Badai Laut Selatan ; Bagian 141


Bukan main marahnya Dibyo Mamangkoro. Ia merangkak bangun, dadanya turun naik, napasnya menggos-menggos seperti kuda habis membalap, matanya jelilatan merah, mulutnya menyeringai dan ada busa putih di kedua ujungnya. Joko Wandiro juga sudah melompat lagi. Seperti juga lawannya, iapun tidak terluka, namun terkejut oleh kehebatan hawa pukulan lawan. Kini dengan tenang ia berdiri menentang pandang mata lawannya.
"Bocah keparat, boleh juga kepandaianmu. Akan tetapi kau berhati-hatilah terhadap seranganku kali ini!"
Sambil berkata demikian, Dibyo Mamangkoro menggosok-gosok kedua tangannya dan tampaklah asap tebal mengepul dari gosokan kedua telapak tangan itu. Mula-mula kedua tangan yang besar itu tampak kemerahan sampai ke kuku-kukunya seperti membara, makin lama menjadi makin menghitam dan terasalah hawa panas di sekitar kakek ini. Itulah Aji Wisangnolo yang hebatnya menggila! Untung bagi Joko Wandiro bahwa dia pernah bertanding melawan Endang Patibroto yang seakan-akan merupakan Dibyo Mamangkoro ke dua. Karena itu maka ia mengenal gerakan-gerakan kakek itu, mengenal pula kehebatan Wisangnolo yang berhawa panas. Ia makin berhati-hati dan diam-diam ia membaca mantera dan mengerahkan aji kesaktian Bojro Dahono ke dalam kedua lengan tangannya. Kemudian, untuk memperlihatkan pada lawan bahwa ia sama sekali tidak takut menghadapi kedua tangan yang mengeluarkan asap tebal itu, Joko Wandiro mendahului lawannya melangkah maju! Setelah jarak di antara mereka tinggal tiga meter lagi, tiba-tiba Dibyo Mamangkoro mengeluarkan pekik dahsyat Sardulo Bairowo dan tubuhnya mencelat ke atas. Bagaikan terbang saja kakek raksasa ini meloncat tinggi dan dari udara ia menyambar turun sambil menghantamkan kedua tangannya berturut-turut ke arah Joko Wandiro. Pemuda ini merasa betapa hawa panas menyambar ke arahnya. Cepat ia meloncat sambil menangkis. Walau tangan mereka tidak bersentuhan dan tubuh mereka mencelat di udara, namun dalam gerakan ini mereka telah saling tangkis dengan ilmu-ilmu pukulan jarak jauh yang amat berbahaya. Keduanya kini terpelanting dan berjungkir balik sehingga dapat berdiri kembali di atas tanah. Tanpa membuang waktu lagi, keduanya berlomba untuk membalikkan tubuh dan kembali mereka saling serang mati-matian. Gerakan mereka kini tidak secepat tadi, bahkan amat lambat seperti orang sedang latihan atau sedang menari saja. Tidak pernah kedua tangan itu bersentuhan, namun mereka itu ternyata sedang mengadu kesaktian dengan cara mati-matian. Tentu saja kedua pasang tangan itu tak sempat bersentuhan karena didahului oleh hawa pukulan jarak jauh yang amat kuat. Dibyo Mamangkoro adalah tokoh besar Kerajaan Wengker, sebuah kerajaan yang dirajai oleh manusia siluman, yaitu Prabu Boko yang makanannyapun daging bayi! Tentu saja ilmu kepandaiannya hebat, tergolong seorang datuk kalangan hitam yang memiliki bermacam-macam ilmu kesaktian yang aneh-aneh. Ilmu silatnyapun banyak ragamnya dan kini setelah mendapat kenyataan bahwa lawannya yang muda belia ini ternyata benar-benar sakti mandraguna, Dibyo Mamangkoro menjadi penasaran dan keluarlah semua ajiannya.

