Joko Wandiro mengerahkan tenaga menjaga leher, kemudian tangan kanannya bergerak menusuk dalam keadaan setengah sadar karena cekikan itu benar-benar telah menghentikan jalan darahnya ke kepala. Tiga kali ia menusuk dalam-dalam, dan tusukan yang ketiga kalinya tak dapat diulangi lagi karena kerisnya tertinggal di dalam rongga dada Dibyo Mamangkoro, tinggal gagangnya saja sedangkan Joko Wandiro sendiri juga sudah pingsan!
Ketika sadar
dari pingsannya, yang teringat oleh Joko Wandiro adalah bahwa ia bertanding
mati-matian dengan Dibyo Mamangkoro dan bahwa kerisnya patah tertinggal di
dalam dada lawan yang tubuhnya menindih tubuhnya, sedangkan lehernya tercekik
hampir patah dan pundak kirinya sakit sekali membuat lengan kirinya lumpuh.
Ketika ia sadar, ia merasa betapa pundaknya masih sakit, lengan kirinya masih
tak dapat digerakkan, lehernya juga masih kaku dan nyeri-nyeri, akan tetapi
dadanya tidak tertindih lagi. Masih hidupkah ia? Ataukah sudah mati? la tidak
akan merasa heran kalau mendapatkan dirinya sudah mati. Dibyo Mamangkoro luar
biasa saktinya. Terlalu sakti baginya. Pertandingan tadi hebat dan belum pernah
selama hidupnya ia mengalami pertandingan sebehat itu.
"Dia
bergerak........ !"
"Dia
sadar kembali.......!”
"Dia
hebat sekali, dapat mengalahkan kakek sakti itu."
"Pertandingan
yang mengerikan dan seru bukan main."
"Dia
benar-benar perkasa, patut menjadi junjungan kita."
Suara
percakapan ini merdu dan halus, suara wanita. Kemudian jari-jari tangan yang
halus lunak meraba-rabanya, membelainya. Tercium harum rambut wanita ketika
bibir yang hanyat menyentuh dahinya. Joko Wandiro tersenyum. Ia teringat, ini
tentu Dewi, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari! Lima orang gadis jelita yang hebat.
Ia tidak marah lagi mereka belai dengan mesra. Lima orang gadis ini telah
membuktikan cinta kasih dan kesetiaan mereka. Bahkan mereka telah menyelamatkan
nyawanya pada saat terakhir ketika tadi ia dikempit dari belakang oleh Dibyo
Mamangkoro. Mereka menolongnya dengan taruhan nyawa, karena menolongnya berarti
melawan Dibyo Mamangkoro yang masih kakek paman Dewi sendiri! Ia membuka
matanya. Kiranya Dewi yang menciumnya. Tanpa disadarinya, Joko Wandiro membalas
rangkulannya dan mencium pipi Dewi sambil berbisik,
"Sudahlah,
Dewi, jangan menangis. Aku tidak apa-apa lagi......."
Dewi
mengangkat mukanya, memandang dengan air mata berlinang, lalu tersenyum manis
sekali.
"Kalau
tadi kau yang kalah dan mati, kami sudah siap untuk mengadu nyawa dengan eyang
Dibyo Mamangkoro!"
"Dibyo
Mamangkoro? Ah, di mana dia sekarang......?"
"Dia
sudah tewas, sudah kami kubur di lereng wetan."
Joko Wandiro
menarik napas lega. Kiranya luka-lukanya telah dirawat dengan baik-baik oleh
Dewi dan adik-adiknya, bahkan ketika ia masih pingsan, tulang pundaknya telah
diberi obat penyambung tulang. Untuk menunggu pulihnya tulang pundaknya, ia
harus rebah untuk beberapa hari lamanya. Setiap hari, tak pernah lima orang
gadis itu membiarkan ia seorang diri. Mereka itu secara bergilir menjaganya,
siang malam, dengan penuh perhatian, penuh kesetiaan dan penuh cinta kasih yang
mesra. Kini Joko Wandiro tak pernah menolak sikap mereka yang mencinta. Dia
mulai mengenal keadaan hati lima orang gadis ini. Mereka itu adalah orang-orang
yang haus akan cinta kasih, semenjak kecil tak pernah mengenal cinta kasih maka
sekarang, begitu bertemu dengan dia yang mereka kagumi, mereka menumpahkan
seluruh perasaan itu kepadanya dengan harapan untuk mendapatkan cinta kasih.
