Sebetulnya, mengingat kedudukannya sebagai seorang tokoh besar Merbabu, seorang angkatan tua yang terkenal, Ki Darmobroto merasa sungkan untuk melawan Joko Wandiro yang bertangan kosong itu dengan tongkatnya yang sakti, Apa pula mengeroyoknya bersama lima orang perwira Panjalu. Akan tetapi karena yang dihadapinya ini bukan urusan pribadi, melainkan urusan membela Panjalu, ia mengesampingkan perasaan pribadi dan mendahulukan kepentingan junjungannya. Akan tetapi tidak seperti para perwira yang sudah marah dan terhina karena tadi beberapa kali dikalahkan Joko Wandiro dan kini menyerang dengan mati-matian, Ki Darmobroto menggerakkan tongkatnya hanya untuk merobohkan dan menawan pemuda itu.
Biarpun
demikian, segera Joko Wandiro mendapat kenyataan betapa serangan orang tua ini
amat hebat, ujung tongkatnya menyambar-nyambar dan pecah menjadi belasan batang
agaknya saking cepatnya gerakan. Tongkat kayu cendana itu mengeluarkan bau
harum dan ketika digerakkan, memperdengarkan suara mengaung. Joko Wandiro
terkejut dan segera ia mengerahkan kepandaiannya untuk menghindari hujan
senjata itu. Serangan para perwira yang lima orang jumlahnya itu dapat dengan
mudah ia hindarkan, akan tetapi bayangan tongkat kayu cendana di tangan Ki Darmobroto
benar-benar membuat ia repot. Ketika ia melompat jauh ke belakang untuk
menjauhi para pengeroyoknya, bayangan tongkat dan bayangan putih itu
mengejarnya, ujung tongkat tak pernah meninggalkan jalan darah di lehernya dan
terdengar orang tua itu berseru,
"Menyerahlah!"
sambil menusukkan ujung tongkat kearah jalan darah di leher yang akan
membuatnya lumpuh seketika!
Joko Wandiro
terpaksa mengeluarkan kepandaiannya. Dengan kelincahan mengandalkan Aji Bayu
Sakti, ia miringkan tubuh ke kiri, kemudian dengan jari-jari tangan terbuka ia
memukul ujung tongkat, itulah pukulan Aji Pethit Nogo yang ampuhnya bukan main.
Jangankan hanya tongkat kayu, biarpun tongkat besi akan dapat dipukul patah
oleh jari jari tangan yang penuh Aji Pethit Nogo!. Akan tetapi kakek itu
ternyata hebat. Agaknya dari sambaran angin yang keluar dari tangan Joko
Wandiro, kakek itu maklum akan keampuhan Pethit Nogo, maka ia menarik
tongkatnya dan menggoyang tangan sehingga ujung tongkat itu kini menyambar dan
menotok ke arah telapak tangan Joko Wandiro. Pemuda itu terkejut dan kagum.
Dalam segebrakan ini saja ia maklum bahwa tingkat kepandaian Ki Darmobroto ini
tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian Ni Durgogini atau Ni Nogogini!
Totokan pada telapak tangannya itu amat berbahaya. Pusat jalan darah di tangan
berada di telapak tangan, antara ibu jari dan telunjuk, kalau sampai kena
tertotok, tentu kelima buah jarinya akan kaku dan tak dapat dipergunakan lagi
untuk beberapa lama. Totokan serupa ini sekaligus melumpuhkan atau membuyarkan
keampuhan ilmu pukulan Pethit Nogo yang dilakukan dengan telapak tangan
terbuka, mengandalkan kepretan jari-jari tangan.
