Badai Laut Selatan ; Bagian 150


Demikian pula dengan beberapa macam buah. Inilah upacara "menghidangkan makan minum" bagi Bathari Durgo yang hanya boleh dilakukan oleh sang bhagawan yang oleh para murid didesas-desuskan sebagai "kekasih" Sang Bathari Durgo!

Upacara ini amat lama. Setelah Bhagawan Kundilomuko kembali duduk ke kursinya, seorang anak murid perempuan datang membawa sebuah bokor besar sekali. Melihat betapa gadis itu kuat membawa bokor besar yang terisi penuh, dapat dibayangkan bahwa ia tentulah anak murid sang bhagawan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan bertenaga besar. Bokor itu ditaruh di depan kaki sang bhagawan, kemudian setelah menyembah, murid itu mengundurkan diri. Sang bhagawan menoleh ke arah Ki Jatoko dan tersenyum sambil berbisik. "Inilah anggur darah," katanya, menuding ke arah bokor besar tertutup yang terletak di depan kakinya.
Sementara itu, upacara dilakukan terus sampai lama oleh para penari yang tiga puluh orang jumlahnya itu. Mereka bernyanyi-nyanyi puja-puji dan wajah mereka tampak berseri-seri. Sementara itu, bulan naik makin tinggi dan sinarnyapun makin terang. Tiba-tiba Bhagawan Kundilomuko bangkit berdiri dan memberi isyarat dengan tangan. Para penari itu berhenti menyanyi, kemudian mulai bangkit dan mengatur tempat masing-masing untuk mulai menari. Gamelanpun merobah iramanya, kini bernada gembira dan lebih merangsang daripada tadi. Tarianpun dimulailah. Indah sekali tarian ini, tidak seperti tadi, jauh lebih indah. Lima orang anak murid tersayang itu menjadi penari inti, menari di tengah-tengah, dikelilingi dua puluh lima orang kawannya. Mereka berputar-putar, melenggang-lenggok, berlari-larian, menggoyang-goyang pundak, perut, dan kibul, menggeleng-geleng kepala, makin lama gamelan dibunyikan makin meriah, suara penyanyi makin keras dan gerakan para penari makin penuh gairah.

