Sang Bhagawan Kundilomuko adalah seorang kakek yang sudah berusia tinggi. Tidak ada seorangpun tahu berapa usia kakek ini. Banyak di antara para muridnya menduga bahwa sedikitnya kakek itu tentu sudah berusia seratus tahun! Tubuhnya tinggi kurus, akan tetapi masih tegak dan nampak kuat. Rambutnya panjang terurai, sudah putih semua, halus seperti benang sutera. Kumis dan jenggotnya juga panjang dan putih semua. Namun rambut, kumis dan jenggot itu selalu terpelihara baik-baik, biarpun terurai, namun halus dan bersih, tidak kumal berkat pemeliharaan para murid-muridnya terkasih yang setiap waktu menyisiri rambut itu. Wajahnya yang kurus masih membayangkan garis-garis wajah laki-laki tampan, tidak tampak kisut, masih segar seperti wajah seorang muda. Bahkan sepasang matanya sama sekali belum lamur, masih tajam dan penuh semangat. Hanya gerak-geriknya yang halus, suaranya yang lemah lembut itu saja yang menyatakan bahwa dia seonang kakek pertapa yang berilmu tinggi. Inilah dia pendeta yang menjadi ayah Ni Durgogini dan Ni Nogogini! Dan agaknya dua buah anting-anting yang tergantung di kedua telinganya itulah yang membuat ia mempunyai sebutan Kundilomuko (kundilo = anting anting). Apabila orang bertemu dengan Bhagawan Kundilomuko, apalagi bertemu di tempat sunyi, tentu akan mengganggap tanpa keraguan lagi bahwa dia adalah seorang pendeta yang hidup bersih dan suci seorang yang berilmu dan sakti. Memang tak dapat disangkal lagi bahwa Bhagawan Kundilomuko adalah seorang pendeta yang berilmu dan sakti. Akan tetapi hidup bersih dan suci? Hal ini masih disangsikan, melihat keadaan di pertapaan Durgaloka itu. Sebagian besar murid-muridnya adalah wanita-wanita muda yang cantik-cantik dan yang memenuhi tempat itu. Pakaian para murid itu hanyalah kain putih yang tipis dan halus seperti sutera sehingga terbayanglah bentuk tubuh mereka. Murid-murid prianya ada tiga puluh orang dan semua murid pria bertugas di luar rumah sang pendeta. Memang kalau siang hari tempat itu tampak sunyi dan bersih mirip tempat-tempat pertapaan yang keramat. Akan tetapi apabila matahari telah menghilang, tempat itu berubah menjadi tempat pengumbar nafsu sang pendeta dan murid-muridnya. Lebih-lebih lagi kalau malam bulan purnama! Sebulan sekali di waktu bulan purnama, Bhagawan Kundilomuko mengadakan upacara keagamaan, memuja Bathari Durgo dengan tari-tarian yang luar biasa! Murid-muridnya yang tercantik akan melakukan tari-tarian yang hebat menggairahkan, penuh nafsu, dan pada puncak tari-tarian, gadis-gadis yang bergerak bukan atas kehendak pribadi melainkan sudah dikuasai kekuasaan-kekuasaan hitam itu menanggalkan pakaian mereka sampai telanjang bulat sambil menari-nari!
Bhagawan
Kundilomuko adalah seorang penyembah Bathari Durgo. Tempat pertapaannya penuh
dengan arca-arca Bathari Durgo, bahkan di ruangan yang luas, tepat di atas
sumber mata air Sungai Bondoyudo, terdapat sebuah patung Bathari Durgo yang
indah sekali buatannya, sebuah patung kayu sebesar manusia yang seakan-akan
hidup, dihias dengan emas intan dan sutera beraneka warna. Di sinilah pusat
keramaian upacara di malam bulan purnama memuja Sang Bathari Durgo ratu
sekalian iblis! Namun pada pagi hari itu, pada wajah para murid sang bhagawan,
terbayang kecemasan. Mereka tidak banyak bicara, namun pandang mata yang saling
ditukar cukup menyatakan kegelisahan hati mereka. Apakah yang telah terjadi?
