Keadaan itu amat berbahaya bagi Endang Patibroto. Betapapun saktinya, kalau sampai kolor maut itu mengenai kepalanya, tentu akan hancur kepalanya. Juga penggada yang berat itu kalau sampai mengenai dadanya, tentu akan remuk tulang iganya. Biarpun pundaknya masih terasa sakit dan kepalanya pening, Endang Patibroto tidak kehilangan kewaspadaan dan kegesitannya. Cepat ia membanting tubuhnya ke atas tanah sehingga kolor maut itu menyambar lewat hanya sejengkal di atas kepalanya. Akan tetapi pada detik itu, penggada Wojo Ireng sudah datang menyambar hendak melumatkan tubuhnya yang denok! Angin sambaran penggada sudah mengibarkan ujung kain dan kemben. Tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar kini dan agaknya tubuh gadis itu akan hancur ditumbuk penggada baja! Pada detik yang amat berbahaya itu, Endang Patibroto yang masih rebah telentang, cepat sekali menggerakkan kedua kakinya ke atas dan pada detik terakhir, kedua telapak kakinya yang halus dan kemerahan itu sudah menangkis penggada, diayunkan ke bawah sedikit lalu dilanjutkan dengan tendangan ke atas sambil mengerahkan tenaganya.
"Hehhhh.......
!!"
Ki Krendoyakso
terkejut bukan main. Tadinya ia sudah menyeringai kegirangan karena sudah
memperhitungkan bahwa kali ini gadis perkasa ini akan remuk oleh senjatanya.
Siapa kira, ketika senjatanya sudah hampir mengenai sasaran, yaitu dada yang
membusung itu, tiba-tiba diterima oleh dua telapak kaki yang terasa lunak.
Tenaga pukulannya seperti tenggelam, kemudian disedot dan selanjutnya malah
terdorong ke atas oleh tendangan gadis itu sehingga hampir saja penggadanya
terlepas dari tangannya kalau saja ia tidak cepat-cepat meloncat mundur sambil
mengeluarkan seruan kaget.
"Trekk-trekkk.......!!"
Tasbeh di
tangan Cekel Aksomolo sudah menyambar lagi ketika kakek ini melihat betapa
kedua orang kawannya tidak becus menghabiskan gadis yang sudah ia robohkan itu.
Akan tetapi tubuh Endang Patibroto sudah melesat bangun sambil mengelak
menjauhi tasbeh yang berbahaya itu. Keringat dingin membasahi dahi dan leher
Endang Patibroto. Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Ia merasa menyesal
mengapa ia memandang rendah tiga lawan ini yang ternyata memiliki kesaktian
yang melebihi kepandaian Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Karena memandang rendah
tadi hampir saja ia mengorbankan nyawanya. Di samping perasaan ini, juga
kemarahannya bangkit. Kini sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi-api,
senyum mulutnya manis sekali dan lesung pipit di kedua pipinya tampak bersama
lekuk-lekuk di dagunya. Inilah tanda bahwa Endang Patibroto sudah memuncak
kemarahannya!
"Tua
bangka-tua bangka jahanam! Sekarang bersiaplah untuk mampus!!" bentaknya
dengan suara tetap halus merdu namun mengandung ancaman yang menyeramkan.
Tiga orang
kakek itu yang merasa menang kuat, tertawa berkakakan melihat sikap dan
mendengar omongan gadis yang mengancam mereka ini.
"Uuuh-huh-huh-huh,
denok montok ayu kuning, galak dan sombongnya bukan kepalang. Uuuhhh-huh,
eman-eman (sayang) kalau mati muda. Yang mau kau buat menang saja apa, cah ayu?
Lebih baik kau takluk dan ikut dengan Cekel Aksomolo, uuh-huh, kutanggung kau
akan senang, kutanggung kau akan menikmati surga dunia, dan tentang memperdalam
ilmu, uuh-huh, kau jadilah muridku, cah manis. Cekel Aksomolo adalah gudang
segala ilmu. Menyerahlah, jangan sampai tubuhmu yang denok itu hancur luluh
terkena senjataku yang ampuh!"
