Badai Laut Selatan ; Bagian 128


Di samping ini, Roro Luhito kasihan melihat Joko Wandiro yang tentu saja menjadi bimbang dan bingung serta amat mengharapkan penjelasan.
"Anakku Joko Wandiro, kaudengarlah baik-baik apa yang akan kuceritakan kepadamu dan bersiaplah engkau menerima pukulan batin ini. Aku percaya, sebagai seorang satria murid Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna dan arif bijaksana, dan sebagai seorang yang telah dewasa, engkau tentu akan dapat menerima semua peristiwa yang terjadi ini sebagai sesuatu yang sudah dikehendaki Hyang Maha Wisesa dan bahwa semuanya itu memang sudah semestinya terjadi maka tak seorangpun manusia mampu merubahnya," kata Roro Luhito yang mulai dapat menekan perasaannya sehingga suaranya makin jelas dan tenang.
"Bicaralah, bibi, Biarpun belum tahu jelas, kiranya saya sudah dapat banyak menduganya."
"Aku akan mulai dari permulaan, anakku. Terjadinya kira-kira dua puluh tahun yang lalu, karena sesungguhnya mulai saat itulah terjadinya awal segala peristiwa ini yang kuharapkan sudah berakhir sampai sekian saja. Ketika itu, ayahmu atau gurumu Pujo bersama bibimu Kartikosari masih pengantin baru. Mereka berdua pergi bertapa ke dalam Guha Siluman. Tidak lama kemudian datanglah kakakku, mendiang ayah kandungmu sendiri Raden Wisangjiwo. Aku berterus terang saja, anakku, biar dia kakak kandungku, biar dia itu ayah kandungmu, dia pada masa itu adalah seorang bangsawan muda yang menjadi hamba nafsunya. Dia bersikap kurang baik terhadap bibimu Kartikosari sehingga terjadi pertempuran. Kakangmas Pujo pingsan dan ketika ia sadar, ia melihat betapa bibimu Kartikosari dalam keadaan terluka dan tak berdaya telah diperkosa orang, keadaan dalam guha itu gelap-gulita dan karena tadinya yang menyerang mereka adalah Raden Wisangjiwo, tidak aneh kalau kakangmas Pujo dan bibimu Kartikosari merasa yakin bahwa Raden Wisangjiwolah orang yang melakukan perbuatan keji itu."

Joko Wandiro menggigit bibirnya. Dahulu pernah ia mendengar tentang permusuhan itu dan ia amat menyesal sekali. Akan tetapi ia tidak mau mengganggu cerita bibinya karena ia maklum bahwa kalau ia membuka mulut tentu suaranya akan gemetar.
"Memang menyesalkan sekali, anakku, akan tetapi itu kenyataan. Nah, semenjak saat itulah kakangmas Pujo berpisah dari bibimu Kartikosari. Kakangmas Pujo yang merasa dihancurkan kebahagiaannya oleh ayah kandungmu, menyerbu ke Kadipaten Selopenangkep. Di sana dia tidak menemukan Raden Wisangjiwo, maka untuk membalas sakit hatinya, ia.... menculik ibu kandungmu, mbokayu Listyokumolo dan engkau sendiri yang pada waktu itu baru berusia satu tahun."
Joko Wandiro menundukkan mukanya untuk menyembunyikan mukanya yang menjadi merah dan terasa panas. Ia juga amat menyesalkan perbuatan ayah angkatnya yang terburu nafsu dan sembrono ini, Akan tetapi tepat seperti dikatakan bibinya tadi, segala sudah terjadi dan ia juga mempunyai keyakinan bahwa segala hal yang sudah, sedang, atau akan terjadi kesemuanya sudah diatur oleh Hyang Maha Wisesa, sedangkan manusia hanyalah menjadi pelaku-pelakunya belaka.
"Kemudian engkau tahu betapa engkau diaku anak oleh kakangmas Pujo dan engkaupun sudah mendengar betapa setelah kakangmas Pujo dan mbokayu Kartikosari tahu bahwa musuh besar mereka sesungguhnya bukan Raden Wisangjiwo melainkan Jokowanengpati si manusia biadab, dari musuh mereka menjadi sahabat. Dan engkaupun tahu betapa ayah kandungmu, biarpun dahulunya pernah melakukan penyelewengan, namun di saat terakhir telah menjadi seorang pahlawan dan tewas dalam medan yuda sebagai seorang pahlawan pula. Akan tetapi ibu kandungmu........ " Sampai di sini Roro Luhito berhenti dan menarik napas panjang dan dua titik air mata meloncat ke atas kedua pipinya yang pucat.
"Teruskanlah, bibi. Saya siap mendengar hal yang seburuk-buruknya," kata Joko Wandiro tenang.
"Ibumu, mbokayu Listyokumolo setelah kehilangan kau yang dilarikan oleh kakangmas Pujo, dia...... dia menjadi berubah ingatan, kulup. Kasihan sekali. Ayahmu yang pada waktu itu belum sadar daripada penyelewengannya, melihat ibumu seperti orang gila, lalu mengantarnya kembali ke dusun Selogiri di lereng Lawu. Akan tetapi, agaknya memang ibu kandungmu harus banyak menderita di waktu hidupnya. Belum lama tinggal di rumah kakekmu yang menjadi lurah di dusun itu, desa Selogiri menjadi korban serbuan perampok-perampok. Eyangmu dan seluruh keluarganya tewas, ibu kandungmu menjadi tawanan perampok! Dan semenjak itulah kami tidak pernah mendengar apa-apa lagi dari ibumu. Ayahmu setelah insyaf akan kesalahannya, telah bersusah payah, dibantu oleh kami semua dan pasukan-pasukan, berusaha mencari ibumu, akan tetapi sia-sia."

