Badai Laut Selatan ; Bagian 149


Alangkah baik nasibnya! Dan kini maklumlah ia bahwa amat tidak mungkin kalau ia mengharapkan balas cinta kasih seorang gadis muda belia dan cantik jelita seperti Ayu Candra. Hanya dengan cara yang tidak wajar saja ia boleh mengharapkan cinta kasih Ayu Candra!

Dengan guna-guna, yaitu Aji Guno-asmoro, akan tetapi tidak cukup kuat untuk mempengaruhi seorang gadis yang berwatak bersih seperti Ayu Candra. Hanya seorang saja di dunia ini yang dapat membantunya. Bhagawan Kundilomuko! Kakek ini seorang ahli ilmu hitam, ahli sihir, dan ahli ramu-ramuan beracun yang memabokkan! Ketika Ki Jatoko mengajukan permohonannya kepada kakek itu untuk menolongnya "menundukkan" Ayu Candra, kakek itu tertawa bergelak sambil mengelus-elus jenggotnya yang putih.
"Ha-ha-ha-ha! Anak-mas Jatoko, tentu saja aku akan menolongmu. Kita sudah menjadi sahabat-sahabat baik, harus bantu-membantu dan tolong-menolong. Memang sudah semestinya orang-orang macam kita ini menggunakan kekuatan ilmu untuk menundukkan gadis-gadis cantik jelita yang muda belia. Untuk mendapatkan Endang Patibroto, aku harus menggunakan jampi-jampi. Ha-ha-ha! Kalau tidak, mana mungkin orang seperti Ayu Candra suka melayani seorang seperti kau dan si cantik jelita Endang Patibroto mau melayani seorang kakek macam aku? Ha-ha-ha!" Sungguh mengerikan dan berbahaya sekali nasib Ayu Candra dan Endang Patibroto terjatuh ke tangan dua orang yang berwatak rendah dan keji ini. Sebelum Endang Patibroto dan Ayu Candra sadar daripada pengaruh aji penyirepan dan jampi, mereka berdua dicekoki (diberi minum dengan paksa) jamu yang terdiri dari ramuan akar-akar dan daun-daun yang mempunyai khasiat penghapus ingatan! Karena Bhagawan Kundilomuko maklum akan kesaktian Endang Patibroto, maka ia bersabar diri dan setiap hari menyuruh anak muridnya memberi minum jamu yang beracun itu sehingga keadaan Endang Patibroto dan juga Ayu Candra seperti patung hidup.
Mereka berdua sudah sadar dari tidur, akan tetapi ingatan mereka tertutup awan tebal. Endang Patibroto duduk seperti arca matanya melamun memandang jauh sekali. Ia selalu menurut saja setiap kali seorang pelayan menyuruhnya minum, makan atau tidur. Kalau mulutnya mengeluarkan bunyi, yang keluar hanya,
"Kubunuh engkau, buntung...! Kubunuh engkau... "
Keadaan Ayu Candra juga sama dengan keadaan Endang Patibroto. Hanya bedanya, bisikan-bisikan yang keluar dari mulutnya hanyalah,
"Kakang Joko Wandiro....... kakang Joko Wandiro... !" Hal ini adalah karena sebelum jatuh pulas, ingatannya yang terakhir tertuju kepada Joko Wandiro.

