Bukan main marahnya Dibyo Mamangkoro. Ia merangkak bangun, dadanya turun naik, napasnya menggos-menggos seperti kuda habis membalap, matanya jelilatan merah, mulutnya menyeringai dan ada busa putih di kedua ujungnya. Joko Wandiro juga sudah melompat lagi. Seperti juga lawannya, iapun tidak terluka, namun terkejut oleh kehebatan hawa pukulan lawan. Kini dengan tenang ia berdiri menentang pandang mata lawannya.
"Bocah
keparat, boleh juga kepandaianmu. Akan tetapi kau berhati-hatilah terhadap
seranganku kali ini!"
Sambil berkata
demikian, Dibyo Mamangkoro menggosok-gosok kedua tangannya dan tampaklah asap
tebal mengepul dari gosokan kedua telapak tangan itu. Mula-mula kedua tangan
yang besar itu tampak kemerahan sampai ke kuku-kukunya seperti membara, makin
lama menjadi makin menghitam dan terasalah hawa panas di sekitar kakek ini.
Itulah Aji Wisangnolo yang hebatnya menggila! Untung bagi Joko Wandiro bahwa
dia pernah bertanding melawan Endang Patibroto yang seakan-akan merupakan Dibyo
Mamangkoro ke dua. Karena itu maka ia mengenal gerakan-gerakan kakek itu,
mengenal pula kehebatan Wisangnolo yang berhawa panas. Ia makin berhati-hati
dan diam-diam ia membaca mantera dan mengerahkan aji kesaktian Bojro Dahono ke
dalam kedua lengan tangannya. Kemudian, untuk memperlihatkan pada lawan bahwa
ia sama sekali tidak takut menghadapi kedua tangan yang mengeluarkan asap tebal
itu, Joko Wandiro mendahului lawannya melangkah maju! Setelah jarak di antara
mereka tinggal tiga meter lagi, tiba-tiba Dibyo Mamangkoro mengeluarkan pekik
dahsyat Sardulo Bairowo dan tubuhnya mencelat ke atas. Bagaikan terbang saja
kakek raksasa ini meloncat tinggi dan dari udara ia menyambar turun sambil
menghantamkan kedua tangannya berturut-turut ke arah Joko Wandiro. Pemuda ini
merasa betapa hawa panas menyambar ke arahnya. Cepat ia meloncat sambil
menangkis. Walau tangan mereka tidak bersentuhan dan tubuh mereka mencelat di
udara, namun dalam gerakan ini mereka telah saling tangkis dengan ilmu-ilmu
pukulan jarak jauh yang amat berbahaya. Keduanya kini terpelanting dan
berjungkir balik sehingga dapat berdiri kembali di atas tanah. Tanpa membuang
waktu lagi, keduanya berlomba untuk membalikkan tubuh dan kembali mereka saling
serang mati-matian. Gerakan mereka kini tidak secepat tadi, bahkan amat lambat
seperti orang sedang latihan atau sedang menari saja. Tidak pernah kedua tangan
itu bersentuhan, namun mereka itu ternyata sedang mengadu kesaktian dengan cara
mati-matian. Tentu saja kedua pasang tangan itu tak sempat bersentuhan karena
didahului oleh hawa pukulan jarak jauh yang amat kuat. Dibyo Mamangkoro adalah
tokoh besar Kerajaan Wengker, sebuah kerajaan yang dirajai oleh manusia
siluman, yaitu Prabu Boko yang makanannyapun daging bayi! Tentu saja ilmu
kepandaiannya hebat, tergolong seorang datuk kalangan hitam yang memiliki
bermacam-macam ilmu kesaktian yang aneh-aneh. Ilmu silatnyapun banyak ragamnya
dan kini setelah mendapat kenyataan bahwa lawannya yang muda belia ini ternyata
benar-benar sakti mandraguna, Dibyo Mamangkoro menjadi penasaran dan keluarlah
semua ajiannya.
Berkali-kali
kakek raksasa ini menukar gerakannya dengan bermacam ilmu silat yang aneh-aneh.
