Badai Laut Selatan ; Bagian 135


"rrrrtttt!!”, leher Ni Durgogini putus, membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya!
Sambil tertawa-tawa Endang Patibroto lalu mengangkat gagang cambuk, sekali cambuknya digerakkan ke udara, terdengar suara meledak dan ujung cambuk kini melecut ke bawah, menyambar leher Ni Nogogini yang tubuhnya masih berkelojotan dan sekali sabet saja leher Ni Nogogini juga putus!

Bukan main hebatnya tenaga dan kepandaian Endang Patibroto, dan juga bukan main kejamnya jika menghadapi orang-orang yang dibencinya!. Para pangeran dan pengawal yang mengintai dari jauh kini datang berlarian ke dalam taman sari. Mereka menjadi ngeri menyaksikan mayat kedua orang nenek itu. Pangeran Panjirawit yang bijaksana cepat-cepat memberi perintah kepada para pengawal untuk membawa pergi kedua mayat nenek itu dan dia sendiri bersama para pangeran lain lalu beramai-ramai menggotong tubuh sang prabu yang masih pingsan ke dalam keraton. Ketika sang prabu sadar dari pingsannya, ia seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Dengan sabar dan hati-hati Pangeran Panjirawit lalu menceritakan tentang persekutuan itu, kemudian tentang usaha Ni Durgogini dan Ni Nogogini untuk mempengaruhi dan menguasai sang prabu.
"Sungguh mujur bahwa Endang Patibroto datang menolong kanjeng rama dan membunuh dua orang siluman betina itu."
Pangeran Panjirawit menutup ceritanya. Mendengar penuturan ini, sang prabu menjadi marah sekali. Ia segera memerintahkan para senopatinya untuk memimpin pasukan dan menggempur Nusabarung!.
"Sebelum mereka turun tangan menyerbu, kita mendahului mereka menerjang ke sana dan membasmi Nusabarung!" teriak sang prabu yang selain marah juga merasa malu akan kelemahannya sendiri sehingga hampir saja mencelakakan kerajaannya.
Kemudian sang prabu memanggil Endang Patibroto datang menghadap, dan setelah memberi kata-kata pujian dan memberi hadiah emas permata, sang prabu minta agar gadis perkasa ini menyertai pasukan yang menyerbu ke Nusabarung untuk menghadapi pimpinan musuh yang memiliki kesaktian.

Jarum hitam yang menjadi senjata rahasia Ki Jatoko ampuh dan amat berbahaya. Jarum-jarum ini sengaja dibuat oleh Ki Jatoko dengan batang berlubang sehingga ketika ia merendamnya dengan racun ular racun itu memasuki lubang dan mengering di situ. Begitu jarum itu menancap di tubuh lawan, racun yang mengering ini terkena darah lalu ikut keluar dan meracuni darah dalam tubuh. Karena racun di setiap jarum itu banyak sekali, maka sebatang jarum kalau mengenai tubuh orang sama bahayanya dengan gigitan tiga ekor ular berbisa! Gigitan seekor ular berbisa saja sudah cukup untuk merenggut nyawa orang, apalagi tiga ekor!

Joko Wandiro telah terluka oleh sebatang jarum Ki Jatoko. Tepat di lehernya! Kalau bukan Joko Wandiro, tentu seketika akan tewas karena darahnya telah keracunan dan letaknya dekat kepala. Akan tetapi aneh sekali, mengapa ketika Endang Patibroto memeriksanya, pemuda ini tidak tewas, hanya pingsan? Betapapun saktinya pemuda itu, dalam keadaan pingsan tentu ia tidak dapat mengeluarkan kesaktiannya untuk melindungi tubuh dari serangan racun. Bukan, bukan kesaktiannya yang membuat pemuda ini belum tewas. Melainkan darahnya sendiri. Pemuda ini ketika dahulu berada di Pulau Sempu, setelah menyimpan patung kencana di atas pohon randu alas, telah digigit seekor ular yang sangat beracun. Dalam takut dan nyeri, ia berlari dan balas menggigit leher ular sambil menghisap darah ular sampai habis. Inilah yang membuat darah pemuda itu mengandung racun ular itu dan memberinya daya untuk menahan racun-racun ular sehingga biarpun kini ia terluka dan terkena racun, namun keadaannya tidak separah orang biasa. Racun itu tidak dapat bergerak cepat, tertahan di sekitar luka oleh racun darahnya sendiri yang kini bahkan menjadi semacam obat penawar atau penolak. Betapapun juga, keadaannya bukan tidak berbahaya karena daya tolak itu hanya memperlambat saja menjalarnya racun dari jarum Ki Jatoko.

