Badai Laut Selatan ; Bagian 131


Diam-diam Joko Wandiro merasa kasihan dan malu. Lawannya seorang buntung sehingga melangkahpun terhuyung-huyung!.
Akan tetapi tiba-tiba ia terkejut karena tubuh itu sudah melayang dan menyerangnya seperti seekor burung garuda menyambar. Hemm, ia mencela kebodohannya sendiri. Biarpun buntung, orang ini sama sekali tidak perlu dikasihani karena ketangkasan dan kedigdayaannya melebihi jagoan-jagoan yang sudah pilih tanding. Ki Jatoko ini seorang yang sakti mandraguna, sama sekali tidak boleh dipandang rendah. Seperti juga tadi, Joko Wandiro melayani lawannya dengan kedua tangan kosong saja, mengandalkan kegesitan tubuhnya dan kekuatan hawa sakti tubuhnya untuk mengelak atau menangkis. Seperti tadi pula, ia belum mau membalas dan diam-diam memperhatikan gerakan-gerakan lawan. Diam-diam harus ia akui bahwa gerakan Ki Jatoko ini merupakan ilmu-ilmu yang tinggi dan bersih, bahkan hampir sama sumbernya dengan ilmu-ilmu milik Resi Bhargowo. Biarpun dahsyat dan dilakukan dengan beringas saking penasaran dan marah, namun ilmu tata kelahi orang buntung ini merupakan ilmu yang indah dan amat kuat. Kecepatan gerakannya tak dapat disangkal lagi tentulah Bayu Tantra atau Bayu Sakti, atau setidaknya tentu bersumber dari ilmu gerak cepat keduanya itu. Makin ragu-ragulah ia untuk merobohkan Orang ini. Apakah orang buntung ini pernah belajar ilmu kepada Resi Bhargowo? Ataukah pernah menerima gemblengan Empu Barodo? Mereka berdua itu adalah pendeta-pendeta sakti yang bijaksana dan berbudi, tentu menaruh kasihan kepada seorang buntung dan tidaklah aneh kalau memberi sebuah dua buah ilmu.
"Tahan........!" Tiba-tiba Joko Wandiro berseru seraya melompat mundur dari gelanggang pertempuran.
"Paman Jatoko, aku seperti mengenal gerakan-gerakanmu........! Bukankah engkau pernah belajar ilmu kepada eyang Empu Bharodo atau eyang Resi Bhargowo.......?"

Ki Jatoko terkejut. Semenjak ia menjadi buntung dan rusak mukanya dan berganti nama Ki Jatoko, ia sudah mengubur nama Jokowanengpati dan agar jangan sampai ada orang mengenalnya, ia pun memperdalam ilmunya dan sedapat mungkin merubah gerakan ilmu silatnya agar berubah daripada aselinya dan tidak akan dikenal orang. Namun, betapa pandainya, tentu saja tidak mungkin ia melenyapkan sama sekali gerakan dasar yang menjadi inti aji kesaktian yang telah ia pelajari. Kini setelah bertanding, pemuda ini dapat mengenal ilmu-ilmunya. Hal ini menandakan bahwa pemuda ini sudah mahir betul akan ilmu-ilmu itu. Akan tetapi karena maklum bahwa sekali orang tahu akan rahasianya maka keselamatan hidupnya akan selalu terancam, ia menghardik,
"Bocah dusun, engkau melantur tentang Apa? Kalau takut, pergilah, kalau berani, terima ini!" Ia melompat maju, menerkam dengan ganas sambil mengayun kerisnya.
"Manusia tak tahu diri!" Joko Wandiro berkata perlahan, tidak mengelak dari tempatnya, melainkan menyambut serangan itu keras sama keras Kedua tangannya bergerak merampas keris sambil mendorong.
"Desss............ weerrrr.........!”
Ki Jatoko berteriak kaget, kerisnya terlempar dan tubuhnya juga melayang ke belakang lalu terbanting ke atas tanah. Sejenak orang buntung ini bengong terlongong. Ia mengenal gerakan Pethit Nogo yang membuat kerisnya terlempar tadi karena tenaga yang terkandung di jari-jari tangan itu hebatnya luar biasa sekali, akan tetapi ia tidak tahu dorongan macam apa tadi yang membuat tubuhnya terlempar seperti daun kering tertiup angin!
Joko Wandiro yang tidak mempunyai niat mencelakai. Ki Jatoko, tidak menyerang lebih lanjut. Ia membalikkan tubuhnya hendak menghampiri Ayu Candra. Alangkah kagetnya ketika melihat bahwa Ayu Candra tidak berada di tempat yang tadi pula, tidak tampak bayangannya lagi.
"Ayu! Ke mana engkau pergi....?"
Joko Wandiro berteriak memanggil lalu mencari di sekeliling tempat itu. Namun sia-sia. Ayu Candra seperti hilang ditelan bumi, tak meninggalkan bekas. Joko Wandiro menjadi gelisah. Senja telah mulai menggelapkan cuaca. Ia melompat naik ke atas pohon yang tinggi, seperti seekor kera di atas pohon ia memandang ke sekeliling. Akhirnya ia berseru girang ketika melihat sesosok tubuh seorang wanita di sebelah utara, tubuh seorang wanita muda. Siapa lagi kalau bukan adiknya? Ia melompat turun dan bagaikan seekor kijang cepatnya ia sudah lari mengejar ke arah utara.