Maklum bahwa
ilmu tongkat kakek itu dapat mengatasi ilmunya Pethit Nogo, Joko Wandiro segera
menggerakkan tubuhnya dan mulailah ia melakukan gerakan-gerakan dari Ilmu Silat
Bramoro Seto. Tubuhnya berkelebat cepat sekali dan ia menggunakan kecepatannya
yang mengatasi kecepatan kakek itu untuk berusaha merampas tongkat. Ketika
kakek ini menggerakkan tongkatnya menyabet dari kanan ke kiri, Joko Wandiro
merendahkan tubuh dan secepat kilat tangannya menyambar ke depan. Di lain saat
dua jari tangannya telah berhasil menjepit tongkat kayu cendana itu. Betapa
kagetnya hati Ki Darmobroto ketika merasa betapa jepitan itu kuat sekali. Ia
mengerahkan tenaga menarik, namun sia-sia, tongkatnya tak dapat terlepas dan
pada detik itu, tangan kiri Joko Wandiro dengan jari tangan terbuka melakukan
pukulan Pethit Nogo ke arah pelipisnya!.
"Celaka..........!!"
seru Ki Darmobroto, terkejut sekali. Ia dapat menduga bahwa pukulan dengan jari
tangan itu amat berbahaya, maka ia tadi memunahkannya dengan totokan-totokan
tongkat. Kini tongkatnya terjepit dan dengan tangan kosong, tak mungkin ia
berani menerima tamparan dengan jari jari seperti itu. Untuk mengelak, terpaksa
ia harus melepaskan tongkatnya dan hal ini alangkah akan mendatangkan malu
baginya. Ia bertongkat, bahkan dibantu lima orang perwira. Pemuda itu bertangan
kosong, namun pemuda itu masih dapat merampas tongkatnya? Tidak! Tiba-tiba Ki
Darmobroto mengeluarkan pekik nyaring dan tiba-tiba tubuhnya menggelinding ke
bawah, terus bergulingan dan tentu saja tongkat itupun ikut terbawa olehnya.
Caranya bergulingan amat aneh, akan tetapi Joko Wandiro merasa betapa lengannya
yang jarinya menjepit tongkat itu tak dapat menahan dan hendak ikut terbawa
gerakan si kakek. Terkejutlah ia dan pada saat itu, kakek itu meloncat sambil
menggerakkan kedua kakinya, bertubi-tubi melakukan tendangan.
"Bagus!"
Joko Wandiro berseru kagum. Terpaksa kini ia melepaskan tongkat kakek itu dan
melompat ke samping sambil menggerakkan tangan kiri menangkis kaki lawannya.
"Desss........!!”
Tubuh kakek
itu berputar-putar, namun dengan cekatan sekali kakek itu melompat ke atas dan
mematahkan gaya berpusing sehingga ia tidak sampai roboh. Kembali Joko Wandiro
memuji. Akan tetapi Ki Darmobroto mengeluarkan keringat dingin. Dua gebrakan
tadi hampir saja mencelakainya. Kini tahulah ia bahwa pemuda ini benar-benar
amat sakti, maka ia lalu menggerakkan tongkatnya dan menerjang tanpa
sungkan-sungkan lagi.
Kalau tadi ia
hanya berusaha mengalahkan dan menaklukkan pemuda itu, kini ia menyerang
sungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Kebetulan lima orang
perwira juga sudah maju lagi mengurung sehingga keadaan Joko Wandiro
benar-benar terancam.
“Paman
sekalian sungguh terlalu, mendesak-desak tanpa memberi kesempatan kepadaku.
Kuharap paman suka membiarkan aku mengantar sang puteri kembali ke
Jenggala."
"Tak
perlu banyak cakap!" bentak seorang perwira.
Sesabar-sabarnya
orang, tentu ada batasnya Joko Wandiro sama sekali tidak ingin bermusuhan
dengan para perwira Panjalu yang ia tahu adalah orang orang gagah perkasa dan
prajurit prajurit utama ini, lebih-lebih lagi ia tidak ingin bermusuhan dengan
Ki Darmobroto, calon ayah mertua Ayu Candra yang sedang di cari carinya itu!
Akan tetapi ia pun tidak mungkin membiarkan Sang Puteri Mayagaluh menjadi
tawanan, karena perang di antara kedua kerajaan kakak beradik itu sebetulnya
sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pribadi sang puteri. Ia menganggap
tidak semestinya dan amat curanglah kalau mempergunakan permusuhan kerajaan itu
untuk menyeret seorang gadis muda menjadi tawanan. Melihat betapa kini kuda
yang ditunggangi Puteri Mayagaluh kembali sudah dituntun dan dibedalkan cepat
oleh si perwira berkumis, kesabarannya lenyap.
