Joko Wandiro menjadi tak senang hatinya mendengar kekejaman ini. Alisnya yang tebal berkerut dan ia bertanya sengat ketus,
"Kalau
begitu, mengapa engkau malah menolong aku dan tidak membunuhku? Bukankah aku
juga laki-laki?"
Dewi
tersenyum, empat orang adiknya ikut pula tertawa.
"Pertanyaan
inilah yang membuat kami terlambat menolongmu, Joko Wandiro. Ketika engkau
bertanding melawan wanita sakti itu, kami diam-diam menonton dan kagum. Menurut
kebiasaan, tentu kami sudah turun tangan membantu wanita itu membunuhmu. Akan
tetapi..... eh........ kami ragu-ragu, berdebat, berunding, bersitegang antara
kami berlima, kemudian mengambil keputusan. Akan tetapi sayang terlambat,
engkau sudah dirobohkan laki-laki buntung yang curang."
"Ki
Jatoko..... ! Sudah kuduga !" Tanpa disadarinya Joko Wandiro berseru,
kemudian ia teringat akan penuturan tadi lalu cepat bertanya,
"Keputusan
Apa yang kauambil sehingga kalian tidak membunuhku?"
Tiba-tiba
wajah yang ayu itu menjadi merah sekali, sedangkan yang empat lain
terkekeh-kekeh genit.
"Joko
Wandiro, ketika ayah hendak mangkat, ayah berpesan agar aku berhati-hati
menghadapi pria dan bila berjumpa, lebih baik membunuhnya. Kecuali.......
begitu pesan ayah, kecuali....... jika aku bertemu dengan pria yang mencocoki
hati, yang dapat kujadikan sandaran hidup, yang patut kuserahi badan dan nyawa,
dan melihat engkau....... aku....... aku dan adik-adikku. eh...... "
Dewi menjadi
gagap, kemudian tanpa peringatan terlebih dahulu ia sudah maju merangkul dan
mengambung pipi Joko Wandiro!. Joko Wandiro terkejut bukan main, mukanya terasa
panas dan jantungnya seperti hendak melompat keluar dari rongga dada. Selagi ia
hendak memprotes, tiba-tiba tubuhnya menggigil dan bulu kuduknya meremang semua
karena empat orang gadis yang merubungnya ltupun merangkul dan menciuminya, di
kepala, di leher, di bahu dan lengan!.
“Eiit.......
eiittt....... eiiittt....... nanti dulu.......!"
Ia meronta dan
melompat turun dari atas pembaringan. Keringatnya membasahi leher dan dahi,
keringat dingin yang keluar karena kaget dan bingungnya. Akan tetapi, Dewi dan
empat orang adiknya juga melompat turun dengan gerakan sigap sekali,
serta-merta mereka berlima menjatuhkan diri di depan kaki Joko Wandiro,
berlutut dan menyembah-nyembah!
"Kami
berlima menghambakan diri kepadamu dan bersumpah setia sampai mati. Bukan hanya
kami berlima, juga tiga puluh orang anak buah kami bersetia kepadamu, Joko
Wandiro, siap untuk membela dengan pengorbanan apapun juga."
Setelah
berkata demikian, tiba-tiba Dewi mengeluarkan jeritan tiga kali, dan membuka
pintu pondok, kemudian mereka berlima beramai-ramai menarik kedua tangan Joko
Wandiro keluar pondok. Pemuda ini terpaksa melangkah keluar dan ia tertegun
memandang ke depan. Tiga puluh orang wanita yang pakaiannya hanya daun-daunan
akan tetapi yang kesemuanya membawa bamboo runcing, telah berada di situ dan
kini serentak mereka itu menjatuhkan diri berlutut di depannya, menundukkan
kepala dan menyembah!
