Badai Laut Selatan ; Bagian 136


"Apa salahku maka aku ditahan di sini? Kuharap kalian tidak menggangguku, karena aku mempunyai urusan penting sekali dan harus pergi sekarang juga." Ia teringat akan Ayu Candra dan ingin cepat-cepat pergi mencari adiknya itu.
'Tanpa perkenan kak Dewi, kau tidak boleh pergi dari sini," kata Mini sambil mendekat dengan lenggang-lenggok genit.
"Hemrn, kalau aku memaksa pergi?"
"Hi-hikl Memaksa pergi? Boleh kau coba, bocah bagus!" kata Sari sambil mengembangkan kedua lengannya sehingga tampak di balik daun-daun itu betapa tubuhnya yang memiliki lekuk lengkung sempurna itu bergerak-gerak.
Joko Wandiro meramkan matanya. Ia tidak percaya kepada pertahanan hatinya sendiri kalau harus terlalu lama menghadapi gadis-gadis cantik ini.
"Aku tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, tidak mengenal kalian. Aku berterima kasih atas pengobatan pada luka di leherku, siapapun dia yang telah mengobatiku. Akan tetapi aku harus pergi, sekarang juga. Harap maafkan!"
Setelah berkata demikian, ia menggunakan ilmunya dan tubuhnya hendak meloncat secepatnya meninggalkan mereka. Akan tetapi tiba-tiba berkesiur angin dan tampak bayangan-bayangan yang langsing berkelebat dan empat orang gadis itu kini telah mengurungnya dengan gerakan yang amat cepat! Joko Wandiro terkejut juga. Kiranya empat orang ini memiliki ilmu gerak cepat yang tak boleh dipandang ringan.
"Aku tidak ingin bertempur dengan kalian empat orang gadis!"
Ia berseru kehabisan kesabaran dan juga bingung karena mereka berempat itu kesemuanya tersenyum dan sukar ditentukan siapa di antara mereka yang paling manis.
“Harap jangan menghalangi!" Ia melangkah maju, akan tetapi tiba-tiba Lasmi telah menyerangnya dengan cengkeraman ke arah perut.

Jari-jari tangan yang halus kecil dengan kuku meruncing itu ketika mencengkeram mendatang kan angin sehingga Joko Wandiro cepat mengelak dan diam-diam mengeluh. Akan tetapi kini empat orang gadis itu telah maju mengeroyoknya dengan serangan-serangan cukup dahsyat. Mereka itu memukul, menendang, mencengkeram dan ada yang berusaha merangkul dan memeluknya! Tentu saja Joko Wandiro menjadi repot sekah. la maklum bahwa kepandaian mereka ini masih jauh kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaiannya, akan tetapi untuk mengalahkan mereka, agaknya ia harus merobohkan mereka, dan hal ini ia tidak menghendaki. Andaikata ia sanggup merobohkan mereka tanpa melukai berat, ia masih harus menghadapi pengeroyokan dua puluh lebih gadis-gadis penjaga yang mengurungnya dengan bambu runcing di tangan! Karena ia menghadapi pengeroyokan mereka dengan elakan dan tangkisan saja, sedangkan pikirannya masih bingung, tiba-tiba ia tidak dapat mengelak lagi ketika dua lengan yang halus dari Sundari telah memeluk pinggangnya dengan kekuatan yang tak tersangka-sangka. Kedua lengan itu kecil dan halus kulitnya, namun di balik kulit halus itu ternyata bersembunyi tenaga dalam yang hebat!
"Bocah bagus, engkau hendak lari ke mana? Hi-hik!" Sundari mempererat rangkulannya pada pinggang sambil terkekeh genit. Sementara itu, sepasang lengan tangan Lasmi yang tidak kalah halusnya sudah meluncur seperti dua ekor ular hendak merangkul leher Joko Wandiro!
"Celaka....... !"
Joko Wandiro bergidik ketika merasa betapa kedua lengan yang halus itu menyentuh kulit perutnya dan betapa muka yang hangat menempel ketat di punggungnya. Kalau sampai kedua lengan Lasmi berhasil merangkul lehernya, ia takkan dapat melepaskan diri tanpa menggunakan kekerasan lagi! Cepat ia menyalurkan tenaga pada pinggangnya dan sekali ia menggerakkan pinggul, Sundari menjerit dan pelukannya terlepas. Pada saat itu, Joko Wandiro sudah berhasil menangkis lengan halus Lasmi yang hendak merangkul lehernya. Melihat temannya terpelanting, Lasmi marah sekali dan dengan jerit seperti seekor kijang betina, ia sudah menyerangkan jari-jari tangan kanan yang berkuku runcing ke arah muka Joko Wandiro, sedangkan Sundari yang tadi terpelanting sudah melompat bangun lagi, menerjang dari belakang. Mini dan Sari juga maju merangsang dari belakang,
"Kalian sungguh terlalu. Jangan salahkan aku kalau terpaksa aku berlaku kasar"

