"Heh-heh, bandot hijau, amat berbisa. Bisanya banyak dan amat ampuh!" kata Ki Jatoko.
Ayu Candra
agaknya sudah sering melihat cara kakek buntung itu menangkap ular, maka ia
tidak merasa heran lagi. Gadis ini sudah cukup maklum bahwa orang buntung itu
sesungguhnya memiliki kesaktian yang hebat sekali. Akan tetapi Joko Wandiro
yang tidak menduga sama sekali, menjadi kaget setengah mati, Dapat bergerak
secepat itu, si buntung ini memiliki kepandaian yang tidak kalah oleh pendekar-pendekar
kebanyakan yang masih lengkap anggota badannya! Caranya bergerak melompat tadi
amat cepat, juga cara menangkap ular benar-benar mengagumkan. Seorang lawan
berat!
"Sudah
yakin benarkah kau bahwa musuh kita adalah Pujo dan dua orang isterinya,
paman?"
"Kau
masih ragu-ragu kepadaku, Ayu? Ah, masih tidak percaya setelah aku membelamu,
bersusah-payah mengajakmu mencari musuh besarmu? Ayu, aku bersumpah bahwa aku
tidak akan membohongimu. Aku orang Selopenangkep, kau sudah kuceritakan tentang
ini. Aku tahu ketika Pujo menculik ibumu Listyokumolo dan anaknya yang masih
kecil. Aku tahu betapa ibumu lalu menjadi gila karena perbuatan biadab si Pujo!
Kemudian untung tertolong oleh Ki Adibroto, menjadi suami isteri dan mempunyai
anak engkau."
Sambil bicara,
Ki Jatoko menangkap seekor ular, mengurut tubuh ular itu sehingga racunnya
keluar dari mulut yang dijungkirkan. Racun kehijauan yang menetes-netes itu
jatuh ke dalam sebuah batok kelapa di mana terdapat puluhan batang jarum yang
sudah hijau menghitam warnanya. Setelah racunnya habis, ia membuang tubuh ular
itu ke samping dan ternyata binatang itu telah mati. Ia menangkap ular ke dua
dan memperlakukannya seperti tadi, kemudian ke tiga dan ke empat, demikian
seterusnya.
"Kenapa
kau mengajakku ke Kerajaan Jenggala, paman? Bukankah lebih baik kita berdua
saja terus mencari si penjahat Pujo?"
Perih hati
Joko Wandiro mendengar adiknya menyebut Pujo "penjahat" itu. Ah,
adikku yang terkasih, engkau tidak tahu keadaan sebenarnya. Engkau terlalu
mabok oleh racun hasutan si buntung yang mencurigakan sekali ini! Demikian dia
mengeluh dan merasa marah sekali kepada Ki Jatoko. Akan tetapi mendengar
pertanyaan yang diajukan Ayu Candra, ia terkejut dan mendengarkan terus.
"Ayu
Candra, cah manis. Engkau percaya sajalah kepadaku. Sudah kukatakan
berkali-kali kepadamu, aku seorang yang hidup sebatangkara, setelah bertemu
denganmu, aku tahu bahwa sisa hidupku ini kuperuntukkan dirimu seorang. Asal
kelak engkau dapat mengasihi seorang buntung seperti aku, ahhh....... rela aku
berkurban Apa saja untukmu, manis. Ketahuilah, untuk mencari Pujo tidak mudah
setelah kini kita tidak tahu ke mana ia menyembunyikan diri. Akan tetapi di
Jenggala aku mempunyai banyak sekali kawan-kawan yang sakti. Bahkan sang prabu
di Jenggala tentu akan suka membantuku. Dengan bantuan orang-orang sakti dan
pasukan, Apa susahnya mencari Pujo? Nah, kalau sudah bertemu, bukankah kita
mendapat bantuan orang-orang pandai dan engkau akan dapat melampiaskan
dendammu, manis?"