Ia maklum
bahwa jeritan Dewi tadi merupakan komando untuk berkumpul. Akan tetapi ia masih
belum mengerti apa kehendak Dewi dengan mengumpulkan anak buahnya ini. Selagi
ia berdiri bingung, Dewi dan empat orang adiknya kembali sudah menjatuhkan diri
berlutut di depannya dan terdengar suara merdu namun lantang,
"Kami
telah bersepakat untuk mengabdi kepadamu, Joko Wandiro, dan kami berikut anak
buah kami bersumpah untuk bersetia sampai mati kepadamu. Engkaulah pria pilihan
kami seperti yang dipesankan oleh mendiang ayahku."
Joko Wandiro
berdiri bengong. Tertegun ia memandang tiga puluh lima buah kepala yang
berambut hitam halus itu menunduk di depannya dan diam-diam ia menyesali
nasibnya yang serba aneh dan ruwet. Cinta kasihnya telah tercurahkan seluruhnya
kepada Ayu Candra yang ternyata adalah adik kandungnya sendiri yang tak mungkin
menjadi kekasihnya, tak mungkin menjadi jodohnya. Kemudian oleh ayah angkat
atau gurunya, ia dijodohkan dengan Endang Patibroto, gadis ganas liar dan
pembunuh ibu kandungnya, sehingga jelas tak mungkin pula ia mengawini pembunuh
ibu kandungnya sendiri. Dapat ia mengekang diri dan tidak menaruh dendam, akan
tetapi akan terlalu durhakalah ia kalau ia menikah dengan gadis yang menjadi
pembunuh ibu kandungnya! Kemudian ia bertemu dengan Mayagaluh. Gadis seperti
puteri yang baik budi itu kiranya akan mudah menjatuhkan hatinya, akan tetapi
kemudian ternyata olehnya betapa sang puteri telah mempunyai seorang kekasih,
yaitu Pangeran Darmokusumo.
Dan sekarang,
dengan tak tersangka-sangka sama sekali, Dewi menyatakan pasrah jiwa raga kepadanya,
hendak mengabdi dan menjadi isterinya, bukan sendirian, melainkan bersama empat
orang adik seperguruannya, lima orang dara yang perkasa dan muda belia cantik
jelita, masih ditambah lampiran tiga puluh orang wanita cantik-cantik lagi!.
Kembali matanya menyapu ke arah tiga puluh lima orang wanita itu. Ia bergidik.
Sekaligus dihadiahi tiga puluh lima orang wanita cantik, benar-benar amat
terlalu banyak!.
"Ti......
tidak........ tak mungkin ini....! Dewi, aku sendiri seorang sebatangkara,
seorang jaka lola yang hidup sengsara dan miskin. Mana mungkin kalian
menghambakan diri kepada orang seperti aku ini? Tidak, bangkitlah dan jangan
bertindak yang bukan-bukan. Sudah terlalu banyak budi yang kaulepaskan
untukku."
Dewi melompat
bangun diturut oleh empat orang adiknya. Ketika Joko Wandiro memandang, ia
tercengang karena lima orang gadis cantik itu mengalirkan air mata di sepanjang
kedua pipi mereka!
"Mengapa
kau menolak? Apakah kami........... tidak cukup berharga bagimu?"
"Bukan!
Bukan begitu, bahkan sebaliknya. Kalian terlampau merendahkan diri. Akulah yang
sama sekali tidak berharga, jangankan menerima penghambaan kalian semua,
menerima penghambaan seorang di antara kalianpun sudah tidak pantas. Aku
seorang miskin dan...... "
"Joko
Wandiro, kami tidak membutuhkan apa-apa, bahkan kalau kau menghendaki sesuatu,
kau katakan saja. Kami pasti akan dapat menyediakan untukmu. Kami mengangkatmu
menjadi kepala yang memimpin kami semua di tempat ini, dan perintahlah saja,
kami akan melakukan segala perintahmu. Biar harus menyerbu lautan api, kami
takkan undur setapakpun."
