Diam-diam Joko Wandiro merasa kasihan dan malu. Lawannya seorang buntung sehingga melangkahpun terhuyung-huyung!.
Akan tetapi
tiba-tiba ia terkejut karena tubuh itu sudah melayang dan menyerangnya seperti
seekor burung garuda menyambar. Hemm, ia mencela kebodohannya sendiri. Biarpun
buntung, orang ini sama sekali tidak perlu dikasihani karena ketangkasan dan
kedigdayaannya melebihi jagoan-jagoan yang sudah pilih tanding. Ki Jatoko ini
seorang yang sakti mandraguna, sama sekali tidak boleh dipandang rendah.
Seperti juga tadi, Joko Wandiro melayani lawannya dengan kedua tangan kosong
saja, mengandalkan kegesitan tubuhnya dan kekuatan hawa sakti tubuhnya untuk
mengelak atau menangkis. Seperti tadi pula, ia belum mau membalas dan diam-diam
memperhatikan gerakan-gerakan lawan. Diam-diam harus ia akui bahwa gerakan Ki
Jatoko ini merupakan ilmu-ilmu yang tinggi dan bersih, bahkan hampir sama
sumbernya dengan ilmu-ilmu milik Resi Bhargowo. Biarpun dahsyat dan dilakukan
dengan beringas saking penasaran dan marah, namun ilmu tata kelahi orang
buntung ini merupakan ilmu yang indah dan amat kuat. Kecepatan gerakannya tak
dapat disangkal lagi tentulah Bayu Tantra atau Bayu Sakti, atau setidaknya
tentu bersumber dari ilmu gerak cepat keduanya itu. Makin ragu-ragulah ia untuk
merobohkan Orang ini. Apakah orang buntung ini pernah belajar ilmu kepada Resi
Bhargowo? Ataukah pernah menerima gemblengan Empu Barodo? Mereka berdua itu
adalah pendeta-pendeta sakti yang bijaksana dan berbudi, tentu menaruh kasihan
kepada seorang buntung dan tidaklah aneh kalau memberi sebuah dua buah ilmu.
"Tahan........!"
Tiba-tiba Joko Wandiro berseru seraya melompat mundur dari gelanggang
pertempuran.
"Paman
Jatoko, aku seperti mengenal gerakan-gerakanmu........! Bukankah engkau pernah
belajar ilmu kepada eyang Empu Bharodo atau eyang Resi Bhargowo.......?"
Ki Jatoko
terkejut. Semenjak ia menjadi buntung dan rusak mukanya dan berganti nama Ki
Jatoko, ia sudah mengubur nama Jokowanengpati dan agar jangan sampai ada orang
mengenalnya, ia pun memperdalam ilmunya dan sedapat mungkin merubah gerakan
ilmu silatnya agar berubah daripada aselinya dan tidak akan dikenal orang.
Namun, betapa pandainya, tentu saja tidak mungkin ia melenyapkan sama sekali
gerakan dasar yang menjadi inti aji kesaktian yang telah ia pelajari. Kini
setelah bertanding, pemuda ini dapat mengenal ilmu-ilmunya. Hal ini menandakan
bahwa pemuda ini sudah mahir betul akan ilmu-ilmu itu. Akan tetapi karena
maklum bahwa sekali orang tahu akan rahasianya maka keselamatan hidupnya akan
selalu terancam, ia menghardik,
"Bocah
dusun, engkau melantur tentang Apa? Kalau takut, pergilah, kalau berani, terima
ini!" Ia melompat maju, menerkam dengan ganas sambil mengayun kerisnya.
"Manusia
tak tahu diri!" Joko Wandiro berkata perlahan, tidak mengelak dari
tempatnya, melainkan menyambut serangan itu keras sama keras Kedua tangannya
bergerak merampas keris sambil mendorong.
"Desss............
weerrrr.........!”
Ki Jatoko
berteriak kaget, kerisnya terlempar dan tubuhnya juga melayang ke belakang lalu
terbanting ke atas tanah. Sejenak orang buntung ini bengong terlongong. Ia
mengenal gerakan Pethit Nogo yang membuat kerisnya terlempar tadi karena tenaga
yang terkandung di jari-jari tangan itu hebatnya luar biasa sekali, akan tetapi
ia tidak tahu dorongan macam apa tadi yang membuat tubuhnya terlempar seperti
daun kering tertiup angin!
