Guha Siluman itu amat gelap. Di antara Jokowanengpati yang tampan dan gagah dan Kartikosari ibumu, memang sebelum ibumu kawin telah ada hubungan cinta kasih. Mereka itu masih saudara seperguruan dan pernah saling berjumpa beberapa kali. Melihat ibumu bersamadhi dalam keadaan telanjang bulat itu, Jokowanengpati tak dapat menahan diri. Cinta kasihnya menggelora dan diam-diam ia mendekati ibumu. Kartikosari memang cinta kepadanya, maka biarpun kaget, menyambutnya dengan mesra. Guha itu gelap sekali sehingga perbuatan dua orang kekasih itu tidak tampak oleh Pujo. Akan tetapi, sepasang kekasih itu dalam mencurahkan kasih sayang terlampau melewati batas sehingga mereka kelelahan dan tertidur saling berpelukan
sampai malam
telah lewat. Sinar matahari membuat guha itu agak remang-remang dan tentu saja
Pujo melihat keadaan mereka. Hebat kesudahannya. Terjadi pertandingan. Pujo
dirobohkan oleh Jokowanengpati yang cepat menyingkir pergi.......
auuhhhh.." Kembali Ki Jatoko menguap. Dalam bercerita tadi, belasan kali
ia menguap dan suaranya makin lemah.
Endang
Patibroto mendengarkan dengan alis berdiri, mata berkilat-kilat dan mukanya
sebentar merah sebentar pucat. Kini melihat Ki Jatoko menghentikan ceritanya
sambil menundukkan muka dan bernapas berat seperti orang tidur, Endang
Patibroto meloncat dan mencengkeram pundak si buntung itu, mengguncangnya keras
sekali.
"Hayo
lanjutkan! Bedebah ... kuhancurkan kepalamu kalau tidak kaulanjutkan! Awas kau
kalau berbohong...!" Suara Endang Patibroto menggigil saking menggeloranya
isi dadanya.
Ki Jatoko yang
sudah hampir tidak kuat karena pengaruh aji penyirepan yang kuat itu,
mengangkat muka. Kesadarannya masih memperingatkan bahwa ia harus bicara terus,
“dia.......
Kartikosari lalu pergi....... dan dari perhubungannya dengan Jokowanengpati
itu....... terlahirlah engkau.......”
Terdengar
jerit melengking keras sekali ketika Endang Patibroto melompat bangun dari
duduknya. Demikian hebat jerit ini sehingga Ki Jatoko yang sudah hampir tak
kuat menahan kantuknya itu seketika menjadi sadar kembali dan memandang dengan
mata terbuka lebar penuh ketakutan.
"Kau
bohong.......! Kuhancur leburkan kepalamu.......!!" Endang Patibroto
berteriak dan tangan kanannya menghantam ke arah kepala Ki Jatoko.
"Prakkkk.......!!"
Hancurlah meja dibelakang Ki Jatoko ketika si buntung ini mengelak dengan cepat
sekali. Ia menjadi pucat dan cepat berkata
"Sabarlah,
Endang Patibroto. Mengapa engkau menyerangku? Sudah kukatakan bahwa ini rahasia
besar........ jangan marah dulu dan dengarlah kata-kataku!"
Endang
Patibroto menjadi agak tenang kembali. Dadanya yang membusung itu turun naik
seperti bergelombang. Ia berdiri seperti arca memandang Ki Jatoko yang
cepat-cepat menyambung ceritanya.
"Endang
Patibroto, ceritaku itu berdasarkan kebenaran. Ingat saja, ketika kau masih
kecil, bukankah ibumu terpisah dari Pujo? Kalau ceritaku tidak betul, mengapa
Kartikosari berpisah dari Pujo di waktu melahirkan engkau? Dan kalau tidak ada
peristiwa yang hebat sehingga memisahkan mereka itu, mengapa pula Pujo menikah
kembali dengan Roro Luhito, bibi dari Joko Wandiro? Endang Patibroto, pikirlah
baik-baik. Untuk apa aku berbohong? Aku... aku dapat .. membuktikan ..
aauuuuhhh.. " Ki Jatoko sudah tak dapat menahan lagi kantuknya dan ia
roboh terguling, terus saja mendengkur di atas lantai.
