"Apa salahku maka aku ditahan di sini? Kuharap kalian tidak menggangguku, karena aku mempunyai urusan penting sekali dan harus pergi sekarang juga." Ia teringat akan Ayu Candra dan ingin cepat-cepat pergi mencari adiknya itu.
'Tanpa
perkenan kak Dewi, kau tidak boleh pergi dari sini," kata Mini sambil
mendekat dengan lenggang-lenggok genit.
"Hemrn,
kalau aku memaksa pergi?"
"Hi-hikl
Memaksa pergi? Boleh kau coba, bocah bagus!" kata Sari sambil
mengembangkan kedua lengannya sehingga tampak di balik daun-daun itu betapa
tubuhnya yang memiliki lekuk lengkung sempurna itu bergerak-gerak.
Joko Wandiro
meramkan matanya. Ia tidak percaya kepada pertahanan hatinya sendiri kalau
harus terlalu lama menghadapi gadis-gadis cantik ini.
"Aku
tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, tidak mengenal kalian. Aku berterima
kasih atas pengobatan pada luka di leherku, siapapun dia yang telah
mengobatiku. Akan tetapi aku harus pergi, sekarang juga. Harap maafkan!"
Setelah
berkata demikian, ia menggunakan ilmunya dan tubuhnya hendak meloncat
secepatnya meninggalkan mereka. Akan tetapi tiba-tiba berkesiur angin dan
tampak bayangan-bayangan yang langsing berkelebat dan empat orang gadis itu
kini telah mengurungnya dengan gerakan yang amat cepat! Joko Wandiro terkejut
juga. Kiranya empat orang ini memiliki ilmu gerak cepat yang tak boleh
dipandang ringan.
"Aku
tidak ingin bertempur dengan kalian empat orang gadis!"
Ia berseru
kehabisan kesabaran dan juga bingung karena mereka berempat itu kesemuanya tersenyum
dan sukar ditentukan siapa di antara mereka yang paling manis.
“Harap jangan
menghalangi!" Ia melangkah maju, akan tetapi tiba-tiba Lasmi telah
menyerangnya dengan cengkeraman ke arah perut.
Jari-jari
tangan yang halus kecil dengan kuku meruncing itu ketika mencengkeram mendatang
kan angin sehingga Joko Wandiro cepat mengelak dan diam-diam mengeluh. Akan
tetapi kini empat orang gadis itu telah maju mengeroyoknya dengan
serangan-serangan cukup dahsyat. Mereka itu memukul, menendang, mencengkeram dan
ada yang berusaha merangkul dan memeluknya! Tentu saja Joko Wandiro menjadi
repot sekah. la maklum bahwa kepandaian mereka ini masih jauh kalau
dibandingkan dengan tingkat kepandaiannya, akan tetapi untuk mengalahkan
mereka, agaknya ia harus merobohkan mereka, dan hal ini ia tidak menghendaki.
Andaikata ia sanggup merobohkan mereka tanpa melukai berat, ia masih harus
menghadapi pengeroyokan dua puluh lebih gadis-gadis penjaga yang mengurungnya
dengan bambu runcing di tangan! Karena ia menghadapi pengeroyokan mereka dengan
elakan dan tangkisan saja, sedangkan pikirannya masih bingung, tiba-tiba ia
tidak dapat mengelak lagi ketika dua lengan yang halus dari Sundari telah
memeluk pinggangnya dengan kekuatan yang tak tersangka-sangka. Kedua lengan itu
kecil dan halus kulitnya, namun di balik kulit halus itu ternyata bersembunyi
tenaga dalam yang hebat!
"Bocah
bagus, engkau hendak lari ke mana? Hi-hik!" Sundari mempererat
rangkulannya pada pinggang sambil terkekeh genit. Sementara itu, sepasang
lengan tangan Lasmi yang tidak kalah halusnya sudah meluncur seperti dua ekor
ular hendak merangkul leher Joko Wandiro!
"Celaka.......
