Dibyo Mamangkoro adalah paman dari ayah Dewi dan biarpun amat jarang, pernah beberapa kali mengunjungi cucunya di Anjasmoro maka dikenal pula oleh anak buah Dewi. Melihat betapa Joko Wandiro terancam bahaya maut, serentak Dewi dan empat orang adiknya datang menolong. Dewilah yang tadi berteriak menegur eyangnya, dan mereka berlima tadi sudah maju dan memukul ke arah punggung Dibyo Mamangkoro! Tentu saja pukulan-pukulan lima orang gadis itu tidak terlalu hebat bagi Dibyo Mamangkoro. Akan tetapi pada saat itu Joko Wandro telah mencengkeram siku kanan dan pusat kekuatan tangan kirinya. Karena kedua serangan yang secara kebetulan datang berbareng inilah yang membuat Dibyo Mamangkoro terpaksa melemparkan tubuh Joko Wandiro ke depan, Andaikata lima orang gadis itu tidak menyerang di saat itu, jangan harap cengkeraman Joko Wandiro akan dapat membebaskan dirinya karena selain tenaga pemuda ini sudah mulai lemah, juga lawannya tentu akan dapat mengubah posisi. Juga, andaikata Joko Wandiro tidak sedang mencengkeramnya di saat lima orang gadis itu menyerang, tentu serangan dari belakang itu tidak akan dirasanya, bahkan dengan mudah, menggunakan kedua kakinya kakek raksasa ini akan dapat menghalau lima gadis itu. Memang segalanya tiba secara kebetulan dan seperti sudah diatur sebelumnya sehingga hasilnya menyelamatkan Joko Wandiro!
"Setan
cilik! Kucing betina! Berani engkau menyerang eyangmu dan menolong musuh?"
"Eyang,
dia junjungan kami! Tidak boleh kaubunuh dia!" Dewi membantah sambil mengangkat
dadanya yang membusung, penuh tantangan.
"Bocah
goblok! Tidak tahukah kau siapa dia itu? Dia itu murid Ki Patih Narotama, musuh
gerotan kita!"
"Tidak,
eyang. Dia sudah menjadi pemimpin kami, sudah kami serahkan jiwa raga kami
kepadanya." kata pula Dewi.
"Bedebah!
Kau berani berkhianat? Kalau begitu lebih dulu kalian akan kubunuh!"
Dengan
kemarahan meluap-luap Dibyo Mamangkoro mengangkat tangan kanan ke atas dan
menghantam ke arah Dewi dan empat orang adiknya dengan pukulan jarak jauh yang
ampuh. Ia terlalu memandang rendah kepada cucunya maka ia hanya menggunakan
sebagian kecil tenaga dalamnya. Terdengar suara angin bersiutan menyambar ke
arah Dewi dan empat orang adiknya. Namun lima orang gadis itu sudah terlatih
baik dan keistimewaan mereka adalah gerakan yang amat cekatan. Mereka menjerit
nyaring saking ngeri dan kaget, namun loncatan mereka berhasil menyelamatkan
diri mereka daripada sambaran angin pukulan dahsyat itu.
"Krakkkk......
brruuukkkk......... !"
Sebatang pohon
sebesar manusia yang mewakili mereka, terkena pukulan itu seperti disambar
petir, tumbang seketika? Lima orang gadis itu menjadi pucat mukanya. Di lain
pihak, muka Dibyo Mamangkoro menjadi merah sekali saking penasaran dan marah
melihat pukulannya hanya menumbangkan pohon. Ia melangkah tiga tindak ke depan
hendak memukul lagi dengan tenaga penuh akan tetapi pada saat itu berkelebat
bayangan dan tahu-tahu Joko Wandiro sudah berada di depannya!
"Dibyo
Mamangkoro. Lawanmu adalah aku, Joko Wandiro. Bukan segala bocah perawan yang
lemah! Dewi, kau dan adik-adikmu menyingkirlah jauh-jauh dan kalian tonton saja
betapa pemimpin kalian merobohkan manusia iblis yang kejam ini!"
