"rrrrtttt!!”, leher Ni Durgogini putus, membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya!
Sambil
tertawa-tawa Endang Patibroto lalu mengangkat gagang cambuk, sekali cambuknya
digerakkan ke udara, terdengar suara meledak dan ujung cambuk kini melecut ke
bawah, menyambar leher Ni Nogogini yang tubuhnya masih berkelojotan dan sekali
sabet saja leher Ni Nogogini juga putus!
Bukan main
hebatnya tenaga dan kepandaian Endang Patibroto, dan juga bukan main kejamnya
jika menghadapi orang-orang yang dibencinya!. Para pangeran dan pengawal yang
mengintai dari jauh kini datang berlarian ke dalam taman sari. Mereka menjadi
ngeri menyaksikan mayat kedua orang nenek itu. Pangeran Panjirawit yang
bijaksana cepat-cepat memberi perintah kepada para pengawal untuk membawa pergi
kedua mayat nenek itu dan dia sendiri bersama para pangeran lain lalu
beramai-ramai menggotong tubuh sang prabu yang masih pingsan ke dalam keraton.
Ketika sang prabu sadar dari pingsannya, ia seperti orang yang baru bangun dari
mimpi buruk. Dengan sabar dan hati-hati Pangeran Panjirawit lalu menceritakan
tentang persekutuan itu, kemudian tentang usaha Ni Durgogini dan Ni Nogogini
untuk mempengaruhi dan menguasai sang prabu.
"Sungguh
mujur bahwa Endang Patibroto datang menolong kanjeng rama dan membunuh dua
orang siluman betina itu."
Pangeran
Panjirawit menutup ceritanya. Mendengar penuturan ini, sang prabu menjadi marah
sekali. Ia segera memerintahkan para senopatinya untuk memimpin pasukan dan
menggempur Nusabarung!.
"Sebelum
mereka turun tangan menyerbu, kita mendahului mereka menerjang ke sana dan
membasmi Nusabarung!" teriak sang prabu yang selain marah juga merasa malu
akan kelemahannya sendiri sehingga hampir saja mencelakakan kerajaannya.
Kemudian sang
prabu memanggil Endang Patibroto datang menghadap, dan setelah memberi
kata-kata pujian dan memberi hadiah emas permata, sang prabu minta agar gadis
perkasa ini menyertai pasukan yang menyerbu ke Nusabarung untuk menghadapi
pimpinan musuh yang memiliki kesaktian.
Jarum hitam
yang menjadi senjata rahasia Ki Jatoko ampuh dan amat berbahaya. Jarum-jarum
ini sengaja dibuat oleh Ki Jatoko dengan batang berlubang sehingga ketika ia
merendamnya dengan racun ular racun itu memasuki lubang dan mengering di situ.
Begitu jarum itu menancap di tubuh lawan, racun yang mengering ini terkena
darah lalu ikut keluar dan meracuni darah dalam tubuh. Karena racun di setiap
jarum itu banyak sekali, maka sebatang jarum kalau mengenai tubuh orang sama
bahayanya dengan gigitan tiga ekor ular berbisa! Gigitan seekor ular berbisa
saja sudah cukup untuk merenggut nyawa orang, apalagi tiga ekor!
Joko Wandiro
telah terluka oleh sebatang jarum Ki Jatoko. Tepat di lehernya! Kalau bukan
Joko Wandiro, tentu seketika akan tewas karena darahnya telah keracunan dan
letaknya dekat kepala. Akan tetapi aneh sekali, mengapa ketika Endang Patibroto
memeriksanya, pemuda ini tidak tewas, hanya pingsan? Betapapun saktinya pemuda
itu, dalam keadaan pingsan tentu ia tidak dapat mengeluarkan kesaktiannya untuk
melindungi tubuh dari serangan racun. Bukan, bukan kesaktiannya yang membuat
pemuda ini belum tewas. Melainkan darahnya sendiri. Pemuda ini ketika dahulu
berada di Pulau Sempu, setelah menyimpan patung kencana di atas pohon randu
alas, telah digigit seekor ular yang sangat beracun. Dalam takut dan nyeri, ia
berlari dan balas menggigit leher ular sambil menghisap darah ular sampai
habis. Inilah yang membuat darah pemuda itu mengandung racun ular itu dan
memberinya daya untuk menahan racun-racun ular sehingga biarpun kini ia terluka
dan terkena racun, namun keadaannya tidak separah orang biasa. Racun itu tidak
dapat bergerak cepat, tertahan di sekitar luka oleh racun darahnya sendiri yang
kini bahkan menjadi semacam obat penawar atau penolak. Betapapun juga,
keadaannya bukan tidak berbahaya karena daya tolak itu hanya memperlambat saja
menjalarnya racun dari jarum Ki Jatoko.
