Karena terkejut dan terheran betapa lawan masing masing memiliki aji yang sama, sejenak keduanya hanya saling pandang dan saling melotot, seakan-akan hendak melanjutkan pertandingan itu bukan dengan kepalan dan kesaktian lagi, melainkan dengan saling menusuk dan menelan melalui pandang mata!. Saat ini dipergunakan oleh Pangeran Panjirawit dan adiknya, Puteri Mayagaluh. Pangeran Panjirawit melompat maju dan memegang kedua lengan Endang Patibroto dari belakang, sedangkan Puteri Mayagaluh juga menghampiri Joko Wandiro dan memegang lengannya.
"Joko
Wandiro, sabar dulu, dia itu adalah kepala pengawalku, Endang Patibroto!"
kata Puteri Mayagaluh dengan suara halus dan menarik-narik lengan Joko Wandiro
yang ia rasakan amat keras macam baja saja pada saat itu.
"Endang,
sabarlah. Dia bukan musuh, dia malah penolong diajeng Mayagaluh. tenangkan
hatimu, padamkan kemarahanmu" kata Pangeran Panjirawit sambil menarik
tangan Endang Patibroto.
"Kau........Endang
Patibroto...... ?"
Joko Wandiro
membelalakkan matanya, berseru dengan suara gagap. Endang Patibroto tersenyum
mengejek, dan tiba-tiba dara perkasa ini tertawa. Suara ketawanya bebas lepas,
tak ditutup-tutupinya lagi dan inilah kebiasaan dara murid Dibyo Mamangkoro.
Akan tetapi dasar dara cantik manis, biarpun tertawa secara terlepas seperti
itu, tetap saja masih menarik dan menggairahkan.
"Hi-hi-hi-hik!
Jadi engkau ini Joko Wandiro bocah bengkring (berpenyakitan) seperti cacing
dahulu itu? Hi hi-hik! Kiraku masih berada di Sempu sambil menimang-nimang
golek kencanamu!"
Wajah Joko
Wandiro menjadi merah sekali. Pantas saja ketika dahulu di telaga Sarangan
menyerangnya dan Ayu Candra, ia merasa kenal baik dengan wanita ini. Kiranya
Endang Patibroto si bocah nakal! Dan kini tidaklah aneh baginya kalau Endang
Patibroto menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala. Kiranya gadis ini sekarang
telah menjadi seorang yang sakti mandraguna, yang memiliki kedigdayaan yang
hebat, yang dahsyat dan yang amat ganas. Kalau tadi ketika diserang pertama kali
ia tidak mempergunakan Bojro Dahono untuk menangkis, tentu sekarang ia telah
menjadi mayat! Ia diam-diam bergidik.
Mengapa puteri
ayah angkatnya kini menjadi seperti ini? Mengapa sifatnya menjadi ganas dan
keji, mudah menurunkan tangan maut kepada orang yang baru saja dijumpainya?
Memang harus ia akui, Endang Patibroto sekarang amat cantik jelita, di dalam
keganasannya itu bersembunyi kecantikan dan keluwesan yang aseli, tidak
dibuat-buat, kecantikan seekor harimau betina yang kuat dan indah, kegagahan seekor
kuda betina liar, dengan tubuh yang lemas tapi kuat, bergoyang-goyang lemas
seperti ular sawah kembang.
"Endang,
tak kusangka bertemu denganmu di sini. Dan sungguh tak pernah kusangka bahwa
engkaulah yang begitu keji menyerangku dengan panah tangan di Telaga Sarangan
dahulu"
"Hemm,
kau mau apa? Gadis cantik itu tentu telah mampus! Dan kau sakit hati? Hendak
membalas? Boleh!" Endang Patibroto terus saja menantang dan melangkah maju
hendak menyerang!
Teringat ia
betapa ibu kandung Joko Wandiro telah membunuh ayah kandungnya, dan biarpun ia
telah membalas, telah membunuh Listyokumolo untuk membalas kematian ayahnya,
namun pemuda ini tentu saja menjadi musuh besarnya ayahnya sebelum mati
berpesan menjodohkan dia dengan bocah ini? Ah, begitu bertemu untuk pertama
kalinya telah bermusuhan, mana bisa menjadi jodoh?
