"Ampunkah hamba, bapa bhagawan yang mulia. Tidak sekali-kali hamba bertiga melalaikan kewajiban. Hamba bertiga dengan susah payah mencari jejak senopati wanita itu yang meninggalkan pasukannya. Ia menuju ke selatan dan di tengah jalan ketika hamba bertiga dapat menyusulnya, dia telah menyeret-nyeret seorang puteri cantik. Hamba bertiga lalu cepat-cepat pulang untuk melaporkan semua itu kepada bapa guru."
Dengan alis
putih berkerut pendeta itu lalu memberi isyarat menyuruh murid-muridnya pergi,
kemudian ia berpaling kepada Ki Jatoko. Ia melihat si buntung itu
termenung-menung dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
"Bagaimana
baiknya sekarang, anakmas Jatoko?"
Ki Jatoko
tampak terkejut. Ketika mendengar penuturan murid-murid pendeta itu tentang
diseret-seretnya seorang gadis cantik oleh Endang Patibroto, seketika ia
teringat kepada Ayu Candra. Siapa lagi kalau bukan Ayu Candra yang tertawan
oleh Endang Patibroto? Tentu Ayu Candra sudah mendengar pula percakapan di
dalam hutan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto, dan mengetahui bahwa
musuh yang membunuh ayah bundanya adalah Endang Patibroto. Mendengar pula bahwa
Kartikosari tinggal di Pulau Sempu dan mungkin dia ingin membalas dendamnya ke
pulau itu! Maka terkejutlah ia ketika ditegur oleh Sang Bhagawan Kundilomuko.
”Ehh.....l
Jangan khawatir, paman bhagawan. Bahkan kebetulan sekali kalau Endang Patibroto
masih mendahului pasukannya. Kalau pasukan dari Nusabarung tiba, ditambah
murid-murid paman yang perkasa, supaya mengadakan pencegatan seperti yang telah
saya gambarkan. Adapun tentang Endang Patibroto, karena sekarang tak mungkin
kita menggunakan kekerasan menghadapinya setelah tiga orang paman yang kita
harapkan bantuannya itu tewas semua, biarlah saya seorang diri menghadapinya.
Percayalah, paman bhagawan, jelek-jelek Ki Jatoko sanggup memancingnya masuk ke
pertapaan Durgaloka dan dengan akal dan kesaktian paman bhagawan, saya harap
gadis perkasa itu dapat ditundukkan."
”Ah-ah, bagus
sekali, anakmas Jatoko! Asal kau dapat memancingnya seorang diri memasuki
tempat ini, aku punya akal untuk menaklukkan iblis itu! Hemm........ pasti
dapat kuhancur leburkan si keparat yang telah membunuh dua orang anakku!"
"Eh,
paman bhagawan. Saya kira paman akan berpendapat lain kalau dia sudah masuk ke
sini dan dapat ditundukkan."
"Mengapa?
Bagaimana.......??”
Ki Jatoko
tersenyum menyeringai.
"Paman
saksikan sendiri sajalah nanti! Sekarang saya memohon doa restu paman agar saya
berhasil memancingnya masuk ke sini.”
Segera
disediakan seekor kuda yang amat baik untuk Ki Jatoko dan biarpun ia sudah
buntung kedua kakinya, tubuhnya masih cekatan sekali ketika meloncat naik ke
punggung kuda. Ia sudah mendengarkan lagi penjelasan-penjelasan tiga orang anak
murid Bhagawan Kundilomuko tadi dan mendengar gambaran mereka tentang puteri
jelita yang ditawan Endang Patibroto, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentulah
Ayu Candra puteri itu. Ia menanyakan di mana mereka melihat wanita perkasa itu,
kemudian membalapkan kudanya meninggalkan pertapaan Durgaloka untuk memapaki
perjalanan Endang Patibroto dan Ayu Candra yang menjadi tawanannya. Adapun
Bhagawan Kundilomuko juga sudah bersiap-siap mengatur semua siasat yang
dijalankan Ki Jatoko.
