Badai Laut Selatan ; Bagian 123


Sebetulnya, mengingat kedudukannya sebagai seorang tokoh besar Merbabu, seorang angkatan tua yang terkenal, Ki Darmobroto merasa sungkan untuk melawan Joko Wandiro yang bertangan kosong itu dengan tongkatnya yang sakti, Apa pula mengeroyoknya bersama lima orang perwira Panjalu. Akan tetapi karena yang dihadapinya ini bukan urusan pribadi, melainkan urusan membela Panjalu, ia mengesampingkan perasaan pribadi dan mendahulukan kepentingan junjungannya. Akan tetapi tidak seperti para perwira yang sudah marah dan terhina karena tadi beberapa kali dikalahkan Joko Wandiro dan kini menyerang dengan mati-matian, Ki Darmobroto menggerakkan tongkatnya hanya untuk merobohkan dan menawan pemuda itu.

Biarpun demikian, segera Joko Wandiro mendapat kenyataan betapa serangan orang tua ini amat hebat, ujung tongkatnya menyambar-nyambar dan pecah menjadi belasan batang agaknya saking cepatnya gerakan. Tongkat kayu cendana itu mengeluarkan bau harum dan ketika digerakkan, memperdengarkan suara mengaung. Joko Wandiro terkejut dan segera ia mengerahkan kepandaiannya untuk menghindari hujan senjata itu. Serangan para perwira yang lima orang jumlahnya itu dapat dengan mudah ia hindarkan, akan tetapi bayangan tongkat kayu cendana di tangan Ki Darmobroto benar-benar membuat ia repot. Ketika ia melompat jauh ke belakang untuk menjauhi para pengeroyoknya, bayangan tongkat dan bayangan putih itu mengejarnya, ujung tongkat tak pernah meninggalkan jalan darah di lehernya dan terdengar orang tua itu berseru,
"Menyerahlah!" sambil menusukkan ujung tongkat kearah jalan darah di leher yang akan membuatnya lumpuh seketika!
Joko Wandiro terpaksa mengeluarkan kepandaiannya. Dengan kelincahan mengandalkan Aji Bayu Sakti, ia miringkan tubuh ke kiri, kemudian dengan jari-jari tangan terbuka ia memukul ujung tongkat, itulah pukulan Aji Pethit Nogo yang ampuhnya bukan main. Jangankan hanya tongkat kayu, biarpun tongkat besi akan dapat dipukul patah oleh jari jari tangan yang penuh Aji Pethit Nogo!. Akan tetapi kakek itu ternyata hebat. Agaknya dari sambaran angin yang keluar dari tangan Joko Wandiro, kakek itu maklum akan keampuhan Pethit Nogo, maka ia menarik tongkatnya dan menggoyang tangan sehingga ujung tongkat itu kini menyambar dan menotok ke arah telapak tangan Joko Wandiro. Pemuda itu terkejut dan kagum. Dalam segebrakan ini saja ia maklum bahwa tingkat kepandaian Ki Darmobroto ini tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian Ni Durgogini atau Ni Nogogini! Totokan pada telapak tangannya itu amat berbahaya. Pusat jalan darah di tangan berada di telapak tangan, antara ibu jari dan telunjuk, kalau sampai kena tertotok, tentu kelima buah jarinya akan kaku dan tak dapat dipergunakan lagi untuk beberapa lama. Totokan serupa ini sekaligus melumpuhkan atau membuyarkan keampuhan ilmu pukulan Pethit Nogo yang dilakukan dengan telapak tangan terbuka, mengandalkan kepretan jari-jari tangan.
Maklum bahwa ilmu tongkat kakek itu dapat mengatasi ilmunya Pethit Nogo, Joko Wandiro segera menggerakkan tubuhnya dan mulailah ia melakukan gerakan-gerakan dari Ilmu Silat Bramoro Seto. Tubuhnya berkelebat cepat sekali dan ia menggunakan kecepatannya yang mengatasi kecepatan kakek itu untuk berusaha merampas tongkat. Ketika kakek ini menggerakkan tongkatnya menyabet dari kanan ke kiri, Joko Wandiro merendahkan tubuh dan secepat kilat tangannya menyambar ke depan. Di lain saat dua jari tangannya telah berhasil menjepit tongkat kayu cendana itu. Betapa kagetnya hati Ki Darmobroto ketika merasa betapa jepitan itu kuat sekali. Ia mengerahkan tenaga menarik, namun sia-sia, tongkatnya tak dapat terlepas dan pada detik itu, tangan kiri Joko Wandiro dengan jari tangan terbuka melakukan pukulan Pethit Nogo ke arah pelipisnya!.
"Celaka..........!!" seru Ki Darmobroto, terkejut sekali. Ia dapat menduga bahwa pukulan dengan jari tangan itu amat berbahaya, maka ia tadi memunahkannya dengan totokan-totokan tongkat. Kini tongkatnya terjepit dan dengan tangan kosong, tak mungkin ia berani menerima tamparan dengan jari jari seperti itu. Untuk mengelak, terpaksa ia harus melepaskan tongkatnya dan hal ini alangkah akan mendatangkan malu baginya. Ia bertongkat, bahkan dibantu lima orang perwira. Pemuda itu bertangan kosong, namun pemuda itu masih dapat merampas tongkatnya? Tidak! Tiba-tiba Ki Darmobroto mengeluarkan pekik nyaring dan tiba-tiba tubuhnya menggelinding ke bawah, terus bergulingan dan tentu saja tongkat itupun ikut terbawa olehnya. Caranya bergulingan amat aneh, akan tetapi Joko Wandiro merasa betapa lengannya yang jarinya menjepit tongkat itu tak dapat menahan dan hendak ikut terbawa gerakan si kakek. Terkejutlah ia dan pada saat itu, kakek itu meloncat sambil menggerakkan kedua kakinya, bertubi-tubi melakukan tendangan.
"Bagus!" Joko Wandiro berseru kagum. Terpaksa kini ia melepaskan tongkat kakek itu dan melompat ke samping sambil menggerakkan tangan kiri menangkis kaki lawannya.
"Desss........!!”
Tubuh kakek itu berputar-putar, namun dengan cekatan sekali kakek itu melompat ke atas dan mematahkan gaya berpusing sehingga ia tidak sampai roboh. Kembali Joko Wandiro memuji. Akan tetapi Ki Darmobroto mengeluarkan keringat dingin. Dua gebrakan tadi hampir saja mencelakainya. Kini tahulah ia bahwa pemuda ini benar-benar amat sakti, maka ia lalu menggerakkan tongkatnya dan menerjang tanpa sungkan-sungkan lagi.

