"Akupun hendak menghadap sang prabu di Jenggala. Lebih baik kita pergi bersama."
"Ihh,
siapa sudi pergi dengan seorang buntung seperti kau?" Endang Patibroto
menghardik.
"Pergilah
kau lebih dulu!"
Mendongkol
juga hati Ki Jatoko. Gadis ini terlalu sombong, akan tetapi harus ia akui bahwa
kesaktian gadis itu juga menggiriskan hati. Ia tersenyum dan pergi dari situ,
ia tidak berani menyelinap untuk mengintai karena maklum bahwa perbuatan itu
amat berbahaya dan kalau sampai diketahui, mungkin gadis yang keji dan ganas
itu sekali serang akan merampas nyawanya! Ia sudah merasa girang sekali karena
kini ia sudah tahu akan semua kejadiannya, bahkan ia tahu pula bahwa
Kartikosari dan Roro Luhito, dua orang wanita musuh besarnya itu, kini
bersembunyi di Pulau Sempu!
Dengan bantuan
kawan-kawannya di Jenggala, Apa sukarnya menyerbu ke Sempu? Ia akan membalas
dendam, ia akan membunuh mereka....... ah, tidak! Tidak akan begitu mudah. Ia
akan mempermainkan mereka, memperhina mereka sampai kedua orang wanita cantik
itu merindukan kematian. Ia akan membalas dendam sepuasnya. Akan tetapi, ia
harus mencari Ayu Candra. Kalau lebih dulu gadis yang dicintanya itu terjatuh
ke tangan Endang Patibroto, biarpun Endang sudah berjanji kepadanya untuk menukar
Ayu dengan rahasia besar, namun janji seorang gadis liar seperti Endang
Patibroto sukar untuk dipercaya. Wataknya yang begitu liar dan ganas sungguh
mengerikan. Siapa tahu kalau Ayu Candra akan dibunuhnya lebih dulu!
Sementara itu,
setelah si buntung pergi jauh, Endang Patibroto menghampiri tubuh Joko Wandiro.
Dipandangnya sosok tubuh yang rebah miring itu, kemudian ia membungkuk dan
meraba dadanya. Gadis itu menarik napas lega ketika merasa betapa jantung
pemuda itu masih berdegup normal dan pernapasannya masih biasa.
"Hemmm,
engkau manusia keji.......! Sudah tahu ayah menjodohkan kita, engkau masih
berani menyebut-nyebut nama gadis lain di depanku! Sungguh tak menghargai
orang, apakah kau merasa terlalu berharga bagiku? Huh, laki-laki sombong!"
Dengan gemas
Endang Patibroto lalu meloncat dan menghilang di dalam gelap, meninggalkan Joko
Wandiro yang masih menggeletak pingsan di tengah hutan.
Endang
Patibroto uring-uringan. Hatinya kecut dan kesal sekali. Bertubi-tubi banyak
hal yang tak menyenangkan hatinya telah terjadi, membuat kepalanya serasa
pening dan dadanya panas hampir meledak. Dengan selamat ia telah mengantarkan
Pangeran Panjirawit dan Puteri Mayagaluh pulang ke istana Jenggala. Hal pertama
yang menggemaskan hatinya terjadilah. Ia disambut dengan teguran-teguran pahit
oleh para senopati dan penjabat-penjabat tinggi, karena dianggapnya telah
membawa pangeran dan puteri itu sehingga menggelisahkan semua keluarga raja.
Karena merasa
bahwa memang terlalu lama ia mengajak pergi dua orang muda bangsawan itu dan
memang tentu saja telah menggelisahkan mereka, apalagi kalau mereka mendengar
akan pengalaman sang puteri yang amat berbahaya, maka Endang Patibroto tidak
membantah dan diam saja, biarpun hatinya menjadi panas.
Hal ke dua
yang lebih menjengkelkan hatinya menyusul. Ternyata sang prabu tidak menyambut
kedatangannya, bahkan tidak berkenan menerimanya menghadap. Menurut
desas-desus, sang prabu "sedang sibuk" dengan dua orang wanita sakti
yang sejak lama membantu Jenggala, yaitu Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang
sudah beberapa hari "dikeram" di dalam istana, bahkan selama itu sang
prabu tak pernah menampilkan diri.