!"
Joko Wandiro
bergidik ketika merasa betapa kedua lengan yang halus itu menyentuh kulit
perutnya dan betapa muka yang hangat menempel ketat di punggungnya. Kalau
sampai kedua lengan Lasmi berhasil merangkul lehernya, ia takkan dapat
melepaskan diri tanpa menggunakan kekerasan lagi! Cepat ia menyalurkan tenaga
pada pinggangnya dan sekali ia menggerakkan pinggul, Sundari menjerit dan pelukannya
terlepas. Pada saat itu, Joko Wandiro sudah berhasil menangkis lengan halus
Lasmi yang hendak merangkul lehernya. Melihat temannya terpelanting, Lasmi
marah sekali dan dengan jerit seperti seekor kijang betina, ia sudah
menyerangkan jari-jari tangan kanan yang berkuku runcing ke arah muka Joko
Wandiro, sedangkan Sundari yang tadi terpelanting sudah melompat bangun lagi,
menerjang dari belakang. Mini dan Sari juga maju merangsang dari belakang,
"Kalian
sungguh terlalu. Jangan salahkan aku kalau terpaksa aku berlaku kasar"
Joko Wandiro
berseru dan kini mengembangkan jari tangannya dan siap membalas mereka dengan
tamparan yang kiranya cukup membuat mereka terpelanting dan tak berani
menyerangnya lagi. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara wanita yang halus
merdu namun nyaring berwibawa,
"Adik-adikku
yang manis, mundurlah kalian berempat!"
Mendengar
suara memerintah ini, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari cepat melompat keluar dari
gelanggang pertempuran, lalu berlari menghampiri wanita yang baru datang ini, berdiri
di belakangnya dengan sinar mata berkilat-kilat menatap Joko Wandiro. Pemuda
inipun sudah menghentikan gerakannya dan kini berdiri memandang wanita yang
baru datang. Joko Wandiro kagum. Wanita ini sukar ditaksir berapa usianya,
namun pasti tidak akan lebih dari dua puluh lima tahun. Wajahnya bundar seperti
bulan purnama, sepasang matanya lebar jernih dan bersinar-sinar penuh gairah
hidup, dilindungi bulu mata yang panjang melengkung dan alis yang hitam
panjang. Entah mana yang lebih menarik antara mata dan mulutnya. Mulut itu
sungguh manis, dengan bibir merah basah yang selalu tersenyum, tampak membayang
di balik bibir merah itu kilatan gigi putih. Tubuhnya padat montok, dengan dada
membusung dan menantang, kulitnya putih bersih sukar dicari cacadnya. Biarpun
gadis ini juga hanya menutup tubuh dengan daun-daun dan bunga-bunga, namun
dandanannya lebih indah dan lebih teratur daripada empat orang gadis yang
mengeroyoknya tadi. Daun-daun itu diatur rapi sekeliling dada dan pinggulnya,
bagian atas dihias bunga-bunga mawar yang segar.
Teringatlah
Joko Wandiro akan nama Dewi yang disebut berkali-kali oleh gadis-gadis tadi.
Inikah dia yang mereka sebut kak Dewi? Kalau benar demikian, memang tidak
berlebihan nama itu. Gadis ini mirip seorang dewi kahyangan, sungguhpun
pakaiannya adalah pakaian orang liar. Karena dapat menduga bahwa tentu gadis
ini yang menjadi pemimpin barisan wanita itu, Joko Wandiro lalu membungkuk dan
menundukkan kepala kepadanya, kemudian berkata,
"Harap
dimaafkan kalau saya telah menimbulkan kekacauan di sini."
Gadis itu
memperlebar senyumnya dan ketika Joko Wandiro memandangnya, dua pasang mata
bertemu dan bertaut sejenak. Kemudian gadis itu menggelengkan kepala berkata,
"Sungguh
tak kusangka, muda remaja yang tampan, halus, dan sakti seperti ini kiranya
hanya seorang yang tak kenal budi. Hemmmm !"
