Badai Laut Selatan ; Bagian 147


Gadis yang paling cantik, yang kedua lengannya memakai gelang hitam berbentuk ular melilit, segera menjawab dengan suara merdu,
"Tidak ada apa-apa yang luar biasa, bapa guru. Kami yang merasa heran mengapa bapa sudah kembali? Apakah secepat itu bapa sudah tiba di Jenggala?"
Ki Jatoko tertawa.
"Kau tahu apa? Lekas sediakan makan minum untuk dua orang nona yang menjadi tamu agung kita!"

Gadis-gadis itu tersenyum dan menyelinap pergi keluar dari dalam pondok. Sambil menggandeng tangan Ayu Candra, Ki Jatoko mempersilahkan Endang Patibroto memasuki pondok. Endang Patibroto menaruh curiga. Betapapun juga, ia tidak dapat mempercaya begitu saja seorang macam Ki Jatoko ini. Akan tetapi, karena ia memandang rendah kepandaian Ki Jatoko, ia tidak menjadi gentar, bahkan tersenyum mengejek. Hendak kulihat, apa yang dapat ia lakukan terhadap diriku, demikian pikirnya. Pondok itu ternyata cukup lebar dan bersih dan di situ terdapat dua buah bilik besar dan di ruangan tengah terdapat meja kursi.
"Hari sudah jauh malam, kulihat engkau dan terutama Ayu Candra ini perlu beristirahat. Harap kau tidak menolak hidangan kami yang sederhana," kata Ki Jatoko.
Endang Patibroto hendak membantah. Ia ingin menuntut agar rahasia yang dijanjikan itu diberitahukan kepadanya sekarang juga. Akan tetapi terpaksa ia menahan niatnya membuka mulut ketika lima orang gadis itu sambil terseyum-senyum manis sudah berserabutan masuk ke pondok sambil membawa bermacam-macam tempat lauk-pauk, nasi dan sebuah kendi besar. Dengan cekatan mereka lalu sibuk mengatur makanan itu di atas meja.
Heran juga hati Endang Patibroto bagaimana mereka itu dapat mempersiapkan hidangan secepat itu. Gadis-gadis ini cekatan sekali. Dan hidangan berupa sayur-mayur dan daging itu dimasak, masih mengepulkan uap yang sedap sehingga perutnya yang memang lapar karena hampir dua hari tidak diisi itu kini mulai terasa lapar. Juga Ayu Candra yang kehabisan tenaga karena lelah dan lapar, diam-diam merasa berterima kasih. Ia harus memperkuat tubuhnya, kemudian baru ia akan menyerang Endang Patibroto, pikirnya. Tentang Ki Jatoko, ia masih ragu-ragu. Benarkah kakek buntung ini jahat dan mempunyai niat busuk seperti yang dikatakan oleh Endang Patibroto? Ah, belum tentu demikian. Bagaimana ia dapat mempercayai seorang seperti Endang Patibroto yang demikian jahat? Akan tetapi, kalau memang Ki Jatoko seorang baik-baik yang hendak menolongnya, mengapa pula si buntung ini begitu baik hubungannya dengan Endang Patibroto? Dan rahasia besar apakah gerangan yang akan mereka bicarakan? Semua teka-teki ini membuat Ayu Candra bingung, akan . tetapi ia lalu menganggap saja bahwa Ki Jatoko juga bukan seorang baik- baik, apalagi setelah melihat murid-muridnya yang terdiri dari gadis-gadis muda dan cantik. Makin curigalah ia terhadap si buntung.