Karena amat
taat kepada Joko Wandiro, biarpun di dalam hati merasa amat gelisah karena
maklum betapa sakti mandraguna eyangnya itu, Dewi mengajak empat orang adiknya
menjauhkan diri dan menonton dari jauh dengan jantung berdebar. Mereka
diam-diam memberi isyarat kepada semua anak buah mereka, yaitu apabila Joko
Wandiro roboh binasa, mereka semua, tiga puluh lima orang wanita banyaknya,
akan nekat mengeroyok Dibyo Mamangkoro dan kalau perlu ikut mati bersama
pemimpin mereka yang tercinta! Dibyo Mamangkoro merasa betapa dadanya seperti
akan meledak saking marahnya. Ia harus mengakui bahwa setelah berkali-kali
mencoba, belum pernah ia dapat mengatasi kesaktian Ki Patih Narotama. Akan
tetapi kini ia hanya berhadapan dengan muridnya, seorang bocah yang baru
berusia dua puluhan tahun! Dan bocah ini sudah berani menentangnya dengan
kata-kata yang diang gapnya sombong.
"Babo-babo.......!
Joko Wandiro, sumbarmu menunjukkan bahwa engkau tentulah murid terkasih
Narotama yang sudah mewarisi semua aji kesaktiannya. Bagus! Dengan membunuhmu,
sama halnya dengan membunuh Narotama sendiri. Akan puaslah hatiku, tertebus
sebagian daripada dendamku kepadanya. Huah-ha-ha-ha!"
Tubuh yang
tinggi besar itu bergoyang-goyang, kepalanya menengadah dan dalam keadaan
begini, siapa mengira bahwa raksasa tua ini siap menyerang? Di sinilah terletak
kelicikan dan kecerdikannya. Joko Wandiro juga tidak mengira bahwa lawannya ini
sudah siap bertempur maka iapun belum berjaga-jaga. Namun tahu-tahu, dengan
suara ketawanya masih menderu, kakek raksasa itu sudah mencelat ke depan dan
mengirim pukulan yang hebat bukan main ke arah dada Joko Wandiro!
"Werrr.......
dessss.......!!!"
Bukan main
hebatnya pertemuan kedua lengan ini. Pukulan yang mengandung tenaga dalam yang
amat tinggi, datangnya tidak tersangka-sangka, sungguhpun dapat ditangkis oleh
Joko Wandiro, namun tangkisan itu kurang tenaga. Akibatnya........ tubuh Joko
Wandiro mencelat sampai lima meter lebih dan baru berhenti ketika menabrak
pohon waru yang menjadi patah seketika!
"HUAH-HA-HA-HA
! Hanya sebegitu saja kedigdayaanmu bocah sombong? Ha-ha-ha-ha! Bersiaplah
untuk mampus!"
Dibyo
Mamangkoro tertawa bergelak sambil melangkah lebar menghampiri Joko Wandiro
yang biarpun tidak terluka namun agak pening dan kini merangkak bangun sambil
menggoyang-goyang kepala mengusir kepeningannya.
"Iblis
curang, majulah!"
la menantang,
kini waspada dan hati-hati. la tenang saja karena pertemuan tenaga tadi
melegakan hatinya. Biarpun hebat tenaga kakek raksasa ini, namun kiranya ia
akan dapat menandinginya. Dari gurunya ia maklum bahwa tenaga sakti timbul dari
hawa yang murni di dalam tubuh. Hawa murni hanya dapat dihimpun oleh mereka
yang hati dan pikirannya bersih, yang tidak menjadi abdi nafsu. Orang yang
menyeleweng hidupnya seperti Dibyo Mamangkoro, hanya dapat memperkuat tenaga
saktinya dengan ilmu hitam, namun hawa murni di tubuh makin mengurang dan
lemah. Karena inilah, benturan tenaga tadi membuat Joko Wandiro tenang. Akan
tetapi, seujung rambutpun ia tidak berani memandang rendang lawannya dan tetap
bersikap waspada dan hati-hati.
"Hua-ha-ha,
terimalah ini!"
