Badai Laut Selatan ; Bagian 129


"Anakku........ Joko Wandiro, engkau patut menjadi putera dan murid kakangmas Pujo. Engkau....... engkau seperti dia, anakku! Terima kasih, Joko Wandiro. Engkau sebagai putera kandung Listyokumolo yang terbunuh oleh Endang Patibroto......... engkau tidak menaruh dendam juga engkau hendak....... mencegah adikmu Ayu Candra menuntut balas."
"Sudah semestinya begitu, bibi. Tidak mungkin saya dapat membiarkan adik saya menjadi korban nafsu dendam dan permusuhan yang tiada berkeputusan ini."
"Aku percaya engkau akan bisa membujuk adikmu. Sebagai puteri Ki Adibroto aku percaya Ayu Candra dapat mengerti, akan tetapi....... ah, kalau aku ingat akan anakku Endang Patibroto? Dia sukar dikendalikan, memiliki kepandaian seperti iblis betina. Dia telah menjadi murid Dibyo Mamangkoro, dan tidak hanya mewarisi kedigdayaan raksasa yang mengerikan itu, malah juga celaka sekali, agaknya mewarisi wataknya yang seperti iblis."

Joko Wandiro menggigit bibir, ia masih gemas kalau teringat akan Endang Patibroto. Gadis itu telah banyak melakukan perbuatan keji. Hampir saja membunuh Ayu Candra tanpa sebab, juga menyerangnya dengan keji tanpa sebab. Kemudian, gadis itu malah telah membunuh ibu kandungnya dan Ki Adibroto, sungguhpun telah mendengar pesan terakhir ayahnya. Lebih hebat lagi, Endang Patibroto malah menyakiti hati ibunya, membantah dan melawan!
"Bibi, mengingat akan budi ayah Pujo yang berlimpah-limpah kepada diri saya, saya berjanji akan pergi mencari Endang Patibroto dan akan membujuknya agar supaya ia insyaf kembali daripada kesesatannya dan suka kembali kepada bibi di sini."
"Aduh, anakku! Engkau menumpuk-numpuk budi sehingga membuat aku merasa malu sekali. Kakangmas Pujo....kiranya membekas juga semua jasa dalam hidupmu.......! Joko Wandiro, kau tadi mengatakan bahwa sudah dua kali kau bentrok dengan Endang, sudah kauketahui sendiri kedigdayaannya yang seperti iblis. Bagaimana kalau ia tidak mendengar bujukanmu, bahkan menggunakan kekerasan ? Aduh........ alangkah akan baiknya kalau Endang tidak berubah seperti itu dan..... dan dapat terlaksana pesan kakangmas Pujo tentang perjodohannya dengan kau...!!"
"Saya berjanji akan mengajak Endang kembali kepadamu, bibi. Tidak perduli dia mau atau tidak, kalau perlu saya akan memaksanya dengan kekerasan!"
"Ah, Joko. Mudah-mudahan saja kau akan berhasil. Aku khawatir sekali, terutama jika aku ingat akan adikmu itu. Usahakanlah agar dia jangan memperhebat lagi permusuhan yang sudah diusahakan pemadamannya oleh ayahmu Pujo."
"Kalau saya pikir-pikir, sungguh menggemaskan orang biadab yang mempergunakan nama Raden Wisangjiwo sehingga tertanam bibit permusuhan sehebat itu. Bibi Kartikosari, siapakah sesungguhnya orang itu?"
Kartikosari tersenyum di antara air matanya.
"Iblis itu sudah mampus, Joko! Mampus di tangan bibimu berdua ini. Jokowanengpati telah mati dan mayatnya dikubur dalam perut ikan!"