Joko Wandiro menggeletak pingsan di lereng Bukit Anjasmoro sampai malam tiba dan untung baginya bahwa pada saat ia pingsan itu tidak ada binatang buas yang mengetahui atau kebetulan lewat. Dalam keadaan seperti itu kalau ada seekor harimau menerkamnya, tentu ia akan mati konyol. Memang ada saja sebab atau jalan penyelamatan nyawa seseorang apabila Hyang Maha Wiscsa belum menghendaki kematian orang itu. Menjelang malam, secara tiba-tiba muncul enam bayangan orang. Bayangan-bayangan ini amat cepat gerak-geriknya. Ada yang meloncat keluar dari balik rumpun alang-alang, ada yang melayang turun dari atas pohon. Mereka itu bertubuh langsing dan berambut panjang. Mereka semua adalah wanita-wanita muda yang amat cekatan. Akan tetapi anehnya, gadis-gadis yang berusia antara lima belas sampai dua puluh tahun ini hampir bertelanjang bulat. Hanya daun-daun dari kembang-kembang menutupi sebagian tubuh mereka. Sebagai wanita-wanita muda belia, tentu saja wajah mereka cantik-cantik, akan tetapi kecantikan yang liar, buas, dan tidak terkekang sama sekali. Agaknya mereka ini tidak mengenal peraturan dan tata susila umum. Sampai lama mereka mengelilingi Joko Wandiro. Ada yang meraba-raba, dan ada yang menjambak rambutnya, bahkan ada yang....... mencium pipinya. Persis perangai serombongan monyet betina! Akan tetapi mereka dapat bicara seperti manusia biasa, sungguhpun bahasa mereka itu kaku.
"Matikah..... ?"
"Dia tampan.......!"
"Dia terluka......."
"Bawa ke kak Dewi!"
"Ya, bawa ke kak Dewi."
Setelah ramai mengutarakan perasaan dengan kata-kata singkat dan kaku, mereka lalu menggotong tubuh Joko Wandiro sambil tertawa cekikikan, lalu berlari-lari membawa pemuda itu ke dalam hutan yang lebat di lereng Gunung Anjasmoro.