Pagi tadi, pagi-pagi sekali, seorang tamu yang buruk rupa dan buntung kedua
kakinya datang mengunjungi sang bhagawan. Ki Jatoko atau Jokowanengpati telah
datang di tempat itu. Seperti diketahui, di waktu belum cacad dahulu,
Jokowanengpati adalah kekasih Ni Durgogini dan sudah mengenal pula Bhagawan
Kundilomuko, bahkan sudah beberapa kali datang mengunjungi tempat ini. Semenjak
kakinya buntung, belum pernah ia datang. Mengapa kini ia datang berkunjung? Ki
Jatoko memang seorang yang cerdik bukan main. Seperti telah diceritakan di
bagian depan, dia mencari-cari Ayu Candra, akan tetapi bertemu dengan Endang
Patibroto yang dapat pula dibujuknya. Ketika ia tiba di Kerajaan Jenggala dan
mendengar akan persekutuan yang hendak merobohkan Jenggala, tentu saja ia lalu
menanti angin baik dan mencari siasat. Ia maklum bahwa tak mungkin ia
seterusnya bersekutu dengan Endang Patibroto yang memandang rendah kepadanya.
Apalagi kalau kelak puteri Kartikosari ini tahu bahwa dia adalah Jokowanengpati
musuh besar ibunya, tentu gadis yang sakti dan ganas melebihi setan itu akan
membunuhnya. Maka segera memihak para pemberontak dan diam-diam menanti saat
baik untuk masuk persekutuan itu. Diam-diam ia memasang mata dan telinga,
mencari kesempatan. Dapat dibayangkan betapa kaget dan takutnya ketika ia
mendengar tentang matinya Ni Durgogini dan Ni Nogogini di tangan Endang
Patibroto! Tadinya ia sudah kegirangan karena dua orang wanita itu telah dapat
menguasai sang prabu. Maka Ki Jatoko yang cerdik itu lalu cepat-cepat
mengunjungi Bhagawan Kundilomuko untuk mengabarkan tentang kematian dua orang
puterinya itu, sekalian untuk menawarkan tenaganya untuk bersekutu. Setelah
Bhagawan Kundilomuko mengadakan persekutuan rahasia dengan Adipati Jagalmanik
di Nusabarung, pertapaan Durgaloka dijaga keras oleh anak buah atau
murid-muridnya. Oleh karena ini, ketika Ki Jatoko yang buntung dan buruk rupa
itu muncul, para murid yang menjaga menjadi curiga dan hampir saja
menyerangnya. Biarpun Ki Jatoko telah memperkenalkan diri sebagai
Jokowanengpati, namun mereka tidak percaya dan tidak memperkenankan dia
memasuki
wilayah
pertapaan Durgaloka.
Untung bagi Ki
Jatoko bahwa pada saat itu kebetulan sekali sang bhagawan keluar dari pondok
dan melihat ribut-ribut ini lalu menghampiri. Sang bhagawan adalah seorang yang
waspada dan ia mengenal Jokowanengpati yang kini telah menjadi seorang
tapadaksa, buntung dan buruk rupa. Maka cepat ia mempersilahkan si buntung itu
masuk dan mengikutinya ke dalam pondok.
"Raden
Jokowanengpati, bagaimanakah keadaan andika sampai seperti ini?" Setelah
mereka duduk berhadapan di dalam pondok, pendeta tua itu bertanya, memandang
tajam penuh iba hati.
Ki Jatoko
mengerutkan alisnya dan menggeleng-geleng kepala sambil menarik napas panjang.
"Aaahhh,
memang sudah dikehendaki Dewata, paman bhagawan. Nasib buruk terpedaya musuh
sampai menjadi begini. Akan tetapi, biarpun tubuh sudah menjadi begini dan nama
saya sudah berubah menjadi Ki Jatoko, setidaknya saya masih hidup!. Yang lebih
menyedihkan adalah nasib kedua puteri paman, Ni Durgogini dan Ni Nogogini,
mereka telah dibunuh orang”
"Aaauuuurrrrgggghh!"
