"Anakku........ Joko Wandiro, engkau patut menjadi putera dan murid kakangmas Pujo. Engkau....... engkau seperti dia, anakku! Terima kasih, Joko Wandiro. Engkau sebagai putera kandung Listyokumolo yang terbunuh oleh Endang Patibroto......... engkau tidak menaruh dendam juga engkau hendak....... mencegah adikmu Ayu Candra menuntut balas."
"Sudah
semestinya begitu, bibi. Tidak mungkin saya dapat membiarkan adik saya menjadi
korban nafsu dendam dan permusuhan yang tiada berkeputusan ini."
"Aku
percaya engkau akan bisa membujuk adikmu. Sebagai puteri Ki Adibroto aku
percaya Ayu Candra dapat mengerti, akan tetapi....... ah, kalau aku ingat akan
anakku Endang Patibroto? Dia sukar dikendalikan, memiliki kepandaian seperti
iblis betina. Dia telah menjadi murid Dibyo Mamangkoro, dan tidak hanya
mewarisi kedigdayaan raksasa yang mengerikan itu, malah juga celaka sekali,
agaknya mewarisi wataknya yang seperti iblis."
Joko Wandiro
menggigit bibir, ia masih gemas kalau teringat akan Endang Patibroto. Gadis itu
telah banyak melakukan perbuatan keji. Hampir saja membunuh Ayu Candra tanpa
sebab, juga menyerangnya dengan keji tanpa sebab. Kemudian, gadis itu malah
telah membunuh ibu kandungnya dan Ki Adibroto, sungguhpun telah mendengar pesan
terakhir ayahnya. Lebih hebat lagi, Endang Patibroto malah menyakiti hati
ibunya, membantah dan melawan!
"Bibi,
mengingat akan budi ayah Pujo yang berlimpah-limpah kepada diri saya, saya
berjanji akan pergi mencari Endang Patibroto dan akan membujuknya agar supaya
ia insyaf kembali daripada kesesatannya dan suka kembali kepada bibi di
sini."
"Aduh,
anakku! Engkau menumpuk-numpuk budi sehingga membuat aku merasa malu sekali.
Kakangmas Pujo....kiranya membekas juga semua jasa dalam hidupmu.......! Joko
Wandiro, kau tadi mengatakan bahwa sudah dua kali kau bentrok dengan Endang,
sudah kauketahui sendiri kedigdayaannya yang seperti iblis. Bagaimana kalau ia
tidak mendengar bujukanmu, bahkan menggunakan kekerasan ? Aduh........ alangkah
akan baiknya kalau Endang tidak berubah seperti itu dan..... dan dapat
terlaksana pesan kakangmas Pujo tentang perjodohannya dengan kau...!!"
"Saya
berjanji akan mengajak Endang kembali kepadamu, bibi. Tidak perduli dia mau
atau tidak, kalau perlu saya akan memaksanya dengan kekerasan!"
"Ah,
Joko. Mudah-mudahan saja kau akan berhasil. Aku khawatir sekali, terutama jika
aku ingat akan adikmu itu. Usahakanlah agar dia jangan memperhebat lagi
permusuhan yang sudah diusahakan pemadamannya oleh ayahmu Pujo."
"Kalau
saya pikir-pikir, sungguh menggemaskan orang biadab yang mempergunakan nama
Raden Wisangjiwo sehingga tertanam bibit permusuhan sehebat itu. Bibi
Kartikosari, siapakah sesungguhnya orang itu?"
Kartikosari
tersenyum di antara air matanya.
"Iblis
itu sudah mampus, Joko! Mampus di tangan bibimu berdua ini. Jokowanengpati
telah mati dan mayatnya dikubur dalam perut ikan!"
Kemudian
dengan penuh nafsu amarah Kartikosari menceritakan betapa dia dan Roro Luhito
memaksa Jokowanengpati terjun ke laut sehingga musuh besar itu disambar ikan
dan diseretnya ke dalam lautan. Joko Wandiro menarik napas panjang. Ngeri juga
hatinya mendengar nasib orang jahat itu, akan tetapi ia maklum bahwa segala
perbuatan jahat biarpun lambat akan tetapi sudah pasti akan menyeret pembuatnya
ke dalam lembah kesengsaraan dan malapetaka.