"Ah,
Endang Patibroto, bersabarlah engkau. Orang muda ini sudah menolong dan
menyelamatkan diajeng Mayagaluh, bukan musuh kita."
Pangeran
Panjirawit menarik lengan Endang Patibroto dan gadis ini betapapun juga tidak
berani untuk membantah. Ia hanya berdiri memandang dengan mata melotot dan
menantang. Mayagaluh lalu menceritakan dengan singkat semua pengalamannya dan
betapa Joko Wandiro menolongnya. Ketika bercerita tentang Pangeran Darmokusumo,
Pangeran Panjirawit kelihatan terkejut.
"Wah,
kalau begitu kita harus segera pergi dan sini. Sungguh tidak baik kalau sampai
aku bertemu dengan kakangmas Pangeran Darmokusumo. Joko Wandiro, aku
mengucapkan banyak terima kasih atas semua budi pertolonganmu kepada adikku
Puteri Mayagaluh. Kalau kau suka, Joko Wandiro, marilah kau ikut bersama kami
ke Jenggala. Kanjeng rama prabu tentu akan suka sekali mendengar tentang jasamu
dan kau tentu akan diberi kedudukan tinggi di Jenggala."
Puteri
Mayagaluh juga melangkah maju dan berkata sambil tersenyum,
“Betul Apa
yang dikatakan kakangmas Panjirawit, Joko. Marilah kau ikut bersama kami ke
Jenggala." Ia menoleh kepada Endang Patibroto yang masih cemberut sambil
tersenyum dan berkata.
"Kebetulan
sekali agaknya kau sudah mengenal Endang sejak kecil. Pertengkaran sedikit
antara kalian lebih baik dilupakan saja dan aku percaya, kalian berdua akan
dapat menjadi eh, sahabat-sahabat baik yang baik sekali...!”
Joko Wandiro
menundukkan mukanya yang menjadi makin merah, sedangkan Endang Patibroto
memandang dengan makin marah. Pemuda itu menggeleng kepala dan berkata dengan
hormat,
"Beribu
terima kasih hamba haturkan kepada gusti pangeran dan gusti puteri berdua. Akan
tetapi hamba mempunyai banyak urusan lain. Kelak masih banyak waktunya hamba
menghadap paduka, apabila keadaan mengijinkan."
Melihat
keadaan Joko Wandiro, pangeran itu maklum bahwa ia tidak akan mungkin dapat
membujuk seorang satria seperti ini, maka ia lalu berkata,
"Kalau
begitu, biarlah lain kali kami menanti kunjunganmu ke Jenggala. Mayagaluh,
Endang, mari kita berangkat, jangan sampai bertemu dengan orang-orang
Panjalu!"
Ketiga orang
muda itu meloncat naik ke atas kuda dan tiga ekor kuda itu lari ke arah timur.
Puteri Mayagaluh untuk penghabisan kali melempar kerling dan senyum manis
kepada Joko Wandiro, akan tetapi Joko Wandiro yang tadinya tersenyum mesra pula
memandang puteri yang pernah dicium pipinya itu, tiba-tiba membuang muka karena
melihat Endang Patibroto juga menoleh dan memandang kepadanya dengan pandang mata
penuh ejekan!
