Badai Laut Selatan ; Bagian 127


Karena terkejut dan terheran betapa lawan masing masing memiliki aji yang sama, sejenak keduanya hanya saling pandang dan saling melotot, seakan-akan hendak melanjutkan pertandingan itu bukan dengan kepalan dan kesaktian lagi, melainkan dengan saling menusuk dan menelan melalui pandang mata!. Saat ini dipergunakan oleh Pangeran Panjirawit dan adiknya, Puteri Mayagaluh. Pangeran Panjirawit melompat maju dan memegang kedua lengan Endang Patibroto dari belakang, sedangkan Puteri Mayagaluh juga menghampiri Joko Wandiro dan memegang lengannya.
"Joko Wandiro, sabar dulu, dia itu adalah kepala pengawalku, Endang Patibroto!" kata Puteri Mayagaluh dengan suara halus dan menarik-narik lengan Joko Wandiro yang ia rasakan amat keras macam baja saja pada saat itu.
"Endang, sabarlah. Dia bukan musuh, dia malah penolong diajeng Mayagaluh. tenangkan hatimu, padamkan kemarahanmu" kata Pangeran Panjirawit sambil menarik tangan Endang Patibroto.
"Kau........Endang Patibroto...... ?"

Joko Wandiro membelalakkan matanya, berseru dengan suara gagap. Endang Patibroto tersenyum mengejek, dan tiba-tiba dara perkasa ini tertawa. Suara ketawanya bebas lepas, tak ditutup-tutupinya lagi dan inilah kebiasaan dara murid Dibyo Mamangkoro. Akan tetapi dasar dara cantik manis, biarpun tertawa secara terlepas seperti itu, tetap saja masih menarik dan menggairahkan.
"Hi-hi-hi-hik! Jadi engkau ini Joko Wandiro bocah bengkring (berpenyakitan) seperti cacing dahulu itu? Hi hi-hik! Kiraku masih berada di Sempu sambil menimang-nimang golek kencanamu!"
Wajah Joko Wandiro menjadi merah sekali. Pantas saja ketika dahulu di telaga Sarangan menyerangnya dan Ayu Candra, ia merasa kenal baik dengan wanita ini. Kiranya Endang Patibroto si bocah nakal! Dan kini tidaklah aneh baginya kalau Endang Patibroto menjadi kepala pengawal Kerajaan Jenggala. Kiranya gadis ini sekarang telah menjadi seorang yang sakti mandraguna, yang memiliki kedigdayaan yang hebat, yang dahsyat dan yang amat ganas. Kalau tadi ketika diserang pertama kali ia tidak mempergunakan Bojro Dahono untuk menangkis, tentu sekarang ia telah menjadi mayat! Ia diam-diam bergidik.
Mengapa puteri ayah angkatnya kini menjadi seperti ini? Mengapa sifatnya menjadi ganas dan keji, mudah menurunkan tangan maut kepada orang yang baru saja dijumpainya? Memang harus ia akui, Endang Patibroto sekarang amat cantik jelita, di dalam keganasannya itu bersembunyi kecantikan dan keluwesan yang aseli, tidak dibuat-buat, kecantikan seekor harimau betina yang kuat dan indah, kegagahan seekor kuda betina liar, dengan tubuh yang lemas tapi kuat, bergoyang-goyang lemas seperti ular sawah kembang.
"Endang, tak kusangka bertemu denganmu di sini. Dan sungguh tak pernah kusangka bahwa engkaulah yang begitu keji menyerangku dengan panah tangan di Telaga Sarangan dahulu"
"Hemm, kau mau apa? Gadis cantik itu tentu telah mampus! Dan kau sakit hati? Hendak membalas? Boleh!" Endang Patibroto terus saja menantang dan melangkah maju hendak menyerang!

