Badai Laut Selatan ; Bagian 146


"Ampunkah hamba, bapa bhagawan yang mulia. Tidak sekali-kali hamba bertiga melalaikan kewajiban. Hamba bertiga dengan susah payah mencari jejak senopati wanita itu yang meninggalkan pasukannya. Ia menuju ke selatan dan di tengah jalan ketika hamba bertiga dapat menyusulnya, dia telah menyeret-nyeret seorang puteri cantik. Hamba bertiga lalu cepat-cepat pulang untuk melaporkan semua itu kepada bapa guru."
Dengan alis putih berkerut pendeta itu lalu memberi isyarat menyuruh murid-muridnya pergi, kemudian ia berpaling kepada Ki Jatoko. Ia melihat si buntung itu termenung-menung dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
"Bagaimana baiknya sekarang, anakmas Jatoko?"
Ki Jatoko tampak terkejut. Ketika mendengar penuturan murid-murid pendeta itu tentang diseret-seretnya seorang gadis cantik oleh Endang Patibroto, seketika ia teringat kepada Ayu Candra. Siapa lagi kalau bukan Ayu Candra yang tertawan oleh Endang Patibroto? Tentu Ayu Candra sudah mendengar pula percakapan di dalam hutan antara Joko Wandiro dan Endang Patibroto, dan mengetahui bahwa musuh yang membunuh ayah bundanya adalah Endang Patibroto. Mendengar pula bahwa Kartikosari tinggal di Pulau Sempu dan mungkin dia ingin membalas dendamnya ke pulau itu! Maka terkejutlah ia ketika ditegur oleh Sang Bhagawan Kundilomuko.
”Ehh.....l Jangan khawatir, paman bhagawan. Bahkan kebetulan sekali kalau Endang Patibroto masih mendahului pasukannya. Kalau pasukan dari Nusabarung tiba, ditambah murid-murid paman yang perkasa, supaya mengadakan pencegatan seperti yang telah saya gambarkan. Adapun tentang Endang Patibroto, karena sekarang tak mungkin kita menggunakan kekerasan menghadapinya setelah tiga orang paman yang kita harapkan bantuannya itu tewas semua, biarlah saya seorang diri menghadapinya. Percayalah, paman bhagawan, jelek-jelek Ki Jatoko sanggup memancingnya masuk ke pertapaan Durgaloka dan dengan akal dan kesaktian paman bhagawan, saya harap gadis perkasa itu dapat ditundukkan."
”Ah-ah, bagus sekali, anakmas Jatoko! Asal kau dapat memancingnya seorang diri memasuki tempat ini, aku punya akal untuk menaklukkan iblis itu! Hemm........ pasti dapat kuhancur leburkan si keparat yang telah membunuh dua orang anakku!"
"Eh, paman bhagawan. Saya kira paman akan berpendapat lain kalau dia sudah masuk ke sini dan dapat ditundukkan."
"Mengapa? Bagaimana.......??”
Ki Jatoko tersenyum menyeringai.
"Paman saksikan sendiri sajalah nanti! Sekarang saya memohon doa restu paman agar saya berhasil memancingnya masuk ke sini.”