Karena ia tahu betapa mereka itu amat setia kepadanya, bahkan ia telah berhutang
budi, ia tidak tega mengecewakan hati mereka. Bahkan seringkali, darah muda di
tubuhnya mendesak dan mendorong agar dia mengambil Apa yang disodorkan
kepadanya, agar dia mempergunakan kesempatan itu untuk menyenangkan diri
sendiri dan menikmatinya. Namun, Joko Wandiro sebagai murid Ki Patih Narotama
selalu menekan dan menentang perasaan ini, selalu teringat bahwa sekali ia
dikalahkan nafsunya sendiri, ia akan meiakukan penyelewengan-penyelewengan
daripada jalan kebenaran. Oleh karena inilah, Joko Wandiro selalu kuat
bertahan. Dia mengimbangi pernyataan kasih sayang Dewi dan adik-adiknya, namun
dalam batas-batas tertentu dan tidak terpeleset ke dalam bujukan iblis nafsu
berahi yang akan menyeretnya melalui batas-batas kesusilaan.
Endang
Patibroto yang mendapat tugas dari sang prabu di Jenggala untuk memimpin
pasukan menyerbu Nusabarung dan menawan Adipati Jagalmanik yang hendak
memberontak, hanya menyuruh para senopati menyiapkan seribu orang perajurit
pilihan. Dia sendiri lalu bergegas melakukan pengejaran setelah menerima
laporan penyelidik bahwa tiga orang sakti lain yang menjadi sekutu Durgogini
dan Nogogini, yang tadinya juga membantu Kerajaan Jenggala, telah melarikan
diri setelah mendengar akan tewasnya Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Mereka bertiga
ini bukan lain adalah Cekel Aksomolo, Ki Krendoyakso dan Ki Gendroyono. Menurut
rencana persekutuan itu semula, setelah Ni Durgogini dan Ni Nogogini berhasil
melemahkan Kerajaan Jenggala dengan menggoda rajanya, maka pada saat yang baik
dan telah ditentukan, Adipati Jagalmanik akan melakukan penyerbuan dengan bala
tentaranya, sedangkan tiga orang kakek sakti ini sebagai pembantu-pembantu
Jenggala akan melakukan gerakan membantu dari dalam. Siapa kira, usaha Ni
Durgogini dan Ni Nogogini yang sudah hampir berhasil itu tiba-tiba hancur dan
gagal, bahkan menewaskan mereka. Hal ini selain mengejutkan, juga menggiriskan
hati tiga orang kakek sakti itu, maka mereka cepat-cepat melarikan diri dengan
maksud menggabungkan diri dengan Adipati Jagalmanik di Nusabarung. Mereka
menunggang tiga ekor kuda yang kuat dan meninggalkan Jenggala di malam hari
yang gelap. Pada keesokan harinya, di waktu pagi, mereka telah keluar dari
wilayah Jenggala dan menjalankan kuda mereka yang sudah lelah itu
perlahan-lahan. Ketika mereka lewat di pinggir sebuah hutan, tiba-tiba tampak
sinar hijau berkelebat dan kuda mereka meringkik keras lalu roboh! Sebagai
orang-orang sakti, tentu saja tiga orang kakek ini tidak ikut roboh, melainkan
dapat cepat melompat turun. Mereka kaget sekali melihat betapa tiga ekor kuda
mereka berkelojotan lalu mati ! Kiranya tiga batang panah tangan menancap di
leher kuda. Marah sekali tiga orang ini. Mereka adalah orang-orang sakti,
tokoh-tokoh besar. Siapa berani begitu kurang ajar menyerang mereka dan membunuh
kuda tunggangan mereka? Serentak mereka mencabut senjata masing-masing.
