Badai Laut Selatan ; Bagian 133


"Akupun hendak menghadap sang prabu di Jenggala. Lebih baik kita pergi bersama."
"Ihh, siapa sudi pergi dengan seorang buntung seperti kau?" Endang Patibroto menghardik.
"Pergilah kau lebih dulu!"
Mendongkol juga hati Ki Jatoko. Gadis ini terlalu sombong, akan tetapi harus ia akui bahwa kesaktian gadis itu juga menggiriskan hati. Ia tersenyum dan pergi dari situ, ia tidak berani menyelinap untuk mengintai karena maklum bahwa perbuatan itu amat berbahaya dan kalau sampai diketahui, mungkin gadis yang keji dan ganas itu sekali serang akan merampas nyawanya! Ia sudah merasa girang sekali karena kini ia sudah tahu akan semua kejadiannya, bahkan ia tahu pula bahwa Kartikosari dan Roro Luhito, dua orang wanita musuh besarnya itu, kini bersembunyi di Pulau Sempu!
Dengan bantuan kawan-kawannya di Jenggala, Apa sukarnya menyerbu ke Sempu? Ia akan membalas dendam, ia akan membunuh mereka....... ah, tidak! Tidak akan begitu mudah. Ia akan mempermainkan mereka, memperhina mereka sampai kedua orang wanita cantik itu merindukan kematian. Ia akan membalas dendam sepuasnya. Akan tetapi, ia harus mencari Ayu Candra. Kalau lebih dulu gadis yang dicintanya itu terjatuh ke tangan Endang Patibroto, biarpun Endang sudah berjanji kepadanya untuk menukar Ayu dengan rahasia besar, namun janji seorang gadis liar seperti Endang Patibroto sukar untuk dipercaya. Wataknya yang begitu liar dan ganas sungguh mengerikan. Siapa tahu kalau Ayu Candra akan dibunuhnya lebih dulu!

Sementara itu, setelah si buntung pergi jauh, Endang Patibroto menghampiri tubuh Joko Wandiro. Dipandangnya sosok tubuh yang rebah miring itu, kemudian ia membungkuk dan meraba dadanya. Gadis itu menarik napas lega ketika merasa betapa jantung pemuda itu masih berdegup normal dan pernapasannya masih biasa.
"Hemmm, engkau manusia keji.......! Sudah tahu ayah menjodohkan kita, engkau masih berani menyebut-nyebut nama gadis lain di depanku! Sungguh tak menghargai orang, apakah kau merasa terlalu berharga bagiku? Huh, laki-laki sombong!"
Dengan gemas Endang Patibroto lalu meloncat dan menghilang di dalam gelap, meninggalkan Joko Wandiro yang masih menggeletak pingsan di tengah hutan.
Endang Patibroto uring-uringan. Hatinya kecut dan kesal sekali. Bertubi-tubi banyak hal yang tak menyenangkan hatinya telah terjadi, membuat kepalanya serasa pening dan dadanya panas hampir meledak. Dengan selamat ia telah mengantarkan Pangeran Panjirawit dan Puteri Mayagaluh pulang ke istana Jenggala. Hal pertama yang menggemaskan hatinya terjadilah. Ia disambut dengan teguran-teguran pahit oleh para senopati dan penjabat-penjabat tinggi, karena dianggapnya telah membawa pangeran dan puteri itu sehingga menggelisahkan semua keluarga raja.
Karena merasa bahwa memang terlalu lama ia mengajak pergi dua orang muda bangsawan itu dan memang tentu saja telah menggelisahkan mereka, apalagi kalau mereka mendengar akan pengalaman sang puteri yang amat berbahaya, maka Endang Patibroto tidak membantah dan diam saja, biarpun hatinya menjadi panas.
Hal ke dua yang lebih menjengkelkan hatinya menyusul. Ternyata sang prabu tidak menyambut kedatangannya, bahkan tidak berkenan menerimanya menghadap. Menurut desas-desus, sang prabu "sedang sibuk" dengan dua orang wanita sakti yang sejak lama membantu Jenggala, yaitu Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang sudah beberapa hari "dikeram" di dalam istana, bahkan selama itu sang prabu tak pernah menampilkan diri.
"Ni Durgogini dan Ni Nogogini tiba-tiba muncul dan aneh sekali. Kalau tadinya mereka itu merupakan dua orang wanita cantik genit dan masih muda, sekarang, biarpun pakaian mereka masih mewah dan sikap mereka masih genit, namun mereka telah menjadi tua, menjadi nenek-nenek!"
"Agaknya sang prabu amat percaya kepada mereka. Hemm, tidak akan mengherankan kalau mereka menjadi calon pengawal-pengawal pribadi sang prabu!"
"Memang mereka itu sakti mandraguna!"
"Bukan itu saja, juga ada berita angin yang mengabarkan bahwa mereka itu...... , hemm....... amat pandai merayu hati pria!"
Demikianlah ucapan-ucapan dari para pengawal yang memasuki telinga Endang Patibroto. Sungguhpun tidak ada seorang juga yang berani menyatakan bahwa kedudukannya digeser atau direbut dua orang wanita itu, namun di dalam hatinya ia merasa dikesampingkan oleh sang prabu. Kejengkelan hati Endang Patibroto membuat ia pergi tanpa pamit! Ia pergi seorang diri tanpa menunggang kuda dan akhirnya tiba di Bukit Anjasmoro di mana ia secara kebetulan bertemu dengan Joko Wandiro!