Dibyo
Mamangkoro menyeruduk lagi seperti lagak seekor gajah mengamuk. Kedua lengannya
yang besar dikembangkan dan kedua kepalan tangannya yang hampir menyamai kepala
Joko Wandiro besarnya, menyambar dari kanan kiri, yang kanan menghantam pelipis
pemuda itu, yang kiri mencengkeram ke arah lambung. Dua serangan sekaligus yang
amat keji dan berbahaya. Satu saja di antara dua tangan itu mengenai sasaran,
akan celakalah Joko Wandiro! Namun kini Joko Wandiro sudah siap siaga. Ia sudah
mengisi tubuhnya dengan Aji Bayu Sakti sehingga kedua kakinya seakan-akan
dipasangi per yang kuat. Melihat datangnya pukulan, ia mengelak dengan lincah
dan mudah sehingga dua tangan raksasa itu hanya mengenai angina kosong.
Namun harus
diakui bahwa kakek raksasa yang tinggi besar itu tidak selamban gajah
gerakannya, melainkan setangkas harimau kelaparan. Begitu serangannya gagal
oleh elakan lawan yang melompat ke kiri, ia sudah menubruk lagi ke kiri dengan
kedua tangan terbuka jari-jarinya seperti cakar burung elang menyambar anak
ayam. Sampai bersuitan menyakitkan telinga bunyi angin serangan kedua tangan
ini sehingga dapat dibayangkan betapa dahsyatnya kalau mengenai sasaran.
Serangan susulan ini harus diakui amat cepat. Joko Wandiro sendiri menjadi
kagum karena memang di luar persangkaan orang betapa tubuh yang tinggi besar
ini dapat bergerak secepat dan selincah itu.
Karena baru
saja kedua kaki Joko Wandiro hinggap di atas tanah ketika melompat
menghindarkan diri dari serangan pertama tadi, kini menghadapi serangan ke dua,
Joko Wandiro sudah menggulingkan tubuh ke kanan dan dengan jalan ini, kembali
terkaman Dibyo Mamangkoro hanya membuat tanah beterbangan. Joko Wandiro sengaja
tersenyum-senyum mengejek.
"Hanya
sebegitu sajakah hebatnya seranganmu, Dibyo Mamangkoro?"
Sikap ini
merupakan siasat pertempuran yang ia pelajari dahulu dari Ki Tejoranu.
Menghadapi lawan tangguh, paling penting harus mencari titik kelemahannya,
demikian Ki Tejoranu memberi nasehat. Dan sebagian besar orang sakti, tentu
memiliki kelemahan masing-masing. Kelemahan umum adalah tak pandai
mengendalikan perasaan. Buatlah lawan kacau perhatiannya dan untuk mengacau
perhatiannya paling baik membangkitkan amarah di hatinya. Makin marah dia,
makin kacau perhatiannya dan makin mudah dicari gerakan-gerakan yang dibuatnya
karena terlampau marah dan terburu nafsu hendak menang.
Akal Joko
Wandiro itu berhasil. Tentu saja pemuda ini tidaklah sedemikian sombongnya
sehingga ia berani memandang rendah kepada Dibyo Mamangkoro. Ia tahu bahwa
kakek raksasa ini sakti mandraguna dan digdaya sekali. Mana ia berani memandang
rendah? Dibyo Mamangkorolah yang memandang rendah kepada Joko Wandiro. Hal ini
tidak aneh. Kakek raksasa ini memang seorang yang sakti pilih tanding. Jarang
ia mengalami kekalahan dan hanya oleh Ki Patih Narotama saja ia berkali-kali
dikalahkan. Kini menghadapi seorang pemuda seperti Joko Wandiro tentu saja ia
memandang rendah. Betapa takkan memandang rendah kalau diingat bahwa sebelum
pemuda itu terlahir di dunia ia sudah menjadi seorang jagoan yang sukar
dikalahkan! Inilah kesalahan Dibyo Mamangkoro, juga kesalahan banyak
orang-orang pandai. Setelah pandai, mereka mengira bahwa merekalah yang
terpandai di jagad raya ini, menjadikan mereka somborg. Dibyo Mamangkoro tidak
insyaf bahwa dia kini telah menjadi tua dan menghadapi Joko Wandiro, dalam
banyak hal ia kalah oleh pemuda ini. Pertama-tama kalah muda, ke dua kalah
tenang, dan ke tiga kalah bersih hatinya.