"Ni
Durgogini dan Ni Nogogini tiba-tiba muncul dan aneh sekali. Kalau tadinya
mereka itu merupakan dua orang wanita cantik genit dan masih muda, sekarang,
biarpun pakaian mereka masih mewah dan sikap mereka masih genit, namun mereka
telah menjadi tua, menjadi nenek-nenek!"
"Agaknya
sang prabu amat percaya kepada mereka. Hemm, tidak akan mengherankan kalau
mereka menjadi calon pengawal-pengawal pribadi sang prabu!"
"Memang
mereka itu sakti mandraguna!"
"Bukan
itu saja, juga ada berita angin yang mengabarkan bahwa mereka itu...... ,
hemm....... amat pandai merayu hati pria!"
Demikianlah
ucapan-ucapan dari para pengawal yang memasuki telinga Endang Patibroto.
Sungguhpun tidak ada seorang juga yang berani menyatakan bahwa kedudukannya
digeser atau direbut dua orang wanita itu, namun di dalam hatinya ia merasa
dikesampingkan oleh sang prabu. Kejengkelan hati Endang Patibroto membuat ia
pergi tanpa pamit! Ia pergi seorang diri tanpa menunggang kuda dan akhirnya
tiba di Bukit Anjasmoro di mana ia secara kebetulan bertemu dengan Joko
Wandiro!
Mula-mula
ketika ia dipeluk dari belakang dan diciumi rambutnya, semacam perasaan aneh
yang tak pernah dirasakannya, yang membuat jantungnya berdebar, melemaskan
seluruh tubuhnya dan ia merasa nikmat luar biasa ketika ia menyandarkan
kepalanya di atas dada yang bidang itu. Dada Joko Wandiro. Dada pria yang oleh
ayahnya telah dicalonkan menjadi suaminya! Akan tetapi, perkembangan
selanjutnya makin menjengkelkan hatinya. Pertandingannya dengan Joko Wandiro,
kenyataan bahwa ia tak mampu mengalahkan pemuda itu, menambah kejengkelan dan
penasaran hatinya. Kemudian melihat betapa Ki Jatoko si buntung itu merobohkan
Joko Wandiro secara curang, semua ini membuat Endang Patibroto uring-uringan
dan marah-marah. Ingin ia menumpahkan kemarahannya itu, akan tetapi kepada
siapa? Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendatangi dan tampaklah belasan
orang penunggang kuda. Endang Patibroto hendak pergi, akan tetapi terdengar
teriakan yang sudah dikenalnya,
"Endang.......!
Endang Patibroto.........!"
Itulah suara
Pangeran Panjirawit! Endang Patibroto ragu-ragu, kemudian mengambil keputusan
untuk menanti dan mendengarkan apa yang hendak dikatakan pangeran yang menjadi
sahabat baiknya itu. Kalau ia sudah tak terpakai lagi di Jenggala, mau apa
Pangeran Panjirawit menyusulnya? Ia tidak akan mudah dibujuk dengan kata-kata
halus, biar oleh Pangeran Panjirawit sekalipun!
Benar
dugaannya. Yang datang adalah Pangeran Panjirawit bersama empat orang pangeran
lain dan para pengawal. Begitu melompat turun dari atas kuda, Pangeran
Panjirawit lari menghampiri Endang Patibroto dan memegang tangannya.
"Endang,
kenapa engkau pergi? Engkau harus menolong kami, harus menolong kanjeng
rama!" kata Pangeran Panjirawit dengan napas terengah-engah. Juga empat
orang pangeran yang lain maju pula membujuk. Endang Patibroto tersenyum
mengejek dan pandang matanya dingin menyapu para pangeran itu.
"Hemm,"
katanya kemudian dengan suara dingin,
"aku
sudah tidak diperlukan lagi, mengapa paduka sekalian menyusul? Kalau ada urusan
penting, bukankah di sana sudah ada dua orang wanita sakti yaitu Ni Durgogini
dan Ni Nogogini? Sang prabu sama sekali tidak lagi membutuhkan bantuanku!"
