Badai Laut Selatan ; Bagian 138


Ia kini mulai menangkis dengan menggunakan sedikit tenaga karena ia tidak tega untuk melukai atau menyakiti mereka. Dengan gerakan yang amat ringan dan cepat, sekali bergerak ia sudah dapat menangkis dua tiga serangan, karena hawa sakti yang menyambar keluar dari kedua lengannya saja sudah cukup membuat lawan-lawan itu terdorong ke belakang. Segera terdengar jerit-jerit susul-menyusul karena kaget. Akan tetapi begitu terdorong dan hampir roboh, gadis- gadis itu sudah meloncat lagi dan tak pernah merubah posisi pengurungan yang teratur itu. Barisan luar juga terus bergerak menyesuaikan kedudukan mereka dengan kedudukan lima orang pemimpin mereka.
"Dewi, mengapa kau dan adik-adikmu begini keras kepala?"
Joko Wandiro berseru jengkel ketika melihat Dewi sendiri terhuyung dan roboh miring, kini sudah meloncat bangun lagi dan menerjangnya dengan hantaman nekad tanpa memperdulikan penjagaan diri lagi. Kembali hantaman itu mengenai ternpat kosong dan Dewi menjawab dengan suara terisak,
"Boleh jadi kami keras kepala, akan tetapi engkau sama sekali tidak mempunyai hati, Joko Wandiro!"
"Hayo bunuh kami, Joko Wandiro!" jerit pula Mini sambil menubruk dengan terkaman seperti seekor harimau kelaparan menubruk kelinci.
Serangan ini disusul oleh Lasmi, Sari, Sundari dan Dewi yang memperhebat serangan tanpa perdulikan penjagaan diri. Joko Wandiro mengeluh. Terpaksa ia mengeraskan hatinya dan kedua lengannya bergerak cepat sekali. Dengan tenaga sedikit ia telah menggunakan Pethit Nogo menampar bahu mereka. Lima orang gadis itu menjerit dan berturut-turut terbanting bergulingan di atas tanah.
Sejenak mereka tak dapat bangun seperti orang disambar petir saking hebatnya Aji Pethit Nogo yang dipergunakan Joko Wandiro. Dengan hati penuh kasihan dan penyesalan, Joko Wandiro yang berhasil merobohkan lima orang pengurungnya itu hendak lari, akan tetapi tiga puluh batang bambu runcing mengurungnya dengan gerakan cepat dan juga teratur sekali. Bambu-bambu runcing itu tidak hanya menodongnya, akan tetapi juga menjaga jalan keluar dari atas, bahkan menerobos di antara kaki-kaki merekapun tak mungkin karena di situ telah terjaga ujung-ujung bambu pula. Tiga puluh orang gadis itu mengurungnya dengan tiga lapis dari sepuluh orang. Begitu rapatnya penjagaan itu sehingga kalau ia mau meloloskan diri, sedikitnya ia harus membuka jalan darah merobohkan sepuluh orang! Celakanya, selagi ia meragu, lima orang gadis yang ia robohkan tadi kini sudah bangkit kembali dan sambii terisak menangis telah menerjangnya dengan hebat, seakan-akan pukulan Pethit Nogo yang hebat tadi sama sekali tidak mereka takuti. Mereka menyebutku tidak berhati! Betulkah ini? Joko Wandiro berpikir-pikir dan mempertimbangkan keadaannya. Kemudian ia berhenti bergerak dan mengangkat tangan kanan ke atas.
"Dewi, berhenti dulu, aku mau bicara!"

