Joko Wandiro tersenyum dan mengeluh dalam hati. Puteri ini lincah, gembira, dan nakal! Namun ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya,
"Apa yang
paduka maksudkan?"
"Kau
tunggu saja sampai kau berjumpa dengan orangnya, Joko Wandiro! Ah, kalau saja
kami mempunyai sepasang jagoan seperti kalian!"
Kini wajah
Joko Wandiro yang menjadi merah dan jantungnya berdebar aneh. Endang Patibroto!
Hampir ia lupa lagi bagaimana wajahnya. Sudah terlalu lama ia berpisah dengan
anak itu. Anak yang nakal sekali! Puteri ayah angkatnya, terbayang di dalam
ingatannya betapa dahulu seringkali ia bertengkar dengan anak perempuan itu.
Dan sekarang telah menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala! Bagaimana mungkin
ini? Ayah angkatnya, Pujo dan juga eyangnya, Bhagawan Rukmoseto atau Sang Resi
Bhargowo, adalah pembela-pembela Kerajaan Panjalu, seperti juga gurunya, Ki
Patih Narotama. Bagaimana sekarang Endang Patibroto bisa menjadi kepala
pengawal Kerajaan Jenggala? Teringat pula ia akan peristiwa di Pulau Sempu,
ketika eyang mereka, Sang Resi Bhargowo, menyerahkan pusaka Mataram kepada
mereka. Makin merah mukanya ketika ia teringat betapa Endang Patibroto anak
nakal itu memilih keris pusaka yang luar biasa ampuhnya, sedangkan ia mendapat
bagian warangkanya, yaitu patung kencana yang ia simpan dalam cabang pohon
randu alas yang besar di Pulau Sempu. Semua ini terbayang dalam ingatannya dan
membuatnya termenung.
"Sayang
aku terpisah dari mereka," terdengar pula suara sang puteri yang menyeret
kembali kesadaran Joko Wandiro.
"Paduka
bertiga tadinva hendak pergi ke manakah?"
"Ah, kami
berdua terbawa oleh Endang Patibroto yang katanya hendak pergi mencari ibunya
di Bayuwismo."
"Bayuwismo??"
Seruan Joko
Wandiro ini membuat sang puteri memandang tajam kepadanya.
"Apakah
engkau sudah tahu di mana letaknya Bayuwismo?"
"Hamba
belum pernah ke sana, akan tetapi hamba dapat mengantar paduka ke sana. Memang
seyogyanya, kalau paduka tidak keberatan, kita pergi saja ke Bayuwismo, hamba
rasa paduka akan dapat bertemu dengan mereka di sana atau di tengah
jalan."
"Bagus!
Begitu lebih baik, karena tidak enak juga rasanya kalau aku pulang sendiri
tanpa rakanda Panjirawit dan Endang Patibroto. Jauhkah Bayuwismo dari sini,
Joko Wandiro?"
"Hamba
rasa tidak begitu jauh lagi, gusti," kata Joko Wandiro dengan hati
berdebar.
Mengapa begini
kebetulan, pikirnya. ibu kandungnya, diantar oleh Ki Adibroto, pergi mencari
dia dan mudah diduga bahwa ibu kandungnya tentu hendak mencari Pujo, ayah
angkatnya yang dahulu telah menculiknya. Sangat boleh jadi Ki Adibroto dan
isterinya itu pergi ke Bayuwismo. Dan Endang Patibroto, yang menurut penuturan
Sang Puteri Mayagaluh kini merupakan seorang yang sakti mandraguna, telah pergi
pula ke Bayuwismo. Lalu terjadi ibu kandungnya dan Ki Adibroto tewas di tangan
musuh! la harus segera pergi ke Bayuwismo, menemui ayah angkatnya, mencari tahu
perihal kematian ibu kandungnya. Diam-diam ia menjerit kepada Dewata dengan
harapan semoga ibu kandungnya tidak terbunuh oleh Pujo, karena kalau hal itu
terjadi, ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat!
