Biarpun keturunan langsung Sang Prabu Airlangga yang sakti mandraguna, namun Raja Jenggala ini sejak mudanya sudah menjadi hamba nafsunya dan bergaul dengan orang-orang yang tidak suci, maka mudah saja terkena pengaruh aji pengasihan yang amat ampuh itu. Ketika melihat betapa Ni Durgogini memeluk pinggang sang prabu sedangkan Ni Nogogini mencium pipinya, Endang Patibroto tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia melompat keluar sambil menepuk kedua tangannya dengan pengerahan Aji Wisangnoio dibarengi pekik sakti Sardulo Bairowo yang amat dahsyat. Kedua tangannya mengeluarkan suara seperti halilintar menyambar disambung pekiknya yang memekakkan telinga. Hebat bukan main aji kesaktian gadis ini. Mendengar suara yang amat dahsyat itu, seketika sirna pengaruh aji pengasihan Guno Asmoro yang mencengkeram ingatan dan hati sang prabu. Seketika sang prabu menjadi sadar dan memandang dengan mata terbelalak kepada dua orang nenek itu, kemudian ia menjerit dan roboh pingsan di atas bangku!
Ni Durgogini
dan Ni Nogogini terkejut setengah mati ketika melihat munculnya Endang
Patibroto. Mereka tadinya sudah merasa berhasil dan aman. Setelah sang prabu
dikuasai, siapa lagi berani mengganggu? Sama sekali tidak mereka sangka bahwa
gadis ini sedemikian beraninya memasuki taman sari tanpa ijin sri baginda!
Mereka berdua marah sekali, akan tetapi karena mereka maklum bahwa murid Dibyo
Mamangkoro ini sama sekali tidak boleh dibuat main-main, mereka yang cerdik
menahan kemarahannya dan mengambil sikap lunak.
"Ah,
kiranya adinda kepala pengawal yang datang. Apakah sebabnya adinda mengganggu
kami berdua yang sedang menghibur sang prabu?" bertanya Ni Durgogini
dengan suara merdu dan halus.
"Ah,
adinda sungguh main-main sehingga membuat sang prabu jatuh pingsan," Ni
Nogogini juga menegur dengan suara halus.
Endang
Patibroto membanting kakinya. Cih, perempuan-perempuan tua bangka tak tahu
malu, menyebutnya adinda segala! Mereka itu patut menjadi neneknya! Ia
tersenyum mengejek ketika berkata,
"Kalian
tak usah bersandiwara lagi, karena aku sudah tahu betapa kalian menjadi kaki
tangan Adipati Jagalmanik di Nusabarung dan bertugas menguasai sang
prabu."
Seketika pucat
wajah Ni Durgogini dan Ni Nogogini dan secara tak sadar tangan mereka sudah
meraba gagang senjata masing-masing. Namun Ni Durgogini masih bersiasat dan
berkata dengan suara penuh bujukan,
"Endang
Patibroto, terhadap seorang gadis sakti mandraguna dan cerdik pandai seperti
engkau, memang tak perlu lagi kami bersandiwara. Memang Apa yang kaukatakan tadi
benar. Akan tetapi, siapa pula orangnya yang sudi menghambakan diri kepada raja
yang lemah ini? Kerajaan Jenggala amat lemah dan sudah pasti akan dicaplok
Kerajaan Panjalu yang jauh lebih kuat. Kecuali kalau Jenggala berada di bawah
pimpinan seorang yang kuat dan pandai seperti Adipati Jagalmanik, barulah dapat
menghadapi Panjalu. Endang Patibroto, berpikirlah cerdik dan kiranya gurumu,
paman Dibyo Mamangkoro juga akan sependapat dengan kami. Kalau kau membantu
Adipati di Nusabarung, kelak engkau tentu akan mendapatkan kemuliaan dan......
"
"Cukup!
Tutup mulutmu yang beracun! Siapa sudi bersekutu dengan manusia-manusia rendah
macam kalian? Saat ini kematian telah menanti kalian, kematian kalian sudah
sejak dahulu kuidam-idamkan harus jatuh di tanganku!"