Teringat ia betapa ibu kandung Joko Wandiro telah membunuh ayah kandungnya, dan biarpun ia telah membalas, telah membunuh Listyokumolo untuk membalas kematian ayahnya, namun pemuda ini tentu saja menjadi musuh besarnya ayahnya sebelum mati berpesan menjodohkan dia dengan bocah ini? Ah, begitu bertemu untuk pertama kalinya telah bermusuhan, mana bisa menjadi jodoh?
"Ah, Endang Patibroto, bersabarlah engkau. Orang muda ini sudah menolong dan menyelamatkan diajeng Mayagaluh, bukan musuh kita."
Pangeran Panjirawit menarik lengan Endang Patibroto dan gadis ini betapapun juga tidak berani untuk membantah. Ia hanya berdiri memandang dengan mata melotot dan menantang. Mayagaluh lalu menceritakan dengan singkat semua pengalamannya dan betapa Joko Wandiro menolongnya. Ketika bercerita tentang Pangeran Darmokusumo, Pangeran Panjirawit kelihatan terkejut.
"Wah, kalau begitu kita harus segera pergi dan sini. Sungguh tidak baik kalau sampai aku bertemu dengan kakangmas Pangeran Darmokusumo. Joko Wandiro, aku mengucapkan banyak terima kasih atas semua budi pertolonganmu kepada adikku Puteri Mayagaluh. Kalau kau suka, Joko Wandiro, marilah kau ikut bersama kami ke Jenggala. Kanjeng rama prabu tentu akan suka sekali mendengar tentang jasamu dan kau tentu akan diberi kedudukan tinggi di Jenggala."
Puteri Mayagaluh juga melangkah maju dan berkata sambil tersenyum,
“Betul Apa yang dikatakan kakangmas Panjirawit, Joko. Marilah kau ikut bersama kami ke Jenggala." Ia menoleh kepada Endang Patibroto yang masih cemberut sambil tersenyum dan berkata.
"Kebetulan sekali agaknya kau sudah mengenal Endang sejak kecil. Pertengkaran sedikit antara kalian lebih baik dilupakan saja dan aku percaya, kalian berdua akan dapat menjadi eh, sahabat-sahabat baik yang baik sekali...!”
Joko Wandiro menundukkan mukanya yang menjadi makin merah, sedangkan Endang Patibroto memandang dengan makin marah. Pemuda itu menggeleng kepala dan berkata dengan hormat,
"Beribu terima kasih hamba haturkan kepada gusti pangeran dan gusti puteri berdua. Akan tetapi hamba mempunyai banyak urusan lain. Kelak masih banyak waktunya hamba menghadap paduka, apabila keadaan mengijinkan."
Melihat keadaan Joko Wandiro, pangeran itu maklum bahwa ia tidak akan mungkin dapat membujuk seorang satria seperti ini, maka ia lalu berkata,
"Kalau begitu, biarlah lain kali kami menanti kunjunganmu ke Jenggala. Mayagaluh, Endang, mari kita berangkat, jangan sampai bertemu dengan orang-orang Panjalu!"

