Demikian pula dengan beberapa macam buah. Inilah upacara "menghidangkan makan minum" bagi Bathari Durgo yang hanya boleh dilakukan oleh sang bhagawan yang oleh para murid didesas-desuskan sebagai "kekasih" Sang Bathari Durgo!
Upacara ini
amat lama. Setelah Bhagawan Kundilomuko kembali duduk ke kursinya, seorang anak
murid perempuan datang membawa sebuah bokor besar sekali. Melihat betapa gadis
itu kuat membawa bokor besar yang terisi penuh, dapat dibayangkan bahwa ia tentulah
anak murid sang bhagawan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan bertenaga
besar. Bokor itu ditaruh di depan kaki sang bhagawan, kemudian setelah
menyembah, murid itu mengundurkan diri. Sang bhagawan menoleh ke arah Ki Jatoko
dan tersenyum sambil berbisik. "Inilah anggur darah," katanya,
menuding ke arah bokor besar tertutup yang terletak di depan kakinya.
Sementara itu,
upacara dilakukan terus sampai lama oleh para penari yang tiga puluh orang
jumlahnya itu. Mereka bernyanyi-nyanyi puja-puji dan wajah mereka tampak
berseri-seri. Sementara itu, bulan naik makin tinggi dan sinarnyapun makin
terang. Tiba-tiba Bhagawan Kundilomuko bangkit berdiri dan memberi isyarat
dengan tangan. Para penari itu berhenti menyanyi, kemudian mulai bangkit dan
mengatur tempat masing-masing untuk mulai menari. Gamelanpun merobah iramanya,
kini bernada gembira dan lebih merangsang daripada tadi. Tarianpun dimulailah.
Indah sekali tarian ini, tidak seperti tadi, jauh lebih indah. Lima orang anak
murid tersayang itu menjadi penari inti, menari di tengah-tengah, dikelilingi
dua puluh lima orang kawannya. Mereka berputar-putar, melenggang-lenggok,
berlari-larian, menggoyang-goyang pundak, perut, dan kibul, menggeleng-geleng
kepala, makin lama gamelan dibunyikan makin meriah, suara penyanyi makin keras
dan gerakan para penari makin penuh gairah.
Melihat gerak
tubuh para penari yang penuh gairah dan merangsang nafsu itu Ki Jatoko sudah
tak enak duduknya. Ia melirik ke arah Ayu Candra dan kecewalah hatinya. Ayu
Candra tetap saja duduk seperti patung. Lebih mati daripada patung Bathari
Durgo itu. Agaknya Bhagawan Kundilomuko melihat keadaan Ki Jatoko yang kecewa
ini. Ia bangkit berdiri sambil tertawa, memberi isyarat dengan kedua tangan
diacungkan ke atas. Seketika para penairi itu berhenti menari dan menjatuhkan
diri berlutut di atas lantai, terengah-engah dan napas mereka mendengus-dengus,
muka mereka penuh keringat. Gamelan masih berbunyi, perlahan dan lambat
iramanya. Sambil menoleh ke arah patung Bathari Durgo, Bhagawan Kundilomuko
berkata, suaranya nyaring,
"Kini
tiba saatnya memuja Sang Hyang Bathari dengan pengorbanan darah dan
daging!"
Terdengarlah
sorak-sorai dan tertawa cekikikan di antara anak-anak murid bhagawan
Kundilomuko. Kakek pendeta itu sendiri lalu membuka bokor besar, mengambil
cawan emas dan menciduk ke dalam bokor. Tercium bau yang harum bercampur amis,
dan cawan emas itu penuh dengan benda cair yang merah seperti darah. Cawan yang
penuh "anggur darah" itu oleh sang pendeta dibawa ke depan patung
Bathari Durgo seperti tadi, iapun menempelkan cawan ke bibir patung itu sampai
lama, kemudian mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan akhirnya menaruh
cawan emas itu di depan kaki patung. Setelah itu, tertawalah Bhagawan
Kundilomuko. Ia menengadah memandang bulan purnama, tertawa-tawa menyeramkan.
