Badai Laut Selatan ; Bagian 140


Dibyo Mamangkoro adalah paman dari ayah Dewi dan biarpun amat jarang, pernah beberapa kali mengunjungi cucunya di Anjasmoro maka dikenal pula oleh anak buah Dewi. Melihat betapa Joko Wandiro terancam bahaya maut, serentak Dewi dan empat orang adiknya datang menolong. Dewilah yang tadi berteriak menegur eyangnya, dan mereka berlima tadi sudah maju dan memukul ke arah punggung Dibyo Mamangkoro! Tentu saja pukulan-pukulan lima orang gadis itu tidak terlalu hebat bagi Dibyo Mamangkoro. Akan tetapi pada saat itu Joko Wandro telah mencengkeram siku kanan dan pusat kekuatan tangan kirinya. Karena kedua serangan yang secara kebetulan datang berbareng inilah yang membuat Dibyo Mamangkoro terpaksa melemparkan tubuh Joko Wandiro ke depan, Andaikata lima orang gadis itu tidak menyerang di saat itu, jangan harap cengkeraman Joko Wandiro akan dapat membebaskan dirinya karena selain tenaga pemuda ini sudah mulai lemah, juga lawannya tentu akan dapat mengubah posisi. Juga, andaikata Joko Wandiro tidak sedang mencengkeramnya di saat lima orang gadis itu menyerang, tentu serangan dari belakang itu tidak akan dirasanya, bahkan dengan mudah, menggunakan kedua kakinya kakek raksasa ini akan dapat menghalau lima gadis itu. Memang segalanya tiba secara kebetulan dan seperti sudah diatur sebelumnya sehingga hasilnya menyelamatkan Joko Wandiro!
"Setan cilik! Kucing betina! Berani engkau menyerang eyangmu dan menolong musuh?"
"Eyang, dia junjungan kami! Tidak boleh kaubunuh dia!" Dewi membantah sambil mengangkat dadanya yang membusung, penuh tantangan.
"Bocah goblok! Tidak tahukah kau siapa dia itu? Dia itu murid Ki Patih Narotama, musuh gerotan kita!"
"Tidak, eyang. Dia sudah menjadi pemimpin kami, sudah kami serahkan jiwa raga kami kepadanya." kata pula Dewi.
"Bedebah! Kau berani berkhianat? Kalau begitu lebih dulu kalian akan kubunuh!"
Dengan kemarahan meluap-luap Dibyo Mamangkoro mengangkat tangan kanan ke atas dan menghantam ke arah Dewi dan empat orang adiknya dengan pukulan jarak jauh yang ampuh. Ia terlalu memandang rendah kepada cucunya maka ia hanya menggunakan sebagian kecil tenaga dalamnya. Terdengar suara angin bersiutan menyambar ke arah Dewi dan empat orang adiknya. Namun lima orang gadis itu sudah terlatih baik dan keistimewaan mereka adalah gerakan yang amat cekatan. Mereka menjerit nyaring saking ngeri dan kaget, namun loncatan mereka berhasil menyelamatkan diri mereka daripada sambaran angin pukulan dahsyat itu.
"Krakkkk...... brruuukkkk......... !"