Setelah
bayangan ketiga orang itu lenyap dan derap kaki kuda mereka tak terdengar lagi,
barulah Joko Wandiro menaiki kudanya dan menjalankan kudanya ke barat. Tiada
habis heran hatinya mengenangkan Endang Patibroto. Gadis itu benar-benar hebat
sekali kepandaiannya. Kalau ia ingat akan benturan tangan dua kali tadi, ia
yakin bahwa ilmu kesaktian gadis itu jauh tinggi daripada ilmu orang-orang yang
pernah menjadi lawannya. Jauh lebin tinggi dari kepandaian Wirokolo atau Ni
Durgogini serta Ni Nogogini digabung menjadi satu! Kalau mengingat bahwa gadis
itu adalah puteri ayah angkatnya, ia girang dengan kehebatan itu. Akan tetapi
kalau teringat akan sifat-sifat ganas dan keji itu, ia mengerutkan kening dan
menarik napas panjang berulang-ulang. Kemudian pemuda ini lalu mempercepat
perjalanannya menuju ke Bayuwismo di pantai Laut Selatan, dengan perasaan
bercampur aduk. la merasa girang kalau membayangkan betapa ia akan bertemu
dengan ayah angkatnya. Betapapun juga, ia harus mengakui bahwa sampai sekarangpun
ia masih menganggap Pujo sebagai ayah sendiri yang amat dicintainya. Di antara
orang-orang tua di dunia ini, Pujolah orang pertama yang ia cinta dan hormati,
baru kemudian gurunya, Ki Patih Narotama, dan kakek gurunya, Resi Bhargowo.
Ayah bunda kandungnya sendiri tidak begitu dekat dengan hatinya karena semenjak
kecil ia tak pernah melihat mereka lagi. Akan tetapi kalau teringat bahwa ibu
kandungnya tewas dalam usaha mencari Pujo, kegirangan hatinya akan bertemu
dengan ayah angkatnya itu menipis terganti rasa khawatir dan tegang.
Atas petunjuk
para penduduk yang berdekatan, akhirnya ia sampai juga di Bayuwismo dan melihat
sebuah pondok yang menyendiri di tepi pantai itu. Hatinya berdebar keras ketika
ia meloncat turun dari kuda dan penuh selidik ia memandang kepada dua orang
wanita yang keluar dari dalam pondok. Ia segera mengenal dua orang wanita itu,
yang seorang adalah Kartikosari ibu kandung Endang Patibroto dan yang kedua
adalah bibinya, Roro Luhito adik kandung mendiang ayahnya. Segera ia menghampiri
mereka dan memberi hormat dengan wajah berseri.
"Bibi
Kartikosari dan bibi Roro Luhito, saya Joko Wandiro, kiranya bibi berdua belum
lupa kepada saya," kata Joko Wandiro ketika melihat dua orang wanita itu
memandang kepadanya dengan muka pucat dan mata terbelalak seperti melihat
setan, dan disangkanya bahwa dua orang bibinya itu pangling (lupa) kepadanya.
Tiba-tiba
Kartikosari membalikkan tubuhnya dan masuk lagi ke dalam pondok tanpa berkata
sesuatu, sedangkan Roro Luhito lalu menubruk dan merangkul Joko Wandiro sambil
menangis sesenggukan! Tentu saja hal ini membuat Joko Wandiro terkejut sekali.
Memang hatinya sudah merasa tidak enak dalam perjalanan ke tempat ini dan telah
menduga hal-hal yang tidak baik. Melihat sikap kedua orang wanita ini ia berdebar
dan merasa cemas sekali.
"Bibi
Roro Luhito....... apakah yang terjadi, bibi? Ada apakah? Harap bibi memberi
tahu kepada saya....... "
"Aduh,
angger Joko Wandiro, anakku......! Semoga Hyang Wisesa mengampuni kita semua,
kulup........! Telah terjadi peristiwa yang amat hebat, malapetaka yang
mengerikan...."
Tidak syak
lagi sekarang hati Joko Wandiro. Sudah tentu perkara kematian ibu kandungnya.
"Bibi,
ceritakanlah. Saya dapat menahan segala berita yang bagaimanapun. Ceritakanlah,
bibi!"
"Mari,
anakku. Mari masuk ke pondok dan kau....... kau maafkanlah sikap bibimu
Kartikosari. Engkau akan mengerti mengapa dia bersikap seperti itu ketika
tiba-tiba melihat kedatanganmu, Joko Wandiro."
"Tidak
mengapa, bibi. Saya percaya, bibi Kartikosari adalah seorang yang bijaksana dan
tentu sikap beliau tadi ada sebabnya yang hebat. Marilah, bibi."