Dewi mengeluarkan perintah dan semua anak buahnya berhenti bergerak. Ketika Joko memandang lima orang gadis itu, terpaksa ia meramkan matanya karena pertempuran mati-matian tadi, Apalagi pukulannya Pethit Nogo yang merobohkan mereka, membuat "pakaian" mereka dari daun-daun dan bunga-bunga itu rontok berhamburan dan hanya tinggal sedikit yang masih menutupi tubuh sehingga tampaklah bagian-bagian tubuh yang semestinya ditutupi. Setelah sejenak meramkan mata menekan perasaannya yang berdebar, ia membuka mata kembali lalu berkata, suaranya tenang,
"Dewi, engkau dan anak buahmu agaknya sudah bertekad bulat dan mati-matian untuk mempertahankan permintaanmu. Kenekatan kalian ini membuat aku ragu-ragu dan aku mau mempertimbangkan permintaanmu, Dewi."
Wajah lima orang gadis yang tadinya suram dan menangis itu seketika menjadi berseri. Dewi mengeluarkan aba-aba dan mereka semua serentak menjatuhkan diri berlutut di depan Joko Wandiro!
"Joko Wandiro, percayalah bahwa kami sudah bersumpah memilihmu sebagai pemimpin yang kami idam-idamkan semenjak bertahun-tahun. Tidak terhitung banyaknya pria yang hendak merebut kedudukan pimpinan dan menjajah kami, namun semua dapat kami basmi dan kami bunuh. Kami bertahun-tahun menanti saat ini, menanti datangnya seorang yang tepat menjadi pemimpin kami, yang boleh kami jadikan sandaran hidup selamanya, yang akan kami layani dengan seluruh jiwa raga kami. Engkaulah orangnya, Joko Wandiro. Kami sudah bertekad menghambakan diri kepadamu atau....... di antara kita harus mati."
Joko Wandiro menarik napas panjang.
"Akan menjadi orang jahatlah aku kalau membalas budi pertolongan kalian kepadaku dengan permusuhan, apalagi harus membunuh seorang di antara kalian. Akan tetapi, permintaan kalian sungguh merupakan hal baru dan janggal bagiku. Dewi, aku suka menerima permintaan kalian untuk menjadi pemimpin kalian. Akan tetapi hanya dengan syarat, dan kalau kalian tidak mau memenuhi syarat ini, biarlah kalian bunuh saja aku untuk menebus budi pertolongan kalian, aku takkan melawan lagi."
Dengan teriakan girang Dewi meloncat berdiri, merangkul leher Joko Wandiro dan....... menciumnya! Joko Wandiro gelagapan, mendorong halus tubuh hampir telanjang itu ke belakang lalu berkata,
"Nah, yang beginilah yang tak boleh kau lakukan, Dewi. Bagaimana, maukah kau mendengar syaratku?"
Dewi terdorong ke belakang, mukanya merah dan matanya berkilat-kilat, wajahnya berseri-seri. Ia berlutut kembali dan berkata,
"Katakanlah Apa syaratnya? Andaikata kau minta nyawaku sekarang juga, akan kuserahkan!"