Mula-mula ketika ia dipeluk dari belakang dan diciumi rambutnya, semacam perasaan aneh yang tak pernah dirasakannya, yang membuat jantungnya berdebar, melemaskan seluruh tubuhnya dan ia merasa nikmat luar biasa ketika ia menyandarkan kepalanya di atas dada yang bidang itu. Dada Joko Wandiro. Dada pria yang oleh ayahnya telah dicalonkan menjadi suaminya! Akan tetapi, perkembangan selanjutnya makin menjengkelkan hatinya. Pertandingannya dengan Joko Wandiro, kenyataan bahwa ia tak mampu mengalahkan pemuda itu, menambah kejengkelan dan penasaran hatinya. Kemudian melihat betapa Ki Jatoko si buntung itu merobohkan Joko Wandiro secara curang, semua ini membuat Endang Patibroto uring-uringan dan marah-marah. Ingin ia menumpahkan kemarahannya itu, akan tetapi kepada siapa? Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendatangi dan tampaklah belasan orang penunggang kuda. Endang Patibroto hendak pergi, akan tetapi terdengar teriakan yang sudah dikenalnya,
"Endang.......! Endang Patibroto.........!"
Itulah suara Pangeran Panjirawit! Endang Patibroto ragu-ragu, kemudian mengambil keputusan untuk menanti dan mendengarkan apa yang hendak dikatakan pangeran yang menjadi sahabat baiknya itu. Kalau ia sudah tak terpakai lagi di Jenggala, mau apa Pangeran Panjirawit menyusulnya? Ia tidak akan mudah dibujuk dengan kata-kata halus, biar oleh Pangeran Panjirawit sekalipun!