Pucat wajah
Joko Wandiro mendengar ini. pucat saking marahnya. Tidak hanya karena kenyataan
bahwa manusia buntung ini bersekutu dengan orang-orang sakti yang membantu
Jenggala seperti Dibyo Mamangkoro dan yang lain-lain, juga karena sikap dan
kata-kata si buntung ini jelas sekali mengandung niat yang tidak wajar. Agaknya
si buntung itu diam-diam gandrung dan tergila-gila kepada Ayu Candra,
memperlihatkan sikap seperti terhadap kekasihnya. Hanya karena Ayu Candra
seorang gadis jujur dan polos, berwatak bersih dan masih bodoh, maka sikap
mesra itu dianggapnya sikap ramah dan baik dari seorang paman terhadap
keponakan!
Tiba-tiba
tubuh si buntung berkelebat lagi menubruk dan menyusup ke dalam semak-semak
seperti tadi dan ketika melompat keluar lagi tangannya sudah menjepit seekor
ular yang kulitnya hijau keputihan. Akan tetapi pada saat itu, Joko Wandiro
juga sudah melompat keluar menghampiri Ayu Candra.
"Ayu
Candra.........!"
"Joko...........
eh, kakang....... engkau....... ??"
Ayu Candra
melompat bangun. Sejenak wajahnya berseri, matanya yang sayu dan wajahnya yang
muram itu berseri, bibirnya terbuka mengarah senyum, kedua tangannya diulur ke
depan. Joko Wandiro terharu dan melangkah maju hendak memeluk, akan tetapi
tiba-tiba dari belakangnya terdengar Ki Jatoko menghardik,
"Mundur
engkau! Engkau bernama Joko Wandiro, bukan? Engkau murid terkasih si keparat
Pujo, bukan? Engkau ini anak durhaka, anak tidak berbakti! Ibu kandungmu dahulu
diculik Pujo, diperkosa, dirusak kehormatannya sampai menjadi gila! Engkau
sendiri diculik, akan tetapi karena diperlakukan sebagai murid, engkau lalu
lupa akan ibu kandungmu sendiri! Engkau tahu ibumu dibunuh Pujo, akan tetapi
engkau melarang Ayu Candra hendak menuntut balas. Cih, laki-laki macam engkau
ini mana pantas menjadi kakak Ayu Candra?"
Hebat sekali
ucapan ini. Joko Wandiro merasa seakan-akan mukanya ditampar. Ia mengurungkan
niatnva memeluk Ayu Candra, lalu perlahan-lahan membalikkan tubuhnya menghadapi
si buntung yang duduk di atas tanah memegangi ularnya yang baru saja
ditangkapnya tadi. Muka Joko Wandiro sebentar merah sebentar pucat karena
perasaannya yang menggelora. Ucapan itu selain kasar dan keras, juga beracun
sekali, lebih beracun daripada bisa yang terkumpul di dalam batok. Sekiranya
Joko Wandiro belum bertemu dengan Kartikosari dan Roro Luhito, mungkin ia akan
terpengaruh oleh kata-kata ini dan akan menjadi ragu-ragu dan malu kepada diri
sendiri yang dikatakan tidak berbakti kepada ibu kandungnya! Akan tetapi, ia
telah tahu akan duduknya perkara, maka ia menjadi marah bukan main kepada orang
buntung ini.
"Paman,
engkau seorang tua lagi buntung kedua kakimu. Jagalah mulutmu agar jangan
sampai aku seorang muda berlaku kurang ajar kepadamu!" bentak Joko Wandiro
menahan kemarahannya.
"Heh-heh-heh,
coba sangkal kata-kataku kalau mampu. Ayu Candra, jangan engkau terlalu percaya
kepada kakak tirimu ini. Dia sudah diracuni si keparat Pujo, seperti juga
bibinya. Ya, aku belum menceritakan kepadamu, Ayu, bahwa adik ayah bocah ini,
yang bernama Roro Luhito, ketika di Selopenangkep dahulu juga menjadi korban kebiadaban
Pujo, dicemarkan kehormatannya. Kemudian Roro Luhito yang hendak membalas
dendam, dikalahkan oleh Pujo, malah dipaksa menjadi bini mudanya sekali! Nah,
karena kini Pujo selain menjadi guru dan menjadi pemeliharanya sejak kecil juga
menjadi suami bibinya, tentu saja ia tidak akan membiarkan engkau membalas
dendam....."
"Tutup
mulutmu yang busuk......!"
