Ia kini mulai menangkis dengan menggunakan sedikit tenaga karena ia tidak tega untuk melukai atau menyakiti mereka. Dengan gerakan yang amat ringan dan cepat, sekali bergerak ia sudah dapat menangkis dua tiga serangan, karena hawa sakti yang menyambar keluar dari kedua lengannya saja sudah cukup membuat lawan-lawan itu terdorong ke belakang. Segera terdengar jerit-jerit susul-menyusul karena kaget. Akan tetapi begitu terdorong dan hampir roboh, gadis- gadis itu sudah meloncat lagi dan tak pernah merubah posisi pengurungan yang teratur itu. Barisan luar juga terus bergerak menyesuaikan kedudukan mereka dengan kedudukan lima orang pemimpin mereka.
"Dewi,
mengapa kau dan adik-adikmu begini keras kepala?"
Joko Wandiro
berseru jengkel ketika melihat Dewi sendiri terhuyung dan roboh miring, kini
sudah meloncat bangun lagi dan menerjangnya dengan hantaman nekad tanpa
memperdulikan penjagaan diri lagi. Kembali hantaman itu mengenai ternpat kosong
dan Dewi menjawab dengan suara terisak,
"Boleh
jadi kami keras kepala, akan tetapi engkau sama sekali tidak mempunyai hati,
Joko Wandiro!"
"Hayo
bunuh kami, Joko Wandiro!" jerit pula Mini sambil menubruk dengan terkaman
seperti seekor harimau kelaparan menubruk kelinci.
Serangan ini
disusul oleh Lasmi, Sari, Sundari dan Dewi yang memperhebat serangan tanpa
perdulikan penjagaan diri. Joko Wandiro mengeluh. Terpaksa ia mengeraskan
hatinya dan kedua lengannya bergerak cepat sekali. Dengan tenaga sedikit ia
telah menggunakan Pethit Nogo menampar bahu mereka. Lima orang gadis itu
menjerit dan berturut-turut terbanting bergulingan di atas tanah.
Sejenak mereka
tak dapat bangun seperti orang disambar petir saking hebatnya Aji Pethit Nogo
yang dipergunakan Joko Wandiro. Dengan hati penuh kasihan dan penyesalan, Joko
Wandiro yang berhasil merobohkan lima orang pengurungnya itu hendak lari, akan
tetapi tiga puluh batang bambu runcing mengurungnya dengan gerakan cepat dan
juga teratur sekali. Bambu-bambu runcing itu tidak hanya menodongnya, akan
tetapi juga menjaga jalan keluar dari atas, bahkan menerobos di antara
kaki-kaki merekapun tak mungkin karena di situ telah terjaga ujung-ujung bambu
pula. Tiga puluh orang gadis itu mengurungnya dengan tiga lapis dari sepuluh
orang. Begitu rapatnya penjagaan itu sehingga kalau ia mau meloloskan diri,
sedikitnya ia harus membuka jalan darah merobohkan sepuluh orang! Celakanya,
selagi ia meragu, lima orang gadis yang ia robohkan tadi kini sudah bangkit
kembali dan sambii terisak menangis telah menerjangnya dengan hebat,
seakan-akan pukulan Pethit Nogo yang hebat tadi sama sekali tidak mereka
takuti. Mereka menyebutku tidak berhati! Betulkah ini? Joko Wandiro
berpikir-pikir dan mempertimbangkan keadaannya. Kemudian ia berhenti bergerak
dan mengangkat tangan kanan ke atas.
"Dewi,
berhenti dulu, aku mau bicara!"
Dewi
mengeluarkan perintah dan semua anak buahnya berhenti bergerak. Ketika Joko
memandang lima orang gadis itu, terpaksa ia meramkan matanya karena pertempuran
mati-matian tadi, Apalagi pukulannya Pethit Nogo yang merobohkan mereka,
membuat "pakaian" mereka dari daun-daun dan bunga-bunga itu rontok
berhamburan dan hanya tinggal sedikit yang masih menutupi tubuh sehingga
tampaklah bagian-bagian tubuh yang semestinya ditutupi. Setelah sejenak
meramkan mata menekan perasaannya yang berdebar, ia membuka mata kembali lalu
berkata, suaranya tenang,
"Dewi,
engkau dan anak buahmu agaknya sudah bertekad bulat dan mati-matian untuk
mempertahankan permintaanmu. Kenekatan kalian ini membuat aku ragu-ragu dan aku
mau mempertimbangkan permintaanmu, Dewi."
