Gadis yang paling cantik, yang kedua lengannya memakai gelang hitam berbentuk ular melilit, segera menjawab dengan suara merdu,
"Tidak
ada apa-apa yang luar biasa, bapa guru. Kami yang merasa heran mengapa bapa
sudah kembali? Apakah secepat itu bapa sudah tiba di Jenggala?"
Ki Jatoko
tertawa.
"Kau tahu
apa? Lekas sediakan makan minum untuk dua orang nona yang menjadi tamu agung
kita!"
Gadis-gadis
itu tersenyum dan menyelinap pergi keluar dari dalam pondok. Sambil menggandeng
tangan Ayu Candra, Ki Jatoko mempersilahkan Endang Patibroto memasuki pondok.
Endang Patibroto menaruh curiga. Betapapun juga, ia tidak dapat mempercaya
begitu saja seorang macam Ki Jatoko ini. Akan tetapi, karena ia memandang
rendah kepandaian Ki Jatoko, ia tidak menjadi gentar, bahkan tersenyum
mengejek. Hendak kulihat, apa yang dapat ia lakukan terhadap diriku, demikian
pikirnya. Pondok itu ternyata cukup lebar dan bersih dan di situ terdapat dua
buah bilik besar dan di ruangan tengah terdapat meja kursi.
"Hari
sudah jauh malam, kulihat engkau dan terutama Ayu Candra ini perlu
beristirahat. Harap kau tidak menolak hidangan kami yang sederhana," kata
Ki Jatoko.
Endang
Patibroto hendak membantah. Ia ingin menuntut agar rahasia yang dijanjikan itu
diberitahukan kepadanya sekarang juga. Akan tetapi terpaksa ia menahan niatnya
membuka mulut ketika lima orang gadis itu sambil terseyum-senyum manis sudah
berserabutan masuk ke pondok sambil membawa bermacam-macam tempat lauk-pauk,
nasi dan sebuah kendi besar. Dengan cekatan mereka lalu sibuk mengatur makanan
itu di atas meja.
Heran juga
hati Endang Patibroto bagaimana mereka itu dapat mempersiapkan hidangan secepat
itu. Gadis-gadis ini cekatan sekali. Dan hidangan berupa sayur-mayur dan daging
itu dimasak, masih mengepulkan uap yang sedap sehingga perutnya yang memang
lapar karena hampir dua hari tidak diisi itu kini mulai terasa lapar. Juga Ayu
Candra yang kehabisan tenaga karena lelah dan lapar, diam-diam merasa berterima
kasih. Ia harus memperkuat tubuhnya, kemudian baru ia akan menyerang Endang
Patibroto, pikirnya. Tentang Ki Jatoko, ia masih ragu-ragu. Benarkah kakek
buntung ini jahat dan mempunyai niat busuk seperti yang dikatakan oleh Endang
Patibroto? Ah, belum tentu demikian. Bagaimana ia dapat mempercayai seorang
seperti Endang Patibroto yang demikian jahat? Akan tetapi, kalau memang Ki
Jatoko seorang baik-baik yang hendak menolongnya, mengapa pula si buntung ini
begitu baik hubungannya dengan Endang Patibroto? Dan rahasia besar apakah
gerangan yang akan mereka bicarakan? Semua teka-teki ini membuat Ayu Candra
bingung, akan . tetapi ia lalu menganggap saja bahwa Ki Jatoko juga bukan
seorang baik- baik, apalagi setelah melihat murid-muridnya yang terdiri dari
gadis-gadis muda dan cantik. Makin curigalah ia terhadap si buntung.
Betapapun
lapar perutnya, Endang Patibroto bukan seorang yang ceroboh. Biarpun Ki Jatoko
sudah mempersilakankannya, namun ia hanya duduk diam dan memandang semua
makanan di atas meja, tanpa menyentuhnya. Melihat ini, Ki Jatoko tertawa.
”Ha-ha-ha,
Endang Patibroto. Agaknya engkau menaruh curiga kepada hidangan yang kusuguhkan
kepadamu? Kau khawatir kalau-kalau kucampuri racun?"
