"Di sana terdapat orang-orang yang sedang diliputi kegelapan yang mengeruhkan budi pekerti mereka sehingga menyelewengkan mereka daripada kebenaran. Menjauhi kekotoran dan mencegah kekerasan, pergi dengan tenang dan damai adalah pekerti orang-orang bijaksana. Orang muda, harap kauajak rombonganmu ini mengambil jalan lain."
Joko Wandiro
bertukar pandang dengan Dewi. Gadis ini tersenyum lalu melangkah maju dan
berkata lantang,
"Eyang,
bukankah yang kaumaksudkan itu adalah pertapaan Durgaloka di mana Bhagawan
Kundilomuko tinggal bersama murid-muridnya?"
Sejenak
pendeta tua itu tertegun, memandang tajam kepada Dewi dan adik-adiknya, lalu
mengelus jenggotnya dan menghela napas pula.
"Sadhu-sadhu-sadhu.
semoga damai dan bahagialah diantara semua manusia di permukaan bumi!
Ah, nini,
terutama sekali engkau dan teman-temanmu ini, seyogyanya jangan melanjutkan
perjalanan melalui pertapaan Durgaloka. Sungguh baik kalau kalian sudah tahu,
dan orang yang secara sadar menjauhkan diri daripada bencana, adalah seorang
bijaksana."
Joko Wandiro
cepat bertanya,
"Paman,
kalau tidak keliru penglihatan saya, paman adalah seorang wiku. Sebagai seorang
wiku yang sudah lanjut usia, paman menasehatkan kami orang-orang muda supaya
menjauhi bahaya. Akan tetapi mengapa paman sendiri yang sudah tua malah hendak
menempuh bahaya itu? Apakah kalau terhadap paman, orang-orang Durgaloka tidak
akan mengganggu?"
Kakek itu
kembali mengelus-elus jenggotnya dan memandang tajam kepada Joko Wandiro,
kemudian berkata,
"Orang
muda, aku yang tua dan bodoh memang sengaja hendak menemui Bhagawan
Kundilomuko. Mendengar akan penyelewengannya, sudah menjadi kewajibanku untuk
berusaha mengingatkannya agar jangan makin berlarut-larut dan banyak
menimbulkan banyak korban."
"Maaf,
paman wiku. Kalau begitu, tugas kita ada persamaannya, yaitu membersihkan dunia
daripada yang kotor dan jahat. Hanya bedanya, kalau paman mengusahakan dengan
jalan halus dan menyadarkan mereka dengan petuah, kami akan melenyapkan segala
kekotoran itu dengan membasmi mereka kalau perlu!"
"Ahhh...
manusia dapat berusaha, hanya Hyang Maha Agung yang menentukan. HambaMu sudah
berusaha dan segalanya terserah.... terserah...!" Pendeta itu tidak bicara
lagi, hanya berjalan dengan kedua tangan dirangkap dan ditaruh di depan dada,
mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan doa.
Demikianlah
maka Joko Wandiro bersama anak buahnya datang ke Durgaloka bersama dengan Wiku
Jaladara ini. Dan atas desakan dan anjuran sang wiku pula maka perjalanan itu
diteruskan biarpun malam sudah tiba. Sang Wiku Jaladara yang sudah awas
paningal (berpemandangan waspada) ini tahu bahwa pada malam bulan purnama itu
tentulah terjadi hal-hal mengerikan dan hebat di Durgaloka. Dan untunglah bahwa
Sang Wiku Jaladara mendesak Joko Wandiro melanjutkan perjalanan di malam itu,
karena terlambat sebentar saja, keadaan Ayu Candra dan Endang Patibroto tak
mungkin dapat tertolong lagi! Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Joko
Wandiro ketika dalam penyusupannya ke Durgaloka itu ia melihat Ayu Candra dan
Endang Patibroto yang duduk seperti arca hidup itu sedang dirangkul oleh Ki
Jatoko dan Bhagawan Kundilomuko untuk diberi minum dari sebuah cawan. Karena
dapat menduga bahwa isi cawan itu tentulah benda yang amat berbahaya, maka ia
cepat bertindak. Kemarahan yang membakar hatinya jauh melampauhi kekagetannya,
maka begitu kedua tangannya bergerak, dua buah batu kerikil terbang dan
berhasil memukul jatuh cawan berisi anggur darah yang mengerikan itu. Sementara
itu, Dewi dan adik-adiknya serta anak buahnya sudah pula menyerbu dan mereka
ini mendapat sambutan dari para anak murid Bhagawan Kundilomuko sehingga
terjadilah perang tanding yang amat seru di sekitar tempat pemujaan dan taman
belukar sekeliling sumber mata air Sungai Bondoyudo. Pertandingan mati-matian
yang hanya diterangi sinar bulan purnama.