"Kiranya
cukuplah, bibi berdua. Saya pamit mundur, karena saya sendiripun berkhawatir
akan keselamatan adik saya, Ayu Candra yang belum saya ketahui ke mana
perginya. Harap bibi berdua menanti di sini, saya pasti akan datang lagi dan
mudah-mudahan dapat bersama Endang."
"Tidak di
sini, Joko Kami akan pergi dari tempat ini."
Ucapan
Kartikosari ini tidak hanya mengagetkan Joko Wandiro, juga Roro Luhito terkejut
dan terheran.
"Kita
hendak pergi ke manakah?" tanyanya sambil memegang tangan Kartikosari.
"Adikku
Roro Luhito. Setelah kini kita ketahui bahwa di sana masih ada Ayu Candra yang
mungkin akan menuntut balas, lebih baik kita pergi menyembunyikan diri. Siapa
tahu sebelum dapat ditemukan Joko Wandiro, dia akan lebih dulu datang ke sini
mencari kita. Sesungguhnya aku tidak akan mundur dan rela menyerahkan nyawaku
kepada anak Listyokumolo yang terbunuh oleh anakku, akan tetapi kita harus
mengingat akan nasib.... anak-anak kita dalam kandungan ini. Setelah jabang
bayi terlahir, barulah aku siap menerima pembalasan. Karena ini, aku mengambil
keputusan untuk bersembunyi ke Pulau Sempu di mana dahulu ayahku bertapa."
Roro Luhito
menundukkan muka dengan terharu. Ucapan ini mengingatkan kepadanya bahwa anak
yang ia kandungpun telah yatim, tiada berayah lagi.
"Aku
menurut segala keputusanmu."
Joko Wandiro
mengangguk-angguk. Diam-diam ia terharu juga ketika mendengar bahwa kedua
wanita yang di tinggal mati ayah angkatnya ini dalam keadaan mengandung.
"Baiklah,
bibi berdua. Saya kelak akan menyusul ke Pulau Sempu."
Setelah
bermohon diri, Joko Wandiro lalu meninggalkan Bayuwismo, menunggang kudanya,
pemberian Pangeran Darmokusumo, Pangeran Panjalu yang haik hati itu. Sementara
itu, beberapa hari kemudian setelah menaburkan bunga di laut sebagai pernyataan
selamat tinggal kepada suami mereka, Kartikosari dan Roro Luhito juga
meninggalkan Bayuwismo yang menjadi sunyi dan menyedihkan.
Berpekan-pekan
Joko Wandiro menjelajah gunung-gunung dan pantai Laut Selatan untuk mencari
jejak adiknya, Ayu Candra. Namun hasilnya sia-sia belaka sehingga hatinya
menjadi gelisah sekali. Kemudian ia berpikir bahwa mungkin sekali adiknya itu
oleh Ki Jatoko yang mencurigakan itu dibawa ke Bayuwismo. Siapa tahu
kalau-kaiau Ayu Candra berusaha membalas dendam sendiri dan minta diantar Ki
Jatoko. Maka ia lalu kembali ke Bayuwismo dan alangkah terkejut hatinya ketika
ia mendengar dari penduduk dusun yang berdekatan bahwa memang beberapa hari
setelah Kartikosari dan Roro Luhito pergi meninggalkan pantai itu, ada seorang
dara cantik bersama pamannya yang kedua kakinya bunting bertanya-tanya kepada
penduduk di situ ke mana perginya penghuni Bayuwismo! Tentu saja tidak ada
seorangpun penduduk yang dapat memberi tahu dan kedua orang itu lalu pergi lagi
dari situ. Kejadian ini sudah terjadi tiga pekan yang lalu. Aduh, untung bahwa
bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito telah pergi. Kalau masih berada di sana,
tentu akan terjadi hal yang amat mengerikan. Ia maklum bahwa Ayu Candra sama
sekali bukanlah lawan Kartikosari dan Roro Luhito yang sakti, akan tetapi
karena ayah bundanya terbunuh, tentu saja gadis itu menjadi nekat, sedangkan
