Pada saa itu terdengar sorak-sorai dan kiranya barisan dari Jenggala sudah tiba di situ. Sorak-sorai makin menggegap gempita ketika para pasukan Jenggala melihat betapa tiga orang sakti yang dari kawan menjadi lawan itu telah menggeletak mati di pinggir jalan, tewas di tangan senopati mereka, puteri Endang Patibroto yang sakti mandraguna. Makin besar hati mereka dengan adanya bukti kesaktian pemimpin mereka. Endang Patibroto lalu meloncat naik ke atas kuda, kemudian ia memimpin pasukan Jenggala menuju ke selatan, ke Nusabarung.
Pulau
Nusabarung terletak di sebelah timur, di Laut Selatan. Endang Patibroto sengaja
mengambil jalan ke selatan karena ia teringat akan Pulau Sempu dan ada
keinginan di hatinya untuk singgah di pulau itu. Ia ingin melihat pulau bekas
tempat tinggal eyangnya, Resi Bhargowo di mana ia bersama Joko Wandiro
digembleng selama hampir dua tahun. Juga diam-diam ia mengharapkan akan dapat
menemukan patung kencana yang disimpan di pulau itu oleh Joko Wandiro! Dari
pantai selatan di mana tampak Pulau Sempu yang tak berapa jauh dari pantai, ia
akan memimpin pasukan ke timur sampai di Nusabarung. Karena pasukan yang banyak
itu tak dapat melakukan perjalanan cepat, maka Endang Patibroto menyerahkan
pimpinan pasukan kepada perwira-perwira pembantunya. Ia memberi perintah agar
pasukan terus ke selatan sampai di pantai laut, di mana ia akan menanti pasukan
di pantai, tepat berhadapan dengan Pulau Sempu. Kemudian ia membalapkan kudanya
mendahului ke selatan. Maksud hatinya, ia hendak singgah sebentar di Sempu dan
pada waktu pasukan tiba di pantai, tentu ia sudah kembali dari pulau itu. Ia
akan menyeberang ke Sempu seperti yang dilakukan oleh gurunya dahulu, yaitu
dengan bantuan mancung kelapa! Ketika ia tiba di pegunungan selatan, sudah tak
jauh lagi dari pantai selatan dan melalui sebuah hutan kecil, dari jauh ia
melihat seorang wanita berjalan seorang diri. Ia menjadi heran karena di
pegunungan seperti itu mengapa seorang gadis berkeliaran seorang diri? Dan dari
jauhpun sudah tampak bahwa gadis itu bukan seorang gadis dusun atau gunung.
Pakaiannya indah, dan dari jauh sudah dapat terlihat bahwa gadis itu seorang
yang cantik. Ia menjadi tertarik dan mengeprak kudanya menghampiri. Setelah
dekat, gadis itu membalikkan tubuh menghadap kepadanya dan dua-duanya
tercengang ketika saling mengenal. Gadis itu bukan lain adalah Ayu Candra!
Endang
Patibroto mengenal gadis cantik jelita ini. Inilah gadis yang dahulu ia serang
dengan panah tangan di Telaga Sarangan. Inilah gadis yang runtang-runtung
dengan Joko Wandiro. Inilah gadis kekasih Joko Wandiro. Ia terbayang ketika
Joko Wandiro memeluknya di hutan itu, membelai dan menciumi rambutnya dari
belakang. Dia disangka kekasihnya. Tentu disangka gadis inilah! Endang
Patibroto sebetulnya tidak mengenal Ayu Candra, tidak pula ada hubungan sesuatu
antara dia dan Ayu Candra. Akan tetapi, entah bagaimana, kenyataan bahwa gadis
itu kekasih Joko Wandiro, menimbulkan benci di dalam hatinya. Ia tersenyum
mengejek dan memandang dengan sinar mata tajam. Di lain pihak, Ayu Candra
menahan kebencian hatinya yang meluap-luap ketika ia melihat bahwa yang datang
berkuda adalah Endang Patibroto. Inilah wanita yang telah membunuh ibunya!