Endang
Patibroto mencibirkan bibirnya yang merah.
"Ki
Jatoko, aku tidak tahu siapa sebenarnya engkau ini dan orang macam apa
sesungguhnya engkau ini, maka bagaimana mungkin aku dapat percaya begitu saja
bersihnya hidangan yang kau suguhkan kepadaku?"
Mendengar ini,
Ayu Candra terkejut dan kagum. Biarpun Endang Patibroto seorang iblis betina
yang kejam dan ganas, harus diakui bahwa semuda itu sudah memiliki kecerdikan
dan kewaspadaan. Ia teringat akan kakak kandungnya, Joko Wandiro. Alangkah
sepadan dua orang muda itu, Endang Patibroto dan Joko Wandiro! Keduanya sama
muda, sama elok, sama sakti dan dalam banyak hal, mereka mempunyai banyak
persamaan yang mengagumkan. Tentu saja terdapat perbedaan yang membuat mereka
seperti bumi dan langit, yaitu bahwa kalau Joko Wandiro merupakan seorang
pemuda yang berbudi mulia, adalah Endang Patibroto merupakan seorang gadis yang
jahat, ganas dan keji seperti iblis!
”Ha-ha-ha-ha!
Tak salah dugaanku, dan memang sudah sepatutnya kau menaruh curiga. Heh,
murid-muridku yang manis. Kalian yang meracik (membuat) semua hidangan ini,
hayo lekas kalian cicipi semua hidangan di depan nona tamu kita yang
terhormat!"
Sambil
tertawa-tawa kecil dengan sikap genit lima orang gadis itu lalu menciduk setiap
hidangan, ditaruh di telapak tangan dan makan semua itu tanpa ragu-ragu lagi.
"Ha-ha-ha,
biarlah air minumnya aku sendiri yang mencicipi" kata Ki Jatoko sambil
menuangkan air kendi ke dalam tempat minumnya, lalu meminum air ini dengan
enak.
Wajah Endang
Patibroto menjadi agak merah, akan tetapi ia menggangguk-angguk puas. Lima
orang gadis itu mengundurkan diri akan tetapi tidak meninggalkan pondok, Siap
menanti perintah untuk melayani guru mereka.
"Baiklah,
aku terima hidanganmu, Ki Jatoko," kata Endang Patibroto.
"Silahkan.
memang seorang yang gagah perkasa seperti engkau ini sudah sepatutnya selalu
waspada untuk menjaga keselamatan diri, Endang Patibroto. Eh, Ayu Candra,
marilah. Makan seadanya, engkau kelihatan amat lelah."
Mereka mulai
makan. Ayu Candra yang diam-diam bermaksud memulihkan tenaga dan kesehatannya,
tanpa ragu-ragu lagi makan sebanyak yang dibutuhkan tubuhnya yang terasa lemas
dan lemah. Juga Endang Patibroto bukan seorang pemalu. Gadis perkasa ini makan
secukupnya dan ternyata semua hidangan itu dimasak oleh seorang ahli sehingga
terasa sedap dan enak.
"Maklumlah
di dusun, yang ada hanya daun-daun dan jamur, tidak ada hidangan yang pantas
seperti ki kota." Ki Jatoko berkata sambil menawarkan setiap masakan.
"Cukup
sedap. Murid-muridmu pandai masak, Ki Jatoko. Belum pernah aku menikmati
masakan jamur seperti ini. Tiada ubahnya daging ayam yang gemuk." Endang
Patibroto memuji.
Setelah makan
kenyang dan minum air kendi, Ayu Candra kelihatan lemas sekali dan akhirnya
gadis ini menumpangkan kepalanya di atas lengan dan ternyata sudah tertidur di
atas meja. Endang Patibroto memandang tajam, kecurigaannya timbul kembali.
"Ha-ha-ha,
kau lihat, Endang Patibroto. Kasihan sekali Ayu Candra. Ia terlalu lelah dan
mengantuk sampai-sampai tertidur di sini. Untung aku segera dapat bertemu
denganmu, kalau tidak... ah, mungkin ia akan kauseret-seret sampai mati!"
