Alangkah baik nasibnya! Dan kini maklumlah ia bahwa amat tidak mungkin kalau ia mengharapkan balas cinta kasih seorang gadis muda belia dan cantik jelita seperti Ayu Candra. Hanya dengan cara yang tidak wajar saja ia boleh mengharapkan cinta kasih Ayu Candra!
Dengan
guna-guna, yaitu Aji Guno-asmoro, akan tetapi tidak cukup kuat untuk
mempengaruhi seorang gadis yang berwatak bersih seperti Ayu Candra. Hanya
seorang saja di dunia ini yang dapat membantunya. Bhagawan Kundilomuko! Kakek
ini seorang ahli ilmu hitam, ahli sihir, dan ahli ramu-ramuan beracun yang
memabokkan! Ketika Ki Jatoko mengajukan permohonannya kepada kakek itu untuk
menolongnya "menundukkan" Ayu Candra, kakek itu tertawa bergelak
sambil mengelus-elus jenggotnya yang putih.
"Ha-ha-ha-ha!
Anak-mas Jatoko, tentu saja aku akan menolongmu. Kita sudah menjadi
sahabat-sahabat baik, harus bantu-membantu dan tolong-menolong. Memang sudah
semestinya orang-orang macam kita ini menggunakan kekuatan ilmu untuk
menundukkan gadis-gadis cantik jelita yang muda belia. Untuk mendapatkan Endang
Patibroto, aku harus menggunakan jampi-jampi. Ha-ha-ha! Kalau tidak, mana
mungkin orang seperti Ayu Candra suka melayani seorang seperti kau dan si
cantik jelita Endang Patibroto mau melayani seorang kakek macam aku?
Ha-ha-ha!" Sungguh mengerikan dan berbahaya sekali nasib Ayu Candra dan
Endang Patibroto terjatuh ke tangan dua orang yang berwatak rendah dan keji
ini. Sebelum Endang Patibroto dan Ayu Candra sadar daripada pengaruh aji penyirepan
dan jampi, mereka berdua dicekoki (diberi minum dengan paksa) jamu yang terdiri
dari ramuan akar-akar dan daun-daun yang mempunyai khasiat penghapus ingatan!
Karena Bhagawan Kundilomuko maklum akan kesaktian Endang Patibroto, maka ia
bersabar diri dan setiap hari menyuruh anak muridnya memberi minum jamu yang
beracun itu sehingga keadaan Endang Patibroto dan juga Ayu Candra seperti
patung hidup.
Mereka berdua
sudah sadar dari tidur, akan tetapi ingatan mereka tertutup awan tebal. Endang
Patibroto duduk seperti arca matanya melamun memandang jauh sekali. Ia selalu
menurut saja setiap kali seorang pelayan menyuruhnya minum, makan atau tidur.
Kalau mulutnya mengeluarkan bunyi, yang keluar hanya,
"Kubunuh
engkau, buntung...! Kubunuh engkau... "
Keadaan Ayu
Candra juga sama dengan keadaan Endang Patibroto. Hanya bedanya,
bisikan-bisikan yang keluar dari mulutnya hanyalah,
"Kakang
Joko Wandiro....... kakang Joko Wandiro... !" Hal ini adalah karena
sebelum jatuh pulas, ingatannya yang terakhir tertuju kepada Joko Wandiro.
Adapun Endang
Patibroto sebelum roboh oleh pengaruh penyirepan, teringat kepada Ki Jatoko,
maklum bahwa ia dijebak dan karenanya ia ingin membunuh orang buntung itu. Ki
Jatoko kecewa melihat keadaan Ayu Candra yang seperti patung hidup itu. Ia
bukan menghendaki gadis itu tak berdaya, karena kalau hanya demikian yang ia
kehendaki, tanpa bantuan Bhagawan Kundilomuko sekalipun ia sanggup menggunakan
kepandaiannya menggagahi Ayu Candra. Dengan kepandaiannya ia sanggup membuat
gadis itu tidak berdaya. Maka ia menyampaikan kekecewaannya kepada Bhagawan
Kundilomuko.