"Paman-paman
sekalian, sekali lagi hamba minta bebaskanlah sang puteri. Kalau tidak,
terpaksa hamba berlaku kurang hormat!" Sengaja ia merendahkan diri kali
ini.
"Joko
Wandiro! Dengan berpihak kepada Jenggala, engkau menjadi pengkhianat dan
menjadi musuh kami!" bentak seorang perwira dan mereka yang dipimpin oleh
Ki Darmobroto yang sakti itu sudah menerjang maju bersama.
"Kalau
begitu, terimalah ini!" Joko Wandiro mengeluarkan bentakan nyaring sekali,
pekik dahsyat yang bukan menyerupai suara manusia lagi.
Pekik dahsyat
ini mengiringi dorongan kedua tangannya yang bergerak mendorong sambil membuat
lingkaran ke arah pengeroyoknya. Inilah pekik Dirodo Melu (Gajah Mengamuk) yang
mengiringi Aji Bojro Dahono (Kilat Berapi) sebuah pukulan sakti yang dahulu
pernah membuat Ki Patih Narotama terkenal! Hebat bukan main daya serangnya,
baru pekik dahsyat itu saja sudah cukup untuk merobohkan lawan kuat yang
tergetar jantungnya dan terbang semangatnya, apalagi aji pukulan yang
mendatangkan angin lesus dan panasnya kilat menyambar itu.
Tubuh lima
orang perwira Panjalu terlempar ke sana ke mari dalam keadaan pingsan! Hanya Ki
Darmobroto yang dapat mempertahankan diri, hanya terhuyung-huyung sampai
beberapa meter jauhnya, mukanya pucat dan dahinya mengeluarkan keringat dingin.
Masih untung bahwa pemuda itu tidak bermaksud mencelakai mereka, dan hanya
mempergunakan tenaga terbatas saja. Kalau tidak, tentu mereka semua termasuk Ki
Darmobroto, akan tewas semua. Kakek itu berdiri terbelalak, menarik napas
panjang berkali-kali untuk menghimpun tenaga memulihkan keadaan tubuhnya,
memandang tubuh Joko Wandiro yang berkelebat cepat lari mengejar sang puteri
yang dilarikan. Kemudian Ki Darmobroto menggeleng geleng kepalanya dan berkata
seorang diri,
"Dari
mana gerangan datang seorang muda yang begini hebat? Kalau pihak Jenggala
memiliki jago muda seperti ini....... ahh, tiada harapan bagi Panjalu
agaknya.....!"
Karena merasa
tidak akan mampu melawan Joko Wandiro, Ki Darmobroto tidak mengejar, melainkan
segera memberi pertolongan kepada para perwira yang masih pingsan. Ternyata
Sang Puteri Mayagaluh telah dilarikan jauh sekali oleh perwira berkumis tadi.
Joko Wandiro menjadi bingung ketika tidak melihat bayangan mereka. Terpaksa ia
beberapa kali meloncat naik ke atas pohon tinggi untuk melihat ke sekeliling.
Setelah berlari-lari cepat dan meloncat ke atas beberapa batang pohon tinggi
besar, akhirnya ia melihat banyak sekali penunggang kuda berkumpul di tempat
jauh. Ia menjadi girang akan tetapi juga khawatir akan keselamatan Puteri
Mayagaluh, lalu meloncat turun dan cepat-cepat mempergunakan ilmu lari cepatnya
untuk mengejar ke tempat yang tampak dari atas itu. Dia seorang yang amat
berhati-hati. Begitu dekat dengan tempat itu, ia tidak langsung memperlihatkan
diri. Melihat banyak sekali orang di situ, ia lalu menyelinap dan bersembunyi,
memandang penuh perhatian. Kaget dan heranlah ia melihat betapa sang puteri
tadi kini menangis di atas dada seorang pemuda tampan yang menghiburnya dengan
ucapan dan belaian mesra, kemudian pemuda tampan itu menghardik kepada perwira
berkumis yang berlutut dan menyembah-nyembah di depannya,
"Manusia
lancang! Berani sekali kau menghina diajeng Mayagaluh? Biarpun kerajaan kita
bermusuh dengan kerajaan paman di Jenggala, akan tetapi musuhmu adalah
prajurit-prajurit Jenggala, bukan diajeng Mayagaluh! Laki-laki macam apa engkau
ini? Pengawal, hajar dia dengan sepuluh kali cambukan!"