"Heh, si
keparat! Berani engkau memandang rendah kepadaku? Setan alas, rasakan
ini!"
Tiba-tiba
tubuh Dibyo Mamangkoro berputar-putar dan bagaikan angin puyuh ia menerjang
maju. Hebat bukan main gelombang serangan ini. Tubuhnya berputar-putar sehingga
kaki tangannya seakan-akan berubah menjadi banyak sekali yang menyerang tubuh
Joko Wandiro dari delapan penjuru! Bertubi-tubi datangnya pukulan, tamparan,
cengkeraman, dan tendangan yang dilakukan oleh banyak tangan dan kaki itu.
Setiap pukulan pasti mengandung tenaga yang dahsyat! Daun-daun kering yang
berada di atas tanah terbawa oleh pusingan angin yang diakibatkan tubuh kakek
ra ksasa. Yang berputar-putar itu sehingga tubuh keduanya terselimut oleh
daun-daun kering dan debu yang membubung ke atas berpusingan!
Hebat bukan
main serangan Dibyo Mamangkoro. Namun lebih hebat kegesitan tubuh Joko Wandiro.
Tubuh pemuda ini seketika lenyap bagi pandangan Dewi dan adik-adik serta anak
buahnya yang menonton dari jauh dengan mata terbelalak dan muka pucat. Tubuh
pemuda itu lenyap berubah menjadi bayangan hitam yang berkelebat menyelinap di
antara tangan dan kaki yang banyak itu. Sungguh merupakan pemandangan yang
bagus, aneh, dan menyeramkan. Pertandingan ini jauh lebih hebat daripada
pertandingan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto.
Kalau dalam
pertandingan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto, pemuda ini banyak
mengalah, selalu mengelak dan tak pernah membalas dengan sungguh-sungguh,
adalah pertandingan sekarang ini dilakukan dengan mati-matian. Keduanya
menyerang dengan serangan maut. Juga Joko Wandiro selalu membalas sedapat
mungkin dengan pukulan-pukulan ampuh. Namun karena lawannya menggunakan ilmu
silat yang liar dan ganas seperti tanpa diatur lagi, ia terdesak dan hanya
dapat membalas satu kali untuk penyerangan lima kali. Makin lama Dibyo
Mamangkoro makin penasaran. Sungguh di luar perkiraannya bahwa pemuda ini
demikian hebat. Memang ia tahu bahwa murid Narotama ini seorang yang berbakat
baik ketika dahulu anak ini mengalahkan Wirokolo, dan ia sudah mengkhawatirkan
bahwa muridnya, Endang Patibroto, tentu akan bertemu tanding yang kuat dalam
diri anak ini. Akan tetapi siapa kira bahwa dia sendiri setelah mengerahkan tenaga
dan kepandaian, setelah lewat seratus jurus lebih, belum juga berhasil
merobohkannya. Dengan gerakan marah ia kembali menubruk, kemudian mengirim
pukulan disertai pekik dahsyat. Itulah pekik Sardulo Bairowo (Pekik Harimau)
yang disertai pukulan mematikan!
Joko Wandiro
terkejut. Berbahaya kalau mengelak pukulan ini, karena pukulan ini mengandung
hawa yang menghadang semua jalan keluar. Di samping itu, ia harus pula
menghadapi getaran hebat dari pekik Sardulo Bairowo. Maka iapun memekik dengan
pengerahan Aji Dirodo Meto, kemudian mengangkat tangannya menangkis pukulan
itu. Dua buah tangan yang amat kuat, mendorong ke depan dan dua telapak tangan
bertemu di udara!
"Bressss.......
!!"
Kalau tubuh
Joko Wandiro yang tampak kecil apabila dibandingkan dengan tubuh lawannya itu
terlempar seperti daun kering tertiup angin, hal ini masih tidak mengherankan
setelah pertemuan dua tenaga dahsyat itu. Akan tetapi adalah amat aneh melihat
tubuh kakek raksasa itupun terlempar seperti layang-layang putus talinya, tidak
kalah jauhnya oleh tubuh Joko Wandiro. Benturan tenaga mujijat itu membuat
mereka terlempar ke belakang sampai sepuluh meter lebih!
No comments:
Post a Comment