Endang
Patibroto menjawab dan memandang tak acuh,
"Dia
sendiri yang mencari mampus”
Ki Jatoko lalu
menyuruh murid-muridnya membawa Ayu Candra ke dalam bilik di sebelah kiri, juga
memerintahkan mereka mengangkat semua bekas hidangan dan membersihkan meja.
Setelah Ayu Candra digotong masuk ke dalam bilik dan meja sudah bersih kembali,
ia berkata,
"Nah,
sekarang silahkan kau mengaso, Endang Patibroto. Besuk masih banyak waktu bagi
kita untuk bicara. Kau mengasolah di bilik sebelah kanan itu."
Endang
Patibroto mengerutkan keningnya.
"Aku ingin
mendengar dulu rahasia yang kau janjikan. Ingat, aku sudah membiarkan gadis itu
hidup dan menyerahkannya kepadamu."
Ki Jatoko
tersenyum.
“Rahasia besar
itu perlu memakan waktu banyak untuk menceritakannya, dan kulihat kau sudah
lelah dan mengantuk."
Barulah terasa
oleh Endang Patibroto betapa kedua matanya terasa sepet dan mengantuk. Memang,
dia sudah lelah dan alangkah akan nikmatnya kalau dapat merebahkan diri di
pembaringan melepas lelah. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya dan berkata,
"Tidak!
Biarpun mengantuk, aku ingin mendengar rahasia itu, kalau-kalau ada rahasia dan
kau tidak membohongiku!"
Dalam ucapan
terakhir ini terdengar suara mengancam sehingga Ki Jatoko diam-diam bergidik.
Gadis ini hebat sekali dan seandainya ia tidak tahu bahwa Bhagawan Kundilomuko
dan murid-muridnya berada di sekitar tempat itu melindunginya, tentu ia akan
menjadi gemetar ketakutan. Ki Jatoko menarik napas panjang.
"Baiklah,
Endang Patibroto. Akan tetapi kuharap engkau tidak akan menjadi kaget dan marah
kalau mendengar aku membuka rahasia besar yang meliputi dirimu. Berjanjilah
dulu bahwa kau tidak akan marah dan bahwa aku sama sekali tidak menceritakan
fitnah dan penghinaan."
"Hemm,
kita lihat saja. Kalau memang ceritamu berdasar kenyataan, tentu saja aku tidak
begitu gila untuk marah-marah kepadamu.”
"Nah, kau
bersiaplah untuk mendengarkan, Endang Patibroto." Ki Jatoko menoleh ke
arah pintu depan pondok.
Murid-muridnya
sudah keluar dari pondok dan keadaan sunyi sekali. Bahkan bunyi pernapasan yang
amat halus dari dalam bilik sebelah kiri, terdengar oleh telinga mereka yang
terlatih. Ayu Candra sudah tidur pulas.
"Endang
Patibroto, sesungguhnya engkau bukan puteri dari Pujo. Dia itu sama sekali
bukan ayah kandungmu!"
Endang
Patibroto menegakkan tubuhnya di atas bangku yang ia duduki. Sepasang mata yang
tadinya sudah mengantuk itu tiba-tiba menjadi terang sinarnya, memandang kepada
wajah Ki Jatoko yang buruk penuh selidik, amat tajam menusuk. Wajah yang cantik
sekali itu menegang dan menjadi agak pucat.
"Apa
alasannya engkau berani mengatakan begitu?"
Pertanyaan ini
terdengar jelas satu-satu, dan diucapkan tenang sekali, terlalu tenang sehingga
menegangkan. Ki Jatoko merasa bahwa kalau dia tidak hati-hati, sekali gadis
perkasa itu turun tangan, ia takkan dapat bercerita lagi selamanya!
"Alasannya
jelas, yaitu karena aku tahu siapa ayahmu yang sebenarnya!"
