Untuk dapat
mengimbangi kecepatan gerak lawan, Joko Wandiro juga menggunakan Aji Bramoro
Seto (Lebah Putih) yang ia pelajari dan Ki Patih Narotama. Mereka berdua
sama-sama maklum bahwa akan percuma saja apabila mereka menggunakan aji-aji
yang mereka dapat dari eyang Resi Bhargowo seperti Pethit Nogo atau Gelap
Musti, karena keduanya mengenal ilmu ini. Maka kini Endang Patibroto
mengerahkan seluruh kepandaiannya yang ia dapat dari ibunya sendiri ditambah
gemblengan dari Dibyo Mamangkoro. Di lain pihak, Joko Wandiro juga mengeluarkan
aji-aji yang ia dapat dari Ki Patih Narotama. Hebat bukan main pertandingan
ini. Tubuh kedua orang muda itu sukar dilihat lagi oleh mata biasa. Sudah
lenyap bentuknya, berubah sebagai dua baying-bayang yang seperti dua iblis
bertanding yuda, kadang-kadang malah lenyap berubah menjadi gundukan sinar
bergulung-gulung menjadi satu, sukar dibedakan mana Joko Wandiro mana Endang
Patibroto.
Ratusan jurus
telah lewat dengan tiada keputusan siapa kalah siapa menang. Bahkan tidak ada
yang mendesak atau terdesak. Jurus ditukar jurus, pukulan dibalas tamparan,
tendang-menendang, tusuk-menusuk dengan jari yang melebihi keris ampuhnya.
Namun semua itu tidak mengenai sasaran, dapat dielakkan atau ditangkis lawan.
Mereka setanding, seimbang, baik kegesitan maupun kekuatannya. Joko Wandiro
makin kagum. Baru pertama kali ini ia menemui tanding yang sehebat ini! Semua
kepandaiannya telah ia kerahkan, namun tak pernah memperoleh hasil yang baik.
Hanya saja bedanya, kalau Endang Patibroto melancarkan serangan-serangan maut
yang amat ganas dan dahsyat, dia hanya melakukan serangan-serangan yang kalau
mengenai sasaran tidak akan membahayakan keselamatan gadis itu. Betapapun juga,
harus ia akui bahwa baginya, tidaklah mudah mengalahkan Endang Patibroto.
Di lain pihak,
Endang Patibroto menjadi penasaran sekali. Makin lama ia menjadi makin marah,
lalu berseru,
"Hayo
keluarkan senjatamu!" Teriakan ini ia lakukan berkali-kali, namun selalu
Joko Wandiro menjawab,
"Aku
tidak hendak mengadu nyawa denganmu, Endang. Kalau kau masih penasaran, boleh
kau gunakan senjata, aku takkan mau melayani keganasanmu!"
Endang
Patibroto marah sekali. Ia maklum, kalau mereka menggunakan senjata, dia dapat
memakai keris pusaka Brojol Luwuk yang ampuhnya menggiriskan itu dan dengan
bantuan keris pusaka ini ia tentu akan menang. Akan tetapi Joko Wandiro tidak
mau memakai senjata dan untuk menghadapi seorang lawan yang bertangan kosong,
tentu saja iapun enggan menggunakan senjata. Hatinya makin gemas sampai-sampai
kalau mungkin, ingin ia menangkap lawannya ini dan menggunakan kuku dan gigi
untuk mencakar menggigit! Namun Joko Wandiro terlalu lincah, dan pertahanannya
terlampau kokoh kuat, bagaikan batu karang di tengah samudra. Dan memang
demikianlah. Semenjak kecil oleh Pujo, Joko Wandiro digembleng melawan gempuran
ombak membadai sehingga ia memiliki daya tahan seperti batu karang di laut.
Karena ingin
segera memperoleh kemenangan, Endang Patibroto lalu menempuh jalan keras.