Joko Wandiro berseru dan kini mengembangkan jari tangannya dan siap membalas mereka dengan tamparan yang kiranya cukup membuat mereka terpelanting dan tak berani menyerangnya lagi. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara wanita yang halus merdu namun nyaring berwibawa,
"Adik-adikku yang manis, mundurlah kalian berempat!"
Mendengar suara memerintah ini, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari cepat melompat keluar dari gelanggang pertempuran, lalu berlari menghampiri wanita yang baru datang ini, berdiri di belakangnya dengan sinar mata berkilat-kilat menatap Joko Wandiro. Pemuda inipun sudah menghentikan gerakannya dan kini berdiri memandang wanita yang baru datang. Joko Wandiro kagum. Wanita ini sukar ditaksir berapa usianya, namun pasti tidak akan lebih dari dua puluh lima tahun. Wajahnya bundar seperti bulan purnama, sepasang matanya lebar jernih dan bersinar-sinar penuh gairah hidup, dilindungi bulu mata yang panjang melengkung dan alis yang hitam panjang. Entah mana yang lebih menarik antara mata dan mulutnya. Mulut itu sungguh manis, dengan bibir merah basah yang selalu tersenyum, tampak membayang di balik bibir merah itu kilatan gigi putih. Tubuhnya padat montok, dengan dada membusung dan menantang, kulitnya putih bersih sukar dicari cacadnya. Biarpun gadis ini juga hanya menutup tubuh dengan daun-daun dan bunga-bunga, namun dandanannya lebih indah dan lebih teratur daripada empat orang gadis yang mengeroyoknya tadi. Daun-daun itu diatur rapi sekeliling dada dan pinggulnya, bagian atas dihias bunga-bunga mawar yang segar.

Teringatlah Joko Wandiro akan nama Dewi yang disebut berkali-kali oleh gadis-gadis tadi. Inikah dia yang mereka sebut kak Dewi? Kalau benar demikian, memang tidak berlebihan nama itu. Gadis ini mirip seorang dewi kahyangan, sungguhpun pakaiannya adalah pakaian orang liar. Karena dapat menduga bahwa tentu gadis ini yang menjadi pemimpin barisan wanita itu, Joko Wandiro lalu membungkuk dan menundukkan kepala kepadanya, kemudian berkata,
"Harap dimaafkan kalau saya telah menimbulkan kekacauan di sini."
Gadis itu memperlebar senyumnya dan ketika Joko Wandiro memandangnya, dua pasang mata bertemu dan bertaut sejenak. Kemudian gadis itu menggelengkan kepala berkata,
"Sungguh tak kusangka, muda remaja yang tampan, halus, dan sakti seperti ini kiranya hanya seorang yang tak kenal budi. Hemmmm !"
Joko Wandiro terkejut. Memang tadi ia terburu nafsu menyangka yang tidak baik kepada para gadis itu, lalu memaksa hendak pergi. Kini ia menduga lain. Agaknya mereka itu yang menolongnya sehingga tidak sampai tewas di tangan Endang Patibroto dan Ki Jatoko, lalu menolongnya dan membawanya ke sini, merawat dan mengobatinya. Kalau demikian halnya, memang benar lakunya tadi tidak betul dan kelihatan seperti seorang kurang penerima! Cepat-cepat ia berkata,
"Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Tahu-tahu aku berada di sini dan ketika hendak pergi, mereka ini.... eh...... mencegah.... sehingga timbul salah faham. Harap kau suka memberi penjelasan, siapakah kalian dan bagaimana aku bisa berada di sini?"
"Namaku Dewi. Bersama adik-adikku seperguruan Lasmi, Mini, Sari dan Sundari ini, kami yang memimpin kawan-kawan kami dan hidup aman tenteram di Gunung Anjasmoro sini. Ketika aku melihat betapa engkau terkena jarum beracun, kusuruh anak buahku untuk membawamu ke sini dan mengobatimu. Siapakah namamu?"

