku terpisah dari mereka," terdengar pula suara sang puteri yang menyeret kembali kesadaran Joko Wandiro.
"Paduka bertiga tadinva hendak pergi ke manakah?"
"Ah, kami berdua terbawa oleh Endang Patibroto yang katanya hendak pergi mencari ibunya di Bayuwismo."
"Bayuwismo??"
Seruan Joko Wandiro ini membuat sang puteri memandang tajam kepadanya.
"Apakah engkau sudah tahu di mana letaknya Bayuwismo?"
"Hamba belum pernah ke sana, akan tetapi hamba dapat mengantar paduka ke sana. Memang seyogyanya, kalau paduka tidak keberatan, kita pergi saja ke Bayuwismo, hamba rasa paduka akan dapat bertemu dengan mereka di sana atau di tengah jalan."
"Bagus! Begitu lebih baik, karena tidak enak juga rasanya kalau aku pulang sendiri tanpa rakanda Panjirawit dan Endang Patibroto. Jauhkah Bayuwismo dari sini, Joko Wandiro?"
"Hamba rasa tidak begitu jauh lagi, gusti," kata Joko Wandiro dengan hati berdebar.
Mengapa begini kebetulan, pikirnya. ibu kandungnya, diantar oleh Ki Adibroto, pergi mencari dia dan mudah diduga bahwa ibu kandungnya tentu hendak mencari Pujo, ayah angkatnya yang dahulu telah menculiknya. Sangat boleh jadi Ki Adibroto dan isterinya itu pergi ke Bayuwismo. Dan Endang Patibroto, yang menurut penuturan Sang Puteri Mayagaluh kini merupakan seorang yang sakti mandraguna, telah pergi pula ke Bayuwismo. Lalu terjadi ibu kandungnya dan Ki Adibroto tewas di tangan musuh! la harus segera pergi ke Bayuwismo, menemui ayah angkatnya, mencari tahu perihal kematian ibu kandungnya. Diam-diam ia menjerit kepada Dewata dengan harapan semoga ibu kandungnya tidak terbunuh oleh Pujo, karena kalau hal itu terjadi, ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat!
"Duh, Hyang Maha Wisesa, lindungilah hamba-Mu daripada malapetaka itu..... " keluhnya.
"Kau bicara apa, Joko Wandiro?" Sang puteri yang melihat gerak bibirnya tanpa mendengar suara, bertanya,
"Ohh hamba hendak mengatakan bahwa lebih baik kita segera berangkat sekarang agar jangan kemalaman di tengah hutan, gusti."
"Baiklah, Joko Wandiro. Mari!" Sang puteri lalu menyendal kudanya dan membalapkan kudanya menuju ke barat.

Dengan hati uring-uringan Endang Patibroto meninggalkan ibu kandungnya. Ia membalapkan kudanya dengan cemberut, pandang matanya menyala-nyala dan hatinya kecewa sekali. Bertahun-tahun ia tidak bertemu ibunya dan merasa amat rindu kepada ibunya. Baru saja bertemu, ia telah ditinggal mati ayah kandungnya. Kemudian, ibu kandungnya sendiri marah-marah kepadanya, hendak memaksanya meninggalkan Jenggala, bahkan ibunya telah menyerangnya dengan keris, hendak membunuhnya. Ibu kandungnya sendiri, ingin sekali Endang Patibroto menangis dan menjerit-jerit, akan tetapi hatinya yang sudah menerima gemblengan gurunya, Dibyo Mamangkoro, sudah membeku dan tidak ada setitikpun air mata di pelupuk matanya.
"Endang.......! Endang Patibroto.....! Kautunggulah aku!"
Berkali-kali Pangeran Panjirawit berteriak sambil mengejar. Diam-diam pangeran inipun merasa prihatin sekali. Sebagai seorang pangeran, ia maklum pula akan segala peristiwa di Bayuwismo tadi. Sebagai seorang satria, iapun tidak bisa menyalahkan ibu Endang Patibroto yang berjiwa satria. Dan sebagai seorang pria yang amat mencinta Endang Patibroto, iapun maklum betapa hancur hati dara perkasa yang dicintanya itu. Akan tetapi Endang Patibroto yang sedang marah-marah itu tidak memperdulikan panggilan sang pangeran. Bahkan ia tidak memperdulikan kudanya yang sudah terengah-engah hampir putus napasnya dan sudah bermandi peluh karena dilarikan kencang terus-menerus tak kunjung henti.
Tiba-tiba dari depan nampàk tiga orang penunggang kuda. Mereka itu bukan lain kepala rampok yang kemarin dulu telah menawan Puteri Mayagaluh. Setelah berhasil diusir oleh Joko Wandiro, kepala rampok ini melarikan diri di atas kuda tunggangan Sang Puteri Mayagaluh. Akan tetapi hatinya masih penasaran karena puteri yang cantik jelita dan yang bagaikan sepotong daging telah berada di depan mulutnya, kini terampas orang lain. Sengoro, kepala rampok ini tidak pergi jauh, yaitu ke tempat persembunyian dua orang kakak seperguruannya yang bernama Kolodumung dan Kolomedo, dua orang kakak beradik yang tentu saja memiliki kesaktian lebih hebat daripada Sengoro sendiri. Setelah menuturkan perihal puteri jelita terutama perhiasan-perhiasan indah yang dipakainya, Sengoro lalu mengajak kedua orang kakak seperguruannya ini untuk melakukan pengejaran. Tentu saja kedua orang jahat itu menjadi tertarik dan segera mereka menunggang kuda lalu bersama Sengoro pergi mencari.