"Babo-babo,
si keparat pengecut dari mana berani mati menyerang kami?" Cekel Aksomolo
berseru dengan suaranya yang tinggi sambil memutar-mutar tasbehnya yang ampuh.
Juga Ki
Krendoyakso telah memegang penggadanya Wojo Ireng yang besar dan berat. Adapun
Ki Warok Gendroyono sudah mengudar kolor jimatnya Ki Bandot! Tiga orang sakti
ini sudah siap menghajar orang yang berani menewaskan kuda tunggangan mereka.
"Hemm,
tiga orang tua bangka tak tahu malu! Siapakah yang pengecut? Aku atau kalian
yang melarikan diri seperti tiga orang maling kesiangan?"
Suara ini
halus merdu, keluar dari bibir merah Endang Patibroto. Namun amat mengejutkan
tiga orang itu yang cepat-cepat membalikkan tubuh karena gadis ini muncul dari
belakang mereka. Melihat betapa gadis itu hanya seorang diri, bertangan kosong
pula, tiga orang tokoh itu dapat menenangkan hati. Mereka maklum bahwa gadis
ini adalah murid Dibyo Mamangkoro yang sakti, dan gadis ini pula yang telah menewaskan
sekutu mereka, Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Maka di samping rasa kaget melihat
gadis ini, juga timbul kemarahan mereka. Ki Warok Gendroyono yang berdiri
paling dekat, tanpa mengeluarkan kata-kata pula sudah menggerakkan senjata
kolor mautnya ke atas, memutarnya beberapa kali lalu menghantamkannya ke arah
kepala Endang Patibroto.
"Blarrrr.......
! "
Hebat bukan
main sambaran senjata kolor maut ini. Namun dengan gerak tubuh amat ringan
cekatan, Endang Patibroto sudah memutar tubuh mengelak. Gadis ini
tersenyum-senyum mengejek lalu berkata,
"Bagus,
akan terbalaslah sakit hati eyang Resi Bhargowo.......!"
Ucapan ini
mengejutkan mereka bertiga dan serentak mereka menahan gerakan senjata
masing-masing.
"Uuh-huh,
bocah denok yang sombong! Apa kaukatakan tadi? Mengapa engkau memusuhi kami dan
apa hubunganmu dengan Bhargowo?" Cekel Aksomolo yang sudah ompong itu
bertanya.
Endang
Patibroto berdiri tegak, kedua tangan bertolak pinggang.
"Masih
ingatkah kalian belasan tahun yang lalu ketika kalian mengeroyok secara curang
eyang Resi Bhargowo? Ketika itu aku sudah bersumpah akan membalas kalian
berenam. Durgogini dan Nogogini sudah mampus di tanganku, sekarang kalian
bertiga mendapat giliran. Hanya masih kurang seorang lagi. Jokowanengpati, dia
sudah lebih dahulu mampus di tangan ibuku. Sayang sekali! Ketahuilah, aku
adalah cucu eyang Resi Bhargowo yang dahulu kalian keroyok di Pulau
Sempu."
Tiga orang itu
benar-benar terkejut, juga terheran-heran.
"Kalau
begitu, mengapa engkau membantu Jenggala? Eyangmu selalu memusuhi
Jenggala."
"Bukan
urusanmu!" bentak Endang Patibroto dan tiba-tiba tubuh gadis ini sudah
menyambar ke depan, mengirim pukulan Pethit Nogo ke arah leher orang terdekat,
yaitu Ki Krendoyakso.
