Badai Laut Selatan ; Bagian 132

Untuk dapat mengimbangi kecepatan gerak lawan, Joko Wandiro juga menggunakan Aji Bramoro Seto (Lebah Putih) yang ia pelajari dan Ki Patih Narotama. Mereka berdua sama-sama maklum bahwa akan percuma saja apabila mereka menggunakan aji-aji yang mereka dapat dari eyang Resi Bhargowo seperti Pethit Nogo atau Gelap Musti, karena keduanya mengenal ilmu ini. Maka kini Endang Patibroto mengerahkan seluruh kepandaiannya yang ia dapat dari ibunya sendiri ditambah gemblengan dari Dibyo Mamangkoro. Di lain pihak, Joko Wandiro juga mengeluarkan aji-aji yang ia dapat dari Ki Patih Narotama. Hebat bukan main pertandingan ini. Tubuh kedua orang muda itu sukar dilihat lagi oleh mata biasa. Sudah lenyap bentuknya, berubah sebagai dua baying-bayang yang seperti dua iblis bertanding yuda, kadang-kadang malah lenyap berubah menjadi gundukan sinar bergulung-gulung menjadi satu, sukar dibedakan mana Joko Wandiro mana Endang Patibroto.

Ratusan jurus telah lewat dengan tiada keputusan siapa kalah siapa menang. Bahkan tidak ada yang mendesak atau terdesak. Jurus ditukar jurus, pukulan dibalas tamparan, tendang-menendang, tusuk-menusuk dengan jari yang melebihi keris ampuhnya. Namun semua itu tidak mengenai sasaran, dapat dielakkan atau ditangkis lawan. Mereka setanding, seimbang, baik kegesitan maupun kekuatannya. Joko Wandiro makin kagum. Baru pertama kali ini ia menemui tanding yang sehebat ini! Semua kepandaiannya telah ia kerahkan, namun tak pernah memperoleh hasil yang baik. Hanya saja bedanya, kalau Endang Patibroto melancarkan serangan-serangan maut yang amat ganas dan dahsyat, dia hanya melakukan serangan-serangan yang kalau mengenai sasaran tidak akan membahayakan keselamatan gadis itu. Betapapun juga, harus ia akui bahwa baginya, tidaklah mudah mengalahkan Endang Patibroto.
Di lain pihak, Endang Patibroto menjadi penasaran sekali. Makin lama ia menjadi makin marah, lalu berseru,
"Hayo keluarkan senjatamu!" Teriakan ini ia lakukan berkali-kali, namun selalu Joko Wandiro menjawab,
"Aku tidak hendak mengadu nyawa denganmu, Endang. Kalau kau masih penasaran, boleh kau gunakan senjata, aku takkan mau melayani keganasanmu!"
Endang Patibroto marah sekali. Ia maklum, kalau mereka menggunakan senjata, dia dapat memakai keris pusaka Brojol Luwuk yang ampuhnya menggiriskan itu dan dengan bantuan keris pusaka ini ia tentu akan menang. Akan tetapi Joko Wandiro tidak mau memakai senjata dan untuk menghadapi seorang lawan yang bertangan kosong, tentu saja iapun enggan menggunakan senjata. Hatinya makin gemas sampai-sampai kalau mungkin, ingin ia menangkap lawannya ini dan menggunakan kuku dan gigi untuk mencakar menggigit! Namun Joko Wandiro terlalu lincah, dan pertahanannya terlampau kokoh kuat, bagaikan batu karang di tengah samudra. Dan memang demikianlah. Semenjak kecil oleh Pujo, Joko Wandiro digembleng melawan gempuran ombak membadai sehingga ia memiliki daya tahan seperti batu karang di laut.

