Kini melihat pemuda yang kelihatannya sederhana itu menghaturkan sembah, ia bertanya, suaranya halus namun mengandung wibawa,
"Joko
Wandiro namamu? Bukankah engkau ini satria yang pernah menghadap ramanda prabu
dan yang telah mengusir mundur Ni Durgogini dan Ni Nogogini dari Panjalu?"
"Benar
seperti yang paduka katakan gusti pangeran."
"Joko
Wandiro, kau pernah menghadap ramanda prabu hendak mengabdikan diri, sekarang
engkau melakukan perlawanan terhadap prajurit-prajurit Panjalu. Apakah hal ini
berarti bahwa engkau kini telah berfihak kepada Jenggala?"
"Tidak,
dalam peristiwa ini hamba sama sekali tidak mengingat tentang kerajaan manapun.
Hamba hanya melihat seorang wanita yang hendak dibawa secara paksa oleh
serombongan pria yang mempergunakan kekerasan. Andaikata wanita itu bukan
kebetulan sang puteri dari Jenggala, sekalipun seorang gadis dusun, sudah pasti
hamba juga akan turun tangan membelanya. Sebaliknya, andaikata rombongan pria
itu bukan prajurit-prajurit Panjalu, misalnya mereka itu para prajurit Jenggala
yang mengganggu seorang puteri Panjalu, hambapun tentu akan bertindak mencegah
dan menentang mereka."
Senyum kagum
menghias wajah tampan itu dan sepasang mata Pangeran Darmokusumo
bersinar-sinar, kemudian ia mengangguk-angguk dan menoleh ke arah Puteri
Mayagaluh dan berkata,
"Diajeng
Mayagaluh, sungguh bahagia sekali engkau mendapatkan seorang penolong seperti
satria bagus ini." Kemudian ia memandang Joko Wandiro dan berkata halus,
"Joko
Wandiro, aku sudah mendengar tentang pertolonganmu kepada sang puteri dari
tangan perampok jahat. Sebagai kakak misannya, aku mengucapkan terima kasih
atas pertolonganmu dan harap kau jangan kepalang dalam melepas budi kepada kami
keluarga yang tak bahagia. Antarkan diajeng Mayagaluh sampai selamat ke
Jenggala."
Joko Wandiro
menyembah, hatinya kagum terhadap pangeran ini. Alangkah akan senang hatinya
kalau ia dapat menghambakan diri kepada seorang junjungan yang bijaksana
seperti Pangeran Panjalu ini.
"Memang
sudah hamba janjikan kepada gusti puteri untuk mengantar beliau pulang ke
Jenggala. Kewajiban ini hamba sekali-kali tidak menganggap sebagai pertolongan,
maka harap paduka jangan memuji hamba terlalu tinggi."
Pada saat itu,
Ki Darmobroto dan perwira Panjalu yang tadi mengejar sudah tiba di tempat itu.
Para perwira masih lemah dan pucat akibat pukulan Bojro Dahono dan mereka hanya
dapat menundukkan muka ketika ditegur oleh sang pangeran. Akan tetapi pangeran
ini hanya bertanya dengan suara halus kepada Ki Darmobroto,
"Paman
Darmobroto, mengapa pula paman mencampuri pertandingan antara Joko Wandiro dan
perwira-perwira Panjalu yang kurang ajar ini?"
Ki Darmokusumo
menghaturkan sembah lalu menjawab, suaranya tenang karena ia merasa dalam
kebenaran,
"Hamba
hanya melihat para perwira Panjalu bertanding melawan orang muda yang sakti ini
dan sebagai seorang hamba Panjalu tentu saja hamba tidak dapat tinggal diam.
Menyesal sekali bahwa kepandaian hamba tidak ada artinya sehingga biarpun hamba
bantu, para perwira paduka tetap saja mengalami kekalahan."
Setelah
berkata demikian, Ki Darmobroto melirik dengan pandang mata kagum terhadap
bekas lawannya yang masih bersimpuh di dekatnya, depan sang pangeran. Mendengar
ini, Pangeran Darmokusumo menjadi makin kagum terhadap pemuda itu.
"Joko
Wandiro, karena diajeng Mayagaluh telah sesat jalan dan berpisah dari
rakandanya Sang Pangeran Panjirawit, maka lebih baik kau lekas-lekas mengantar
pulang ke Jenggala agar jangan sampai menggelisahkan keluarganya."
Pangeran itu
lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan dua ekor kuda pllihan. Setelah
dua ekor kuda yang pilihan dipersiapkan, Puteri Mayagaluh sejenak saling
pandang dengan Pangeran Darmokusumo, kemudian sang puteri menangis dan
mengeluh,
"Kakangmas,
mungkinkah kita dapat saling bertemu kembali... "
Pangeran itu
tersenyum sedih dan ketika Mayagaluh menangis, ia lalu memeluknya dan
mengusap-usap rambutnya yang hitam halus, berbisik-bisik memberi hiburan kepada
puteri itu. Betapa hancur hati kedua orang muda yang saling mencinta ini
menghadapi kenyataan betapa ramanda mereka saling bermusuhan. Melihat dua orang
itu mengadakan perpisahan yang mengharukan, Joko Wandiro mempergunakan
kesempatan ini untuk mendekati Ki Darmobroto dan berkata,
"Paman
Darmobroto, saya gembira sekali dapat bertemu dengan paman. Memang saya
mempunyai niat untuk mencari paman."