Joko Wandiro
terkejut. Memang tadi ia terburu nafsu menyangka yang tidak baik kepada para
gadis itu, lalu memaksa hendak pergi. Kini ia menduga lain. Agaknya mereka itu
yang menolongnya sehingga tidak sampai tewas di tangan Endang Patibroto dan Ki
Jatoko, lalu menolongnya dan membawanya ke sini, merawat dan mengobatinya.
Kalau demikian halnya, memang benar lakunya tadi tidak betul dan kelihatan
seperti seorang kurang penerima! Cepat-cepat ia berkata,
"Aku
tidak tahu apa yang telah terjadi. Tahu-tahu aku berada di sini dan ketika
hendak pergi, mereka ini.... eh...... mencegah.... sehingga timbul salah faham.
Harap kau suka memberi penjelasan, siapakah kalian dan bagaimana aku bisa
berada di sini?"
"Namaku
Dewi. Bersama adik-adikku seperguruan Lasmi, Mini, Sari dan Sundari ini, kami
yang memimpin kawan-kawan kami dan hidup aman tenteram di Gunung Anjasmoro
sini. Ketika aku melihat betapa engkau terkena jarum beracun, kusuruh anak
buahku untuk membawamu ke sini dan mengobatimu. Siapakah namamu?"
Joko Wandiro
makin kaget. Benar dugaannya. Ia telah dirobohkan lawan secara menggelap dan
agaknya tentu akan binasa kalau tidak ditolong oleh gadis-gadis ini. Dan tadi
ia sudah hendak menggunakan kekerasan untuk melawan mereka dan melarikan diri!
Sungguh tidak mengenal budi! Ia menundukkan mukanya dan memperkenalkan diri.
"Namaku
Joko Wandiro. Aku berhutang budi dan nyawa kepada kalian, tak tahu bagaimana
akan dapat membalas budi ini."
Dewi tersenyum
manis sekali dan mengulur tangan memegang Iengan pemuda itu, menariknya sambil
berkata halus,
"Joko
Wandiro, mari kita ke pondok dan di sana kita dapat bicara dengan leluasa. Aku
akan menceritakan kepadamu tentang keadaan kami."
Jantung pemuda
itu berdebat kencang. Biarpun gerak-geriknya lebih halus, namun Dewi yang
menjadi kepala sekalian wanita ini memiliki kebebasan yang luar biasa dan
tangan yang menggandengnya itu halus dan lemas, hangat dan mesra. Bagaimanakah
seorang gadis yang baru bertemu satu kali sudah berani menggandeng tangan
seorang pria dan bersikap semesra ini? Namun, mengingat bahwa ia telah
berhutang budi, ia mengikuti gadis itu tanpa membantah.
Ketika ia
mengerling, ia melihat bahwa hanya empat orang gadis yang tadi mengeroyoknya
itu yang mengikuti mereka sambil tersenyum-senyum manis, adapun wanita-wanita
yang merupakan barisan mengepung tadi tampak bubar sambil bercakap-cakap dan
tertawa-tawa. Setelah Joko Wandiro dipersilahkan duduk di atas amben bambu yang
menjadi tempat tidurnya tadi dan lima orang gadis itu duduk pula
mengelilinginya, Dewi mulai bercerita.
"Joko
Wandiro, biarpun engkau bertemu dengan aku sebagai seorang gadis gunung, akan
tetapi sesungguhnya di dalam tubuhku masih mengalir darah keluarga Kerajaan
Wengker. Permaisuri paman Prabu Boko di Kerajaan Wengker adalah bibiku, adik
dari ayahku."