Betapapun lapar perutnya, Endang Patibroto bukan seorang yang ceroboh. Biarpun Ki Jatoko sudah mempersilakankannya, namun ia hanya duduk diam dan memandang semua makanan di atas meja, tanpa menyentuhnya. Melihat ini, Ki Jatoko tertawa.
”Ha-ha-ha, Endang Patibroto. Agaknya engkau menaruh curiga kepada hidangan yang kusuguhkan kepadamu? Kau khawatir kalau-kalau kucampuri racun?"
Endang Patibroto mencibirkan bibirnya yang merah.
"Ki Jatoko, aku tidak tahu siapa sebenarnya engkau ini dan orang macam apa sesungguhnya engkau ini, maka bagaimana mungkin aku dapat percaya begitu saja bersihnya hidangan yang kau suguhkan kepadaku?"
Mendengar ini, Ayu Candra terkejut dan kagum. Biarpun Endang Patibroto seorang iblis betina yang kejam dan ganas, harus diakui bahwa semuda itu sudah memiliki kecerdikan dan kewaspadaan. Ia teringat akan kakak kandungnya, Joko Wandiro. Alangkah sepadan dua orang muda itu, Endang Patibroto dan Joko Wandiro! Keduanya sama muda, sama elok, sama sakti dan dalam banyak hal, mereka mempunyai banyak persamaan yang mengagumkan. Tentu saja terdapat perbedaan yang membuat mereka seperti bumi dan langit, yaitu bahwa kalau Joko Wandiro merupakan seorang pemuda yang berbudi mulia, adalah Endang Patibroto merupakan seorang gadis yang jahat, ganas dan keji seperti iblis!
”Ha-ha-ha-ha! Tak salah dugaanku, dan memang sudah sepatutnya kau menaruh curiga. Heh, murid-muridku yang manis. Kalian yang meracik (membuat) semua hidangan ini, hayo lekas kalian cicipi semua hidangan di depan nona tamu kita yang terhormat!"
Sambil tertawa-tawa kecil dengan sikap genit lima orang gadis itu lalu menciduk setiap hidangan, ditaruh di telapak tangan dan makan semua itu tanpa ragu-ragu lagi.
"Ha-ha-ha, biarlah air minumnya aku sendiri yang mencicipi" kata Ki Jatoko sambil menuangkan air kendi ke dalam tempat minumnya, lalu meminum air ini dengan enak.
Wajah Endang Patibroto menjadi agak merah, akan tetapi ia menggangguk-angguk puas. Lima orang gadis itu mengundurkan diri akan tetapi tidak meninggalkan pondok, Siap menanti perintah untuk melayani guru mereka.
"Baiklah, aku terima hidanganmu, Ki Jatoko," kata Endang Patibroto.
"Silahkan. memang seorang yang gagah perkasa seperti engkau ini sudah sepatutnya selalu waspada untuk menjaga keselamatan diri, Endang Patibroto. Eh, Ayu Candra, marilah. Makan seadanya, engkau kelihatan amat lelah."

Mereka mulai makan. Ayu Candra yang diam-diam bermaksud memulihkan tenaga dan kesehatannya, tanpa ragu-ragu lagi makan sebanyak yang dibutuhkan tubuhnya yang terasa lemas dan lemah. Juga Endang Patibroto bukan seorang pemalu. Gadis perkasa ini makan secukupnya dan ternyata semua hidangan itu dimasak oleh seorang ahli sehingga terasa sedap dan enak.
"Maklumlah di dusun, yang ada hanya daun-daun dan jamur, tidak ada hidangan yang pantas seperti ki kota." Ki Jatoko berkata sambil menawarkan setiap masakan.

"Cukup sedap. Murid-muridmu pandai masak, Ki Jatoko. Belum pernah aku menikmati masakan jamur seperti ini. Tiada ubahnya daging ayam yang gemuk." Endang Patibroto memuji.
Setelah makan kenyang dan minum air kendi, Ayu Candra kelihatan lemas sekali dan akhirnya gadis ini menumpangkan kepalanya di atas lengan dan ternyata sudah tertidur di atas meja. Endang Patibroto memandang tajam, kecurigaannya timbul kembali.
"Ha-ha-ha, kau lihat, Endang Patibroto. Kasihan sekali Ayu Candra. Ia terlalu lelah dan mengantuk sampai-sampai tertidur di sini. Untung aku segera dapat bertemu denganmu, kalau tidak... ah, mungkin ia akan kauseret-seret sampai mati!"
Endang Patibroto menjawab dan memandang tak acuh,
"Dia sendiri yang mencari mampus”