Joko Wandiro
yang tidak mempunyai niat mencelakai. Ki Jatoko, tidak menyerang lebih lanjut.
Ia membalikkan tubuhnya hendak menghampiri Ayu Candra. Alangkah kagetnya ketika
melihat bahwa Ayu Candra tidak berada di tempat yang tadi pula, tidak tampak
bayangannya lagi.
"Ayu! Ke
mana engkau pergi....?"
Joko Wandiro
berteriak memanggil lalu mencari di sekeliling tempat itu. Namun sia-sia. Ayu
Candra seperti hilang ditelan bumi, tak meninggalkan bekas. Joko Wandiro
menjadi gelisah. Senja telah mulai menggelapkan cuaca. Ia melompat naik ke atas
pohon yang tinggi, seperti seekor kera di atas pohon ia memandang ke
sekeliling. Akhirnya ia berseru girang ketika melihat sesosok tubuh seorang
wanita di sebelah utara, tubuh seorang wanita muda. Siapa lagi kalau bukan
adiknya? Ia melompat turun dan bagaikan seekor kijang cepatnya ia sudah lari
mengejar ke arah utara.
Sebentar saja
ia sudah dapat menyusul. Bocah nakal, pikirnya. Dari Sarangan pergi tanpa
pamit. Susah payah ia mencari kini sudah bertemu, kembali hendak pergi tanpa
pamit. Mungkinkah karena kehancuran dan kepatahan hati oleh perubahan hubungan
antara mereka dari kekasih menjadi kakak beradik? Joko Wandiro hendak
menggodanya, hendak menimbulkan suasana gembira di hati adiknya dan mengusir
kekesalan hatinya. Maka ia menghampiri dengan pengerahan tenaga dalam, sehingga
tubuhnya menjadi ringan sekali tak menerbitkan suara sama sekali Setelah dekat,
ia melompat dan menubruk dari belakang, langsung ia memeluk tubuh adiknya dari
belakang. Sambil menciumi rambut adiknya, ia berbisik,
"Ayu........
engkau nakal sekali. Hendak lari ke mana lagi engkau sekarang? Akhirnya aku
dapat juga menangkapmu, anak nakal!"
Joko Wandiro
merasa heran sekali ketika tubuh yang dipeluknya itu menggigil kemudian menjadi
lemas dan kepala yang rambutnya lemas halus dan harum itu rebah di atas
dadanya, jari-jari tangan yang halus pula mencengkeram kedua lengannya. Akan
tetapi hanya sebentar saja karena tiba-tiba gadis itu merenggutkan tubuhnya
dengan kekuatan yang luar biasa sekali sehingga dapat terlepas, lalu
membalikkan tubuh menghadapinya. Hampir saja Joko Wandiro berteriak kaget
ketika ia melihat bahwa dara itu sama sekali bukan Ayu Candra, melainkan.......
Endang Patibroto! Endang Patibroto yang berdiri di hadapannya dengan muka
menunduk, kemerahan, dan kemalu-maluan! Rasa kaget ini seperti terganti rasa
sesal dan kecewa karena kembali ia kehilangan Ayu Candra. Akan tetapi kembali
segera berubah menjadi rasa girang karena memang ia sedang mencari-cari gadis
ini pula untuk memenuhi janjinya kepada Kartikosari.
"Endang
Patibroto! Kebetulan sekali kita berjumpa di sini. Memang aku sedang
mencari-carimu. Kau maafkan aku tadi...., kau tadi kusangka orang lain....
"
Seketika
berubahlah wajah wanita cantik itu, Kini Endang Patibroto mengangkat mukanya
memandang, tidak malu-malu lagi, tidak berseri lagi, melainkan dengan bayangan
perasaan dingin, bibirnya agak tersenyum, wajahnya membayangkan kalau dia
sedang kesal hati atau marah.
"Hemmmm......!
