Badai Laut Selatan ; Bagian 130


"Heh-heh, bandot hijau, amat berbisa. Bisanya banyak dan amat ampuh!" kata Ki Jatoko.

Ayu Candra agaknya sudah sering melihat cara kakek buntung itu menangkap ular, maka ia tidak merasa heran lagi. Gadis ini sudah cukup maklum bahwa orang buntung itu sesungguhnya memiliki kesaktian yang hebat sekali. Akan tetapi Joko Wandiro yang tidak menduga sama sekali, menjadi kaget setengah mati, Dapat bergerak secepat itu, si buntung ini memiliki kepandaian yang tidak kalah oleh pendekar-pendekar kebanyakan yang masih lengkap anggota badannya! Caranya bergerak melompat tadi amat cepat, juga cara menangkap ular benar-benar mengagumkan. Seorang lawan berat!
"Sudah yakin benarkah kau bahwa musuh kita adalah Pujo dan dua orang isterinya, paman?"
"Kau masih ragu-ragu kepadaku, Ayu? Ah, masih tidak percaya setelah aku membelamu, bersusah-payah mengajakmu mencari musuh besarmu? Ayu, aku bersumpah bahwa aku tidak akan membohongimu. Aku orang Selopenangkep, kau sudah kuceritakan tentang ini. Aku tahu ketika Pujo menculik ibumu Listyokumolo dan anaknya yang masih kecil. Aku tahu betapa ibumu lalu menjadi gila karena perbuatan biadab si Pujo! Kemudian untung tertolong oleh Ki Adibroto, menjadi suami isteri dan mempunyai anak engkau."
Sambil bicara, Ki Jatoko menangkap seekor ular, mengurut tubuh ular itu sehingga racunnya keluar dari mulut yang dijungkirkan. Racun kehijauan yang menetes-netes itu jatuh ke dalam sebuah batok kelapa di mana terdapat puluhan batang jarum yang sudah hijau menghitam warnanya. Setelah racunnya habis, ia membuang tubuh ular itu ke samping dan ternyata binatang itu telah mati. Ia menangkap ular ke dua dan memperlakukannya seperti tadi, kemudian ke tiga dan ke empat, demikian seterusnya.
"Kenapa kau mengajakku ke Kerajaan Jenggala, paman? Bukankah lebih baik kita berdua saja terus mencari si penjahat Pujo?"
Perih hati Joko Wandiro mendengar adiknya menyebut Pujo "penjahat" itu. Ah, adikku yang terkasih, engkau tidak tahu keadaan sebenarnya. Engkau terlalu mabok oleh racun hasutan si buntung yang mencurigakan sekali ini! Demikian dia mengeluh dan merasa marah sekali kepada Ki Jatoko. Akan tetapi mendengar pertanyaan yang diajukan Ayu Candra, ia terkejut dan mendengarkan terus.
"Ayu Candra, cah manis. Engkau percaya sajalah kepadaku. Sudah kukatakan berkali-kali kepadamu, aku seorang yang hidup sebatangkara, setelah bertemu denganmu, aku tahu bahwa sisa hidupku ini kuperuntukkan dirimu seorang. Asal kelak engkau dapat mengasihi seorang buntung seperti aku, ahhh....... rela aku berkurban Apa saja untukmu, manis. Ketahuilah, untuk mencari Pujo tidak mudah setelah kini kita tidak tahu ke mana ia menyembunyikan diri. Akan tetapi di Jenggala aku mempunyai banyak sekali kawan-kawan yang sakti. Bahkan sang prabu di Jenggala tentu akan suka membantuku. Dengan bantuan orang-orang sakti dan pasukan, Apa susahnya mencari Pujo? Nah, kalau sudah bertemu, bukankah kita mendapat bantuan orang-orang pandai dan engkau akan dapat melampiaskan dendammu, manis?"