"Ah,
Endang, engkau sama sekali tidak tahu! Jangan kau menduga yang tidak-tidak
terhadap kanjeng rama. Beliau sama sekali bukan tidak menghargai atau
membutuhkan bantuanmu lagi. Bahkan sebaliknya, saat ini beliau dan kami semua
amat membutuhkan bantuanmu."
"Hemm,
ada perkara apakah, Gusti Pangeran Panjirawit?"
"Endang,
menurut hasil para ponggawa setia yang melakukan penyelidikan, ternyata
orang-orang sakti yang katanya membantu kanjeng rama, termasuk Ni Durgogini, Ni
Nogogini, Cekel Aksomolo, Warok Gendroyono, Ki Krendroyakso, dan sekarang
ditambah lagi dengan seorang brahmana tua yang amat sakti bernama Bhagawan
Kundolomuko yang katanya adalah ayah dari Ni Durgogini dan Ni Nogogini,
mengadakan persekutuan busuk untuk merampas Kerajaan Jenggala!"
Seketika
perhatian Endang Patibroto tertarik dan lenyaplah kekeruhan wajahnya.
"Apa
maksud paduka? Harap ceritakan yang jelas."
"Mereka
itu bersekutu dengan Adipati Jagalmanik yang menjadi raja muda di Nusabarung,
sebuah pulau di Laut Selatan. Sekarang Ni Durgogini dan Ni Nogogini telah
berhasil mempengaruhi kanjeng rama, hal ini termasuk siasat yang mereka
rencanakan. Karena kami tidak berani mengganggu kanjeng rama sedangkan tidak
ada senopati atau pengawal yang kiranya dapat menanggulangi kesaktian dua orang
wanita iblis itu, maka harap kau suka membantu kami. Masuklah ke taman sari dan
tangkaplah Ni Durgogini dan Ni Nogogini, Endang."
"Bagaimana
nanti kalau sang prabu marah kepada hamba?" Endang Patibroto meragu.
"Kami
yang bertanggung jawab kalau rama prabu marah," kata Pangeran Panjirawit.
"Kanjeng
rama sudah lupa segala, tidak pernah bersidang dan tidak pernah mau bertemu
dengan siapapun juga. Kami semua khawatir sekali," kata seorang pangeran
lain.
"Baiklah.
Hamba akan menghadapi dua orang nenek-nenek iblis itu. Para pengawal lain dan
juga paduka sekalian harap jangan turut campur."
Setelah
berkata demikian, sekali tubuhnya berkelebat Endang Patibroto sudah lenyap dari
depan mereka, membuat para pangeran dan pengawal, kecuali Pangeran Panjirawit
yang merasa bangga, menjadi terlongong keheranan dan hati penuh kagum. Mereka
lalu beramai-ramai pulang ke Jenggala.
Sebelum
rombongan Pangeran Panjirawit ini tiba di istana Jenggala, pada senja hari itu
terjadi peristiwa hebat di dalam taman sari keraton Jenggala. Pada senja hari
itu, di taman sari yang indah itu sunyi sekali, sesunyi tanah kuburan. Semenjak
Ni Durgogini dan Ni Nogogini berada di dalam keraton, semua pengawal yang
menjaga taman sari, juga para emban pelayan, ditiadakan. Taman sari itu sunyi dan
penuh dengan getaran hawa yang aneh, akan tetapi bagi sang prabu, agaknya
merupakan sebuah taman Indraloka, surga yang penuh keindahan. Ditemani dua
orang wanita itu, sang prabu merasa seakan-akan hidup di taman surga dikawani
dua orang bidadari kahyangan yang cantik jelita! Ketika Endang Patibroto
menyusup memasuki taman sari mempergunakan aji kesaktiannya sehingga tidak
menimbulkan suara dan tidak diketahui oleh tiga orang yang berada di taman
sari, gadis ini segera dapat melihat bahwa di dalam taman sari telah terjadi
hal-hal yang bukan sewajarnya. Hawa dingin penuh getaran kuat dirasainya dan ia
maklum bahwa dua orang wanita iblis itu mempergunakan aji yang dahsyat dan
memiliki pengaruh yang amat kuat. Ketika ia mengintai, makin jelaslah dan makin
yakinlah hatinya bahwa sang prabu berada di dalam cengkeraman kedua orang iblis
betina itu yang mempergunakan aji guna-guna yang memabokkan dan mempesona sang
prabu.