Sebatang pohon sebesar manusia yang mewakili mereka, terkena pukulan itu seperti disambar petir, tumbang seketika? Lima orang gadis itu menjadi pucat mukanya. Di lain pihak, muka Dibyo Mamangkoro menjadi merah sekali saking penasaran dan marah melihat pukulannya hanya menumbangkan pohon. Ia melangkah tiga tindak ke depan hendak memukul lagi dengan tenaga penuh akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan dan tahu-tahu Joko Wandiro sudah berada di depannya!
"Dibyo Mamangkoro. Lawanmu adalah aku, Joko Wandiro. Bukan segala bocah perawan yang lemah! Dewi, kau dan adik-adikmu menyingkirlah jauh-jauh dan kalian tonton saja betapa pemimpin kalian merobohkan manusia iblis yang kejam ini!"
Karena amat taat kepada Joko Wandiro, biarpun di dalam hati merasa amat gelisah karena maklum betapa sakti mandraguna eyangnya itu, Dewi mengajak empat orang adiknya menjauhkan diri dan menonton dari jauh dengan jantung berdebar. Mereka diam-diam memberi isyarat kepada semua anak buah mereka, yaitu apabila Joko Wandiro roboh binasa, mereka semua, tiga puluh lima orang wanita banyaknya, akan nekat mengeroyok Dibyo Mamangkoro dan kalau perlu ikut mati bersama pemimpin mereka yang tercinta! Dibyo Mamangkoro merasa betapa dadanya seperti akan meledak saking marahnya. Ia harus mengakui bahwa setelah berkali-kali mencoba, belum pernah ia dapat mengatasi kesaktian Ki Patih Narotama. Akan tetapi kini ia hanya berhadapan dengan muridnya, seorang bocah yang baru berusia dua puluhan tahun! Dan bocah ini sudah berani menentangnya dengan kata-kata yang diang gapnya sombong.
"Babo-babo.......! Joko Wandiro, sumbarmu menunjukkan bahwa engkau tentulah murid terkasih Narotama yang sudah mewarisi semua aji kesaktiannya. Bagus! Dengan membunuhmu, sama halnya dengan membunuh Narotama sendiri. Akan puaslah hatiku, tertebus sebagian daripada dendamku kepadanya. Huah-ha-ha-ha!"
Tubuh yang tinggi besar itu bergoyang-goyang, kepalanya menengadah dan dalam keadaan begini, siapa mengira bahwa raksasa tua ini siap menyerang? Di sinilah terletak kelicikan dan kecerdikannya. Joko Wandiro juga tidak mengira bahwa lawannya ini sudah siap bertempur maka iapun belum berjaga-jaga. Namun tahu-tahu, dengan suara ketawanya masih menderu, kakek raksasa itu sudah mencelat ke depan dan mengirim pukulan yang hebat bukan main ke arah dada Joko Wandiro!
"Werrr....... dessss.......!!!"
Bukan main hebatnya pertemuan kedua lengan ini. Pukulan yang mengandung tenaga dalam yang amat tinggi, datangnya tidak tersangka-sangka, sungguhpun dapat ditangkis oleh Joko Wandiro, namun tangkisan itu kurang tenaga. Akibatnya........ tubuh Joko Wandiro mencelat sampai lima meter lebih dan baru berhenti ketika menabrak pohon waru yang menjadi patah seketika!
"HUAH-HA-HA-HA ! Hanya sebegitu saja kedigdayaanmu bocah sombong? Ha-ha-ha-ha! Bersiaplah untuk mampus!"
Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak sambil melangkah lebar menghampiri Joko Wandiro yang biarpun tidak terluka namun agak pening dan kini merangkak bangun sambil menggoyang-goyang kepala mengusir kepeningannya.
"Iblis curang, majulah!"
la menantang, kini waspada dan hati-hati. la tenang saja karena pertemuan tenaga tadi melegakan hatinya. Biarpun hebat tenaga kakek raksasa ini, namun kiranya ia akan dapat menandinginya. Dari gurunya ia maklum bahwa tenaga sakti timbul dari hawa yang murni di dalam tubuh. Hawa murni hanya dapat dihimpun oleh mereka yang hati dan pikirannya bersih, yang tidak menjadi abdi nafsu. Orang yang menyeleweng hidupnya seperti Dibyo Mamangkoro, hanya dapat memperkuat tenaga saktinya dengan ilmu hitam, namun hawa murni di tubuh makin mengurang dan lemah. Karena inilah, benturan tenaga tadi membuat Joko Wandiro tenang. Akan tetapi, seujung rambutpun ia tidak berani memandang rendang lawannya dan tetap bersikap waspada dan hati-hati.
"Hua-ha-ha, terimalah ini!"
Dibyo Mamangkoro menyeruduk lagi seperti lagak seekor gajah mengamuk. Kedua lengannya yang besar dikembangkan dan kedua kepalan tangannya yang hampir menyamai kepala Joko Wandiro besarnya, menyambar dari kanan kiri, yang kanan menghantam pelipis pemuda itu, yang kiri mencengkeram ke arah lambung. Dua serangan sekaligus yang amat keji dan berbahaya. Satu saja di antara dua tangan itu mengenai sasaran, akan celakalah Joko Wandiro! Namun kini Joko Wandiro sudah siap siaga. Ia sudah mengisi tubuhnya dengan Aji Bayu Sakti sehingga kedua kakinya seakan-akan dipasangi per yang kuat. Melihat datangnya pukulan, ia mengelak dengan lincah dan mudah sehingga dua tangan raksasa itu hanya mengenai angina kosong.
Namun harus diakui bahwa kakek raksasa yang tinggi besar itu tidak selamban gajah gerakannya, melainkan setangkas harimau kelaparan. Begitu serangannya gagal oleh elakan lawan yang melompat ke kiri, ia sudah menubruk lagi ke kiri dengan kedua tangan terbuka jari-jarinya seperti cakar burung elang menyambar anak ayam. Sampai bersuitan menyakitkan telinga bunyi angin serangan kedua tangan ini sehingga dapat dibayangkan betapa dahsyatnya kalau mengenai sasaran. Serangan susulan ini harus diakui amat cepat. Joko Wandiro sendiri menjadi kagum karena memang di luar persangkaan orang betapa tubuh yang tinggi besar ini dapat bergerak secepat dan selincah itu.