"Ha-ha-ha,
cucu Resi Bhargowo tentu saja sombong dan angkuh! Sudah hampir mampus masih
banyak lagak. Heh, bocah, Apa kau tidak tahu betapa kami tadi sudah banyak
mengalah? Kalau kami kehendaki, tadipun kau sudah mampus!" Ki Warok
Gendroyono juga tertawa mengejek.
"Hua-ha-ha!
Kalau dia bosan hidup, biarlah dia mampus! Akan tetapi jangan lumatkan
dagingnya, jangan habiskan darahnya! Daging dan darah perawan ini tentu banyak
khasiatnya untukku, hua-ha-ha!" Ki Krendoyakso juga mengejek sambil
menggerak-gerakkan penggadanya.
Ejekan tiga
orang kakek itu bagaikan minyak disiramkan pada api yang sudah bergolak.
Kemarahan Endang Patibroto hampir membuat gadis ini menangis. Tiba-tiba
mulutnya mengeluarkan suara melengking tinggi menyeramkan, membuat tiga orang
kakek itu terkejut sekali dan memasang kuda-kuda bersikap waspada. Itulah pekik
dahsyat Sardulo Bairowo yang menggetarkan pohon-pohon di sekeliling tempat itu,
lebih hebat daripada pekik harimau betina yang sedang marah. Kemudian, menyusul
pekik ini, tangan Endang Patibroto menggerayang (meraba) pinggang dan di lain
saat ia sudah menerjang maju dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangan kanan!
Tiga orang kakek ini sama sekali tidak mengenal keris pusaka Brojol Luwuk.
Melihat betapa keris itu hanya sebuah senjata kecil keris lekuk tujuh, mereka
memandang rendah dan menyambut terjangan Endang Patibroto sambil tertawa
mengejek. Akan tetapi mendadak suara ketawa mereka terhenti dan mereka kaget
setengah mati ketika hawa yang panas luar biasa menerjang mereka dan membuat
tubuh mereka gemetar dan setengah lumpuh. Barulah mereka sadar bahwa keris itu
adalah sebuah senjata pusaka yang ampuhnya menggila, akan tetapi kesadaran ini
sudah terlambat karena Endang Patibroto sudah menerjang dengan dahsyat! Ki
Krendoyakso yang paling hebat terpengaruh keampuhan Brojol Luwuk sudah habis
tenaganya, namun ia masih berusaha menangkis dengan penggada Wojo Ireng sambil
berseru,
"Celaka......!"
Ki Warok Gendroyono
berusaha membaca mantera dengan suara menggigil, juga kolor mautnya ia ayun
untuk menangkis keris pusaka yang kelihatannya seperti halilintar menyambar
itu. Adapun Cekel Aksomolo yang paling tinggi ilmunya, sudah memutar-mutar
tasbehnya sehingga terdengar suara nyaring sedangkan ia mengerahkan tenaga
menjejak tanah melompat ke belakang sampai lima meter, menjauhi pusaka yang
panasnya menggila itu.
"Tringggg
syeeetttt....... aauuuggghhh....... !!"
Hebat bukan
main akibatnya. Dalam detik-detik mengerikan itu, penggada Wojo Ireng pecah dan
terlempar jauh dari tangan Ki Krendoyakso, juga kolor maut putus-putus dan
hangus, kemudian disusul robohnya tubuh Ki Krendoyakso yang tinggi besar
seperti raksasa ketika dadanya tersentuh ujung keris pusaka Brojol Luwuk. Ia
terjengkang roboh dan tewas seketika dengan dada hangus seperti disambar petir!
