Badai Laut Selatan ; Bagian 142


Joko Wandiro mengerahkan tenaga menjaga leher, kemudian tangan kanannya bergerak menusuk dalam keadaan setengah sadar karena cekikan itu benar-benar telah menghentikan jalan darahnya ke kepala. Tiga kali ia menusuk dalam-dalam, dan tusukan yang ketiga kalinya tak dapat diulangi lagi karena kerisnya tertinggal di dalam rongga dada Dibyo Mamangkoro, tinggal gagangnya saja sedangkan Joko Wandiro sendiri juga sudah pingsan!

Ketika sadar dari pingsannya, yang teringat oleh Joko Wandiro adalah bahwa ia bertanding mati-matian dengan Dibyo Mamangkoro dan bahwa kerisnya patah tertinggal di dalam dada lawan yang tubuhnya menindih tubuhnya, sedangkan lehernya tercekik hampir patah dan pundak kirinya sakit sekali membuat lengan kirinya lumpuh. Ketika ia sadar, ia merasa betapa pundaknya masih sakit, lengan kirinya masih tak dapat digerakkan, lehernya juga masih kaku dan nyeri-nyeri, akan tetapi dadanya tidak tertindih lagi. Masih hidupkah ia? Ataukah sudah mati? la tidak akan merasa heran kalau mendapatkan dirinya sudah mati. Dibyo Mamangkoro luar biasa saktinya. Terlalu sakti baginya. Pertandingan tadi hebat dan belum pernah selama hidupnya ia mengalami pertandingan sebehat itu.
"Dia bergerak........ !"
"Dia sadar kembali.......!”
"Dia hebat sekali, dapat mengalahkan kakek sakti itu."
"Pertandingan yang mengerikan dan seru bukan main."
"Dia benar-benar perkasa, patut menjadi junjungan kita."
Suara percakapan ini merdu dan halus, suara wanita. Kemudian jari-jari tangan yang halus lunak meraba-rabanya, membelainya. Tercium harum rambut wanita ketika bibir yang hanyat menyentuh dahinya. Joko Wandiro tersenyum. Ia teringat, ini tentu Dewi, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari! Lima orang gadis jelita yang hebat. Ia tidak marah lagi mereka belai dengan mesra. Lima orang gadis ini telah membuktikan cinta kasih dan kesetiaan mereka. Bahkan mereka telah menyelamatkan nyawanya pada saat terakhir ketika tadi ia dikempit dari belakang oleh Dibyo Mamangkoro. Mereka menolongnya dengan taruhan nyawa, karena menolongnya berarti melawan Dibyo Mamangkoro yang masih kakek paman Dewi sendiri! Ia membuka matanya. Kiranya Dewi yang menciumnya. Tanpa disadarinya, Joko Wandiro membalas rangkulannya dan mencium pipi Dewi sambil berbisik,
"Sudahlah, Dewi, jangan menangis. Aku tidak apa-apa lagi......."
Dewi mengangkat mukanya, memandang dengan air mata berlinang, lalu tersenyum manis sekali.
"Kalau tadi kau yang kalah dan mati, kami sudah siap untuk mengadu nyawa dengan eyang Dibyo Mamangkoro!"
"Dibyo Mamangkoro? Ah, di mana dia sekarang......?"
"Dia sudah tewas, sudah kami kubur di lereng wetan."