Mereka
memasuki pondok kecil sederhana itu. Berdegup jantung Joko Wandiro karena ia
mengharapkan untuk bertemu dengan Pujo di dalam pondok. Ia menyapu semua
penjuru dengan pandang matanya, namun tidak melihat Pujo di situ. Yang ada
hanyalah perabot rumah sederhana dan Kartikosari duduk di atas sebuah
balai-balai bambu dengan muka berduka dan kedua pipi basah air mata. Melihat
keadaan Kartikosari ini, Roro Luhito yang tadi menggandeng tangan Joko Wandiro
segera melepaskan tangan itu dan lari mengharnpiri Kartikosari dan
merangkulnya.
"Apakah
engkau datang untuk membalas dendam kematian ibumu? Kalau begitu, hunus kerismu
dan tusuklah dadaku, agar himpas dan lunas hutang-pihutang nyawa ini!"
kata Kartikosari kepada Joko Wandiro, suaranya gemetar akan tetapi sikapnya
tenang.
Joko Wandiro
terkejut sekali. Tidak disangkanya akan disambut dengan ucapan seperti itu oleh
Kartikosari. Apakah ibu kandungnya tewas di tangan bibinya ini? Ah, tidak
mungkin! Ia cukup mengenal ayah angkatnya, dan ia mendengar dari ayah angkatnya
bahwa bibi Kartikosari ini dahulu adalah adik seperguruan ayah angkatnya. Ayah
angkatnya adalah seorang satria sejati, memiliki ilmu-ilmu kesaktian yang
bersih, warisan Sang Resi Bhargowo. Sedangkan yang membunuh ibu kandungnya
tentulah yang melukai Ki Adibroto pula, dan melihat luka itu, jelas
membayangkan bahwa pemukulnya adalah seorang yang amat ganas dan memiliki ilmu
yang jahat dan keji.
"Bibi
Kartikosari, mengapa bibi berkata seperti itu? Sesungguhnyalah bahwa secara
kebetulan sekali saya bertemu dengan paman Adibroto dan mendengar bahwa ibu
kandung saya yang tak pernah saya jumpai itu telah meninggal dunia, tewas di
tangan musuh yang juga melukai paman Adibroto sampai tewas. Akan tetapi saya
tidak tahu siapa pembunuhnya dan kedatangan saya ke Bayuwismo ini sekali-kali
bukan untuk urusan itu, melainkan karena sudah rindu kepada bibi berdua,
terutama sekali kepada....... ayahanda Pujo. Di manakah beliau? Dan Apa yang sudah
terjadi di sini, bibi?"
Tiba-tiba
Kartikosari bangkit berdiri, wajahnya pucat sekali.
"Kau
tanyakan kakangmas Pujo.. ? Ayahmu itu kakangmas Pujo...... dia....... dia
telah tewas.. dan anak...... anakku keparat dia...... oohhhh...... "
Kartikosari
tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ia menjatuhkan diri di atas balai bambu
sambil menangis tersedu-sedu. Roro Luhito memeluknya dan juga menangis
sesenggukan. Joko Wandiro memandang dengan muka pucat. Ayahnya, Pujo, telah
tewas? Oleh siapa? Mengapa? Oleh ibunya dan Ki Adibroto? Kemudian mereka berdua
itupun tewas dalam pertandingan ini? Melihat betapa dua orang wanita itu
menangis penuh kesedihan, dia tidak berani mengganggu dan segera ia menjatuhkan
diri duduk di atas bangku sambil menunjang dagu dan mengatur napas
menenteramkan hatinya.
Melihat betapa
Kartikosari tenggelam ke dalam kedukaan yang hebat, Roro Luhito lalu bangun dan
duduk menyusuti air matanya. Dia maklum betapa hancur hati Kartikosari, tidak
hanya karena kehilangan suami tercinta, melainkan juga kehilangan puteri yang
amat diharap-harapkan. Memang betul Endang Patibroto masih hidup, akan tetapi
bahkan lebih hebat daripada mati bagi seorang ibu kandung yang melihat
puterinya menyeleweng jauh sekali daripada kebenaran!
No comments:
Post a Comment