Melihat gerak tubuh para penari yang penuh gairah dan merangsang nafsu itu Ki Jatoko sudah tak enak duduknya. Ia melirik ke arah Ayu Candra dan kecewalah hatinya. Ayu Candra tetap saja duduk seperti patung. Lebih mati daripada patung Bathari Durgo itu. Agaknya Bhagawan Kundilomuko melihat keadaan Ki Jatoko yang kecewa ini. Ia bangkit berdiri sambil tertawa, memberi isyarat dengan kedua tangan diacungkan ke atas. Seketika para penairi itu berhenti menari dan menjatuhkan diri berlutut di atas lantai, terengah-engah dan napas mereka mendengus-dengus, muka mereka penuh keringat. Gamelan masih berbunyi, perlahan dan lambat iramanya. Sambil menoleh ke arah patung Bathari Durgo, Bhagawan Kundilomuko berkata, suaranya nyaring,
"Kini tiba saatnya memuja Sang Hyang Bathari dengan pengorbanan darah dan daging!"
Terdengarlah sorak-sorai dan tertawa cekikikan di antara anak-anak murid bhagawan Kundilomuko. Kakek pendeta itu sendiri lalu membuka bokor besar, mengambil cawan emas dan menciduk ke dalam bokor. Tercium bau yang harum bercampur amis, dan cawan emas itu penuh dengan benda cair yang merah seperti darah. Cawan yang penuh "anggur darah" itu oleh sang pendeta dibawa ke depan patung Bathari Durgo seperti tadi, iapun menempelkan cawan ke bibir patung itu sampai lama, kemudian mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan akhirnya menaruh cawan emas itu di depan kaki patung. Setelah itu, tertawalah Bhagawan Kundilomuko. Ia menengadah memandang bulan purnama, tertawa-tawa menyeramkan. Kedua anting-anting di telinganya bergerak-gerak.
"Marilah, anak-anak manis, majulah ke sini. Dengan berkah Sang Hyang Bathari, mari kalian minum anggur darah, cicipilah kesenangan yang menjadi hakmu sepuas hati. Ha-haha-ha!"
Tiga puluh orang penari tadi denganj pandang mata penuh gairah lalu menghampiri sang bhagawan, seorang demi seorang diberi minum anggur merah itu dari sebuah cawan. Gerak mereka ketika menghampiri, ketika minum anggur, ketika mengembalikan cawan kosong, semua adalah gerak tari indah yang diiringi gamelan. Tak lama kemudian semua murid yang tiga puluh orang jumlahnya itu sudah minum dan kini gamelan dibunyikan keras-keras dan liar sekali. Aneh bukan main, para penari itupun menari dengan gerakan liar, penuh dengus-dengus nafsu. Tiga puluh orang gadis cantik itu seperti mabuk, seperti bukan kehendak sendiri dan agaknya roh-roh jahat telah menyusupi diri mereka. Wajah mereka yang diangkat menengadah membayangkan nafsu, hidung kembang-kempis mendengus-dengus, mulut menyeringai dalam berahi yang memuncak, gerak tari mereka makin menggila. Tak lama kemudian, beterbanganlah sutera-sutera halus yang tadinya membungkus tubuh mereka. Dengan gerak tari merangsang, mereka menanggalkan sutera-sutera halus itu sambil terus menari. Ki Jatoko memandang dengan mata melotot, seakan-akan kedua biji matanya hampir terloncat keluar dari pelupuknya. Selama hidupnya, belum pernah ia menyaksikan pertunjukan yang begini hebat merangsang. Bhagawan Kundilomuko hanya tersenyum-senyum dan tertawa-tawa, mengelus-elus jenggotnya dan melirik ke arah Endang Patibroto yang seperti keadaan Ayu Candra, duduk tak bergerak seperti arca mati.

Kemudian bhagawan ini bangkit berdiri, menyembah ke arah patung Bathari Durgo, kemudian iapun menanggalkan pakaian yang membungkus patung itu satu demi satu sehingga tak lama kemudian patung itupun telanjang bulat seperti para penari itu! Terkena bayangan para penari yang bergerak-gerak di bawah sinar bulan purnama, patung dewi yang telanjang itu kini agaknya juga ikut bergerak-gerak, ikut berlenggang-lenggok genit. Ki Jatoko menjadi makin tak sabar. Alangkah akan bahagia hatinya kalau Ayu Candra bersikap seperti para penari itu, penuh gairah, penuh semangat, penuh nafsu berahi! Ia menoleh ke arah Bhagawan Kundilomuko dan berkata, suaranya menggigil,
"Paman, mengapa mempelai kita tidak diberi minum anggur darah?"
"Ha-ha-ha, engkau sudah tak sabar sekali, anak-mas Jatoko! Mempelai kita ini harus dipisahkan dari mereka. Tunggulah sebentar lagi!"
Kini para penari itu agaknya sudah tak dapat menahan gelora nafsu mereka. Mereka menari makin liar dan makin mendekati sang bhagawan, bahkan ada yang mendekati Ki Jatoko. Dengan gerakan-gerakan memikat mereka seakan-akan menggoda dan menarik perhatian dua orang laki-laki yang duduk di atas kursi itu. Makin lama makin mendekati dan akhirnya di antara mereka ada yang mulai menyentuh dan mengusap. Agaknya sebentar lagi mereka itu akan nekat menubruk sang bhagawan dan Ki Jatoko. Si buntung itu sudah memandang bingung ke arah sang bhagawan. Bhagawan Kundilomuko bangkit berdiri dan tertawa lebar lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya mendorong halus murid-muridnya yang merubung dan hendak mengeroyoknya dengan belaian-belaian mesra itu.
"Ha-ha-ha, anak-anak manis. Tidak ada waktu bagi aku untuk menyambut pelayanan kalian. Malam ini malam baik, berkat restu Sang Hyang Bathari, aku mengizinkan kalian melayani tiga puluh orang murid-murid pria sebagai wakilku!"
Ucapan ini disambut sorak-sorai dan suara gamelan terhenti ketika lima belas orang murid pria bersama lima belas lagi yang tadi memegang obor sudah berlompatan naik ke atas tempat pemujaan. Terjadilah adegan-adegan yang mendirikan bulu roma ketika tiga puluh orang penari cantik itu memilih pasangan masing-masing, tertawa-tawa, menari-nari dan menyanyi-nyanyi, bercumbu-rayu tanpa malu-malu lagi, berpeluk cium dan bersendau-gurau, kemudian pasangan demi pasangan turun dari tempat pemujaan, menyelinap di balik pohon-pohon. Hanya suara ketawa genit cekikikan terdengar dari tempat-tempat tersembunyi. Tempat pemujaan menjadi sunyi. Kini tinggal dua pasang "mempelai" itu. Bhagawan Kundilomuko lalu mengisi sebuah cawan dengan "anggur darah", memberikannya kepada Ki Jatoko sambil berkata,
"Anak-mas Jatoko, berilah minum mempelaimu dan kau akan mendapatkan seorang isteri yang panas dan mencinta, tiada keduanya di dunia ini, ha-ha-ha!"