Kedua anting-anting di telinganya bergerak-gerak.
"Marilah,
anak-anak manis, majulah ke sini. Dengan berkah Sang Hyang Bathari, mari kalian
minum anggur darah, cicipilah kesenangan yang menjadi hakmu sepuas hati.
Ha-haha-ha!"
Tiga puluh
orang penari tadi denganj pandang mata penuh gairah lalu menghampiri sang
bhagawan, seorang demi seorang diberi minum anggur merah itu dari sebuah cawan.
Gerak mereka ketika menghampiri, ketika minum anggur, ketika mengembalikan
cawan kosong, semua adalah gerak tari indah yang diiringi gamelan. Tak lama
kemudian semua murid yang tiga puluh orang jumlahnya itu sudah minum dan kini
gamelan dibunyikan keras-keras dan liar sekali. Aneh bukan main, para penari
itupun menari dengan gerakan liar, penuh dengus-dengus nafsu. Tiga puluh orang
gadis cantik itu seperti mabuk, seperti bukan kehendak sendiri dan agaknya
roh-roh jahat telah menyusupi diri mereka. Wajah mereka yang diangkat
menengadah membayangkan nafsu, hidung kembang-kempis mendengus-dengus, mulut
menyeringai dalam berahi yang memuncak, gerak tari mereka makin menggila. Tak
lama kemudian, beterbanganlah sutera-sutera halus yang tadinya membungkus tubuh
mereka. Dengan gerak tari merangsang, mereka menanggalkan sutera-sutera halus
itu sambil terus menari. Ki Jatoko memandang dengan mata melotot, seakan-akan
kedua biji matanya hampir terloncat keluar dari pelupuknya. Selama hidupnya,
belum pernah ia menyaksikan pertunjukan yang begini hebat merangsang. Bhagawan
Kundilomuko hanya tersenyum-senyum dan tertawa-tawa, mengelus-elus jenggotnya
dan melirik ke arah Endang Patibroto yang seperti keadaan Ayu Candra, duduk tak
bergerak seperti arca mati.
Kemudian
bhagawan ini bangkit berdiri, menyembah ke arah patung Bathari Durgo, kemudian
iapun menanggalkan pakaian yang membungkus patung itu satu demi satu sehingga
tak lama kemudian patung itupun telanjang bulat seperti para penari itu!
Terkena bayangan para penari yang bergerak-gerak di bawah sinar bulan purnama,
patung dewi yang telanjang itu kini agaknya juga ikut bergerak-gerak, ikut
berlenggang-lenggok genit. Ki Jatoko menjadi makin tak sabar. Alangkah akan
bahagia hatinya kalau Ayu Candra bersikap seperti para penari itu, penuh
gairah, penuh semangat, penuh nafsu berahi! Ia menoleh ke arah Bhagawan Kundilomuko
dan berkata, suaranya menggigil,
"Paman,
mengapa mempelai kita tidak diberi minum anggur darah?"
"Ha-ha-ha,
engkau sudah tak sabar sekali, anak-mas Jatoko! Mempelai kita ini harus
dipisahkan dari mereka. Tunggulah sebentar lagi!"
Kini para
penari itu agaknya sudah tak dapat menahan gelora nafsu mereka. Mereka menari
makin liar dan makin mendekati sang bhagawan, bahkan ada yang mendekati Ki
Jatoko. Dengan gerakan-gerakan memikat mereka seakan-akan menggoda dan menarik
perhatian dua orang laki-laki yang duduk di atas kursi itu. Makin lama makin
mendekati dan akhirnya di antara mereka ada yang mulai menyentuh dan mengusap.
Agaknya sebentar lagi mereka itu akan nekat menubruk sang bhagawan dan Ki
Jatoko. Si buntung itu sudah memandang bingung ke arah sang bhagawan. Bhagawan
Kundilomuko bangkit berdiri dan tertawa lebar lalu menggerak-gerakkan kedua
tangannya mendorong halus murid-muridnya yang merubung dan hendak mengeroyoknya
dengan belaian-belaian mesra itu.