Ketika Joko Wandiro muncul dan bertanding dengan Ki Jatoko, Ayu Candra telah
menyembunyikan diri. Kemudian ia lari dan di dalam hutan secara kebetulan
sekali ia menyaksikan pertempuran antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto,
melihat betapa Joko Wandiro kakak kandungnya itu memeluk Endang Patibroto yang
disangka dirinya. Kemudian mendengar percakapan mereka. Betapa hancur hatinya
ketika Joko Wandiro secara terang-terangan menyatakan kepada Endang Patibroto
bahwa biarpun pemuda yang menjadi kakaknya itu tahu bahwa puteri perkasa ini
yang membunuh ibu kandung mereka, kakaknya itu tidak akan membalas dendam! Jadi
gadis inilah yang membunuh ayah bundanya. Gadis ini yang pernah melukainya pula
dengan panah tangan! Karena hatinya kecewa melihat kakak kandungnya, ia tidak
kuat mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut sehingga tidak sempat
menyaksikan pertandingan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto, tidak tahu
pula bahwa Joko Wandiro hampir tewas dalam pertandingan itu oleh kecurangan Ki
Jatoko. Ia sudah mendengar cukup jelas. Ia tahu bahwa ia tidak akan dapat
melawan Endang Patibroto, maka ia mengambil keputusan untuk mencari ke Pulau
Sempu, untuk membalas dan membunuh ibu gadis itu yang menurut percakapan itu
telah pindah dan bersembunyi ke Sempu. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika
ia melihat munculnya Endang Patibroto yang ia sangka tentu mengejar dan kini
menyusulnya. Biarpun ia tahu bahwa ia tidak menang menghadapi Endang Patibroto,
namun Ayu Candra sudah bulat tekatnya untuk membalas dendam atas kematian ayah
bundanya. Ia telah melakukan perjalanan yang penuh kesukaran dan amat lambat.
Ia tidak berani melakukan perjalanan di siang hari, takut kalau-kalau tersusul
oleh Ki Jatoko atau Endang Patibroto atau Joko Wandiro yang mengejarnya. Di
waktu siang ia bersembunyi, di waktu malam saja ia melanjutkan perjalanan ke
Sempu. Setelah dekat dengan pantai selatan, barulah beberapa hari ini ia
melakukan perjalanan di siang hari. Siapa kira, di sini ia tersusul musuh.
"Perempuan
keji!" Tiba-tiba Ayu Candra mendamprat, ia tidak tahan melihat senyum
mengejek dan menghina itu.
"Turunlah
dari kudamu dan mari kita bertanding mengadu nyawa. Aku untuk membalas kematian
ayah bundaku di tanganmu, dan engkau untuk memperbesar dosa-dosamu sebagai
seorang iblis betina!"
Endang
Patibroto hanya mengenal Ayu Candra sebagai kekasih Joko Wandiro, ia malah
tidak tahu siapa nama gadis ini dan dari mana. Maka tentu saja ia menjadi
terheran-heran mendengar ucapan itu. Dengan gerakan ringan ia melompat turun
dari atas kudanya, lalu membiarkan kudanya makan rumput. Ia sendiri menghampiri
Ayu Candra yang sudah menghunus keris, lalu bertanya, lebih heran dan ingin
tahu daripada marah,
"Eh, eh,
kau ini bocah lancang mulut! Dahulu engkau kupanah karena lancang mulut,
sekarang mungkin akan kubunuh karena lancang mulut pula. Siapakah engkau ini
dan mengapa kau bilang hendak membalas kematian ayah bundamu di tanganku? Siapa
mereka?"
"Perempuan
iblis! Dengarlah baik- baik. Namaku Ayu Candra dan ayahku adalah Ki Adibroto,
ibuku Listyokumolo. Karena mereka itu sudah kaubunuh, sekarang aku minta ganti
jiwamu atau kau bunuh sekalian aku!" Setelah berkata demikian, Ayu Candra
sudah menerjang maju dengan tusukan kerisnya.
Endang
Patibroto hanya miringkan tubuh mengelak lalu menangkis lengan Ayu Candra.
