Badai Laut Selatan ; Bagian 137


Joko Wandiro menjadi tak senang hatinya mendengar kekejaman ini. Alisnya yang tebal berkerut dan ia bertanya sengat ketus,
"Kalau begitu, mengapa engkau malah menolong aku dan tidak membunuhku? Bukankah aku juga laki-laki?"
Dewi tersenyum, empat orang adiknya ikut pula tertawa.
"Pertanyaan inilah yang membuat kami terlambat menolongmu, Joko Wandiro. Ketika engkau bertanding melawan wanita sakti itu, kami diam-diam menonton dan kagum. Menurut kebiasaan, tentu kami sudah turun tangan membantu wanita itu membunuhmu. Akan tetapi..... eh........ kami ragu-ragu, berdebat, berunding, bersitegang antara kami berlima, kemudian mengambil keputusan. Akan tetapi sayang terlambat, engkau sudah dirobohkan laki-laki buntung yang curang."
"Ki Jatoko..... ! Sudah kuduga !" Tanpa disadarinya Joko Wandiro berseru, kemudian ia teringat akan penuturan tadi lalu cepat bertanya,
"Keputusan Apa yang kauambil sehingga kalian tidak membunuhku?"
Tiba-tiba wajah yang ayu itu menjadi merah sekali, sedangkan yang empat lain terkekeh-kekeh genit.
"Joko Wandiro, ketika ayah hendak mangkat, ayah berpesan agar aku berhati-hati menghadapi pria dan bila berjumpa, lebih baik membunuhnya. Kecuali....... begitu pesan ayah, kecuali....... jika aku bertemu dengan pria yang mencocoki hati, yang dapat kujadikan sandaran hidup, yang patut kuserahi badan dan nyawa, dan melihat engkau....... aku....... aku dan adik-adikku. eh...... "

Dewi menjadi gagap, kemudian tanpa peringatan terlebih dahulu ia sudah maju merangkul dan mengambung pipi Joko Wandiro!. Joko Wandiro terkejut bukan main, mukanya terasa panas dan jantungnya seperti hendak melompat keluar dari rongga dada. Selagi ia hendak memprotes, tiba-tiba tubuhnya menggigil dan bulu kuduknya meremang semua karena empat orang gadis yang merubungnya ltupun merangkul dan menciuminya, di kepala, di leher, di bahu dan lengan!.
“Eiit....... eiittt....... eiiittt....... nanti dulu.......!"
Ia meronta dan melompat turun dari atas pembaringan. Keringatnya membasahi leher dan dahi, keringat dingin yang keluar karena kaget dan bingungnya. Akan tetapi, Dewi dan empat orang adiknya juga melompat turun dengan gerakan sigap sekali, serta-merta mereka berlima menjatuhkan diri di depan kaki Joko Wandiro, berlutut dan menyembah-nyembah!
"Kami berlima menghambakan diri kepadamu dan bersumpah setia sampai mati. Bukan hanya kami berlima, juga tiga puluh orang anak buah kami bersetia kepadamu, Joko Wandiro, siap untuk membela dengan pengorbanan apapun juga."
Setelah berkata demikian, tiba-tiba Dewi mengeluarkan jeritan tiga kali, dan membuka pintu pondok, kemudian mereka berlima beramai-ramai menarik kedua tangan Joko Wandiro keluar pondok. Pemuda ini terpaksa melangkah keluar dan ia tertegun memandang ke depan. Tiga puluh orang wanita yang pakaiannya hanya daun-daunan akan tetapi yang kesemuanya membawa bamboo runcing, telah berada di situ dan kini serentak mereka itu menjatuhkan diri berlutut di depannya, menundukkan kepala dan menyembah!
Ia maklum bahwa jeritan Dewi tadi merupakan komando untuk berkumpul. Akan tetapi ia masih belum mengerti apa kehendak Dewi dengan mengumpulkan anak buahnya ini. Selagi ia berdiri bingung, Dewi dan empat orang adiknya kembali sudah menjatuhkan diri berlutut di depannya dan terdengar suara merdu namun lantang,
"Kami telah bersepakat untuk mengabdi kepadamu, Joko Wandiro, dan kami berikut anak buah kami bersumpah untuk bersetia sampai mati kepadamu. Engkaulah pria pilihan kami seperti yang dipesankan oleh mendiang ayahku."