Mulutnya berkemak-kemik, kedua tangannya saling digosokkan. Kedua telapak
tangan itu digosok-gosokkan sampai mengeluarkan asap! Inilah Aji Wisangnolo
yang dikerahkan sampai ke puncaknya! Saking hebatnya getaran hawa panas beracun
itu, kedua telapak tangan sampai mengeluarkan asap seakan-akan kedua telapak
tangan itu sudah membara. Joko Wandiro terkejut bukan main ketika gadis itu
melancarkan serangan dengan mendorong kedua tangan ke arah dadanya. Hawa panas
sekali keluar dari dorongan itu dan kedua tangan gadis itu berasap hitam! Ia
maklum akan bahayanya serangan ini dan untuk mengelak sudah tidak ada
kesempatan lagi. Untuk menangkis lengan, banyak bahayanya karena daya serang
yang terpancar keluar dari dua telapak tangan itu dapat melukainya. Terpaksa
iapun lalu mengembangkan kedua lengan ke depan dengan telapak tangan terbuka,
lalu menerima pukulan itu dengan kedua telapak tangan pula sambil mengerahkan
hawa saktinya. Ia tidak mau menggunakan aji pukulan yang keras karena khawatir
kalau-kalau ia akan melukai lawannya, maka ia hanya mengumpulkan tenaga,
menyimpannya di dada dan menyalurkan ke arah kedua lengannya sambil
mempergunakan hawa itu tebagai tenaga lembek atau lunak.
"Desss,......!!"
Tenaga dahsyat
dari kedua telapak tangan Endang Patibroto seakan tersedot ke dalam telapak
tangan Joko Wandiro dan gadis itu merasa betapa kedua telapak tangannya bertemu
sesuatu yang lunak dan dingin seperti es. Ia terkejut dan menarik kembali
tangannya sambil berjungkir balik ke belakang sampai lima kali. Tubuhnya
menggigil kedinginan dan mukanya menjadi pucat, namun ia terbebas dari luka
berat. Ia mendengar Joko Wandiro mengaduh dan cepat-cepat ia memandang. Kiranya
lawannya itu terhuyung-huyung lalu roboh terlentang dalam keadaan pingsan. Dua
batang jarum hitam menancap di leher sebelah kiri!
"Heh-heh-heh!
Kepandaianmu hebat sekali, nona muda. Akan tetapi lawanmu ini terlalu berbahaya
maka aku membantumu merobohkannya. Sekarang lebih baik kau lekas membunuhnya
selagi ia pingsan. Heh-heh-heh!"
Berkerut
kening Endang Patibroto. Sepasang matanya bersinar-sinar memandang orang
buntung yang muncul secara aneh itu.
"Engkau
siapakah? Siapa suruh engkau membantuku? Aku tidak butuh bantuanmu!"
Memang yang
merobohkan Joko Warndiro adalah Ki Jatoko. Setelah tadi Ki Jatoko dikalahkan
Joko Wandiro dan melihat pemuda itu berlari-lari mencari Ayu Candra yang
lenyap, Ki Jatoko segera menjumput kerisnya dan iapun menjadi bingung dan
gelisah karena tidak melihat gadis yang dicintanya itu. Karena khawatir kalau
gadis itu akan diajak pergi Joko Wandiro, maka iapun lalu mengejar. Ia tidak
dapat menemukan Ayu Candra, sebaliknya malah melihat Joko Wandiro bertengkar
dengan Endang Patibroto. Hatinya tertarik dan segera ia mengintai dan
mendengarkan. Kagetlah ia ketika dari pertengkaran itu ia mendengar bahwa gadis
itu adalah kepala pengawal Jenggala yang sudah ia dengar dalam perantauannya.
Ia sudah mendengar bahwa kini Jenggala memiliki seorang jago wanita yang amat
sakti, yaitu murid dari Sang Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna. Sama
senali tidak pernah disangkanya bahwa gadis jagoan itu ternyata adalah puteri
Pujo dan Kartikosari, seperti yang dapat ia tarik kesimpulan dari pertengkaran
kedua orang muda itu.