Mendengar ini,
Joko Wandiro tercengang dan menatap lebih tajam kepada gadis yang duduk di
depannya itu. Melihat pandang mata pemuda ini, Dewi tersenyum dan menangkap
jari-jari tangan kanan Joko Wandiro, terus digenggamnya, tak dilepaskannya
lagi. Joko Wandiro tidak berusaha menarik tangannya, khawatir kalau menyinggung
perasaan orang. Untuk menguasai jantungnya yang berdebar tidak keruan itu ia
bertanya,
"Aku
hanya mendengar cerita bahwa Kerajaan Wengker dihancurkan oleh pasukan Mataram
di bawah pimpinan mendiang Sang Prabu Airlangga. Bagaimana engkau bisa berada
di gunung ini?"
Dewi
mengerutkan alisnya yang hitam kecil dan panjang. Mulut yang bentuknya manis
dengan bibir merah basah itu agak merengut, seakan-akan pertanyaan ini
mengingatkan ia akan hal-hal vang mengesalkan hatinya. Kemudian ia mengangkat
muka memandang Joko Wandiro kembali dan wajahnya berseri, kemurungannya lenyap.
Sambil mengelus-elus tangan Joko Wandiro, ia lalu berkata,
"Ayahku bernama
Pangeran Mamangkurdo, kakak dari bibi Mamangsari yang menjadi permaisuri paman
Prabu Boko. Ketika barisan dari Mataram menghancurkan Kerajaan Wengker, ayah
berhasil menyelamatkan diri sambil mendukung aku yang masih kecil, baru berusia
dua bulan. "
Ia menghela
napas panjang. Joko Wandiro memandang penuh perhatian. Kerajaan Wengker
merupakan kerajaan yang paling sukar ditundukkan oleh Sang Prabu Airlangga dan
setelah Wengker ditaklukkan, barulah perang berhenti. Kalau gadis ini berusia
dua bulan ketika Wengker jatuh, agaknya gadis ini satu dua tahun lebih tua
daripadanya.
"Ayah
harus berpindah-pindah tempat untuk menyembunyikan diri. Bertahun-tahun aku
diajak menjadi orang buronan dan setelah aku berusia lima belas tahun, ayah
meninggal dunia di Anjasmoro ini. Empat orang adik-adikku ini adalah murid ayah
yang juga menjadi adik-adik angkatku. Karena selama ini ayah selalu mencurigai
orang lain, maka ayah tidak mau mempergunakan pria untuk menjadi pelayan atau
anak buahnya. Dipilihnya wanita-wanita yang hidup sendiri, dilatih dan
dibentuknya barisan wanita. Kebiasaan itu kulanjutkan sampai sekarang. Bahkan
setiap kali ada laki-laki berani memasuki wilayah kami, tentu dia kami bunuh
seketika!"
Joko Wandiro
terkejut.
"Mengapa
begitu?"
Wajah yang
manis itu mengeras.
"Kami
tidak memperbolehkan laki-laki mendekat, karena mereka itu hanya akan
mendatangkan malapetaka! Kalau sampai seorang di antara anak buahku terpikat
dan pergi bersama seorang pria, bukankah keadaan kami bukan rahasia lagi dan
persembunyian kami akan ketahuan sehingga fihak musuh akan dapat mengirim
pasukan untuk membasmi kami?"
"Ah,
engkau dikejar-kejar kekhawatiranmu sendiri, Dewi. Agaknya karena semenjak bayi
engkau dibawa sebagai buronan oleh mendiang ayahmu, jiwamu sudah tercekam rasa
takut ketahuan tempat sembunyimu. Apakah engkau tidak tahu bahwa keadaan sudah
berubah sama sekali? Tidak seorangpun kini teringat akan keturunan Kerajaan
Wengker. Tidak ada yang akan mengejar-ngejarmu. Karena itu, tidak baik kalau
kau membunuhi orang yang memasuki wilayah ini."
"Hemm,
betapapun juga, ayah dahulu berpesan supaya kami berhati-hati menghadapi setiap
orang pria, karena laki-laki adalah mahluk yang paling jahat dan berbahaya.
Karena itu, entah sudah berapa puluh orang laki-laki yang kami bunuh ketika
mereka lewat daerah ini."
No comments:
Post a Comment