Karena baru saja kedua kaki Joko Wandiro hinggap di atas tanah ketika melompat menghindarkan diri dari serangan pertama tadi, kini menghadapi serangan ke dua, Joko Wandiro sudah menggulingkan tubuh ke kanan dan dengan jalan ini, kembali terkaman Dibyo Mamangkoro hanya membuat tanah beterbangan. Joko Wandiro sengaja tersenyum-senyum mengejek.
"Hanya sebegitu sajakah hebatnya seranganmu, Dibyo Mamangkoro?"
Sikap ini merupakan siasat pertempuran yang ia pelajari dahulu dari Ki Tejoranu. Menghadapi lawan tangguh, paling penting harus mencari titik kelemahannya, demikian Ki Tejoranu memberi nasehat. Dan sebagian besar orang sakti, tentu memiliki kelemahan masing-masing. Kelemahan umum adalah tak pandai mengendalikan perasaan. Buatlah lawan kacau perhatiannya dan untuk mengacau perhatiannya paling baik membangkitkan amarah di hatinya. Makin marah dia, makin kacau perhatiannya dan makin mudah dicari gerakan-gerakan yang dibuatnya karena terlampau marah dan terburu nafsu hendak menang.
Akal Joko Wandiro itu berhasil. Tentu saja pemuda ini tidaklah sedemikian sombongnya sehingga ia berani memandang rendah kepada Dibyo Mamangkoro. Ia tahu bahwa kakek raksasa ini sakti mandraguna dan digdaya sekali. Mana ia berani memandang rendah? Dibyo Mamangkorolah yang memandang rendah kepada Joko Wandiro. Hal ini tidak aneh. Kakek raksasa ini memang seorang yang sakti pilih tanding. Jarang ia mengalami kekalahan dan hanya oleh Ki Patih Narotama saja ia berkali-kali dikalahkan. Kini menghadapi seorang pemuda seperti Joko Wandiro tentu saja ia memandang rendah. Betapa takkan memandang rendah kalau diingat bahwa sebelum pemuda itu terlahir di dunia ia sudah menjadi seorang jagoan yang sukar dikalahkan! Inilah kesalahan Dibyo Mamangkoro, juga kesalahan banyak orang-orang pandai. Setelah pandai, mereka mengira bahwa merekalah yang terpandai di jagad raya ini, menjadikan mereka somborg. Dibyo Mamangkoro tidak insyaf bahwa dia kini telah menjadi tua dan menghadapi Joko Wandiro, dalam banyak hal ia kalah oleh pemuda ini. Pertama-tama kalah muda, ke dua kalah tenang, dan ke tiga kalah bersih hatinya.
"Heh, si keparat! Berani engkau memandang rendah kepadaku? Setan alas, rasakan ini!"
Tiba-tiba tubuh Dibyo Mamangkoro berputar-putar dan bagaikan angin puyuh ia menerjang maju. Hebat bukan main gelombang serangan ini. Tubuhnya berputar-putar sehingga kaki tangannya seakan-akan berubah menjadi banyak sekali yang menyerang tubuh Joko Wandiro dari delapan penjuru! Bertubi-tubi datangnya pukulan, tamparan, cengkeraman, dan tendangan yang dilakukan oleh banyak tangan dan kaki itu. Setiap pukulan pasti mengandung tenaga yang dahsyat! Daun-daun kering yang berada di atas tanah terbawa oleh pusingan angin yang diakibatkan tubuh kakek ra ksasa. Yang berputar-putar itu sehingga tubuh keduanya terselimut oleh daun-daun kering dan debu yang membubung ke atas berpusingan!