Karena ingin segera memperoleh kemenangan, Endang Patibroto lalu menempuh jalan keras. Mulutnya berkemak-kemik, kedua tangannya saling digosokkan. Kedua telapak tangan itu digosok-gosokkan sampai mengeluarkan asap! Inilah Aji Wisangnolo yang dikerahkan sampai ke puncaknya! Saking hebatnya getaran hawa panas beracun itu, kedua telapak tangan sampai mengeluarkan asap seakan-akan kedua telapak tangan itu sudah membara. Joko Wandiro terkejut bukan main ketika gadis itu melancarkan serangan dengan mendorong kedua tangan ke arah dadanya. Hawa panas sekali keluar dari dorongan itu dan kedua tangan gadis itu berasap hitam! Ia maklum akan bahayanya serangan ini dan untuk mengelak sudah tidak ada kesempatan lagi. Untuk menangkis lengan, banyak bahayanya karena daya serang yang terpancar keluar dari dua telapak tangan itu dapat melukainya. Terpaksa iapun lalu mengembangkan kedua lengan ke depan dengan telapak tangan terbuka, lalu menerima pukulan itu dengan kedua telapak tangan pula sambil mengerahkan hawa saktinya. Ia tidak mau menggunakan aji pukulan yang keras karena khawatir kalau-kalau ia akan melukai lawannya, maka ia hanya mengumpulkan tenaga, menyimpannya di dada dan menyalurkan ke arah kedua lengannya sambil mempergunakan hawa itu tebagai tenaga lembek atau lunak.
"Desss,......!!"
Tenaga dahsyat dari kedua telapak tangan Endang Patibroto seakan tersedot ke dalam telapak tangan Joko Wandiro dan gadis itu merasa betapa kedua telapak tangannya bertemu sesuatu yang lunak dan dingin seperti es. Ia terkejut dan menarik kembali tangannya sambil berjungkir balik ke belakang sampai lima kali. Tubuhnya menggigil kedinginan dan mukanya menjadi pucat, namun ia terbebas dari luka berat. Ia mendengar Joko Wandiro mengaduh dan cepat-cepat ia memandang. Kiranya lawannya itu terhuyung-huyung lalu roboh terlentang dalam keadaan pingsan. Dua batang jarum hitam menancap di leher sebelah kiri!
"Heh-heh-heh! Kepandaianmu hebat sekali, nona muda. Akan tetapi lawanmu ini terlalu berbahaya maka aku membantumu merobohkannya. Sekarang lebih baik kau lekas membunuhnya selagi ia pingsan. Heh-heh-heh!"
Berkerut kening Endang Patibroto. Sepasang matanya bersinar-sinar memandang orang buntung yang muncul secara aneh itu.
"Engkau siapakah? Siapa suruh engkau membantuku? Aku tidak butuh bantuanmu!"

Memang yang merobohkan Joko Warndiro adalah Ki Jatoko. Setelah tadi Ki Jatoko dikalahkan Joko Wandiro dan melihat pemuda itu berlari-lari mencari Ayu Candra yang lenyap, Ki Jatoko segera menjumput kerisnya dan iapun menjadi bingung dan gelisah karena tidak melihat gadis yang dicintanya itu. Karena khawatir kalau gadis itu akan diajak pergi Joko Wandiro, maka iapun lalu mengejar. Ia tidak dapat menemukan Ayu Candra, sebaliknya malah melihat Joko Wandiro bertengkar dengan Endang Patibroto. Hatinya tertarik dan segera ia mengintai dan mendengarkan. Kagetlah ia ketika dari pertengkaran itu ia mendengar bahwa gadis itu adalah kepala pengawal Jenggala yang sudah ia dengar dalam perantauannya. Ia sudah mendengar bahwa kini Jenggala memiliki seorang jago wanita yang amat sakti, yaitu murid dari Sang Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna. Sama senali tidak pernah disangkanya bahwa gadis jagoan itu ternyata adalah puteri Pujo dan Kartikosari, seperti yang dapat ia tarik kesimpulan dari pertengkaran kedua orang muda itu.
Diam-diam ia menjadi girang sekali melihat gadis itu bertengkar dengan Joko Wandiro. Sebagai seorang yang cerdik, dia dapat menduga bahwa setelah menjadi murid Dibyo Mamangkoro, gadis itu telah menyimpang daripada jejak hidup orang tua dan kakeknya seperti...... seperti dia sendiri yang telah menyimpang dari jejak hidup gurunya, Empu Bharodo!
Ketika terjadi pertempuran, ia menonton dengan jantung berdebar-debar. Baru sekali ini ia menyaksikan pertandingan yang serba hebat. Dia sendiri sampai melongo dan harus mengakui bahwa kepandaiannya sendiri sama sekali tidak akan mampu menandingi seorang di antara dua orang muda itu. Hebat bukan main, sampai kabur pandang matanya, sampai pening kepalanya.