"Ki
Jatoko, kalau kau membohong aku akan......." Endang Patibroto marah sekali
sehingga cepat-cepat Ki Jatoko mengangkat tangannya memotong,
"Tidak,
Endang Patibroto, aku sama sekali tidak membohong."
"Sudah
jelas bahwa suami ibuku Kartikosari adalah Pujo! Bagaimana kau berani bilang
bahwa Pujo bukan ayahku?"
"Inilah
yang disebut rahasia besar itu. Dengarlah baik-baik, aku akan menceritakan
peristiwa dua puluh tahun yang lalu. Pernahkah ibumu menyebut nama
Jokowanengpati?"
Endang
Patibroto terkejut dan mengangguk.
"Dia
musuh besar ibuku yang sudah dibunuh oleh ibu sendiri?”
Ki Jatoko
tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Tentu
ibumu tidak pernah menceritakan kepadamu apa sebab permusuhan itu, bukan?"
Suara Ki Jatoko makin perlahan dan sudah beberapa kali si buntung ini
menutupkan telapak tangan di depan mulut untuk menguap.
Endang
Patibroto menggeleng kepala. Ia sudah tertarik sekali. Memang benar, ibunya
belum pernah mengatakan mengapa ibunya demikian membenci Jokowanengpati.
Melihat Ki Jatoko beberapa kali menguap, gadis inipun tiba-tiba sadar bahwa
rasa kantuk yang berat juga menyarangnya. Namun dengan pengerahan tenaga, ia
dapat mempertahankannya.
”Hemm, tentu
saja ia tidak dapat menceritakan rahasia besar itu. Terjadinya di dalam sebuah
guha, Endang Patibroto. Guha besar menyeramkan.... Huuaaahh! Aduh, kenapa
mengantuk benar aku? Terlalu lelah terlalu kenyang, menimbulkan kantuk!"
kembali ia menguap.
"Teruskan
ceritamu!" desak Endang Patibroto tak sabar sambil menahan rasa kantuk
yang makin hebat menekan mata.
Ki Jatoko
mengucek-ngucek mata, diam-diam ia merasa amat kaget dan kagum melihat gadis
itu. Benar-benar seorang gadis yang sakti mandraguna dan luar biasa, bahkan
mengerikan! Semua hidangan tadi, sampaipun air kendinya, terutama sekali
jamurnya, mengandung daya yang memabukkan. Ayu Candra jelas terpengaruh
sehingga tertidur di atas meja. Dia sendiri bersama lima orang anak murid
Bhagawan Kundilomuko telah makan obat penawarnya sebelum makan minum sehingga
tentu saja tidak terpengaruh. Akan tetapi Endang Patibroto enak-enak saja,
kelihatannya sama sekali tidak terpengaruh. Dan sekarang, ia tahu dari tempat
yang tidak jauh, diam-diam Sang Bhagawan Kundilomuko telah memasang aji
penyirepan yang luar biasa kuatnya. Dia sendiri walaupun tahu akan usaha sang
bhagawan ini, masih tak dapat menolak pengaruhnya dan mulai mengantuk sekali
sampai berkali-kali menguap. Akan tetapi, Endang Patibroto kelihatannya tenang
saja sama sekali tidak kelihatan mengantuk! Apakah semua ilmu yang dikerahkan
Bhagawan Kundilomuko tidak akan mempan terhadap gadis sakti ini? Ki Jatoko
bergidik. Kalau demikian halnya, berbahayalah!
"Hayo
teruskan ceritamu!" Kembali Endang Patibroto membentak.
Ki Jatoko tersentak
kaget.
"Uaaahhh
mengantuk sekali aku....... ah, ya, aku sedang bercerita. Begini, Endang
Patibroto. Ketika itu pengantin baru Pujo dan Kartikosari memasuki Guha Siluman
tadi untuk melakukan tapa brata. Mereka bertapa dalam keadaan telanjang bulat,
mungkin bertapa untuk mengekalkan kasih sayang antara mereka. Mereka tidak tahu
bahwa di situ sudah ada Jokowanengpati yang juga bertapa.
No comments:
Post a Comment