Sebentar saja ia sudah dapat menyusul. Bocah nakal, pikirnya. Dari Sarangan pergi tanpa pamit. Susah payah ia mencari kini sudah bertemu, kembali hendak pergi tanpa pamit. Mungkinkah karena kehancuran dan kepatahan hati oleh perubahan hubungan antara mereka dari kekasih menjadi kakak beradik? Joko Wandiro hendak menggodanya, hendak menimbulkan suasana gembira di hati adiknya dan mengusir kekesalan hatinya. Maka ia menghampiri dengan pengerahan tenaga dalam, sehingga tubuhnya menjadi ringan sekali tak menerbitkan suara sama sekali Setelah dekat, ia melompat dan menubruk dari belakang, langsung ia memeluk tubuh adiknya dari belakang. Sambil menciumi rambut adiknya, ia berbisik,
"Ayu........ engkau nakal sekali. Hendak lari ke mana lagi engkau sekarang? Akhirnya aku dapat juga menangkapmu, anak nakal!"
Joko Wandiro merasa heran sekali ketika tubuh yang dipeluknya itu menggigil kemudian menjadi lemas dan kepala yang rambutnya lemas halus dan harum itu rebah di atas dadanya, jari-jari tangan yang halus pula mencengkeram kedua lengannya. Akan tetapi hanya sebentar saja karena tiba-tiba gadis itu merenggutkan tubuhnya dengan kekuatan yang luar biasa sekali sehingga dapat terlepas, lalu membalikkan tubuh menghadapinya. Hampir saja Joko Wandiro berteriak kaget ketika ia melihat bahwa dara itu sama sekali bukan Ayu Candra, melainkan....... Endang Patibroto! Endang Patibroto yang berdiri di hadapannya dengan muka menunduk, kemerahan, dan kemalu-maluan! Rasa kaget ini seperti terganti rasa sesal dan kecewa karena kembali ia kehilangan Ayu Candra. Akan tetapi kembali segera berubah menjadi rasa girang karena memang ia sedang mencari-cari gadis ini pula untuk memenuhi janjinya kepada Kartikosari.
"Endang Patibroto! Kebetulan sekali kita berjumpa di sini. Memang aku sedang mencari-carimu. Kau maafkan aku tadi...., kau tadi kusangka orang lain.... "
Seketika berubahlah wajah wanita cantik itu, Kini Endang Patibroto mengangkat mukanya memandang, tidak malu-malu lagi, tidak berseri lagi, melainkan dengan bayangan perasaan dingin, bibirnya agak tersenyum, wajahnya membayangkan kalau dia sedang kesal hati atau marah.
"Hemmmm......! Ada Apa kau mencariku? Hendak melanjutkan pertandingan?"
"Endang, aku telah bertemu dengan ibumu di Bayuwismo dan...... "
"Hemm, engkau sudah mendengar tentang kematian ibumu di tanganku? Nah, kalau engkau mencariku untuk membalas dendam kematian ibumu, hayolah. Aku sudah siap!"