Dua orang
wanita itu melompat bangun dan senjata mereka sudah berada di tangan. Ni
Durgogini sudah mencabut senjatanya yang dahsyat, yaitu cambuk yang bernama
pecut sakti Sarpokenoko. Sedangkan Ni Nogogini juga sudah mencabut keluar
cundriknya yang ampuh dan mengeluarkan cahaya berkilat, yaitu cundrik
Embun-sumilir!
"Babo-babo,
keparat Endang Patibroto! Sumbarmu seperti di dunia ini hanya engkau seorang
wanita sakti! Jangan dikira bahwa kami takut menghadapimu. Hanya karena melihat
engkau masih muda dan murid paman Dibyo Mamangkoro maka kami masih bersikap
sabar dan mengajakmu bekerja sama. Akan tetapi kalau engkau nekat menantang
yuda, jangan mengira kami akan undur setapakpun. Hanya sebelumnya, katakanlah
mengapa engkau menghendaki kematian kami di tanganmu."
Senyum yang
menghias mulut yang indah bentuknya itu melebar sehingga tampak deretan gigi
putih berkilauan.
"Ni
Durgogini dan Ni Nogogini, coba kalian ingat baik-baik, Apa yang kalian lakukan
belasan tahun yang lalu di Pulau Sempu?"
Dua orang
nenek itu saling pandang, kemudian Ni Durgogini memandang gadis itu dengan
heran.
"Di Pulau
Sempu? Kami hanya satu kali mengunjungi Pulau Sempu, sebagai utusan sang prabu
yang dahulu masih Pangeran Anom. Kami dan rombongan mencari pusaka Mataram yang
hilang."
"Bagus
kalau kalian masih ingat, kalian takkan mati penasaran. Tentu masih ingat akan
perbuatan kalian mengeroyok Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo? Dengarlah,
aku adalah cucunya"
"Aiiihhhh.....!"
Ni Durgogini berteriak.
"Tapi
kenapa kau di Jenggala........ ?"
Ni Nogogini
berseru pula, akan tetapi karena kedua orang wanita itu kini maklum bahwa
pertandingan mati-matian tak dapat dicegah lagi, mereka berdua sudah menerjang
maju sambil menggerakkan senjata masing-masing. Pecut Sarpokenoko di tangan Ni
Durgogini menyambar-nyambar dan meledak-ledak di atas kepala Endang Patibroto
seperti petir dan mengeluarkan hawa panas sekali, sedangkan cundrik
Embun-sumilir di tangan Ni Nogogini berubah menjadi gulungan sinar kemilau yang
mengeluarkan hawa dingin.
"Tar-tar-tar-tar.......!!"
Cambuk itu meledak-ledak.
"Wuuut.......
siuuuutttt......!" Cundrik Embun-sumilir menyambar-nyambar.
Endang
Patibroto maklum bahwa kedua orang lawannya ini bukan orang sembarangan
sedangkan senjata-senjata merekapun merupakan pusaka-pusaka ampuh. Namun ia tak
mau mencabut Ki Brojol Luwuk. Gurunya yang merasa ngeri melihat keris pusaka
Mataram itu berpesan agar dia tak menggunakan pusaka itu kalau tidak terlalu
terpaksa dan Endang Patibroto adalah seorang gadis perkasa yang amat percaya
kepada diri sendiri. Ia merasa sanggup menghadapi dua orang wanita ini, maka ia
menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong. Tubuhnya berkelebat cepat sekali
sehingga kadang-kadang ia lenyap dari pandangan kedua orang lawannya. Gadis ini
telah mainkan ilmu gerak walet dan camar. Tubuhnya demikian ringan dan gesit
sehingga ketika mengelak dan meloncat ke sana ke mari tiada ubahnya seekor
burung beterbangan saja.
Sesungguhnya
Ni Durgogini dan Ni Nogogini bukanlah wanita biasa saja. Di waktu mereka masih
remaja puteri, mereka telah menerima gemblengan ilmu dari ayah mereka yang
sakti, yaitu Bhagawan Kundolomuko yang dahulu tinggal di pantai Selat Bali.