Joko Wandiro
menggeletak pingsan di lereng Bukit Anjasmoro sampai malam tiba dan untung
baginya bahwa pada saat ia pingsan itu tidak ada binatang buas yang mengetahui
atau kebetulan lewat. Dalam keadaan seperti itu kalau ada seekor harimau
menerkamnya, tentu ia akan mati konyol. Memang ada saja sebab atau jalan
penyelamatan nyawa seseorang apabila Hyang Maha Wiscsa belum menghendaki
kematian orang itu. Menjelang malam, secara tiba-tiba muncul enam bayangan
orang. Bayangan-bayangan ini amat cepat gerak-geriknya. Ada yang meloncat
keluar dari balik rumpun alang-alang, ada yang melayang turun dari atas pohon.
Mereka itu bertubuh langsing dan berambut panjang. Mereka semua adalah
wanita-wanita muda yang amat cekatan. Akan tetapi anehnya, gadis-gadis yang
berusia antara lima belas sampai dua puluh tahun ini hampir bertelanjang bulat.
Hanya daun-daun dari kembang-kembang menutupi sebagian tubuh mereka. Sebagai wanita-wanita
muda belia, tentu saja wajah mereka cantik-cantik, akan tetapi kecantikan yang
liar, buas, dan tidak terkekang sama sekali. Agaknya mereka ini tidak mengenal
peraturan dan tata susila umum. Sampai lama mereka mengelilingi Joko Wandiro.
Ada yang meraba-raba, dan ada yang menjambak rambutnya, bahkan ada yang.......
mencium pipinya. Persis perangai serombongan monyet betina! Akan tetapi mereka
dapat bicara seperti manusia biasa, sungguhpun bahasa mereka itu kaku.
"Matikah.....
?"
"Dia
tampan.......!"
"Dia
terluka......."
"Bawa ke
kak Dewi!"
"Ya, bawa
ke kak Dewi."
Setelah ramai
mengutarakan perasaan dengan kata-kata singkat dan kaku, mereka lalu menggotong
tubuh Joko Wandiro sambil tertawa cekikikan, lalu berlari-lari membawa pemuda
itu ke dalam hutan yang lebat di lereng Gunung Anjasmoro.
Ketika Joko
Wandiro membuka matanya, ia menjadi terheran-heran dan mengira bahwa ia sedang
bermimpi. Ia telah berbaring di atas sebuah pembaringan bambu bertilam anyaman
daun pandan, di dalam sebuah pondok bambu yang sederhana namun bersih. Tubuhnya
terasa sehat dan segar, akan tetapi perutnya amat lapar. Yang membuat ia merasa
terheran-heran dan mengira dalam mimpi adalah ketika pandang matanya melihat
tubuh dua orang gadis cantik duduk bersimpuh di atas lantai. Dua orang gadis
bertubuh montok dan setengah telanjang! Dan di luar pondok itu, masih terdapat
bayangan beberapa orang gadis yang cantik-cantik dan juga setengah telanjang,
menjaga di pintu. Berdebar jantung Joko Wandiro. Ia menahan diri untuk tidak
bergerak, pura pura masih tidur atau pingsan, dan mulailah ia mengingat-ingat.