Tiba-tiba pendeta tua itu meloncat dari bangkunya sampai tinggi dan suara yang
bukan menyerupai suara manusia keluar dari kerongkongannya. Ketika tubuhnya
turun, ia berdiri tegak, kedua tangan terkepal, mata menyinarkan cahaya
berapi-api, mulut yang tersembunyi di balik Jengger lebat itu mengeluarkan
busa!
"Siapa
pembunuhnya bagaimana........??" Suaranya tersendat-sendat, sukar
keluarnya.
"Ah,
ketiwasan (celaka), paman bhagawan. Rencana gusti adipati di Nusabarung dan
paman sekalian untuk menyerbu Jenggala telah diketahui. Tadinya kedua puteri
paman memang sudah hampir berhasil menguasai sang prabu di Jenggala. Akan
tetapi, celaka sekali, para pangeran sudah dapat menduga akan rencana
pemberontakan sehingga mereka mengutus kepala pengawal, puteri sakti Endang
Patibroto menyerbu ke taman sari istana dan membunuh mereka! Bahkan Endang
Patibroto telah diberi tugas untuk memimpin pasukan menyerbu ke Nusabarung,
paman!"
"Babo-babo,
si keparat Endang Patibroto! Seperti apa macamnya wanita itu........
hemmm....... akan kuhancur lumatkan tubuhnya.......!!" Kakek tua renta itu
berkerot gigi dan mengepal kedua tangannya.
"Ah,
paman bhagawan, dia sungguh seorang wanita muda yang sakti mandraguna, sama
sekali tak boleh dibuat main-main. Dia adalah murid tunggal terkasih dari Sang
Dibyo Mamangkoro."
Terkejutlah
Bhagawan Kundilomuko mendengar ini dan sejenak ia termenung. Ia pernah bertemu
dengan Dibyo Mamangkoro dan harus ia akui bahwa ilmu kesaktian Dibyo Mamangkoro
adalah luar biasa sekali, jauh di atas tingkat ilmunya sendiri. Untuk
menghadapi murid raksasa itu, agaknya sukar untuk mencari kemenangan. Ia
mengangguk-angguk dan diam-diam ia mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmu
hitamnya. Hanya dengan ilmu hitamnya, ia akan dapat mengatasi lawan setangguh
itu. Hatinya agak cemas ketika ia mendengarkan Ki Jatoko yang mulai menuturkan
tentang kesaktian Endang Patibroto yang kini diangkat senopati oleh Sang Prabu
Jenggala untuk memimpin barisan menyerbu Nusabarung.
"Kalau
begitu kita harus cepat-cepat memberi laporan ke Nusabarung. Harus bersiap
sedia menyambut datangnya barisan Jenggala!" Kakek itu dengan gugup lalu
mengumpulkan anak muridnya dengan isyarat tepukan tangan.
Berserabutanlah
wanita muda dan cantik datang ke ruangan itu sehingga Ki Jatoko yang terkenal
mata keranjang sibuk menggunakan matanya berpesta-pora memandangi wajah yang
cantik-cantik dan tubuh yang muda dan montok menarik. Kakek pendeta itu
membagi-bagi tugas. Ada yang disuruh mengabarkan ke Nusabarung, ada yang
disuruh mengatur penjagaan ketat di sekitar daerah pertapaan Durgaloka, dan
lain-lain persiapan. Bahkan ada yang disuruh mencari keterangan tentang pasukan
musuh yang sedang mendatangi. Seketika keadaan di pertapaan Durgaloka menjadi
gelisah dan semua anak murid bersiap-siap. Melihat kegugupan kakek pendeta, Ki
Jatoko diam saja, kemudian setelah sang pendeta selesai membagi-bagi tugas, ia
lalu berkata,
"Harap
paman tenang. Saya sudah mempunyai rencana bagus dan jika paman bhagawan
menyetujui rencana dan siasat saya, tanggung sekali pukul kita akan dapat
memetik dua keuntungan."
Bhagawan
Kundilomuko yang merasa berduka atas kematian kedua orang anaknya dan juga
gelisah mendengar akan kegagalan siasat pemberontakan mereka, cepat menaruh
perhatian dan segera menarik tangan Ki Jatoko diajak berunding di kamar dalam.