Ada Apa kau mencariku? Hendak melanjutkan pertandingan?"
"Endang,
aku telah bertemu dengan ibumu di Bayuwismo dan...... "
"Hemm,
engkau sudah mendengar tentang kematian ibumu di tanganku? Nah, kalau engkau
mencariku untuk membalas dendam kematian ibumu, hayolah. Aku sudah siap!"
Joko Wandiro
menarik napas panjang. Hatinya penuh penyesalan. Gadis yang berdiri gagah di
depannya ini adalah seorang dara yang amat cantik jelita, hampir sama dengan
bibi Kartikosari, bertubuh ramping padat dan segar bagaikan sekuntum bunga
sedang mekar, seorang dara yang sukar dicari bandingnya. Akan tetapi pandang
mata gadis ini amat dingin, juga sikapnya, suaranya, mengandung sesuatu yang
mendirikan bulu roma.
"Tidak, Endang.
Aku tidak bermaksud membalas dendam. Ayahmu karena salah sangka telah menyakiti
hati ibuku. Ibu kandungku yang merasa dirusak kebahagiaan hidupnya telah
menuntut balas dan sebagai seorang satria utama, ayahmu rela memberikan nyawa
menebus dosa. Ayahmu mati di tangan ibuku. Kemudian engkau membalas kematian
ayahmu dan membunuh ibuku. Kalau aku sekarang mengambil pembalasan kepadamu,
dendam-mendendam ini tiada ada habisnya. Tidak, Endang. Aku murid ayahmu, dan
sebagai murid harus mencontoh langkah-langkah hidup gurunya. Aku mencontoh
ayahmu, tidak akan menumpuk permusuhan yang tiada habisnya. Yang tewas sudah
sempurna, sudah dikehendaki Hyang Maha Wisesa, bukan urusan manusia."
"Kalau
begitu, Apa perlunya engkau mencariku? Kalau hanya untuk berkhotbah saja, aku
tiada waktu untuk mendengarkan!"
Mau tak mau
Joko Wandiro tersenyum. Gadis ini tiada bedanya dengan dahulu ketika masih
kecil. Nakal, galak dan jenaka. Sifat ini masih mendasari wataknya, hanya
sayang kini tertutup oleh bayangan-bayangan keganasan dan keanehan yang
mengerikan, seakan-akan ada hawa iblis yang hitam menyelubungi dirinya.
"Endang
telah kukatakan tadi bahwa aku telah bertemu dengan ibumu. Aku telah berjanji
kepada ibumu untuk membujukmu agar kau suka insyaf dan kembali kepada ibumu. Endang,
ingatlah bahwa ayahmu, ibumu, dan juga eyangmu adalah patriot-patriot perkasa
yang selalu membela kebenaran dan membela Pangeran Sepuh yang kini menjadi sang
prabu di Panjalu. Endang, lupa lagikah engkau kepada eyang Resi Bhargowo?
Beliau dahulu di Pulau Sempu begitu sayang kepadamu. Dan ibumu! Dia telah
mengorbankan segalanya untukmu, kemudian selama belasan tahun menderita siksa
batin karena kau lenyap. Engkau insyaflah, Endang Patibroto, bahwa kedudukanmu
sekarang sebagai pengawal Kerajaan Jenggala merupakan penyelewengan besar
daripada kebenaran yang selama ini dipegang keluargamu. Kau tinggalkan Jenggala
dan temani ibumu yang kini sudah pindah ke Pulau Sempu."
"Ibu ke
Pulau Sempu?"
"Ya, dan
engkau dinanti-nanti ke sana. Marilah kita pergi bersama menghadap ibumu di
sana."
"Pergi
bersama menghadap ibu? Apakah........ apakah ada hubungannya dengan..... pesan
ayahku.......?"
Joko Wandiro
memandang. Biarpun cuaca sudah remang-remang, masih jelas tampak olehnya betapa
gadis itu menjadi merah mukanya dan sejenak menurunkan pandang mata.
"Pesan
ayahmu?"
"Hemm.......
tentang....... perjodohan..........!"
"Ahh......!”
Kini wajah Joko Wandiro jadi merah sekali.