Hemm, setelah itu tentu telah ditolong oleh paman Adibroto, pikir Joko Wandiro, Kemudian setelah ditolong lalu menjadi isteri paman Adibroto dan melahirkan seorang anak, Ayu Candra! Berpikir sampai di sini, jantung Joko Wandiro serasa ditusuk-tusuk, akan tetapi mulutnya tidak mengucapkan sepatahpun kata.
"Siapa dapat menduga, beberapa hari yang lalu..... "
"Ibu datang ke sini bersama paman Adibroto?" Tidak tertahankan lagi Joko Wandiro menyambung karena bibinya agak meragu.
"Benar, anakku. Ibumu tidak melupakan dendamnya kepada kakangmas Pujo yang sama sekali tidak menyangka-nyangka dan hidup aman tenteram bersama kami berdua di sini. Ibumu dapat bertemu berdua saja dengan kakangmas Pujo dan kakangmas Pujo....... yang selalu merasa berduka dan malu atas semua perbuatannya terhadap ibumu dahulu, mengakui dosanya dan rela menebus dosa, rela dijatuhi hukuman oleh ibumu. Kakangmas Pujo tidak melawan ketika ditusuk keris, sengaja menerima kematian di tangan ibumu agar dosanya tercuci oleh darahnya sendiri...."
Roro Luhito terisak dan Kartikosari yang tadinya sudah agak reda tangisnya, kini tersedu kembali. Joko Wandiro mengepal tinjunya. Ingin ia menjerit-jerit. Ingin ia menangis, menangisi keduanya, menangisi Pujo dan Listyokumolo. Bangga ia mendengar akan sikap Pujo yang ternyata seorang satria utama, seorang jantan sejati. Sedih ia mengingat akan nasib ibu kandungnya, dan dia tidak dapat menyalahkan ibu kandungnya yang tentu saja merasa dirusak kebahagiaan hidupnya oleh Pujo. Ingin sekali ia mendesak bibinya agar bercerita terus, akan tetapi kerongkongannya serasa tercekik.
"Kakangmas Pujo...... dia melarang kami menuntut balas....... dia menyatakan rela dan senang mati di tangan ibumu untuk menebus dosa...... "
"Aduh ayahku.......! Ayah dan guruku.......!"
Joko Wandiro bangga sekali dan hampir ia tidak kuat menahan air matanya yang sudah membuat pandang matanya berkaca-kaca.
"Kemudian, secara tak terduga-duga muncullah Endang Patibroto!"

Joko Wandiro terkejut dan mendongakkan muka, memandang bibinya dengan mata terbelalak penuh pertanyaan.
"Sungguh berbahagia sekali kakangmas Pujo ketika melihat puterinya. Baru sekali itu ia memandang wajah anak kandungnya, baru sekali itu, di ambang kematiannya, ia bertemu muka dengan puterinya. Hatinya puas sekali dan merasa betapa mendapat anugerah Dewata. Pertama, sudah dapat menebus dosa di tangan ibumu sendiri, ke dua, sebelum mati dapat bertemu anaknya. Sekali lagi kakangmas Pujo meninggalkan pesan agar jangan membalas kepada ibu kandungmu, bahkan berpesan bahwa untuk menghapus permusuhan itu, Endang Patibroto dijodohkan dengan....... engkau, anakku Joko Wandiro!"
Pemuda itu merasa seakan-akan dadanya hendak meledak, jantungnya berdebar-debar keras sekali. Ia merasa makin bangga kepada Pujo! Bukan main ayahnya, juga gurunya itu, seorang manusia bijaksana, seorang satria sejati.
"Jadi ayah....... Pujo tidak membalas kepada....... ibuku?"
"Tidak. Dia meninggal dunia sambil tersenyum bahagia."
"Dan bibi berdua, juga tidak membalas kepada ibuku.......?"
Roro Luhito menggelengkan kepala.
"Betapapun sakit dan sedih hati bibimu Kartikosari, namun dia juga seorang berdarah satria utama, dan mematuhi pesan suaminya."
"Kalau begitu, mengapa ibuku....... ? "
Tiba-tiba Kartikosari melompat turun dan dengan muka pucat, rambut awut-awutan ia menjerit,
"Anakku yang membunuhnya! Anakku Endang Patibroto, yang kukandung sembilan bulan, yang kubela dengan taruhan nyawa...... dia yang membunuh ibumu! Dan dia pula yang membunuh Ki Adibroto. Ya, anakku! Anak kandungku! Dia yang membunuh ibu kandungmu, Joko Wandiro. Maka itu, kalau kau hendak menuntut balas, jangan ragu-ragu, ini ibunya yang bertanggung jawab. Kaucabutlah senjatamu dan kau bunuhlah aku......... aku........ takkan melawan...... kau sempurnakan aku....... biar aku.......aku ikut suamiku....... "
Terdengar jerit melengking mengerikan dan tubuh Joko Wandiro sudah mencelat keluar dari pondok itu.
"Joko..........!"