"Ha-ha-ha,
anak-anak manis. Tidak ada waktu bagi aku untuk menyambut pelayanan kalian.
Malam ini malam baik, berkat restu Sang Hyang Bathari, aku mengizinkan kalian
melayani tiga puluh orang murid-murid pria sebagai wakilku!"
Ucapan ini
disambut sorak-sorai dan suara gamelan terhenti ketika lima belas orang murid
pria bersama lima belas lagi yang tadi memegang obor sudah berlompatan naik ke
atas tempat pemujaan. Terjadilah adegan-adegan yang mendirikan bulu roma ketika
tiga puluh orang penari cantik itu memilih pasangan masing-masing,
tertawa-tawa, menari-nari dan menyanyi-nyanyi, bercumbu-rayu tanpa malu-malu
lagi, berpeluk cium dan bersendau-gurau, kemudian pasangan demi pasangan turun
dari tempat pemujaan, menyelinap di balik pohon-pohon. Hanya suara ketawa genit
cekikikan terdengar dari tempat-tempat tersembunyi. Tempat pemujaan menjadi
sunyi. Kini tinggal dua pasang "mempelai" itu. Bhagawan Kundilomuko
lalu mengisi sebuah cawan dengan "anggur darah", memberikannya kepada
Ki Jatoko sambil berkata,
"Anak-mas
Jatoko, berilah minum mempelaimu dan kau akan mendapatkan seorang isteri yang
panas dan mencinta, tiada keduanya di dunia ini, ha-ha-ha!"
Ki Jatoko
menerima cawan itu sedangkan Bhagawan Kundilomuko juga mengisi sebuah cawan
kosong dengan anggur itu. Kedua orang itu kini mengangkat cawan, mendekatkan
cawan ke mulut Endang Patibroto dan Ayu Candra yang sama sekali tidak melawan.
Bibir cawan sudah menyentuh bibir dua orang gadis yang cantik jelita itu, dan
inilah detik yang menentukan karena sekali dua orang gadis itu minum anggur
kotor ini, tentu mereka akan mabuk dan lupa diri pula seperti tiga puluh orang
penari itu!
"Takkk!
Takkk!"
Dua sinar
hitam itu bagaikan kilat menyambar telah mengenai cawan-cawan berisi anggur
darah. Benturan ini hebat dan keras sekali sehingga baik Ki Jatoko maupun
Bhagawan Kundilomuko tak dapat mempertahankan dan cawan itu terpental, terlepas
dari tangan sehingga isinya menyiram muka mereka sendiri! Sambil berseru keras
mereka meloncat mundur dan pada saat itu terdengar teriakan menyayat hati dan
di sekitar tempat itu telah terjadi pertandingan yang hebat antara murid-murid
Durgaloka laki-laki dan wanita yang sebagian besar bertelanjang bulat melawan
puluhan prajurit wanita perkasa yang dipimpin oleh lima orang gadis jelita.
Mereka ini bukan lain adalah Dewi, Lasmi, Mini, Sari dan Sundari yang memimpin
kawan-kawannya menyerbu Durgaloka!