"Ha-ha-ha-ha,
anak-mas Jatoko, mengapa begitu tak sabar dan tergesa-gesa? Tentu saja tidak
hanya sampai di sini. anak-mas. Aku sendiripun tentu saja tak suka dilayani
Endang Patibroto yang seperti mayat hidup. Heh-heh-heh, apakah anak tidak
melihat bagaimana murid-muridku yang denok ayu itu melayani aku dengan
penyerahan diri sebulatnya dan disertai kasih sayang mesra?"
"Saya
percaya, paman, dan itulah yang saya harapkan dari Ayu Candra.".
"Tentu,
tentu! Akupun menghendaki demikian dari Endang Patibroto. Akan tetapi tidak
sekarang. Aku membuat mereka kehilangan ingatan agar mereka itu menjadi penurut
dan tidak membantah semua apa yang kita perintahkan. Nanti, bersabarlah.
Sepekan lagi bulan purnama akan muncul, di sini akan diadakan perayaan pesta
pemujaan Sang Hyang Bathari, Pada malam itulah, dengan berkah dan cahaya Sang
Hyang Bathari, kita akan memberi minum anggur darah kepada mempelai kita
masing-masing, heh-heh-heh!"
Sepasang mata
Ki Jatoko bersinar-sinar penuh nafsu.
"Apakah
anggur darah itu, paman? Dan mengapa ada mempelai? Siapa yang akan kawin?"
"Ha-ha-ha,
heh-heh, siapa lagi kalau bukan kita? Pengantin kembar, ha-ha-ha! Engkau dengan
Ayu Candra, aku dengan Endang Patibroto si cantik manis, si denok montok, si
ayu kuning, ha-ha-ha"
"Cocok
dengan dugaanku dahulu, paman. Bukankah Endang Patibroto benar-benar cantik
seperti dewi kahyangan? Apakah sekarang paman masih berniat membunuhnya?"
"Wah-wah,
eman-eman (sayang) kalau dibunuh! Memang kau benar, anak-mas. Tentang anggur
darah itu, ha-ha-ha, kaulihat sendiri nanti. Kau akan payah menghadapi
tantangan dan kemesraan Ayu Candra, ha-ha-heh heh-heh!"
Keduanya makan
minum dengan gembira, dilayani anak-anak murid sang bhagawan yang cantik-cantik
dan genit-genit. Ki Jatoko merasa tak sabar lagi menanti datangnya malam bulan
purnama. Bhagawan Kundilomuko maklum akan hal ini, maka sebagai pengobat rindu,
ia memerintahkan seorang di antara anak muridnya yang cantik untuk menjadi
kawan Ki Jatoko dan melayani si buntung itu!
Memang,
semenjak jaman dahulu kala sampai sekarang inipun, manusia merupakan mahluk
yang paling lemah menghadapi keliaran nafsu-nafsu mereka sendiri. Setelah
menjadi hamba nafsu, lenyaplah keagungan seorang manusia dan ia tidak akan
segan-segan untuk melakukan segala macam perbuatan rendah. Gila akan kedudukan,
akan harta benda, kemuliaan, nama besar, pemuasan panca indra, pemuasan nafsu
berahi, semua itu timbul sebagai akibat daripada kelemahan menghadapi nafsu
pribadi. Sekali menjadi hamba nafsu, manusia tidak segan-segan melakukan segala
macam daya upaya tanpa memperhitungkan lagi baik jahatnya, demi pemuasan
nafsunya sendiri yang dipertuan. Dan inilah jalan menuju ke segala macam
kesengsaraan. Tuhan pencipta sekalian alam semesta, telah memberi petunjuk dan
peringatan melalui kekuasaan alamNya kepada manusia. Namun, sekali manusia
diperhamba nafsu, ia seakan-akan buta dan tuli. Seorang pendeta ahli tapa
seperti Bhagawan Kundilomuko, setelah menjadi hamba nafsu, menjadi seperti buta
pula. Rambutnya sudah putih semua, hal sepele (sederhana) ini saja sudah
merupakan nasehat dan peringatan, bahwa usia tua mendatangkan rambut putih
berarti si manusia supaya memikirkan hal yang bersih-bersih saja seperti warna
rambut yang menyelimuti kepalanya! Namun sayang, setua itu masih saja ia picik
dan lemah. Nafsu, terutama nafsu berahi, memang seperti anggur yang keras
memabukkan. Sekali orang mencucupnya, ia akan menghendaki lebih dan lebih dan
lebih, tak kunjung puas. Karena itu, semenjak dahulu kala sampai sekarang
inipun, bahagialah dia yang selalu eling (ingat) dan waspada. Ingat kepada
Hyang Maha Wisesa dan waspada terhadap dirinya sendiri. Waspada dalam arti kata
awas dan hati-hati meneliti budi pekerti dan tindak-tanduknya sendiri. Kokoh
dan teguh dalam menghadapi godaan nafsu pribadi sehingga akhirnya bukan dia
yang diperhamba nafsu, melainkan nafsu yang diperhambanya. Nafsu hanya sekedar
alat hidup yang dipergunakan seperlunya, pada waktu, tempat, dan keadaan yang
tepat sebagai pelengkap hidup.