Bhagawan
Kundilomuko dan Ki Jatoko sudah menerjang dengan berbareng, menyerang Joko
Wandiro. Ki Jatoko maklum bahwa pemuda ini sakti luar biasa, akan tetapi karena
di situ terdapat Bhagawan Kundilomuko, maka ia tidak takut. Dengan keris di
tangan ia menerjang Joko Wandiro, sedangkan Bhagawan Kundilomuko juga sudah
menubruk maju sambil menggerakkan sebatang tongkat yang bentuknya seperti
seekor ular. Melihat gerakan mereka berdua itu, Joko Wandiro yang sudah siap
lalu memapaki mereka dengan gerak tangan yang melancarkan pukulan Bojro Dahono.
"Werrrrr..
desssss.......!!" Ki Jatoko terjungkir-balik oleh hawa pukulan yang
dahsyat itu, bahkan Bhagawan Kundilomuko juga terkejut karena tubuhnya
terhuyung ke belakang sampai dua langkah. Maklumlah sang bhagawan bahwa pemuda
ganteng yang datang ini memiliki kesaktian yang hebat, maka ia cepat berteriak
minta bantuan murid-muridnya, Memang jumlah anak murid Bhagawan Kundilomuko
jauh lebih banyak, ada kurang lebih seratus orang sedangkan Joko Wandiro hanya
diikuti oleh Dewi dan adik-adiknya dan anak buahnya yang jumlahnya hanya tiga
puluh orang. Maka kini belasan orang anak murid Bhagawan Kundilomuko sudah
menerjang naik ke atas tempat pemujaan untuk mengurung dan mengeroyok Joko
Wandiro.
Yang naik
adalah murid-murid wanita sehingga dalam sekejap mata saja Joko Wandiro menjadi
merah padam mukanya karena harus menghadapi pengeroyokan hampir dua puluh orang
gadis yang sebagian besar bertelanjang bulat tidak berpakaian sama sekali! Ia
menjadi muak dan marah, akan tetapi juga bingung karena wataknya yang baik
membuat ia tidak tega menjatuhkan tangan maut kepada wanita-wanita muda itu.
Sang Wiku Jaladara juga sudah naik ke tempat pemujaan. Ia menghela napas
panjang menyaksikan pertempuran yang tak mungkin dapat dicegah lagi itu,
kemudian ia lari menghampiri Endang Patibroto dan Ayu Candra. Dipegangnya kedua
tangan gadis ini dan ditariknya mereka itu ke pinggir. Kemudian ia cepat-cepat
mengambil secepuk obat dari dalam sakunya dan ditekankan cepuk yang sudah
dibukanya itu di bawah hidung Ayu Candra, kemudian di bawah hidung Endang
Patibroto. Dua orang gadis yang menurut saja seperti arca hidup itu kini
terbangkis-bangkis sampai beberapa kali. Mereka berbangkis terus ketika Wiku
Jaladara menaruh kedua tangan di atas kepala mereka sambil membaca mantera dan
mengerahkan kekuatan batinnya untuk mengusir hawa beracun dan awan hitam yang
menyelimuti kesadaran dan ingatan kedua orang gadis itu.