Wajah lima
orang gadis yang tadinya suram dan menangis itu seketika menjadi berseri. Dewi
mengeluarkan aba-aba dan mereka semua serentak menjatuhkan diri berlutut di
depan Joko Wandiro!
"Joko
Wandiro, percayalah bahwa kami sudah bersumpah memilihmu sebagai pemimpin yang
kami idam-idamkan semenjak bertahun-tahun. Tidak terhitung banyaknya pria yang
hendak merebut kedudukan pimpinan dan menjajah kami, namun semua dapat kami
basmi dan kami bunuh. Kami bertahun-tahun menanti saat ini, menanti datangnya
seorang yang tepat menjadi pemimpin kami, yang boleh kami jadikan sandaran
hidup selamanya, yang akan kami layani dengan seluruh jiwa raga kami. Engkaulah
orangnya, Joko Wandiro. Kami sudah bertekad menghambakan diri kepadamu atau.......
di antara kita harus mati."
Joko Wandiro
menarik napas panjang.
"Akan
menjadi orang jahatlah aku kalau membalas budi pertolongan kalian kepadaku
dengan permusuhan, apalagi harus membunuh seorang di antara kalian. Akan
tetapi, permintaan kalian sungguh merupakan hal baru dan janggal bagiku. Dewi,
aku suka menerima permintaan kalian untuk menjadi pemimpin kalian. Akan tetapi
hanya dengan syarat, dan kalau kalian tidak mau memenuhi syarat ini, biarlah
kalian bunuh saja aku untuk menebus budi pertolongan kalian, aku takkan melawan
lagi."
Dengan
teriakan girang Dewi meloncat berdiri, merangkul leher Joko Wandiro dan.......
menciumnya! Joko Wandiro gelagapan, mendorong halus tubuh hampir telanjang itu
ke belakang lalu berkata,
"Nah,
yang beginilah yang tak boleh kau lakukan, Dewi. Bagaimana, maukah kau
mendengar syaratku?"
Dewi terdorong
ke belakang, mukanya merah dan matanya berkilat-kilat, wajahnya berseri-seri.
Ia berlutut kembali dan berkata,
"Katakanlah
Apa syaratnya? Andaikata kau minta nyawaku sekarang juga, akan
kuserahkan!"
Joko Wandiro
merasa lehernya tercekik. Keharuan mencekam hatinya. Biarpun tingkah
gadis-gadis ini liar dan ganas, namun harus ia akui bahwa mereka itu
benar-benar jujur dan setia, tidak pandai bermanis bibir seperti gadis-gadis
kota.
"Tidak,
Dewi. Syaratku tidaklah seganas itu. Aku mau menjadi pimpinan kalian, akan
tetapi mulai sekarang, kalian tiga puluh lima orang harus tunduk dan taat
kepada semua perintahku. Kalau aku merubah peraturan-peraturan yang selama ini
berlaku di sini, kalian tidak boleh membantah. Misalnya, peraturan untuk
membunuh setiap orang pria yang memasuki wilayah Anjasmoro, inipun akan
kurubah. Bagaimana?"
"Hanya
itukah?" tanya Dewi.
"Itu
syarat pertama. Syarat ke dua, sebagai seorang pemimpin, aku tidak mau harus
selalu tinggal di sini karena aku masih mempunyai banyak sekali tugas di luar
yang harus kuselesaikan. Bahkan aku membutuhkan bantuan kalian untuk
tugas-tugasku itu, di antaranya, membantu aku mencari adik kandungku yang
bernama Ayu Candra dan yang lenyap di daerah Anjasmoro ini ketika aku
bertanding kemarin dulu itu. Ke tiga....... eh, ke tiga........ "
Sampai di sini
Joko Wandiro tak dapat melanjutkan kata-katanya dan mukanya menjadi merah
sekali karena malu dan jengah.