Ia melihat
betapa sang prabu sedang duduk setengah berbaring di sebuah bangku panjang. Ni
Durgogini berlutut dan memijiti kedua kaki sang prabu, sedangkan Ni Nogogini
menuangkan minuman keras dan memberi minum sang prabu dengan sikap genit
sekali. Dengan gaya memikat ketika memberi minum, ia sengaja merapatkan dadanya
pada pipi sang prabu. Juga Ni Durgogini memijat sambil mengusap-usap dan
membelai mesra. Sang prabu kelihatan senang dan wajahnya amat pucat, pipinya
cekung, sekitar matanya menghitam, dan mata itu sendiri setengah dipejamkan.
"Sayang
tidak sejak dahulu kalian melayani aku semanis ini, manis!" kata sang
prabu sambil membuang napas lega setelah minum, kemudian merebahkan kepala di
atas pangkuan Ni Nogogini!
Endang
Patibroto memandang dengan kedua pipi berubah merah. Belum pernah ia
menyaksikan orang bermesra-mesraan dan bermain cinta, maka kini jantungnya
berdebar dan mukanya merah. Akan tetapi saking herannya ia sejenak tak bergerak
seperti arca. Jelas tampak olehnya betapa perubahan besar terjadi pada wajah
kedua orang wanita itu. Dahulu mereka cantik molek dan kelihatan masih muda, takkan
lebih dari tiga puluh tahun usia mereka. Akan tetapi sekarang telah menjadi
nenek-nenek yang peyot dan keriputan, nenek-nenek yang pantasnya berusia enam
puluh tahun! Ia tidak tahu bahwa kedua orang wanita ini kehilangan daya ampuh
obat Suket Sungsang setelah terkena pukulan tangan Joko Wandiro. Yang membuat
Endang Patibroto terheran-heran adalah sikap sang prabu. Agaknya sang prabu
tidak menganggap mereka itu buruk dan tua! Hemm, pasti terkena ilmu guna-guna
yang amat kuat, pikir Endang Patibroto.
Dugaan gadis
sakti ini memang benar. Kedua orang wanita itu boleh jadi kehilangan daya obat
muda Suket Sungsang, namun mereka sama sekali tidak pernah kehilangan aji
kesaktian mereka. Setelah mereka dikalahkan Joko Wandiro dan dibikin badar
sehingga menjadi tua, mereka lari mencari ayah mereka yang bertapa di hutan
Gumuk-mas dekat pantai selatan dari mana Pulau Nusabarung sudah tampak.
Ternyata kemudian bahwa ayah mereka, Bhagawan Kundolomuko, telah bersekutu
dengan sahabatnya, Sang Adipati Jagalmanik dari Nusabarung untuk menguasai
Kerajaan Jenggala yang mereka anggap lemah. Setelah mengadakan persekutuan
dengan para pembantu sakti dari Jenggala dengan perantaraan Ni Durgogini dan Ni
Nogogini, kedua orang wanita ini lalu mendekati sang prabu dan menjalankan siasat
komplotan mereka, yaitu mempengaruhi sang prabu di Jenggala sehingga jatuh di
bawah kekuatan mereka. Secara kebetulan sekali kepala pengawal yang mereka
segani, Endang Patibroto, sedang pergi bersama Pangeran Panjirawit dan Puteri
Mayagaluh, maka usaha kedua nenek ini dapat dilaksanakan dengan lancar. Dengan
aji pengasihan Guno Asmoro, dengan mudah sang prabu dibuat tak berdaya dan
tergila-gila kepada dua orang nenek yang dalam pandangan sang prabu seakan-akan
dua orang bidadari cantik jelita itu.
No comments:
Post a Comment