Berkali-kali kakek raksasa ini menukar gerakannya dengan bermacam ilmu silat yang aneh-aneh. Ia menang latihan dan menang pengalaman sehingga dengan cara ini ia berhasil membuat Joko Wandiro kebingungan. Selain itu, pengalamannya yang luas itu membuat ia mudah mengenal ilmu orang. Setelah lewat puluhan jurus, kakek itu sudah mengenal inti daripada Ilmu Silat Bramoro Seto yang dimainkan pemuda itu, maka pada jurus berikutnya setelah ia tahu bagaimana perubahan selanjutnya dari gerakan lawan, kakek ini mendahului dengan sebuah dupakan yang tepat mengenai pundak kiri Joko Wandiro.
"Blekkk.......!!"
Tubuh Joko Wandiro seperti disambar petir, terputar-putar sampai lima kali baru roboh bergulingan di atas tanah. Dari jauh terdengar jerit-jerit mengerikan dari Dewi dan empat orang adiknya. Mereka ngeri menyaksikan orang yang mereka kasihi itu tertendang sampai berputaran dan bergulingan seperti itu. Akan tetapi mereka tidak jadi lari menghampiri ketika melihat betapa pemuda itu sudah melompat bangun lagi dengan sigapnya. Pada saat itu, kaki kiri Dibyo Mamangkoro sudah menyusulkan sebuah tendangan lagi ke arah kepala Joko Wandiro yang dimaksudkan sebagai tendangan maut. Joko Wandiro miringkan kepala dan jari tangannya yang terbuka dikipatkan ke arah betis lawan.
"Plakkk....... ! Auuggghhh........ !!!"
Kakek raksasa itu berjingkrak-jingkrak dengan kaki kanan sambil mengangkat-angkat kaki kiri yang terasa amat nyeri dan panas karena dicium jari-jari tangan yang mengandung Aji Pethit Nogo.
Terdengar sorak-sorai Dewi dan empat orang adiknya, diikuti oleh tiga puluh orang wanita anak buahnya. Dibyo Mamangkoro marah bukan main lalu menubruk maju dan kembali ia mengganti gerakan ilmu silatnya. Kini ilmu silatnya itu amat aneh karena ia menyerang sambil menggulingkan tubuh ke atas tanah. Sambil bergulingan ia menerjang, mendekati lawan lalu tiba-tiba dari bawah mengirim pukulan, tendangan, atau cengkeraman. Joko Wandiro kembali dibuat bingung oleh gerakan-gerakan ini. Terpaksa pemuda ini meloncat ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri tanpa mendapat kesempatan untuk membalas serangan lawan. Ia menanti kesempatan untuk balas menyerang dan ketika ia melihat pada suatu saat kakek itu agak lambat menggulingkan diri, ia segera melangkah maju dan menendang punggung kakek itu. Akan tetapi, siapa duga, gerakan melambat itu adalah sebuah pancingan. Begitu Joko Wandiro menendang, kakek itu tiba-tiba mengulur kedua tangan ke depan dan..... kaki kanan pemuda yang menendang itu telah tertangkap oleh tangan kiri Dibyo Mamangkoro dan sebelum pemuda itu lenyap kagetnya, kaki kirinya sudah ditangkap pula oleh tangan kanan!
"Hua-ha-ha-ha, kubeset kau menjadi dua potong" kakek itu yang masih rebah di atas tanah tertawa sambil mengerahkan tenaga pada kedua lengannya.
Tentu saja Joko Wandiro tidak sudi tubuhnya dirobek menjadi dua seperti orang merobek kedua paha ayam saja. Iapun mengerahkan seluruh tenaga dan mempertahankan kedua kakinya. Celaka baginya, kakek yang amat licik itu tiba-tiba menyentakkan kakinya. Tidak dapat ditahan iagi, tergulinglah Joko Wandiro dengan kedua kaki masih dipegangi lawan! Saat itulah yang amat berbahaya karena kalau tidak kuat-kuat ia mempertahankan tubuhnya tentu akan benar-benar robek menjadi dua! Ia sudah merasa sakit pada selangkangannya, maka cepat-cepat tangannya meraih ke pinggang dan ia sudah mencabut keris pusaka Megantoro, keris lekuk tujuh yang ia dapat dari gurunya, Ki Patih Narotama. Ia menekuk pinggangnya dan keris itu ia ayun ke arah kedua tangan lawan yang masih memegangi kaki.
"Heehhhhh........ !"