Sejenak Endang
Patibroto berdiri tertegun. Cerita itu masih mengukir jantung dan benaknya.
Terlampau hebat cerita itu. Terlampau parah batinnya terpukul. Kemudian ia
memandang Ki Jatoko. Dengan kakinya ia mengguncang-guncang tubuh itu.
"Teruskan!
Teruskan ceritamu..!!"
Ia membentak,
akan tetapi makin lama makin lirih dan akhirnya ia terisak menangis! Baru
sekali ini selama hidupnya Endang Patibroto mengucurkan air mata.
"Kubunuh
kau kalau tidak betul.. kubunuh kau.." Berkali-kali ia berkata, suaranya
makin lemah dan ia merasa kepalanya pening, tubuhnya lemas, matanya mengantuk
sekali. Kesedihan mempunyai daya melemahkan tubuh dan mendatangkan kantuk,
sehingga daya itu menambah pengaruh aji penyirepan yang ampuh.
Melihat betapa
Ki Jatoko tak mungkin dibangunkan dari tidurnya yang nyenyak. Endang Patibroto
merasa bahwa dia harus pula beristirahat. Biarlah, besuk akan kupaksa ia
bercerita terus demikian pikirannya yang sudah mulai tertutup oleh kantuk. Ia
terhuyung-huyung memasuki kamar sebelah, sebuah kamar yang bersih dan di situ
terdapat sebuah pembaringan kayu bertilam yang empuk. Endang Patibroto menghela
napas panjang, menggulingkan tubuhnya di atas pembaringan dan matanya
dipejamkan. Enak dan sedap sekali rasanya rebah di situ. Pada saat itu, Endang
Patibroto membuka matanya tiba-tiba dan meloncat bangun. Gadis sakti ini dalam
keadaan seperti itu masih sadar bahwa hal yang ia alami bukan sewajarnya! Belum
pernah selama hidupnya ia diserang kantuk dan lemas seperti ini! Akan tetapi
begitu meloncat turun, ia terhuyung-huyung dan terpaksa duduk di atas
pembaringan, memegangi dahinya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya
menghunus keris pusaka Brojol Luwuk.
"Keparat,
siapa berani main-main denganku..?" bentaknya.
Ia
menggoyang-goyangkan kepalanya yang sudah amat berat, lalu memandang ke arah
pintu. Pada saat itu, segumpal asap putih, melayang masuk melalui pintu dan
celah-celah bilik, asap yang berbau harum sekali, akan tetapi yang memiliki
daya yang luar biasa, sehingga Endang Patibroto yang mencium keharuman asap ini
terkejut dan maklum bahwa itulah semacam racun pemabuk yang amat berbahaya! Ia
mengerahkan hawa sakti di tubuhnya, bangkit berdiri hendak lari keluar dari
kamar. Namun, kedua kakinya terasa lemas, kepalanya pening dan kamar serasa
berputaran, kemudian ia tak dapat mempertahankan diri lagi, roboh di atas
lantai.
Endang
Patibroto maklum bahwa ia terkena racun, bahwa ia terperosok kedalam perangkap
yang dipasang lawan. Mungkin Ki Jatoko bersekutu dengan orang lain. Ah, kubunuh
dia.. kubunuh... dia! Akan tetapi ia hanya dapat merangkak, tak dapat bangun
lagi. Celaka, aku akan tertawan. Kalau pusaka ini terampas musuh, habis
harapan! Berpikir demikian, gadis yang sakti dan berani ini lalu menggunakan
keris pusakanya untuk menggali tanah, kemudian ia menanam keris pusaka Brojol
Luwuk di dalam tanah, di lantai kamar itu. Ditutupinya kembali lantai itu
dengan jerami kering sehingga tidak tampak bekasnya. Namun ia telah terlampau
lama bertahan, terlampau banyak mengerahkan tenaga sakti sehingga setelah ia
selesai menanam keris pusaka, begitu ia bernapas panjang dengan lapang,
tubuhnya roboh miring di atas lantai dan tertidurlah Endang Patibroto, tidur
yang tidak sewajarnya, tidur seperti orang pingsan!