Ki Warok
Gendroyono yang merasa tangannya terbakar ketika kolor mautnya bertemu keris
pusaka, kini mundur-mundur dengan muka pucat. Namun Endang Patibroto tidak memberi
ampun lagi. Gadis ini dengan muka beringas sudah menyerbu lagi ke depan,
didahului keris pusakanya yang mengerikan. Ki Warok Gendroyono bukanlah seorang
penakut, juga ia terkenal sakti mandraguna. Namun selama hidupnya baru kali ini
ia berhadapan dengan pusaka yang sedemikian ampuhnya. Menghadapi gadis ini saja
kalau ia seorang diri, ia takkan menang. Apalagi sekarang gadis itu membawa
sebuah keris pusaka yang luar biasa. Namun ia maklum bahwa jalan keluar tidak
ada iagi, maka ia lalu menggereng seperti harimau dan dengan nekat ia menubruk
maju. Akan tetapi perbuatannya ini sama dengan mengantar nyawa karena sebelum
ia dapat mencengkeram gadis itu, hawa yang keluar dari keris pusaka sudah
membuat tubuhnya seakan-akan lumpuh dan di lain saat iapun mengeluarkan pekik
dahsyat, terjengkang dan ia roboh tewas di dekat mayat Ki Krendoyakso!.
"Cekel
busuk ! Kau hendak lari ke mana...... ??"
Cekel Aksomolo
cukup cerdik. Melihat betapa dua orang kawannya roboh sedemikian mudahnya, ia
maklum bahwa menghadapi gadis dengan pusakanya yang ampuhnya menggila itu,
jalan paling baik adalah lari menyelamatkan diri! Maka ia sudah mengambil
langkah seribu melarikan diri ke selatan. Siapa kira, gadis itu memiliki
gerakan yang jauh lebih gesit dan tangkas daripada kedua kakinya yang sudah tua
dan buyuten, maka dalam belasan kali loncatan saja Endang Patibroto sudah dapat
mengejarnya! Terpaksa kakek ini membalikkan tubuhnya, kedua kakinya menggigil
ketakutan dan wajahnya pucat!
"Huuuh-huh-huh.......
tobat-tobat....... Endang Patibroto, engkau mau apakah awakku yang sudah tua
renta ini? Auhhh, bocah ayu, bocah denok, kau jangan terlalu kejam, ya? Aku
sudah tua, umurku tak berapa lama lagi, tidak diapa-apakan juga akan mati
sendiri! Masa kau tega membunuhku, anak rnanis......! "
Muak rasa
perut Endang Patibroto menyaksikan sikap pengecut Cekel Aksomolo ini. Ia sudah
banyak mendengar tentang sepak terjang cekel tua ini yang amat menjijikkan.
Betapa si tua bangka ini banyak disuguhi wanita-wanita muda yang cantik-cantik,
yang menjadi kegemarannya. Dia bagaikan seekor bandot tua yang makin tua makin
gila, makin suka makan daun-daun muda, bagaikan seekor kumbang tua yang suka
mengisap madu kembang-kembang yang baru mekar. Juga ia banyak mendengar betapa
kakek ini dapat bersikap galak dan kejam tak mengenal ampun. Masih terbayang
olehnya betapa dahulu, di Pulau Sempu, mereka yang mengeroyok eyangnya juga
dipimpin oleh kakek ini.
"Cekel
Aksomolo, tak perlu banyak cerewet lagi. Hadapilah kematianmu seperti seorang
yang berilmu!"
Setelah berkata
demikian, Endang Patibroto siap menerjang. Namun ia didahului oleh Cekel
Aksomolo. Karena merasa bahwa bujuk dan minta ampun akan percuma belaka, kakek
ini sudah mendahului dengan serangan jarak jauh yang hebat. Tasbehnya diputar
dan dihantamkan ke arah Endang Patibroto, disusul tangan kirinya yang
menggunakan gerak dorong disertai hawa sakti sehingga serangkum angin pukulan
yang dahsyat menyambar ke arah Endang Patibroto. Gadis perkasa ini terkejut.
Hebat juga pukulan jarak jauh lawan ini. Iapun cepat mengerahkan tenaga di
tangan kiri dan mendorong ke depan untuk melawan pukulan jarak jauh kakek itu,
kemudian keris pusaka Brojol Luwuk ia gerakkan dari samping yang menimbulkan
serangkaian hawa panas membara "memotong” dari samping. Berkat hawa panas dan
keampuhan keris sakti ini, bobollah tenaga pukulan jarak jauh Cekel Aksomolo
sehingga memungkinkan gadis itu terus menerjang maju.