Malam bulan
purnama yang dinanti nanti itu akhirnya tiba juga. Semenjak sore hari,
pertapaan Durgaloka telah dihias megah. Daun-daun, kembang-kembang dan janur
(pupus daun kelapa) yang dianyam dan dibentuk beraneka macam menghias
pertapaan, terutama sekali bangsal besar tempat yang khusus dibuat sebagai
tempat pemujaan Bathari Durgo, yaitu di bawah pohon waringin, dekat sumber mata
air Sungai Bondoyudo. Tempat pemujaan itu terbuka dan agak tinggi semacam
panggung, lebih dari dua puluh lima meter lebarnya. Tempat ini dihias dengan
bunga-bunga. Semua anak murid Bhagawan Kundilomuko sudah siap berkumpul. Lima
belas murid pria menabuh gamelan, yang lima belas orang lagi membawa obor dan
berdiri mengelilingi tempat pemujaan itu. Murid perempuan berjumlah semua
seratus dua puluh orang! Kini sebagian menjaga sekitar pertapaan secara
bergilir, sebagian pula sibuk di dapur, sebagian sibuk mempersiapkan kebutuhan
upacara pemujaan, dan sebagian pula yang bertugas sebagai penyanyi dan penari
sibuk bersolek. Semua orang bergembira ria. Tentu saja dua orang tidak tampak
gembira. Mereka ini adalah Ayu Candra dan Endang Patibroto. Dua orang gadis
tawanan ini duduk di atas bangku dalam biliknya, duduk melamun seperti patung,
dijaga masing-masing oleh lima orang wanita. Di tengah-tengah pemujaan itu
terdapat sebuah patung Bathari Durgo yang amat indah dan seolah-olah hidup.
Patung itu sebesar manusia, mengenakan pakaian sutera serba indah dan mahal,
bahkan tubuhnya memakai perhiasan-perhiasan emas permata yang gilang-gemilang.
Ketika bulan purnama mulai muncul, gamelan ditabuh keras dan meriah. Suara
gamelan ini aneh dan tidak sama dengan gamelan biasa, juga lagu dan iramanya
liar merangsang. Gadis-gadis yang duduk bersimpuh di pinggir tempat upacara
berlutut menyembah ketika Sang Bhagawan Kundilomuko muncul bersama Ki Jatoko.
Mereka inipun sudah berpakaian serba indah sehingga Ki Jatoko yang buntung dan
berwajah buruK itu kini kelihatan tidak begitu buruk dan agak gagah. Dengan
lagak yang berwibawa, Bhagawan Kundilomuko mengangkat tangan kanan ke atas
sebagai balasan salam kepada murid-muridnya, kemudian ia duduk di atas kursi
yang sudah dihias, di sebelah kanan patung Bathari Durgo. Ki Jatoko juga
dipersilahkan duduk di atas sebuah kursi yang lebih kecil, agak jauh menghadap
pendeta itu dan patung dewinya. Dilihat dari jauh, seolah-olah Bhagawan
Kundilomuko duduk berdua dengan isterinya, seorang dewi yang berwajah cantik
namun menyeramkan. Di bawah permainan api obor yang bergerak-gerak, sepasang
mata patung itu seperti melirik-lirik, bibirnya seperti tersenyum-senyum! Di
sebelah kanan Sang Bhagawan Kundilomuko terdapat sebuah kursi kosong, demikian
pula di sebelah kanan Ki Jatoko terdapat sebuah kursi kosong. Tak lama
kemudian, gamelan ditabuh lebih lambat dan perlahan, kemudian dari dalam pondok
keluarlah menuju ke tempat itu dua orang gadis yang cantik jelita dan
berpakaian sutera putih indah sekali. Mereka itu bukan lain adalah Ayu Candra
dan Endang Patibroto! Mereka masing-masing dituntun oleh dua orang anak murid sang
bhagawan dan kini menaiki anak tangga ke tempat pemujaan. Pakaian sutera putih
yang membungkus tubuh mereka itu amat tipis dan halus sehingga di bawah sinar
bulan purnama dibantu sinar-sinar api obor, tampaklah tubuh mereka membayang,
elok menggairahkan. Mereka itu berjalan seperti mayat hidup, menurut saja
ketika pelayan-pelayan itu menggandeng mereka dan menyuruh mereka bersama
berlutut dan menyembah patung Bathari Durgo. Setelah itu, pelayan-pelayan atau
anak murid sang bhagawan mengundurkan diri.