"Duh,
Hyang Maha Wisesa, lindungilah hamba-Mu daripada malapetaka itu..... "
keluhnya.
"Kau
bicara apa, Joko Wandiro?" Sang puteri yang melihat gerak bibirnya tanpa
mendengar suara, bertanya,
"Ohh
hamba hendak mengatakan bahwa lebih baik kita segera berangkat sekarang agar
jangan kemalaman di tengah hutan, gusti."
"Baiklah,
Joko Wandiro. Mari!" Sang puteri lalu menyendal kudanya dan membalapkan
kudanya menuju ke barat.
Dengan hati
uring-uringan Endang Patibroto meninggalkan ibu kandungnya. Ia membalapkan
kudanya dengan cemberut, pandang matanya menyala-nyala dan hatinya kecewa
sekali. Bertahun-tahun ia tidak bertemu ibunya dan merasa amat rindu kepada
ibunya. Baru saja bertemu, ia telah ditinggal mati ayah kandungnya. Kemudian,
ibu kandungnya sendiri marah-marah kepadanya, hendak memaksanya meninggalkan
Jenggala, bahkan ibunya telah menyerangnya dengan keris, hendak membunuhnya.
Ibu kandungnya sendiri, ingin sekali Endang Patibroto menangis dan
menjerit-jerit, akan tetapi hatinya yang sudah menerima gemblengan gurunya,
Dibyo Mamangkoro, sudah membeku dan tidak ada setitikpun air mata di pelupuk
matanya.
"Endang.......!
Endang Patibroto.....! Kautunggulah aku!"
Berkali-kali
Pangeran Panjirawit berteriak sambil mengejar. Diam-diam pangeran inipun merasa
prihatin sekali. Sebagai seorang pangeran, ia maklum pula akan segala peristiwa
di Bayuwismo tadi. Sebagai seorang satria, iapun tidak bisa menyalahkan ibu
Endang Patibroto yang berjiwa satria. Dan sebagai seorang pria yang amat
mencinta Endang Patibroto, iapun maklum betapa hancur hati dara perkasa yang
dicintanya itu. Akan tetapi Endang Patibroto yang sedang marah-marah itu tidak
memperdulikan panggilan sang pangeran. Bahkan ia tidak memperdulikan kudanya
yang sudah terengah-engah hampir putus napasnya dan sudah bermandi peluh karena
dilarikan kencang terus-menerus tak kunjung henti.
Tiba-tiba dari
depan nampàk tiga orang penunggang kuda. Mereka itu bukan lain kepala rampok
yang kemarin dulu telah menawan Puteri Mayagaluh. Setelah berhasil diusir oleh
Joko Wandiro, kepala rampok ini melarikan diri di atas kuda tunggangan Sang
Puteri Mayagaluh. Akan tetapi hatinya masih penasaran karena puteri yang cantik
jelita dan yang bagaikan sepotong daging telah berada di depan mulutnya, kini
terampas orang lain. Sengoro, kepala rampok ini tidak pergi jauh, yaitu ke
tempat persembunyian dua orang kakak seperguruannya yang bernama Kolodumung dan
Kolomedo, dua orang kakak beradik yang tentu saja memiliki kesaktian lebih
hebat daripada Sengoro sendiri. Setelah menuturkan perihal puteri jelita
terutama perhiasan-perhiasan indah yang dipakainya, Sengoro lalu mengajak kedua
orang kakak seperguruannya ini untuk melakukan pengejaran. Tentu saja kedua
orang jahat itu menjadi tertarik dan segera mereka menunggang kuda lalu bersama
Sengoro pergi mencari.
"Nah itu
dia agaknya!"
Seru Sengoro
ketika melihat di depan seorang dara jelita berpakaian mewah membalapkan kuda
yang sudah payah. Hati kedua orang temannya juga girang sekali karena gadis itu
benar-benar amat cantik jelita dan perhiasan yang dipakai di kedua tangan dan
di pinggangnya sudah berkilauan dan jelas dapat mereka ketahui bahwa
perhiasan-perhiasan itu terbuat daripada emas permata yang mahal harganya!