Kalau tadi ia hanya berusaha mengalahkan dan menaklukkan pemuda itu, kini ia menyerang sungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Kebetulan lima orang perwira juga sudah maju lagi mengurung sehingga keadaan Joko Wandiro benar-benar terancam.
“Paman sekalian sungguh terlalu, mendesak-desak tanpa memberi kesempatan kepadaku. Kuharap paman suka membiarkan aku mengantar sang puteri kembali ke Jenggala."
"Tak perlu banyak cakap!" bentak seorang perwira.
Sesabar-sabarnya orang, tentu ada batasnya Joko Wandiro sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan para perwira Panjalu yang ia tahu adalah orang orang gagah perkasa dan prajurit prajurit utama ini, lebih-lebih lagi ia tidak ingin bermusuhan dengan Ki Darmobroto, calon ayah mertua Ayu Candra yang sedang di cari carinya itu! Akan tetapi ia pun tidak mungkin membiarkan Sang Puteri Mayagaluh menjadi tawanan, karena perang di antara kedua kerajaan kakak beradik itu sebetulnya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pribadi sang puteri. Ia menganggap tidak semestinya dan amat curanglah kalau mempergunakan permusuhan kerajaan itu untuk menyeret seorang gadis muda menjadi tawanan. Melihat betapa kini kuda yang ditunggangi Puteri Mayagaluh kembali sudah dituntun dan dibedalkan cepat oleh si perwira berkumis, kesabarannya lenyap.
"Paman-paman sekalian, sekali lagi hamba minta bebaskanlah sang puteri. Kalau tidak, terpaksa hamba berlaku kurang hormat!" Sengaja ia merendahkan diri kali ini.
"Joko Wandiro! Dengan berpihak kepada Jenggala, engkau menjadi pengkhianat dan menjadi musuh kami!" bentak seorang perwira dan mereka yang dipimpin oleh Ki Darmobroto yang sakti itu sudah menerjang maju bersama.
"Kalau begitu, terimalah ini!" Joko Wandiro mengeluarkan bentakan nyaring sekali, pekik dahsyat yang bukan menyerupai suara manusia lagi.
Pekik dahsyat ini mengiringi dorongan kedua tangannya yang bergerak mendorong sambil membuat lingkaran ke arah pengeroyoknya. Inilah pekik Dirodo Melu (Gajah Mengamuk) yang mengiringi Aji Bojro Dahono (Kilat Berapi) sebuah pukulan sakti yang dahulu pernah membuat Ki Patih Narotama terkenal! Hebat bukan main daya serangnya, baru pekik dahsyat itu saja sudah cukup untuk merobohkan lawan kuat yang tergetar jantungnya dan terbang semangatnya, apalagi aji pukulan yang mendatangkan angin lesus dan panasnya kilat menyambar itu.