Joko Wandiro berdiri bengong. Tertegun ia memandang tiga puluh lima buah kepala yang berambut hitam halus itu menunduk di depannya dan diam-diam ia menyesali nasibnya yang serba aneh dan ruwet. Cinta kasihnya telah tercurahkan seluruhnya kepada Ayu Candra yang ternyata adalah adik kandungnya sendiri yang tak mungkin menjadi kekasihnya, tak mungkin menjadi jodohnya. Kemudian oleh ayah angkat atau gurunya, ia dijodohkan dengan Endang Patibroto, gadis ganas liar dan pembunuh ibu kandungnya, sehingga jelas tak mungkin pula ia mengawini pembunuh ibu kandungnya sendiri. Dapat ia mengekang diri dan tidak menaruh dendam, akan tetapi akan terlalu durhakalah ia kalau ia menikah dengan gadis yang menjadi pembunuh ibu kandungnya! Kemudian ia bertemu dengan Mayagaluh. Gadis seperti puteri yang baik budi itu kiranya akan mudah menjatuhkan hatinya, akan tetapi kemudian ternyata olehnya betapa sang puteri telah mempunyai seorang kekasih, yaitu Pangeran Darmokusumo.
Dan sekarang, dengan tak tersangka-sangka sama sekali, Dewi menyatakan pasrah jiwa raga kepadanya, hendak mengabdi dan menjadi isterinya, bukan sendirian, melainkan bersama empat orang adik seperguruannya, lima orang dara yang perkasa dan muda belia cantik jelita, masih ditambah lampiran tiga puluh orang wanita cantik-cantik lagi!. Kembali matanya menyapu ke arah tiga puluh lima orang wanita itu. Ia bergidik. Sekaligus dihadiahi tiga puluh lima orang wanita cantik, benar-benar amat terlalu banyak!.
"Ti...... tidak........ tak mungkin ini....! Dewi, aku sendiri seorang sebatangkara, seorang jaka lola yang hidup sengsara dan miskin. Mana mungkin kalian menghambakan diri kepada orang seperti aku ini? Tidak, bangkitlah dan jangan bertindak yang bukan-bukan. Sudah terlalu banyak budi yang kaulepaskan untukku."
Dewi melompat bangun diturut oleh empat orang adiknya. Ketika Joko Wandiro memandang, ia tercengang karena lima orang gadis cantik itu mengalirkan air mata di sepanjang kedua pipi mereka!
"Mengapa kau menolak? Apakah kami........... tidak cukup berharga bagimu?"
"Bukan! Bukan begitu, bahkan sebaliknya. Kalian terlampau merendahkan diri. Akulah yang sama sekali tidak berharga, jangankan menerima penghambaan kalian semua, menerima penghambaan seorang di antara kalianpun sudah tidak pantas. Aku seorang miskin dan...... "
"Joko Wandiro, kami tidak membutuhkan apa-apa, bahkan kalau kau menghendaki sesuatu, kau katakan saja. Kami pasti akan dapat menyediakan untukmu. Kami mengangkatmu menjadi kepala yang memimpin kami semua di tempat ini, dan perintahlah saja, kami akan melakukan segala perintahmu. Biar harus menyerbu lautan api, kami takkan undur setapakpun."