Joko Wandiro merasa lehernya tercekik. Keharuan mencekam hatinya. Biarpun tingkah gadis-gadis ini liar dan ganas, namun harus ia akui bahwa mereka itu benar-benar jujur dan setia, tidak pandai bermanis bibir seperti gadis-gadis kota.
"Tidak, Dewi. Syaratku tidaklah seganas itu. Aku mau menjadi pimpinan kalian, akan tetapi mulai sekarang, kalian tiga puluh lima orang harus tunduk dan taat kepada semua perintahku. Kalau aku merubah peraturan-peraturan yang selama ini berlaku di sini, kalian tidak boleh membantah. Misalnya, peraturan untuk membunuh setiap orang pria yang memasuki wilayah Anjasmoro, inipun akan kurubah. Bagaimana?"
"Hanya itukah?" tanya Dewi.
"Itu syarat pertama. Syarat ke dua, sebagai seorang pemimpin, aku tidak mau harus selalu tinggal di sini karena aku masih mempunyai banyak sekali tugas di luar yang harus kuselesaikan. Bahkan aku membutuhkan bantuan kalian untuk tugas-tugasku itu, di antaranya, membantu aku mencari adik kandungku yang bernama Ayu Candra dan yang lenyap di daerah Anjasmoro ini ketika aku bertanding kemarin dulu itu. Ke tiga....... eh, ke tiga........ "
Sampai di sini Joko Wandiro tak dapat melanjutkan kata-katanya dan mukanya menjadi merah sekali karena malu dan jengah.
"Apakah syarat ke tiga? Harap beritahukan agar dapat kami pertimbangkan."
"Syarat ke tiga........ eh, aku....... aku hanya menjadi pemimpin kalian... bukan.......... bukan suami kalian......."
Setelah menggagap Joko Wandiro dapat menentramkan perasaannya lalu berkata tegas,
"Bukan sekali-kali aku tidak menghargai perasaan kalian, hanya....... dalam hal ini tak boleh ada paksaan dan aku....... aku masih belum ingin beristeri......."
Lima orang gadis itu saling pandang sambil tersenyum. Kemudian Dewi ber kata,
"Syarat pertama kami dapat menerima dan boleh kau merubah semua peraturan di sini, semua akan kami taati. Syarat ke dua, asal kau suka bersumpah lebih dahulu bahwa kau takkan menipu dan membohongi kami, tidak akan meninggalkan kami untuk selamanya dan tidak menggunakan syarat itu untuk membebaskan diri dari kami, juga kami terima. Tentu saja kalau kau melanggar, kami semua akan mencarimu sampai jumpa ke manapun juga kau pergi. Adapun tentang syarat ke tiga bagaimanakah kau dapat mengajukan syarat seperti itu ? Joko Wandiro, kami sudah bersumpah menyerahkan jiwa raga kami kepadamu, bersetia sampai mati, hal ini berarti bahwa kami semua adalah milikmu, bagaimana engkau akan mengingkari dan menolak kami? Kepada engkau seoranglah kami menyerahkan perasaan cinta kasih kami, kesetiaan, ketaatan, sehingga engkau merupakan junjungan kami, pemimpin kami, juga suami kami!"

Empat orang gadis lain mengangguk-angguk dan lima pasang mata yang bening itu memandang wajah Joko Wandiro penuh sinar mesra dan kasih sayang. Melihat ini, serasa berputar kepala Joko Wandiro dan ia cepat-cepat menggerakkan kedua tangan yang digoyang-goyangkan ke depan. Ia sendiri merasa heran mengapa jantungnya berdebar tidak karuan. Mengapa hatinya merasa senang dan bangga, mengapa penyerahan diri gadis-gadis cantik itu mendatangkan perasaan yang luar biasa anehnya dan yang membuat ia merasa tegang sehingga pikirannya menjadi keruh. Teringat ia akan penuturan bibinya, Roro Luhito, tentang kelakuan ayahnya di waktu muda. Ayahnya, menurut penuturan bibinya, adalah seorang yang pernah menyeleweng, mengejar-ngejar wanita, seorang pemuda bangsawan yang mata keranjang, gila perempuan, menjadi hamba daripada nafsu berahi! Teringat akan ini, seketika panas rasanya wajah Joko Wandiro. Cepat-cepat ia membentak,
"Tidak! Aku bukan laki-laki mata keranjang!!"