Benar dugaannya. Yang datang adalah Pangeran Panjirawit bersama empat orang pangeran lain dan para pengawal. Begitu melompat turun dari atas kuda, Pangeran Panjirawit lari menghampiri Endang Patibroto dan memegang tangannya.
"Endang, kenapa engkau pergi? Engkau harus menolong kami, harus menolong kanjeng rama!" kata Pangeran Panjirawit dengan napas terengah-engah. Juga empat orang pangeran yang lain maju pula membujuk. Endang Patibroto tersenyum mengejek dan pandang matanya dingin menyapu para pangeran itu.
"Hemm," katanya kemudian dengan suara dingin,
"aku sudah tidak diperlukan lagi, mengapa paduka sekalian menyusul? Kalau ada urusan penting, bukankah di sana sudah ada dua orang wanita sakti yaitu Ni Durgogini dan Ni Nogogini? Sang prabu sama sekali tidak lagi membutuhkan bantuanku!"
"Ah, Endang, engkau sama sekali tidak tahu! Jangan kau menduga yang tidak-tidak terhadap kanjeng rama. Beliau sama sekali bukan tidak menghargai atau membutuhkan bantuanmu lagi. Bahkan sebaliknya, saat ini beliau dan kami semua amat membutuhkan bantuanmu."
"Hemm, ada perkara apakah, Gusti Pangeran Panjirawit?"
"Endang, menurut hasil para ponggawa setia yang melakukan penyelidikan, ternyata orang-orang sakti yang katanya membantu kanjeng rama, termasuk Ni Durgogini, Ni Nogogini, Cekel Aksomolo, Warok Gendroyono, Ki Krendroyakso, dan sekarang ditambah lagi dengan seorang brahmana tua yang amat sakti bernama Bhagawan Kundolomuko yang katanya adalah ayah dari Ni Durgogini dan Ni Nogogini, mengadakan persekutuan busuk untuk merampas Kerajaan Jenggala!"
Seketika perhatian Endang Patibroto tertarik dan lenyaplah kekeruhan wajahnya.
"Apa maksud paduka? Harap ceritakan yang jelas."
"Mereka itu bersekutu dengan Adipati Jagalmanik yang menjadi raja muda di Nusabarung, sebuah pulau di Laut Selatan. Sekarang Ni Durgogini dan Ni Nogogini telah berhasil mempengaruhi kanjeng rama, hal ini termasuk siasat yang mereka rencanakan. Karena kami tidak berani mengganggu kanjeng rama sedangkan tidak ada senopati atau pengawal yang kiranya dapat menanggulangi kesaktian dua orang wanita iblis itu, maka harap kau suka membantu kami. Masuklah ke taman sari dan tangkaplah Ni Durgogini dan Ni Nogogini, Endang."
"Bagaimana nanti kalau sang prabu marah kepada hamba?" Endang Patibroto meragu.
"Kami yang bertanggung jawab kalau rama prabu marah," kata Pangeran Panjirawit.
"Kanjeng rama sudah lupa segala, tidak pernah bersidang dan tidak pernah mau bertemu dengan siapapun juga. Kami semua khawatir sekali," kata seorang pangeran lain.
"Baiklah. Hamba akan menghadapi dua orang nenek-nenek iblis itu. Para pengawal lain dan juga paduka sekalian harap jangan turut campur."
Setelah berkata demikian, sekali tubuhnya berkelebat Endang Patibroto sudah lenyap dari depan mereka, membuat para pangeran dan pengawal, kecuali Pangeran Panjirawit yang merasa bangga, menjadi terlongong keheranan dan hati penuh kagum. Mereka lalu beramai-ramai pulang ke Jenggala.