Pucat wajah Joko Wandiro mendengar ini. pucat saking marahnya. Tidak hanya karena kenyataan bahwa manusia buntung ini bersekutu dengan orang-orang sakti yang membantu Jenggala seperti Dibyo Mamangkoro dan yang lain-lain, juga karena sikap dan kata-kata si buntung ini jelas sekali mengandung niat yang tidak wajar. Agaknya si buntung itu diam-diam gandrung dan tergila-gila kepada Ayu Candra, memperlihatkan sikap seperti terhadap kekasihnya. Hanya karena Ayu Candra seorang gadis jujur dan polos, berwatak bersih dan masih bodoh, maka sikap mesra itu dianggapnya sikap ramah dan baik dari seorang paman terhadap keponakan!
Tiba-tiba tubuh si buntung berkelebat lagi menubruk dan menyusup ke dalam semak-semak seperti tadi dan ketika melompat keluar lagi tangannya sudah menjepit seekor ular yang kulitnya hijau keputihan. Akan tetapi pada saat itu, Joko Wandiro juga sudah melompat keluar menghampiri Ayu Candra.
"Ayu Candra.........!"
"Joko........... eh, kakang....... engkau....... ??"
Ayu Candra melompat bangun. Sejenak wajahnya berseri, matanya yang sayu dan wajahnya yang muram itu berseri, bibirnya terbuka mengarah senyum, kedua tangannya diulur ke depan. Joko Wandiro terharu dan melangkah maju hendak memeluk, akan tetapi tiba-tiba dari belakangnya terdengar Ki Jatoko menghardik,
"Mundur engkau! Engkau bernama Joko Wandiro, bukan? Engkau murid terkasih si keparat Pujo, bukan? Engkau ini anak durhaka, anak tidak berbakti! Ibu kandungmu dahulu diculik Pujo, diperkosa, dirusak kehormatannya sampai menjadi gila! Engkau sendiri diculik, akan tetapi karena diperlakukan sebagai murid, engkau lalu lupa akan ibu kandungmu sendiri! Engkau tahu ibumu dibunuh Pujo, akan tetapi engkau melarang Ayu Candra hendak menuntut balas. Cih, laki-laki macam engkau ini mana pantas menjadi kakak Ayu Candra?"

Hebat sekali ucapan ini. Joko Wandiro merasa seakan-akan mukanya ditampar. Ia mengurungkan niatnva memeluk Ayu Candra, lalu perlahan-lahan membalikkan tubuhnya menghadapi si buntung yang duduk di atas tanah memegangi ularnya yang baru saja ditangkapnya tadi. Muka Joko Wandiro sebentar merah sebentar pucat karena perasaannya yang menggelora. Ucapan itu selain kasar dan keras, juga beracun sekali, lebih beracun daripada bisa yang terkumpul di dalam batok. Sekiranya Joko Wandiro belum bertemu dengan Kartikosari dan Roro Luhito, mungkin ia akan terpengaruh oleh kata-kata ini dan akan menjadi ragu-ragu dan malu kepada diri sendiri yang dikatakan tidak berbakti kepada ibu kandungnya! Akan tetapi, ia telah tahu akan duduknya perkara, maka ia menjadi marah bukan main kepada orang buntung ini.
"Paman, engkau seorang tua lagi buntung kedua kakimu. Jagalah mulutmu agar jangan sampai aku seorang muda berlaku kurang ajar kepadamu!" bentak Joko Wandiro menahan kemarahannya.
"Heh-heh-heh, coba sangkal kata-kataku kalau mampu. Ayu Candra, jangan engkau terlalu percaya kepada kakak tirimu ini. Dia sudah diracuni si keparat Pujo, seperti juga bibinya. Ya, aku belum menceritakan kepadamu, Ayu, bahwa adik ayah bocah ini, yang bernama Roro Luhito, ketika di Selopenangkep dahulu juga menjadi korban kebiadaban Pujo, dicemarkan kehormatannya. Kemudian Roro Luhito yang hendak membalas dendam, dikalahkan oleh Pujo, malah dipaksa menjadi bini mudanya sekali! Nah, karena kini Pujo selain menjadi guru dan menjadi pemeliharanya sejak kecil juga menjadi suami bibinya, tentu saja ia tidak akan membiarkan engkau membalas dendam....."
"Tutup mulutmu yang busuk......!"