Kemudian dengan penuh nafsu amarah Kartikosari menceritakan betapa dia dan Roro Luhito memaksa Jokowanengpati terjun ke laut sehingga musuh besar itu disambar ikan dan diseretnya ke dalam lautan. Joko Wandiro menarik napas panjang. Ngeri juga hatinya mendengar nasib orang jahat itu, akan tetapi ia maklum bahwa segala perbuatan jahat biarpun lambat akan tetapi sudah pasti akan menyeret pembuatnya ke dalam lembah kesengsaraan dan malapetaka.
"Kiranya cukuplah, bibi berdua. Saya pamit mundur, karena saya sendiripun berkhawatir akan keselamatan adik saya, Ayu Candra yang belum saya ketahui ke mana perginya. Harap bibi berdua menanti di sini, saya pasti akan datang lagi dan mudah-mudahan dapat bersama Endang."
"Tidak di sini, Joko Kami akan pergi dari tempat ini."
Ucapan Kartikosari ini tidak hanya mengagetkan Joko Wandiro, juga Roro Luhito terkejut dan terheran.
"Kita hendak pergi ke manakah?" tanyanya sambil memegang tangan Kartikosari.
"Adikku Roro Luhito. Setelah kini kita ketahui bahwa di sana masih ada Ayu Candra yang mungkin akan menuntut balas, lebih baik kita pergi menyembunyikan diri. Siapa tahu sebelum dapat ditemukan Joko Wandiro, dia akan lebih dulu datang ke sini mencari kita. Sesungguhnya aku tidak akan mundur dan rela menyerahkan nyawaku kepada anak Listyokumolo yang terbunuh oleh anakku, akan tetapi kita harus mengingat akan nasib.... anak-anak kita dalam kandungan ini. Setelah jabang bayi terlahir, barulah aku siap menerima pembalasan. Karena ini, aku mengambil keputusan untuk bersembunyi ke Pulau Sempu di mana dahulu ayahku bertapa."
Roro Luhito menundukkan muka dengan terharu. Ucapan ini mengingatkan kepadanya bahwa anak yang ia kandungpun telah yatim, tiada berayah lagi.
"Aku menurut segala keputusanmu."
Joko Wandiro mengangguk-angguk. Diam-diam ia terharu juga ketika mendengar bahwa kedua wanita yang di tinggal mati ayah angkatnya ini dalam keadaan mengandung.
"Baiklah, bibi berdua. Saya kelak akan menyusul ke Pulau Sempu."
Setelah bermohon diri, Joko Wandiro lalu meninggalkan Bayuwismo, menunggang kudanya, pemberian Pangeran Darmokusumo, Pangeran Panjalu yang haik hati itu. Sementara itu, beberapa hari kemudian setelah menaburkan bunga di laut sebagai pernyataan selamat tinggal kepada suami mereka, Kartikosari dan Roro Luhito juga meninggalkan Bayuwismo yang menjadi sunyi dan menyedihkan.

