Badai Laut Selatan ; Bagian 139


Ia bergidik karena merasa ngeri, karena merasa takut akan hatinya sendiri. Jantungnya sering kali terguncang, perasaannya terbuai dan ada kalanya ia hampir tak dapat menguasai hatinya untuk tidak membalas belaian mereka. Ia khawatir kalau-kalau pertahanan hatinya runtuh dan ia akan terseret ke dalam kesesatan dan penyelewengan seperti yang pernah dialami ayahnya di waktu muda dahulu. Tidak! Ia tidak akan mencontoh kelemahan ayahnya. Ia tidak akan mengulang kesesatan ayahnya. Akan tetapi berkeras dan menolak penumpahan perasaan mereka itupun sukar sekali. Mereka melakukan hal itu karena wajar, karena dorongan rasa hati mereka. Jalan satu-satunya hanya harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Ia maklum bahwa betapapun kuat pertahanan hatinya, sekali waktu pasti akan hancur dan bobol. Bayangkan saja. Pada malam ke dua ia tinggal di situ, menjelang pagi ia bangun dari tidur dan alangkah kagetnya meiihat betapa lima orang gadis itu sudah tidur pula di atas pembaringannya sambil bertumpang tindih memeluknya.
Kepala-kepala dengan rambut halus hitam panjang dan harum semerbak karena bunga itu terletak di atas dadanva, perutnya, pahanya, bahkan Dewi memeluk lehernya dengan muka yang dekat sekali dengan mukanya sehingga napas halus Dewi meniupi telinganya! Hal seperti inilah yang amat berbahaya. Untung ia masih tak kehilangan akalnya dan masih kuat mempertahankan hatinya. Kalau kelak sudah selesai tugas-tugasnya, dan kalau kelak ia ingin memilih seorang calon jodoh, mungkin saja ia memilih seorang di antara mereka berlima ini. Mereka ini cantik-cantik, manis-manis, dan sudah pula ia bayangkan betapa akan manis hidup ini kalau ia beristerikan Dewi dengan empat orang selir seperti Lasmi, Mini, Sari dan Sundari itu!
Ia sudah menceritakan segala keinginan hati dan tugasnya kepada Dewi. Pertama-tama ia akan mencari Ayu Candra dan hari itu, lima hari setelah ia berada di situ, Dewi dan anak buahnya mulai pergi mencari Ayu Candra disekitar daerah Anjasmoro. Joko Wandiro melihat mereka pergi berpencar dan menyusup-nyusup di antara pohon hutan dengan gerakan ringan dan cepat. Hatinya lega. Dengan pembantu-pembantu seperti itu, agaknya Ayu Candra akan dapat ditemukan. Tentu saja kalau adiknya itu masih berada di sekitar daerah pegunungan ini.

