Ia bergidik karena merasa ngeri, karena merasa takut akan hatinya sendiri. Jantungnya sering kali terguncang, perasaannya terbuai dan ada kalanya ia hampir tak dapat menguasai hatinya untuk tidak membalas belaian mereka. Ia khawatir kalau-kalau pertahanan hatinya runtuh dan ia akan terseret ke dalam kesesatan dan penyelewengan seperti yang pernah dialami ayahnya di waktu muda dahulu. Tidak! Ia tidak akan mencontoh kelemahan ayahnya. Ia tidak akan mengulang kesesatan ayahnya. Akan tetapi berkeras dan menolak penumpahan perasaan mereka itupun sukar sekali. Mereka melakukan hal itu karena wajar, karena dorongan rasa hati mereka. Jalan satu-satunya hanya harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Ia maklum bahwa betapapun kuat pertahanan hatinya, sekali waktu pasti akan hancur dan bobol. Bayangkan saja. Pada malam ke dua ia tinggal di situ, menjelang pagi ia bangun dari tidur dan alangkah kagetnya meiihat betapa lima orang gadis itu sudah tidur pula di atas pembaringannya sambil bertumpang tindih memeluknya.
Kepala-kepala
dengan rambut halus hitam panjang dan harum semerbak karena bunga itu terletak
di atas dadanva, perutnya, pahanya, bahkan Dewi memeluk lehernya dengan muka
yang dekat sekali dengan mukanya sehingga napas halus Dewi meniupi telinganya!
Hal seperti inilah yang amat berbahaya. Untung ia masih tak kehilangan akalnya
dan masih kuat mempertahankan hatinya. Kalau kelak sudah selesai
tugas-tugasnya, dan kalau kelak ia ingin memilih seorang calon jodoh, mungkin
saja ia memilih seorang di antara mereka berlima ini. Mereka ini cantik-cantik,
manis-manis, dan sudah pula ia bayangkan betapa akan manis hidup ini kalau ia
beristerikan Dewi dengan empat orang selir seperti Lasmi, Mini, Sari dan
Sundari itu!
Ia sudah
menceritakan segala keinginan hati dan tugasnya kepada Dewi. Pertama-tama ia
akan mencari Ayu Candra dan hari itu, lima hari setelah ia berada di situ, Dewi
dan anak buahnya mulai pergi mencari Ayu Candra disekitar daerah Anjasmoro.
Joko Wandiro melihat mereka pergi berpencar dan menyusup-nyusup di antara pohon
hutan dengan gerakan ringan dan cepat. Hatinya lega. Dengan pembantu-pembantu
seperti itu, agaknya Ayu Candra akan dapat ditemukan. Tentu saja kalau adiknya
itu masih berada di sekitar daerah pegunungan ini.
Ia menjadi
sedih kalau teringat akan adiknya itu. Dan ia menjadi marah sekali kalau ingat
kepada Ki Jatoko. Ia akan memberi hajaran kepada si buntung itu kalau dapat
bertemu kembali. Si buntung itulah yang menjadi biang keladinya, menjadi
pembujuk Ayu Candra dengan kata-kata berbisa sehingga gadis itu lupa akan
pesanan ayahnya. Joko Wandiro berdiri di puncak Anjasmoro, memandang ke
sekeiiling untuk melihat kalau-kalau dari tempat itu ia dapat melihat Ayu
Candra. Kesunyian. tempat itu dan kekhawatirannya akan nasib adik kandungnya
itu membuat pemuda ini melamun dan untuk sejenak kehilangan kewaspadaannya.
Karena melamun dan pikirannya melayang-layang, ia sampai tidak tahu bahwa ada
sepasang mata memperhatikannya semenjak tadi. Mata seorang laki-laki tinggi
besar seperti raksasa. Mata yang mengenalnya sebagai murid Ki Patih Narotama,
sebagai pembunuh Wirokolo, sebagai musuh besarnya. Mata Dibyo Mamangkoro yang
makin lama menjadi makin merah saking marah melihat pemuda itu berdiri seorang
diri di tempat sunyi.