Berpekan-pekan Joko Wandiro menjelajah gunung-gunung dan pantai Laut Selatan untuk mencari jejak adiknya, Ayu Candra. Namun hasilnya sia-sia belaka sehingga hatinya menjadi gelisah sekali. Kemudian ia berpikir bahwa mungkin sekali adiknya itu oleh Ki Jatoko yang mencurigakan itu dibawa ke Bayuwismo. Siapa tahu kalau-kaiau Ayu Candra berusaha membalas dendam sendiri dan minta diantar Ki Jatoko. Maka ia lalu kembali ke Bayuwismo dan alangkah terkejut hatinya ketika ia mendengar dari penduduk dusun yang berdekatan bahwa memang beberapa hari setelah Kartikosari dan Roro Luhito pergi meninggalkan pantai itu, ada seorang dara cantik bersama pamannya yang kedua kakinya bunting bertanya-tanya kepada penduduk di situ ke mana perginya penghuni Bayuwismo! Tentu saja tidak ada seorangpun penduduk yang dapat memberi tahu dan kedua orang itu lalu pergi lagi dari situ. Kejadian ini sudah terjadi tiga pekan yang lalu. Aduh, untung bahwa bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito telah pergi. Kalau masih berada di sana, tentu akan terjadi hal yang amat mengerikan. Ia maklum bahwa Ayu Candra sama sekali bukanlah lawan Kartikosari dan Roro Luhito yang sakti, akan tetapi karena ayah bundanya terbunuh, tentu saja gadis itu menjadi nekat, sedangkan Kartikosari yang berwatak gagah itu tentu akan rela memberikan nyawanya seperti yang diperbuat oleh Pujo! Alangkah akan mengerikan kalau gadis itu, adiknya, bekas kekasihnya, melakukan pembunuhan seperti itu. Karena Ayu Candra dan Ki Jatoko pernah datang ke dusun itu, biarpun telah lewat tiga pekan, namun setidaknya Joko Wandiro mulai mendapatkan jejak mereka. Menurut para penduduk yang melihatnya, dua orang itu pergi menuju ke utara. Dia mengikuti jejak mereka dan tibalah Joko Wandiro di Selopenangkep yang kini telah mempunyai seorang adipati baru, seorang ponggawa Kerajaan Panjalu. Di tempat ini ia mendapat keterangan pula bahwa memang dua orang itu pernah berada di Selopenangkep, akan tetapi kemudian pergi lagi menuju ke utara. Joko Wandiro mengikuti terus jejak ini dan selanjutnya dengan hati girang ia mendapat kenyataan bahwa tidaklah sukar mengikuti jejak kedua orang itu walaupun sudah lewat belasan hari. Hal ini tidaklah aneh karena memang kedua orang itu menarik perhatian serta mudah diingat. Yang seorang adalah gadis cantik jelita yang sukar dicari bandingannya. Yang ke dua adalah seorang laki-laki bermuka buruk menjijikkan dan buntung kedua kakinya. Tentu saja "pasangan" seperti ini tidak mudah terlupa orang.

Akhirnya, Joko Wandiro mengikuti jejak kedua orang itu menuju ke timur. Hatinya berdebar dan tidak enak. Pulau Sempu letaknya di pantai Laut Selatan sebelah timur dan kini jejak kedua orang itu terus saja ke timur. Apakah dua orang itu telah dapat menduga ke mana perginya Kartikosari dan Roro Luhito? Ah, tidak mungkin! Yang tahu akan hal ini hanyalah mereka bertiga. Kalau begitu, ke manakah tujuan Ayu Candra? Mengapa terus ke timur bahkan sama sekali tidak kembali ke Sarangan?
Makin cepat ia mengejar, jarak di antara mereka makin dekat akan tetapi jejak itu juga makin dekat dengan Pulau Sempu! Ia hampir dapat menyusul mereka ketika tiba di kaki Pegunungan Anjasmoro. Dari seorang petani ia mendapat keterangan bahwa baru beberapa jam yang lalu petani itu melihat seorang buntung yang mengiringkan seorang gadis jelita lewat di dekat sawahnya.
"Bagaimana keadaan gadis itu, paman?" tanya Joko Wandiro setelah minum dari air kendi yang ditawarkan si petani dengan ramah. Petani itu memandang dengan mata penuh selidik. Ia melihat wajah, kemudian melihat pakaian Joko Wandiro, dan bertanya,
"Apakah andika ini seorang prajurit? Kalau seorang prajurit dari Jenggala ataukah dari Panjalu?"
Joko Wandiro cepat menggeleng kepala menyangkal.
"Bukan prajurit bukan bangsawan, aku seorang pengelana biasa saja, paman."
"Syukur kalau begitu. Biasanya kalau prajurit, apalagi dari Jenggala, tentu akan terjadi hal yang tidak sedap dipandang kalau bertemu dengan gadis jelita seperti yang lewat tadi. Hemm, engkau bertanya tentang gadis itu, apakah keperluannya, orang muda?"
"Paman jangan menaruh curiga. Gadis itu adalah adik saya, dan orang buntung itu adalah paman saya. Saya memang mencari mereka, paman."
"Oooo, begitukah? Gadis itu tampak sehat-sehat saja, agaknya tidak lelah biarpun melakukan perjalanan jauh. Sungguh cantik jelita dan trengginas (tangkas), juga pemberani, buktinya berani melakukan perjalanan hanya dikawal seorang paman yang lumpuh."
Lega hati Joko Wandiro mendengar ini. Ia lalu berpamit dan cepat-cepat ia melakukan pengejaran ke arah lereng Gunung Anjasmoro. Karena Joko Wandiro melakukan pengejaran sambil mengerahkan Aji Bayu Sakti, maka menjelang senja, ia dapat menyusul. Alangkah girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa dua orang yang bercakap-cakap di dalam hutan sambil mengaso di bawah pohon itu adalah Ayu Candra dan Ki Jatoko si buntung!