Adapun Endang Patibroto sebelum roboh oleh pengaruh penyirepan, teringat kepada Ki Jatoko, maklum bahwa ia dijebak dan karenanya ia ingin membunuh orang buntung itu. Ki Jatoko kecewa melihat keadaan Ayu Candra yang seperti patung hidup itu. Ia bukan menghendaki gadis itu tak berdaya, karena kalau hanya demikian yang ia kehendaki, tanpa bantuan Bhagawan Kundilomuko sekalipun ia sanggup menggunakan kepandaiannya menggagahi Ayu Candra. Dengan kepandaiannya ia sanggup membuat gadis itu tidak berdaya. Maka ia menyampaikan kekecewaannya kepada Bhagawan Kundilomuko.
"Ha-ha-ha-ha, anak-mas Jatoko, mengapa begitu tak sabar dan tergesa-gesa? Tentu saja tidak hanya sampai di sini. anak-mas. Aku sendiripun tentu saja tak suka dilayani Endang Patibroto yang seperti mayat hidup. Heh-heh-heh, apakah anak tidak melihat bagaimana murid-muridku yang denok ayu itu melayani aku dengan penyerahan diri sebulatnya dan disertai kasih sayang mesra?"
"Saya percaya, paman, dan itulah yang saya harapkan dari Ayu Candra.".
"Tentu, tentu! Akupun menghendaki demikian dari Endang Patibroto. Akan tetapi tidak sekarang. Aku membuat mereka kehilangan ingatan agar mereka itu menjadi penurut dan tidak membantah semua apa yang kita perintahkan. Nanti, bersabarlah. Sepekan lagi bulan purnama akan muncul, di sini akan diadakan perayaan pesta pemujaan Sang Hyang Bathari, Pada malam itulah, dengan berkah dan cahaya Sang Hyang Bathari, kita akan memberi minum anggur darah kepada mempelai kita masing-masing, heh-heh-heh!"
Sepasang mata Ki Jatoko bersinar-sinar penuh nafsu.
"Apakah anggur darah itu, paman? Dan mengapa ada mempelai? Siapa yang akan kawin?"
"Ha-ha-ha, heh-heh, siapa lagi kalau bukan kita? Pengantin kembar, ha-ha-ha! Engkau dengan Ayu Candra, aku dengan Endang Patibroto si cantik manis, si denok montok, si ayu kuning, ha-ha-ha"
"Cocok dengan dugaanku dahulu, paman. Bukankah Endang Patibroto benar-benar cantik seperti dewi kahyangan? Apakah sekarang paman masih berniat membunuhnya?"
"Wah-wah, eman-eman (sayang) kalau dibunuh! Memang kau benar, anak-mas. Tentang anggur darah itu, ha-ha-ha, kaulihat sendiri nanti. Kau akan payah menghadapi tantangan dan kemesraan Ayu Candra, ha-ha-heh heh-heh!"
Keduanya makan minum dengan gembira, dilayani anak-anak murid sang bhagawan yang cantik-cantik dan genit-genit. Ki Jatoko merasa tak sabar lagi menanti datangnya malam bulan purnama. Bhagawan Kundilomuko maklum akan hal ini, maka sebagai pengobat rindu, ia memerintahkan seorang di antara anak muridnya yang cantik untuk menjadi kawan Ki Jatoko dan melayani si buntung itu!

Memang, semenjak jaman dahulu kala sampai sekarang inipun, manusia merupakan mahluk yang paling lemah menghadapi keliaran nafsu-nafsu mereka sendiri. Setelah menjadi hamba nafsu, lenyaplah keagungan seorang manusia dan ia tidak akan segan-segan untuk melakukan segala macam perbuatan rendah. Gila akan kedudukan, akan harta benda, kemuliaan, nama besar, pemuasan panca indra, pemuasan nafsu berahi, semua itu timbul sebagai akibat daripada kelemahan menghadapi nafsu pribadi. Sekali menjadi hamba nafsu, manusia tidak segan-segan melakukan segala macam daya upaya tanpa memperhitungkan lagi baik jahatnya, demi pemuasan nafsunya sendiri yang dipertuan. Dan inilah jalan menuju ke segala macam kesengsaraan. Tuhan pencipta sekalian alam semesta, telah memberi petunjuk dan peringatan melalui kekuasaan alamNya kepada manusia. Namun, sekali manusia diperhamba nafsu, ia seakan-akan buta dan tuli. Seorang pendeta ahli tapa seperti Bhagawan Kundilomuko, setelah menjadi hamba nafsu, menjadi seperti buta pula. Rambutnya sudah putih semua, hal sepele (sederhana) ini saja sudah merupakan nasehat dan peringatan, bahwa usia tua mendatangkan rambut putih berarti si manusia supaya memikirkan hal yang bersih-bersih saja seperti warna rambut yang menyelimuti kepalanya! Namun sayang, setua itu masih saja ia picik dan lemah. Nafsu, terutama nafsu berahi, memang seperti anggur yang keras memabukkan. Sekali orang mencucupnya, ia akan menghendaki lebih dan lebih dan lebih, tak kunjung puas. Karena itu, semenjak dahulu kala sampai sekarang inipun, bahagialah dia yang selalu eling (ingat) dan waspada. Ingat kepada Hyang Maha Wisesa dan waspada terhadap dirinya sendiri. Waspada dalam arti kata awas dan hati-hati meneliti budi pekerti dan tindak-tanduknya sendiri. Kokoh dan teguh dalam menghadapi godaan nafsu pribadi sehingga akhirnya bukan dia yang diperhamba nafsu, melainkan nafsu yang diperhambanya. Nafsu hanya sekedar alat hidup yang dipergunakan seperlunya, pada waktu, tempat, dan keadaan yang tepat sebagai pelengkap hidup.

