Di samping ini, Roro Luhito kasihan melihat Joko Wandiro yang tentu saja menjadi bimbang dan bingung serta amat mengharapkan penjelasan.
"Anakku
Joko Wandiro, kaudengarlah baik-baik apa yang akan kuceritakan kepadamu dan bersiaplah
engkau menerima pukulan batin ini. Aku percaya, sebagai seorang satria murid Ki
Patih Narotama yang sakti mandraguna dan arif bijaksana, dan sebagai seorang
yang telah dewasa, engkau tentu akan dapat menerima semua peristiwa yang
terjadi ini sebagai sesuatu yang sudah dikehendaki Hyang Maha Wisesa dan bahwa
semuanya itu memang sudah semestinya terjadi maka tak seorangpun manusia mampu
merubahnya," kata Roro Luhito yang mulai dapat menekan perasaannya
sehingga suaranya makin jelas dan tenang.
"Bicaralah,
bibi, Biarpun belum tahu jelas, kiranya saya sudah dapat banyak
menduganya."
"Aku akan
mulai dari permulaan, anakku. Terjadinya kira-kira dua puluh tahun yang lalu,
karena sesungguhnya mulai saat itulah terjadinya awal segala peristiwa ini yang
kuharapkan sudah berakhir sampai sekian saja. Ketika itu, ayahmu atau gurumu
Pujo bersama bibimu Kartikosari masih pengantin baru. Mereka berdua pergi
bertapa ke dalam Guha Siluman. Tidak lama kemudian datanglah kakakku, mendiang
ayah kandungmu sendiri Raden Wisangjiwo. Aku berterus terang saja, anakku, biar
dia kakak kandungku, biar dia itu ayah kandungmu, dia pada masa itu adalah
seorang bangsawan muda yang menjadi hamba nafsunya. Dia bersikap kurang baik
terhadap bibimu Kartikosari sehingga terjadi pertempuran. Kakangmas Pujo
pingsan dan ketika ia sadar, ia melihat betapa bibimu Kartikosari dalam keadaan
terluka dan tak berdaya telah diperkosa orang, keadaan dalam guha itu
gelap-gulita dan karena tadinya yang menyerang mereka adalah Raden Wisangjiwo,
tidak aneh kalau kakangmas Pujo dan bibimu Kartikosari merasa yakin bahwa Raden
Wisangjiwolah orang yang melakukan perbuatan keji itu."
Joko Wandiro
menggigit bibirnya. Dahulu pernah ia mendengar tentang permusuhan itu dan ia
amat menyesal sekali. Akan tetapi ia tidak mau mengganggu cerita bibinya karena
ia maklum bahwa kalau ia membuka mulut tentu suaranya akan gemetar.
"Memang
menyesalkan sekali, anakku, akan tetapi itu kenyataan. Nah, semenjak saat
itulah kakangmas Pujo berpisah dari bibimu Kartikosari. Kakangmas Pujo yang
merasa dihancurkan kebahagiaannya oleh ayah kandungmu, menyerbu ke Kadipaten
Selopenangkep. Di sana dia tidak menemukan Raden Wisangjiwo, maka untuk
membalas sakit hatinya, ia.... menculik ibu kandungmu, mbokayu Listyokumolo dan
engkau sendiri yang pada waktu itu baru berusia satu tahun."
Joko Wandiro
menundukkan mukanya untuk menyembunyikan mukanya yang menjadi merah dan terasa
panas. Ia juga amat menyesalkan perbuatan ayah angkatnya yang terburu nafsu dan
sembrono ini, Akan tetapi tepat seperti dikatakan bibinya tadi, segala sudah
terjadi dan ia juga mempunyai keyakinan bahwa segala hal yang sudah, sedang,
atau akan terjadi kesemuanya sudah diatur oleh Hyang Maha Wisesa, sedangkan
manusia hanyalah menjadi pelaku-pelakunya belaka.
