Badai Laut Selatan ; Bagian 143


Keadaan itu amat berbahaya bagi Endang Patibroto. Betapapun saktinya, kalau sampai kolor maut itu mengenai kepalanya, tentu akan hancur kepalanya. Juga penggada yang berat itu kalau sampai mengenai dadanya, tentu akan remuk tulang iganya. Biarpun pundaknya masih terasa sakit dan kepalanya pening, Endang Patibroto tidak kehilangan kewaspadaan dan kegesitannya. Cepat ia membanting tubuhnya ke atas tanah sehingga kolor maut itu menyambar lewat hanya sejengkal di atas kepalanya. Akan tetapi pada detik itu, penggada Wojo Ireng sudah datang menyambar hendak melumatkan tubuhnya yang denok! Angin sambaran penggada sudah mengibarkan ujung kain dan kemben. Tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar kini dan agaknya tubuh gadis itu akan hancur ditumbuk penggada baja! Pada detik yang amat berbahaya itu, Endang Patibroto yang masih rebah telentang, cepat sekali menggerakkan kedua kakinya ke atas dan pada detik terakhir, kedua telapak kakinya yang halus dan kemerahan itu sudah menangkis penggada, diayunkan ke bawah sedikit lalu dilanjutkan dengan tendangan ke atas sambil mengerahkan tenaganya.
"Hehhhh....... !!"

Ki Krendoyakso terkejut bukan main. Tadinya ia sudah menyeringai kegirangan karena sudah memperhitungkan bahwa kali ini gadis perkasa ini akan remuk oleh senjatanya. Siapa kira, ketika senjatanya sudah hampir mengenai sasaran, yaitu dada yang membusung itu, tiba-tiba diterima oleh dua telapak kaki yang terasa lunak. Tenaga pukulannya seperti tenggelam, kemudian disedot dan selanjutnya malah terdorong ke atas oleh tendangan gadis itu sehingga hampir saja penggadanya terlepas dari tangannya kalau saja ia tidak cepat-cepat meloncat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget.
"Trekk-trekkk.......!!"
Tasbeh di tangan Cekel Aksomolo sudah menyambar lagi ketika kakek ini melihat betapa kedua orang kawannya tidak becus menghabiskan gadis yang sudah ia robohkan itu. Akan tetapi tubuh Endang Patibroto sudah melesat bangun sambil mengelak menjauhi tasbeh yang berbahaya itu. Keringat dingin membasahi dahi dan leher Endang Patibroto. Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Ia merasa menyesal mengapa ia memandang rendah tiga lawan ini yang ternyata memiliki kesaktian yang melebihi kepandaian Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Karena memandang rendah tadi hampir saja ia mengorbankan nyawanya. Di samping perasaan ini, juga kemarahannya bangkit. Kini sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi-api, senyum mulutnya manis sekali dan lesung pipit di kedua pipinya tampak bersama lekuk-lekuk di dagunya. Inilah tanda bahwa Endang Patibroto sudah memuncak kemarahannya!
"Tua bangka-tua bangka jahanam! Sekarang bersiaplah untuk mampus!!" bentaknya dengan suara tetap halus merdu namun mengandung ancaman yang menyeramkan.
Tiga orang kakek itu yang merasa menang kuat, tertawa berkakakan melihat sikap dan mendengar omongan gadis yang mengancam mereka ini.
"Uuuh-huh-huh-huh, denok montok ayu kuning, galak dan sombongnya bukan kepalang. Uuuhhh-huh, eman-eman (sayang) kalau mati muda. Yang mau kau buat menang saja apa, cah ayu? Lebih baik kau takluk dan ikut dengan Cekel Aksomolo, uuh-huh, kutanggung kau akan senang, kutanggung kau akan menikmati surga dunia, dan tentang memperdalam ilmu, uuh-huh, kau jadilah muridku, cah manis. Cekel Aksomolo adalah gudang segala ilmu. Menyerahlah, jangan sampai tubuhmu yang denok itu hancur luluh terkena senjataku yang ampuh!"
"Ha-ha-ha, cucu Resi Bhargowo tentu saja sombong dan angkuh! Sudah hampir mampus masih banyak lagak. Heh, bocah, Apa kau tidak tahu betapa kami tadi sudah banyak mengalah? Kalau kami kehendaki, tadipun kau sudah mampus!" Ki Warok Gendroyono juga tertawa mengejek.
"Hua-ha-ha! Kalau dia bosan hidup, biarlah dia mampus! Akan tetapi jangan lumatkan dagingnya, jangan habiskan darahnya! Daging dan darah perawan ini tentu banyak khasiatnya untukku, hua-ha-ha!" Ki Krendoyakso juga mengejek sambil menggerak-gerakkan penggadanya.