Ki Jatoko lalu menyuruh murid-muridnya membawa Ayu Candra ke dalam bilik di sebelah kiri, juga memerintahkan mereka mengangkat semua bekas hidangan dan membersihkan meja. Setelah Ayu Candra digotong masuk ke dalam bilik dan meja sudah bersih kembali, ia berkata,
"Nah, sekarang silahkan kau mengaso, Endang Patibroto. Besuk masih banyak waktu bagi kita untuk bicara. Kau mengasolah di bilik sebelah kanan itu."
Endang Patibroto mengerutkan keningnya.
"Aku ingin mendengar dulu rahasia yang kau janjikan. Ingat, aku sudah membiarkan gadis itu hidup dan menyerahkannya kepadamu."
Ki Jatoko tersenyum.
“Rahasia besar itu perlu memakan waktu banyak untuk menceritakannya, dan kulihat kau sudah lelah dan mengantuk."
Barulah terasa oleh Endang Patibroto betapa kedua matanya terasa sepet dan mengantuk. Memang, dia sudah lelah dan alangkah akan nikmatnya kalau dapat merebahkan diri di pembaringan melepas lelah. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya dan berkata,
"Tidak! Biarpun mengantuk, aku ingin mendengar rahasia itu, kalau-kalau ada rahasia dan kau tidak membohongiku!"
Dalam ucapan terakhir ini terdengar suara mengancam sehingga Ki Jatoko diam-diam bergidik. Gadis ini hebat sekali dan seandainya ia tidak tahu bahwa Bhagawan Kundilomuko dan murid-muridnya berada di sekitar tempat itu melindunginya, tentu ia akan menjadi gemetar ketakutan. Ki Jatoko menarik napas panjang.
"Baiklah, Endang Patibroto. Akan tetapi kuharap engkau tidak akan menjadi kaget dan marah kalau mendengar aku membuka rahasia besar yang meliputi dirimu. Berjanjilah dulu bahwa kau tidak akan marah dan bahwa aku sama sekali tidak menceritakan fitnah dan penghinaan."
"Hemm, kita lihat saja. Kalau memang ceritamu berdasar kenyataan, tentu saja aku tidak begitu gila untuk marah-marah kepadamu.”
"Nah, kau bersiaplah untuk mendengarkan, Endang Patibroto." Ki Jatoko menoleh ke arah pintu depan pondok.