Ketika Joko Wandiro membuka matanya, ia menjadi terheran-heran dan mengira bahwa ia sedang bermimpi. Ia telah berbaring di atas sebuah pembaringan bambu bertilam anyaman daun pandan, di dalam sebuah pondok bambu yang sederhana namun bersih. Tubuhnya terasa sehat dan segar, akan tetapi perutnya amat lapar. Yang membuat ia merasa terheran-heran dan mengira dalam mimpi adalah ketika pandang matanya melihat tubuh dua orang gadis cantik duduk bersimpuh di atas lantai. Dua orang gadis bertubuh montok dan setengah telanjang! Dan di luar pondok itu, masih terdapat bayangan beberapa orang gadis yang cantik-cantik dan juga setengah telanjang, menjaga di pintu. Berdebar jantung Joko Wandiro. Ia menahan diri untuk tidak bergerak, pura pura masih tidur atau pingsan, dan mulailah ia mengingat-ingat. Terbayang dalam ingatannya betapa ia bertanding melawan Endang Patibroto, bertanding dalam sebuah pertempuran dahsyat dan seru. Pertempuran paling hebat yang pernah ia alami. Alangkah digdaya Endang Patibroto. Sukar mengalahkan gadis perkasa itu. Teringat ia betapa mereka berdua mengadu tenaga sakti yang membuat mereka terpental. Pada saat itulah datangnya sinar hitam yang mengenai lehernya. Hemm, aku terkena senjata rahasia, pikirnya dan perlahan-lahan ia meraba lehernya sebelah kiri. Masih ada bekas luka di situ akan tetapi sudah tidak terasa sakit lagi, dan obat bubuk yang menempel pada luka sudah mengering. Ah, tentu aku roboh oleh senjata rahasia yang kecil. Pantasnya jarum.
Hampir saja Joko Wandiro meloncat namun ditahannya. Teringat ia sekarang. Jarum itu menyerangnya dari sebelah kiri, sedangkan Endang Patibroto jelas berada di depan. Jarum itu bukan dilepas oleh Endang Patibroto. Tentu oleh Ki Jatoko! Si buntung keparat itu! Dengan jarum-jarum yang direndam racun ular. Tidak salah lagi. Dan dia roboh pingsan. Akan tetapi kenapa ia masih hidup? Kenapa Ki Jatoko dan Endang Patibroto tidak membunuhnya? Ataukah mereka mengira dia sudah pasti mati karena jarum itu? Dengan hati-hati Joko Wandiro meraba-raba lehernya. Kenapa ia tidak mati? Ia tahu bahwa jarum yang direndam racun ular itu luar biasa ampuhnya. Kalau ia tidak pingsan, mungkin ia dapat menggunakan hawa sakti untuk memaksa racun keluar. Akan tetapi ia roboh pingsan, entah berapa lamanya. Kenapa ia masih belum mati dan lebih aneh lagi, kenapa ia berada dalam pondok dan di situ banyak terdapat gadis cantik setengah telanjang tak tahu malu?

Diam-diam ia membuka mata dan mengerling ke arah dua orang gadis yang bersimpuh di atas lantai itu. Usia mereka paling banyak delapan belas tahun. Melihat kulit yang putih bersih itu, rambut yang hitam panjang mengkilap, gadis-gadis ini merawat baik-baik tubuh mereka. Akan tetapi mereka hampir telanjang, hanya menutupi bagian tubuh terpenting dengan daun-daun dan rumput hijau saja, namun tidak cukup untuk menutupi tubuh yang berkulit kuning langsat Itu. Joko Wandiro tak berani memandang terlalu lama. Gadis-gadis ini, juga yang tampak berdiri di luar itu, jelas adalah orang-orang liar dan tentu bukan orang baik-baik. Mungkin sekali mereka ini anak buah Ki Jatoko. Endang Patibroto sudah jelas adalah kepala Pengawal Kerajaan Jenggala, akan tetapi keadaan Ki Jatoko amat mencurigakan. Orang itu penuh rahasia dan tidak mustahil gadis-gadis ini menjadi anak buahnya, dan dia dijadikan tawanan di tempat ini! Berpikir demikian, seketika Joko Wandiro melompat turun. Akan tetapi sebelum ia dapat keluar, tiba-tiba dua orang gadis itu dengan gerakan cepat sekali telah menubruknya dari kanan kiri dan merangkulnya sambil tertawa-tawa, memaksanya rebah kembali di atas pembaringan.
"Hi-hik, si tampan sudah bangun.........!”
"Kau tak boleh bergerak, tunggu kak Dewi.......!"
Melihat betapa mereka itu merangkul dan memeluknya begitu saja tanpa malu-malu dan tanpa memperhatikan batas kesusilaan, Joko Wandiro menjadi makin geli hatinya dan tak terasa lagi bulu tengkuknya meremang. Gadis-gadis macam apakah mereka ini? Cepat ia menggunakan tenaganya, menggoyang tubuh dan dua orang gadis itu terlepas dan terpelanting ke kanan kiri, akan tetapi tidaklah terlalu keras karena memang Joko Wandiro tidak tega untuk menyakiti wanita-wanita ini yang belum ia ketahui siapa adanya. Begitu tubuhnva terlepas, ia lalu melompat keluar? kemudian lari menerobos pintu depan.
"Si tampan lari.......!"
"Tangkap dia.......!"