Tentu saja
kepala rampok Bagelen ini maklum akan dahsyatnya serangan lawan, maka ia
menghindar sambil menyabetkan Wojo Ireng ke arah kepala lawan. Pada saat itu,
sambil berteriak keras Ki Warok Gendroyono juga sudah menerjang maju dengan
kolor mautnya, sedangkan Cekel Aksomolo sudah pula memutar tasbehnya dan menyerbu
ke depan. Endang Patibroto adalah seorang gadis yang memiliki keberanian luar
biasa dan sedikit banyak ia ketularan watak gurunya yang terlalu yakin akan
kepandaian sendiri serta memandang rendah orang lain. Inilah sebabnya mengapa
ia hanya bertangan kosong saja menghadapi tiga orang tokoh besar yang terkenal
sakti ini. Kini ia bagaikan seekor burung pipit yang dijadikan rebutan tiga
ekor kucing besar. Ditubruk sana melejit ke sini, diterkam sini terbang ke
sana. Ia hanya mengandaikan kelincahannya yang memang amat mengagumkan itu
untuk berkelebat menyelamatkan diri. Gerakannya amat cepat, tidak kalah
cepatnya oleh gerakan senjata tiga orang lawannya sehingga tubuhnya lenyap
berubah menjadi bayangan hitam yang berkelebat menyelinap di antara gulungan sinar
senjata tiga orang lawannya. Senjata di tangan Ki Krendoyakso amat mengerikan.
Penggada Wojo Ireng yang amat besar dan berat itu bersiutan menyambar-nyambar
laksana seekor burung garuda mencari korban. Rambut kepala Endang Patibroto
sampai berkibaran setiap kali kena sambar hawa pukulan yang mendahului penggada
raksasa itu. Namun, keganasan penggada Ki Krendoyakso ini masih kalah oleh
ketangkasan kolor maut di tangan Ki Warok Gendroyono. Biarpun kolor itu terbuat
daripada bahan lemas dan ringan, namun jangan dikira kalah ampuh oleh penggada
yang besar dan berat. Kolor ini seolah-olah hidup di tangan Ki Warok
Gendroyono, menyambar-nyambar seperti seekor ular terbang, meledak-ledak di
udara ketika melecut dan mengandung hawa yang amat panas. Kalau Endang masih
berani menyampok penggada dengan telapak tangannya, ia sama sekali tidak berani
sembrono untuk menangkis kolor maut ini. Namun, harus diakui bahwa yang paling
ampuh dan berbahaya adalah tasbeh di tangan Cekel Aksomolo. Kakek ini sudah tua
sekali, kalau berdiri biasa sudah "buyuten" (gemetar), akan tetapi
ternyata ketika bertanding, sepak terjangnya masih hebat menggiriskan hati.
Tasbehnya menyambar-nyambar dan berputar-putar, mengeluarkan suara menggelitik
aneh yang amat menyakitkan telinga lawan, sedangkan hawa pukulan yang keluar
dari gerakan tasbeh ini melingkar-lingkar dan berpusing membingungkan lawan.
Endang
Patibroto memang seorang gadis sakti mandraguna dan sudah mewarisi sebagian
besar ilmu kesaktian Dibyo Mamangkoro. Namun, menghadapi pengeroyokan tiga
orang kakek sakti ini, akhirnya ia terdesak dan kewalahan juga. Ia hanya mampu
mengelak ke sana ke mari mengandalkan kegesitannya, sama sekali tidak mendapat
kesempatan untuk balas menyerang. Ia mulai penasaran dan marah, namun
kemarahannya ini malah melemahkan pertahanannya sehingga ketika ia meloncat ke
atas menghindarkan diri dari serampangan penggada ke arah pinggangnya, kemudian
di atas ia berjungkir balik untuk mengelak sambaran kolor maut sambil
memaki-maki, ia berlaku agak lengah dan pundaknya tercium tasbeh.
"Treekkk........
!"
Tasbeh itu
hanya mencium pundak, tidak mengenai secara jitu. Namun tubuh gadis itu
berputar-putar seperti gasing lalu roboh dan bergulingan di atas tanah.
Pundaknya serasa hancur, kemudian rasa panas yang amat menyakitkan merangsang
dari pundak menyerbu ke dalam dada. Endang Patibroto terkejut bukan main, cepat
ia mengerahkan hawa sakti di dalam tubuhnya, disalurkan ke arah pundak untuk
memulihkan tenaganya. Ia masih dalam keadaan setengah berbaring setengah duduk
ketika kolor maut melecut dari atas dan menghantam ke arah kepalanya dengan
bunyi ledakan dahsyat, disusul dalam detik berikutnya oleh hantaman penggada
Wojo Ireng yang menggebug ke arah dadanya.
No comments:
Post a Comment