Ketika pasukan
Nusabarung tiba, ia mengerahkan anak buah atau anak muridnya, sesuai dengan
siasat dan petunjuk Ki Jatoko, untuk ikut bersama pasukan ini menghadang
barisan Jenggala yang hendak melakukan penyerbuan ke Nusabarung.
"Endang
Patibroto .....! Bagus, ternyata engkau memenuhi janjimu, sungguh gagah
perkasa!" teriak Ki Jatoko ketika bertemu dengan gadis sakti itu di tengah
jalan. Ia menyembunyikan ketegangan hatinya ketika melihat Ayu Candra yang
wajahnya pucat, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya robek-robek, kedua
tangannya terbelenggu dan terhuyung-huyung di belakang kuda.
"Endang
Patibroto, kaulepaskan Ayu Candra dan jangan menyiksanya seperti itu. Ingat,
aku menghendaki dia hidup-hidup."
Endang
Patibroto menahan kudanya, memandang tajam dengan wajah tersenyum mengejek.
"Ki
Jatoko, perempuan ini musuhku. Mau kubunuh atau tidak adalah urusanku sendiri.
Karena teringat akan janjimu maka aku masih belum membunuhnya. Tentu saja aku
memenuhi janji asal engkau juga membuktikan janjimu dahulu. Hayo lekas katakan,
apa rahasia itu agar aku dapat menimbang-nimbang apakah patut manusia macam
engkau kuberi hadiah perempuan ini!"
"Ihh,
sabar dulu, Endang Patibroto......” Ki Jatoko mengerling ke arah Ayu Candra
dengan kening berkerut. Ucapan Endang Patibroto tadi menyulitkan kedudukannya.
Ia tidak ingin rahasia hatinya diketahui Ayu Candra yang ia harapkan kasih
sayangnya. Tentu saja ia ingin agar gadis yang dicintanya itu menganggapnya
seorang penolong yang baik hati.
"Kau
dengarlah baik-baik, urusan pribadi kita itu amat penting dan tentu saja
rahasia ini akan kuberitahukan kepadamu. Akan tetapi, adahal yang jauh lebih
hebat dan penting lagi yang perlu kita bicarakan. Kau tahu mengapa kau bertemu
aku di sini? Akupun sedang dalam perjalanan menuju ke Jenggala untuk menghadap
sang prabu. Ada berita penting sekali mengenai Nusabarung."
Mau tak mau
perhatian Endang Patibroto dapat dibelokkan. Berita tentang Nusabarung tentu
saja amat penting baginya, jauh lebih penting daripada urusan Ayu Candra dan Ki
Jatoko yang ia pandang rendah.
"Hemm,
berita apakah?"
"Perbuatan
hebat luar biasa yang kau lakukan dengan seorang diri membunuh lima orang sakti
yang bersekutu dengan Adipati Jagalmanik telah diketahui oleh semua orang di
Nusabarung! Aku memang secara diam-diam memata-matai keadaan di Nusabarung
setelah kuketahui akan komplotan yang hendak menggulingkan sang prabu di
Jenggala. Dan kini Adipati Jagalmanik telah mengumpulkan seluruh kekuatan
dengan bantuan banyak pasukan dari timur untuk menghadapi Jenggala!"
Endang
Patibroto tertawa.
"Huh,
yang begitu saja kau ributkan? Sebelum Nusabarung dapat menyentuh pintu gerbang
Jenggala, lebih dulu pasukanku akan menghancurkannya. Aku memang membawa
pasukan untuk menggempur dan memberi hukuman pengkhianat-pengkhianat itu!"
Ki Jatoko
menggeleng-geleng kepalanya dan diam-diam ia melirik ke arah Ayu Candra yang
berdiri sambil menundukkan muka dan agaknya gadis itu kini mengatur napas
mengumpulkan tenaga.