Joko Wandiro menarik napas lega. Kiranya luka-lukanya telah dirawat dengan baik-baik oleh Dewi dan adik-adiknya, bahkan ketika ia masih pingsan, tulang pundaknya telah diberi obat penyambung tulang. Untuk menunggu pulihnya tulang pundaknya, ia harus rebah untuk beberapa hari lamanya. Setiap hari, tak pernah lima orang gadis itu membiarkan ia seorang diri. Mereka itu secara bergilir menjaganya, siang malam, dengan penuh perhatian, penuh kesetiaan dan penuh cinta kasih yang mesra. Kini Joko Wandiro tak pernah menolak sikap mereka yang mencinta. Dia mulai mengenal keadaan hati lima orang gadis ini. Mereka itu adalah orang-orang yang haus akan cinta kasih, semenjak kecil tak pernah mengenal cinta kasih maka sekarang, begitu bertemu dengan dia yang mereka kagumi, mereka menumpahkan seluruh perasaan itu kepadanya dengan harapan untuk mendapatkan cinta kasih. Karena ia tahu betapa mereka itu amat setia kepadanya, bahkan ia telah berhutang budi, ia tidak tega mengecewakan hati mereka. Bahkan seringkali, darah muda di tubuhnya mendesak dan mendorong agar dia mengambil Apa yang disodorkan kepadanya, agar dia mempergunakan kesempatan itu untuk menyenangkan diri sendiri dan menikmatinya. Namun, Joko Wandiro sebagai murid Ki Patih Narotama selalu menekan dan menentang perasaan ini, selalu teringat bahwa sekali ia dikalahkan nafsunya sendiri, ia akan meiakukan penyelewengan-penyelewengan daripada jalan kebenaran. Oleh karena inilah, Joko Wandiro selalu kuat bertahan. Dia mengimbangi pernyataan kasih sayang Dewi dan adik-adiknya, namun dalam batas-batas tertentu dan tidak terpeleset ke dalam bujukan iblis nafsu berahi yang akan menyeretnya melalui batas-batas kesusilaan.

Endang Patibroto yang mendapat tugas dari sang prabu di Jenggala untuk memimpin pasukan menyerbu Nusabarung dan menawan Adipati Jagalmanik yang hendak memberontak, hanya menyuruh para senopati menyiapkan seribu orang perajurit pilihan. Dia sendiri lalu bergegas melakukan pengejaran setelah menerima laporan penyelidik bahwa tiga orang sakti lain yang menjadi sekutu Durgogini dan Nogogini, yang tadinya juga membantu Kerajaan Jenggala, telah melarikan diri setelah mendengar akan tewasnya Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Mereka bertiga ini bukan lain adalah Cekel Aksomolo, Ki Krendoyakso dan Ki Gendroyono. Menurut rencana persekutuan itu semula, setelah Ni Durgogini dan Ni Nogogini berhasil melemahkan Kerajaan Jenggala dengan menggoda rajanya, maka pada saat yang baik dan telah ditentukan, Adipati Jagalmanik akan melakukan penyerbuan dengan bala tentaranya, sedangkan tiga orang kakek sakti ini sebagai pembantu-pembantu Jenggala akan melakukan gerakan membantu dari dalam. Siapa kira, usaha Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang sudah hampir berhasil itu tiba-tiba hancur dan gagal, bahkan menewaskan mereka. Hal ini selain mengejutkan, juga menggiriskan hati tiga orang kakek sakti itu, maka mereka cepat-cepat melarikan diri dengan maksud menggabungkan diri dengan Adipati Jagalmanik di Nusabarung. Mereka menunggang tiga ekor kuda yang kuat dan meninggalkan Jenggala di malam hari yang gelap. Pada keesokan harinya, di waktu pagi, mereka telah keluar dari wilayah Jenggala dan menjalankan kuda mereka yang sudah lelah itu perlahan-lahan. Ketika mereka lewat di pinggir sebuah hutan, tiba-tiba tampak sinar hijau berkelebat dan kuda mereka meringkik keras lalu roboh! Sebagai orang-orang sakti, tentu saja tiga orang kakek ini tidak ikut roboh, melainkan dapat cepat melompat turun. Mereka kaget sekali melihat betapa tiga ekor kuda mereka berkelojotan lalu mati ! Kiranya tiga batang panah tangan menancap di leher kuda. Marah sekali tiga orang ini. Mereka adalah orang-orang sakti, tokoh-tokoh besar. Siapa berani begitu kurang ajar menyerang mereka dan membunuh kuda tunggangan mereka? Serentak mereka mencabut senjata masing-masing.
"Babo-babo, si keparat pengecut dari mana berani mati menyerang kami?" Cekel Aksomolo berseru dengan suaranya yang tinggi sambil memutar-mutar tasbehnya yang ampuh.
Juga Ki Krendoyakso telah memegang penggadanya Wojo Ireng yang besar dan berat. Adapun Ki Warok Gendroyono sudah mengudar kolor jimatnya Ki Bandot! Tiga orang sakti ini sudah siap menghajar orang yang berani menewaskan kuda tunggangan mereka.
"Hemm, tiga orang tua bangka tak tahu malu! Siapakah yang pengecut? Aku atau kalian yang melarikan diri seperti tiga orang maling kesiangan?"