Mereka bertiga sengaja menghadang di tengah jalan sehingga jalan sempit itu
penuh dengan tiga ekor kuda mereka. Endang Patibroto sedang marah. Andaikata ia
tidak sedang marah sekalipun, ia tentu takkan mengampuni tiga orang yang berani
menghadang perjalanannya. Apalagi pada saat itu ia sedang diamuk kemarahan maka
dari jauh ia sudah membentak,
"Tiga
ekor anjing busuk, minggir!!”
Akan tetapi
tiga orang laki-laki itu sama sekali tidak mau minggir, bahkan Kolodumung
segera menggerakkan tangan kanannya dan sinar hitam menyambar ke depan, tepat mengenai
kepala kuda yang ditunggangi Endang Patibroto. Kuda itu meringkik keras,
mengangkat kaki depan ke atas, terhuyung-huyung lalu roboh dan mati seketika!
Untung Endang Patibroto sudah melompat turun sehingga ia tidak terhimpit badan
kuda. Tiga orang laki-laki itu tertawa dan melompat turun dari atas kuda pula.
"Ha-ha-ha,
kakang berdua! Perempuan yang kumaksudkan bukan ini. Akan tetapi, dia inipun
hebat sekali, malah lebih liar daripada yang kumaksudkan!"
"Hua-ha-hah!
Bagus kalau begitu, lebih banyak lebih baik" jawab Kolodumung gembira.
Endang
Patibroto yang sedang dilanda kemarahan itu kini berdiri dengan mata
seakan-akan mengeluarkan api. Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahannya,
makin menyala-nyala melihat kuda tunggangannya roboh dan tewas. Menurutkan
kemarahannya, ingin ia sekali turun tangan membunuh tiga orang kasar ini. Àkàn
tetapi pandang matanya tertarik oleh kuda yang ditunggangi Sengoro. Ia mengenal
kuda itu sebagai kuda tunggangan Mayagaluh! Kalau kuda itu terjatuh ke dalarn
tangan iblis ini, berarti Mayagaluh juga tertawan!
Berdebar keras
jantung Endang Patibroto. Betapapun juga, dialah yang bertanggung jawab kalau
terjadi sesuatu yang tak baik atas diri sang puteri. Dia adalah pengawal, dan
dia pula yang membawa sang puteri sampai ke tempat ini dan harus menyiksa
mereka ini dan memaksa mereka mengaku di mana adanya Mayagaluh dan apa yang
terjadi atas diri puteri itu. Karena teringat akan puteri itu maka Endang
Patibroto menahan kemarahannya dan tidak ingin menurunkan tangan maut. Ia menoleh
dan melihat sebatang pohon waru di dekatnya. Tangannya lalu menjangkau dan
memetik beberapa helai daun waru, kemudian ia berseru keras sambil menyambitkan
daun-daun itu ke depan,
"Anjing
busuk rasakan ini!!”
Tiga orang itu
tertawa makin lebar melihat betapa Endang Patibroto menyerang mereka dengan
sambitan daun-daun waru. Mereka menganggapnya lucu sekali dan tentu saja
sebagai orang-orang yang digdaya, mereka sama sekali tidak perdulikan serangan
ini. Siapa yang sudi mengelak dari sambaran daun-daun waru, apalagi yang
disambitkan oleh seorang wanita ayu? Riuh-rendah mereka tertawa-tawa.
"Huah-hah-hah
ha-ha-ha-ha........ haa-uupp!"
"Ha-hauiiihhh!"
"Ha-haduuuhhh!!"
Suara ketawa
mereka segera terhenti, muka yang tadinya tertawa-tawa itu kini menyeringai dengan
mata terbelalak dan mereka mengaduh-aduh kesakitan. Daun-daun waru menempel di
muka dan lengan mereka dan kulit di bawah daun itu keluar darah bertetes-tetes!
Saking hebatnya sambitan itu, daun-daun waru kini menempel menjadi satu dengan
kulit daging, bahkan ada yang gagangnya menancap sampai dalam seperti paku.