Pasukan Jenggala
yang dipimpin oleh Endang Patibroto yang jumlahnya tiga ribu orang, berhenti di
dalam hutan di mana mengalir sungai yang jernih itu. Para perwira yang tahu
akan kelelahan pasukan, segera memberi komando supaya beristirahat, apalagi
ketika melihat bagian depan pasukan menjadi kacau dengan teriakan-teriakan dan
tertawaan, seakan-akan ada sesuatu yang menggembirakan mereka. Ketika lima
orang perwira itu menghampiri dengan menunggang kuda, mereka tersenyum lebar
dan juga terheran-heran. kiranya yang membuat anak buah mereka tadi
bersorak-sorak adalah sekumpulan gadis cantik-cantik yang sedang mandi di
sungai itu. Mereka terheran karena gadis-gadis itu benar-benar cantik jelita,
tidak seperti kebanyakan gadis di dusun. Selain cantik, juga tubuh yang telanjang
bulat itu berkulit kuning dan berbentuk indah. Lebih hebat lagi, ketika melihat
pasukan yang besar jumlahnya ini, gadis-gadis itu tertawa-tawa genit, kemudian
bangkit berdiri dan berlari-lari kecil dalam keadaan telanjang. Jumlah mereka
banyak, tidak kurang dari tiga puluh orang! Tentu saja para perajurit Jenggala
yang sebagian besar adalah orang-orang yang sudah biasa mengganggu
wanita-wanita cantik, setelah diberi waktu beristirahat, kini segera melakukan
pengejaran sambil bersorak-sorak.
"Tangkap
yang paling cantik untuk perwira-perwira!"
Terdengar
teriakan disana-sini dan ributlah keadaan di dalam hutan itu. Gadis-gadis itu
berpencaran ke sana-sini sehingga ramai pula mereka yang melakukan pengejaran.
Anehnya,
gadis-gadis itu amat cepat gerakannya. Gesit seperti kijang betina muda.
Melihat betapa gadis-gadis itu berpencaran dan menyusup-nyusup ke dalam semak
dikejar oleh banyak perajurit ini, keadaan di hutan itu tiada ubahnya dengan
sekumpulan pemburu mengejar kijang-kijang muda. Tak lama kemudian, kegembiraan
para perajurit yang mengejar gadis-gadis itu berubah menjadi jerit maut.
Kiranya hutan itu penuh dengan perajurit-perajurit Nusabarung yang bersembunyi
dan begitu pasukan Jenggala tercerai-berai dan kacau-balau karena mengejar
gadis-gadis cantik, mereka ini muncul dari tempat persembunyiannya dan secara
tiba-tiba melakukan serangan! Bahkan gadis-gadis itu sendiri membalik dan
dengan senjata tombak yang digerakkan secara cekatan sekali mereka ini
merobohkan banyak perajurit yang mengejar mereka.
Memang anak
murid Bhagawan Kundilomuko adalah wanita-wanita cantik yang terlatih, memiliki
ilmu kepandaian tinggi sehingga terjangan mereka yang mengejutkan ini
merobohkan banyak lawan. Sisa perajurit yang tadinya tertawa-tawa di pinggir
sungai, kaget mendengar teriakan-teriakan maut teman mereka yang mengejar. Akan
tetapi sebelum mereka sempat bersiap, hujan anak panah menyerang mereka dari
empat penjuru! Makin panik dan kacau keadaan di situ. Banyak sekali perajurit
Jenggala yang terjungkal dan mati seketika tanpa mereka itu tahu siapa yang
memanah mereka. Tiba-tiba terdengar sorak-sorai menggegap-gempita dan dari
tempat-tempat tersembunyi itu menerjang keluar ribuan orang perajurit
Nusabarung. Perang campuh terjadi secara hebat di dalam hutan itu. Akan tetapi
karena fihak Jenggala sudah panik dan kacau-balau, tidak ada yang memimpin lagi
karena lima orang perwira itu sudah roboh binasa, mereka tertekan hebat dan
banyak korban roboh di antara mereka. Akhirnya, hanya beberapa ratus orang
perajurit Jenggala yang berhasil melarikan diri, meninggalkan kawan-kawan yang
tewas atau terluka berat. Mereka lari pulang ke Jenggala untuk melaporkan
malapetaka yang menimpa pasukan mereka itu. Akan tetapi, apakah yang didapatkan
prajurit-prajurit pelarian itu ketika mereka mundur dan kembali ke Jenggala?