Biarpun waktu itu mereka hanya mewarisi sebagian kecil ilmu ayahnya, namun
mereka sudah termasuk wanita-wanita digdaya. Kemudian, ketika Sang Prabu
Airlangga yang ketika itu masih seorang pangeran yang melakukan perantauan dari
Bali ke Pulau Jawa, dikawani sahabatnya yang setia Narotama, dua orang pria
muda ini bertemulah dengan Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang ketika itu masih
bernama Ni Lasmini dan Ni Mandari. Terjalinlah cinta kasih antara mereka yang
menciptakan janji.
Setelah Sang
Prabu Airlangga menjadi raja di Kahuripan dan Narotama menjadi patihnya, kedua
orang wanita cantik dari Selat Bali itu dijemput. Ni Mandari menjadi selir Sang
Prabu Airlangga, sedangkan Ni Lasmini menjadi selir Ki Patih Narotama. Mereka
berdua begitu cantik jelita, begitu pandai memikat hati pria sehingga baik Sang
Prabu Airlangga maupun Ki Patih Narotama amat sayang kepada selir dari Selat
Bali ini dan berkenan menurunkan beberapa ilmu kesaktian dan petunjuk.
Namun sebagai
orang-orang waspada, mereka melihat dasar-dasar watak yang kurang bersih pada
diri selir-selir ini maka yang diturunkan hanya sekedarnya saja. Betapapun
juga, tambahan ilmu dari dua orang ini telah membuat Ni Lasmini dan Ni Mandari
menjadi wanita-wanita sakti. Setelah dua orang selir itu kemudian diusir karena
keduanya tidak setia dan bermain gila dengan pangeran-pangeran muda, Ni Lasmini
berganti nama menjadi Ni Durgogini dan bertapa di puncak Girilimut sedangkan Ni
Mandari, adiknya, pergi ke pantai selatan dan berganti nama Ni Nogogini. Tentu
saja setelah bertapa, ilmu kepandaian mereka makin menjadi hebat. Akan tetapi,
selama puluhan tahun ini baru dua kali Ni Durgogini dan Ni Nogogini benar-benar
kecelik dan terpukul. Pertama ketika mereka menghadapi Joko Wandiro yang sudah
mewarisi ilmu kesaktian Ki Patih Narotama. Ke dua adalah sekarang ini ketika
mereka mengeroyok Endang Patibroto yang telah mewarisi ilmu kesaktian Dibyo
Mamangkoro. Biarpun mereka berdua menyerang dengan senjata pusaka di tangan,
sedangkan Endang Patibroto menghadapi mereka dengan tangan kosong, namun
setelah lewat tiga puluh jurus, kedua orang nenek itu mulai terdesak hebat! Hal
ini adalah karena selain menggunakan keringanan tubuhnya yang hebat, yang
membuat ia mampu "berjalan" di atas permukaan air mempergunakan
mancung kelapa, juga Endang Patibroto mulai membalas dengan pukulan-pukulan
jarak jauh, yaitu Aji Wisangnolo. Hawa pukulan Aji Wisangnolo ini demikian
ampuhnya sehingga kedua orang wanita tua yang mengeroyoknya beberapa kali
terdorong mundur kepanasan, bahkan ujung cambuk Sarpokenoko setiap kali bertemu
dengan hawa pukulan Wisangnolo membalik dan melecut pemegangnya sendiri! Dua
orang wanita itu selain kaget juga makin marah dan penasaran. Biarpun menjadi
murid Dibyo Mamangkoro, gadis ini masih amat muda, patut menjadi cucu mereka!
Masa mereka yang telah matang dalam pengalaman ini tidak mampu mengalahkannya.
Tiba-tiba Ni Durgogini mengeluarkan pekik melengking nyaring, juga Ni Nogogini
menjerit keras, keduanya lalu menerjang dengan nekat sambil mengerahkan tenaga.