Ia menjadi sedih kalau teringat akan adiknya itu. Dan ia menjadi marah sekali kalau ingat kepada Ki Jatoko. Ia akan memberi hajaran kepada si buntung itu kalau dapat bertemu kembali. Si buntung itulah yang menjadi biang keladinya, menjadi pembujuk Ayu Candra dengan kata-kata berbisa sehingga gadis itu lupa akan pesanan ayahnya. Joko Wandiro berdiri di puncak Anjasmoro, memandang ke sekeiiling untuk melihat kalau-kalau dari tempat itu ia dapat melihat Ayu Candra. Kesunyian. tempat itu dan kekhawatirannya akan nasib adik kandungnya itu membuat pemuda ini melamun dan untuk sejenak kehilangan kewaspadaannya. Karena melamun dan pikirannya melayang-layang, ia sampai tidak tahu bahwa ada sepasang mata memperhatikannya semenjak tadi. Mata seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa. Mata yang mengenalnya sebagai murid Ki Patih Narotama, sebagai pembunuh Wirokolo, sebagai musuh besarnya. Mata Dibyo Mamangkoro yang makin lama menjadi makin merah saking marah melihat pemuda itu berdiri seorang diri di tempat sunyi.
Biarpun tubuhnya sebesar tubuh raksasa, namun Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna itu dapat bergerak laksana angin cepatnya dan seringan kapas sehingga Joko Wandiro yang sedang dibuai lamunan itu sama sekali tidak tahu. Barulah Joko Wandiro sadar dan terkejut bukan main setelah terlambat. Dua buah lengan yang besar dan selain berotot juga mengandung hawa sakti yang menggiriskan telah memeluk dan mengempitnya, lengan kiri melingkari pinggang, lengan kanan memiting leher dari belakang. Seketika Joko Wandiro merasa dadanya sesak dan lehernya tercekik, tak dapat bernapas!
"Uhhh.......! Siapakah engkau yang securang ini? Lepaskan......... !"
Joko Wandiro mengerahkan tenaga meronta-ronta. Namun kempitan itu amatlah kuatnya sehingga usahanya melepaskan diri sia-sia belaka. Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak-gelak sehingga air ludahnya memercik ke atas kepala dan tengkuk Joko Wandiro.
"Huah-hah-ha-ha-hah! Murid Narotama, hayo kau kerahkan semua kedigdayaanmu. Kalau engkau dapat melepaskan diri, benar-benar engkau seorang jagoan. Kalau tidak dapat, bersiaplah untuk mampus sebagai pengganti gurumu. Huahha-ha- ha!"
"Dibyo Mamangkoro!!"
Joko Wandiro berseru kaget ketika ia mengenal suara ini. Tahulah ia bahwa ia berada dalam bahaya maut karena raksasa ini adalah musuh gurunya yang pasti takkan ragu-ragu lagi untuk membunuhnya. Apalagi karena dahulu ia telah membunuh Wirokolo, adik seperguruan dan sekutu raksasa ini. Ia terkejut dan gelisah, namun dengan cepat Joko Wandiro dapat menekan perasaannya dan bersikap tenang. Dengan suara mengejek ia lalu berkata,
"Dibyo Mamangkoro terkenal sebagai bekas senopati besar, siapa tahu hari ini memperlihatkan sikap seorang pengecut yang curang. Kalau engkau memang seorang jantan, hayo lepaskan dan mari kita mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dan ampuhnya kesaktian!"
"Huah-ha-ha-ha! Melawan bocah macam engkau perlu Apa banyak repot? Kau lepaskan dirimu, kalau tidak becus, mampuslah!" Dibyo Mamangkoro memperkuat kempitannya sehingga pemuda itu merasa tubuhnya seakan-akan dihimpit besi-besi baja yang keras dan amat berat.

Joko Wandiro menahan napas lalu mengumpulkan hawa sakti di tubuhnya. Hawa sakti itu berputar-putar di sekitar pusarnya, makin lama makin cepat dan terasa panas, lalu ia dorong hawa itu naik, membentuk tenaga dahsyat dan panas yang mendasari usahanya meronta. Ia memekik dahsyat dan meronta. Bukan main hebatnya tenaga pemuda ini. Pekik tadi adalah pekik Dirodo Meto, dibarengi pengerahan tenaga Bojro Dahono, benar-benar luar biasa dahsyatnya. Andaikata pemuda itu dibelenggu dengan rantai baja sekalipun dengan pekik dan tenaga sakti macam itu, agaknya semua belenggu akan patah-patah dan ia akan terlepas. Dibyo Mamangkoro terkejut bukan main. Tidak disangkanya bocah ini memiliki kesaktian sehebat itu. Untung dia yang mengempitnya, kalau orang lain tentu akan terjengkang dan roboh, mungkin tewas. Cepat iapun mengerahkan tenaga sambil tertawa berkakakan. Bukan sembarang tertawa, melainkan tertawa berisi aji kesaktian untuk melawan pengaruh pekik Dirodo Meto tadi, kemudian iapun menggunakan hawa sakti di tubuhnya untuk disalurkan ke arah kedua lengan yang mengempit. Keras lawan keras dam keadaan mereka seimbang. Kempitan itu tidak terlepas, hanya akibatnya, Joko Wandiro terengah-engah dan makin sukar bernapas sedangkan wajah Dibyo Mamangkîãî menjadi pucat, penuh keringat sebesar kacang tanah. Dada dan lengannya berkilat-kilat licin oleh peluh.