"Apakah
syarat ke tiga? Harap beritahukan agar dapat kami pertimbangkan."
"Syarat
ke tiga........ eh, aku....... aku hanya menjadi pemimpin kalian...
bukan.......... bukan suami kalian......."
Setelah
menggagap Joko Wandiro dapat menentramkan perasaannya lalu berkata tegas,
"Bukan
sekali-kali aku tidak menghargai perasaan kalian, hanya....... dalam hal ini
tak boleh ada paksaan dan aku....... aku masih belum ingin
beristeri......."
Lima orang
gadis itu saling pandang sambil tersenyum. Kemudian Dewi ber kata,
"Syarat
pertama kami dapat menerima dan boleh kau merubah semua peraturan di sini,
semua akan kami taati. Syarat ke dua, asal kau suka bersumpah lebih dahulu
bahwa kau takkan menipu dan membohongi kami, tidak akan meninggalkan kami untuk
selamanya dan tidak menggunakan syarat itu untuk membebaskan diri dari kami,
juga kami terima. Tentu saja kalau kau melanggar, kami semua akan mencarimu
sampai jumpa ke manapun juga kau pergi. Adapun tentang syarat ke tiga
bagaimanakah kau dapat mengajukan syarat seperti itu ? Joko Wandiro, kami sudah
bersumpah menyerahkan jiwa raga kami kepadamu, bersetia sampai mati, hal ini
berarti bahwa kami semua adalah milikmu, bagaimana engkau akan mengingkari dan
menolak kami? Kepada engkau seoranglah kami menyerahkan perasaan cinta kasih
kami, kesetiaan, ketaatan, sehingga engkau merupakan junjungan kami, pemimpin
kami, juga suami kami!"
Empat orang
gadis lain mengangguk-angguk dan lima pasang mata yang bening itu memandang
wajah Joko Wandiro penuh sinar mesra dan kasih sayang. Melihat ini, serasa
berputar kepala Joko Wandiro dan ia cepat-cepat menggerakkan kedua tangan yang
digoyang-goyangkan ke depan. Ia sendiri merasa heran mengapa jantungnya
berdebar tidak karuan. Mengapa hatinya merasa senang dan bangga, mengapa
penyerahan diri gadis-gadis cantik itu mendatangkan perasaan yang luar biasa
anehnya dan yang membuat ia merasa tegang sehingga pikirannya menjadi keruh.
Teringat ia akan penuturan bibinya, Roro Luhito, tentang kelakuan ayahnya di
waktu muda. Ayahnya, menurut penuturan bibinya, adalah seorang yang pernah
menyeleweng, mengejar-ngejar wanita, seorang pemuda bangsawan yang mata
keranjang, gila perempuan, menjadi hamba daripada nafsu berahi! Teringat akan
ini, seketika panas rasanya wajah Joko Wandiro. Cepat-cepat ia membentak,
"Tidak!
Aku bukan laki-laki mata keranjang!!"
Bentakannya
yang dilakukan dalam keadaan tak sadar itu keras sekali, mengejutkan Dewi dan
adik-adiknya. Mereka meloncat berdiri dan memandang. Joko Wandiro sadar dan
mukanya makin merah.
"Dewi,
ketahuiah bahwa pernyataanmu itu, sungguhpun kaukeluarkan dengan hati jujur,
iklas, dan terbuka, namun di dalam dunia ramai merupakan sebuah penyelewengan
yang tidak semestinya dilakukan orang yang hendak berjalan di atas jalan
kebenaran. Aku suka menerima permintaan kalian menjadi pemimpin kalian hanya
dengan tujuan menuntun kalian ke jalan benar dan mencegah terjadinya permusuhan
di antara kita, sama sekali tidak ada pamrih untuk memetik buah yang berupa
kenikmatan dan kesenangan. Jalan untuk bersetia dan taat kepada pimpinan bukan
hanya dengan cara menyerahkan diri seperti yang kau maksudkan. Tidak, Dewi.