Ia menang latihan dan menang pengalaman sehingga dengan cara ini ia berhasil
membuat Joko Wandiro kebingungan. Selain itu, pengalamannya yang luas itu
membuat ia mudah mengenal ilmu orang. Setelah lewat puluhan jurus, kakek itu
sudah mengenal inti daripada Ilmu Silat Bramoro Seto yang dimainkan pemuda itu,
maka pada jurus berikutnya setelah ia tahu bagaimana perubahan selanjutnya dari
gerakan lawan, kakek ini mendahului dengan sebuah dupakan yang tepat mengenai
pundak kiri Joko Wandiro.
"Blekkk.......!!"
Tubuh Joko
Wandiro seperti disambar petir, terputar-putar sampai lima kali baru roboh
bergulingan di atas tanah. Dari jauh terdengar jerit-jerit mengerikan dari Dewi
dan empat orang adiknya. Mereka ngeri menyaksikan orang yang mereka kasihi itu
tertendang sampai berputaran dan bergulingan seperti itu. Akan tetapi mereka
tidak jadi lari menghampiri ketika melihat betapa pemuda itu sudah melompat
bangun lagi dengan sigapnya. Pada saat itu, kaki kiri Dibyo Mamangkoro sudah
menyusulkan sebuah tendangan lagi ke arah kepala Joko Wandiro yang dimaksudkan
sebagai tendangan maut. Joko Wandiro miringkan kepala dan jari tangannya yang
terbuka dikipatkan ke arah betis lawan.
"Plakkk.......
! Auuggghhh........ !!!"
Kakek raksasa
itu berjingkrak-jingkrak dengan kaki kanan sambil mengangkat-angkat kaki kiri
yang terasa amat nyeri dan panas karena dicium jari-jari tangan yang mengandung
Aji Pethit Nogo.
Terdengar
sorak-sorai Dewi dan empat orang adiknya, diikuti oleh tiga puluh orang wanita
anak buahnya. Dibyo Mamangkoro marah bukan main lalu menubruk maju dan kembali
ia mengganti gerakan ilmu silatnya. Kini ilmu silatnya itu amat aneh karena ia
menyerang sambil menggulingkan tubuh ke atas tanah. Sambil bergulingan ia
menerjang, mendekati lawan lalu tiba-tiba dari bawah mengirim pukulan,
tendangan, atau cengkeraman. Joko Wandiro kembali dibuat bingung oleh
gerakan-gerakan ini. Terpaksa pemuda ini meloncat ke sana ke mari untuk
menyelamatkan diri tanpa mendapat kesempatan untuk membalas serangan lawan. Ia
menanti kesempatan untuk balas menyerang dan ketika ia melihat pada suatu saat
kakek itu agak lambat menggulingkan diri, ia segera melangkah maju dan
menendang punggung kakek itu. Akan tetapi, siapa duga, gerakan melambat itu
adalah sebuah pancingan. Begitu Joko Wandiro menendang, kakek itu tiba-tiba
mengulur kedua tangan ke depan dan..... kaki kanan pemuda yang menendang itu telah
tertangkap oleh tangan kiri Dibyo Mamangkoro dan sebelum pemuda itu lenyap
kagetnya, kaki kirinya sudah ditangkap pula oleh tangan kanan!
"Hua-ha-ha-ha,
kubeset kau menjadi dua potong" kakek itu yang masih rebah di atas tanah
tertawa sambil mengerahkan tenaga pada kedua lengannya.
Tentu saja
Joko Wandiro tidak sudi tubuhnya dirobek menjadi dua seperti orang merobek
kedua paha ayam saja. Iapun mengerahkan seluruh tenaga dan mempertahankan kedua
kakinya. Celaka baginya, kakek yang amat licik itu tiba-tiba menyentakkan
kakinya. Tidak dapat ditahan iagi, tergulinglah Joko Wandiro dengan kedua kaki
masih dipegangi lawan! Saat itulah yang amat berbahaya karena kalau tidak
kuat-kuat ia mempertahankan tubuhnya tentu akan benar-benar robek menjadi dua!
Ia sudah merasa sakit pada selangkangannya, maka cepat-cepat tangannya meraih
ke pinggang dan ia sudah mencabut keris pusaka Megantoro, keris lekuk tujuh
yang ia dapat dari gurunya, Ki Patih Narotama. Ia menekuk pinggangnya dan keris
itu ia ayun ke arah kedua tangan lawan yang masih memegangi kaki.