"Nah itu dia agaknya!"
Seru Sengoro ketika melihat di depan seorang dara jelita berpakaian mewah membalapkan kuda yang sudah payah. Hati kedua orang temannya juga girang sekali karena gadis itu benar-benar amat cantik jelita dan perhiasan yang dipakai di kedua tangan dan di pinggangnya sudah berkilauan dan jelas dapat mereka ketahui bahwa perhiasan-perhiasan itu terbuat daripada emas permata yang mahal harganya! Mereka bertiga sengaja menghadang di tengah jalan sehingga jalan sempit itu penuh dengan tiga ekor kuda mereka. Endang Patibroto sedang marah. Andaikata ia tidak sedang marah sekalipun, ia tentu takkan mengampuni tiga orang yang berani menghadang perjalanannya. Apalagi pada saat itu ia sedang diamuk kemarahan maka dari jauh ia sudah membentak,
"Tiga ekor anjing busuk, minggir!!”
Akan tetapi tiga orang laki-laki itu sama sekali tidak mau minggir, bahkan Kolodumung segera menggerakkan tangan kanannya dan sinar hitam menyambar ke depan, tepat mengenai kepala kuda yang ditunggangi Endang Patibroto. Kuda itu meringkik keras, mengangkat kaki depan ke atas, terhuyung-huyung lalu roboh dan mati seketika! Untung Endang Patibroto sudah melompat turun sehingga ia tidak terhimpit badan kuda. Tiga orang laki-laki itu tertawa dan melompat turun dari atas kuda pula.
"Ha-ha-ha, kakang berdua! Perempuan yang kumaksudkan bukan ini. Akan tetapi, dia inipun hebat sekali, malah lebih liar daripada yang kumaksudkan!"
"Hua-ha-hah! Bagus kalau begitu, lebih banyak lebih baik" jawab Kolodumung gembira.
Endang Patibroto yang sedang dilanda kemarahan itu kini berdiri dengan mata seakan-akan mengeluarkan api. Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahannya, makin menyala-nyala melihat kuda tunggangannya roboh dan tewas. Menurutkan kemarahannya, ingin ia sekali turun tangan membunuh tiga orang kasar ini. Àkàn tetapi pandang matanya tertarik oleh kuda yang ditunggangi Sengoro. Ia mengenal kuda itu sebagai kuda tunggangan Mayagaluh! Kalau kuda itu terjatuh ke dalarn tangan iblis ini, berarti Mayagaluh juga tertawan!

Berdebar keras jantung Endang Patibroto. Betapapun juga, dialah yang bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu yang tak baik atas diri sang puteri. Dia adalah pengawal, dan dia pula yang membawa sang puteri sampai ke tempat ini dan harus menyiksa mereka ini dan memaksa mereka mengaku di mana adanya Mayagaluh dan apa yang terjadi atas diri puteri itu. Karena teringat akan puteri itu maka Endang Patibroto menahan kemarahannya dan tidak ingin menurunkan tangan maut. Ia menoleh dan melihat sebatang pohon waru di dekatnya. Tangannya lalu menjangkau dan memetik beberapa helai daun waru, kemudian ia berseru keras sambil menyambitkan daun-daun itu ke depan,
"Anjing busuk rasakan ini!!”
Tiga orang itu tertawa makin lebar melihat betapa Endang Patibroto menyerang mereka dengan sambitan daun-daun waru. Mereka menganggapnya lucu sekali dan tentu saja sebagai orang-orang yang digdaya, mereka sama sekali tidak perdulikan serangan ini. Siapa yang sudi mengelak dari sambaran daun-daun waru, apalagi yang disambitkan oleh seorang wanita ayu? Riuh-rendah mereka tertawa-tawa.
"Huah-hah-hah ha-ha-ha-ha........ haa-uupp!"
"Ha-hauiiihhh!"
"Ha-haduuuhhh!!"
Suara ketawa mereka segera terhenti, muka yang tadinya tertawa-tawa itu kini menyeringai dengan mata terbelalak dan mereka mengaduh-aduh kesakitan. Daun-daun waru menempel di muka dan lengan mereka dan kulit di bawah daun itu keluar darah bertetes-tetes! Saking hebatnya sambitan itu, daun-daun waru kini menempel menjadi satu dengan kulit daging, bahkan ada yang gagangnya menancap sampai dalam seperti paku. Daun yang agak berbulu ini selain menimbulkan sakit dan perih, juga gatal-gatal.
"Perempuan lblis......!!”
"Kuntilanakl"
"Keparat, tunggu kau, kuengkuk-engkuk (tekuk-tekuk) engkau.....!"

