Badai Laut Selatan ; Bagian 124


Kini melihat pemuda yang kelihatannya sederhana itu menghaturkan sembah, ia bertanya, suaranya halus namun mengandung wibawa,
"Joko Wandiro namamu? Bukankah engkau ini satria yang pernah menghadap ramanda prabu dan yang telah mengusir mundur Ni Durgogini dan Ni Nogogini dari Panjalu?"
"Benar seperti yang paduka katakan gusti pangeran."
"Joko Wandiro, kau pernah menghadap ramanda prabu hendak mengabdikan diri, sekarang engkau melakukan perlawanan terhadap prajurit-prajurit Panjalu. Apakah hal ini berarti bahwa engkau kini telah berfihak kepada Jenggala?"
"Tidak, dalam peristiwa ini hamba sama sekali tidak mengingat tentang kerajaan manapun. Hamba hanya melihat seorang wanita yang hendak dibawa secara paksa oleh serombongan pria yang mempergunakan kekerasan. Andaikata wanita itu bukan kebetulan sang puteri dari Jenggala, sekalipun seorang gadis dusun, sudah pasti hamba juga akan turun tangan membelanya. Sebaliknya, andaikata rombongan pria itu bukan prajurit-prajurit Panjalu, misalnya mereka itu para prajurit Jenggala yang mengganggu seorang puteri Panjalu, hambapun tentu akan bertindak mencegah dan menentang mereka."

Senyum kagum menghias wajah tampan itu dan sepasang mata Pangeran Darmokusumo bersinar-sinar, kemudian ia mengangguk-angguk dan menoleh ke arah Puteri Mayagaluh dan berkata,
"Diajeng Mayagaluh, sungguh bahagia sekali engkau mendapatkan seorang penolong seperti satria bagus ini." Kemudian ia memandang Joko Wandiro dan berkata halus,
"Joko Wandiro, aku sudah mendengar tentang pertolonganmu kepada sang puteri dari tangan perampok jahat. Sebagai kakak misannya, aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu dan harap kau jangan kepalang dalam melepas budi kepada kami keluarga yang tak bahagia. Antarkan diajeng Mayagaluh sampai selamat ke Jenggala."
Joko Wandiro menyembah, hatinya kagum terhadap pangeran ini. Alangkah akan senang hatinya kalau ia dapat menghambakan diri kepada seorang junjungan yang bijaksana seperti Pangeran Panjalu ini.
"Memang sudah hamba janjikan kepada gusti puteri untuk mengantar beliau pulang ke Jenggala. Kewajiban ini hamba sekali-kali tidak menganggap sebagai pertolongan, maka harap paduka jangan memuji hamba terlalu tinggi."
Pada saat itu, Ki Darmobroto dan perwira Panjalu yang tadi mengejar sudah tiba di tempat itu. Para perwira masih lemah dan pucat akibat pukulan Bojro Dahono dan mereka hanya dapat menundukkan muka ketika ditegur oleh sang pangeran. Akan tetapi pangeran ini hanya bertanya dengan suara halus kepada Ki Darmobroto,
"Paman Darmobroto, mengapa pula paman mencampuri pertandingan antara Joko Wandiro dan perwira-perwira Panjalu yang kurang ajar ini?"
Ki Darmokusumo menghaturkan sembah lalu menjawab, suaranya tenang karena ia merasa dalam kebenaran,
"Hamba hanya melihat para perwira Panjalu bertanding melawan orang muda yang sakti ini dan sebagai seorang hamba Panjalu tentu saja hamba tidak dapat tinggal diam. Menyesal sekali bahwa kepandaian hamba tidak ada artinya sehingga biarpun hamba bantu, para perwira paduka tetap saja mengalami kekalahan."