Joko Wandiro kini tak dapat lagi menahan kemarahannya. Ia tidak sudi bertengkar mulut dengan orang buntung yang ternyata amat pandai bicara dan pandai membakar hati ini. Paling baik memberinya hajaran lalu mengajak Ayu Candra cepat-cepat pergi dari situ, pikirnya. Dengan sebuah loncatan kilat Joko Wandiro menerkam maju. Akan tetapi pemuda ini terkejut dan cepat mengelak ke belakang ketika tiba-tiba ada suara mendesis dan kepala ular hijau telah menyambar ke arah lehernya. Kiranya ular itu kini telah dipegang perutnya oleh Ki Jatoko yang mempergunakan ular itu sebagai senjata hidup, diobat-abitkan sehingga kepala ular itu merupakan ujung senjata yang mendesis-desis marah dan siap menggigit! Ular hijau ini baru saja ditangkap oleh Ki Jatoko, masih liar dan belum diambil racunnya, maka amat berbahaya. Kini Ki Jatoko sudah meloncat berdiri dan menerjang dengan senjata ular itu dengan serangan-serangan dahsyat. Diam-diam Joko Wandiro terkejut. Benar-benar hebat gerakan orang buntung ini sehingga ia menjadi heran sekali. Apalagi semua serangan si buntung itu didasari ilmu meringankan tubuh yang mirip dengan Aji Bayu Sakti! Agaknya memang Aji Bayu Sakti, hanya menjadi agak berbeda karena dilakukan dengan kedua kaki buntung! Dan ular yang hidup itu digerakkan seperti orang menggerakkan sebatang tongkat atau sebatang tombak saja, bukan main cepatnya dan kepala ular itu saking cepatnya digerakkan, seakan-akan berubah menjadi belasan buah banyaknya.

Di lain fihak Ki Jatoko juga terkejut dan kagum. Orang muda ini ternyata memiliki gerakan yang amat gesit, tidak kalah oleh gerak cepatnya sendiri. Hampir ia tidak percaya kalau tidak menyaksikan sendiri. Ia kini menambah serangan dengan pukulan-pukulan tangan kirinya yang disertai Aji Siyung Warak, yang keampuhannya tidak kalah oleh gigitan ular berbisa di tangan kanannya. Namun Joko Wandiro yang maklum bahwa tangan kiri yang mengeluarkan angin dingin itu tentu ampuh, dapat menghindar dengan amat mudah. Ketika untuk kesekian kalinya tangan kiri Ki Jatoko menampar, Joko Wandiro mengangkat tangan kanan menangkis dan mengerahkan hawa sakti dari dalam pusar disalurkan ke tangan, mencipta gerakan "menempel" sehingga ketika lengan kiri Ki Jatoko bertemu lengan kanannya, si buntung itu merasa lengannya tergetar dan tak dapat terlepas dari lengan lawan! Ia terkejut, memukulkan ular ke arah leher Joko Wandiro. Pemuda ini mengeluarkan seruan keras, jari tangan kirinya mempergunakan Aji Pethit Nogo menyampok ke arah kepala ular dan "krakkk!" kepala ular itu hancur berantakan!. Ki Jatoko terkejut dan melompat ke belakang. Tangan kirinya terasa linu dan kejang-kejang. Ia makin terheran-heran. Pemuda ini sama sekali belum membalas dengan serangan, baru mengelak, menangkis dan membunuh ular, namun sudah jelas bahwa dia terdesak dan terjepit. Dalam beberapa gebrakan saja telah terbukti bahwa dia kalah!. Ki Jatoko dahulu adalah Jokowanengpati yang gemblengan. Dahulu, biarpun kedua kakinya belum buntung, kepandaiannya tidak sematang sekarang. Dahulupun sudah jarang sekali ada orang pandai yang dapat mengalahkannya, apalagi hanya seorang pemuda hijau macam ini! Betapa mungkin pemuda itu dapat mengalahkannya hanya dengan tangan kosong dan tanpa balas menyerang? Ia menjadi penasaran dan marah sekali. Sepasang matanya menjadi merah, mulutnya menyeringai lebar dan ia sudah mencabut sebatang keris yang selama ini selalu tersembunyi di balik bajunya! Melihat kemarahan orang, Joko Wandiro menjadi sabar dan tenang kembali.
"Paman Jatoko, mengingat bahwa selama ini, tak perduli apakah maksud keji yang tersembunyi di dalam pikiranmu, ternyata engkau tidak mengganggu adikku Ayu Candra dan dia dalam keadaan sehat selamat, biarlah kita sudahi pertandingan ini dan kita mengambil jalan masing-masing. Aku akan mengajak adikku pergi dan di antara kita tidak perlu ada urusan dan sangkut-paut lagi."