"Aauuuuh,
kau benar-benar kejam membunuhku..... ?" teriak Cekel Aksomolo, namun
teriakannya ini hanya untuk membuyarkan perhatian lawan karena tasbehnya sudah
berputar cepat membentuk lingkaran-lingkaran berbahaya yang mengirim
serangan-serangan maut secara bertubi-tubi ke arah tubuh Endang Patibroto.
Gadis ini setelah tadi mengalami kekalahan pahit karena kurang waspada, kini
tidak berani memandang rendah lagi dan cepat-cepat keris pusakanya digerakkan
menangkis. Begitu keris itu bergerak, serangkum hawa panas menyambar dan tasbeh
itu terpental sebelum bertemu dengan keris. Cekel Aksomolo terkejut bukan main.
Tasbehnya adalah senjata yang ampuh, merupakan barang pusaka yang dua kali
sepekan ia beri sesajen. Akan tetapi kini berhadapan dengan pusaka di tangan
gadis itu, tasbehnya menjadi melempem seperti kerupuk bertemu air, lenyap
wibawa dan dayanya. Mendadak kakek tua renta itu membunyikan tasbehnya dengan
nyaring sekali. Betapapun perkasanya, Endang Patibroto merasa telinganya sakit
dan cepat ia mengerahkan hawa murni di tubuhnya. Hal ini membuat kakek itu
mendapat kesempatan untuk meloncat ke belakang dan ketika Endang menerjang
maju, tangan kiri kakek itu bergerak dan meluncurlah belasan sinar hitam yang
menyambar ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Endang Patibroto. Itulah
senjata rahasia ganitri (biji tasbeh) yang amat hebat dan berbahaya!
"Haaaiiittt.........
!!"
Endang
Patibroto berseru keras sambii cepat-cepat memutar senjata kerisnya di depan
tubuhnya. Ia maklum betapa hebat dan berbahayanya sinar-sinar hitam itu, maka
ia mengandalkan keampuhan pusakanya. Benar saja, hawa panas pusakanya yang
diputar di depan tubuh merupakan benteng yang amat kuat sehingga semua ganitri
runtuh di atas tanah sebelum menyentuh kerisnya. Dengan marah Endang Patibroto
mengeluarkan panah tangan dan sekaligus ia melepas tujuh batang panah tangan
yang diluncurkan menjadi tiga rombongan mengarah tubuh bawah, tengah dan atas!
"Uuhhhh........
!"
Cekel Aksomolo
kaget sekali. Ia melihat betapa tiga rombongan panah tangan itu meluncur cepat
dan kiranya akan sukar kalau ia mengelak serombongan demi serombongan, Apa pula
menangkis, maka ia lalu berteriak keras dan tubuhnya mencelat inggi ke udara
sehingga tiga rombongan panah itu meluncur cepat jauh di bawah kakinya. Akan
tetapi, Endang Patibroto yang sudah menduga bahwa lawannya tentu akan
menghindarkan serangan panahnya itu dengan meloncat tinggi ke atas, segera
memekik nyaring dan tubuhnya juga mencelat tinggi ke depan, menerjang tubuh
kakek yang masih melayang itu. Betapa kagetnya Cekel Aksomolo ketika melihat
sinar abu-abu yang mengerikan meluncur ke arah dadanya. Cepat ia menggerakkan
tasbehnya dengan nekat menangkis keris pusaka Brojol Luwuk.
"Cringgg.......
bretttt........ !!"
Tasbeh itu
putus dan biji tasbehnya runtuh semua ke atas tanah. Kakek itu menjerit, akan
tetapi jeritnya terhenti di tengah-tengah ketika ujung keris pusaka Brojol Luwuk
sudah mencium ulu hatinya dan sekaligus menyedot darah serta menghanguskan
dadanya. Cekel Aksomolo telah tewas sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah!
Dengan hati puas dan sikap tenang Endang Patibroto memandang mayat tiga orang
bekas lawan itu sambil menyimpan keris pusaka Brojol Luwuk setelah mencium
gagang keris dan menempelkan mata keris di atas kepalanya.
No comments:
Post a Comment