Ketiga orang muda itu meloncat naik ke atas kuda dan tiga ekor kuda itu lari ke arah timur. Puteri Mayagaluh untuk penghabisan kali melempar kerling dan senyum manis kepada Joko Wandiro, akan tetapi Joko Wandiro yang tadinya tersenyum mesra pula memandang puteri yang pernah dicium pipinya itu, tiba-tiba membuang muka karena melihat Endang Patibroto juga menoleh dan memandang kepadanya dengan pandang mata penuh ejekan!
Setelah bayangan ketiga orang itu lenyap dan derap kaki kuda mereka tak terdengar lagi, barulah Joko Wandiro menaiki kudanya dan menjalankan kudanya ke barat. Tiada habis heran hatinya mengenangkan Endang Patibroto. Gadis itu benar-benar hebat sekali kepandaiannya. Kalau ia ingat akan benturan tangan dua kali tadi, ia yakin bahwa ilmu kesaktian gadis itu jauh tinggi daripada ilmu orang-orang yang pernah menjadi lawannya. Jauh lebin tinggi dari kepandaian Wirokolo atau Ni Durgogini serta Ni Nogogini digabung menjadi satu! Kalau mengingat bahwa gadis itu adalah puteri ayah angkatnya, ia girang dengan kehebatan itu. Akan tetapi kalau teringat akan sifat-sifat ganas dan keji itu, ia mengerutkan kening dan menarik napas panjang berulang-ulang. Kemudian pemuda ini lalu mempercepat perjalanannya menuju ke Bayuwismo di pantai Laut Selatan, dengan perasaan bercampur aduk. la merasa girang kalau membayangkan betapa ia akan bertemu dengan ayah angkatnya. Betapapun juga, ia harus mengakui bahwa sampai sekarangpun ia masih menganggap Pujo sebagai ayah sendiri yang amat dicintainya. Di antara orang-orang tua di dunia ini, Pujolah orang pertama yang ia cinta dan hormati, baru kemudian gurunya, Ki Patih Narotama, dan kakek gurunya, Resi Bhargowo. Ayah bunda kandungnya sendiri tidak begitu dekat dengan hatinya karena semenjak kecil ia tak pernah melihat mereka lagi. Akan tetapi kalau teringat bahwa ibu kandungnya tewas dalam usaha mencari Pujo, kegirangan hatinya akan bertemu dengan ayah angkatnya itu menipis terganti rasa khawatir dan tegang.
Atas petunjuk para penduduk yang berdekatan, akhirnya ia sampai juga di Bayuwismo dan melihat sebuah pondok yang menyendiri di tepi pantai itu. Hatinya berdebar keras ketika ia meloncat turun dari kuda dan penuh selidik ia memandang kepada dua orang wanita yang keluar dari dalam pondok. Ia segera mengenal dua orang wanita itu, yang seorang adalah Kartikosari ibu kandung Endang Patibroto dan yang kedua adalah bibinya, Roro Luhito adik kandung mendiang ayahnya. Segera ia menghampiri mereka dan memberi hormat dengan wajah berseri.
"Bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito, saya Joko Wandiro, kiranya bibi berdua belum lupa kepada saya," kata Joko Wandiro ketika melihat dua orang wanita itu memandang kepadanya dengan muka pucat dan mata terbelalak seperti melihat setan, dan disangkanya bahwa dua orang bibinya itu pangling (lupa) kepadanya.

Tiba-tiba Kartikosari membalikkan tubuhnya dan masuk lagi ke dalam pondok tanpa berkata sesuatu, sedangkan Roro Luhito lalu menubruk dan merangkul Joko Wandiro sambil menangis sesenggukan! Tentu saja hal ini membuat Joko Wandiro terkejut sekali. Memang hatinya sudah merasa tidak enak dalam perjalanan ke tempat ini dan telah menduga hal-hal yang tidak baik. Melihat sikap kedua orang wanita ini ia berdebar dan merasa cemas sekali.
"Bibi Roro Luhito....... apakah yang terjadi, bibi? Ada apakah? Harap bibi memberi tahu kepada saya....... "
"Aduh, angger Joko Wandiro, anakku......! Semoga Hyang Wisesa mengampuni kita semua, kulup........! Telah terjadi peristiwa yang amat hebat, malapetaka yang mengerikan...."
Tidak syak lagi sekarang hati Joko Wandiro. Sudah tentu perkara kematian ibu kandungnya.
"Bibi, ceritakanlah. Saya dapat menahan segala berita yang bagaimanapun. Ceritakanlah, bibi!"
"Mari, anakku. Mari masuk ke pondok dan kau....... kau maafkanlah sikap bibimu Kartikosari. Engkau akan mengerti mengapa dia bersikap seperti itu ketika tiba-tiba melihat kedatanganmu, Joko Wandiro."
"Tidak mengapa, bibi. Saya percaya, bibi Kartikosari adalah seorang yang bijaksana dan tentu sikap beliau tadi ada sebabnya yang hebat. Marilah, bibi."
Mereka memasuki pondok kecil sederhana itu. Berdegup jantung Joko Wandiro karena ia mengharapkan untuk bertemu dengan Pujo di dalam pondok. Ia menyapu semua penjuru dengan pandang matanya, namun tidak melihat Pujo di situ. Yang ada hanyalah perabot rumah sederhana dan Kartikosari duduk di atas sebuah balai-balai bambu dengan muka berduka dan kedua pipi basah air mata. Melihat keadaan Kartikosari ini, Roro Luhito yang tadi menggandeng tangan Joko Wandiro segera melepaskan tangan itu dan lari mengharnpiri Kartikosari dan merangkulnya.
"Apakah engkau datang untuk membalas dendam kematian ibumu? Kalau begitu, hunus kerismu dan tusuklah dadaku, agar himpas dan lunas hutang-pihutang nyawa ini!" kata Kartikosari kepada Joko Wandiro, suaranya gemetar akan tetapi sikapnya tenang.