"Heehhhhh........
!"
Dibyo
Mamangkoro menggereng dan cepat melepaskan pegangannya sambil melompat bangun.
Kembali mereka sudah saling berhadapan. Dibyo Mamangkoro penuh peluh leher dan
mukanya. Joko Wandiro agak pucat, dan basah dahinya. Kedua kakinya terasa nyeri
dan perih. Biarpun ia sudah berhasil menyelamatkan diri, namun pergelangan
kedua kakinya yang tadi kena dicengkeram oleh dua tangan yang mengandung Aji
Wisangnolo, kini menjadi merah seperti terbakar!
"Huah-ha-ha!
Engkau kewalahan dan memegang pusaka?" Raksasa itu mengejek.
"Engkau
memang digdaya, Mamangkoro. Akan tetapi aku masih belum kalah. Keluarkanlah
senjatamu dan mari kita lanjutkan!" jawab Joko Wandiro dengan sikap tenang
dan pandang mata penuh keberanian.
Dibyo
Mamangkoro menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepalanya.
"Hebat!
Baru ini seumur hidupku bertemu tanding seorang muda begini hebat. Kalau aku
kalah oleh seorang muda seperti engkau, Joko Wandiro, agaknya memang sudah
sepatutnya aku lenyap dari permukaan bumi ini."
Setelah
berkata demikian, kedua tangannya meraba pinggang dan di lain saat kedua
tangannya sudah memegang sepasang tombak pendek yang dipegang pada
tengah-tengahnya. Tombak pendek yang mempunyai dua mata di depan dan belakang
itu kini diputar-putar di kedua tangannya dan ia menerjang maju sambil
mengeluarkan pekik dahsyat.
Joko Wandiro
cepat mengelak dan keris pusaka di tangannya meluncur maju mencari sasaran
melalui bawah tangan lawan yang menyambar. Setelah digembleng oleh Ki Tejoranu,
tangan pemuda itu amat gapah mainkan senjata. Senjata keris Megantoro adalah
senjata pusaka pemberian Ki Patih Narotama, tentu saja ampuh sekali. Namun
menghadapi sepasang tombak pendek yang dimainkan secara hebat luar biasa itu,
sebentar saja Joko Wandiro sudah terdesak hebat! Ia kini hanya dapat menangkis
dan mengelak saja, dicecer terus secara bertubi-tubi oleh lawannya. Di dalam
hati ia sudah khawatir karena maklum bahwa dalam hal ilmu silat maupun tenaga,
ia masih kalah seusap oleh jagoan tua ini. Ia hanya mengharapkan menang napas
dan menang daya tahan. Akan tetapi kalau ia teringat akan cerita bahwa dahulu
Dibyo Mamangkoro sanggup melayani gurunya, Ki Patih Narotama sampai dua hari
dua malam dalam pertandingan mati-matian, ia menjadi bimbang ragu. Mungkinkah
ia dapat menang dalam hal keuletan? Mereka sudah bertanding selama tiga jam
lebih. Kini Dibyo Mamangkoro yang makin bernafsu mengakhiri pertandingan dengan
kemenangan di pihaknya, terus-menerus menyerang dengan pengerahan seluruh
tenaga. Napasnya mendengus-dengus, peluhnya memercik ke sana ke mari dan
mulailah Joko Wandiro melihat hal yang melegakan hatinya. Gerakan kakek itu
mulai gemetar dan angin pukulannya tidaklah sehebat tadi. Jelas bahwa kakek itu
mulai berkurang tenaganya, mulai lelah dan kehabisan napas!
Akan tetapi,
dasar ia masih muda, dalam kegirangannya Joko Wandiro lupa bahwa perasaan ini
juga merupakan pantangan dalam ilmu bertanding. Tidak hanya kemarahan yang
membikin kacau perhatian, juga rasa girang akan mendapatkan kemenangan ini
membuat ia kurang waspada. Maka kagetlah ia ketika kerisnya menangkis tombak
kiri lawan yang menusuk perutnya, tombak kanan lawan tahu-tahu sudah menyambar
dada! Ia tahu bahwa ia telah membuat kesalahan. Tidak seharusnya ia menangkis
tombak kiri yang merupakan serangan pembuka. Serangan pembuka harus dielakkan
dan barulah serangan penutup kalau perlu boleh ditangkis. Ia telah lupa dan
menangkis serangan pembuka sehingga ketika serangan penutup menyusul ke arah
dada, ia menjadi bingung. Cepat ia miringkan tubuhnya, namun kurang cepat!