Joko Wandiro
kini tak dapat lagi menahan kemarahannya. Ia tidak sudi bertengkar mulut dengan
orang buntung yang ternyata amat pandai bicara dan pandai membakar hati ini.
Paling baik memberinya hajaran lalu mengajak Ayu Candra cepat-cepat pergi dari
situ, pikirnya. Dengan sebuah loncatan kilat Joko Wandiro menerkam maju. Akan
tetapi pemuda ini terkejut dan cepat mengelak ke belakang ketika tiba-tiba ada
suara mendesis dan kepala ular hijau telah menyambar ke arah lehernya. Kiranya
ular itu kini telah dipegang perutnya oleh Ki Jatoko yang mempergunakan ular
itu sebagai senjata hidup, diobat-abitkan sehingga kepala ular itu merupakan
ujung senjata yang mendesis-desis marah dan siap menggigit! Ular hijau ini baru
saja ditangkap oleh Ki Jatoko, masih liar dan belum diambil racunnya, maka amat
berbahaya. Kini Ki Jatoko sudah meloncat berdiri dan menerjang dengan senjata
ular itu dengan serangan-serangan dahsyat. Diam-diam Joko Wandiro terkejut.
Benar-benar hebat gerakan orang buntung ini sehingga ia menjadi heran sekali.
Apalagi semua serangan si buntung itu didasari ilmu meringankan tubuh yang
mirip dengan Aji Bayu Sakti! Agaknya memang Aji Bayu Sakti, hanya menjadi agak
berbeda karena dilakukan dengan kedua kaki buntung! Dan ular yang hidup itu
digerakkan seperti orang menggerakkan sebatang tongkat atau sebatang tombak
saja, bukan main cepatnya dan kepala ular itu saking cepatnya digerakkan,
seakan-akan berubah menjadi belasan buah banyaknya.
Di lain fihak
Ki Jatoko juga terkejut dan kagum. Orang muda ini ternyata memiliki gerakan
yang amat gesit, tidak kalah oleh gerak cepatnya sendiri. Hampir ia tidak
percaya kalau tidak menyaksikan sendiri. Ia kini menambah serangan dengan
pukulan-pukulan tangan kirinya yang disertai Aji Siyung Warak, yang
keampuhannya tidak kalah oleh gigitan ular berbisa di tangan kanannya. Namun
Joko Wandiro yang maklum bahwa tangan kiri yang mengeluarkan angin dingin itu
tentu ampuh, dapat menghindar dengan amat mudah. Ketika untuk kesekian kalinya
tangan kiri Ki Jatoko menampar, Joko Wandiro mengangkat tangan kanan menangkis
dan mengerahkan hawa sakti dari dalam pusar disalurkan ke tangan, mencipta
gerakan "menempel" sehingga ketika lengan kiri Ki Jatoko bertemu
lengan kanannya, si buntung itu merasa lengannya tergetar dan tak dapat
terlepas dari lengan lawan! Ia terkejut, memukulkan ular ke arah leher Joko
Wandiro. Pemuda ini mengeluarkan seruan keras, jari tangan kirinya
mempergunakan Aji Pethit Nogo menyampok ke arah kepala ular dan
"krakkk!" kepala ular itu hancur berantakan!. Ki Jatoko terkejut dan
melompat ke belakang. Tangan kirinya terasa linu dan kejang-kejang. Ia makin
terheran-heran. Pemuda ini sama sekali belum membalas dengan serangan, baru
mengelak, menangkis dan membunuh ular, namun sudah jelas bahwa dia terdesak dan
terjepit. Dalam beberapa gebrakan saja telah terbukti bahwa dia kalah!. Ki
Jatoko dahulu adalah Jokowanengpati yang gemblengan. Dahulu, biarpun kedua
kakinya belum buntung, kepandaiannya tidak sematang sekarang. Dahulupun sudah
jarang sekali ada orang pandai yang dapat mengalahkannya, apalagi hanya seorang
pemuda hijau macam ini! Betapa mungkin pemuda itu dapat mengalahkannya hanya
dengan tangan kosong dan tanpa balas menyerang? Ia menjadi penasaran dan marah
sekali. Sepasang matanya menjadi merah, mulutnya menyeringai lebar dan ia sudah
mencabut sebatang keris yang selama ini selalu tersembunyi di balik bajunya!