Biarpun
tubuhnya sebesar tubuh raksasa, namun Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna
itu dapat bergerak laksana angin cepatnya dan seringan kapas sehingga Joko
Wandiro yang sedang dibuai lamunan itu sama sekali tidak tahu. Barulah Joko
Wandiro sadar dan terkejut bukan main setelah terlambat. Dua buah lengan yang
besar dan selain berotot juga mengandung hawa sakti yang menggiriskan telah
memeluk dan mengempitnya, lengan kiri melingkari pinggang, lengan kanan
memiting leher dari belakang. Seketika Joko Wandiro merasa dadanya sesak dan
lehernya tercekik, tak dapat bernapas!
"Uhhh.......!
Siapakah engkau yang securang ini? Lepaskan......... !"
Joko Wandiro
mengerahkan tenaga meronta-ronta. Namun kempitan itu amatlah kuatnya sehingga
usahanya melepaskan diri sia-sia belaka. Dibyo Mamangkoro tertawa
bergelak-gelak sehingga air ludahnya memercik ke atas kepala dan tengkuk Joko
Wandiro.
"Huah-hah-ha-ha-hah!
Murid Narotama, hayo kau kerahkan semua kedigdayaanmu. Kalau engkau dapat
melepaskan diri, benar-benar engkau seorang jagoan. Kalau tidak dapat,
bersiaplah untuk mampus sebagai pengganti gurumu. Huahha-ha- ha!"
"Dibyo
Mamangkoro!!"
Joko Wandiro
berseru kaget ketika ia mengenal suara ini. Tahulah ia bahwa ia berada dalam
bahaya maut karena raksasa ini adalah musuh gurunya yang pasti takkan ragu-ragu
lagi untuk membunuhnya. Apalagi karena dahulu ia telah membunuh Wirokolo, adik
seperguruan dan sekutu raksasa ini. Ia terkejut dan gelisah, namun dengan cepat
Joko Wandiro dapat menekan perasaannya dan bersikap tenang. Dengan suara
mengejek ia lalu berkata,
"Dibyo
Mamangkoro terkenal sebagai bekas senopati besar, siapa tahu hari ini
memperlihatkan sikap seorang pengecut yang curang. Kalau engkau memang seorang
jantan, hayo lepaskan dan mari kita mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dan
ampuhnya kesaktian!"
"Huah-ha-ha-ha!
Melawan bocah macam engkau perlu Apa banyak repot? Kau lepaskan dirimu, kalau
tidak becus, mampuslah!" Dibyo Mamangkoro memperkuat kempitannya sehingga
pemuda itu merasa tubuhnya seakan-akan dihimpit besi-besi baja yang keras dan
amat berat.
Joko Wandiro
menahan napas lalu mengumpulkan hawa sakti di tubuhnya. Hawa sakti itu
berputar-putar di sekitar pusarnya, makin lama makin cepat dan terasa panas,
lalu ia dorong hawa itu naik, membentuk tenaga dahsyat dan panas yang mendasari
usahanya meronta. Ia memekik dahsyat dan meronta. Bukan main hebatnya tenaga
pemuda ini. Pekik tadi adalah pekik Dirodo Meto, dibarengi pengerahan tenaga
Bojro Dahono, benar-benar luar biasa dahsyatnya. Andaikata pemuda itu
dibelenggu dengan rantai baja sekalipun dengan pekik dan tenaga sakti macam
itu, agaknya semua belenggu akan patah-patah dan ia akan terlepas. Dibyo
Mamangkoro terkejut bukan main. Tidak disangkanya bocah ini memiliki kesaktian
sehebat itu. Untung dia yang mengempitnya, kalau orang lain tentu akan
terjengkang dan roboh, mungkin tewas. Cepat iapun mengerahkan tenaga sambil
tertawa berkakakan. Bukan sembarang tertawa, melainkan tertawa berisi aji
kesaktian untuk melawan pengaruh pekik Dirodo Meto tadi, kemudian iapun menggunakan
hawa sakti di tubuhnya untuk disalurkan ke arah kedua lengan yang mengempit.