Perlahan gerakan ini namun cukup membuat Ayu Candra terhuyung ke depan. Endang
Patibroto menjadi terheran-heran kemudian mendongkol sekali. Jadi gadis inikah
yang disebut-sebut oleh Ki Jatoko? Gadis inikah yang oleh Ki Jatoko dikatakan
adik kandung juga kekasih Joko Wandiro? Tak salah lagi. Gadis ini mengaku
sebagai puteri Listyokumolo, sedangkan Joko Wandiro juga putera listyokumolo.
Mereka ini seibu lain ayah, akan tetapi saling mencinta!
"Aha,
jadi engkaukah yang bernama Ayu Candra? Hendak membalas kematian ayah bundamu?
Hemm, boleh sekali. Majulah!"
Ayu Candra sudah
menerjang lagi, mengerahkan seluruh tenaganya menusukkan kerisnya ke arah perut
Endang Patibroto. Tentu saja ilmu kepandaian Ayu Candra bukan apa-apa bagi
Endang Patibroto. Tanpa mengelak, ia menggunakan tangan kirinya menangkap
pergelangan tangan lawan yang memegang keris dan sekali tangan kanannya
menyambar dengan dua buah jarinya mengetuk leher, Ayu Candra mengeluh perlahan
dan roboh terguling, pingsan!
Ketika sadar
dari pingsannya, Ayu Candra mendapatkan dirinya diseret-seret di atas tanah.
Untung ia tidak lama pingsan sehingga kulit punggungnya tidak terluka parah,
hanya lecet sedikit. Cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi
punggungnya yang tersangkut-sangkut tanah kasar dan rumput serta duri. Kedua
tangannya ternyata terbelenggu pada pergelangannya. Kemudian ia meloncat bangun
dan terpaksa melangkah ke depan.
Endang
Patibroto memegangi ujung tali yang mengikat kedua tangan Ayu Candra. Ia
menunggang kudanya yang dijalankan perlahan. Dari gerakan pada tali yang
dipegangnya ia maklum bahwa orang yang menjadi tawanannya itu telah siuman,
akan tetapi Endang Patibroto diam saja, pura-pura tidak tahu.
"Endang
Patibroto perempuan keji! Kalau kau seorang wanita gagah dan bukan pengecut
rendah, hayo kaulepaskan aku dan mari kita bertanding sampai seorang di antara
kita menggeletak tak bernyawa lagi!"
Akan tetapi
Ending Patibroto tidak menjawab, menengokpun tidak, hanya mempercepat jalannya
kuda sehingga terpaksa Ayu Candra berlari-lari kecil mengikuti kuda karena
kalau tidak demikian ia tentu akan jatuh dan diseret-seret seperti tadi! Ayu
Candra memaki-maki dan menantang-nantang namun sia-sia belaka. Endang Patibroto
tidak menjawabnya.
"Iblis
betina, kalau begitu kaubunuh saja aku! Perlu apa kautawan aku? Hayo, bunuhlah
aku. Ayu Candra tidak takut mati!" teriak Ayu Candra yang sudah tak kuat
menahan kemarahannya lagi sehingga suaranya mengandung isak.
Kini Endang
Patibroto menoleh, tersenyum mengejek.
"Membunuhmu?
Hah, mudah sekali kalau aku mau membunuhmu. Akan tetapi tidak begitu enak saja,
Ayu Candra! Engkau tidak akan kubunuh, melainkan akan kujadikan mangsa orang
buntung yang menjijikkan itu!"
Ayu Candra
tercengang. Orang buntung? Bukankah Ki Jatoko yang dimaksudkan wanita iblis
itu? Agaknya Endang Patibroto juga dapat menduga apa yang dipikirkan Ayu
Candra. Ia menahan kudanya dan berkata, suaranya nyaring penuh ejekan,
"Benar
dugaan pikiranmu, Ayu Candra. Orang yang kau anggap manusia baik-baik, Ki
Jatoko itu, hi-hi-hik dia tergila-gila kepadamu dan ingin menjadikan engkau
isterinya! Ah, aku seribu kali lebih suka melihat engkau menjadi isteri si
buntung yang mukanya seperti serigala itu daripada melihat kau mati!"