Kakek ini
begitu tekun dalam usahanya menyadarkan mereka berdua sehingga ia sama sekali
tidak memperdulikan pertempuran yang makin menghebat di sekelilingnya. Sang
Wiku Jaladara sama sekali tidak tahu betapa Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko
menghampirinya dengan mata mendelik saking marahnya. Dua orang ini dapat
menduga apa yang sedang dikerjakan oleh pendeta Buddha itu, maka tanpa diberi
komando lagi keduanya meloncat maju dengan keris dan tongkat di tangan.
"Cepp!
Trakkkk!!" Keris di tangan Ki Jatoko menancap lambung, sedangkan tongkat
ular di tangan Bhagawan Kundilomuko menghantam pelipis kepala sampai pecah!
Tanpa mengeluh
tubuh Wiku Jaladara menjadi lemas dan terguling. Dari mulutnya terdengar ucapan
lemah,
"Semoga
Sang Buddha memberi penerangan kepada kalian..!"
Ayu Candra
ikut pula terguling dan roboh pingsan. Akan tetapi tidak demikian dengan Endang
Patibroto. Tentu saja Endang Patibroto memiliki daya tahan dan kekuatan sakti
yang jauh lebih unggul daripada Ayu Candra, maka usaha sang wiku tadi sudah
berhasil. Begitu ia terlepas daripada penyelimutan hawa hitam dari ilmu sihir
dan racun, ia meloncat dan membuka mata lebar-lebar. Seketika ingatlah ia akan
semua pengalamannya, maka sambil mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo, tubuhnya
menerjang ke depan. Kaki kanannya menendang dada Ki Jatoko membuat si buntung
ini terguling-guling jauh sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah muka
Bhagawan Kundilomuko. Bhagawan itu kaget sekali, cepat membanting tubuh ke
belakang, lalu melarikan diri secepatnya. Juga Ki Jatoko sudah melarikan diri.
Sejenak Endang
Patibroto tertegun, lalu ia menggoyang-goyang kepalanya mengusir sisa
kepeningan dan kehampaan. Ketika ia memandang sekeliling, ia menjadi
terheran-heran melihat sekian banyaknya orang bertanding, sebagian besar
wanita. Ia tidak tahu siapa kawan siapa lawan, dan makin heranlah ia ketika
melihat Joko Wandiro dikeroyok oleh dua puluh lebih gadis-gadis cantik yang
telanjang. Mereka itu mengeroyok sambil cekikikan dan merayu-rayu! Muak rasa
perutnya, dan ia segera meloncat dari situ. Satu-satunya yang ia ketahui benar
adalah bahwa Ki Jatoko harus ia bunuh, karena Ki Jatoko inilah yang
menyebabkannya. Dan juga kakek tua bangka yang datang bersama Ki Jatoko itu
agaknya Bhagawan Kundilomuko, maka kakek itupun harus ia bunuh. Ia dapat
menduga! bahwa ia tentu terpedaya oleh kakek itu dengan ilmu mujijat.
Cepat-cepat ia lari mencari pondok di mana ia dikeram untuk mengambil kembali
pusakanya yang ia sembunyikan. Dengan hati lega dan gembira Endang Patibroto
mendapatkan kembali keris pusakanya, Brojol Luwuk. Ia merasa bersyukur bahwa
sebelum ia pingsan, ia masin ingat untuk menyembunyikan pusakanya. Kalau tidak,
tentu pusaka itu terjatuh ke tangan musuh dan hal ini amat berbahaya. Kini
dengan Brojol Luwuk di tangannya, pulih kembali semua kekuatan dan
kegagahannya, maka ia lalu berlari keluar. Begitu ia meloncat keluar, tiga
orang laki-laki anak murid Bhagawan Kundilomuko mencegat dan serta-merta
menubruk hendak menangkapnya.