"Kau
tidak tahu dan karenanya kau memandang rendah, Endang Patibroto. Aku percaya
akan kesaktianmu yang luar biasa, akan tetapi apakah kau tahu bahwa pihak
Nusabarung sudah tahu pula bahwa engkau datang dengan membawa pasukan?
Mata-mata mereka tersebar luas dan dapat mengirim berita dengan cepat sekali.
Bahkan mereka tahu bahwa pasukanmu hanya terdiri dari beberapa ribu orang!
Apakah artinya jumlah pasukanmu itu, dan apa yang dapat kaulakukan dengan
kesaktianmu kalau pihak musuh mengerahkan pasukan sampai berlaksa orang untuk
menghancurkan pasukanmu?"
Kaget juga
hati Endang Patibroto ketika mendengar berita ini. Kalau benar demikian,
sungguh berbahaya. Dia sendiri dengan kesaktiannya mungkin masih dapat
menyelamatkan diri, akan tetapi bagaimana kalau sampai pasukannya itu hancur
oleh musuh yang berlipat ganda jumlahnya itu? Betapapun ia akan mengamuk dengan
keris pusakanya, kiranya ia bukan seorang dewa yang dapat merobohkan berlaksa
orang musuh! Mulailah ia berpikir dan alisnya yang berbentuk indah itu
bergerak-gerak.
"Endang
Patibroto, kiranya takkan percuma kau berkenalan dengan aku! Kau telah
menemukan Ayu Candra dan tak membunuhnya, hal ini membuat aku amat berterima
kasih sehingga selain rahasia yang telah kujanjikan akan kuceritakan nanti
kepadamu, juga aku mempunyai akal untuk membantumu. Percayalah, dengan akalku,
biarpun para pemberontak Nusabarung mempunyai pasukan yang sepuluh kali
jumlahnya, kita akan dapat menghancurkan mereka!"
Endang
Patitroto boleh jadi seorang yang sakti mandraguna dan tak kenal takut, juga
bukan seorang bodoh. Namun tentu saja ia masih kurang pengalaman sehingga
menghadapi seorang tokoh kawakan yang penuh tipu muslihat seperti Ki Jatoko
ini, ia menjadi bimbang dan ragu. Pengalamannya yang masih dangkal belum
memungkinkan ia mengenal manusia dari gerak-gerik dan wajah mereka.
"Hemmm,
kalau kau ada akal, bagaimanakah? Katakan, akan kudengar dan
pertimbangkan."
Diam-diam Ki Jatoko
menjadi kagum.. Gadis ini benar-benar selain gagah perkasa, juga cukup cerdik
sehingga tidak mau menelan usulnya mentah-mentah begitu saja. Ia pura-pura
memandang ke kanan kiri lalu berkata,
"Dikabarkan
orang bahwa kau memimpin pasukan ke Nusabarung. Endang Patibroto, mana itu
pasukanmu?"
"Masih di
belakang. Aku sengaja mendahului mereka."
Ki Jatoko
mengangguk-angguk.
"Kalau
begitu marilah kau singgah di tempatku. Kita bicara sambil menanti datangnya
pasukanmu. Setelah pasukanmu tiba, baru kita atur untuk menjebak barisan musuh,
dan menghancurkan mereka."
Melihat Endang
Patibroto meragu, Ki Jatoko cepat berkata,
"Dan di
sana pula akan kuceritakan rahasia itu, Endang Patibroto. Rahasia besar yang
akan membuat kau terheran-heran tentang diri pribadimu. Selain itu aku tidak
ingin melihat Ayu Candra tersiksa seperti itu. Dia harus beristirahat dan
memulihkan kesehatannya. Aku sudah bersikap sejujurnya kepadamu. Terserah
kepadamu, apakah kau percaya kepadaku atau tidak! Betapapun, aku tidak percaya
bahwa kau takut kalau-kalau aku menipumu!"
Kalimat
terakhir ini benar-benar mengenai sasaran. Memang cerdik Ki Jatoko. Ia dapat
meraba kelemahan gadis perkasa yang sukar pula dibujuk itu. Maka ia melepas
"panah" terakhir, yaitu dengan cara memanaskan hati dan menantang.