Rasa kaget, heran, dan kesakitan kini berubah menjadi kemarahan hebat. Tiga orang itu memang orang-orang kasar yang biasanya jarang bertemu tanding, yang selalu dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain mengandalkan kekerasan, sehingga kemenangan-kemenangan itu membuat mereka sombong dan merasa seakan-akan tiada tandingan mereka di dunia ini. Kini bertemu dengan Endang Patibroto yang hanya seorang dara ayu, biarpun mereka dikejutkan oleh serangan daun waru, namun belum membuka mata mereka bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang yang memiliki kesaktian jauh iebih tinggi daripada mereka. Serentak ketiganya menerjang maju dengan kedua lengan dikembangkan, jari jari tangan dibuka seperti tiga ekor harimau hendak menerkam seekor domba.
Betapapun marah hati mereka, tiga orang laki-laki kasar ini masih merasa sayang untuk membunuh seorang dara muda belia yang jelita tu, maka mereka menerjang maju untuk menangkap dan tidak mau menggunakan senjata. Tentu saja Endang Patibroto tidak sudi disergap laki-laki kasar macam mereka. Sekali tangan kirinya bergerak eperti orang menampar dari kanan kiri, tiga orang itu merasa seakan-akan disambar petir, pandang mata berkunang, kepala pening dan tubuh mereka terpelanting kemudian jatuh ke atas tanah!

Masih baik bahwa Endang Patibroto tidak mengerahkan seluruh tenaga dalam aji pukulan Wisang Nolo (Api Beracun) ini, kalau hal itu dilakukannya, tentu mereka bertiga sudah roboh tak bernapas lagi dan dengan tubuh hangus-hangus! Mendapat kenyataan betapa dara itu tanpa menyentuh mereka telah dapat membuat mereka terpelanting, tahulah tiga orang kasar ini bahwa lawannya, biarpun muda belia dan ayu manis, ternyata adalah seorang yang sakti mandraguna, memiliki aji kesaktian tidak lumrah manusia, seperti iblis saja. Mereka menjadi makin marah akan tetapi kali ini juga gentar, maka sambil melompat bangun, mereka serentak mencabut senjata mereka. Kolodumung memegang senjata cambuk yang berwarna hitam. Cambuk ini terbuat daripada kulit kerbau, ulet dan kuat sekali, dan ujung cambuk dipasangi kaitan baja seperti pancing. Celakalah lawan kalau terkena sambaran kaitan ini, sekali masuk ke dalam daging sukar ditarik keluar lagi. Sambil berteriak-teriak marah Kolodumung memutar cambuknya ke atas kepala dan terdengar suara meledak-ledak keras. Kolomedo mengeluarkan senjatanya sebatang pedang melengkung yang amat tajam sehingga mengeluarkan sinar berkilauan ketika ia putar-putar dan tenaga yang besar membuat pedang itu mengeluarkan bunyi berdesing-desing. Juga Sengoro sendiri sudah mencabut goloknya yang besar dan berat.
"Perempuan iblis! Kau mencari mampus sendiri!"
Seru Kolodumung sambil menerjang maju dengan ayunan cambuknya, melecutkan ujung cambuk ke arah leher Endang Patibroto. Alangkah akan mengerikan kalau kaitan baja di ujung cambuk itu mengenai leher yang berkulit kuning halus itu! juga pada detik berikutnya, Kolomedo dan Sengoro sudah menerjang dengan bacokan pedang dan golok dari kanan kiri. Dalam kemarahannya yang meluap-luap, Endang Patibroto tidak sudi melayani tiga orang ini.

<<< Bagian 124                                                                                     Bagian 126 >>>

No comments:

Post a Comment