Diam-diam ia
menjadi girang sekali melihat gadis itu bertengkar dengan Joko Wandiro. Sebagai
seorang yang cerdik, dia dapat menduga bahwa setelah menjadi murid Dibyo
Mamangkoro, gadis itu telah menyimpang daripada jejak hidup orang tua dan
kakeknya seperti...... seperti dia sendiri yang telah menyimpang dari jejak
hidup gurunya, Empu Bharodo!
Ketika terjadi
pertempuran, ia menonton dengan jantung berdebar-debar. Baru sekali ini ia
menyaksikan pertandingan yang serba hebat. Dia sendiri sampai melongo dan harus
mengakui bahwa kepandaiannya sendiri sama sekali tidak akan mampu menandingi
seorang di antara dua orang muda itu. Hebat bukan main, sampai kabur pandang
matanya, sampai pening kepalanya.
Namun
kecerdikannya tidak membiarkan ia tinggal diam saja. Diam-diam Ki Jatoko telah
menyiapkan jarum-jarumnya, jarum hitam yang telah menghisap banyak racun ular.
Pada gebrakan terakhir ketika dua orang muda itu tadi mengadu tenaga sakti yang
mengakibatkan tubuh Endang Patibroto berjungkir-balik ke belakang sampai jauh,
pada hakekatnya kerugian ada di fihak Joko Wandiro. Karena pemuda ini tidak
ingin melukai lawannya, maka ia menggunakan tenaga lunak dan karena inilah maka
ia berada di fihak bertahan. Karena tenaga mereka berimbang, biarpun ia
berhasil mengembalikan daya pukulan lawan, namun ia sendiri tergetar jantungnya
dan seketika kepalanya pening, pandang matanya berputar-putar. Tampaknya ia
tidak bergerak dari tempat ia berpijak, akan tetapi tubuhnya bergoyang-goyang
dan kedua matanya meram. Dalam keadaan setengah pingsan ini dan selagi ia
mengumpulkan tenaga mengatur napas, Ki Jatoko yang cerdik dapat melihat keadaan
dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dua batang jarum hitam ia sambitkan dan
tepat mengenai leher kiri pemuda itu yang berseru "aduhh........!"
dan roboh terguling, pingsan!
Menghadapi
teguran Endang Patibroto yang bersikap dingin dan tak senang, Ki Jatoko yang
cerdik tidak menjadi bingung. Ia segera melangkah maju menghadapi gadis itu dan
dengan hormat dan ramah berkata,
"Nona,
bukankah namamu Endang Patibroto dan engkau adalah pengawal sang prabu di
Jenggala? Bukankah orang tuamu adalah Pujo dan Kartikosari yang dahulu tinggal
di Bayuwismo? Aku mengenal orang tuamu baik-baik, Endang Patibroto. Aku orang
dari Selopenangkep, dahulu kukenal baik Pujo, Kartikosari, bahkan Sang Resi
Bhargowo. Namaku Ki Jatoko. Karena tadi kulihat pemuda lawanmu ini amat tangkas
dan berbahaya, maka mengingat akan....... eh, ibumu, maka aku turun tangan
membantumu. Harap kau jangan marah."
Diam-diam
Endang Patibroto terkejut. Orang ini agaknya benar-benar mengenal orang tuanya
baik-baik.
"Kalau
kau tidak mau membunuhnya, biarlah aku yang membunuhnya agar di hari kemudian
tidak akan ada gangguan lagi dari orang muda ini."
Ki Jatoko
menghunus kerisnya dan menghampiri tubuh Joko Wandiro yang masih menggeletak di
atas tanah.
"Jangan
bunuh!" bentak Endang Patibroto dan dengan heran Ki Jatoko menahan
langkahnya. Ia tidak berani membantah, maklum betapa saktinya gadis itu.
"Tanpa
bantuanmu, aku tidak akan kalah olehnya. Kelak dia akan kutewaskan sendiri
dengan kedua tanganku. Eh, paman buntung. Kau bilang mengenal baik ayah bundaku
ada hubungan apakah antara engkau dengan ayah bundaku?"
Ki Jatoko
tersenyum, lalu menarik napas panjang.