Melihat kemarahan orang, Joko Wandiro menjadi sabar dan tenang kembali.
"Paman
Jatoko, mengingat bahwa selama ini, tak perduli apakah maksud keji yang
tersembunyi di dalam pikiranmu, ternyata engkau tidak mengganggu adikku Ayu
Candra dan dia dalam keadaan sehat selamat, biarlah kita sudahi pertandingan
ini dan kita mengambil jalan masing-masing. Aku akan mengajak adikku pergi dan
di antara kita tidak perlu ada urusan dan sangkut-paut lagi."
Andaikata Joko
Wandiro mengajukan alasan lain, tentu saja Ki Jatoko juga akan menerima karena
dia bukanlah seorang bodoh. Tidak, jauh daripada itu. Ki Jatoko adalah seorang
yang cerdik luar biasa, penuh akal bulus dan tipu muslihat. Ia bukan seorang
yang nekat yang merasa malu untuk mundur jika keadaan tidak menguntungkan. Ia
tahu bahwa pemuda ini benar-benar amat sakti, bahwa belum tentu ia dapat
menandinginya. Akan tetapi, alasan yang diajukan Joko Wandiro untuk mengakhiri
pertandingan adalah untuk membawa pergi Ayu Candra! Hal ini sama artinya dengan
membawa pergi semangat atau nyawanya! Sampai mati ia tidak akan mau berpisah
lagi dari Ayu Candra, perawan jelita yang dicintanya sepenuh jiwa raga! Tidak,
lebih baik mati daripada harus berpisah dari Ayu Candra,
"Kau
bocah kemarin sore tak perlu membujuk seorang seperti aku! Joko Wandiro, aku
kasihan melihat Ayu Candra. Ayah bundanya terbunuh orang dan aku tahu siapa
pembunuhnya. Kalau engkau seorang laki-laki yang tidak mau menjadi orang
durhaka, lebih baik kau mengikuti aku pula dan mari kita bertiga mencari musuh
kita. Kalau tidak, kau pergilah, tapi jangan kau ajak pergi Ayu Candra. Aku
telah bersumpah akan mengantarkannya sampai bertemu dengan musuh besarnya dan
biarpun engkau ini putera kandung Listyokumolo, namun belum tentu kau suka
memusuhi Pujo yang menjadi guru dan pamanmu."
Joko Wandiro
tidak memperdulikannya lagi, membalikkan tubuhnya menghadapi Ayu Candra. Gadis
ini sudah berdiri di balik batang pohon dan wajahnya pucat. Agaknya ia merasa
ngeri menyaksikan pertempuran tadi, sungguhpun ia sendiri bukan seorang wanita
lemah.
"Ayu,
adikku, tidak perlu kita melayani orang buntung ini. Marilah ikut aku, Ayu, dan
nanti kau kuberi penjelasan, akan kuceritakan semua kepadamu...."
"Awas..........
Joko.........!!" Ayu Candra menjerit.
Biarpun
andaikata tidak diperingatkan Ayu Candra, Joko Wandiro juga tidak akan mudah
diserang dari belakang secara menggelap begitu saja. Selain panca indranya yang
sudah tajam melebihi manusia biasa, juga ada semacam indra ke enam yang membuat
ia seakan-akan mempunyai mata pada belakang kepala nya!
"Wuuuttt.......!!"
Sinar hitam
keris di tangan Ki Jatoko menusuk angin ketika tubuh Joko Wandiro yang
diserangnya tiba-tiba berkelebat dan meloncat melewati kepalanya! Ki Jatoko
membalikkan tubuh dan kembali menubruk sambil menusukkan kerisnya disusul
hantaman tangan kiri. Cepat dan bertubi datangnya serangan ini, dan pada saat
itu tubuh Joko Wandiro baru saja melayang turun. Namun Joko Wandiro dapat
sekaligus menangkis tusukan dan pukulan. Kembali empat lengan bertemu dan Ki
Jatoko terhuyung-huyung ke belakang sampai lima langkah.
No comments:
Post a Comment