"Desss........
!!"
Pundak kirinya
dihajar mata tombak lawan. Biarpun ia sudah menyalurkan tenaga dalam ke arah
pundak, tetap saja baju berikut kulit dan dagingnya robek, tulang pundaknya
retak! Tubuhnya terguling dan terdengar ia mengeluh.
"Huah-ha-ha-ha!
Hanya sekian saja kepandaianmu? Ha-haha, bersiaplah untuk mati di tangan Dibyo
Mamangkoro, hehheh-heh. Joko Wandiro, engkau tidak malu mati dan kalah oleh
Dibyo Mamangkoro karena telah melakukan perlawanan yang mengagumkan!"
Setelah
berkata demikian, Dibyo Mamangkoro memutar-mutar kedua tombak pendeknya dan
melangkah lebar ke depan.
Akan tetapi
Joko Wandiro sudah bangun kembali. Pundak kirinya sakit bukan main, lengan
kirinya lumpuh tak dapat digerakkan, akan tetapi tangan kanannya masih
menggenggam gagang Megantoro erat-erat. Tiba-tiba pemuda ini membelalakkan
mata, memandang lawan penuh wibawa. Kaki kanannya menggedrug (menjejak) tanah
tiga kali dan terdengar suaranya berpengaruh,
"Apa
engkau bilang, Dibyo Mamangkoro? Engkau dapat mengalahkan aku?? Engkau akan
dapat membunuh aku?? Hemm, engkau kira siapakah kau ini, Mamangkoro, maka akan
dapat membunuh aku? Buka matamu, pandanglah aku baik-baik, Mamangkoro. Lihat
siapa aku ini, dan kalau engkau berani, cobalah engkau melawan aku!!"
Luar biasa
sekali akibatnya. Dibyo Mamangkoro tiba-tiba terbelalak, matanya melotot dan
mulutnya ternganga, mukanya pucat sekali, tubuhnya menggigil. Dalam pandang
matanya, ia melihat Joko Wandiro telah berubah menjadi raksasa yang besar
sekali, mengerikan dengan muka yang tak terhitung banyaknya, dengan mulut dan
mata yang menyemburkan api, dengan tangan yang tak terhitung banyaknya memegang
segala macam senjata yang ada di mayapada ini!
Joko Wandiro
melangkah maju, keris di tangannya bergerak dua kali ke depan. Dibyo Mamangkoro
berusaha menangkis, namun dengan putaran pergelangan yang amat cepat, keris itu
menyelinap dan menusuk lengan kakek raksasa itu. Dua kali tusukan tepat
mengenai kedua lengan dan terlepaslah tombak-tombak pendek itu dari kedua
tangan Dibyo Mamangkoro. Pada saat itu, kakek raksasa yang sakti mandraguna ini
sudah dapat menguasai dirinya kembali. Ia tadi telah terpengaruh oleh aji
kesaktian yang mujijat, yang terpaksa dipergunakan oleh Joko Wandiro untuk
menolong dirinya. Itulah aji kesaktian Triwikrama dari mendiang Sang Prabu
Airlangga atau Sang Resi Gentayu! Akan tetapi karena kurang latihan dan kurang
pengalaman, pengaruhnya hanya sebentar saja terhadap seorang sakti seperti
Dibyo Mamangkoro. Dengan lengking panjang macam lengking iblis, Dibyo
Mamangkoro yang bertangan kosong itu sudah melompat ke depan, menubruk Joko
Wandiro dengan kemarahan meluap-luap. Kedua lengannya terluka oleh keris
pusaka, namun tidak mengurangi tenaganya. Hebat bukan main terkaman ini
sehingga Joko Wandiro tak sempat mengelak sama sekali. Tahu-tahu kedua tangan
raksasa itu, dengan jari-jari tangan yang besar-besar lagi kuat, sudah mencekik
lehernya! Joko Wandiro terguling roboh, tertindih oleh tubuh kakek raksasa itu
yang terus mencekik sekuat tenaga.
No comments:
Post a Comment