Wajah Joko Wandiro menjadi muram. Ia terharu dan karenanya menjadi sedih. Dengan suara sungguh-sungguh ia berkata,
"Dewi, tenangkanlah perasaanmu dan pikirlah masak-masak. Aku ini seorang yang tak berharga dan sama sekali aku tak pernah melakukan sesuatu untuk kalian. Mengapa kini kalian hendak membalas dengan melimpahkan budi yang membuat aku menjadi tidak enak saja? Bahkan sebaliknya kaulah, Dewi, yang sudah menyelamatkan nyawaku sehingga sebenarnya akulah yang harus membalas budi. Kalau saja lain hal yang kauminta untuk membalas budimu, tentu akan kulaksanakan. Akan tetapi permintaanmu itu sungguh hal yang tak mungkin kulakukan dan......."
"Joko Wandiro! Dengar, kami sudah berjanji kepada mendiang ayah untuk membunuh setiap orang pria yang memasuki wilayah ini, tentu saja ada kecualinya, yaitu pria yang dapat kami angkat sebagai kepala. Kau menjadi pilihan kami dan kalau engkau menolak, tidak ada lain jalan lagi bagi kami kecuali membunuhmu atau terbasmi habis oleh tanganmu!"
Dewi mengeluarkan kata-kata ini dengan mata berapi-api dan kedua pipinya merah sekali menambah kecantikannya yang asli. Joko Wandiro dapat menerima alasan ini, sungguhpun hal itu merupakan suatu keganjilan bagi manusia biasa. Karena itu ia menjadi makin bingung, kemudian ia berkata tenang,
"Boleh kalian coba Dewi. Kalau memang sudah menjadi kehendak Dewata bahwa aku mesti mati di tangan kalian, aku akan rela. Akan tetapi kalau belum mestinya mati, kurasa aku akan berhasil melarikan diri tanpa melukai seorangpun di antara kalian!"

Dewi mengeluarkan jerit melengking dan serentak dia mengurung Joko Wandiro dengan empat orang adiknya, sedangkan tiga puluh orang prajurit wanita itupun bergerak dan berlari-lari membuat pagar mengelilingi pemuda itu dengan bambu runcing siap di tangan! Aneh pagar manusia ini karena terus bergerak, berlari-larian mengelilingi Joko Wandiro dari jarak jauh.
"Boleh kaucoba, Joko Wandiro! Kau takkan dapat pergi dari sini tanpa lebih dulu membunuh kami semua dan andaikata dapat juga, kau takkan pernah terlepas daripada pengejaran kami! Kau membunuh kami semua atau kau mati, kalau kau tak mau menerima permintaan kami!"
Joko Wandiro terkejut juga. Kalau sedemikian hebat tekad gadis-gadis ini, memang serba sukarlah baginya. Ia tahu bahwa gadis-gadis ini tidak mempunyai niat buruk, dan setulusnya hati hendak menghambakan diri kepadanya, karenanya ia dapat menduga bahwa andaikata ia dapat lolos, tentu ia akan selalu dicari-cari dan dikejar-kejar kemanapun juga ia pergi. Namun, tugasnya masih belum selesai. Ia harus mencari Ayu Candra, dan iapun harus mencari Endang Patibroto, membujuknya dan kalau perlu menggunakan kekerasan mengalahkannya untuk membawanya ke depan ibu gadis itu di Sempu. Kemudian, setelah ia berhasil mendapatkan kembali adik kandungnya, ia harus mengatur perjodohan Ayu Candra dengan Joko Seto seperti yang dipesankan oleh ayah Ayu Candra. Setelah itu, ia masih periu menyelesaikan tugas yang dipesankan gurunya, yaitu menghadapi orang-orang jahat yang membikin keadaan makin keruh antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Kalau orang-orang jahat yang sakti itu dapat dihalau, agaknya masih ada jalan perdamaian antara dua kerajaan yang masih bersaudara itu.
Hal itu bukan tak mungkin dilakukan, mengingat akan perhubungan dua di antara anak-anak mereka yaitu Pangeran Darmokusumo dan Puteri Mayagaluh. Yang bermusuhan adalah si orang-orang tua yang kukuh, sedangkan melihat keadaan orang-orang mudanya, amatlah baik. Ia tidak percaya bahwa orang-orang muda seperti Pangeran Panjirawit dan Pangeran Darmokusumo tidak dapat diajak saling berdamai.