"Kemudian
engkau tahu betapa engkau diaku anak oleh kakangmas Pujo dan engkaupun sudah
mendengar betapa setelah kakangmas Pujo dan mbokayu Kartikosari tahu bahwa
musuh besar mereka sesungguhnya bukan Raden Wisangjiwo melainkan Jokowanengpati
si manusia biadab, dari musuh mereka menjadi sahabat. Dan engkaupun tahu betapa
ayah kandungmu, biarpun dahulunya pernah melakukan penyelewengan, namun di saat
terakhir telah menjadi seorang pahlawan dan tewas dalam medan yuda sebagai
seorang pahlawan pula. Akan tetapi ibu kandungmu........ " Sampai di sini
Roro Luhito berhenti dan menarik napas panjang dan dua titik air mata meloncat
ke atas kedua pipinya yang pucat.
"Teruskanlah,
bibi. Saya siap mendengar hal yang seburuk-buruknya," kata Joko Wandiro
tenang.
"Ibumu,
mbokayu Listyokumolo setelah kehilangan kau yang dilarikan oleh kakangmas Pujo,
dia...... dia menjadi berubah ingatan, kulup. Kasihan sekali. Ayahmu yang pada
waktu itu belum sadar daripada penyelewengannya, melihat ibumu seperti orang
gila, lalu mengantarnya kembali ke dusun Selogiri di lereng Lawu. Akan tetapi,
agaknya memang ibu kandungmu harus banyak menderita di waktu hidupnya. Belum
lama tinggal di rumah kakekmu yang menjadi lurah di dusun itu, desa Selogiri
menjadi korban serbuan perampok-perampok. Eyangmu dan seluruh keluarganya
tewas, ibu kandungmu menjadi tawanan perampok! Dan semenjak itulah kami tidak
pernah mendengar apa-apa lagi dari ibumu. Ayahmu setelah insyaf akan
kesalahannya, telah bersusah payah, dibantu oleh kami semua dan
pasukan-pasukan, berusaha mencari ibumu, akan tetapi sia-sia."
Hemm, setelah
itu tentu telah ditolong oleh paman Adibroto, pikir Joko Wandiro, Kemudian
setelah ditolong lalu menjadi isteri paman Adibroto dan melahirkan seorang
anak, Ayu Candra! Berpikir sampai di sini, jantung Joko Wandiro serasa
ditusuk-tusuk, akan tetapi mulutnya tidak mengucapkan sepatahpun kata.
"Siapa
dapat menduga, beberapa hari yang lalu..... "
"Ibu
datang ke sini bersama paman Adibroto?" Tidak tertahankan lagi Joko
Wandiro menyambung karena bibinya agak meragu.
"Benar,
anakku. Ibumu tidak melupakan dendamnya kepada kakangmas Pujo yang sama sekali
tidak menyangka-nyangka dan hidup aman tenteram bersama kami berdua di sini.
Ibumu dapat bertemu berdua saja dengan kakangmas Pujo dan kakangmas Pujo.......
yang selalu merasa berduka dan malu atas semua perbuatannya terhadap ibumu
dahulu, mengakui dosanya dan rela menebus dosa, rela dijatuhi hukuman oleh
ibumu. Kakangmas Pujo tidak melawan ketika ditusuk keris, sengaja menerima
kematian di tangan ibumu agar dosanya tercuci oleh darahnya sendiri...."
Roro Luhito
terisak dan Kartikosari yang tadinya sudah agak reda tangisnya, kini tersedu
kembali. Joko Wandiro mengepal tinjunya. Ingin ia menjerit-jerit. Ingin ia
menangis, menangisi keduanya, menangisi Pujo dan Listyokumolo. Bangga ia
mendengar akan sikap Pujo yang ternyata seorang satria utama, seorang jantan
sejati. Sedih ia mengingat akan nasib ibu kandungnya, dan dia tidak dapat
menyalahkan ibu kandungnya yang tentu saja merasa dirusak kebahagiaan hidupnya
oleh Pujo. Ingin sekali ia mendesak bibinya agar bercerita terus, akan tetapi
kerongkongannya serasa tercekik.