Murid-muridnya sudah keluar dari pondok dan keadaan sunyi sekali. Bahkan bunyi pernapasan yang amat halus dari dalam bilik sebelah kiri, terdengar oleh telinga mereka yang terlatih. Ayu Candra sudah tidur pulas.
"Endang Patibroto, sesungguhnya engkau bukan puteri dari Pujo. Dia itu sama sekali bukan ayah kandungmu!"
Endang Patibroto menegakkan tubuhnya di atas bangku yang ia duduki. Sepasang mata yang tadinya sudah mengantuk itu tiba-tiba menjadi terang sinarnya, memandang kepada wajah Ki Jatoko yang buruk penuh selidik, amat tajam menusuk. Wajah yang cantik sekali itu menegang dan menjadi agak pucat.
"Apa alasannya engkau berani mengatakan begitu?"
Pertanyaan ini terdengar jelas satu-satu, dan diucapkan tenang sekali, terlalu tenang sehingga menegangkan. Ki Jatoko merasa bahwa kalau dia tidak hati-hati, sekali gadis perkasa itu turun tangan, ia takkan dapat bercerita lagi selamanya!
"Alasannya jelas, yaitu karena aku tahu siapa ayahmu yang sebenarnya!"
"Ki Jatoko, kalau kau membohong aku akan......." Endang Patibroto marah sekali sehingga cepat-cepat Ki Jatoko mengangkat tangannya memotong,
"Tidak, Endang Patibroto, aku sama sekali tidak membohong."
"Sudah jelas bahwa suami ibuku Kartikosari adalah Pujo! Bagaimana kau berani bilang bahwa Pujo bukan ayahku?"
"Inilah yang disebut rahasia besar itu. Dengarlah baik-baik, aku akan menceritakan peristiwa dua puluh tahun yang lalu. Pernahkah ibumu menyebut nama Jokowanengpati?"
Endang Patibroto terkejut dan mengangguk.
"Dia musuh besar ibuku yang sudah dibunuh oleh ibu sendiri?”
Ki Jatoko tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Tentu ibumu tidak pernah menceritakan kepadamu apa sebab permusuhan itu, bukan?" Suara Ki Jatoko makin perlahan dan sudah beberapa kali si buntung ini menutupkan telapak tangan di depan mulut untuk menguap.
Endang Patibroto menggeleng kepala. Ia sudah tertarik sekali. Memang benar, ibunya belum pernah mengatakan mengapa ibunya demikian membenci Jokowanengpati. Melihat Ki Jatoko beberapa kali menguap, gadis inipun tiba-tiba sadar bahwa rasa kantuk yang berat juga menyarangnya. Namun dengan pengerahan tenaga, ia dapat mempertahankannya.
”Hemm, tentu saja ia tidak dapat menceritakan rahasia besar itu. Terjadinya di dalam sebuah guha, Endang Patibroto. Guha besar menyeramkan.... Huuaaahh! Aduh, kenapa mengantuk benar aku? Terlalu lelah terlalu kenyang, menimbulkan kantuk!" kembali ia menguap.
"Teruskan ceritamu!" desak Endang Patibroto tak sabar sambil menahan rasa kantuk yang makin hebat menekan mata.

Ki Jatoko mengucek-ngucek mata, diam-diam ia merasa amat kaget dan kagum melihat gadis itu. Benar-benar seorang gadis yang sakti mandraguna dan luar biasa, bahkan mengerikan! Semua hidangan tadi, sampaipun air kendinya, terutama sekali jamurnya, mengandung daya yang memabukkan. Ayu Candra jelas terpengaruh sehingga tertidur di atas meja. Dia sendiri bersama lima orang anak murid Bhagawan Kundilomuko telah makan obat penawarnya sebelum makan minum sehingga tentu saja tidak terpengaruh. Akan tetapi Endang Patibroto enak-enak saja, kelihatannya sama sekali tidak terpengaruh. Dan sekarang, ia tahu dari tempat yang tidak jauh, diam-diam Sang Bhagawan Kundilomuko telah memasang aji penyirepan yang luar biasa kuatnya. Dia sendiri walaupun tahu akan usaha sang bhagawan ini, masih tak dapat menolak pengaruhnya dan mulai mengantuk sekali sampai berkali-kali menguap. Akan tetapi, Endang Patibroto kelihatannya tenang saja sama sekali tidak kelihatan mengantuk! Apakah semua ilmu yang dikerahkan Bhagawan Kundilomuko tidak akan mempan terhadap gadis sakti ini? Ki Jatoko bergidik. Kalau demikian halnya, berbahayalah!
"Hayo teruskan ceritamu!" Kembali Endang Patibroto membentak.
Ki Jatoko tersentak kaget.
"Uaaahhh mengantuk sekali aku....... ah, ya, aku sedang bercerita. Begini, Endang Patibroto. Ketika itu pengantin baru Pujo dan Kartikosari memasuki Guha Siluman tadi untuk melakukan tapa brata. Mereka bertapa dalam keadaan telanjang bulat, mungkin bertapa untuk mengekalkan kasih sayang antara mereka. Mereka tidak tahu bahwa di situ sudah ada Jokowanengpati yang juga bertapa.

<<< Bagian 146                                                                                     Bagian 148 >>>

No comments:

Post a Comment