Malam bulan purnama yang dinanti nanti itu akhirnya tiba juga. Semenjak sore hari, pertapaan Durgaloka telah dihias megah. Daun-daun, kembang-kembang dan janur (pupus daun kelapa) yang dianyam dan dibentuk beraneka macam menghias pertapaan, terutama sekali bangsal besar tempat yang khusus dibuat sebagai tempat pemujaan Bathari Durgo, yaitu di bawah pohon waringin, dekat sumber mata air Sungai Bondoyudo. Tempat pemujaan itu terbuka dan agak tinggi semacam panggung, lebih dari dua puluh lima meter lebarnya. Tempat ini dihias dengan bunga-bunga. Semua anak murid Bhagawan Kundilomuko sudah siap berkumpul. Lima belas murid pria menabuh gamelan, yang lima belas orang lagi membawa obor dan berdiri mengelilingi tempat pemujaan itu. Murid perempuan berjumlah semua seratus dua puluh orang! Kini sebagian menjaga sekitar pertapaan secara bergilir, sebagian pula sibuk di dapur, sebagian sibuk mempersiapkan kebutuhan upacara pemujaan, dan sebagian pula yang bertugas sebagai penyanyi dan penari sibuk bersolek. Semua orang bergembira ria. Tentu saja dua orang tidak tampak gembira. Mereka ini adalah Ayu Candra dan Endang Patibroto. Dua orang gadis tawanan ini duduk di atas bangku dalam biliknya, duduk melamun seperti patung, dijaga masing-masing oleh lima orang wanita. Di tengah-tengah pemujaan itu terdapat sebuah patung Bathari Durgo yang amat indah dan seolah-olah hidup. Patung itu sebesar manusia, mengenakan pakaian sutera serba indah dan mahal, bahkan tubuhnya memakai perhiasan-perhiasan emas permata yang gilang-gemilang. Ketika bulan purnama mulai muncul, gamelan ditabuh keras dan meriah. Suara gamelan ini aneh dan tidak sama dengan gamelan biasa, juga lagu dan iramanya liar merangsang. Gadis-gadis yang duduk bersimpuh di pinggir tempat upacara berlutut menyembah ketika Sang Bhagawan Kundilomuko muncul bersama Ki Jatoko. Mereka inipun sudah berpakaian serba indah sehingga Ki Jatoko yang buntung dan berwajah buruK itu kini kelihatan tidak begitu buruk dan agak gagah. Dengan lagak yang berwibawa, Bhagawan Kundilomuko mengangkat tangan kanan ke atas sebagai balasan salam kepada murid-muridnya, kemudian ia duduk di atas kursi yang sudah dihias, di sebelah kanan patung Bathari Durgo. Ki Jatoko juga dipersilahkan duduk di atas sebuah kursi yang lebih kecil, agak jauh menghadap pendeta itu dan patung dewinya. Dilihat dari jauh, seolah-olah Bhagawan Kundilomuko duduk berdua dengan isterinya, seorang dewi yang berwajah cantik namun menyeramkan. Di bawah permainan api obor yang bergerak-gerak, sepasang mata patung itu seperti melirik-lirik, bibirnya seperti tersenyum-senyum! Di sebelah kanan Sang Bhagawan Kundilomuko terdapat sebuah kursi kosong, demikian pula di sebelah kanan Ki Jatoko terdapat sebuah kursi kosong. Tak lama kemudian, gamelan ditabuh lebih lambat dan perlahan, kemudian dari dalam pondok keluarlah menuju ke tempat itu dua orang gadis yang cantik jelita dan berpakaian sutera putih indah sekali. Mereka itu bukan lain adalah Ayu Candra dan Endang Patibroto! Mereka masing-masing dituntun oleh dua orang anak murid sang bhagawan dan kini menaiki anak tangga ke tempat pemujaan. Pakaian sutera putih yang membungkus tubuh mereka itu amat tipis dan halus sehingga di bawah sinar bulan purnama dibantu sinar-sinar api obor, tampaklah tubuh mereka membayang, elok menggairahkan. Mereka itu berjalan seperti mayat hidup, menurut saja ketika pelayan-pelayan itu menggandeng mereka dan menyuruh mereka bersama berlutut dan menyembah patung Bathari Durgo. Setelah itu, pelayan-pelayan atau anak murid sang bhagawan mengundurkan diri.