Joko Wandiro menarik napas panjang. Hatinya penuh penyesalan. Gadis yang berdiri gagah di depannya ini adalah seorang dara yang amat cantik jelita, hampir sama dengan bibi Kartikosari, bertubuh ramping padat dan segar bagaikan sekuntum bunga sedang mekar, seorang dara yang sukar dicari bandingnya. Akan tetapi pandang mata gadis ini amat dingin, juga sikapnya, suaranya, mengandung sesuatu yang mendirikan bulu roma.
"Tidak, Endang. Aku tidak bermaksud membalas dendam. Ayahmu karena salah sangka telah menyakiti hati ibuku. Ibu kandungku yang merasa dirusak kebahagiaan hidupnya telah menuntut balas dan sebagai seorang satria utama, ayahmu rela memberikan nyawa menebus dosa. Ayahmu mati di tangan ibuku. Kemudian engkau membalas kematian ayahmu dan membunuh ibuku. Kalau aku sekarang mengambil pembalasan kepadamu, dendam-mendendam ini tiada ada habisnya. Tidak, Endang. Aku murid ayahmu, dan sebagai murid harus mencontoh langkah-langkah hidup gurunya. Aku mencontoh ayahmu, tidak akan menumpuk permusuhan yang tiada habisnya. Yang tewas sudah sempurna, sudah dikehendaki Hyang Maha Wisesa, bukan urusan manusia."
"Kalau begitu, Apa perlunya engkau mencariku? Kalau hanya untuk berkhotbah saja, aku tiada waktu untuk mendengarkan!"
Mau tak mau Joko Wandiro tersenyum. Gadis ini tiada bedanya dengan dahulu ketika masih kecil. Nakal, galak dan jenaka. Sifat ini masih mendasari wataknya, hanya sayang kini tertutup oleh bayangan-bayangan keganasan dan keanehan yang mengerikan, seakan-akan ada hawa iblis yang hitam menyelubungi dirinya.
"Endang telah kukatakan tadi bahwa aku telah bertemu dengan ibumu. Aku telah berjanji kepada ibumu untuk membujukmu agar kau suka insyaf dan kembali kepada ibumu. Endang, ingatlah bahwa ayahmu, ibumu, dan juga eyangmu adalah patriot-patriot perkasa yang selalu membela kebenaran dan membela Pangeran Sepuh yang kini menjadi sang prabu di Panjalu. Endang, lupa lagikah engkau kepada eyang Resi Bhargowo? Beliau dahulu di Pulau Sempu begitu sayang kepadamu. Dan ibumu! Dia telah mengorbankan segalanya untukmu, kemudian selama belasan tahun menderita siksa batin karena kau lenyap. Engkau insyaflah, Endang Patibroto, bahwa kedudukanmu sekarang sebagai pengawal Kerajaan Jenggala merupakan penyelewengan besar daripada kebenaran yang selama ini dipegang keluargamu. Kau tinggalkan Jenggala dan temani ibumu yang kini sudah pindah ke Pulau Sempu."
"Ibu ke Pulau Sempu?"
"Ya, dan engkau dinanti-nanti ke sana. Marilah kita pergi bersama menghadap ibumu di sana."
"Pergi bersama menghadap ibu? Apakah........ apakah ada hubungannya dengan..... pesan ayahku.......?"