Ki Jatoko menerima cawan itu sedangkan Bhagawan Kundilomuko juga mengisi sebuah cawan kosong dengan anggur itu. Kedua orang itu kini mengangkat cawan, mendekatkan cawan ke mulut Endang Patibroto dan Ayu Candra yang sama sekali tidak melawan. Bibir cawan sudah menyentuh bibir dua orang gadis yang cantik jelita itu, dan inilah detik yang menentukan karena sekali dua orang gadis itu minum anggur kotor ini, tentu mereka akan mabuk dan lupa diri pula seperti tiga puluh orang penari itu!
"Takkk! Takkk!"
Dua sinar hitam itu bagaikan kilat menyambar telah mengenai cawan-cawan berisi anggur darah. Benturan ini hebat dan keras sekali sehingga baik Ki Jatoko maupun Bhagawan Kundilomuko tak dapat mempertahankan dan cawan itu terpental, terlepas dari tangan sehingga isinya menyiram muka mereka sendiri! Sambil berseru keras mereka meloncat mundur dan pada saat itu terdengar teriakan menyayat hati dan di sekitar tempat itu telah terjadi pertandingan yang hebat antara murid-murid Durgaloka laki-laki dan wanita yang sebagian besar bertelanjang bulat melawan puluhan prajurit wanita perkasa yang dipimpin oleh lima orang gadis jelita. Mereka ini bukan lain adalah Dewi, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari yang memimpin kawan-kawannya menyerbu Durgaloka!
"Sabbe satta avera hontu, sadhu-sadhu-sadhu (Semoga semua mahluk hidup damai)" Tiba-tiba terdengar pujian ini dan muncullah seorang pendeta yang kepalanya gundul bersama seorang pemuda yang bukan lain adalah Joko Wandiro. Sedangkan pendeta Buddha itu bukan lain adalah Sang Wiku Jaladara! Sang wiku ini adalah seorang pendeta Buddha yang dahulu pernah mengobati Jokowanengpati di lereng Gunung Lawu akan tetapi kemudian malah hendak dibunuh oleh Jokowanengpati karena sang wiku telah melihat bahwa dia yang mencuri patung kencana pusaka Mataram. Bagaimanakah Joko Wandiro bersama anak buahnya yang dipimpin oleh Dewi dapat datang pada saat yang begitu kebetulan dan tepat? Hal ini adalah jasa para anak buahnya. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Joko Wandiro ditolong oleh Dewi dan adik-adiknya ketika ia terluka oleh jarum beracun Ki Jatoko, kemudian bahkan diangkat menjadi kepala dan junjungan oleh sekalian wanita cantik itu. Di Gunung Anjasmoro ini pula dia akhirnya berhasil menewaskan musuh besar gurunya, Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna. biarpun dia sendiri menderita luka-luka dan kembali ia dirawat penuh kasih sayang oleh Dewi dan adik-adiknya. Kemudian datanglah berita dari anak buah Dewi tentang perang antara Jenggala dan Nusabarung. Betapapun juga, Joko Wandiro tak dapat melupakan Endang Patibroto, dan juga Puteri Mayagaluh. Apalagi ketika ia mendengar penuturan Dewi bahwa Adipati Nusabarung adalah seorang yang sakti dan kejam, ia lalu mengajak anak buahnya, sebanyak tiga puluh orang itu, untuk menyelidiki ke Jenggala dan untuk mencegah hal-hal yang kurang baik, ia mengajari anak buahnya, kecuali Dewi berlima, untuk menyamar sebagai pria.