Ki Darmobroto
tersenyum. Ia merasa kagum dan suka kepada orang muda ini, yang memiliki
kesaktian hebat akan tetapi selalu bersikap rendah hati dan juga tidak sombong,
tidak keji.
"Akupun
amat senang dapat berkenalan dengan anakmas Joko Wandiro yang sakti mandraguna.
Kehormatan apa gerangan yang hendak anakmas berikan sehingga anakmas bersusah
payah mencari pamanmu yang miskin ini?"
Karena ia tahu
bahwa berita yang hendak disampaikannya bukan hal yang menggembirakannya, Joko
Wandiro mengerutkan keningnya dan mukanya berubah suram. Hal ini tak terlepas
dari pandang mata Ki Darmobroto yang awas, maka kakek itu cepat-cepat bertanya,
"Ada
apakah, anakmas Joko Wandiro?"
"Paman,
sungguh berat rasa hati saya untuk menyampaikan berita ini. Paman....secara tak
disengaja saya telah menjadi saksi akan kematian paman Adibroto dan....
isterinya, serta mendengar pula pesan terakhir mendiang paman Adibroto."
Ki Darmobroto
adalah seorang sakti yang gentur tapa (tekun bertapa), batinnya sudah amat
kuat, tidak mudah dipengaruhi suka-duka duniawi. Namun mendengar berita bahwa
sahabat baiknya, Ki Adibroto dan isterinya telah meninggal dunia, ia terkejut
bukan main sehingga sejenak ia tak dapat berkata-kata. Kemudian ia bertanya,
suaranya gemetar,
"Adibroto
dan isterinya..... meninggal dunia...... ? Belum lama ini mereka berdua singgah
di rumahku......!!"
"Saya
menyaksikan kematian paman Adibroto dengan kedua mata saya sendiri, paman.
Beliau tewas karena luka-luka yang dideritanya"
"Terbunuh!!"
Ki Darmobroto berseru.
"Siapa
pembunuhnya? Mengapa orang sebaik budi Adibroto dibunuh?"
Joko Wandiro
menggeleng kepalanya, hatinya terasa perih. Diam-diam ia menduga bahwa kematian
Ki Adibroto dan isterinya, atau ibu kandungnya sendiri, tentu ada hubungannya
dengan Pujo, guru dan ayah angkatnya. Hal inilah yang membuat hatinya sangat
berduka setiap kali ia teringat.
"Saya
tidak tahu, paman. Paman Adibroto tidak mengatakan apa-apa, hanya meninggalkan
pesan kepada.... Ayu Candra bahwa bahwa Ayu Candra telah dijodohkan dengan
putera paman yang bernama Joko Seto."
"Betul
sekali. Di mana kini adanya nini Ayu Candra? Kasihan sekali anak itu,
kehilangan ayah bundanya!"
Kemudian kakek
itu teringat sesuatu dan bertanya, memandang penuh selidik,
"Anakmas
Joko Wandiro, bagaimana anakmas dapat menyaksikan itu semua? Kenalkah anda
dengan keluarga itu?"
Joko Wandiro
merasa berat untuk membentangkan semua keadaannya. Ia hanya menggeleng kepala
dan menjawab,
"Secara
kebetulan saja saya lewat di Telaga Sarangan dan menyaksikan hal itu.
Adapun..... diajeng Ayu Candra telah pergi, saya sendiri tidak tahu ke mana,
bahkan sekarangpun sebenarnya saya sedang mencarinya dengan maksud mengantarnya
ke Merbabu, ke tempat tinggal paman."
"Mengapa
pergi? Kemana?"
"Saya
tidak tahu, paman. Mungkin pergi mencari musuh yang telah menewaskan paman
Adibroto dan isterinya, padahal dia sendiripun tidak tahu siapa musuhnya itu
dan paman Adibroto sudah berpesan agar jangan membalas dendam, jangan mencari
musuh."
Ki Darmobroto
masih ingin banyak bertanya, akan tetapi pada saat itu terdengar suara Puteri
Mayagaluh,
"Joko
Wandiro, sudah siapkah engkau? Mari kita berangkat!”
Joko Wandiro
bangkit berdiri lalu berpamit kepada Pangeran Darmokusomo, kemudian meloncat ke
atas punggung kuda yang disediakan untuknya, lalu bersama Puteri Mayagaluh yang
sudah naik ke atas kuda pula meninggalkan tempat itu.
Sang puteri
beberapa kali menengok dan bertukar pandang mesra dengan Pangeran Darmokusumo,
kemudian setelah mereka berbelok pada sebuah tikungan, sang puteri menghapus
air mata dari pipinya dengan tangan.
"Gusti
Pangeran Darmokusumo sungguh seorang yang berbudi luhur!" Joko Wandiro
berkata perlahan.