Kartikosari yang berwatak gagah itu tentu akan rela memberikan nyawanya seperti
yang diperbuat oleh Pujo! Alangkah akan mengerikan kalau gadis itu, adiknya,
bekas kekasihnya, melakukan pembunuhan seperti itu. Karena Ayu Candra dan Ki
Jatoko pernah datang ke dusun itu, biarpun telah lewat tiga pekan, namun
setidaknya Joko Wandiro mulai mendapatkan jejak mereka. Menurut para penduduk
yang melihatnya, dua orang itu pergi menuju ke utara. Dia mengikuti jejak
mereka dan tibalah Joko Wandiro di Selopenangkep yang kini telah mempunyai
seorang adipati baru, seorang ponggawa Kerajaan Panjalu. Di tempat ini ia
mendapat keterangan pula bahwa memang dua orang itu pernah berada di
Selopenangkep, akan tetapi kemudian pergi lagi menuju ke utara. Joko Wandiro
mengikuti terus jejak ini dan selanjutnya dengan hati girang ia mendapat
kenyataan bahwa tidaklah sukar mengikuti jejak kedua orang itu walaupun sudah
lewat belasan hari. Hal ini tidaklah aneh karena memang kedua orang itu menarik
perhatian serta mudah diingat. Yang seorang adalah gadis cantik jelita yang sukar
dicari bandingannya. Yang ke dua adalah seorang laki-laki bermuka buruk
menjijikkan dan buntung kedua kakinya. Tentu saja "pasangan" seperti
ini tidak mudah terlupa orang.
Akhirnya, Joko
Wandiro mengikuti jejak kedua orang itu menuju ke timur. Hatinya berdebar dan
tidak enak. Pulau Sempu letaknya di pantai Laut Selatan sebelah timur dan kini
jejak kedua orang itu terus saja ke timur. Apakah dua orang itu telah dapat
menduga ke mana perginya Kartikosari dan Roro Luhito? Ah, tidak mungkin! Yang
tahu akan hal ini hanyalah mereka bertiga. Kalau begitu, ke manakah tujuan Ayu
Candra? Mengapa terus ke timur bahkan sama sekali tidak kembali ke Sarangan?
Makin cepat ia
mengejar, jarak di antara mereka makin dekat akan tetapi jejak itu juga makin
dekat dengan Pulau Sempu! Ia hampir dapat menyusul mereka ketika tiba di kaki
Pegunungan Anjasmoro. Dari seorang petani ia mendapat keterangan bahwa baru
beberapa jam yang lalu petani itu melihat seorang buntung yang mengiringkan
seorang gadis jelita lewat di dekat sawahnya.
"Bagaimana
keadaan gadis itu, paman?" tanya Joko Wandiro setelah minum dari air kendi
yang ditawarkan si petani dengan ramah. Petani itu memandang dengan mata penuh
selidik. Ia melihat wajah, kemudian melihat pakaian Joko Wandiro, dan bertanya,
"Apakah
andika ini seorang prajurit? Kalau seorang prajurit dari Jenggala ataukah dari
Panjalu?"
Joko Wandiro
cepat menggeleng kepala menyangkal.
"Bukan
prajurit bukan bangsawan, aku seorang pengelana biasa saja, paman."
"Syukur
kalau begitu. Biasanya kalau prajurit, apalagi dari Jenggala, tentu akan
terjadi hal yang tidak sedap dipandang kalau bertemu dengan gadis jelita
seperti yang lewat tadi. Hemm, engkau bertanya tentang gadis itu, apakah
keperluannya, orang muda?"
"Paman
jangan menaruh curiga. Gadis itu adalah adik saya, dan orang buntung itu adalah
paman saya. Saya memang mencari mereka, paman."
"Oooo,
begitukah? Gadis itu tampak sehat-sehat saja, agaknya tidak lelah biarpun
melakukan perjalanan jauh. Sungguh cantik jelita dan trengginas (tangkas), juga
pemberani, buktinya berani melakukan perjalanan hanya dikawal seorang paman
yang lumpuh."