Namun kecerdikannya tidak membiarkan ia tinggal diam saja. Diam-diam Ki Jatoko telah menyiapkan jarum-jarumnya, jarum hitam yang telah menghisap banyak racun ular. Pada gebrakan terakhir ketika dua orang muda itu tadi mengadu tenaga sakti yang mengakibatkan tubuh Endang Patibroto berjungkir-balik ke belakang sampai jauh, pada hakekatnya kerugian ada di fihak Joko Wandiro. Karena pemuda ini tidak ingin melukai lawannya, maka ia menggunakan tenaga lunak dan karena inilah maka ia berada di fihak bertahan. Karena tenaga mereka berimbang, biarpun ia berhasil mengembalikan daya pukulan lawan, namun ia sendiri tergetar jantungnya dan seketika kepalanya pening, pandang matanya berputar-putar. Tampaknya ia tidak bergerak dari tempat ia berpijak, akan tetapi tubuhnya bergoyang-goyang dan kedua matanya meram. Dalam keadaan setengah pingsan ini dan selagi ia mengumpulkan tenaga mengatur napas, Ki Jatoko yang cerdik dapat melihat keadaan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dua batang jarum hitam ia sambitkan dan tepat mengenai leher kiri pemuda itu yang berseru "aduhh........!" dan roboh terguling, pingsan!
Menghadapi teguran Endang Patibroto yang bersikap dingin dan tak senang, Ki Jatoko yang cerdik tidak menjadi bingung. Ia segera melangkah maju menghadapi gadis itu dan dengan hormat dan ramah berkata,
"Nona, bukankah namamu Endang Patibroto dan engkau adalah pengawal sang prabu di Jenggala? Bukankah orang tuamu adalah Pujo dan Kartikosari yang dahulu tinggal di Bayuwismo? Aku mengenal orang tuamu baik-baik, Endang Patibroto. Aku orang dari Selopenangkep, dahulu kukenal baik Pujo, Kartikosari, bahkan Sang Resi Bhargowo. Namaku Ki Jatoko. Karena tadi kulihat pemuda lawanmu ini amat tangkas dan berbahaya, maka mengingat akan....... eh, ibumu, maka aku turun tangan membantumu. Harap kau jangan marah."
Diam-diam Endang Patibroto terkejut. Orang ini agaknya benar-benar mengenal orang tuanya baik-baik.
"Kalau kau tidak mau membunuhnya, biarlah aku yang membunuhnya agar di hari kemudian tidak akan ada gangguan lagi dari orang muda ini."
Ki Jatoko menghunus kerisnya dan menghampiri tubuh Joko Wandiro yang masih menggeletak di atas tanah.
"Jangan bunuh!" bentak Endang Patibroto dan dengan heran Ki Jatoko menahan langkahnya. Ia tidak berani membantah, maklum betapa saktinya gadis itu.
"Tanpa bantuanmu, aku tidak akan kalah olehnya. Kelak dia akan kutewaskan sendiri dengan kedua tanganku. Eh, paman buntung. Kau bilang mengenal baik ayah bundaku ada hubungan apakah antara engkau dengan ayah bundaku?"
Ki Jatoko tersenyum, lalu menarik napas panjang.
"Kuceritakan juga takkan ada yang percaya. Hubunganku amatlah erat, terutama dengan ibumu. Ada rahasia besar antara ibumu dan aku."
"Rahasia? Rahasia Apa....... ?" Endang Patibroto penasaran dan marah.
Ki Jatoko orangnya memang cerdik. Ia menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Belum tiba saatnya kututurkan kepadamu. Ada hal yang lebih penting lagi. Tahukah engkau bahwa tadi pemuda itu menyangka kau orang lain?"
Merah wajah Endang Patibroto. Bedebah, sumpahnya dalam hati. Si buntung ini agaknya melihat ketika ia dipeluk Joko Wandiro tadi. Ia tidak menjawab, hanya mendengus perlahan.
"Dia tadi sedang mencari Ayu Candra, kekasihnya, juga adik tirinya. Memang pemuda ini seorang yang tidak tahu malu, mencinta adik tiri seibu sendiri! Kekasihnya itu bernama Ayu Candra dan gadis itu adalah puteri Listyokumolo dan Adibroto.......!"
"Ahh! Dia mencari aku untuk membalas dendam karena ayah bundanya telah kubunuh!," Endang Patibroto memotong marah.