"Kakangmas
Pujo...... dia melarang kami menuntut balas....... dia menyatakan rela dan
senang mati di tangan ibumu untuk menebus dosa...... "
"Aduh
ayahku.......! Ayah dan guruku.......!"
Joko Wandiro
bangga sekali dan hampir ia tidak kuat menahan air matanya yang sudah membuat
pandang matanya berkaca-kaca.
"Kemudian,
secara tak terduga-duga muncullah Endang Patibroto!"
Joko Wandiro
terkejut dan mendongakkan muka, memandang bibinya dengan mata terbelalak penuh
pertanyaan.
"Sungguh
berbahagia sekali kakangmas Pujo ketika melihat puterinya. Baru sekali itu ia
memandang wajah anak kandungnya, baru sekali itu, di ambang kematiannya, ia
bertemu muka dengan puterinya. Hatinya puas sekali dan merasa betapa mendapat
anugerah Dewata. Pertama, sudah dapat menebus dosa di tangan ibumu sendiri, ke
dua, sebelum mati dapat bertemu anaknya. Sekali lagi kakangmas Pujo
meninggalkan pesan agar jangan membalas kepada ibu kandungmu, bahkan berpesan
bahwa untuk menghapus permusuhan itu, Endang Patibroto dijodohkan dengan.......
engkau, anakku Joko Wandiro!"
Pemuda itu
merasa seakan-akan dadanya hendak meledak, jantungnya berdebar-debar keras
sekali. Ia merasa makin bangga kepada Pujo! Bukan main ayahnya, juga gurunya
itu, seorang manusia bijaksana, seorang satria sejati.
"Jadi
ayah....... Pujo tidak membalas kepada....... ibuku?"
"Tidak.
Dia meninggal dunia sambil tersenyum bahagia."
"Dan bibi
berdua, juga tidak membalas kepada ibuku.......?"
Roro Luhito
menggelengkan kepala.
"Betapapun
sakit dan sedih hati bibimu Kartikosari, namun dia juga seorang berdarah satria
utama, dan mematuhi pesan suaminya."
"Kalau
begitu, mengapa ibuku....... ? "
Tiba-tiba
Kartikosari melompat turun dan dengan muka pucat, rambut awut-awutan ia
menjerit,
"Anakku
yang membunuhnya! Anakku Endang Patibroto, yang kukandung sembilan bulan, yang
kubela dengan taruhan nyawa...... dia yang membunuh ibumu! Dan dia pula yang
membunuh Ki Adibroto. Ya, anakku! Anak kandungku! Dia yang membunuh ibu
kandungmu, Joko Wandiro. Maka itu, kalau kau hendak menuntut balas, jangan
ragu-ragu, ini ibunya yang bertanggung jawab. Kaucabutlah senjatamu dan kau
bunuhlah aku......... aku........ takkan melawan...... kau sempurnakan aku.......
biar aku.......aku ikut suamiku....... "
Terdengar
jerit melengking mengerikan dan tubuh Joko Wandiro sudah mencelat keluar dari
pondok itu.
"Joko..........!"
Roro Luhito
menjerit dan mengejar keluar, juga Kartikosari berlari keluar. Di depan pintu
pondok mereka berhenti dan memandang ke depan dengan muka pucat. Mereka melihat
betapa Joko Wandiro sambil mengeluarkan suara menggereng-gereng seperti seekor
harimau, mengamuk dan kalang kabut menghantami batu-batu karang di pinggir
laut! Batu karang pecah berhamburan dan terdengar pemuda itu menggereng-gereng
di antara isak tangisnya, terus menghantami batu karang seperti orang gila.
"Joko
Wandiro... anakku....! Kau ingatlah, nak........ ingatlah.......!"