Hebat bukan main serangan Dibyo Mamangkoro. Namun lebih hebat kegesitan tubuh Joko Wandiro. Tubuh pemuda ini seketika lenyap bagi pandangan Dewi dan adik-adik serta anak buahnya yang menonton dari jauh dengan mata terbelalak dan muka pucat. Tubuh pemuda itu lenyap berubah menjadi bayangan hitam yang berkelebat menyelinap di antara tangan dan kaki yang banyak itu. Sungguh merupakan pemandangan yang bagus, aneh, dan menyeramkan. Pertandingan ini jauh lebih hebat daripada pertandingan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto.
Kalau dalam pertandingan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto, pemuda ini banyak mengalah, selalu mengelak dan tak pernah membalas dengan sungguh-sungguh, adalah pertandingan sekarang ini dilakukan dengan mati-matian. Keduanya menyerang dengan serangan maut. Juga Joko Wandiro selalu membalas sedapat mungkin dengan pukulan-pukulan ampuh. Namun karena lawannya menggunakan ilmu silat yang liar dan ganas seperti tanpa diatur lagi, ia terdesak dan hanya dapat membalas satu kali untuk penyerangan lima kali. Makin lama Dibyo Mamangkoro makin penasaran. Sungguh di luar perkiraannya bahwa pemuda ini demikian hebat. Memang ia tahu bahwa murid Narotama ini seorang yang berbakat baik ketika dahulu anak ini mengalahkan Wirokolo, dan ia sudah mengkhawatirkan bahwa muridnya, Endang Patibroto, tentu akan bertemu tanding yang kuat dalam diri anak ini. Akan tetapi siapa kira bahwa dia sendiri setelah mengerahkan tenaga dan kepandaian, setelah lewat seratus jurus lebih, belum juga berhasil merobohkannya. Dengan gerakan marah ia kembali menubruk, kemudian mengirim pukulan disertai pekik dahsyat. Itulah pekik Sardulo Bairowo (Pekik Harimau) yang disertai pukulan mematikan!
Joko Wandiro terkejut. Berbahaya kalau mengelak pukulan ini, karena pukulan ini mengandung hawa yang menghadang semua jalan keluar. Di samping itu, ia harus pula menghadapi getaran hebat dari pekik Sardulo Bairowo. Maka iapun memekik dengan pengerahan Aji Dirodo Meto, kemudian mengangkat tangannya menangkis pukulan itu. Dua buah tangan yang amat kuat, mendorong ke depan dan dua telapak tangan bertemu di udara!
"Bressss....... !!"
Kalau tubuh Joko Wandiro yang tampak kecil apabila dibandingkan dengan tubuh lawannya itu terlempar seperti daun kering tertiup angin, hal ini masih tidak mengherankan setelah pertemuan dua tenaga dahsyat itu. Akan tetapi adalah amat aneh melihat tubuh kakek raksasa itupun terlempar seperti layang-layang putus talinya, tidak kalah jauhnya oleh tubuh Joko Wandiro. Benturan tenaga mujijat itu membuat mereka terlempar ke belakang sampai sepuluh meter lebih!

<<< Bagian 139                                                                                      Bagian 141 >>>

No comments:

Post a Comment