Sang puteri
terkejut dan mengangkat muka memandang kepada pemuda yang menjalankan kuda di
sebelah kirinya, lalu memaksa senyum. Senyum yang amat cerah sehingga lenyaplah
semua kedukaan dan kekecewaan.
"Mengapa
kau berkata demikian, Joko Wandiro?"
"Mengapa?
Hamba memuji gusti pangeran dari Panjalu itu, dan memang sepatutnya
dipuji."
"Hemm,
tiada hujan tiada angin engkau memuji-mujinya di depanku. Apa yang tersembunyi
di balik kata-katamu, orang muda?"
Joko Wandiro
menjadi merah mukanya. Kiranya sang puteri amat peka perasaannya, seakan-akan
dapat menjenguk dan mengintai isi hatinya.
"Maaf,
gusti puteri. Hamba eh, hamba kira eh, gusti pangeran amat sayang kepada paduka
dan......... eh, memang sepadan benar. Sayang sekali, ramanda paduka berdua tak
dapat hidup berdampingan dalam suasana damai."
Mendengar ini,
sang puteri menarik napas panjang.
"Matamu
awas benar, Joko Wandiro. Memang......" Puteri jelita itu menunduk malu,
"kangmas
Pangeran Darmokusumo amat sayang kepadaku, semenjak dahulu sayang"
Melihat wajah
yang jelita itu kembali terselubung awan kedukaan, cepat-cepat Joko Wandiro
berkata,
"Sesungguhnya
hamba heran sekali, bagaimanakah paduka sampai dapat melakukan perjalanan
begini jauhnya? Kalau boleh hamba bertanya, paduka bersama rakanda paduka dan
pengawal, hendak pergi ke manakah?"
"Ah, ini
gara-gara kakanda Pangeran Panjirawit yang selalu menuruti semua kehendak
Endang Patibroto!" Sang puteri menarik napas panjang lalu menyambung
lirih,
"Orang
kalau sudah jatuh cinta...... ah, aneh-aneh saja kelakuannya....!!!”
Akan tetapi
ketika sang puteri menengok dan memandang kepada Joko Wandiro, ia melihat
pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, seakan-akan
melihat dia telah berubah menjadi benda yang menakjubkan. Seketika wajah sang
puteri menjadi merah sekali, teringat betapa pemuda ini ketika menolongnya dari
tangan perampok, telah mencium pipinya! Hal itu telah ia maafkan mengingat
bahwa ia telah terbebas daripada bahaya mengerikan, tertolong oleh pemuda ini.
Akan tetapi kini melihat betapa joko Wandiro memandangnya seperti itu, ia cepat
cepat berkata,
"Kakanda
Pangeran Panjirawit jatuh cinta kepada pengawal kami Endang Patibroto sedangkan
aku........aku.... dan kakangmas Pangeran Darmokusumo juga saling...... eh,
mencinta. Entah siapa di antara kami yang gagal kelak!"
la menundukkan
mukanya. Puteri ini dengan bijaksana memaksa diri menyatakan cinta kasihnya
kepada Pangeran Darmokusumo untuk mengusir perasaan yang
"bukan-bukan" dari dalam hati pemuda penolongnya yang amat ia kagumi
ini.
Joko Wandiro
seperti baru sadar daripada mimpi buruk. Ucapan terakhir ini hanya lewat saja
di telinganya dan dianggapnya tidak ada artinya. la tadi begitu kaget mendengar
nama Endang Patibroto disebut-sebut. Sebagai kepala pengawal! Kepala pengawal
Kerajaan Jenggala lagi! la begitu heran mendengar ini sampai tadi terlongong
dan disalah artikan oleh sang puteri. Untuk memulihkan lagi ketenangannya, Joko
Wandiro terbatuk-batuk.
"Maafkan
hamba, gusti puteri. Hamba melamun tadi. Jadi paduka pergi bertiga bersama
rakanda paduka dan kepala pengawal yang bernama Endang Patibroto? Kepala
pengawal seorang wanita?"
Sang puteri
tertawa. Sikap dan kata-kata pemuda ini sudah kembali biasa dan hatinya menjadi
lega karenanya. Ia tadinya khawatir kalau-kalau pemuda ini tak mampu menguasai
hatinya. Ia akan merasa berduka sekali kalau sampai pemuda ini menjadi korban
asmara karena dia. Kembali lagi kegembiraan sang puteri. Ia tertawa sehingga
tampak giginya berderet putih seperti mutiara.
"Ah,
engkau tidak tahu, Joko Wandiro. Memang Endang Patibroto seorang wanita, akan
tetapi wah, wanita yang bagaimana! Sakti mandraguna pilih tanding. Cantik
jelita dan muda belia, akan tetapi kiraku orang senegara tidak ada yang akan
dapat menandinginya. Dibandingkan dengan engkau, Joko Wandiro eh betul juga
kalian ini!"
Sepasang mata
yang indah bening seperti burung nun itu bersinar-sinar, wajah yang kedua
pipinya kemerahan berseri-seri.
No comments:
Post a Comment