Joko Wandiro terkejut sekali. Tidak disangkanya akan disambut dengan ucapan seperti itu oleh Kartikosari. Apakah ibu kandungnya tewas di tangan bibinya ini? Ah, tidak mungkin! Ia cukup mengenal ayah angkatnya, dan ia mendengar dari ayah angkatnya bahwa bibi Kartikosari ini dahulu adalah adik seperguruan ayah angkatnya. Ayah angkatnya adalah seorang satria sejati, memiliki ilmu-ilmu kesaktian yang bersih, warisan Sang Resi Bhargowo. Sedangkan yang membunuh ibu kandungnya tentulah yang melukai Ki Adibroto pula, dan melihat luka itu, jelas membayangkan bahwa pemukulnya adalah seorang yang amat ganas dan memiliki ilmu yang jahat dan keji.
"Bibi Kartikosari, mengapa bibi berkata seperti itu? Sesungguhnyalah bahwa secara kebetulan sekali saya bertemu dengan paman Adibroto dan mendengar bahwa ibu kandung saya yang tak pernah saya jumpai itu telah meninggal dunia, tewas di tangan musuh yang juga melukai paman Adibroto sampai tewas. Akan tetapi saya tidak tahu siapa pembunuhnya dan kedatangan saya ke Bayuwismo ini sekali-kali bukan untuk urusan itu, melainkan karena sudah rindu kepada bibi berdua, terutama sekali kepada....... ayahanda Pujo. Di manakah beliau? Dan Apa yang sudah terjadi di sini, bibi?"
Tiba-tiba Kartikosari bangkit berdiri, wajahnya pucat sekali.
"Kau tanyakan kakangmas Pujo.. ? Ayahmu itu kakangmas Pujo...... dia....... dia telah tewas.. dan anak...... anakku keparat dia...... oohhhh...... "
Kartikosari tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ia menjatuhkan diri di atas balai bambu sambil menangis tersedu-sedu. Roro Luhito memeluknya dan juga menangis sesenggukan. Joko Wandiro memandang dengan muka pucat. Ayahnya, Pujo, telah tewas? Oleh siapa? Mengapa? Oleh ibunya dan Ki Adibroto? Kemudian mereka berdua itupun tewas dalam pertandingan ini? Melihat betapa dua orang wanita itu menangis penuh kesedihan, dia tidak berani mengganggu dan segera ia menjatuhkan diri duduk di atas bangku sambil menunjang dagu dan mengatur napas menenteramkan hatinya.

Melihat betapa Kartikosari tenggelam ke dalam kedukaan yang hebat, Roro Luhito lalu bangun dan duduk menyusuti air matanya. Dia maklum betapa hancur hati Kartikosari, tidak hanya karena kehilangan suami tercinta, melainkan juga kehilangan puteri yang amat diharap-harapkan. Memang betul Endang Patibroto masih hidup, akan tetapi bahkan lebih hebat daripada mati bagi seorang ibu kandung yang melihat puterinya menyeleweng jauh sekali daripada kebenaran!

<<< Bagian 126                                                                                     Bagian 128 >>>

No comments:

Post a Comment