Badai Laut Selatan ; Bagian 148


Guha Siluman itu amat gelap. Di antara Jokowanengpati yang tampan dan gagah dan Kartikosari ibumu, memang sebelum ibumu kawin telah ada hubungan cinta kasih. Mereka itu masih saudara seperguruan dan pernah saling berjumpa beberapa kali. Melihat ibumu bersamadhi dalam keadaan telanjang bulat itu, Jokowanengpati tak dapat menahan diri. Cinta kasihnya menggelora dan diam-diam ia mendekati ibumu. Kartikosari memang cinta kepadanya, maka biarpun kaget, menyambutnya dengan mesra. Guha itu gelap sekali sehingga perbuatan dua orang kekasih itu tidak tampak oleh Pujo. Akan tetapi, sepasang kekasih itu dalam mencurahkan kasih sayang terlampau melewati batas sehingga mereka kelelahan dan tertidur saling berpelukan
sampai malam telah lewat. Sinar matahari membuat guha itu agak remang-remang dan tentu saja Pujo melihat keadaan mereka. Hebat kesudahannya. Terjadi pertandingan. Pujo dirobohkan oleh Jokowanengpati yang cepat menyingkir pergi....... auuhhhh.." Kembali Ki Jatoko menguap. Dalam bercerita tadi, belasan kali ia menguap dan suaranya makin lemah.
Endang Patibroto mendengarkan dengan alis berdiri, mata berkilat-kilat dan mukanya sebentar merah sebentar pucat. Kini melihat Ki Jatoko menghentikan ceritanya sambil menundukkan muka dan bernapas berat seperti orang tidur, Endang Patibroto meloncat dan mencengkeram pundak si buntung itu, mengguncangnya keras sekali.
"Hayo lanjutkan! Bedebah ... kuhancurkan kepalamu kalau tidak kaulanjutkan! Awas kau kalau berbohong...!" Suara Endang Patibroto menggigil saking menggeloranya isi dadanya.
Ki Jatoko yang sudah hampir tidak kuat karena pengaruh aji penyirepan yang kuat itu, mengangkat muka. Kesadarannya masih memperingatkan bahwa ia harus bicara terus,
“dia....... Kartikosari lalu pergi....... dan dari perhubungannya dengan Jokowanengpati itu....... terlahirlah engkau.......”

Terdengar jerit melengking keras sekali ketika Endang Patibroto melompat bangun dari duduknya. Demikian hebat jerit ini sehingga Ki Jatoko yang sudah hampir tak kuat menahan kantuknya itu seketika menjadi sadar kembali dan memandang dengan mata terbuka lebar penuh ketakutan.
"Kau bohong.......! Kuhancur leburkan kepalamu.......!!" Endang Patibroto berteriak dan tangan kanannya menghantam ke arah kepala Ki Jatoko.
"Prakkkk.......!!" Hancurlah meja dibelakang Ki Jatoko ketika si buntung ini mengelak dengan cepat sekali. Ia menjadi pucat dan cepat berkata
"Sabarlah, Endang Patibroto. Mengapa engkau menyerangku? Sudah kukatakan bahwa ini rahasia besar........ jangan marah dulu dan dengarlah kata-kataku!"
Endang Patibroto menjadi agak tenang kembali. Dadanya yang membusung itu turun naik seperti bergelombang. Ia berdiri seperti arca memandang Ki Jatoko yang cepat-cepat menyambung ceritanya.
"Endang Patibroto, ceritaku itu berdasarkan kebenaran. Ingat saja, ketika kau masih kecil, bukankah ibumu terpisah dari Pujo? Kalau ceritaku tidak betul, mengapa Kartikosari berpisah dari Pujo di waktu melahirkan engkau? Dan kalau tidak ada peristiwa yang hebat sehingga memisahkan mereka itu, mengapa pula Pujo menikah kembali dengan Roro Luhito, bibi dari Joko Wandiro? Endang Patibroto, pikirlah baik-baik. Untuk apa aku berbohong? Aku... aku dapat .. membuktikan .. aauuuuhhh.. " Ki Jatoko sudah tak dapat menahan lagi kantuknya dan ia roboh terguling, terus saja mendengkur di atas lantai.
Sejenak Endang Patibroto berdiri tertegun. Cerita itu masih mengukir jantung dan benaknya. Terlampau hebat cerita itu. Terlampau parah batinnya terpukul. Kemudian ia memandang Ki Jatoko. Dengan kakinya ia mengguncang-guncang tubuh itu.
"Teruskan! Teruskan ceritamu..!!"
Ia membentak, akan tetapi makin lama makin lirih dan akhirnya ia terisak menangis! Baru sekali ini selama hidupnya Endang Patibroto mengucurkan air mata.
"Kubunuh kau kalau tidak betul.. kubunuh kau.." Berkali-kali ia berkata, suaranya makin lemah dan ia merasa kepalanya pening, tubuhnya lemas, matanya mengantuk sekali. Kesedihan mempunyai daya melemahkan tubuh dan mendatangkan kantuk, sehingga daya itu menambah pengaruh aji penyirepan yang ampuh.