Tubuh lima orang perwira Panjalu terlempar ke sana ke mari dalam keadaan pingsan! Hanya Ki Darmobroto yang dapat mempertahankan diri, hanya terhuyung-huyung sampai beberapa meter jauhnya, mukanya pucat dan dahinya mengeluarkan keringat dingin. Masih untung bahwa pemuda itu tidak bermaksud mencelakai mereka, dan hanya mempergunakan tenaga terbatas saja. Kalau tidak, tentu mereka semua termasuk Ki Darmobroto, akan tewas semua. Kakek itu berdiri terbelalak, menarik napas panjang berkali-kali untuk menghimpun tenaga memulihkan keadaan tubuhnya, memandang tubuh Joko Wandiro yang berkelebat cepat lari mengejar sang puteri yang dilarikan. Kemudian Ki Darmobroto menggeleng geleng kepalanya dan berkata seorang diri,
"Dari mana gerangan datang seorang muda yang begini hebat? Kalau pihak Jenggala memiliki jago muda seperti ini....... ahh, tiada harapan bagi Panjalu agaknya.....!"
Karena merasa tidak akan mampu melawan Joko Wandiro, Ki Darmobroto tidak mengejar, melainkan segera memberi pertolongan kepada para perwira yang masih pingsan. Ternyata Sang Puteri Mayagaluh telah dilarikan jauh sekali oleh perwira berkumis tadi. Joko Wandiro menjadi bingung ketika tidak melihat bayangan mereka. Terpaksa ia beberapa kali meloncat naik ke atas pohon tinggi untuk melihat ke sekeliling. Setelah berlari-lari cepat dan meloncat ke atas beberapa batang pohon tinggi besar, akhirnya ia melihat banyak sekali penunggang kuda berkumpul di tempat jauh. Ia menjadi girang akan tetapi juga khawatir akan keselamatan Puteri Mayagaluh, lalu meloncat turun dan cepat-cepat mempergunakan ilmu lari cepatnya untuk mengejar ke tempat yang tampak dari atas itu. Dia seorang yang amat berhati-hati. Begitu dekat dengan tempat itu, ia tidak langsung memperlihatkan diri. Melihat banyak sekali orang di situ, ia lalu menyelinap dan bersembunyi, memandang penuh perhatian. Kaget dan heranlah ia melihat betapa sang puteri tadi kini menangis di atas dada seorang pemuda tampan yang menghiburnya dengan ucapan dan belaian mesra, kemudian pemuda tampan itu menghardik kepada perwira berkumis yang berlutut dan menyembah-nyembah di depannya,
"Manusia lancang! Berani sekali kau menghina diajeng Mayagaluh? Biarpun kerajaan kita bermusuh dengan kerajaan paman di Jenggala, akan tetapi musuhmu adalah prajurit-prajurit Jenggala, bukan diajeng Mayagaluh! Laki-laki macam apa engkau ini? Pengawal, hajar dia dengan sepuluh kali cambukan!"