"Joko Wandiro, mengapa kau bengong saja? Apakah kau sudah insyaf dan dapat berlaku bijaksana, menerima permintaan kami?" Tiba-tiba Dewi menegur dengan suara penuh harap.
Joko Wandiro kaget. Ia menggeleng kepala dan menjawab,
"Menyesal sekali, Dewi. Tugasku masih banyak, bagaimana aku dapat tinggal di sini? Aku akan pergi ! "
Setelah berkata demikian, tubuh Joko Wandiro tiba-tiba melesat ke atas dalam lompatan yang tinggi. Ia sudah menggunakan Ilmu Bayu Sakti untuk melompat dan lolos melalui atas kepala lima orang gadis yang mengurungnya. Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia menurunkan kedua kakinya ke atas tanah, lima orang gadis itu kembali sudah berdiri mengurungnya, dan mereka berlima mengurung sambil menangis! Dewi yang tepat berada di depannya lalu berkata nyaring,
"Kalau begitu, engkau atau kami yang binasa!"
Kata-kata ini disusul terjangan yang hebat juga, dengan kedua lengan diulur ke depan, jari tangan terbuka membentuk cakar elang menyerang ke arah leher dan dada. Sambaran angin serangan ini cukup dapat ditaksir oleh Joko Wandiro sampai di mana tingkat kepandaian gadis ini. Biarpun ia tahu bahwa tingkat kepandaian Dewi dua kali lebih tinggi daripada empat orang adiknya, namun baginya Dewi bukanlah lawan yang sukar untuk dikalahkan. Akan tetapi yang membuat ia kagum adalah cara mereka menyerang dengan teratur. Tadipun ia sudah kaget ketika melompat melalui atas kepala mereka dan turun, tahu-tahu sudah terkurung lagi sedangkan barisan di luar juga tetap berlari-lari membentuk lingkaran. Ia dapat menduga bahwa biarpun mengenai ilmu silat, ia tidak perlu khawatir terhadap pengeroyokan mereka, namun ia harus berhati-hati terhadap ilmu mereka mengatur dan membentuk barisan. Ayah gadis itu adalah bekas senopati Wengker, seorang ahli perang yang tentu saja pandai mengatur barisan dan agaknya kepandaian ini menurun kepada Dewi.

Serangan Dewi tidak ia tangkis, melainkan dengan miringkan tubuh dan menggeser kaki, ia sudah terbebas pula dari kurungan. Akan tetapi pengurung di sebelah kiri, Mini dan Sari, juga ikut melompat mundur dan kembali ke posisi semula sedangkan tiga orang saudaranya mengejar dan dalam sekejap saja Joko Wandiro sudah terkurung kembali. Kini mereka melancarkan serangan susul-menyusul dan bertubi-tubi. Mereka masih menangis, dan Joko Wandiro melihat betapa serangan mereka itu bersungguh-sungguh, bukan serangan untuk menawan, melainkan serangan untuk membunuh! Ia merasa serba repot. Meloloskan diri dari kepungan lima orang gadis bertangan kosong ini saja bukan hal mudah, apalagi kalau barisan bambu runcing di luar itu turut mengepung! Memang tidak akan sukar kalau ia membuka jalan darah untuk meloloskan diri, akan tetapi justeru ia tidak
menghendaki hal ini terjadi. Agaknya Dewi dan kawan-kawannya memang sudah bertekad bulat untuk memenuhi kata-kata Dewi tadi, yaitu, membunuh atau terbunuh! Sambil memutar otak untuk mencari akal, Joko Wandiro melayani lima orang gadis itu.

<<< Bagian 136                                                                                     Bagian 138 >>>

No comments:

Post a Comment