Joko Wandiro makin kaget. Benar dugaannya. Ia telah dirobohkan lawan secara menggelap dan agaknya tentu akan binasa kalau tidak ditolong oleh gadis-gadis ini. Dan tadi ia sudah hendak menggunakan kekerasan untuk melawan mereka dan melarikan diri! Sungguh tidak mengenal budi! Ia menundukkan mukanya dan memperkenalkan diri.
"Namaku Joko Wandiro. Aku berhutang budi dan nyawa kepada kalian, tak tahu bagaimana akan dapat membalas budi ini."
Dewi tersenyum manis sekali dan mengulur tangan memegang Iengan pemuda itu, menariknya sambil berkata halus,
"Joko Wandiro, mari kita ke pondok dan di sana kita dapat bicara dengan leluasa. Aku akan menceritakan kepadamu tentang keadaan kami."
Jantung pemuda itu berdebat kencang. Biarpun gerak-geriknya lebih halus, namun Dewi yang menjadi kepala sekalian wanita ini memiliki kebebasan yang luar biasa dan tangan yang menggandengnya itu halus dan lemas, hangat dan mesra. Bagaimanakah seorang gadis yang baru bertemu satu kali sudah berani menggandeng tangan seorang pria dan bersikap semesra ini? Namun, mengingat bahwa ia telah berhutang budi, ia mengikuti gadis itu tanpa membantah.
Ketika ia mengerling, ia melihat bahwa hanya empat orang gadis yang tadi mengeroyoknya itu yang mengikuti mereka sambil tersenyum-senyum manis, adapun wanita-wanita yang merupakan barisan mengepung tadi tampak bubar sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa. Setelah Joko Wandiro dipersilahkan duduk di atas amben bambu yang menjadi tempat tidurnya tadi dan lima orang gadis itu duduk pula mengelilinginya, Dewi mulai bercerita.
"Joko Wandiro, biarpun engkau bertemu dengan aku sebagai seorang gadis gunung, akan tetapi sesungguhnya di dalam tubuhku masih mengalir darah keluarga Kerajaan Wengker. Permaisuri paman Prabu Boko di Kerajaan Wengker adalah bibiku, adik dari ayahku."
Mendengar ini, Joko Wandiro tercengang dan menatap lebih tajam kepada gadis yang duduk di depannya itu. Melihat pandang mata pemuda ini, Dewi tersenyum dan menangkap jari-jari tangan kanan Joko Wandiro, terus digenggamnya, tak dilepaskannya lagi. Joko Wandiro tidak berusaha menarik tangannya, khawatir kalau menyinggung perasaan orang. Untuk menguasai jantungnya yang berdebar tidak keruan itu ia bertanya,
"Aku hanya mendengar cerita bahwa Kerajaan Wengker dihancurkan oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan mendiang Sang Prabu Airlangga. Bagaimana engkau bisa berada di gunung ini?"

Dewi mengerutkan alisnya yang hitam kecil dan panjang. Mulut yang bentuknya manis dengan bibir merah basah itu agak merengut, seakan-akan pertanyaan ini mengingatkan ia akan hal-hal vang mengesalkan hatinya. Kemudian ia mengangkat muka memandang Joko Wandiro kembali dan wajahnya berseri, kemurungannya lenyap. Sambil mengelus-elus tangan Joko Wandiro, ia lalu berkata,
"Ayahku bernama Pangeran Mamangkurdo, kakak dari bibi Mamangsari yang menjadi permaisuri paman Prabu Boko. Ketika barisan dari Mataram menghancurkan Kerajaan Wengker, ayah berhasil menyelamatkan diri sambil mendukung aku yang masih kecil, baru berusia dua bulan. "
Ia menghela napas panjang. Joko Wandiro memandang penuh perhatian. Kerajaan Wengker merupakan kerajaan yang paling sukar ditundukkan oleh Sang Prabu Airlangga dan setelah Wengker ditaklukkan, barulah perang berhenti. Kalau gadis ini berusia dua bulan ketika Wengker jatuh, agaknya gadis ini satu dua tahun lebih tua daripadanya.
"Ayah harus berpindah-pindah tempat untuk menyembunyikan diri. Bertahun-tahun aku diajak menjadi orang buronan dan setelah aku berusia lima belas tahun, ayah meninggal dunia di Anjasmoro ini. Empat orang adik-adikku ini adalah murid ayah yang juga menjadi adik-adik angkatku. Karena selama ini ayah selalu mencurigai orang lain, maka ayah tidak mau mempergunakan pria untuk menjadi pelayan atau anak buahnya. Dipilihnya wanita-wanita yang hidup sendiri, dilatih dan dibentuknya barisan wanita. Kebiasaan itu kulanjutkan sampai sekarang. Bahkan setiap kali ada laki-laki berani memasuki wilayah kami, tentu dia kami bunuh seketika!"

Joko Wandiro terkejut.
"Mengapa begitu?"
Wajah yang manis itu mengeras.
"Kami tidak memperbolehkan laki-laki mendekat, karena mereka itu hanya akan mendatangkan malapetaka! Kalau sampai seorang di antara anak buahku terpikat dan pergi bersama seorang pria, bukankah keadaan kami bukan rahasia lagi dan persembunyian kami akan ketahuan sehingga fihak musuh akan dapat mengirim pasukan untuk membasmi kami?"
"Ah, engkau dikejar-kejar kekhawatiranmu sendiri, Dewi. Agaknya karena semenjak bayi engkau dibawa sebagai buronan oleh mendiang ayahmu, jiwamu sudah tercekam rasa takut ketahuan tempat sembunyimu. Apakah engkau tidak tahu bahwa keadaan sudah berubah sama sekali? Tidak seorangpun kini teringat akan keturunan Kerajaan Wengker. Tidak ada yang akan mengejar-ngejarmu. Karena itu, tidak baik kalau kau membunuhi orang yang memasuki wilayah ini."
"Hemm, betapapun juga, ayah dahulu berpesan supaya kami berhati-hati menghadapi setiap orang pria, karena laki-laki adalah mahluk yang paling jahat dan berbahaya. Karena itu, entah sudah berapa puluh orang laki-laki yang kami bunuh ketika mereka lewat daerah ini."

<<< Bagian 135                                                                                      Bagian 137 >>>

No comments:

Post a Comment