Joko Wandiro memandang. Biarpun cuaca sudah remang-remang, masih jelas tampak olehnya betapa gadis itu menjadi merah mukanya dan sejenak menurunkan pandang mata.
"Pesan ayahmu?"
"Hemm....... tentang....... perjodohan..........!"
"Ahh......!” Kini wajah Joko Wandiro jadi merah sekali.
"Tidak, Eh-ltu....... eh, tidak penting benar...... eh, perlu dipikirkan masak-masak lebih dulu. Yang terpenting, engkau harus meninggalkan Jenggala dan kembali menemani ibumu."
"Harus? Siapa yang mengharuskan?"
"Aku."
"Huh! Kalau aku tidak mau, kau mau Apa?" Endang Patibroto membusungkan dadanya yang sudah busung, matanya bersinar-sinar dan sikapnya begitu menantang.
"Biarpun harus menyeretmu, aku akan membawamu kembali kepada ibumu, bocah berkepala batu!" Joko Wandiro menjadi gemas.
"Babo-babo....... sumbarmu seperti dapat meloncati puncak Mahameru saja, Joko Wandiro! Kau kira aku takut kepada orang seperti engkau ini? Huh, boleh kau coba!"
Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban, Endang Patibroto sudah menerjang maju dan mengirim pukulan dengan tangan kanan yang jarinya terbuka dan dimiringkan. Joko Wandiro yang sudah marah mengangkat tangan menangkis.
"Desss........!!"

Hebat pertemuan tenaga yang keluar dari dua tangan itu. Akibatnya, keduanya terhuyung-huyung ke belakang seperti layang-layang putus talinya! Keduanya terkejut sekali dan cepat meloncat untuk mematahkan tenaga dorongan yang hebat. Lalu keduanya saling pandang, terheran-heran. Joko Wandiro yang sudah menduga akan kesaktian Endang Patibroto, terheran karena tenaga sehebat itu benar-benar tak pernah disangkanya. Sebaliknya, Endang Patibroto yang masih memandang rendah lawannya, kini merasa kecelik dan diam-diam ia kagum juga. Baru pertama kali ini semenjak keluar dari perguruan, ia bertemu seorang tanding yang dapat menahan pukulan Aji Wisangnolo yang dilancarkan dari jarak dekat. Bukan saja Joko Wandiro telah dapat menahannya, bahkan tangkisannya membuat ia terhuyung sampai jauh! Hal ini menimbulkan rasa penasaran dan kemarahan di hatinya. Tiba-tiba Endang Patibroto mengeluarkan pekik melengking dahsyat dan tubuhnya sudah mencelat ke depan, melayang dan menyerang dengan pukulan-pukulan maut bertubi-tubi. Joko Wandiro yang maklum àkàn kesaktian gadis ini, tidak berani berlaku lengah atau lambat. Ia segera mengerahkan Aji Bayu Sakti, mengelak sambil balas menyerang. Namun serangannya dapat pula dielakkan secara mudah oleh Endang. Serang menyerang terjadi, keduanya mengandalkan tenaga dan hawa sakti, namun ternyata tenaga mereka berimbang.
Karene kedua lengan mereka yang bertemu dengan getaran-getaran dahsyat itu membuat kulit lengan terasa pedas dan mulai menjadi matang biru tanpa ada hasilnya, Endang Patibroto kembali memekik dan tubuhnya lenyap berubah menjadi bayang-bayang yang amat cepat gerakannya, seakan-akan seekor burung walet menyambar-nyambar dan ganas seperti burung camar menyambar ikan di permukaan air laut. Inilah ilmu yang diciptakan oleh Kartikosari selama bertapa di Laut Selatan, ditambah oleh gemblengan Dibyo Mamangkoro dan dilakukan dengan pengerahan tenaga Wisangnolo yang panas beracun! Menghadapi dahsyatnya serangan ini, Joko Wandiro segera mengeluarkan pekik yang tidak kalah dahsyatnya. Kalau pekik Endang Patibroto adalah Aji Sardulo Bairowo (Pekik Harimau) yang suaranya menggetarkan jantung lawan seperti seekor harimau betina mengaum, adalah pekik Joko Wandiro ini Aji Diroto Meto (Gajah Mengamuk) yang lebih dahsyat lagi.

<<< Bagian 130                                                                                     Bagian 132 >>>

No comments:

Post a Comment