Ejekan tiga orang kakek itu bagaikan minyak disiramkan pada api yang sudah bergolak. Kemarahan Endang Patibroto hampir membuat gadis ini menangis. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara melengking tinggi menyeramkan, membuat tiga orang kakek itu terkejut sekali dan memasang kuda-kuda bersikap waspada. Itulah pekik dahsyat Sardulo Bairowo yang menggetarkan pohon-pohon di sekeliling tempat itu, lebih hebat daripada pekik harimau betina yang sedang marah. Kemudian, menyusul pekik ini, tangan Endang Patibroto menggerayang (meraba) pinggang dan di lain saat ia sudah menerjang maju dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangan kanan! Tiga orang kakek ini sama sekali tidak mengenal keris pusaka Brojol Luwuk. Melihat betapa keris itu hanya sebuah senjata kecil keris lekuk tujuh, mereka memandang rendah dan menyambut terjangan Endang Patibroto sambil tertawa mengejek. Akan tetapi mendadak suara ketawa mereka terhenti dan mereka kaget setengah mati ketika hawa yang panas luar biasa menerjang mereka dan membuat tubuh mereka gemetar dan setengah lumpuh. Barulah mereka sadar bahwa keris itu adalah sebuah senjata pusaka yang ampuhnya menggila, akan tetapi kesadaran ini sudah terlambat karena Endang Patibroto sudah menerjang dengan dahsyat! Ki Krendoyakso yang paling hebat terpengaruh keampuhan Brojol Luwuk sudah habis tenaganya, namun ia masih berusaha menangkis dengan penggada Wojo Ireng sambil berseru,
"Celaka......!"
Ki Warok Gendroyono berusaha membaca mantera dengan suara menggigil, juga kolor mautnya ia ayun untuk menangkis keris pusaka yang kelihatannya seperti halilintar menyambar itu. Adapun Cekel Aksomolo yang paling tinggi ilmunya, sudah memutar-mutar tasbehnya sehingga terdengar suara nyaring sedangkan ia mengerahkan tenaga menjejak tanah melompat ke belakang sampai lima meter, menjauhi pusaka yang panasnya menggila itu.
"Tringggg syeeetttt....... aauuuggghhh....... !!"
Hebat bukan main akibatnya. Dalam detik-detik mengerikan itu, penggada Wojo Ireng pecah dan terlempar jauh dari tangan Ki Krendoyakso, juga kolor maut putus-putus dan hangus, kemudian disusul robohnya tubuh Ki Krendoyakso yang tinggi besar seperti raksasa ketika dadanya tersentuh ujung keris pusaka Brojol Luwuk. Ia terjengkang roboh dan tewas seketika dengan dada hangus seperti disambar petir!