Seorang gadis perkasa yang memang pantang mundur, paling tak senang kalau
disangka takut.
"Hemm,
andaikata kau menipuku, mengapa aku mesti takut?" Endang Patibroto
mengeprak kudanya.
"Baik,
marilah jalan. Hendak kulihat, pertunjukan apa yang hendak kauperlihatkan
kepadaku!"
Girang hati Ki
Jatoko. Akan tetapi kegirangan yang bercampur kecemasan dan ketegangan. Ia
maklum bahwa kalau Bhagawan Kundilomuko gagal menundukkan gadis ini, ia tentu
akan mampus di tangan Endang Patibroto! Cepat ia menghampiri Ayu Candra yang
sudah dilepaskan talinya oleh Endang Patibroto, kemudian melepaskan belenggu
tangan gadis itu dan berkata halus,
"Ayu,
mari kau ikut aku naik kuda ini...!"
Ayu Candra
memandang kepada Ki Jatoko dengan mata terbelalak penuh curiga dan kemarahan,
kemudian ia menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan jawaban.
"Ayu, kau
tahu bahwa aku menolongmu, aku sayang kepadamu, manis, aku kasihan
kepadamu.."
Sinar mata
gadis itu mengeluarkan cahaya kemarahan dan kalau tidak selemah itu tubuhnya
akibat lelah dan kelaparan, tentu ia sudah meronta dan memukul Ki Jatoko.
Ucapan kakek buntung ini sekarang baginya mempunyai arti lain setelah ia
mendengar dari Endang Patibroto bahwa kakek buntung ini tergila-gila kepadanya
dan hendak memperisterinya.
Karena melihat
Endang Patibroto sudah tak sabar menanti, Ki Jatoko lalu menyambar pinggang Ayu
Candra dan meloncat naik ke punggung kuda. Ia mendudukkan gadis itu di depannya
lalu membalapkan kuda. Biarpun buntung kedua kakinya, namun Ki Jatoko di waktu
mudanya adalah Jokowanengpati yang ahli dalam hal menunggang kuda. Ayu Candra
merasa muak dan marah sekali, akan tetapi ia maklum bahwa meronta pada saat itu
takkan ada artinya. Ia akan menanti sampai kekuatannya pulih kembali, barulah
ia akan memberontak dan mengamuk sampai berhasil membunuh mereka atau terbunuh!
Hari telah malam ketika Ki Jatoko yang diikuti oleh Endang Patibroto tiba di
pertapaan Durgaloka. Keadaan di situ gelap dan Ki Jatoko lalu mengajak Endang
Patibroto berhenti di depan sebuah di antara pondok-pondok yang memang
sebelumnya sudah dipersiapkan. Pondok lainnya gelap, hanya pondok yang satu
inilah yang di dalamnya dipasangi lampu penerangan. Melihat Endang Patibroto
memandangi ke sekelilingnya, ke arah pondok-pondok yang gelap itu, Ki Jatoko
segera berkata,
"Perkampungan
ini sudah kosong penghuninya pergi menyingkir ketika mendengar bahwa akan
terjadi perang. Hanya pondok tempat tinggalku ini yang masih ditinggali orang,
yaitu murid-murid, juga pelayan-pelayanku."
Pintu pondok
terbuka dari dalam dan di bawah sinar lampu yang menyorot dari dalam, Endang
Patibroto melihat lima orang gadis cantik bergegas keluar menyambut. Hati
Endang Patibroto terheran-heran ketika ia melompat turun dari kudanya. Lima
orang gadis cantik inikah murid-murid Ki Jatoko? Gerakan mereka memang tangkas
ketika mereka menyambut kuda dan sikap mereka amat hormat kepada si buntung.
Ah, kiranya si buntung ini bukan sembarang orang, pikirnya.
"Ada
terjadi apakah sepergiku dari sini murid-muridku?" Ki Jatoko bertanya.
No comments:
Post a Comment