Dibyo Mamangkoro menggereng dan cepat melepaskan pegangannya sambil melompat bangun. Kembali mereka sudah saling berhadapan. Dibyo Mamangkoro penuh peluh leher dan mukanya. Joko Wandiro agak pucat, dan basah dahinya. Kedua kakinya terasa nyeri dan perih. Biarpun ia sudah berhasil menyelamatkan diri, namun pergelangan kedua kakinya yang tadi kena dicengkeram oleh dua tangan yang mengandung Aji Wisangnolo, kini menjadi merah seperti terbakar!
"Huah-ha-ha! Engkau kewalahan dan memegang pusaka?" Raksasa itu mengejek.
"Engkau memang digdaya, Mamangkoro. Akan tetapi aku masih belum kalah. Keluarkanlah senjatamu dan mari kita lanjutkan!" jawab Joko Wandiro dengan sikap tenang dan pandang mata penuh keberanian.
Dibyo Mamangkoro menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepalanya.
"Hebat! Baru ini seumur hidupku bertemu tanding seorang muda begini hebat. Kalau aku kalah oleh seorang muda seperti engkau, Joko Wandiro, agaknya memang sudah sepatutnya aku lenyap dari permukaan bumi ini."
Setelah berkata demikian, kedua tangannya meraba pinggang dan di lain saat kedua tangannya sudah memegang sepasang tombak pendek yang dipegang pada tengah-tengahnya. Tombak pendek yang mempunyai dua mata di depan dan belakang itu kini diputar-putar di kedua tangannya dan ia menerjang maju sambil mengeluarkan pekik dahsyat.
Joko Wandiro cepat mengelak dan keris pusaka di tangannya meluncur maju mencari sasaran melalui bawah tangan lawan yang menyambar. Setelah digembleng oleh Ki Tejoranu, tangan pemuda itu amat gapah mainkan senjata. Senjata keris Megantoro adalah senjata pusaka pemberian Ki Patih Narotama, tentu saja ampuh sekali. Namun menghadapi sepasang tombak pendek yang dimainkan secara hebat luar biasa itu, sebentar saja Joko Wandiro sudah terdesak hebat! Ia kini hanya dapat menangkis dan mengelak saja, dicecer terus secara bertubi-tubi oleh lawannya. Di dalam hati ia sudah khawatir karena maklum bahwa dalam hal ilmu silat maupun tenaga, ia masih kalah seusap oleh jagoan tua ini. Ia hanya mengharapkan menang napas dan menang daya tahan. Akan tetapi kalau ia teringat akan cerita bahwa dahulu Dibyo Mamangkoro sanggup melayani gurunya, Ki Patih Narotama sampai dua hari dua malam dalam pertandingan mati-matian, ia menjadi bimbang ragu. Mungkinkah ia dapat menang dalam hal keuletan? Mereka sudah bertanding selama tiga jam lebih. Kini Dibyo Mamangkoro yang makin bernafsu mengakhiri pertandingan dengan kemenangan di pihaknya, terus-menerus menyerang dengan pengerahan seluruh tenaga. Napasnya mendengus-dengus, peluhnya memercik ke sana ke mari dan mulailah Joko Wandiro melihat hal yang melegakan hatinya. Gerakan kakek itu mulai gemetar dan angin pukulannya tidaklah sehebat tadi. Jelas bahwa kakek itu mulai berkurang tenaganya, mulai lelah dan kehabisan napas!