Segera disediakan seekor kuda yang amat baik untuk Ki Jatoko dan biarpun ia sudah buntung kedua kakinya, tubuhnya masih cekatan sekali ketika meloncat naik ke punggung kuda. Ia sudah mendengarkan lagi penjelasan-penjelasan tiga orang anak murid Bhagawan Kundilomuko tadi dan mendengar gambaran mereka tentang puteri jelita yang ditawan Endang Patibroto, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentulah Ayu Candra puteri itu. Ia menanyakan di mana mereka melihat wanita perkasa itu, kemudian membalapkan kudanya meninggalkan pertapaan Durgaloka untuk memapaki perjalanan Endang Patibroto dan Ayu Candra yang menjadi tawanannya. Adapun Bhagawan Kundilomuko juga sudah bersiap-siap mengatur semua siasat yang dijalankan Ki Jatoko.
Ketika pasukan Nusabarung tiba, ia mengerahkan anak buah atau anak muridnya, sesuai dengan siasat dan petunjuk Ki Jatoko, untuk ikut bersama pasukan ini menghadang barisan Jenggala yang hendak melakukan penyerbuan ke Nusabarung.
"Endang Patibroto .....! Bagus, ternyata engkau memenuhi janjimu, sungguh gagah perkasa!" teriak Ki Jatoko ketika bertemu dengan gadis sakti itu di tengah jalan. Ia menyembunyikan ketegangan hatinya ketika melihat Ayu Candra yang wajahnya pucat, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya robek-robek, kedua tangannya terbelenggu dan terhuyung-huyung di belakang kuda.
"Endang Patibroto, kaulepaskan Ayu Candra dan jangan menyiksanya seperti itu. Ingat, aku menghendaki dia hidup-hidup."
Endang Patibroto menahan kudanya, memandang tajam dengan wajah tersenyum mengejek.
"Ki Jatoko, perempuan ini musuhku. Mau kubunuh atau tidak adalah urusanku sendiri. Karena teringat akan janjimu maka aku masih belum membunuhnya. Tentu saja aku memenuhi janji asal engkau juga membuktikan janjimu dahulu. Hayo lekas katakan, apa rahasia itu agar aku dapat menimbang-nimbang apakah patut manusia macam engkau kuberi hadiah perempuan ini!"
"Ihh, sabar dulu, Endang Patibroto......” Ki Jatoko mengerling ke arah Ayu Candra dengan kening berkerut. Ucapan Endang Patibroto tadi menyulitkan kedudukannya. Ia tidak ingin rahasia hatinya diketahui Ayu Candra yang ia harapkan kasih sayangnya. Tentu saja ia ingin agar gadis yang dicintanya itu menganggapnya seorang penolong yang baik hati.
"Kau dengarlah baik-baik, urusan pribadi kita itu amat penting dan tentu saja rahasia ini akan kuberitahukan kepadamu. Akan tetapi, adahal yang jauh lebih hebat dan penting lagi yang perlu kita bicarakan. Kau tahu mengapa kau bertemu aku di sini? Akupun sedang dalam perjalanan menuju ke Jenggala untuk menghadap sang prabu. Ada berita penting sekali mengenai Nusabarung."