Andaikata Joko Wandiro mengajukan alasan lain, tentu saja Ki Jatoko juga akan menerima karena dia bukanlah seorang bodoh. Tidak, jauh daripada itu. Ki Jatoko adalah seorang yang cerdik luar biasa, penuh akal bulus dan tipu muslihat. Ia bukan seorang yang nekat yang merasa malu untuk mundur jika keadaan tidak menguntungkan. Ia tahu bahwa pemuda ini benar-benar amat sakti, bahwa belum tentu ia dapat menandinginya. Akan tetapi, alasan yang diajukan Joko Wandiro untuk mengakhiri pertandingan adalah untuk membawa pergi Ayu Candra! Hal ini sama artinya dengan membawa pergi semangat atau nyawanya! Sampai mati ia tidak akan mau berpisah lagi dari Ayu Candra, perawan jelita yang dicintanya sepenuh jiwa raga! Tidak, lebih baik mati daripada harus berpisah dari Ayu Candra,
"Kau bocah kemarin sore tak perlu membujuk seorang seperti aku! Joko Wandiro, aku kasihan melihat Ayu Candra. Ayah bundanya terbunuh orang dan aku tahu siapa pembunuhnya. Kalau engkau seorang laki-laki yang tidak mau menjadi orang durhaka, lebih baik kau mengikuti aku pula dan mari kita bertiga mencari musuh kita. Kalau tidak, kau pergilah, tapi jangan kau ajak pergi Ayu Candra. Aku telah bersumpah akan mengantarkannya sampai bertemu dengan musuh besarnya dan biarpun engkau ini putera kandung Listyokumolo, namun belum tentu kau suka memusuhi Pujo yang menjadi guru dan pamanmu."
Joko Wandiro tidak memperdulikannya lagi, membalikkan tubuhnya menghadapi Ayu Candra. Gadis ini sudah berdiri di balik batang pohon dan wajahnya pucat. Agaknya ia merasa ngeri menyaksikan pertempuran tadi, sungguhpun ia sendiri bukan seorang wanita lemah.

"Ayu, adikku, tidak perlu kita melayani orang buntung ini. Marilah ikut aku, Ayu, dan nanti kau kuberi penjelasan, akan kuceritakan semua kepadamu...."
"Awas.......... Joko.........!!" Ayu Candra menjerit.
Biarpun andaikata tidak diperingatkan Ayu Candra, Joko Wandiro juga tidak akan mudah diserang dari belakang secara menggelap begitu saja. Selain panca indranya yang sudah tajam melebihi manusia biasa, juga ada semacam indra ke enam yang membuat ia seakan-akan mempunyai mata pada belakang kepala nya!
"Wuuuttt.......!!"
Sinar hitam keris di tangan Ki Jatoko menusuk angin ketika tubuh Joko Wandiro yang diserangnya tiba-tiba berkelebat dan meloncat melewati kepalanya! Ki Jatoko membalikkan tubuh dan kembali menubruk sambil menusukkan kerisnya disusul hantaman tangan kiri. Cepat dan bertubi datangnya serangan ini, dan pada saat itu tubuh Joko Wandiro baru saja melayang turun. Namun Joko Wandiro dapat sekaligus menangkis tusukan dan pukulan. Kembali empat lengan bertemu dan Ki Jatoko terhuyung-huyung ke belakang sampai lima langkah.

<<< Bagian 129                                                                                      Bagian 131 >>>

No comments:

Post a Comment