Kasihan juga
si perwira berkumis itu. Susah payah ia melarikan Puteri Jenggala dengan
harapan mendapat puji dan pahala. Siapa tahu, bukan pahala didapat, melainkan
cambukan sepuluh kali. Pengawal yang tubuhnya seperti raksasa itu bertenaga
besar. Biarpun hanya sepuluh kali, akan tetapi begitu selesai hukuman itu, si
perwira berkumis tak sanggup bangkit lagi dan terpaksa harus digotong pergi
dari situ oleh dua orang prajurit. Melihat perkembangan yang sama sekali tidak
diduga-duganya ini, hati Joko Wandiro menjadi girang sekali. Siapakah pemuda
itu? Apakah sang pangeran kakak Puteri Mayagaluh yang disebut-sebut oleh gadis
bangsawan itu tadi? Bersama para pengawalnya? Akan tetapi, mengapa ucapan
pemuda bangsawan itu demikian? Saking herannya dan karena menduga bahwa tak
perlu lagi ia bersembunyi, ia lalu meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan
berjalan menghampiri tempat itu. Melihat munculnya seorang pemuda yang tak
dikenal, belasan orang pengawal segera maju dan sebentar saja Joko Wandiro
sudah dikurung. Akan tetapi terdengar seruan Puteri Mayagaluh.
"Tahan!
Dia adalah penolongku. Eh Joko Wandiro ke sinilah engkau. Jangan takut, ini
adalah kakangmas Pangeran Darmokusumo!"
Joko Wandiro
cepat menghampiri puteri itu dan para pengawal yang mendengar seruan Puteri
Mayagaluh memberi jalan kepadanya. Puteri itu kini berpaling kepadanya dan
berkata,
"Joko
Wandiro, kakangmas Pangeran Darmokusumo ini adalah pangeran dari Panjalu, kakak
misan saya."
Joko Wandiro
terkejut, heran, akan tetapi juga girang hatinya. Kiranya pangeran ini tidak
sepicik anak buahnya dan bersikap baik terhadap Puteri Jenggala. Maka ia lalu
cepat menghaturkan sembah dengan sikap hormat. Pangeran Darmokusumo adalah
putera sang prabu di Panjalu dari selir, berusia dua puluh empat tahun,
wajahnya tampan sekali dan sikapnya agung.
Ketika
Kerajaan Kahuripan belum terpecah dahulu, yaitu ketika kakek mereka Sang Prabu
Airlangga belum meninggal dunia, para pangeran dan puteri cucu Sang Prabu
Airlangga masih tinggal menjadi satu dalam lingkungan keraton. Biarpun banyak
di antara mereka sudah terbawa dalam permusuhan ayah mereka, namun antara
Pangeran Darmokusumo dan Puteri Mayagaluh telah terdapat hubungan yang amat
akrab. Bahkan diam-diam kedua orang muda ini saling mencinta. Ketika kerajaan
terpecah, mereka terpaksa saling berpisah dan dengan hati sedih kedua orang
muda ini melihat betapa ayah mereka saling bermusuhan. Tentu saja sebagai anak,
mereka harus berpihak kepada ayah dan kerajaan masing masing, namun di lubuk
hati mereka ini tak dapat saling melupakan. Maka pertemuan di dalam hutan,
pertemuan yang tak disangka-sangka antara dua hati yang saling dipisahkan ini
merupakan pertemuan mengharukan dan mesra. Biarpun mereka dahulu belum pernah
saling menyatakan perasaan cinta kasih masing-masing, dalam pertemuan ini
perasaan itu tertumpah dan tadi mereka saling peluk tanpa malu-malu lagi.
Pangeran Darmokusumo ketika mendengar nama Joko Wandiro, sudah terkejut dan
memandang penuh perhatian.
No comments:
Post a Comment