Mau tak mau perhatian Endang Patibroto dapat dibelokkan. Berita tentang Nusabarung tentu saja amat penting baginya, jauh lebih penting daripada urusan Ayu Candra dan Ki Jatoko yang ia pandang rendah.
"Hemm, berita apakah?"
"Perbuatan hebat luar biasa yang kau lakukan dengan seorang diri membunuh lima orang sakti yang bersekutu dengan Adipati Jagalmanik telah diketahui oleh semua orang di Nusabarung! Aku memang secara diam-diam memata-matai keadaan di Nusabarung setelah kuketahui akan komplotan yang hendak menggulingkan sang prabu di Jenggala. Dan kini Adipati Jagalmanik telah mengumpulkan seluruh kekuatan dengan bantuan banyak pasukan dari timur untuk menghadapi Jenggala!"
Endang Patibroto tertawa.
"Huh, yang begitu saja kau ributkan? Sebelum Nusabarung dapat menyentuh pintu gerbang Jenggala, lebih dulu pasukanku akan menghancurkannya. Aku memang membawa pasukan untuk menggempur dan memberi hukuman pengkhianat-pengkhianat itu!"
Ki Jatoko menggeleng-geleng kepalanya dan diam-diam ia melirik ke arah Ayu Candra yang berdiri sambil menundukkan muka dan agaknya gadis itu kini mengatur napas mengumpulkan tenaga.
"Kau tidak tahu dan karenanya kau memandang rendah, Endang Patibroto. Aku percaya akan kesaktianmu yang luar biasa, akan tetapi apakah kau tahu bahwa pihak Nusabarung sudah tahu pula bahwa engkau datang dengan membawa pasukan? Mata-mata mereka tersebar luas dan dapat mengirim berita dengan cepat sekali. Bahkan mereka tahu bahwa pasukanmu hanya terdiri dari beberapa ribu orang! Apakah artinya jumlah pasukanmu itu, dan apa yang dapat kaulakukan dengan kesaktianmu kalau pihak musuh mengerahkan pasukan sampai berlaksa orang untuk menghancurkan pasukanmu?"
Kaget juga hati Endang Patibroto ketika mendengar berita ini. Kalau benar demikian, sungguh berbahaya. Dia sendiri dengan kesaktiannya mungkin masih dapat menyelamatkan diri, akan tetapi bagaimana kalau sampai pasukannya itu hancur oleh musuh yang berlipat ganda jumlahnya itu? Betapapun ia akan mengamuk dengan keris pusakanya, kiranya ia bukan seorang dewa yang dapat merobohkan berlaksa orang musuh! Mulailah ia berpikir dan alisnya yang berbentuk indah itu bergerak-gerak.
"Endang Patibroto, kiranya takkan percuma kau berkenalan dengan aku! Kau telah menemukan Ayu Candra dan tak membunuhnya, hal ini membuat aku amat berterima kasih sehingga selain rahasia yang telah kujanjikan akan kuceritakan nanti kepadamu, juga aku mempunyai akal untuk membantumu. Percayalah, dengan akalku, biarpun para pemberontak Nusabarung mempunyai pasukan yang sepuluh kali jumlahnya, kita akan dapat menghancurkan mereka!"
Endang Patitroto boleh jadi seorang yang sakti mandraguna dan tak kenal takut, juga bukan seorang bodoh. Namun tentu saja ia masih kurang pengalaman sehingga menghadapi seorang tokoh kawakan yang penuh tipu muslihat seperti Ki Jatoko ini, ia menjadi bimbang dan ragu. Pengalamannya yang masih dangkal belum memungkinkan ia mengenal manusia dari gerak-gerik dan wajah mereka.
"Hemmm, kalau kau ada akal, bagaimanakah? Katakan, akan kudengar dan pertimbangkan."

Diam-diam Ki Jatoko menjadi kagum.. Gadis ini benar-benar selain gagah perkasa, juga cukup cerdik sehingga tidak mau menelan usulnya mentah-mentah begitu saja. Ia pura-pura memandang ke kanan kiri lalu berkata,
"Dikabarkan orang bahwa kau memimpin pasukan ke Nusabarung. Endang Patibroto, mana itu pasukanmu?"
"Masih di belakang. Aku sengaja mendahului mereka."
Ki Jatoko mengangguk-angguk.
"Kalau begitu marilah kau singgah di tempatku. Kita bicara sambil menanti datangnya pasukanmu. Setelah pasukanmu tiba, baru kita atur untuk menjebak barisan musuh, dan menghancurkan mereka."
Melihat Endang Patibroto meragu, Ki Jatoko cepat berkata,
"Dan di sana pula akan kuceritakan rahasia itu, Endang Patibroto. Rahasia besar yang akan membuat kau terheran-heran tentang diri pribadimu. Selain itu aku tidak ingin melihat Ayu Candra tersiksa seperti itu. Dia harus beristirahat dan memulihkan kesehatannya. Aku sudah bersikap sejujurnya kepadamu. Terserah kepadamu, apakah kau percaya kepadaku atau tidak! Betapapun, aku tidak percaya bahwa kau takut kalau-kalau aku menipumu!"
Kalimat terakhir ini benar-benar mengenai sasaran. Memang cerdik Ki Jatoko. Ia dapat meraba kelemahan gadis perkasa yang sukar pula dibujuk itu. Maka ia melepas "panah" terakhir, yaitu dengan cara memanaskan hati dan menantang. Seorang gadis perkasa yang memang pantang mundur, paling tak senang kalau disangka takut.
"Hemm, andaikata kau menipuku, mengapa aku mesti takut?" Endang Patibroto mengeprak kudanya.
"Baik, marilah jalan. Hendak kulihat, pertunjukan apa yang hendak kauperlihatkan kepadaku!"
Girang hati Ki Jatoko. Akan tetapi kegirangan yang bercampur kecemasan dan ketegangan. Ia maklum bahwa kalau Bhagawan Kundilomuko gagal menundukkan gadis ini, ia tentu akan mampus di tangan Endang Patibroto! Cepat ia menghampiri Ayu Candra yang sudah dilepaskan talinya oleh Endang Patibroto, kemudian melepaskan belenggu tangan gadis itu dan berkata halus,
"Ayu, mari kau ikut aku naik kuda ini...!"