"Tidak,
Eh-ltu....... eh, tidak penting benar...... eh, perlu dipikirkan masak-masak
lebih dulu. Yang terpenting, engkau harus meninggalkan Jenggala dan kembali
menemani ibumu."
"Harus?
Siapa yang mengharuskan?"
"Aku."
"Huh!
Kalau aku tidak mau, kau mau Apa?" Endang Patibroto membusungkan dadanya
yang sudah busung, matanya bersinar-sinar dan sikapnya begitu menantang.
"Biarpun
harus menyeretmu, aku akan membawamu kembali kepada ibumu, bocah berkepala
batu!" Joko Wandiro menjadi gemas.
"Babo-babo.......
sumbarmu seperti dapat meloncati puncak Mahameru saja, Joko Wandiro! Kau kira
aku takut kepada orang seperti engkau ini? Huh, boleh kau coba!"
Setelah
berkata demikian, tanpa menanti jawaban, Endang Patibroto sudah menerjang maju
dan mengirim pukulan dengan tangan kanan yang jarinya terbuka dan dimiringkan.
Joko Wandiro yang sudah marah mengangkat tangan menangkis.
"Desss........!!"
Hebat
pertemuan tenaga yang keluar dari dua tangan itu. Akibatnya, keduanya
terhuyung-huyung ke belakang seperti layang-layang putus talinya! Keduanya
terkejut sekali dan cepat meloncat untuk mematahkan tenaga dorongan yang hebat.
Lalu keduanya saling pandang, terheran-heran. Joko Wandiro yang sudah menduga
akan kesaktian Endang Patibroto, terheran karena tenaga sehebat itu benar-benar
tak pernah disangkanya. Sebaliknya, Endang Patibroto yang masih memandang
rendah lawannya, kini merasa kecelik dan diam-diam ia kagum juga. Baru pertama
kali ini semenjak keluar dari perguruan, ia bertemu seorang tanding yang dapat
menahan pukulan Aji Wisangnolo yang dilancarkan dari jarak dekat. Bukan saja
Joko Wandiro telah dapat menahannya, bahkan tangkisannya membuat ia terhuyung
sampai jauh! Hal ini menimbulkan rasa penasaran dan kemarahan di hatinya.
Tiba-tiba Endang Patibroto mengeluarkan pekik melengking dahsyat dan tubuhnya
sudah mencelat ke depan, melayang dan menyerang dengan pukulan-pukulan maut
bertubi-tubi. Joko Wandiro yang maklum àkàn kesaktian gadis ini, tidak berani
berlaku lengah atau lambat. Ia segera mengerahkan Aji Bayu Sakti, mengelak
sambil balas menyerang. Namun serangannya dapat pula dielakkan secara mudah
oleh Endang. Serang menyerang terjadi, keduanya mengandalkan tenaga dan hawa
sakti, namun ternyata tenaga mereka berimbang.
Karene kedua
lengan mereka yang bertemu dengan getaran-getaran dahsyat itu membuat kulit
lengan terasa pedas dan mulai menjadi matang biru tanpa ada hasilnya, Endang
Patibroto kembali memekik dan tubuhnya lenyap berubah menjadi bayang-bayang
yang amat cepat gerakannya, seakan-akan seekor burung walet menyambar-nyambar
dan ganas seperti burung camar menyambar ikan di permukaan air laut. Inilah
ilmu yang diciptakan oleh Kartikosari selama bertapa di Laut Selatan, ditambah
oleh gemblengan Dibyo Mamangkoro dan dilakukan dengan pengerahan tenaga
Wisangnolo yang panas beracun! Menghadapi dahsyatnya serangan ini, Joko Wandiro
segera mengeluarkan pekik yang tidak kalah dahsyatnya. Kalau pekik Endang
Patibroto adalah Aji Sardulo Bairowo (Pekik Harimau) yang suaranya menggetarkan
jantung lawan seperti seekor harimau betina mengaum, adalah pekik Joko Wandiro
ini Aji Diroto Meto (Gajah Mengamuk) yang lebih dahsyat lagi.
No comments:
Post a Comment