Akan tetapi, dasar ia masih muda, dalam kegirangannya Joko Wandiro lupa bahwa perasaan ini juga merupakan pantangan dalam ilmu bertanding. Tidak hanya kemarahan yang membikin kacau perhatian, juga rasa girang akan mendapatkan kemenangan ini membuat ia kurang waspada. Maka kagetlah ia ketika kerisnya menangkis tombak kiri lawan yang menusuk perutnya, tombak kanan lawan tahu-tahu sudah menyambar dada! Ia tahu bahwa ia telah membuat kesalahan. Tidak seharusnya ia menangkis tombak kiri yang merupakan serangan pembuka. Serangan pembuka harus dielakkan dan barulah serangan penutup kalau perlu boleh ditangkis. Ia telah lupa dan menangkis serangan pembuka sehingga ketika serangan penutup menyusul ke arah dada, ia menjadi bingung. Cepat ia miringkan tubuhnya, namun kurang cepat!
"Desss........ !!"
Pundak kirinya dihajar mata tombak lawan. Biarpun ia sudah menyalurkan tenaga dalam ke arah pundak, tetap saja baju berikut kulit dan dagingnya robek, tulang pundaknya retak! Tubuhnya terguling dan terdengar ia mengeluh.
"Huah-ha-ha-ha! Hanya sekian saja kepandaianmu? Ha-haha, bersiaplah untuk mati di tangan Dibyo Mamangkoro, hehheh-heh. Joko Wandiro, engkau tidak malu mati dan kalah oleh Dibyo Mamangkoro karena telah melakukan perlawanan yang mengagumkan!"
Setelah berkata demikian, Dibyo Mamangkoro memutar-mutar kedua tombak pendeknya dan melangkah lebar ke depan.
Akan tetapi Joko Wandiro sudah bangun kembali. Pundak kirinya sakit bukan main, lengan kirinya lumpuh tak dapat digerakkan, akan tetapi tangan kanannya masih menggenggam gagang Megantoro erat-erat. Tiba-tiba pemuda ini membelalakkan mata, memandang lawan penuh wibawa. Kaki kanannya menggedrug (menjejak) tanah tiga kali dan terdengar suaranya berpengaruh,
"Apa engkau bilang, Dibyo Mamangkoro? Engkau dapat mengalahkan aku?? Engkau akan dapat membunuh aku?? Hemm, engkau kira siapakah kau ini, Mamangkoro, maka akan dapat membunuh aku? Buka matamu, pandanglah aku baik-baik, Mamangkoro. Lihat siapa aku ini, dan kalau engkau berani, cobalah engkau melawan aku!!"
Luar biasa sekali akibatnya. Dibyo Mamangkoro tiba-tiba terbelalak, matanya melotot dan mulutnya ternganga, mukanya pucat sekali, tubuhnya menggigil. Dalam pandang matanya, ia melihat Joko Wandiro telah berubah menjadi raksasa yang besar sekali, mengerikan dengan muka yang tak terhitung banyaknya, dengan mulut dan mata yang menyemburkan api, dengan tangan yang tak terhitung banyaknya memegang segala macam senjata yang ada di mayapada ini!

Joko Wandiro melangkah maju, keris di tangannya bergerak dua kali ke depan. Dibyo Mamangkoro berusaha menangkis, namun dengan putaran pergelangan yang amat cepat, keris itu menyelinap dan menusuk lengan kakek raksasa itu. Dua kali tusukan tepat mengenai kedua lengan dan terlepaslah tombak-tombak pendek itu dari kedua tangan Dibyo Mamangkoro. Pada saat itu, kakek raksasa yang sakti mandraguna ini sudah dapat menguasai dirinya kembali. Ia tadi telah terpengaruh oleh aji kesaktian yang mujijat, yang terpaksa dipergunakan oleh Joko Wandiro untuk menolong dirinya. Itulah aji kesaktian Triwikrama dari mendiang Sang Prabu Airlangga atau Sang Resi Gentayu! Akan tetapi karena kurang latihan dan kurang pengalaman, pengaruhnya hanya sebentar saja terhadap seorang sakti seperti Dibyo Mamangkoro. Dengan lengking panjang macam lengking iblis, Dibyo Mamangkoro yang bertangan kosong itu sudah melompat ke depan, menubruk Joko Wandiro dengan kemarahan meluap-luap. Kedua lengannya terluka oleh keris pusaka, namun tidak mengurangi tenaganya. Hebat bukan main terkaman ini sehingga Joko Wandiro tak sempat mengelak sama sekali. Tahu-tahu kedua tangan raksasa itu, dengan jari-jari tangan yang besar-besar lagi kuat, sudah mencekik lehernya! Joko Wandiro terguling roboh, tertindih oleh tubuh kakek raksasa itu yang terus mencekik sekuat tenaga.

<<< Bagian 140                                                                                     Bagian 142 >>>

No comments:

Post a Comment