Kalau Dibyo Mamangkoro kagum sekali menyaksikan kesaktian pemuda ini, adalah Joko Wandiro yang terkejut bukan main. Ia telah mengerahkan tenaga, namun kempitan itu tidak terlepas, bahkan melonggarpun tidak, malah makin erat. Ia maklum bahwa kalau ia tidak lekas-lekas dapat melepaskan diri, ia akan mati tercekik, mati kehabisan napas dan dengan tulang-tulang iga remuk! Lengan kanan lawan seperti akan mematahkan batang lehernya, sedangkan tangan kiri lawan yang besar seperti hendak mencengkeram dan merobek kulit perutnya.

Joko Wandiro kembali berusaha dengan pengerahan tenaga. Kini hawa murni di tubuhnya bergerak semua, membentuk hawa sakti yang membuat tubuhnya licin bakai belut. Kini pemuda itu menggunakan tenaga lemas, tidak mau menggunakan kekerasan seperti tadi. Tubuhnya menjadi lemas dan licin, tulang-tulangnya seperti lenyap dan tubuhnya seperti berubah menjadi tubuh belut saja! Inilah hasil hawa sakti yang luar biasa. Andaikata pemuda ini dibelit-belit rantai yang kuat sekalipun, dengan aji ini ia tentu mampu meloloskan diri tanpa mematahkan rantainya. Ketika ia mengerahkan tenaga dan tubuhnya bergerak-gerak hampir berhasil melepaskan diri dari kempitan kedua lengan Dibyo Mamangkoro.
"Aiiihhhh....... !!!"
Dibyo Mamangkoro berseru keras dan ia kagum sekali, lalu ia cepat-cepat menambah tenaga dalamnya untuk memperhebat kempitan. Ia kagum bukan main. Sebagai seorang tokoh besar yang sakti, ia maklum pula bahwa lawannya yang masih amat muda ini benar-benar memiliki kedigdayaan dan boleh disebut seorang sakti mardraguna yang jarang bandingnya. Maka ia lalu memperhebat tenaganya dan berusaha meremukkan dada mematahkan batang leher pemuda itu. Otot-otot kedua tangannya sampai timbul, mukanva menjadi beringas, mulutnya membusa.
Joko Wandiro diam-diam mengeluh dalam batinnya. Lawannya ini terlalu cerdik, juga terlalu sakti. Dikempit seperti itu, ia benar-benar tidak dapat mempergunakan aji kepandaiannya. Ia dapat mengimbangi tenaga dalam lawan, namun ia kalah kuat dalam tenaga kasar raksasa itu yang memang hebat. Andaikata ia harus menghadapi kakek itu dalam pertandingan, tentu saja ia dapat mempergunakan semua ajinya, dan belum tentu ia akan kalah. Siapa kira, kakek musuhnya ini demikian licik dan curang, menyerangnya secara menggelap dari belakang.
Betapapun juga, Joko Wandiro tidak mau menyerah mentah-mentah begitu saja. Ia tidak mau mati konyoi tanpa perlawanan, maka kembali ia meronta-ronta. Karena pemuda ini memang amat kuat, biarpun ia tidak berhasil membebaskan diri, namun setidaknya ia membuat kedudukan kaki lawannya menjadi terhuyung dan membuat lawannya itu mandi peluh dan lelah sekali.