Roro Luhito
lalu berlari-lari dan menubruk kaki keponakannya, juga Kartikosari menghampiri
dengan bercucuran air mata. Kini Joko Wandiro telah dapat menguasai iblis yang
mengamuk di dalam kepala dan dadanya. Ia berdiri dengan kedua kaki tepentang,
kedua tangan berlepotan darah karena dalam kemarahannya tadi ia tidak
mengerahkan aji kesaktiannya sehingga kulit tangannya tidak kebal dan kini
hancur oleh batu karang. Kedua lengan yang tangannya berdarah itu kini
tergantung di kanan kiri tubuhnya, darahnya menetes-netes seperti air mata yang
juga menetes-netes dari kedua matanya.
"Anakku......
ah, anakku Joko Wandiro....... jangan salah mengerti, nak. Bibimu......
Kartikosari mengeluarkan kata-kata itu saking remuk perasaan hatinya oleh
kelakuan anaknya. Kau tidak tahu, setelah Endang Patibroto membunuh Listyokumolo
dan melukai Ki Adibroto tanpa dapat kami cegah karena gerakannya yang amat
dahsyat, kemudian bibimu Kartikosari mendengar bahwa Endang menjadi kepala
pengawal Jenggala. Bibimu marah dan berusaha menginsyafkan puterinya, akan
tetapi sia-sia. Bahkan bibimu sudah menyerang hendak membunuhnya, akan tetapi
juga tidak berdaya menghadapi kesaktian Endang Patibroto yang amat hebat."
Kini Joko
Wandiro sudah dapat menekan perasaannya dan ketenangannya pulih kembali.
"Saya
tidak menaruh dendam kepada bibi Kartikosari, bahkan saya merasa amat terharu
dan kasihan. Bibi Kartikosari, maafkan saya, percayalah, saya tidak mempunyai
permusuhan apa-apa dengan bibi......."
"Joko
Wandiro........kau dianggap putera sendiri oleh kakangmas Pujo dan
memang....... memang kau patut menjadi puteranya. Ahh, anakku......!"
Kartikosari
merangkul dan mereka berpelukan.
"Saya
juga tahu akan kesaktian Endang Patibroto, karena sudah dua kali dia menyerang
saya, bahkan dia hampir saja membunuh Ayu Candra."
"Ayu
Candra? Siapakah dia?" tanya Kartikosari makin sedih mendengar akan
penyelewengan puterinya.
"Dia
itu....... adik tiriku, puteri ibuku dengan paman Adibroto."
Joko Wandiro
lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Ki Adibroto dan Ayu Candra di
dekat Telaga Sarangan, tentang pesan terakhir Ki Adibroto yang melarang anaknya
mencari pembunuh ayah bundanya, kemudian tentang lenyapnya Ayu Candra.
"Ah.....
kakangmas Pujo....... agaknya akan sia-sia semua kehendakmu agar permusuhan itu
disudahi dengan pengorbanan darah dan nyawamu........ bukan saja anak kandung
kita sendiri sudah melanggarnya, juga........ juga masih ada ekornya lagi, anak
Adibroto dan Listyokumolo...."
Kartikosari
mengeluh dan menjadi berduka sekali. Suaminya telah mengorbankan nyawa, rela
ditusuk sampai tewas oleh Listyokumolo untuk menebus dosa, bahkan melarangnya
membalas malah menjodohkan Endang Patibroto dengan Joko Wandiro putera
Listyokumolo dalam usaha terakhir menyudahi permusuhan itu. Akan tetapi usaha
yang amat mulia dari suaminya itu hancur berantakan, tidak saja oleh anak
mereka sendiri, juga kini tentu saja Ayu Candra hendak menuntut balas pula.
Dendam permusuhan yang tiada akan habisnya.
"Bibi
harap suka tenangkan hati. Saya yang tanggung bahwa Ayu Candra adik saya itu
tidak akan melanjutkan permusuhan, tidak akan mencari balas dendam.."
Kartikosari
terharu dan memegang lengan Joko Wandiro.
No comments:
Post a Comment