"Kuceritakan
juga takkan ada yang percaya. Hubunganku amatlah erat, terutama dengan ibumu.
Ada rahasia besar antara ibumu dan aku."
"Rahasia?
Rahasia Apa....... ?" Endang Patibroto penasaran dan marah.
Ki Jatoko
orangnya memang cerdik. Ia menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Belum
tiba saatnya kututurkan kepadamu. Ada hal yang lebih penting lagi. Tahukah
engkau bahwa tadi pemuda itu menyangka kau orang lain?"
Merah wajah
Endang Patibroto. Bedebah, sumpahnya dalam hati. Si buntung ini agaknya melihat
ketika ia dipeluk Joko Wandiro tadi. Ia tidak menjawab, hanya mendengus
perlahan.
"Dia tadi
sedang mencari Ayu Candra, kekasihnya, juga adik tirinya. Memang pemuda ini
seorang yang tidak tahu malu, mencinta adik tiri seibu sendiri! Kekasihnya itu
bernama Ayu Candra dan gadis itu adalah puteri Listyokumolo dan
Adibroto.......!"
"Ahh! Dia
mencari aku untuk membalas dendam karena ayah bundanya telah kubunuh!,"
Endang Patibroto memotong marah.
Diam-diam
girang hati Ki Jatoko. Dari pertengkaran antara Joko Wandiro dan gadis ini tadi
ia hanya dapat menduga-duga dan sekarang ternyata ia mendapat keterangan yang
jelas. Tahulah ia kini Apa yang terjadi. Jelas bahwa Pujo telah dibunuh oleh
Listyokumolo, kemudian Listyokumolo bersama Ki Adibroto dibunuh oleh gadis ini!
Pantas saja bekas pukulannya pada tubuh Ki Adibroto demikian keji dan
mengerikan!
"Memang
begitulah, akan tetapi aku telah berhasil membujuknya sehingga ia telah ikut
bersamaku, tadinya hendak kuajak dia ke Jenggala. Aku mengenal baik sang prabu
di Jenggala, juga para pembantunya yang sakti banyak yang kukenal. Aku sudah
berpikir untuk mengajaknya ke sana bertemu denganmu."
"Hemm,
akan kubunuh dia!"
"Tidak
begitu, anak yang baik. Ada hukuman yang lebih baik lagi yang tentu akan
menyenangkan hatimu."
"Bagaimana?"
"Yaitu.....
eh..... , dia akan kupaksa menjadi....... isteriku!"
Terbelalak
sepasang mata Endang Patibroto. Ia memandang si buntung itu biarpun cuaca sudah
mulai gelap, masih dapat ia melihat bentuk tubuh yang buntung kedua kakinya itu
dan ia bergidik. Menjadi isteri orang ini benar-benar lebih mengerikan daripada
mati!
"Mengapa
aku harus menyerahkan dia kepadamu untuk kauperisteri?"
"Karena.......
karena........ eh, rahasia itulah, Endang Patibroto. Kalau engkau sudah tahu
akan rahasia antara ibumu dan aku, tentu kau akan dengan segala senang hati
menyerahkan dia untuk menyenangkan hatiku. Kau berjanjilah, anak baik, bahwa
kalau kau berhasil menangkap Ayu Candra, kau akan menyerahkannya kepadaku,
tidak akan membunuhnya, untuk ditukar dengan....... rahasia itu yang tentu akan
kuterangkan kepadamu. Sebelum Ayu Candra diserahkan kepadaku, biar dibunuh
sekalipun, aku takkan membuka rahasia besar antara ibumu dan aku yang..... eh,
ada hubungannya rapat dengan dirimu pula."
Endang
Patibroto adalah seorang gadis yang masih muda dan hijau. Penuturan si buntung
ini amat menarik hatinya. Apa lagi ia kini merasa seperti pernah melihat orang
buntung ini, akan tetapi ia sudah lupa lagi kapan dan di mana. Tanpa terasa,
saking tertarik, ia menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah,
kau boleh pergi sekarang."
No comments:
Post a Comment