Joko Wandiro merasa penasaran sekali bahwa ia akan mengakhiri hidupnya secara demikian mengecewakan. Ia maklum bahwa takkan lama ia dapat bertahan. Napasnya sudah sesak sekali dan setiap kali ia terpaksa menyedot napas, pertahanan tenaga dalamnya menjadi lemah sehingga kempitan itu makin erat menyesakkan dada yang serasa seperti akan remuk tulang-tulangnya. Terlalu lama ia menahan napas dan telinganya sudah terngiang-ngiang, pandang matanya mulai berkunang kemudian hidungnya sudah mencium bau hangus, di depan matanya membentang lautan merah darah. Akan tetapi ia masih tenang. Memang pemuda ini tidak gentar menghadapi maut. Hal itu menguntungkannya karena ketenangannya serta ketabahannya membuat ia tidak kehabisan akal. Dalam keadaan kritis dan maut sudah mengintai nyawanya itu, Joko Wandiro masih memutar otak mencari akal. Dalam saat terakhir itu bagaikan nyala sebuah obor, Joko Wandiro dapat melihat dengan jelas jalan keluar untuk menolong dirinya. Ah, mengapa ia sebodoh itu? Mengapa waktu dan tenaganya ia habiskan untuk meronta-ronta secara sia-sia? Mengapa ia mencari jalan sukar, jalan kekerasan, sedangkan di depannya jelas terdapat jalan yang amat mudah tanpa menggunakan kekerasan untuk meloloskan diri? Ia melihat betapa lengan kanan lawannya itu memiting lehernya, dengan siku ditekuk tepat di depan mukanya, dan betapa tangan kiri lawannya mencengkeram ke depan perutnya. Dan kedua tangannya sendiri bebas! Teringatlah ia akan semua pelajaran yang ia terima dari Ki Tejoranu yang selain menurunkan ilmu golok, juga memberitahu akan rahasia bagian-bagian tubuh yang lemah. Siku lawan berada di depannya, mudah dicapai tangan kanannya, demikian pula tangan kiri lawan di depan perut itu
mudah dicapai tangan kirinya. Karena kini pandang matanya sudah sama sekali menjadi merah dan ia merasa dirinya seperti tenggelam dalam lautan darah, ia meramkan matanya, akan tetapi kedua tangannya mulai bergerak!
Sambil mengerahkan tenaga terakhir, pemuda ini menggunakan tangannya mencengkeram sambungan siku kanan lawan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram pusat kekuatan tangan kiri lawan, yaitu di belakang ibu jari, antara telunjuk dan ibu jari. Sekuat tenaga ia mencengkeram dan menggencet, dan ia lapat-lapat pada saat itu terdengar suara nyaring,
"Eyang, lepaskan! Tidak boleh kau membunuh pemimpin kami......... "
Joko Wandiro mendengar suara menggereng hebat dan tahu-tahu tubuhnya terlempar ke depan. Untung ia masih belum pingsan sehingga ia dapat cepat mematahkan tenaga lontaran itu dengan berjungkir balik beberapa kali. Namun tetap saja ia terbanting, sungguhpun tidak terlalu keras. Ketika ia meloncat bangun, mengatur pernapasan memulihkan tenaga dan memandang ke depan, ia melihat Dibyo Mamangkoro berdiri dengan mata terbelalak marah sambil memaki-maki Dewi dan ke empat orang adiknya. Ia merasa bersyukur sekali dan mau rasanya ia memberi hadiah ciuman seorang tiga kali kepada lima orang dara yang telah menyelamatkan nyawanya itu!

Memang sesungguhnyalah bahwa mati hidup seorang manusia seluruhnya berada di tangan Hyang Maha Wisesa. Jika belum dikehendakiNya, banyak jalan untuk menolong seseorang daripada marabahaya. Secara kebetulan sekali, ketika Joko Wandiro menggunakan usaha terakhir membebaskan diri tadi, muncul Dewi dan empat orang adiknya yang datang berlari-lari setelah mendapat pelaporan seorang anak buah mereka yang menyaksikan betapa Joko Wandiro terancam maut di tangan Dibyo Mamangkoro. Anak buah itu tentu saja tak berani bergerak karena Dibyo Mamangkoro adalah terhitung kakek Dewi.

<<< Bagian 138                                                                                     Bagian 140 >>>

No comments:

Post a Comment