Roro Luhito menjerit dan mengejar keluar, juga Kartikosari berlari keluar. Di depan pintu pondok mereka berhenti dan memandang ke depan dengan muka pucat. Mereka melihat betapa Joko Wandiro sambil mengeluarkan suara menggereng-gereng seperti seekor harimau, mengamuk dan kalang kabut menghantami batu-batu karang di pinggir laut! Batu karang pecah berhamburan dan terdengar pemuda itu menggereng-gereng di antara isak tangisnya, terus menghantami batu karang seperti orang gila.
"Joko Wandiro... anakku....! Kau ingatlah, nak........ ingatlah.......!"
Roro Luhito lalu berlari-lari dan menubruk kaki keponakannya, juga Kartikosari menghampiri dengan bercucuran air mata. Kini Joko Wandiro telah dapat menguasai iblis yang mengamuk di dalam kepala dan dadanya. Ia berdiri dengan kedua kaki tepentang, kedua tangan berlepotan darah karena dalam kemarahannya tadi ia tidak mengerahkan aji kesaktiannya sehingga kulit tangannya tidak kebal dan kini hancur oleh batu karang. Kedua lengan yang tangannya berdarah itu kini tergantung di kanan kiri tubuhnya, darahnya menetes-netes seperti air mata yang juga menetes-netes dari kedua matanya.
"Anakku...... ah, anakku Joko Wandiro....... jangan salah mengerti, nak. Bibimu...... Kartikosari mengeluarkan kata-kata itu saking remuk perasaan hatinya oleh kelakuan anaknya. Kau tidak tahu, setelah Endang Patibroto membunuh Listyokumolo dan melukai Ki Adibroto tanpa dapat kami cegah karena gerakannya yang amat dahsyat, kemudian bibimu Kartikosari mendengar bahwa Endang menjadi kepala pengawal Jenggala. Bibimu marah dan berusaha menginsyafkan puterinya, akan tetapi sia-sia. Bahkan bibimu sudah menyerang hendak membunuhnya, akan tetapi juga tidak berdaya menghadapi kesaktian Endang Patibroto yang amat hebat."
Kini Joko Wandiro sudah dapat menekan perasaannya dan ketenangannya pulih kembali.
"Saya tidak menaruh dendam kepada bibi Kartikosari, bahkan saya merasa amat terharu dan kasihan. Bibi Kartikosari, maafkan saya, percayalah, saya tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan bibi......."
"Joko Wandiro........kau dianggap putera sendiri oleh kakangmas Pujo dan memang....... memang kau patut menjadi puteranya. Ahh, anakku......!"
Kartikosari merangkul dan mereka berpelukan.
"Saya juga tahu akan kesaktian Endang Patibroto, karena sudah dua kali dia menyerang saya, bahkan dia hampir saja membunuh Ayu Candra."
"Ayu Candra? Siapakah dia?" tanya Kartikosari makin sedih mendengar akan penyelewengan puterinya.
"Dia itu....... adik tiriku, puteri ibuku dengan paman Adibroto."
Joko Wandiro lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Ki Adibroto dan Ayu Candra di dekat Telaga Sarangan, tentang pesan terakhir Ki Adibroto yang melarang anaknya mencari pembunuh ayah bundanya, kemudian tentang lenyapnya Ayu Candra.
"Ah..... kakangmas Pujo....... agaknya akan sia-sia semua kehendakmu agar permusuhan itu disudahi dengan pengorbanan darah dan nyawamu........ bukan saja anak kandung kita sendiri sudah melanggarnya, juga........ juga masih ada ekornya lagi, anak Adibroto dan Listyokumolo...."

Kartikosari mengeluh dan menjadi berduka sekali. Suaminya telah mengorbankan nyawa, rela ditusuk sampai tewas oleh Listyokumolo untuk menebus dosa, bahkan melarangnya membalas malah menjodohkan Endang Patibroto dengan Joko Wandiro putera Listyokumolo dalam usaha terakhir menyudahi permusuhan itu. Akan tetapi usaha yang amat mulia dari suaminya itu hancur berantakan, tidak saja oleh anak mereka sendiri, juga kini tentu saja Ayu Candra hendak menuntut balas pula. Dendam permusuhan yang tiada akan habisnya.
"Bibi harap suka tenangkan hati. Saya yang tanggung bahwa Ayu Candra adik saya itu tidak akan melanjutkan permusuhan, tidak akan mencari balas dendam.."
Kartikosari terharu dan memegang lengan Joko Wandiro.

 <<< Bagian 127                                                                                   Bagian 129 >>>

No comments:

Post a Comment