Wajah Joko
Wandiro menjadi muram. Ia terharu dan karenanya menjadi sedih. Dengan suara
sungguh-sungguh ia berkata,
"Dewi,
tenangkanlah perasaanmu dan pikirlah masak-masak. Aku ini seorang yang tak berharga
dan sama sekali aku tak pernah melakukan sesuatu untuk kalian. Mengapa kini
kalian hendak membalas dengan melimpahkan budi yang membuat aku menjadi tidak
enak saja? Bahkan sebaliknya kaulah, Dewi, yang sudah menyelamatkan nyawaku
sehingga sebenarnya akulah yang harus membalas budi. Kalau saja lain hal yang
kauminta untuk membalas budimu, tentu akan kulaksanakan. Akan tetapi
permintaanmu itu sungguh hal yang tak mungkin kulakukan dan......."
"Joko
Wandiro! Dengar, kami sudah berjanji kepada mendiang ayah untuk membunuh setiap
orang pria yang memasuki wilayah ini, tentu saja ada kecualinya, yaitu pria
yang dapat kami angkat sebagai kepala. Kau menjadi pilihan kami dan kalau
engkau menolak, tidak ada lain jalan lagi bagi kami kecuali membunuhmu atau terbasmi
habis oleh tanganmu!"
Dewi
mengeluarkan kata-kata ini dengan mata berapi-api dan kedua pipinya merah
sekali menambah kecantikannya yang asli. Joko Wandiro dapat menerima alasan
ini, sungguhpun hal itu merupakan suatu keganjilan bagi manusia biasa. Karena
itu ia menjadi makin bingung, kemudian ia berkata tenang,
"Boleh
kalian coba Dewi. Kalau memang sudah menjadi kehendak Dewata bahwa aku mesti
mati di tangan kalian, aku akan rela. Akan tetapi kalau belum mestinya mati,
kurasa aku akan berhasil melarikan diri tanpa melukai seorangpun di antara
kalian!"
Dewi
mengeluarkan jerit melengking dan serentak dia mengurung Joko Wandiro dengan
empat orang adiknya, sedangkan tiga puluh orang prajurit wanita itupun bergerak
dan berlari-lari membuat pagar mengelilingi pemuda itu dengan bambu runcing
siap di tangan! Aneh pagar manusia ini karena terus bergerak, berlari-larian
mengelilingi Joko Wandiro dari jarak jauh.
"Boleh
kaucoba, Joko Wandiro! Kau takkan dapat pergi dari sini tanpa lebih dulu
membunuh kami semua dan andaikata dapat juga, kau takkan pernah terlepas
daripada pengejaran kami! Kau membunuh kami semua atau kau mati, kalau kau tak
mau menerima permintaan kami!"
Joko Wandiro
terkejut juga. Kalau sedemikian hebat tekad gadis-gadis ini, memang serba
sukarlah baginya. Ia tahu bahwa gadis-gadis ini tidak mempunyai niat buruk, dan
setulusnya hati hendak menghambakan diri kepadanya, karenanya ia dapat menduga
bahwa andaikata ia dapat lolos, tentu ia akan selalu dicari-cari dan
dikejar-kejar kemanapun juga ia pergi. Namun, tugasnya masih belum selesai. Ia
harus mencari Ayu Candra, dan iapun harus mencari Endang Patibroto, membujuknya
dan kalau perlu menggunakan kekerasan mengalahkannya untuk membawanya ke depan
ibu gadis itu di Sempu. Kemudian, setelah ia berhasil mendapatkan kembali adik
kandungnya, ia harus mengatur perjodohan Ayu Candra dengan Joko Seto seperti
yang dipesankan oleh ayah Ayu Candra. Setelah itu, ia masih periu menyelesaikan
tugas yang dipesankan gurunya, yaitu menghadapi orang-orang jahat yang membikin
keadaan makin keruh antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Kalau orang-orang
jahat yang sakti itu dapat dihalau, agaknya masih ada jalan perdamaian antara
dua kerajaan yang masih bersaudara itu.