Terbayang dalam ingatannya betapa ia bertanding melawan Endang Patibroto,
bertanding dalam sebuah pertempuran dahsyat dan seru. Pertempuran paling hebat
yang pernah ia alami. Alangkah digdaya Endang Patibroto. Sukar mengalahkan
gadis perkasa itu. Teringat ia betapa mereka berdua mengadu tenaga sakti yang
membuat mereka terpental. Pada saat itulah datangnya sinar hitam yang mengenai
lehernya. Hemm, aku terkena senjata rahasia, pikirnya dan perlahan-lahan ia
meraba lehernya sebelah kiri. Masih ada bekas luka di situ akan tetapi sudah
tidak terasa sakit lagi, dan obat bubuk yang menempel pada luka sudah
mengering. Ah, tentu aku roboh oleh senjata rahasia yang kecil. Pantasnya
jarum.
Hampir saja
Joko Wandiro meloncat namun ditahannya. Teringat ia sekarang. Jarum itu
menyerangnya dari sebelah kiri, sedangkan Endang Patibroto jelas berada di
depan. Jarum itu bukan dilepas oleh Endang Patibroto. Tentu oleh Ki Jatoko! Si
buntung keparat itu! Dengan jarum-jarum yang direndam racun ular. Tidak salah
lagi. Dan dia roboh pingsan. Akan tetapi kenapa ia masih hidup? Kenapa Ki
Jatoko dan Endang Patibroto tidak membunuhnya? Ataukah mereka mengira dia sudah
pasti mati karena jarum itu? Dengan hati-hati Joko Wandiro meraba-raba
lehernya. Kenapa ia tidak mati? Ia tahu bahwa jarum yang direndam racun ular
itu luar biasa ampuhnya. Kalau ia tidak pingsan, mungkin ia dapat menggunakan
hawa sakti untuk memaksa racun keluar. Akan tetapi ia roboh pingsan, entah berapa
lamanya. Kenapa ia masih belum mati dan lebih aneh lagi, kenapa ia berada dalam
pondok dan di situ banyak terdapat gadis cantik setengah telanjang tak tahu
malu?
Diam-diam ia
membuka mata dan mengerling ke arah dua orang gadis yang bersimpuh di atas lantai
itu. Usia mereka paling banyak delapan belas tahun. Melihat kulit yang putih
bersih itu, rambut yang hitam panjang mengkilap, gadis-gadis ini merawat
baik-baik tubuh mereka. Akan tetapi mereka hampir telanjang, hanya menutupi
bagian tubuh terpenting dengan daun-daun dan rumput hijau saja, namun tidak
cukup untuk menutupi tubuh yang berkulit kuning langsat Itu. Joko Wandiro tak
berani memandang terlalu lama. Gadis-gadis ini, juga yang tampak berdiri di
luar itu, jelas adalah orang-orang liar dan tentu bukan orang baik-baik.
Mungkin sekali mereka ini anak buah Ki Jatoko. Endang Patibroto sudah jelas
adalah kepala Pengawal Kerajaan Jenggala, akan tetapi keadaan Ki Jatoko amat
mencurigakan. Orang itu penuh rahasia dan tidak mustahil gadis-gadis ini menjadi
anak buahnya, dan dia dijadikan tawanan di tempat ini! Berpikir demikian,
seketika Joko Wandiro melompat turun. Akan tetapi sebelum ia dapat keluar,
tiba-tiba dua orang gadis itu dengan gerakan cepat sekali telah menubruknya
dari kanan kiri dan merangkulnya sambil tertawa-tawa, memaksanya rebah kembali
di atas pembaringan.
"Hi-hik,
si tampan sudah bangun.........!”
"Kau tak
boleh bergerak, tunggu kak Dewi.......!"