Lega hati Joko
Wandiro mendengar ini. Ia lalu berpamit dan cepat-cepat ia melakukan pengejaran
ke arah lereng Gunung Anjasmoro. Karena Joko Wandiro melakukan pengejaran sambil
mengerahkan Aji Bayu Sakti, maka menjelang senja, ia dapat menyusul. Alangkah
girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa dua orang yang bercakap-cakap di
dalam hutan sambil mengaso di bawah pohon itu adalah Ayu Candra dan Ki Jatoko
si buntung!
Sambil
bersembunyi Joko Wandiro mengintai. Hatinya berdebar-debar girang ketika
melihat betapa keterangan paman tani tadi betul. Ayu Candra kelihatan sehat,
hanya pada wajahnya terbayang sinar kedukaan yang membuat sinar mata yang
biasanya bening berseri-seri itu kini suram, senyumnya yang biasa selalu
menghias bibir menambah cerah sinar matahari kini lenyap. Namun dalam kedukaan,
bekas kekasihnya itu masih cantik jelita, masih menarik dan masih membuat
jantung Joko Wandiro berdegupan keras. Dia adik saya, ia menekan jantungnya,
dia adik saya, adik sekandung, adik seibu! Sambil menekankan kenyataan ini di
hatinya, Joko Wandiro memandang Ki Jatoko dan ia merasa heran melihat betapa Ki
Jatoko kini tidak kelihatan sebagai orang buntung yang lemah. Bahkan hebatnya,
kakek buntung itu yang duduk di atas tanah kini menghadapi beberapa ekor ular
yang berkelojotan di depannya sambil tertawa-tawa!
"Paman
Jatoko, di sepanjang jalan kau membunuhi ular-ular berbisa dan mengambil
racunnya untuk meracuni jarum-jarum itu, apakah masih kurang cukup?" Ayu
Candra bertanya sambil duduk menjauh, agaknya jijik melihat banyak ular
menggehat-geliat dan berkelojotan itu.
"Heh-heh-heh-heh,
Ayu Candra cah ayu, cah denok! Kaulihat saja, kalau jarum-jarum ini sudah jadi
betul, kemudian kau kuberi pelajaran mempergunakan jarum ini, kau akan memiliki
kepandaian seratus kali sambit seratus kali kena! Nah, dengan jarum-jarum
inilah kau kiranya. baru akan dapat menghadapi Pujo dan kedua orang isterinya
yang sakti. Heh-heh-heh!"
"Paman,
bukankah kabarnya menurut penduduk pantai dekat Bayuwismo, Pujo sudah meninggal
dunia?"
"Ah-hah,
omongan orang desa sebodoh itu tak perlu kaupercaya, cah manis! Mereka tahu
Apa? Pujo orangnya belum tua benar dan sakti. Agaknya ia sudah tahu bahwa kau
hendak mencarinya dan membalas dendam, maka ia lalu lari menyembunyikan diri
bersama kedua isterinya, dan berpura-pura mati. Akan tetapi jangan kau
khawatir, sekali kita bertemu dengannya, kau pasti akan mampu membalas dendam.
Aku tanggung! Kalau tidak, jangan panggil aku Ki Jatoko lagi, heh-heh!"
Tiba-tiba
tubuh orang buntung itu berkelebat ke kiri, cepat sekali gerakannya, tahu-tahu
tubuh yang buntung itu telah menubruk dan menyusup ke dalam semak-semak, lalu
muncul dan mencelat lagi ke tempat tadi, tangan kirinya telah menjepit seekor
ular bandot yang amat berbisa! Leher ular itu terjepit di antara ibu jari dan
telunjuknya, kemudian sekali jari-jari tangan kanan mengurut tubuh ular itu
dari leher ke ekornya, ular itu sudah berkelojotan tak mampu lari lagi, lalu
dilemparkan ke bawah, ke sekumpulan ular-ular tadi.
No comments:
Post a Comment