Suara ini halus merdu, keluar dari bibir merah Endang Patibroto. Namun amat mengejutkan tiga orang itu yang cepat-cepat membalikkan tubuh karena gadis ini muncul dari belakang mereka. Melihat betapa gadis itu hanya seorang diri, bertangan kosong pula, tiga orang tokoh itu dapat menenangkan hati. Mereka maklum bahwa gadis ini adalah murid Dibyo Mamangkoro yang sakti, dan gadis ini pula yang telah menewaskan sekutu mereka, Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Maka di samping rasa kaget melihat gadis ini, juga timbul kemarahan mereka. Ki Warok Gendroyono yang berdiri paling dekat, tanpa mengeluarkan kata-kata pula sudah menggerakkan senjata kolor mautnya ke atas, memutarnya beberapa kali lalu menghantamkannya ke arah kepala Endang Patibroto.
"Blarrrr....... ! "
Hebat bukan main sambaran senjata kolor maut ini. Namun dengan gerak tubuh amat ringan cekatan, Endang Patibroto sudah memutar tubuh mengelak. Gadis ini tersenyum-senyum mengejek lalu berkata,
"Bagus, akan terbalaslah sakit hati eyang Resi Bhargowo.......!"
Ucapan ini mengejutkan mereka bertiga dan serentak mereka menahan gerakan senjata masing-masing.
"Uuh-huh, bocah denok yang sombong! Apa kaukatakan tadi? Mengapa engkau memusuhi kami dan apa hubunganmu dengan Bhargowo?" Cekel Aksomolo yang sudah ompong itu bertanya.
Endang Patibroto berdiri tegak, kedua tangan bertolak pinggang.
"Masih ingatkah kalian belasan tahun yang lalu ketika kalian mengeroyok secara curang eyang Resi Bhargowo? Ketika itu aku sudah bersumpah akan membalas kalian berenam. Durgogini dan Nogogini sudah mampus di tanganku, sekarang kalian bertiga mendapat giliran. Hanya masih kurang seorang lagi. Jokowanengpati, dia sudah lebih dahulu mampus di tangan ibuku. Sayang sekali! Ketahuilah, aku adalah cucu eyang Resi Bhargowo yang dahulu kalian keroyok di Pulau Sempu."
Tiga orang itu benar-benar terkejut, juga terheran-heran.
"Kalau begitu, mengapa engkau membantu Jenggala? Eyangmu selalu memusuhi Jenggala."
"Bukan urusanmu!" bentak Endang Patibroto dan tiba-tiba tubuh gadis ini sudah menyambar ke depan, mengirim pukulan Pethit Nogo ke arah leher orang terdekat, yaitu Ki Krendoyakso.