Melihat betapa Ki Jatoko tak mungkin dibangunkan dari tidurnya yang nyenyak. Endang Patibroto merasa bahwa dia harus pula beristirahat. Biarlah, besuk akan kupaksa ia bercerita terus demikian pikirannya yang sudah mulai tertutup oleh kantuk. Ia terhuyung-huyung memasuki kamar sebelah, sebuah kamar yang bersih dan di situ terdapat sebuah pembaringan kayu bertilam yang empuk. Endang Patibroto menghela napas panjang, menggulingkan tubuhnya di atas pembaringan dan matanya dipejamkan. Enak dan sedap sekali rasanya rebah di situ. Pada saat itu, Endang Patibroto membuka matanya tiba-tiba dan meloncat bangun. Gadis sakti ini dalam keadaan seperti itu masih sadar bahwa hal yang ia alami bukan sewajarnya! Belum pernah selama hidupnya ia diserang kantuk dan lemas seperti ini! Akan tetapi begitu meloncat turun, ia terhuyung-huyung dan terpaksa duduk di atas pembaringan, memegangi dahinya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menghunus keris pusaka Brojol Luwuk.
"Keparat, siapa berani main-main denganku..?" bentaknya.
Ia menggoyang-goyangkan kepalanya yang sudah amat berat, lalu memandang ke arah pintu. Pada saat itu, segumpal asap putih, melayang masuk melalui pintu dan celah-celah bilik, asap yang berbau harum sekali, akan tetapi yang memiliki daya yang luar biasa, sehingga Endang Patibroto yang mencium keharuman asap ini terkejut dan maklum bahwa itulah semacam racun pemabuk yang amat berbahaya! Ia mengerahkan hawa sakti di tubuhnya, bangkit berdiri hendak lari keluar dari kamar. Namun, kedua kakinya terasa lemas, kepalanya pening dan kamar serasa berputaran, kemudian ia tak dapat mempertahankan diri lagi, roboh di atas lantai.
Endang Patibroto maklum bahwa ia terkena racun, bahwa ia terperosok kedalam perangkap yang dipasang lawan. Mungkin Ki Jatoko bersekutu dengan orang lain. Ah, kubunuh dia.. kubunuh... dia! Akan tetapi ia hanya dapat merangkak, tak dapat bangun lagi. Celaka, aku akan tertawan. Kalau pusaka ini terampas musuh, habis harapan! Berpikir demikian, gadis yang sakti dan berani ini lalu menggunakan keris pusakanya untuk menggali tanah, kemudian ia menanam keris pusaka Brojol Luwuk di dalam tanah, di lantai kamar itu. Ditutupinya kembali lantai itu dengan jerami kering sehingga tidak tampak bekasnya. Namun ia telah terlampau lama bertahan, terlampau banyak mengerahkan tenaga sakti sehingga setelah ia selesai menanam keris pusaka, begitu ia bernapas panjang dengan lapang, tubuhnya roboh miring di atas lantai dan tertidurlah Endang Patibroto, tidur yang tidak sewajarnya, tidur seperti orang pingsan!