Daun yang agak berbulu ini selain menimbulkan sakit dan perih, juga
gatal-gatal.
"Perempuan
lblis......!!”
"Kuntilanakl"
"Keparat,
tunggu kau, kuengkuk-engkuk (tekuk-tekuk) engkau.....!"
Rasa kaget,
heran, dan kesakitan kini berubah menjadi kemarahan hebat. Tiga orang itu
memang orang-orang kasar yang biasanya jarang bertemu tanding, yang selalu
dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain mengandalkan kekerasan, sehingga
kemenangan-kemenangan itu membuat mereka sombong dan merasa seakan-akan tiada
tandingan mereka di dunia ini. Kini bertemu dengan Endang Patibroto yang hanya
seorang dara ayu, biarpun mereka dikejutkan oleh serangan daun waru, namun
belum membuka mata mereka bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang yang
memiliki kesaktian jauh iebih tinggi daripada mereka. Serentak ketiganya
menerjang maju dengan kedua lengan dikembangkan, jari jari tangan dibuka
seperti tiga ekor harimau hendak menerkam seekor domba.
Betapapun
marah hati mereka, tiga orang laki-laki kasar ini masih merasa sayang untuk
membunuh seorang dara muda belia yang jelita tu, maka mereka menerjang maju
untuk menangkap dan tidak mau menggunakan senjata. Tentu saja Endang Patibroto
tidak sudi disergap laki-laki kasar macam mereka. Sekali tangan kirinya
bergerak eperti orang menampar dari kanan kiri, tiga orang itu merasa
seakan-akan disambar petir, pandang mata berkunang, kepala pening dan tubuh
mereka terpelanting kemudian jatuh ke atas tanah!
Masih baik
bahwa Endang Patibroto tidak mengerahkan seluruh tenaga dalam aji pukulan
Wisang Nolo (Api Beracun) ini, kalau hal itu dilakukannya, tentu mereka bertiga
sudah roboh tak bernapas lagi dan dengan tubuh hangus-hangus! Mendapat
kenyataan betapa dara itu tanpa menyentuh mereka telah dapat membuat mereka
terpelanting, tahulah tiga orang kasar ini bahwa lawannya, biarpun muda belia
dan ayu manis, ternyata adalah seorang yang sakti mandraguna, memiliki aji
kesaktian tidak lumrah manusia, seperti iblis saja. Mereka menjadi makin marah
akan tetapi kali ini juga gentar, maka sambil melompat bangun, mereka serentak
mencabut senjata mereka. Kolodumung memegang senjata cambuk yang berwarna
hitam. Cambuk ini terbuat daripada kulit kerbau, ulet dan kuat sekali, dan
ujung cambuk dipasangi kaitan baja seperti pancing. Celakalah lawan kalau
terkena sambaran kaitan ini, sekali masuk ke dalam daging sukar ditarik keluar
lagi. Sambil berteriak-teriak marah Kolodumung memutar cambuknya ke atas kepala
dan terdengar suara meledak-ledak keras. Kolomedo mengeluarkan senjatanya
sebatang pedang melengkung yang amat tajam sehingga mengeluarkan sinar
berkilauan ketika ia putar-putar dan tenaga yang besar membuat pedang itu
mengeluarkan bunyi berdesing-desing. Juga Sengoro sendiri sudah mencabut goloknya
yang besar dan berat.
"Perempuan
iblis! Kau mencari mampus sendiri!"
Seru
Kolodumung sambil menerjang maju dengan ayunan cambuknya, melecutkan ujung
cambuk ke arah leher Endang Patibroto. Alangkah akan mengerikan kalau kaitan
baja di ujung cambuk itu mengenai leher yang berkulit kuning halus itu! juga
pada detik berikutnya, Kolomedo dan Sengoro sudah menerjang dengan bacokan
pedang dan golok dari kanan kiri. Dalam kemarahannya yang meluap-luap, Endang
Patibroto tidak sudi melayani tiga orang ini.
No comments:
Post a Comment