Bukan hanya aku seorang laki-laki di dunia ini dan untuk kalian semua, masih
ada jodoh masing-masing yang kelak tentu akan kalian temukan setelah aku
merubah peraturan di sini. Aku menghendaki agar kalian masing-masing menemukan
jodoh kalian, menemukan pria pilihan hati masing-masing untuk memasuki jenjang
perjodohan dan hidup bahagia, tidak lagi menjadi orang-orang buronan dan hidup
dengan liar seperti sekarang ini. !!"
Tiba-tiba Dewi
menangis dan empat orang adiknya ikut pula menangis. Dewi memegang tangan kanan
Joko Wandiro dan empat orang yang lain juga ada yang memegang tangan, ada yang
berlutut merangkul kaki.
"Tapi
aku....... aku sudah menyerahkan hati dan cinta kasihku kepadamu.........
" kata Dewi.
"Aku
juga...... " kata Lasmi.
"Aku
juga..... " sambung Mini, Sari dan Sundari berturut-turut.
Joko Wandiro
tersenyum dan melepaskan diri dengan halus.
"Kelak
akan berubah setelah kalian bertemu dengan pria-pria lain. Sudahlah, hal ini
tak perlu kita perbincangkan sekarang. Pendeknya, bukan waktunya sekarang
bagiku untuk bersenang dan bicara tentang perjodohan. Aku masih mempunyai
banyak tugas dan perlu mendapat bantuan kalian. Mari kita bicara di dalam
pondok."
Joko Wandiro
dan lima orang gadis itu memasuki pondok di mana pemuda ini duduk di atas
bangku bambu dikelilingi lima orang gadis cantik itu yang selalu bersikap mesra
kepadanya. Mulailah Joko Wandiro mengeluarkan peraturan-peraturan baru untuk
menuntun mereka ke dalam dunia sopan. Melihat betapa mereka ini menyimpan
banyak sekali gumpalan emas yang amat berharga, Joko Wandiro lalu memerintahkan
agar dengan emas itu Dewi dan adik-adiknya pergi menemui penduduk di kaki
Gunung Anjasmoro, membeli pakaian-pakaian untuk mereka semua sehingga mereka
tidak akan menjadi sekumpulan wanita liar setengah telanjang lagi. Kemudian ia
mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Dewi dan adik-adiknya cukup baik,
terutama sekali ilmu mengatur barisan yang mereka warisi dari mendiang
Mamangkurdo ayah Dewi. Karena tingkat kepandaian Joko Wandiro jauh melampaui
mereka, maka pemuda ini lalu memberi petunjuk dan menurunkan beberapa ilmu
pukulan kepada mereka berlima sehingga mereka menjadi barisan yang makin hebat
dan kuat lagi setelah mereka kelak berlatih matang.
Tiga puluh
lima orang wanita itu menjadi girang sekali dan merasa bahagia mendapat seorang
pemimpin seperti Joko Wandiro. Setiap hari mereka sibuk bersolek dengan pakaian
baru mereka, atau berlatih ilmu baru yang mereka dapat, dan waktu selebihnya
mereka pergunakan untuk berusaha menyenangkan hati Joko Wandiro. Pemuda ini
mengambil keputusan untuk tinggal beberapa hari di sini, memimpin mereka
membuat pondok-pondok baru dari kayu dam bambu, menuntun mereka menjadi
wanita-wanita yang hidup normal tidak liar lagi. Akan tetapi sikap Dewi dan
empat orang adiknya yang mesra, amat dan terlalu mesra terhadapnya, benar-benar
menggelisahkan hatinya, bahkan kadang-kadang, entah terdorong oleh apa,
menciumnya begitu saja! Ia sampai tergidik ngeri, bukan karena merasa jijik.
Ah, mana bisa jijik kalau mereka itu merupakan dara-dara yang cantik sekali,
yang setiap di antara mereka mampu menjatuhkan hati seorang pendeta alim
sekalipun?
No comments:
Post a Comment