Setelah berkata demikian, Ki Darmobroto melirik dengan pandang mata kagum terhadap bekas lawannya yang masih bersimpuh di dekatnya, depan sang pangeran. Mendengar ini, Pangeran Darmokusumo menjadi makin kagum terhadap pemuda itu.
"Joko Wandiro, karena diajeng Mayagaluh telah sesat jalan dan berpisah dari rakandanya Sang Pangeran Panjirawit, maka lebih baik kau lekas-lekas mengantar pulang ke Jenggala agar jangan sampai menggelisahkan keluarganya."
Pangeran itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan dua ekor kuda pllihan. Setelah dua ekor kuda yang pilihan dipersiapkan, Puteri Mayagaluh sejenak saling pandang dengan Pangeran Darmokusumo, kemudian sang puteri menangis dan mengeluh,
"Kakangmas, mungkinkah kita dapat saling bertemu kembali... "
Pangeran itu tersenyum sedih dan ketika Mayagaluh menangis, ia lalu memeluknya dan mengusap-usap rambutnya yang hitam halus, berbisik-bisik memberi hiburan kepada puteri itu. Betapa hancur hati kedua orang muda yang saling mencinta ini menghadapi kenyataan betapa ramanda mereka saling bermusuhan. Melihat dua orang itu mengadakan perpisahan yang mengharukan, Joko Wandiro mempergunakan kesempatan ini untuk mendekati Ki Darmobroto dan berkata,
"Paman Darmobroto, saya gembira sekali dapat bertemu dengan paman. Memang saya mempunyai niat untuk mencari paman."
Ki Darmobroto tersenyum. Ia merasa kagum dan suka kepada orang muda ini, yang memiliki kesaktian hebat akan tetapi selalu bersikap rendah hati dan juga tidak sombong, tidak keji.
"Akupun amat senang dapat berkenalan dengan anakmas Joko Wandiro yang sakti mandraguna. Kehormatan apa gerangan yang hendak anakmas berikan sehingga anakmas bersusah payah mencari pamanmu yang miskin ini?"
Karena ia tahu bahwa berita yang hendak disampaikannya bukan hal yang menggembirakannya, Joko Wandiro mengerutkan keningnya dan mukanya berubah suram. Hal ini tak terlepas dari pandang mata Ki Darmobroto yang awas, maka kakek itu cepat-cepat bertanya,
"Ada apakah, anakmas Joko Wandiro?"
"Paman, sungguh berat rasa hati saya untuk menyampaikan berita ini. Paman....secara tak disengaja saya telah menjadi saksi akan kematian paman Adibroto dan.... isterinya, serta mendengar pula pesan terakhir mendiang paman Adibroto."

Ki Darmobroto adalah seorang sakti yang gentur tapa (tekun bertapa), batinnya sudah amat kuat, tidak mudah dipengaruhi suka-duka duniawi. Namun mendengar berita bahwa sahabat baiknya, Ki Adibroto dan isterinya telah meninggal dunia, ia terkejut bukan main sehingga sejenak ia tak dapat berkata-kata. Kemudian ia bertanya, suaranya gemetar,
"Adibroto dan isterinya..... meninggal dunia...... ? Belum lama ini mereka berdua singgah di rumahku......!!"
"Saya menyaksikan kematian paman Adibroto dengan kedua mata saya sendiri, paman. Beliau tewas karena luka-luka yang dideritanya"
"Terbunuh!!" Ki Darmobroto berseru.
"Siapa pembunuhnya? Mengapa orang sebaik budi Adibroto dibunuh?"
Joko Wandiro menggeleng kepalanya, hatinya terasa perih. Diam-diam ia menduga bahwa kematian Ki Adibroto dan isterinya, atau ibu kandungnya sendiri, tentu ada hubungannya dengan Pujo, guru dan ayah angkatnya. Hal inilah yang membuat hatinya sangat berduka setiap kali ia teringat.
"Saya tidak tahu, paman. Paman Adibroto tidak mengatakan apa-apa, hanya meninggalkan pesan kepada.... Ayu Candra bahwa bahwa Ayu Candra telah dijodohkan dengan putera paman yang bernama Joko Seto."
"Betul sekali. Di mana kini adanya nini Ayu Candra? Kasihan sekali anak itu, kehilangan ayah bundanya!"
Kemudian kakek itu teringat sesuatu dan bertanya, memandang penuh selidik,
"Anakmas Joko Wandiro, bagaimana anakmas dapat menyaksikan itu semua? Kenalkah anda dengan keluarga itu?"

Joko Wandiro merasa berat untuk membentangkan semua keadaannya. Ia hanya menggeleng kepala dan menjawab,
"Secara kebetulan saja saya lewat di Telaga Sarangan dan menyaksikan hal itu. Adapun..... diajeng Ayu Candra telah pergi, saya sendiri tidak tahu ke mana, bahkan sekarangpun sebenarnya saya sedang mencarinya dengan maksud mengantarnya ke Merbabu, ke tempat tinggal paman."
"Mengapa pergi? Kemana?"
"Saya tidak tahu, paman. Mungkin pergi mencari musuh yang telah menewaskan paman Adibroto dan isterinya, padahal dia sendiripun tidak tahu siapa musuhnya itu dan paman Adibroto sudah berpesan agar jangan membalas dendam, jangan mencari musuh."
Ki Darmobroto masih ingin banyak bertanya, akan tetapi pada saat itu terdengar suara Puteri Mayagaluh,
"Joko Wandiro, sudah siapkah engkau? Mari kita berangkat!”
Joko Wandiro bangkit berdiri lalu berpamit kepada Pangeran Darmokusomo, kemudian meloncat ke atas punggung kuda yang disediakan untuknya, lalu bersama Puteri Mayagaluh yang sudah naik ke atas kuda pula meninggalkan tempat itu.
Sang puteri beberapa kali menengok dan bertukar pandang mesra dengan Pangeran Darmokusumo, kemudian setelah mereka berbelok pada sebuah tikungan, sang puteri menghapus air mata dari pipinya dengan tangan.
"Gusti Pangeran Darmokusumo sungguh seorang yang berbudi luhur!" Joko Wandiro berkata perlahan.
Sang puteri terkejut dan mengangkat muka memandang kepada pemuda yang menjalankan kuda di sebelah kirinya, lalu memaksa senyum. Senyum yang amat cerah sehingga lenyaplah semua kedukaan dan kekecewaan.
"Mengapa kau berkata demikian, Joko Wandiro?"
"Mengapa? Hamba memuji gusti pangeran dari Panjalu itu, dan memang sepatutnya dipuji."
"Hemm, tiada hujan tiada angin engkau memuji-mujinya di depanku. Apa yang tersembunyi di balik kata-katamu, orang muda?"