Sambil bersembunyi Joko Wandiro mengintai. Hatinya berdebar-debar girang ketika melihat betapa keterangan paman tani tadi betul. Ayu Candra kelihatan sehat, hanya pada wajahnya terbayang sinar kedukaan yang membuat sinar mata yang biasanya bening berseri-seri itu kini suram, senyumnya yang biasa selalu menghias bibir menambah cerah sinar matahari kini lenyap. Namun dalam kedukaan, bekas kekasihnya itu masih cantik jelita, masih menarik dan masih membuat jantung Joko Wandiro berdegupan keras. Dia adik saya, ia menekan jantungnya, dia adik saya, adik sekandung, adik seibu! Sambil menekankan kenyataan ini di hatinya, Joko Wandiro memandang Ki Jatoko dan ia merasa heran melihat betapa Ki Jatoko kini tidak kelihatan sebagai orang buntung yang lemah. Bahkan hebatnya, kakek buntung itu yang duduk di atas tanah kini menghadapi beberapa ekor ular yang berkelojotan di depannya sambil tertawa-tawa!
"Paman Jatoko, di sepanjang jalan kau membunuhi ular-ular berbisa dan mengambil racunnya untuk meracuni jarum-jarum itu, apakah masih kurang cukup?" Ayu Candra bertanya sambil duduk menjauh, agaknya jijik melihat banyak ular menggehat-geliat dan berkelojotan itu.
"Heh-heh-heh-heh, Ayu Candra cah ayu, cah denok! Kaulihat saja, kalau jarum-jarum ini sudah jadi betul, kemudian kau kuberi pelajaran mempergunakan jarum ini, kau akan memiliki kepandaian seratus kali sambit seratus kali kena! Nah, dengan jarum-jarum inilah kau kiranya. baru akan dapat menghadapi Pujo dan kedua orang isterinya yang sakti. Heh-heh-heh!"
"Paman, bukankah kabarnya menurut penduduk pantai dekat Bayuwismo, Pujo sudah meninggal dunia?"
"Ah-hah, omongan orang desa sebodoh itu tak perlu kaupercaya, cah manis! Mereka tahu Apa? Pujo orangnya belum tua benar dan sakti. Agaknya ia sudah tahu bahwa kau hendak mencarinya dan membalas dendam, maka ia lalu lari menyembunyikan diri bersama kedua isterinya, dan berpura-pura mati. Akan tetapi jangan kau khawatir, sekali kita bertemu dengannya, kau pasti akan mampu membalas dendam. Aku tanggung! Kalau tidak, jangan panggil aku Ki Jatoko lagi, heh-heh!"
Tiba-tiba tubuh orang buntung itu berkelebat ke kiri, cepat sekali gerakannya, tahu-tahu tubuh yang buntung itu telah menubruk dan menyusup ke dalam semak-semak, lalu muncul dan mencelat lagi ke tempat tadi, tangan kirinya telah menjepit seekor ular bandot yang amat berbisa! Leher ular itu terjepit di antara ibu jari dan telunjuknya, kemudian sekali jari-jari tangan kanan mengurut tubuh ular itu dari leher ke ekornya, ular itu sudah berkelojotan tak mampu lari lagi, lalu dilemparkan ke bawah, ke sekumpulan ular-ular tadi.

<<< Bagian 128                                                                                     Bagian 130 >>>

No comments:

Post a Comment