Jeritan-jeritan ini membuat gadis-gadis yang berada di luar menjadi kaget. Akan tetapi begitu mereka membalikkan tubuh, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Joko Wandiro telah berkelebat keluar dari dalam pondok. Segera terdengar jeritan-jeritan nyaring di sana-sini, disusul suitan-suitan merdu seperti orang bernyanyi. Ke mana pun Joko Wandiro lari, di depannya terdengar suitan-suitan dan jeritan sehingga ia membalik dan akhirnya ia kebingungan sendiri dan tanpa ia sadari, di bawah pohon-pohon cempaka yang bunganya berwarna-warni, ada yang putih, merah, ungu, kebiruan, berdiri empat orang gadis yang sudah menantinya dengan tersenyum-senyum. Mereka ini lebih cantik daripada para penjaga tadi, usia mereka sekitar dua puluh tahun. Daun-daun yang menutupi tubuh merekapun lebih teratur, menutupi sekitar dada dan sekeliling pangkal paha. Agaknya mereka sudah tahu bahwa pemuda ini tentu akan lari kembali ke tempat ini, maka tadi mereka tidak ikut mengejar seperti wanita-waita lain. Joko Wandiro memandang ke sekelilingnya. Dari tempat-tempat persembunyian di antara pohon dan kembang, kini bermunculan gadis-gadis dari empat penjuru yang segera mengurungnya dari tempat jauh dan masing-masing kini telah memegang sebatang bambu runcing! Jadi dia bersama empat orang gadis cantik yang menghadapinya kini telah terkurung, dipagar betis!
Terpaksa Joko Wandiro kini mencurahkan perhatiannya kepada empat orang gadis di depannya dengan hati terheran-heran karena ia menaksir bahwa gadit-gadis yang mengurungnya dari jauh itu jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang! Ia melihat betapa gadis-gadis ini berwajah manis-manis, namun pandang mata mereka liar dan galak, sungguhpun bibir mereka. tersenyum manis. Teringat ia akan wajah Endang Patibroto. Kalau Endang Patibroto menjadi kepala barisan wanita ini, amat tepatlah!
"Kalian ini siapakah dan mengapa menahanku dalam pondok itu?"
Akhirnya ia bertanya. Ia kini dapat menduga bahwa empat orang gadis ini tentulah merupakan pimpinan mereka karena hanya mereka berempat yang kini menghadapinya, sedangkan yang lain berdiri mengurung dari tempat jauh. Empat orang gadis itu saling pandang kemudian tertawa terkekeh sehingga tampak barisan gigi putih bersih di balik bibir merah. Mereka itu tertawa bebas, tidak ditutup-tutupi lagi. Mulut yang kecil itu terbuka memperlihatkan rongga mulut yang gelap dan kemerahan. Joko Wandiro hanya memandang mereka berganti-ganti, hatinya makin tidak enak.
"Namaku Lasmi!" kata gadis yang rambutnya paling panjang dan bulu matanya lentik melengkung.
"Aku Mini.....!" Gadis yang matanya lebar terkekeh lucu
"Namaku Sari.......!" kata yang punya lesung pipit di kedua ujung mulutnya.
"Aku Sundari!" kata yang bertahi lalat di pipi kiri.
"Engkau tidak boleh pergi dari sini, demikian pesan kak Dewi," kata Lasmi.
Joko Wandiro mengerutkan keningnya.

<<< Bagian 134                                                                                     Bagian 136 >>>

No comments:

Post a Comment