Setibanya di Jenggala, dengan kaget Joko Wandiro mendengar bahwa pasukan yang dipimpin oleh Endang Patibroto menyerbu ke Nusabarung mengalami kehancuran sedang Endang Patibroto sendiri tidak ada kabar ceritanya! Ia menjadi khawatir sekali, apalagi ketika Dewi mengemukakan pendapatnya bahwa menurut penuturan para prajurit Jenggala yang tidak tewas, jelas di pihak Nusabarung dibantu oleh orang-orang pandai yang menggunakan wanita-wanita cantik untuk memancing sehingga mengakibatkan hancurnya pasukan itu.
"Aku pernah mendengar penuturan eyang Dibyo Mamangkoro bahwa di kaki Gunung Bromo, di sumbar mata air Sungai Bondoyudo, terdapat sebuah pengikut-pengikut seorang pendeta tua yang memuja Bathari Durgo. Tempat itu disebut pertapaan Durgaloka. Kata eyang Dibyo Mamangkoro, pendeta itu sakti dan pandai ilmu hitam, kalau tidak salah, namanya Bhagawan Kundilomuko. Siapa tahu, dia ini yang menggerakkan anak buahnya membantu Nusabarung sehingga Endang Patibroto yang kaukhawatirkan itu terpedaya olehnya."
Tanpa ragu-ragu lagi Joko Wandiro lalu memimpin anak buahnya untuk melakukan pengejaran ke tempat itu. Sehari sebelum tiba di Durgaloka, ia bertemu dengan Wiku Jaladara! Sang wiku yang bermata tajam dapat mengenal Joko Wandiro dan pengikutnya sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian. Akan tetapi hatinya juga khawatir melihat sekian banyaknya gadis-gadis cantik yang sebagian besar tidak terlalu tinggi ilmunya itu melakukan perjalanan yang menuju ke Durgaloka. Maka ia menyalami dan berkata sungguh-sungguh,
"Andika sekalian kalau melakukan perjalanan, hendaknya berhati-hati dan kalau andika suka mendengarkan nasehat orang tua, sebaiknya andika mengambil jalan lain dan jangan melanjutkan perjalanan ini."
Joko Wandiro juga dapat menduga bahwa kakek yang sudah tua akan tetapi berwajah sehat dan bermata lembut ini tentulah seorang berilmu tinggi, maka cepat ia memberi hormat dan berkata,
"Banyak terima kasih atas petunjuk dan nasehat paman. Akan tetapi maafkan kami orang-orang muda yang kurang terima dan ingin tahu lebih jelas lagi, yaitu apa sebabnya paman menganjurkan agar kami mengambil jalan lain. Adakah bahaya menghadang di depan?"
Wiku Jaladara menarik napas panjang lalu menjawab,
"Di depan sana terdapat bahaya mengancam," ia menuding ke depan.

<<< Bagian 149                                                                                      Bagian 151 >>>

No comments:

Post a Comment