Bentakannya yang dilakukan dalam keadaan tak sadar itu keras sekali, mengejutkan Dewi dan adik-adiknya. Mereka meloncat berdiri dan memandang. Joko Wandiro sadar dan mukanya makin merah.
"Dewi, ketahuiah bahwa pernyataanmu itu, sungguhpun kaukeluarkan dengan hati jujur, iklas, dan terbuka, namun di dalam dunia ramai merupakan sebuah penyelewengan yang tidak semestinya dilakukan orang yang hendak berjalan di atas jalan kebenaran. Aku suka menerima permintaan kalian menjadi pemimpin kalian hanya dengan tujuan menuntun kalian ke jalan benar dan mencegah terjadinya permusuhan di antara kita, sama sekali tidak ada pamrih untuk memetik buah yang berupa kenikmatan dan kesenangan. Jalan untuk bersetia dan taat kepada pimpinan bukan hanya dengan cara menyerahkan diri seperti yang kau maksudkan. Tidak, Dewi. Bukan hanya aku seorang laki-laki di dunia ini dan untuk kalian semua, masih ada jodoh masing-masing yang kelak tentu akan kalian temukan setelah aku merubah peraturan di sini. Aku menghendaki agar kalian masing-masing menemukan jodoh kalian, menemukan pria pilihan hati masing-masing untuk memasuki jenjang perjodohan dan hidup bahagia, tidak lagi menjadi orang-orang buronan dan hidup dengan liar seperti sekarang ini. !!"
Tiba-tiba Dewi menangis dan empat orang adiknya ikut pula menangis. Dewi memegang tangan kanan Joko Wandiro dan empat orang yang lain juga ada yang memegang tangan, ada yang berlutut merangkul kaki.
"Tapi aku....... aku sudah menyerahkan hati dan cinta kasihku kepadamu......... " kata Dewi.
"Aku juga...... " kata Lasmi.
"Aku juga..... " sambung Mini, Sari dan Sundari berturut-turut.
Joko Wandiro tersenyum dan melepaskan diri dengan halus.
"Kelak akan berubah setelah kalian bertemu dengan pria-pria lain. Sudahlah, hal ini tak perlu kita perbincangkan sekarang. Pendeknya, bukan waktunya sekarang bagiku untuk bersenang dan bicara tentang perjodohan. Aku masih mempunyai banyak tugas dan perlu mendapat bantuan kalian. Mari kita bicara di dalam pondok."

Joko Wandiro dan lima orang gadis itu memasuki pondok di mana pemuda ini duduk di atas bangku bambu dikelilingi lima orang gadis cantik itu yang selalu bersikap mesra kepadanya. Mulailah Joko Wandiro mengeluarkan peraturan-peraturan baru untuk menuntun mereka ke dalam dunia sopan. Melihat betapa mereka ini menyimpan banyak sekali gumpalan emas yang amat berharga, Joko Wandiro lalu memerintahkan agar dengan emas itu Dewi dan adik-adiknya pergi menemui penduduk di kaki Gunung Anjasmoro, membeli pakaian-pakaian untuk mereka semua sehingga mereka tidak akan menjadi sekumpulan wanita liar setengah telanjang lagi. Kemudian ia mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Dewi dan adik-adiknya cukup baik, terutama sekali ilmu mengatur barisan yang mereka warisi dari mendiang Mamangkurdo ayah Dewi. Karena tingkat kepandaian Joko Wandiro jauh melampaui mereka, maka pemuda ini lalu memberi petunjuk dan menurunkan beberapa ilmu pukulan kepada mereka berlima sehingga mereka menjadi barisan yang makin hebat dan kuat lagi setelah mereka kelak berlatih matang.
Tiga puluh lima orang wanita itu menjadi girang sekali dan merasa bahagia mendapat seorang pemimpin seperti Joko Wandiro. Setiap hari mereka sibuk bersolek dengan pakaian baru mereka, atau berlatih ilmu baru yang mereka dapat, dan waktu selebihnya mereka pergunakan untuk berusaha menyenangkan hati Joko Wandiro. Pemuda ini mengambil keputusan untuk tinggal beberapa hari di sini, memimpin mereka membuat pondok-pondok baru dari kayu dam bambu, menuntun mereka menjadi wanita-wanita yang hidup normal tidak liar lagi. Akan tetapi sikap Dewi dan empat orang adiknya yang mesra, amat dan terlalu mesra terhadapnya, benar-benar menggelisahkan hatinya, bahkan kadang-kadang, entah terdorong oleh apa, menciumnya begitu saja! Ia sampai tergidik ngeri, bukan karena merasa jijik. Ah, mana bisa jijik kalau mereka itu merupakan dara-dara yang cantik sekali, yang setiap di antara mereka mampu menjatuhkan hati seorang pendeta alim sekalipun?

<<< Bagian 137                                                                                      Bagian 139 >>>

No comments:

Post a Comment