Ayu Candra memandang kepada Ki Jatoko dengan mata terbelalak penuh curiga dan kemarahan, kemudian ia menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan jawaban.
"Ayu, kau tahu bahwa aku menolongmu, aku sayang kepadamu, manis, aku kasihan kepadamu.."
Sinar mata gadis itu mengeluarkan cahaya kemarahan dan kalau tidak selemah itu tubuhnya akibat lelah dan kelaparan, tentu ia sudah meronta dan memukul Ki Jatoko. Ucapan kakek buntung ini sekarang baginya mempunyai arti lain setelah ia mendengar dari Endang Patibroto bahwa kakek buntung ini tergila-gila kepadanya dan hendak memperisterinya.
Karena melihat Endang Patibroto sudah tak sabar menanti, Ki Jatoko lalu menyambar pinggang Ayu Candra dan meloncat naik ke punggung kuda. Ia mendudukkan gadis itu di depannya lalu membalapkan kuda. Biarpun buntung kedua kakinya, namun Ki Jatoko di waktu mudanya adalah Jokowanengpati yang ahli dalam hal menunggang kuda. Ayu Candra merasa muak dan marah sekali, akan tetapi ia maklum bahwa meronta pada saat itu takkan ada artinya. Ia akan menanti sampai kekuatannya pulih kembali, barulah ia akan memberontak dan mengamuk sampai berhasil membunuh mereka atau terbunuh! Hari telah malam ketika Ki Jatoko yang diikuti oleh Endang Patibroto tiba di pertapaan Durgaloka. Keadaan di situ gelap dan Ki Jatoko lalu mengajak Endang Patibroto berhenti di depan sebuah di antara pondok-pondok yang memang sebelumnya sudah dipersiapkan. Pondok lainnya gelap, hanya pondok yang satu inilah yang di dalamnya dipasangi lampu penerangan. Melihat Endang Patibroto memandangi ke sekelilingnya, ke arah pondok-pondok yang gelap itu, Ki Jatoko segera berkata,
"Perkampungan ini sudah kosong penghuninya pergi menyingkir ketika mendengar bahwa akan terjadi perang. Hanya pondok tempat tinggalku ini yang masih ditinggali orang, yaitu murid-murid, juga pelayan-pelayanku."
Pintu pondok terbuka dari dalam dan di bawah sinar lampu yang menyorot dari dalam, Endang Patibroto melihat lima orang gadis cantik bergegas keluar menyambut. Hati Endang Patibroto terheran-heran ketika ia melompat turun dari kudanya. Lima orang gadis cantik inikah murid-murid Ki Jatoko? Gerakan mereka memang tangkas ketika mereka menyambut kuda dan sikap mereka amat hormat kepada si buntung. Ah, kiranya si buntung ini bukan sembarang orang, pikirnya.
"Ada terjadi apakah sepergiku dari sini murid-muridku?" Ki Jatoko bertanya.

<<< Bagian 145                                                                                      Bagian 147 >>>

No comments:

Post a Comment