Pasukan Jenggala yang dipimpin oleh Endang Patibroto yang jumlahnya tiga ribu orang, berhenti di dalam hutan di mana mengalir sungai yang jernih itu. Para perwira yang tahu akan kelelahan pasukan, segera memberi komando supaya beristirahat, apalagi ketika melihat bagian depan pasukan menjadi kacau dengan teriakan-teriakan dan tertawaan, seakan-akan ada sesuatu yang menggembirakan mereka. Ketika lima orang perwira itu menghampiri dengan menunggang kuda, mereka tersenyum lebar dan juga terheran-heran. kiranya yang membuat anak buah mereka tadi bersorak-sorak adalah sekumpulan gadis cantik-cantik yang sedang mandi di sungai itu. Mereka terheran karena gadis-gadis itu benar-benar cantik jelita, tidak seperti kebanyakan gadis di dusun. Selain cantik, juga tubuh yang telanjang bulat itu berkulit kuning dan berbentuk indah. Lebih hebat lagi, ketika melihat pasukan yang besar jumlahnya ini, gadis-gadis itu tertawa-tawa genit, kemudian bangkit berdiri dan berlari-lari kecil dalam keadaan telanjang. Jumlah mereka banyak, tidak kurang dari tiga puluh orang! Tentu saja para perajurit Jenggala yang sebagian besar adalah orang-orang yang sudah biasa mengganggu wanita-wanita cantik, setelah diberi waktu beristirahat, kini segera melakukan pengejaran sambil bersorak-sorak.
"Tangkap yang paling cantik untuk perwira-perwira!"
Terdengar teriakan disana-sini dan ributlah keadaan di dalam hutan itu. Gadis-gadis itu berpencaran ke sana-sini sehingga ramai pula mereka yang melakukan pengejaran.
Anehnya, gadis-gadis itu amat cepat gerakannya. Gesit seperti kijang betina muda. Melihat betapa gadis-gadis itu berpencaran dan menyusup-nyusup ke dalam semak dikejar oleh banyak perajurit ini, keadaan di hutan itu tiada ubahnya dengan sekumpulan pemburu mengejar kijang-kijang muda. Tak lama kemudian, kegembiraan para perajurit yang mengejar gadis-gadis itu berubah menjadi jerit maut. Kiranya hutan itu penuh dengan perajurit-perajurit Nusabarung yang bersembunyi dan begitu pasukan Jenggala tercerai-berai dan kacau-balau karena mengejar gadis-gadis cantik, mereka ini muncul dari tempat persembunyiannya dan secara tiba-tiba melakukan serangan! Bahkan gadis-gadis itu sendiri membalik dan dengan senjata tombak yang digerakkan secara cekatan sekali mereka ini merobohkan banyak perajurit yang mengejar mereka.