Ki Warok Gendroyono yang merasa tangannya terbakar ketika kolor mautnya bertemu keris pusaka, kini mundur-mundur dengan muka pucat. Namun Endang Patibroto tidak memberi ampun lagi. Gadis ini dengan muka beringas sudah menyerbu lagi ke depan, didahului keris pusakanya yang mengerikan. Ki Warok Gendroyono bukanlah seorang penakut, juga ia terkenal sakti mandraguna. Namun selama hidupnya baru kali ini ia berhadapan dengan pusaka yang sedemikian ampuhnya. Menghadapi gadis ini saja kalau ia seorang diri, ia takkan menang. Apalagi sekarang gadis itu membawa sebuah keris pusaka yang luar biasa. Namun ia maklum bahwa jalan keluar tidak ada iagi, maka ia lalu menggereng seperti harimau dan dengan nekat ia menubruk maju. Akan tetapi perbuatannya ini sama dengan mengantar nyawa karena sebelum ia dapat mencengkeram gadis itu, hawa yang keluar dari keris pusaka sudah membuat tubuhnya seakan-akan lumpuh dan di lain saat iapun mengeluarkan pekik dahsyat, terjengkang dan ia roboh tewas di dekat mayat Ki Krendoyakso!.
"Cekel busuk ! Kau hendak lari ke mana...... ??"
Cekel Aksomolo cukup cerdik. Melihat betapa dua orang kawannya roboh sedemikian mudahnya, ia maklum bahwa menghadapi gadis dengan pusakanya yang ampuhnya menggila itu, jalan paling baik adalah lari menyelamatkan diri! Maka ia sudah mengambil langkah seribu melarikan diri ke selatan. Siapa kira, gadis itu memiliki gerakan yang jauh lebih gesit dan tangkas daripada kedua kakinya yang sudah tua dan buyuten, maka dalam belasan kali loncatan saja Endang Patibroto sudah dapat mengejarnya! Terpaksa kakek ini membalikkan tubuhnya, kedua kakinya menggigil ketakutan dan wajahnya pucat!
"Huuuh-huh-huh....... tobat-tobat....... Endang Patibroto, engkau mau apakah awakku yang sudah tua renta ini? Auhhh, bocah ayu, bocah denok, kau jangan terlalu kejam, ya? Aku sudah tua, umurku tak berapa lama lagi, tidak diapa-apakan juga akan mati sendiri! Masa kau tega membunuhku, anak rnanis......! "
Muak rasa perut Endang Patibroto menyaksikan sikap pengecut Cekel Aksomolo ini. Ia sudah banyak mendengar tentang sepak terjang cekel tua ini yang amat menjijikkan. Betapa si tua bangka ini banyak disuguhi wanita-wanita muda yang cantik-cantik, yang menjadi kegemarannya. Dia bagaikan seekor bandot tua yang makin tua makin gila, makin suka makan daun-daun muda, bagaikan seekor kumbang tua yang suka mengisap madu kembang-kembang yang baru mekar. Juga ia banyak mendengar betapa kakek ini dapat bersikap galak dan kejam tak mengenal ampun. Masih terbayang olehnya betapa dahulu, di Pulau Sempu, mereka yang mengeroyok eyangnya juga dipimpin oleh kakek ini.
"Cekel Aksomolo, tak perlu banyak cerewet lagi. Hadapilah kematianmu seperti seorang yang berilmu!"