Tentu saja kepala rampok Bagelen ini maklum akan dahsyatnya serangan lawan, maka ia menghindar sambil menyabetkan Wojo Ireng ke arah kepala lawan. Pada saat itu, sambil berteriak keras Ki Warok Gendroyono juga sudah menerjang maju dengan kolor mautnya, sedangkan Cekel Aksomolo sudah pula memutar tasbehnya dan menyerbu ke depan. Endang Patibroto adalah seorang gadis yang memiliki keberanian luar biasa dan sedikit banyak ia ketularan watak gurunya yang terlalu yakin akan kepandaian sendiri serta memandang rendah orang lain. Inilah sebabnya mengapa ia hanya bertangan kosong saja menghadapi tiga orang tokoh besar yang terkenal sakti ini. Kini ia bagaikan seekor burung pipit yang dijadikan rebutan tiga ekor kucing besar. Ditubruk sana melejit ke sini, diterkam sini terbang ke sana. Ia hanya mengandaikan kelincahannya yang memang amat mengagumkan itu untuk berkelebat menyelamatkan diri. Gerakannya amat cepat, tidak kalah cepatnya oleh gerakan senjata tiga orang lawannya sehingga tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan hitam yang berkelebat menyelinap di antara gulungan sinar senjata tiga orang lawannya. Senjata di tangan Ki Krendoyakso amat mengerikan. Penggada Wojo Ireng yang amat besar dan berat itu bersiutan menyambar-nyambar laksana seekor burung garuda mencari korban. Rambut kepala Endang Patibroto sampai berkibaran setiap kali kena sambar hawa pukulan yang mendahului penggada raksasa itu. Namun, keganasan penggada Ki Krendoyakso ini masih kalah oleh ketangkasan kolor maut di tangan Ki Warok Gendroyono. Biarpun kolor itu terbuat daripada bahan lemas dan ringan, namun jangan dikira kalah ampuh oleh penggada yang besar dan berat. Kolor ini seolah-olah hidup di tangan Ki Warok Gendroyono, menyambar-nyambar seperti seekor ular terbang, meledak-ledak di udara ketika melecut dan mengandung hawa yang amat panas. Kalau Endang masih berani menyampok penggada dengan telapak tangannya, ia sama sekali tidak berani sembrono untuk menangkis kolor maut ini. Namun, harus diakui bahwa yang paling ampuh dan berbahaya adalah tasbeh di tangan Cekel Aksomolo. Kakek ini sudah tua sekali, kalau berdiri biasa sudah "buyuten" (gemetar), akan tetapi ternyata ketika bertanding, sepak terjangnya masih hebat menggiriskan hati. Tasbehnya menyambar-nyambar dan berputar-putar, mengeluarkan suara menggelitik aneh yang amat menyakitkan telinga lawan, sedangkan hawa pukulan yang keluar dari gerakan tasbeh ini melingkar-lingkar dan berpusing membingungkan lawan.

Endang Patibroto memang seorang gadis sakti mandraguna dan sudah mewarisi sebagian besar ilmu kesaktian Dibyo Mamangkoro. Namun, menghadapi pengeroyokan tiga orang kakek sakti ini, akhirnya ia terdesak dan kewalahan juga. Ia hanya mampu mengelak ke sana ke mari mengandalkan kegesitannya, sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Ia mulai penasaran dan marah, namun kemarahannya ini malah melemahkan pertahanannya sehingga ketika ia meloncat ke atas menghindarkan diri dari serampangan penggada ke arah pinggangnya, kemudian di atas ia berjungkir balik untuk mengelak sambaran kolor maut sambil memaki-maki, ia berlaku agak lengah dan pundaknya tercium tasbeh.
"Treekkk........ !"
Tasbeh itu hanya mencium pundak, tidak mengenai secara jitu. Namun tubuh gadis itu berputar-putar seperti gasing lalu roboh dan bergulingan di atas tanah. Pundaknya serasa hancur, kemudian rasa panas yang amat menyakitkan merangsang dari pundak menyerbu ke dalam dada. Endang Patibroto terkejut bukan main, cepat ia mengerahkan hawa sakti di dalam tubuhnya, disalurkan ke arah pundak untuk memulihkan tenaganya. Ia masih dalam keadaan setengah berbaring setengah duduk ketika kolor maut melecut dari atas dan menghantam ke arah kepalanya dengan bunyi ledakan dahsyat, disusul dalam detik berikutnya oleh hantaman penggada Wojo Ireng yang menggebug ke arah dadanya.

<<< Bagian 141                                                                                      Bagian 143 >>>

No comments:

Post a Comment