Setelah
berkata demikian, kembali Endang Patibroto menjalankan kudanya agak cepat. Ayu
Candra terguling roboh dan terseret sampai beberapa meter, akan tetapi ia
segera meloncat dengan sigapnya dan kembali ia harus berlarian untuk mencegah
jangan sampai terseret-seret. Tadi ia terlongong sehingga terseret jatuh. Ia
terlalu heran. Ki Jatoko menghendaki aku menjadi isterinya? Ia masih amat heran
dan merasa ngeri juga. Akan tetapi berbareng timbul harapannya. Ia masih belum
percaya penuh bahwa Ki Jatoko mempunyai niat seperti itu. Siapa tahu kalau
orang buntung itu akan menolongnya apabila melihat dia menjadi tawanan Endang
Patibroto. Namun, betapapun juga, hatinya merasa tidak enak karena ia teringat
akan sikap si buntung itu yang terlalu manis kepadanya, bahkan kini terngiang
di telinganya ucapan Ki Jatoko pada waktu mereka berada di bukit Anjasmoro.
Ucapan yang dikeluarkan dengan suara menggetar penuh perasaan,
”...sisa
hidupku ini kuperuntukkan dirimu seorang. Asal kelak engkau dapat mengasihi
seorang buntung seperti aku, ahhh....... rela aku berkorban apa saja untukmu,
manis."
Teringat ini
semua bulu tengkuk Ayu Candra meremang. Jangan-jangan benar ancaman Endang
Patibroto itu! Jangan-jangan si buntung tua bangka itu benar-benar mengandung
niat keji terhadap dirinya! Mulailah Ayu Candra menyesal. Bayangan Joko Wandiro
memenuhi pandang matanya dan beberapa titik air mata menimpa kedua pipinya.
Mengapa ia meninggalkan Joko Wandiro? Mengapa ia tidak menggantungkan nasib
dirinya dalam perlindungan kakak kandung, bekas kekasihnya itu? Mengapa ia
terlalu percaya kepada Ki Jatoko? Kalau saja ia bersama Joko Wandiro, tiada
seorangpun akan berani mengganggunya. Sambil berlari-lari cepat mengikuti
larinya kuda, Ayu Candra menangis penuh sesal di hatinya. Ia tidak takut mati,
namun ia merasa ngeri mendengar ancaman tadi, ngeri dan takut. Sebagai puteri
Ki Adibroto yang menggemblengnya sejak kecil dengan watak satria dan pendekar,
ia sanggup menghadapi maut dengan mata terbuka. Akan tetapi sebagai seorang
wanita, ia merasa ngeri sekali menghadapi ancaman yang lebih hebat daripada
maut itu. Diperisteri si buntung yang buruk rupa Ki Jatoko! Dan dalam keadaan
bagaimanapun juga, ia maklum bahwa ia bukan lawan Endang Patibroto maupun Ki
Jatoko sehingga melawanpun akan sia-sia. Lebih baik ia bunuh diri! Akan tetapi,
bahkan bunuh diripun takkan mungkin kalau ia berada di dekat dua orang yang
sakti ini!
Di kaki Gunung
Bromo sebelah timur, dalam sebuah hutan yang amat angker di mana terdapat
sumber mata air Sungai Bondoyudo, di situlah tempat pertapaan Bhagawan
Kundilomuko, yang sekaligus menjadi pusat atau markas para pengikutnya yang
jumlahnya mendekati seratus orang! Di dalam hutan itu dibangun pondok-pondok
bambu yang banyak jumlahnya, mengelilingi sebuah bangunan kayu yang besar dan
megah, yang berdiri di dekat mata air Sungai Bondoyudo di mana tumbuh sebatang
pohon waringin yang besar sekali. Bangunan kayu inilah tempat sang bhagawan
bertapa dan bersenang-senang, dan di situ pula terdapat sebuah ruangan yang
luas sekali, tempat para pengikutnya berkumpul dan tempat diadakannya
upacara-upacara keagamaan. Hutan ini disebut hutan Durgaloka. Selain hutan
Durgaloka yang menjadi pusat, sang bhagawan mempunyai pula sebuah tempat
bertapa di mana ia sering kali pergi mengasingkan diri, hanya diikuti beberapa
orang muridnya tersayang, yaitu di hutan Gumukmas yang berada di tepi pantai
Laut Selatan.
No comments:
Post a Comment