Setelah berkata demikian, Endang Patibroto siap menerjang. Namun ia didahului oleh Cekel Aksomolo. Karena merasa bahwa bujuk dan minta ampun akan percuma belaka, kakek ini sudah mendahului dengan serangan jarak jauh yang hebat. Tasbehnya diputar dan dihantamkan ke arah Endang Patibroto, disusul tangan kirinya yang menggunakan gerak dorong disertai hawa sakti sehingga serangkum angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Endang Patibroto. Gadis perkasa ini terkejut. Hebat juga pukulan jarak jauh lawan ini. Iapun cepat mengerahkan tenaga di tangan kiri dan mendorong ke depan untuk melawan pukulan jarak jauh kakek itu, kemudian keris pusaka Brojol Luwuk ia gerakkan dari samping yang menimbulkan serangkaian hawa panas membara "memotong” dari samping. Berkat hawa panas dan keampuhan keris sakti ini, bobollah tenaga pukulan jarak jauh Cekel Aksomolo sehingga memungkinkan gadis itu terus menerjang maju.
"Aauuuuh, kau benar-benar kejam membunuhku..... ?" teriak Cekel Aksomolo, namun teriakannya ini hanya untuk membuyarkan perhatian lawan karena tasbehnya sudah berputar cepat membentuk lingkaran-lingkaran berbahaya yang mengirim serangan-serangan maut secara bertubi-tubi ke arah tubuh Endang Patibroto. Gadis ini setelah tadi mengalami kekalahan pahit karena kurang waspada, kini tidak berani memandang rendah lagi dan cepat-cepat keris pusakanya digerakkan menangkis. Begitu keris itu bergerak, serangkum hawa panas menyambar dan tasbeh itu terpental sebelum bertemu dengan keris. Cekel Aksomolo terkejut bukan main. Tasbehnya adalah senjata yang ampuh, merupakan barang pusaka yang dua kali sepekan ia beri sesajen. Akan tetapi kini berhadapan dengan pusaka di tangan gadis itu, tasbehnya menjadi melempem seperti kerupuk bertemu air, lenyap wibawa dan dayanya. Mendadak kakek tua renta itu membunyikan tasbehnya dengan nyaring sekali. Betapapun perkasanya, Endang Patibroto merasa telinganya sakit dan cepat ia mengerahkan hawa murni di tubuhnya. Hal ini membuat kakek itu mendapat kesempatan untuk meloncat ke belakang dan ketika Endang menerjang maju, tangan kiri kakek itu bergerak dan meluncurlah belasan sinar hitam yang menyambar ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Endang Patibroto. Itulah senjata rahasia ganitri (biji tasbeh) yang amat hebat dan berbahaya!
"Haaaiiittt......... !!"

Endang Patibroto berseru keras sambii cepat-cepat memutar senjata kerisnya di depan tubuhnya. Ia maklum betapa hebat dan berbahayanya sinar-sinar hitam itu, maka ia mengandalkan keampuhan pusakanya. Benar saja, hawa panas pusakanya yang diputar di depan tubuh merupakan benteng yang amat kuat sehingga semua ganitri runtuh di atas tanah sebelum menyentuh kerisnya. Dengan marah Endang Patibroto mengeluarkan panah tangan dan sekaligus ia melepas tujuh batang panah tangan yang diluncurkan menjadi tiga rombongan mengarah tubuh bawah, tengah dan atas!
"Uuhhhh........ !"
Cekel Aksomolo kaget sekali. Ia melihat betapa tiga rombongan panah tangan itu meluncur cepat dan kiranya akan sukar kalau ia mengelak serombongan demi serombongan, Apa pula menangkis, maka ia lalu berteriak keras dan tubuhnya mencelat inggi ke udara sehingga tiga rombongan panah itu meluncur cepat jauh di bawah kakinya. Akan tetapi, Endang Patibroto yang sudah menduga bahwa lawannya tentu akan menghindarkan serangan panahnya itu dengan meloncat tinggi ke atas, segera memekik nyaring dan tubuhnya juga mencelat tinggi ke depan, menerjang tubuh kakek yang masih melayang itu. Betapa kagetnya Cekel Aksomolo ketika melihat sinar abu-abu yang mengerikan meluncur ke arah dadanya. Cepat ia menggerakkan tasbehnya dengan nekat menangkis keris pusaka Brojol Luwuk.
"Cringgg....... bretttt........ !!"
Tasbeh itu putus dan biji tasbehnya runtuh semua ke atas tanah. Kakek itu menjerit, akan tetapi jeritnya terhenti di tengah-tengah ketika ujung keris pusaka Brojol Luwuk sudah mencium ulu hatinya dan sekaligus menyedot darah serta menghanguskan dadanya. Cekel Aksomolo telah tewas sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah! Dengan hati puas dan sikap tenang Endang Patibroto memandang mayat tiga orang bekas lawan itu sambil menyimpan keris pusaka Brojol Luwuk setelah mencium gagang keris dan menempelkan mata keris di atas kepalanya.

<<< Bagian 142                                                                                     Bagian 144 >>>

No comments:

Post a Comment