Keras lawan keras dam keadaan mereka seimbang. Kempitan itu tidak terlepas,
hanya akibatnya, Joko Wandiro terengah-engah dan makin sukar bernapas sedangkan
wajah Dibyo Mamangkîãî menjadi pucat, penuh keringat sebesar kacang tanah. Dada
dan lengannya berkilat-kilat licin oleh peluh.
Kalau Dibyo
Mamangkoro kagum sekali menyaksikan kesaktian pemuda ini, adalah Joko Wandiro
yang terkejut bukan main. Ia telah mengerahkan tenaga, namun kempitan itu tidak
terlepas, bahkan melonggarpun tidak, malah makin erat. Ia maklum bahwa kalau ia
tidak lekas-lekas dapat melepaskan diri, ia akan mati tercekik, mati kehabisan
napas dan dengan tulang-tulang iga remuk! Lengan kanan lawan seperti akan
mematahkan batang lehernya, sedangkan tangan kiri lawan yang besar seperti
hendak mencengkeram dan merobek kulit perutnya.
Joko Wandiro
kembali berusaha dengan pengerahan tenaga. Kini hawa murni di tubuhnya bergerak
semua, membentuk hawa sakti yang membuat tubuhnya licin bakai belut. Kini
pemuda itu menggunakan tenaga lemas, tidak mau menggunakan kekerasan seperti
tadi. Tubuhnya menjadi lemas dan licin, tulang-tulangnya seperti lenyap dan
tubuhnya seperti berubah menjadi tubuh belut saja! Inilah hasil hawa sakti yang
luar biasa. Andaikata pemuda ini dibelit-belit rantai yang kuat sekalipun,
dengan aji ini ia tentu mampu meloloskan diri tanpa mematahkan rantainya.
Ketika ia mengerahkan tenaga dan tubuhnya bergerak-gerak hampir berhasil
melepaskan diri dari kempitan kedua lengan Dibyo Mamangkoro.
"Aiiihhhh.......
!!!"
Dibyo
Mamangkoro berseru keras dan ia kagum sekali, lalu ia cepat-cepat menambah
tenaga dalamnya untuk memperhebat kempitan. Ia kagum bukan main. Sebagai
seorang tokoh besar yang sakti, ia maklum pula bahwa lawannya yang masih amat
muda ini benar-benar memiliki kedigdayaan dan boleh disebut seorang sakti
mardraguna yang jarang bandingnya. Maka ia lalu memperhebat tenaganya dan
berusaha meremukkan dada mematahkan batang leher pemuda itu. Otot-otot kedua
tangannya sampai timbul, mukanva menjadi beringas, mulutnya membusa.
Joko Wandiro
diam-diam mengeluh dalam batinnya. Lawannya ini terlalu cerdik, juga terlalu
sakti. Dikempit seperti itu, ia benar-benar tidak dapat mempergunakan aji
kepandaiannya. Ia dapat mengimbangi tenaga dalam lawan, namun ia kalah kuat
dalam tenaga kasar raksasa itu yang memang hebat. Andaikata ia harus menghadapi
kakek itu dalam pertandingan, tentu saja ia dapat mempergunakan semua ajinya,
dan belum tentu ia akan kalah. Siapa kira, kakek musuhnya ini demikian licik
dan curang, menyerangnya secara menggelap dari belakang.
Betapapun
juga, Joko Wandiro tidak mau menyerah mentah-mentah begitu saja. Ia tidak mau
mati konyoi tanpa perlawanan, maka kembali ia meronta-ronta. Karena pemuda ini
memang amat kuat, biarpun ia tidak berhasil membebaskan diri, namun setidaknya
ia membuat kedudukan kaki lawannya menjadi terhuyung dan membuat lawannya itu
mandi peluh dan lelah sekali.