Joko Wandiro menjadi merah mukanya. Kiranya sang puteri amat peka perasaannya, seakan-akan dapat menjenguk dan mengintai isi hatinya.
"Maaf, gusti puteri. Hamba eh, hamba kira eh, gusti pangeran amat sayang kepada paduka dan......... eh, memang sepadan benar. Sayang sekali, ramanda paduka berdua tak dapat hidup berdampingan dalam suasana damai."
Mendengar ini, sang puteri menarik napas panjang.
"Matamu awas benar, Joko Wandiro. Memang......" Puteri jelita itu menunduk malu,
"kangmas Pangeran Darmokusumo amat sayang kepadaku, semenjak dahulu sayang"
Melihat wajah yang jelita itu kembali terselubung awan kedukaan, cepat-cepat Joko Wandiro berkata,
"Sesungguhnya hamba heran sekali, bagaimanakah paduka sampai dapat melakukan perjalanan begini jauhnya? Kalau boleh hamba bertanya, paduka bersama rakanda paduka dan pengawal, hendak pergi ke manakah?"
"Ah, ini gara-gara kakanda Pangeran Panjirawit yang selalu menuruti semua kehendak Endang Patibroto!" Sang puteri menarik napas panjang lalu menyambung lirih,
"Orang kalau sudah jatuh cinta...... ah, aneh-aneh saja kelakuannya....!!!”
Akan tetapi ketika sang puteri menengok dan memandang kepada Joko Wandiro, ia melihat pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, seakan-akan melihat dia telah berubah menjadi benda yang menakjubkan. Seketika wajah sang puteri menjadi merah sekali, teringat betapa pemuda ini ketika menolongnya dari tangan perampok, telah mencium pipinya! Hal itu telah ia maafkan mengingat bahwa ia telah terbebas daripada bahaya mengerikan, tertolong oleh pemuda ini. Akan tetapi kini melihat betapa joko Wandiro memandangnya seperti itu, ia cepat cepat berkata,
"Kakanda Pangeran Panjirawit jatuh cinta kepada pengawal kami Endang Patibroto sedangkan aku........aku.... dan kakangmas Pangeran Darmokusumo juga saling...... eh, mencinta. Entah siapa di antara kami yang gagal kelak!"
la menundukkan mukanya. Puteri ini dengan bijaksana memaksa diri menyatakan cinta kasihnya kepada Pangeran Darmokusumo untuk mengusir perasaan yang "bukan-bukan" dari dalam hati pemuda penolongnya yang amat ia kagumi ini.

Joko Wandiro seperti baru sadar daripada mimpi buruk. Ucapan terakhir ini hanya lewat saja di telinganya dan dianggapnya tidak ada artinya. la tadi begitu kaget mendengar nama Endang Patibroto disebut-sebut. Sebagai kepala pengawal! Kepala pengawal Kerajaan Jenggala lagi! la begitu heran mendengar ini sampai tadi terlongong dan disalah artikan oleh sang puteri. Untuk memulihkan lagi ketenangannya, Joko Wandiro terbatuk-batuk.
"Maafkan hamba, gusti puteri. Hamba melamun tadi. Jadi paduka pergi bertiga bersama rakanda paduka dan kepala pengawal yang bernama Endang Patibroto? Kepala pengawal seorang wanita?"
Sang puteri tertawa. Sikap dan kata-kata pemuda ini sudah kembali biasa dan hatinya menjadi lega karenanya. Ia tadinya khawatir kalau-kalau pemuda ini tak mampu menguasai hatinya. Ia akan merasa berduka sekali kalau sampai pemuda ini menjadi korban asmara karena dia. Kembali lagi kegembiraan sang puteri. Ia tertawa sehingga tampak giginya berderet putih seperti mutiara.
"Ah, engkau tidak tahu, Joko Wandiro. Memang Endang Patibroto seorang wanita, akan tetapi wah, wanita yang bagaimana! Sakti mandraguna pilih tanding. Cantik jelita dan muda belia, akan tetapi kiraku orang senegara tidak ada yang akan dapat menandinginya. Dibandingkan dengan engkau, Joko Wandiro eh betul juga kalian ini!"
Sepasang mata yang indah bening seperti burung nun itu bersinar-sinar, wajah yang kedua pipinya kemerahan berseri-seri.

<<< Bagian 123                                                                                      Bagian 125 >>>

No comments:

Post a Comment