Ujung cambuk Sarpokenoko berhasil menjerat pangkal lengan kanan Endang
Patibroto dengan kuat. Selagi Endang Patibroto membetot lengannya berusaha
melepaskan diri, Ni Nogogini sudah menusukkan cundrik Embun-sumilir ke arah
dada yang membusung itu. Endang Patibroto tentu saja melihat datangnya cundrik,
namun gadis itu hanya tersenyum saja sambil menyalurkan hawa sakti ke arah dada
yang tertusuk sedangkan tangan kanannya bergerak ke pinggang kiri. Tangan kanan
ini berkelebat dan sinar hitam menyambar ke depan, kemudian secepat kilat ia
membiarkan dirinya terbetot cambuk, mendekat Ni Durgogini sambil mengerahkan
tenaga melakukan pukulan Wisangnolo ke arah lambung dan lengan kanan Ni
Durgogini. Cepat bagaikan kilat menyambar semua gerakan ini, sukar diikuti
pandangan mata dan tahu-tahu terdengar jerit dua orang nenek itu, disusul darah
menyemprot keluar, tubuh Ni Nogogini terguling dan Ni Durgogini terhuyung ke
belakang sedangkan cambuk Sarpokenoko sudah berpindah ke tangan Endang
Patibroto. Apa yang telah terjadi? Kiranya ketika cundrik Embun sumilir menusuk
dada, terdengar suara "desss!" dan yang robek hanya baju Endang Patibroto
karena cundrik itu meleset ketika bertemu dengan buah dadanya seolah-olah
anggota badan gadis itu terbuat daripada baja murni! Kemudian tangan Endang
yang bergerak tadi telah melepaskan panah tangan yang tak dapat dihindarkan
lagi menancap tepat di ulu hati Ni Nogogini. Nenek ini menjerit, cundriknya
terlempar dan ia mendekap ulu hatinya yang tidak kelihatan terluka karena panah
tangan itu menancap terus sampai lenyap! Hanya semprotan darah dari ulu hati
yang menyatakan bahwa nenek itu terpanah secara hebat. Matanya mendelik dan
tubuhnya berkelojotan dalam sekarat! Gerakan selanjutnya dari gadis perkasa
yang pangkal lengannya masih terlibat ujung cambuk Sarpokenoko adalah melangkah
maju mendekati Ni Durgogini, kemudian langsung mengirim hantaman Wisangnolo.
Diserang dari jarak begitu dekat, Ni Durgogini merasa seakan-akan ada gunung
api menimpanya, ia tidak kuat menjerit dan melepaskan cambuknya,
terhuyung-huyung ke belakang sampai punggungnya menabrak batang pohon. Dengan
mata terbelalak penuh ngeri, Ni Durgogini melihat adiknya berkelojotan,
kemudian menjadi ketakutan ketika melihat Endang Patibroto melangkah maju
menghampirinya perlahan-lahan dengan mata dingin seperti es sedangkan cambuk
Sarpokenoko tergoyang-goyang dan bergantung di tangannya.
"Tidak........
tidak jangan....... " kata Ni Durgogini dengan suara serak.
Agaknya
melihat nenek itu ketakutan, Endang Patibroto menjadi senang. Bibirnya
tersenyum lebar dan tiba-tiba......
"tarrrr.........!"
cambuk itu melejit di udara dan di lain saat ujung cambuk telah membelit leher
NI Durgogini seperti lilitan buntut seekor ular.
"Aaaah.........
aaauuughhh. auukkkk!"
Ni Durgogini
mengerahkan tenaga, membetot-betot cambuk itu untuk melepaskan lilitan pada
lehernya yang makin mencekik, membuat ia tak dapat bernapas. Namun sia-sia
usahanya, lilitan makin erat dan makin erat sehingga mata nenek itu mendelik,
lidahnya terulur keluar, kemudian ia roboh bergulingan, tangan kakinya
berkelojotan seperti Ni Nogogini yang juga berkelojotan! Endang Patibroto kini
menjadi beringas dan buas pandang matanya. Menyaksikan kedua orang musuhnya
berkelojotan, senyum puas menghias bibirnya dan matanya mengeluarkan sinar
seperti mata iblis. Kemudian ia mengerahkan tenaga, menarik gagang cambuk
Sarpokenoko sekuat tenaga dan......
No comments:
Post a Comment