Memang anak murid Bhagawan Kundilomuko adalah wanita-wanita cantik yang terlatih, memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga terjangan mereka yang mengejutkan ini merobohkan banyak lawan. Sisa perajurit yang tadinya tertawa-tawa di pinggir sungai, kaget mendengar teriakan-teriakan maut teman mereka yang mengejar. Akan tetapi sebelum mereka sempat bersiap, hujan anak panah menyerang mereka dari empat penjuru! Makin panik dan kacau keadaan di situ. Banyak sekali perajurit Jenggala yang terjungkal dan mati seketika tanpa mereka itu tahu siapa yang memanah mereka. Tiba-tiba terdengar sorak-sorai menggegap-gempita dan dari tempat-tempat tersembunyi itu menerjang keluar ribuan orang perajurit Nusabarung. Perang campuh terjadi secara hebat di dalam hutan itu. Akan tetapi karena fihak Jenggala sudah panik dan kacau-balau, tidak ada yang memimpin lagi karena lima orang perwira itu sudah roboh binasa, mereka tertekan hebat dan banyak korban roboh di antara mereka. Akhirnya, hanya beberapa ratus orang perajurit Jenggala yang berhasil melarikan diri, meninggalkan kawan-kawan yang tewas atau terluka berat. Mereka lari pulang ke Jenggala untuk melaporkan malapetaka yang menimpa pasukan mereka itu. Akan tetapi, apakah yang didapatkan prajurit-prajurit pelarian itu ketika mereka mundur dan kembali ke Jenggala? Ternyata pasukan besar dari Nusabarung telah menyerang Jenggala, menimbulkan malapetaka besar di sepanjang jalan. Perampokan, pembunuhan, perkosaan dan pembakaran dusun-dusun dilakukan oleh pasukan Nusabarung yang kejam, bahkan kini pasukan itu sudah mulai menerjang kota raja sehingga terjadi perang hebat
Sisa prajurit-prajurit yang mengundurkan diri ini cepat membantu pasukan teman ketika melihat kota raja terancam. Betapapun juga, pasukan-pasukan Jenggala masih cukup kuat dan di sana masih terdapat banyak senopati yang pandai sehingga setelah berperang sampai sepekan lamanya, barisan musuh dapat dipukul mundur. Namun, mundurnya pasukan Nusabarung sambil membawa banyak sekali barang rampasan, selain harta benda, juga banyak para wanita mereka tawan. Sambil kembali ke Nusabarung untuk menyusun kekuatan baru, mereka membakari rumah-rumah di setiap dusun yang mereka lalui, menyebar maut sehingga keadaan Jenggala menjadi kacau-balau!

Adipati Jagalmanik menjadi girang sekali dengan hasil penyerbuan pertama ini. Sang adipati memuji-muji Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko serta mengirim banyak hadiah ke Durgaloka. Mereka berdua ini segera berjanji kepada adipati di Nusabarung untuk membantu penyerbuan-penyerbuan mendatang sampai Jenggala takluk di bawah kekuasaan Nusabarung. Di lain pihak, adipati itupun menjanjikan pangkat dan kemuliaan. Biarpun pasukan Nusabarung dipukul mundur dan dalam penyerbuan pertama belum berhasil menundukkan Jenggala, namun penyerbuan itu boleh dibilang berhasil baik. Apalagi di samping kemenangan dan banyaknya barang rampasan itu, pasukan Nusabarung juga berhasil menumpas sebagian besar barisan yang dipimpin oleh Endang Patibroto. Tentu saja hal ini membesarkan hati mereka, bahkan para adipati-adipati kecil yang mendengar akan kemenangan Nusabarung, secara suka rela lalu menawarkan bantuan untuk bersekutu dengan harapan kelak akan mendapat bagian hasilnya. Bhagawan Kundilomuko girang setengah mati. Semua siasat Ki Jatoko yang dijalankan ternyata berhasil dengan baiknya. Kakek pendeta ini selain kegirangan mendapat pujian dan hadiah dari Adipati Jagalmanik di Nusabarung, juga ia girang tekali ketika siasat Ki Jatoko untuk memancing dan menawan Endang Patibroto ternyata berhasil baik. Dan gadis itu....... ah, seketika lenyaplah kemarahan dari hati kakek ini ketika ia melihat Endang Patibroto! Gadis yang cantik jelita seperti bidadari! Gadis yang sakti mandraguna! Gadis seperti inilah yang patut menjadi isterinya. Patut dipuja-puja di Durgaloka, disembah-sembah oleh para murid yang juga menjadi selir-selirnya. Juga Ki Jatoko menjadi girang sekali. Ia telah dipuji-puji adipati di Nusabarung. Biarpun kini ia menjadi orang buntung, namun derajatnya sudah terangkat lagi dan masa depannya amat luas dan baik. Kini ia menjadi sekutu dan pembantu Adipati Nusabarung di samping seorang sakti seperti Bhagawan Kundilomuko! Endang Patibroto, gadis yang amat berbahaya itu, sudah dapat ditawan, dan ia sudah mendapatkan kembali Ayu Candra!

<<< Bagian 147                                                                                     Bagian 149 >>>

No comments:

Post a Comment