"Sabbe
satta avera hontu, sadhu-sadhu-sadhu (Semoga semua mahluk hidup damai)"
Tiba-tiba terdengar pujian ini dan muncullah seorang pendeta yang kepalanya
gundul bersama seorang pemuda yang bukan lain adalah Joko Wandiro. Sedangkan
pendeta Buddha itu bukan lain adalah Sang Wiku Jaladara! Sang wiku ini adalah
seorang pendeta Buddha yang dahulu pernah mengobati Jokowanengpati di lereng
Gunung Lawu akan tetapi kemudian malah hendak dibunuh oleh Jokowanengpati
karena sang wiku telah melihat bahwa dia yang mencuri patung kencana pusaka
Mataram. Bagaimanakah Joko Wandiro bersama anak buahnya yang dipimpin oleh Dewi
dapat datang pada saat yang begitu kebetulan dan tepat? Hal ini adalah jasa
para anak buahnya. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Joko Wandiro
ditolong oleh Dewi dan adik-adiknya ketika ia terluka oleh jarum beracun Ki
Jatoko, kemudian bahkan diangkat menjadi kepala dan junjungan oleh sekalian
wanita cantik itu. Di Gunung Anjasmoro ini pula dia akhirnya berhasil
menewaskan musuh besar gurunya, Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna. biarpun
dia sendiri menderita luka-luka dan kembali ia dirawat penuh kasih sayang oleh
Dewi dan adik-adiknya. Kemudian datanglah berita dari anak buah Dewi tentang
perang antara Jenggala dan Nusabarung. Betapapun juga, Joko Wandiro tak dapat
melupakan Endang Patibroto, dan juga Puteri Mayagaluh. Apalagi ketika ia
mendengar penuturan Dewi bahwa Adipati Nusabarung adalah seorang yang sakti dan
kejam, ia lalu mengajak anak buahnya, sebanyak tiga puluh orang itu, untuk
menyelidiki ke Jenggala dan untuk mencegah hal-hal yang kurang baik, ia
mengajari anak buahnya, kecuali Dewi berlima, untuk menyamar sebagai pria.
Setibanya di
Jenggala, dengan kaget Joko Wandiro mendengar bahwa pasukan yang dipimpin oleh
Endang Patibroto menyerbu ke Nusabarung mengalami kehancuran sedang Endang
Patibroto sendiri tidak ada kabar ceritanya! Ia menjadi khawatir sekali,
apalagi ketika Dewi mengemukakan pendapatnya bahwa menurut penuturan para
prajurit Jenggala yang tidak tewas, jelas di pihak Nusabarung dibantu oleh
orang-orang pandai yang menggunakan wanita-wanita cantik untuk memancing
sehingga mengakibatkan hancurnya pasukan itu.
"Aku
pernah mendengar penuturan eyang Dibyo Mamangkoro bahwa di kaki Gunung Bromo,
di sumbar mata air Sungai Bondoyudo, terdapat sebuah pengikut-pengikut seorang
pendeta tua yang memuja Bathari Durgo. Tempat itu disebut pertapaan Durgaloka.
Kata eyang Dibyo Mamangkoro, pendeta itu sakti dan pandai ilmu hitam, kalau
tidak salah, namanya Bhagawan Kundilomuko. Siapa tahu, dia ini yang
menggerakkan anak buahnya membantu Nusabarung sehingga Endang Patibroto yang
kaukhawatirkan itu terpedaya olehnya."
Tanpa
ragu-ragu lagi Joko Wandiro lalu memimpin anak buahnya untuk melakukan
pengejaran ke tempat itu. Sehari sebelum tiba di Durgaloka, ia bertemu dengan
Wiku Jaladara! Sang wiku yang bermata tajam dapat mengenal Joko Wandiro dan
pengikutnya sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian. Akan tetapi hatinya
juga khawatir melihat sekian banyaknya gadis-gadis cantik yang sebagian besar
tidak terlalu tinggi ilmunya itu melakukan perjalanan yang menuju ke Durgaloka.
Maka ia menyalami dan berkata sungguh-sungguh,
"Andika
sekalian kalau melakukan perjalanan, hendaknya berhati-hati dan kalau andika
suka mendengarkan nasehat orang tua, sebaiknya andika mengambil jalan lain dan
jangan melanjutkan perjalanan ini."
Joko Wandiro
juga dapat menduga bahwa kakek yang sudah tua akan tetapi berwajah sehat dan
bermata lembut ini tentulah seorang berilmu tinggi, maka cepat ia memberi
hormat dan berkata,
"Banyak
terima kasih atas petunjuk dan nasehat paman. Akan tetapi maafkan kami
orang-orang muda yang kurang terima dan ingin tahu lebih jelas lagi, yaitu apa
sebabnya paman menganjurkan agar kami mengambil jalan lain. Adakah bahaya
menghadang di depan?"
Wiku Jaladara
menarik napas panjang lalu menjawab,
"Di depan
sana terdapat bahaya mengancam," ia menuding ke depan.
No comments:
Post a Comment