Ia memberi isyarat kepada lima orang wanita cantik yang menjadi murid-murid terkasih
untuk meninggalkan kamar itu, kemudian menghadapi Ki Jatoko.
"Sekarang
jelaskanlah apa rencanamu itu, Raden Joko"
"Harap
paman selanjutnya menyebut saya Jatoko saja, karena nama lama itu sudah saya
kubur bersama....... dua buah kaki saya."
"Hemm,
baiklah, anakmas Jatoko. Katakanlah bagaimana rencanamu itu dan percayalah,
kelak aku yang akan menyampaikan jasa-jasamu kepada adipati di Nusabarung
apabila rencanamu berhasil."
"Begini,
paman bhagawan. Siasat saya ini untuk menghadapi tiga persoalan. Pertama untuk
menanggulangi tentara Jenggala yang dipimpin Endang Patibroto menyerbu ke
Nusabarung. Ke dua untuk melanjutkan rencana penyerangan kita ke Jenggala dan
ke tiga untuk menghadapi Endang Patibroto yang sakti mandraguna."
Girang hati
kakek pendeta Bhagawan Kundilomuko mendengar ini. Ia segera mendesak si buntung
itu menjelaskan siasatnya. Dengan suara berbisik-bisik Ki Jatoko yang sudah
kehilangan kedua kaki namun tidak kehilangan muslihat dan kecerdikannya,
menjelaskan siasatnya. Kakek pendeta itu mengangguk-angguk dan dengan wajah
girang sekali ia menepuk-nepuk pundak Ki Jatoko.
"Bagus.......!
Bagus sekali, anakmas Jatoko....... Ha-ha-haha, bagus sekali! Ah, sayang
mengapa baru sekarang kau muncul. Kalau dulu-dulu kau datang membantu, kita
tidak akan mengalami malapetaka seperti sekarang ini..!"
Bhagawan
Kundilomuko lalu memanggil Pusponila, seorang di antara muridnya yang terkasih
dan terpercaya. Gadis berusia dua puluh tahun lebih ini cantik manis dan
cekatan, berkulit hitam manis dan bermata tajam. Ia datang berlutut dan
menyembah guru dan junjungannya. Pusponila ini yang mendapat tugas untuk
secepat mungkin pergi menghadap Sang Adipati Jagalmanik di Nusabarung untuk
menyampaikan siasat yang diajukan Ki Jatoko, mempersiapkan dua pasukan. Pasukan
kecil untuk membantu pertapaan Durgaloka menyambut pasukan Jenggala, adapun
pasukan besar untuk menyerang Jenggala.
Belum lama
Pusponila berangkat, datanglah tiga orang murid laki-laki berlari-lari dengan
muka pucat. Mereka datang menunggang kuda dan tak pernah berhenti siang malam
sehingga kuda mereka roboh mati di jalan, lalu mereka terus melanjutkan
perjalanan dengan berlari-lari cepat. Mereka adalah sebagian dari anak murid
yang bertugas di luar dan sudah lama mereka bertugas memata-matai gerak-gerik Kerajaan
Jenggala. Dengan napas tersengal-sengal mereka menyampaikan berita tentang
kematian Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso di tengah
jalan, tewas di tangan Endang Patibroto!
Seketika pucat
wajah Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko. Sejenak mereka saling pandang dan
merasa ngeri. Betapa saktinya gadis itu yang sekaligus seorang diri telah
berhasil menewaskan tiga orang tokoh jagoan seperti orang-orang sakti itu. Dan
sekaligus rusaklah siasat dan rencana ke tiga yang dikemukakan Ki Jatoko tadi,
yaitu siasat hendak mencegat dan mengeroyok Endang Patibroto mengandalkan
bantuan tiga orang yang sekarang sudah mati itu!
"Lalu
bagaimana? Di mana sekarang gadis iblis itu??" Bhagawan Kundilomuko
bertanya kepada tiga orang muridnya yang masih terengah-engah. "Ataukah
barangkali kalian sudah begitu ketakutan sehingga tidak berani menyelidiki
pula?" Kalimat terakhir terdengar bengis.
No comments:
Post a Comment