Melihat betapa
mereka itu merangkul dan memeluknya begitu saja tanpa malu-malu dan tanpa memperhatikan
batas kesusilaan, Joko Wandiro menjadi makin geli hatinya dan tak terasa lagi
bulu tengkuknya meremang. Gadis-gadis macam apakah mereka ini? Cepat ia
menggunakan tenaganya, menggoyang tubuh dan dua orang gadis itu terlepas dan
terpelanting ke kanan kiri, akan tetapi tidaklah terlalu keras karena memang
Joko Wandiro tidak tega untuk menyakiti wanita-wanita ini yang belum ia ketahui
siapa adanya. Begitu tubuhnva terlepas, ia lalu melompat keluar? kemudian lari
menerobos pintu depan.
"Si
tampan lari.......!"
"Tangkap
dia.......!"
Jeritan-jeritan
ini membuat gadis-gadis yang berada di luar menjadi kaget. Akan tetapi begitu
mereka membalikkan tubuh, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Joko
Wandiro telah berkelebat keluar dari dalam pondok. Segera terdengar
jeritan-jeritan nyaring di sana-sini, disusul suitan-suitan merdu seperti orang
bernyanyi. Ke mana pun Joko Wandiro lari, di depannya terdengar suitan-suitan
dan jeritan sehingga ia membalik dan akhirnya ia kebingungan sendiri dan tanpa
ia sadari, di bawah pohon-pohon cempaka yang bunganya berwarna-warni, ada yang
putih, merah, ungu, kebiruan, berdiri empat orang gadis yang sudah menantinya
dengan tersenyum-senyum. Mereka ini lebih cantik daripada para penjaga tadi,
usia mereka sekitar dua puluh tahun. Daun-daun yang menutupi tubuh merekapun
lebih teratur, menutupi sekitar dada dan sekeliling pangkal paha. Agaknya
mereka sudah tahu bahwa pemuda ini tentu akan lari kembali ke tempat ini, maka
tadi mereka tidak ikut mengejar seperti wanita-waita lain. Joko Wandiro
memandang ke sekelilingnya. Dari tempat-tempat persembunyian di antara pohon
dan kembang, kini bermunculan gadis-gadis dari empat penjuru yang segera
mengurungnya dari tempat jauh dan masing-masing kini telah memegang sebatang
bambu runcing! Jadi dia bersama empat orang gadis cantik yang menghadapinya
kini telah terkurung, dipagar betis!
Terpaksa Joko
Wandiro kini mencurahkan perhatiannya kepada empat orang gadis di depannya
dengan hati terheran-heran karena ia menaksir bahwa gadit-gadis yang
mengurungnya dari jauh itu jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang! Ia
melihat betapa gadis-gadis ini berwajah manis-manis, namun pandang mata mereka
liar dan galak, sungguhpun bibir mereka. tersenyum manis. Teringat ia akan
wajah Endang Patibroto. Kalau Endang Patibroto menjadi kepala barisan wanita
ini, amat tepatlah!
"Kalian
ini siapakah dan mengapa menahanku dalam pondok itu?"
Akhirnya ia
bertanya. Ia kini dapat menduga bahwa empat orang gadis ini tentulah merupakan
pimpinan mereka karena hanya mereka berempat yang kini menghadapinya, sedangkan
yang lain berdiri mengurung dari tempat jauh. Empat orang gadis itu saling
pandang kemudian tertawa terkekeh sehingga tampak barisan gigi putih bersih di
balik bibir merah. Mereka itu tertawa bebas, tidak ditutup-tutupi lagi. Mulut
yang kecil itu terbuka memperlihatkan rongga mulut yang gelap dan kemerahan.
Joko Wandiro hanya memandang mereka berganti-ganti, hatinya makin tidak enak.
"Namaku
Lasmi!" kata gadis yang rambutnya paling panjang dan bulu matanya lentik
melengkung.
"Aku
Mini.....!" Gadis yang matanya lebar terkekeh lucu
"Namaku
Sari.......!" kata yang punya lesung pipit di kedua ujung mulutnya.
"Aku
Sundari!" kata yang bertahi lalat di pipi kiri.
"Engkau
tidak boleh pergi dari sini, demikian pesan kak Dewi," kata Lasmi.
Joko Wandiro
mengerutkan keningnya.
No comments:
Post a Comment