Hal itu bukan
tak mungkin dilakukan, mengingat akan perhubungan dua di antara anak-anak
mereka yaitu Pangeran Darmokusumo dan Puteri Mayagaluh. Yang bermusuhan adalah
si orang-orang tua yang kukuh, sedangkan melihat keadaan orang-orang mudanya,
amatlah baik. Ia tidak percaya bahwa orang-orang muda seperti Pangeran
Panjirawit dan Pangeran Darmokusumo tidak dapat diajak saling berdamai.
"Joko
Wandiro, mengapa kau bengong saja? Apakah kau sudah insyaf dan dapat berlaku
bijaksana, menerima permintaan kami?" Tiba-tiba Dewi menegur dengan suara
penuh harap.
Joko Wandiro
kaget. Ia menggeleng kepala dan menjawab,
"Menyesal
sekali, Dewi. Tugasku masih banyak, bagaimana aku dapat tinggal di sini? Aku
akan pergi ! "
Setelah
berkata demikian, tubuh Joko Wandiro tiba-tiba melesat ke atas dalam lompatan
yang tinggi. Ia sudah menggunakan Ilmu Bayu Sakti untuk melompat dan lolos
melalui atas kepala lima orang gadis yang mengurungnya. Akan tetapi, alangkah
herannya ketika ia menurunkan kedua kakinya ke atas tanah, lima orang gadis itu
kembali sudah berdiri mengurungnya, dan mereka berlima mengurung sambil
menangis! Dewi yang tepat berada di depannya lalu berkata nyaring,
"Kalau
begitu, engkau atau kami yang binasa!"
Kata-kata ini
disusul terjangan yang hebat juga, dengan kedua lengan diulur ke depan, jari
tangan terbuka membentuk cakar elang menyerang ke arah leher dan dada. Sambaran
angin serangan ini cukup dapat ditaksir oleh Joko Wandiro sampai di mana
tingkat kepandaian gadis ini. Biarpun ia tahu bahwa tingkat kepandaian Dewi dua
kali lebih tinggi daripada empat orang adiknya, namun baginya Dewi bukanlah
lawan yang sukar untuk dikalahkan. Akan tetapi yang membuat ia kagum adalah
cara mereka menyerang dengan teratur. Tadipun ia sudah kaget ketika melompat
melalui atas kepala mereka dan turun, tahu-tahu sudah terkurung lagi sedangkan
barisan di luar juga tetap berlari-lari membentuk lingkaran. Ia dapat menduga
bahwa biarpun mengenai ilmu silat, ia tidak perlu khawatir terhadap
pengeroyokan mereka, namun ia harus berhati-hati terhadap ilmu mereka mengatur
dan membentuk barisan. Ayah gadis itu adalah bekas senopati Wengker, seorang
ahli perang yang tentu saja pandai mengatur barisan dan agaknya kepandaian ini
menurun kepada Dewi.
Serangan Dewi
tidak ia tangkis, melainkan dengan miringkan tubuh dan menggeser kaki, ia sudah
terbebas pula dari kurungan. Akan tetapi pengurung di sebelah kiri, Mini dan
Sari, juga ikut melompat mundur dan kembali ke posisi semula sedangkan tiga
orang saudaranya mengejar dan dalam sekejap saja Joko Wandiro sudah terkurung
kembali. Kini mereka melancarkan serangan susul-menyusul dan bertubi-tubi.
Mereka masih menangis, dan Joko Wandiro melihat betapa serangan mereka itu
bersungguh-sungguh, bukan serangan untuk menawan, melainkan serangan untuk
membunuh! Ia merasa serba repot. Meloloskan diri dari kepungan lima orang gadis
bertangan kosong ini saja bukan hal mudah, apalagi kalau barisan bambu runcing
di luar itu turut mengepung! Memang tidak akan sukar kalau ia membuka jalan
darah untuk meloloskan diri, akan tetapi justeru ia tidak
menghendaki
hal ini terjadi. Agaknya Dewi dan kawan-kawannya memang sudah bertekad bulat
untuk memenuhi kata-kata Dewi tadi, yaitu, membunuh atau terbunuh! Sambil
memutar otak untuk mencari akal, Joko Wandiro melayani lima orang gadis itu.
No comments:
Post a Comment