Diam-diam girang hati Ki Jatoko. Dari pertengkaran antara Joko Wandiro dan gadis ini tadi ia hanya dapat menduga-duga dan sekarang ternyata ia mendapat keterangan yang jelas. Tahulah ia kini Apa yang terjadi. Jelas bahwa Pujo telah dibunuh oleh Listyokumolo, kemudian Listyokumolo bersama Ki Adibroto dibunuh oleh gadis ini! Pantas saja bekas pukulannya pada tubuh Ki Adibroto demikian keji dan mengerikan!
"Memang begitulah, akan tetapi aku telah berhasil membujuknya sehingga ia telah ikut bersamaku, tadinya hendak kuajak dia ke Jenggala. Aku mengenal baik sang prabu di Jenggala, juga para pembantunya yang sakti banyak yang kukenal. Aku sudah berpikir untuk mengajaknya ke sana bertemu denganmu."
"Hemm, akan kubunuh dia!"
"Tidak begitu, anak yang baik. Ada hukuman yang lebih baik lagi yang tentu akan menyenangkan hatimu."
"Bagaimana?"
"Yaitu..... eh..... , dia akan kupaksa menjadi....... isteriku!"
Terbelalak sepasang mata Endang Patibroto. Ia memandang si buntung itu biarpun cuaca sudah mulai gelap, masih dapat ia melihat bentuk tubuh yang buntung kedua kakinya itu dan ia bergidik. Menjadi isteri orang ini benar-benar lebih mengerikan daripada mati!
"Mengapa aku harus menyerahkan dia kepadamu untuk kauperisteri?"
"Karena....... karena........ eh, rahasia itulah, Endang Patibroto. Kalau engkau sudah tahu akan rahasia antara ibumu dan aku, tentu kau akan dengan segala senang hati menyerahkan dia untuk menyenangkan hatiku. Kau berjanjilah, anak baik, bahwa kalau kau berhasil menangkap Ayu Candra, kau akan menyerahkannya kepadaku, tidak akan membunuhnya, untuk ditukar dengan....... rahasia itu yang tentu akan kuterangkan kepadamu. Sebelum Ayu Candra diserahkan kepadaku, biar dibunuh sekalipun, aku takkan membuka rahasia besar antara ibumu dan aku yang..... eh, ada hubungannya rapat dengan dirimu pula."

Endang Patibroto adalah seorang gadis yang masih muda dan hijau. Penuturan si buntung ini amat menarik hatinya. Apa lagi ia kini merasa seperti pernah melihat orang buntung ini, akan tetapi ia sudah lupa lagi kapan dan di mana. Tanpa terasa, saking tertarik, ia menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah, kau boleh pergi sekarang."

<<< Bagian 131                                                                                      Bagian 133 >>>

No comments:

Post a Comment