Ki Jatoko yang
sudah diberi tahu jalannya upacara, sebagai "mempelai pria" bangkit
dari kursinya, menghampari Ayu Candra yang masih berlutut di depan patung itu,
menariknya bangun dan menggandengnya dengan senyum dan pandang mata mesra,
membawanya ke tempat duduknya dan menyuruhnya duduk di atas kursi sebelah
kanannya. Juga Bhagawan Kundilomuko sudah menggandeng tangan Endang Patibroto
dan mendudukkan gadis jelita itu sampingnya. Gamelan kini berbunyi gencar dan
ramai serta meriah sekali? Beberapa orang gadis yang cantik dan lincah dating
berlari-lari membawa buah-buah dan minuman untuk "dua pasang
mempelai". Karena ingatan mereka kosong akibat cekokan jampi setiap hari
selama dua pekan lebih, Ayu Candra dan Endang Patibroto tidak dapat mengingat maupun
berpikir apa-apa. Ketika ditawari buah oleh "mempelai laki-laki",
mereka mengambil dan makan buah itu secara otomatis. Mulailah kini dihidangkan
tari-tarian oleh belasan orang gadis yang berpakaian indah beraneka warna.
Sebelum menari, mereka ini berjongkok menyembah patung Bathary Durgo, lalu
menyebarkan kembang yang sejak tadi dibawa dengan selendang mereka. Tubuh
patung itu penuh bunga, demikian pula di sekitarnya, di atas lantai penuh
bunga. Patung itu seakan-akan memperlebar senyumnya. Kemudian gadis-gadis itu
menari indah, seperti kupu-kupu beterbangan. Pakaian mereka dari sutera tipis,
berkibar-kibar ketika mereka bergerak setengah berlari Setelah tari permulaan
sebagai pemuja Sang Bathari ini selesai dan para penari turun kembali dari
tempat itu, mendadak semua obor yang dipegang oleh lima belas orang anak murid
pria dipadamkan. Kini tempat Itu hanya diterangi oleh sinar bulan purnama.
Langit terang-benderang. Keadaan amat romantis dan indah. Bunyi gamelan juga
berbeda daripada tadi, kini amat luar biasa iramanya. Kemudian terdengar
nyanyian koor belasan orang gadis, makin lama rnakin nyaring mengiringi
munculnya serombongan penari baru yang keluar dari dalam pondok dekat tempat
pemujaan. Begitu tiba di tempat pemujaan, gadis-gadis penari yang jumlahnya tiga
puluh orang ini, murid-murid yang tercantik dari Bhagawan Kundilomuko, dipimpin
oleh lima orang muridnya tersayang, sudah berjalan jongkok lalu berlutut di
depan patung Bathari Durgo. Mulailah mereka mengikuti para penyanyi,
menyanyikan lagu puja-puji kepada Sang Bathari.
Upacara
pemujaan dimulailah. Bhagawan Kundilomuko bangkit dari kursinya, lalu
menghampiri seorang anak murid yang membawa bokor emas berisi air kembang.
Diambilnya setangkai bunga, dicelup ke dalam "air suci" ini dan
dipercik-percikkan ke arah patung. Kemudian ia menuangkan secawan anggur,
membawa cawan itu ke dekat mulut patung sampai menempel bibirnya, kemudian ia
menaruh cawan di depan patung.
No comments:
Post a Comment