Sebelum rombongan Pangeran Panjirawit ini tiba di istana Jenggala, pada senja hari itu terjadi peristiwa hebat di dalam taman sari keraton Jenggala. Pada senja hari itu, di taman sari yang indah itu sunyi sekali, sesunyi tanah kuburan. Semenjak Ni Durgogini dan Ni Nogogini berada di dalam keraton, semua pengawal yang menjaga taman sari, juga para emban pelayan, ditiadakan. Taman sari itu sunyi dan penuh dengan getaran hawa yang aneh, akan tetapi bagi sang prabu, agaknya merupakan sebuah taman Indraloka, surga yang penuh keindahan. Ditemani dua orang wanita itu, sang prabu merasa seakan-akan hidup di taman surga dikawani dua orang bidadari kahyangan yang cantik jelita! Ketika Endang Patibroto menyusup memasuki taman sari mempergunakan aji kesaktiannya sehingga tidak menimbulkan suara dan tidak diketahui oleh tiga orang yang berada di taman sari, gadis ini segera dapat melihat bahwa di dalam taman sari telah terjadi hal-hal yang bukan sewajarnya. Hawa dingin penuh getaran kuat dirasainya dan ia maklum bahwa dua orang wanita iblis itu mempergunakan aji yang dahsyat dan memiliki pengaruh yang amat kuat. Ketika ia mengintai, makin jelaslah dan makin yakinlah hatinya bahwa sang prabu berada di dalam cengkeraman kedua orang iblis betina itu yang mempergunakan aji guna-guna yang memabokkan dan mempesona sang prabu.
Ia melihat betapa sang prabu sedang duduk setengah berbaring di sebuah bangku panjang. Ni Durgogini berlutut dan memijiti kedua kaki sang prabu, sedangkan Ni Nogogini menuangkan minuman keras dan memberi minum sang prabu dengan sikap genit sekali. Dengan gaya memikat ketika memberi minum, ia sengaja merapatkan dadanya pada pipi sang prabu. Juga Ni Durgogini memijat sambil mengusap-usap dan membelai mesra. Sang prabu kelihatan senang dan wajahnya amat pucat, pipinya cekung, sekitar matanya menghitam, dan mata itu sendiri setengah dipejamkan.
"Sayang tidak sejak dahulu kalian melayani aku semanis ini, manis!" kata sang prabu sambil membuang napas lega setelah minum, kemudian merebahkan kepala di atas pangkuan Ni Nogogini!
Endang Patibroto memandang dengan kedua pipi berubah merah. Belum pernah ia menyaksikan orang bermesra-mesraan dan bermain cinta, maka kini jantungnya berdebar dan mukanya merah. Akan tetapi saking herannya ia sejenak tak bergerak seperti arca. Jelas tampak olehnya betapa perubahan besar terjadi pada wajah kedua orang wanita itu. Dahulu mereka cantik molek dan kelihatan masih muda, takkan lebih dari tiga puluh tahun usia mereka. Akan tetapi sekarang telah menjadi nenek-nenek yang peyot dan keriputan, nenek-nenek yang pantasnya berusia enam puluh tahun! Ia tidak tahu bahwa kedua orang wanita ini kehilangan daya ampuh obat Suket Sungsang setelah terkena pukulan tangan Joko Wandiro. Yang membuat Endang Patibroto terheran-heran adalah sikap sang prabu. Agaknya sang prabu tidak menganggap mereka itu buruk dan tua! Hemm, pasti terkena ilmu guna-guna yang amat kuat, pikir Endang Patibroto.

Dugaan gadis sakti ini memang benar. Kedua orang wanita itu boleh jadi kehilangan daya obat muda Suket Sungsang, namun mereka sama sekali tidak pernah kehilangan aji kesaktian mereka. Setelah mereka dikalahkan Joko Wandiro dan dibikin badar sehingga menjadi tua, mereka lari mencari ayah mereka yang bertapa di hutan Gumuk-mas dekat pantai selatan dari mana Pulau Nusabarung sudah tampak. Ternyata kemudian bahwa ayah mereka, Bhagawan Kundolomuko, telah bersekutu dengan sahabatnya, Sang Adipati Jagalmanik dari Nusabarung untuk menguasai Kerajaan Jenggala yang mereka anggap lemah. Setelah mengadakan persekutuan dengan para pembantu sakti dari Jenggala dengan perantaraan Ni Durgogini dan Ni Nogogini, kedua orang wanita ini lalu mendekati sang prabu dan menjalankan siasat komplotan mereka, yaitu mempengaruhi sang prabu di Jenggala sehingga jatuh di bawah kekuatan mereka. Secara kebetulan sekali kepala pengawal yang mereka segani, Endang Patibroto, sedang pergi bersama Pangeran Panjirawit dan Puteri Mayagaluh, maka usaha kedua nenek ini dapat dilaksanakan dengan lancar. Dengan aji pengasihan Guno Asmoro, dengan mudah sang prabu dibuat tak berdaya dan tergila-gila kepada dua orang nenek yang dalam pandangan sang prabu seakan-akan dua orang bidadari cantik jelita itu.

<<< Bagian 132                                                                                     Bagian 134 >>>

No comments:

Post a Comment