Ki Jatoko yang sudah diberi tahu jalannya upacara, sebagai "mempelai pria" bangkit dari kursinya, menghampari Ayu Candra yang masih berlutut di depan patung itu, menariknya bangun dan menggandengnya dengan senyum dan pandang mata mesra, membawanya ke tempat duduknya dan menyuruhnya duduk di atas kursi sebelah kanannya. Juga Bhagawan Kundilomuko sudah menggandeng tangan Endang Patibroto dan mendudukkan gadis jelita itu sampingnya. Gamelan kini berbunyi gencar dan ramai serta meriah sekali? Beberapa orang gadis yang cantik dan lincah dating berlari-lari membawa buah-buah dan minuman untuk "dua pasang mempelai". Karena ingatan mereka kosong akibat cekokan jampi setiap hari selama dua pekan lebih, Ayu Candra dan Endang Patibroto tidak dapat mengingat maupun berpikir apa-apa. Ketika ditawari buah oleh "mempelai laki-laki", mereka mengambil dan makan buah itu secara otomatis. Mulailah kini dihidangkan tari-tarian oleh belasan orang gadis yang berpakaian indah beraneka warna. Sebelum menari, mereka ini berjongkok menyembah patung Bathary Durgo, lalu menyebarkan kembang yang sejak tadi dibawa dengan selendang mereka. Tubuh patung itu penuh bunga, demikian pula di sekitarnya, di atas lantai penuh bunga. Patung itu seakan-akan memperlebar senyumnya. Kemudian gadis-gadis itu menari indah, seperti kupu-kupu beterbangan. Pakaian mereka dari sutera tipis, berkibar-kibar ketika mereka bergerak setengah berlari Setelah tari permulaan sebagai pemuja Sang Bathari ini selesai dan para penari turun kembali dari tempat itu, mendadak semua obor yang dipegang oleh lima belas orang anak murid pria dipadamkan. Kini tempat Itu hanya diterangi oleh sinar bulan purnama. Langit terang-benderang. Keadaan amat romantis dan indah. Bunyi gamelan juga berbeda daripada tadi, kini amat luar biasa iramanya. Kemudian terdengar nyanyian koor belasan orang gadis, makin lama rnakin nyaring mengiringi munculnya serombongan penari baru yang keluar dari dalam pondok dekat tempat pemujaan. Begitu tiba di tempat pemujaan, gadis-gadis penari yang jumlahnya tiga puluh orang ini, murid-murid yang tercantik dari Bhagawan Kundilomuko, dipimpin oleh lima orang muridnya tersayang, sudah berjalan jongkok lalu berlutut di depan patung Bathari Durgo. Mulailah mereka mengikuti para penyanyi, menyanyikan lagu puja-puji kepada Sang Bathari.
Upacara pemujaan dimulailah. Bhagawan Kundilomuko bangkit dari kursinya, lalu menghampiri seorang anak murid yang membawa bokor emas berisi air kembang. Diambilnya setangkai bunga, dicelup ke dalam "air suci" ini dan dipercik-percikkan ke arah patung. Kemudian ia menuangkan secawan anggur, membawa cawan itu ke dekat mulut patung sampai menempel bibirnya, kemudian ia menaruh cawan di depan patung.

<<< Bagian 148                                                                                     Bagian 150 >>>

No comments:

Post a Comment