Ternyata pasukan besar dari Nusabarung telah menyerang Jenggala, menimbulkan
malapetaka besar di sepanjang jalan. Perampokan, pembunuhan, perkosaan dan
pembakaran dusun-dusun dilakukan oleh pasukan Nusabarung yang kejam, bahkan
kini pasukan itu sudah mulai menerjang kota raja sehingga terjadi perang hebat
Sisa
prajurit-prajurit yang mengundurkan diri ini cepat membantu pasukan teman
ketika melihat kota raja terancam. Betapapun juga, pasukan-pasukan Jenggala
masih cukup kuat dan di sana masih terdapat banyak senopati yang pandai
sehingga setelah berperang sampai sepekan lamanya, barisan musuh dapat dipukul
mundur. Namun, mundurnya pasukan Nusabarung sambil membawa banyak sekali barang
rampasan, selain harta benda, juga banyak para wanita mereka tawan. Sambil
kembali ke Nusabarung untuk menyusun kekuatan baru, mereka membakari
rumah-rumah di setiap dusun yang mereka lalui, menyebar maut sehingga keadaan
Jenggala menjadi kacau-balau!
Adipati
Jagalmanik menjadi girang sekali dengan hasil penyerbuan pertama ini. Sang
adipati memuji-muji Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko serta mengirim banyak
hadiah ke Durgaloka. Mereka berdua ini segera berjanji kepada adipati di
Nusabarung untuk membantu penyerbuan-penyerbuan mendatang sampai Jenggala
takluk di bawah kekuasaan Nusabarung. Di lain pihak, adipati itupun menjanjikan
pangkat dan kemuliaan. Biarpun pasukan Nusabarung dipukul mundur dan dalam
penyerbuan pertama belum berhasil menundukkan Jenggala, namun penyerbuan itu
boleh dibilang berhasil baik. Apalagi di samping kemenangan dan banyaknya
barang rampasan itu, pasukan Nusabarung juga berhasil menumpas sebagian besar
barisan yang dipimpin oleh Endang Patibroto. Tentu saja hal ini membesarkan
hati mereka, bahkan para adipati-adipati kecil yang mendengar akan kemenangan
Nusabarung, secara suka rela lalu menawarkan bantuan untuk bersekutu dengan
harapan kelak akan mendapat bagian hasilnya. Bhagawan Kundilomuko girang
setengah mati. Semua siasat Ki Jatoko yang dijalankan ternyata berhasil dengan
baiknya. Kakek pendeta ini selain kegirangan mendapat pujian dan hadiah dari
Adipati Jagalmanik di Nusabarung, juga ia girang tekali ketika siasat Ki Jatoko
untuk memancing dan menawan Endang Patibroto ternyata berhasil baik. Dan gadis
itu....... ah, seketika lenyaplah kemarahan dari hati kakek ini ketika ia
melihat Endang Patibroto! Gadis yang cantik jelita seperti bidadari! Gadis yang
sakti mandraguna! Gadis seperti inilah yang patut menjadi isterinya. Patut
dipuja-puja di Durgaloka, disembah-sembah oleh para murid yang juga menjadi
selir-selirnya. Juga Ki Jatoko menjadi girang sekali. Ia telah dipuji-puji
adipati di Nusabarung. Biarpun kini ia menjadi orang buntung, namun derajatnya
sudah terangkat lagi dan masa depannya amat luas dan baik. Kini ia menjadi
sekutu dan pembantu Adipati Nusabarung di samping seorang sakti seperti
Bhagawan Kundilomuko! Endang Patibroto, gadis yang amat berbahaya itu, sudah
dapat ditawan, dan ia sudah mendapatkan kembali Ayu Candra!
No comments:
Post a Comment