Kasihan juga si perwira berkumis itu. Susah payah ia melarikan Puteri Jenggala dengan harapan mendapat puji dan pahala. Siapa tahu, bukan pahala didapat, melainkan cambukan sepuluh kali. Pengawal yang tubuhnya seperti raksasa itu bertenaga besar. Biarpun hanya sepuluh kali, akan tetapi begitu selesai hukuman itu, si perwira berkumis tak sanggup bangkit lagi dan terpaksa harus digotong pergi dari situ oleh dua orang prajurit. Melihat perkembangan yang sama sekali tidak diduga-duganya ini, hati Joko Wandiro menjadi girang sekali. Siapakah pemuda itu? Apakah sang pangeran kakak Puteri Mayagaluh yang disebut-sebut oleh gadis bangsawan itu tadi? Bersama para pengawalnya? Akan tetapi, mengapa ucapan pemuda bangsawan itu demikian? Saking herannya dan karena menduga bahwa tak perlu lagi ia bersembunyi, ia lalu meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan berjalan menghampiri tempat itu. Melihat munculnya seorang pemuda yang tak dikenal, belasan orang pengawal segera maju dan sebentar saja Joko Wandiro sudah dikurung. Akan tetapi terdengar seruan Puteri Mayagaluh.
"Tahan! Dia adalah penolongku. Eh Joko Wandiro ke sinilah engkau. Jangan takut, ini adalah kakangmas Pangeran Darmokusumo!"
Joko Wandiro cepat menghampiri puteri itu dan para pengawal yang mendengar seruan Puteri Mayagaluh memberi jalan kepadanya. Puteri itu kini berpaling kepadanya dan berkata,
"Joko Wandiro, kakangmas Pangeran Darmokusumo ini adalah pangeran dari Panjalu, kakak misan saya."
Joko Wandiro terkejut, heran, akan tetapi juga girang hatinya. Kiranya pangeran ini tidak sepicik anak buahnya dan bersikap baik terhadap Puteri Jenggala. Maka ia lalu cepat menghaturkan sembah dengan sikap hormat. Pangeran Darmokusumo adalah putera sang prabu di Panjalu dari selir, berusia dua puluh empat tahun, wajahnya tampan sekali dan sikapnya agung.

Ketika Kerajaan Kahuripan belum terpecah dahulu, yaitu ketika kakek mereka Sang Prabu Airlangga belum meninggal dunia, para pangeran dan puteri cucu Sang Prabu Airlangga masih tinggal menjadi satu dalam lingkungan keraton. Biarpun banyak di antara mereka sudah terbawa dalam permusuhan ayah mereka, namun antara Pangeran Darmokusumo dan Puteri Mayagaluh telah terdapat hubungan yang amat akrab. Bahkan diam-diam kedua orang muda ini saling mencinta. Ketika kerajaan terpecah, mereka terpaksa saling berpisah dan dengan hati sedih kedua orang muda ini melihat betapa ayah mereka saling bermusuhan. Tentu saja sebagai anak, mereka harus berpihak kepada ayah dan kerajaan masing masing, namun di lubuk hati mereka ini tak dapat saling melupakan. Maka pertemuan di dalam hutan, pertemuan yang tak disangka-sangka antara dua hati yang saling dipisahkan ini merupakan pertemuan mengharukan dan mesra. Biarpun mereka dahulu belum pernah saling menyatakan perasaan cinta kasih masing-masing, dalam pertemuan ini perasaan itu tertumpah dan tadi mereka saling peluk tanpa malu-malu lagi. Pangeran Darmokusumo ketika mendengar nama Joko Wandiro, sudah terkejut dan memandang penuh perhatian.

<<< Bagian 122                                                                                     Bagian 124 >>>

No comments:

Post a Comment