Joko Wandiro
merasa penasaran sekali bahwa ia akan mengakhiri hidupnya secara demikian
mengecewakan. Ia maklum bahwa takkan lama ia dapat bertahan. Napasnya sudah
sesak sekali dan setiap kali ia terpaksa menyedot napas, pertahanan tenaga
dalamnya menjadi lemah sehingga kempitan itu makin erat menyesakkan dada yang
serasa seperti akan remuk tulang-tulangnya. Terlalu lama ia menahan napas dan
telinganya sudah terngiang-ngiang, pandang matanya mulai berkunang kemudian
hidungnya sudah mencium bau hangus, di depan matanya membentang lautan merah
darah. Akan tetapi ia masih tenang. Memang pemuda ini tidak gentar menghadapi
maut. Hal itu menguntungkannya karena ketenangannya serta ketabahannya membuat
ia tidak kehabisan akal. Dalam keadaan kritis dan maut sudah mengintai nyawanya
itu, Joko Wandiro masih memutar otak mencari akal. Dalam saat terakhir itu
bagaikan nyala sebuah obor, Joko Wandiro dapat melihat dengan jelas jalan
keluar untuk menolong dirinya. Ah, mengapa ia sebodoh itu? Mengapa waktu dan
tenaganya ia habiskan untuk meronta-ronta secara sia-sia? Mengapa ia mencari
jalan sukar, jalan kekerasan, sedangkan di depannya jelas terdapat jalan yang
amat mudah tanpa menggunakan kekerasan untuk meloloskan diri? Ia melihat betapa
lengan kanan lawannya itu memiting lehernya, dengan siku ditekuk tepat di depan
mukanya, dan betapa tangan kiri lawannya mencengkeram ke depan perutnya. Dan
kedua tangannya sendiri bebas! Teringatlah ia akan semua pelajaran yang ia
terima dari Ki Tejoranu yang selain menurunkan ilmu golok, juga memberitahu
akan rahasia bagian-bagian tubuh yang lemah. Siku lawan berada di depannya,
mudah dicapai tangan kanannya, demikian pula tangan kiri lawan di depan perut
itu
mudah dicapai
tangan kirinya. Karena kini pandang matanya sudah sama sekali menjadi merah dan
ia merasa dirinya seperti tenggelam dalam lautan darah, ia meramkan matanya,
akan tetapi kedua tangannya mulai bergerak!
Sambil
mengerahkan tenaga terakhir, pemuda ini menggunakan tangannya mencengkeram
sambungan siku kanan lawan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram pusat
kekuatan tangan kiri lawan, yaitu di belakang ibu jari, antara telunjuk dan ibu
jari. Sekuat tenaga ia mencengkeram dan menggencet, dan ia lapat-lapat pada
saat itu terdengar suara nyaring,
"Eyang,
lepaskan! Tidak boleh kau membunuh pemimpin kami......... "
Joko Wandiro
mendengar suara menggereng hebat dan tahu-tahu tubuhnya terlempar ke depan.
Untung ia masih belum pingsan sehingga ia dapat cepat mematahkan tenaga
lontaran itu dengan berjungkir balik beberapa kali. Namun tetap saja ia
terbanting, sungguhpun tidak terlalu keras. Ketika ia meloncat bangun, mengatur
pernapasan memulihkan tenaga dan memandang ke depan, ia melihat Dibyo
Mamangkoro berdiri dengan mata terbelalak marah sambil memaki-maki Dewi dan ke
empat orang adiknya. Ia merasa bersyukur sekali dan mau rasanya ia memberi
hadiah ciuman seorang tiga kali kepada lima orang dara yang telah menyelamatkan
nyawanya itu!
Memang
sesungguhnyalah bahwa mati hidup seorang manusia seluruhnya berada di tangan
Hyang Maha Wisesa. Jika belum dikehendakiNya, banyak jalan untuk menolong
seseorang daripada marabahaya. Secara kebetulan sekali, ketika Joko Wandiro
menggunakan usaha terakhir membebaskan diri tadi, muncul Dewi dan empat orang
adiknya yang datang berlari-lari setelah mendapat pelaporan seorang anak buah
mereka yang menyaksikan betapa Joko Wandiro terancam maut di tangan Dibyo
Mamangkoro. Anak buah itu tentu saja tak berani bergerak karena Dibyo
Mamangkoro adalah terhitung kakek Dewi.
No comments:
Post a Comment