"Mampuslah
kalian anjing-anjing keparat!" bentak Endang Patibroto, tangan kirinya
menampar. Terdengar suara keras dan tiga orang laki-laki itu roboh dengan
kepala pecah terkena pukulan halilintar tangan kiri Endang Patibroto! Gadis
perkasa ini segera mulai mencari dua ocang yang amat dibencinya di saat itu.
Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko! Dengan sikap beringas penuh amarah bagaikan
seekor singa betina, Endang Patibroto mencari Bhagawan Kundilomuko dan Ki
Jatoko. Ia melihat betapa Joko Wandiro dikeroyok puluhan orang wanita telanjang
dan anak murid Bhagawan Kundilomuko, melihat pula sepasukan wanita berperang
tanding mati-matian melawan para anak murid sang bhagawan, namun ia tidak
memperdulikan itu semua.
Setiap kali
ada anak buah Durgaloka menghadap di depannya, tangan kirinya menampar dan
robohlah si penghadang itu dengan kepala pecah atau dada remuk! Gadis ini sudah
marah sekali sehingga setiap gerakannya mengandung hawa pukulan yang amat ganas
dan keji. Semua rumah dimasukinya, diobrak-abrik dalam usahanya mencari
Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko. Bahkan setiap kali keluar dari pondok kosong,
gadis ini mendorong dan menendang roboh pondok itu, kemudian memasuki pondok
lain untuk mencari dua orang yang disangkanya bersembunyi di sebuah di antara
pondok-pondoK itu. Ketika ia memasuki pondok di mana selama ini ia ditahan dan
di mana ia tadi mendapatkan kembali pusakanya, ia melihat pakaiannya bertumpuk
di atas pembaringan. Teringatlah ia bahwa ia masih mengenakan pakaian sutera
putih halus yang amat memalukan itu. Cepat-cepat ia berganti pakaian, memakai
pakaiannya sendiri. Kemudian ia melanjutkan usahnya mencari dua orang yang amat
dibencinya itu.
Setelah semua
pondoK ia robohkan dan belum juga ia menemukan dua orang yang dicarinya, Endang
Patibroto menjadi marah sekali. Ia meloncat keluar dan menyambar seorang anak
murid pertapaan yang terdekat. Anak murid itu wanita dan melihat bahwa ia tidak
telanjang, tentu bukan seorang di antara tiga puluh orang penari tadi. Wanita
itu berusaha melawan dan menusukkan kerisnya ke arah Endang Patibroto.
"Takk!"
Wanita itu
menjerit dan memandang dengan muka pucat. Bukan perut gadis itu yang pecah,
melainkan keris di tangannya yang patah dan tinggal gagangnya saja! Sebelum
hilang kagetnya, tangan kiri Endang Patibroto sudah mencengkeran pundaknya.
Wanita itu menjerit-jerit. Rasa nyeri yang amat luar biasa menembus jantung
meresap ke seluruh tulang sumsum seakan-akan ribuan ekor semut memasuki
tubuhnya dan menggigitnya dari dalam.
"Aduh,
mati aku aduhh ampun....... bunuh saja aku" Wanita itu bersambat,
menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas. Namun Endang Patibroto
tidak melepaskan cengkeraman pada pundaknya.
"Hayo
katakan di mana tempat sembunyi gurumu dan Ki Jatoko!" Endang Patibroto
membentak sambil memandang penuh kebencian.
"Aduhh.......
ah, kau....... kau mencari pengantin pria.......? Auggghh!!" Wanita itu
tak sempat melanjutkan kata-katanya karena sebuah tamparan tangan kiri Endang
yang amat keras membuat rahang bawah mukanya remuk. Ia berkelojotan sekarat,
tak dapat bicara lagi.
Endang
Patibroto kini melompat ke depan dan menyambar seorang anak murid pria, tidak
perduli bahwa anak murid ini masih telanjang dan sedang sibuk mengeroyok Joko
Wandiro di barisan terbelakang. Sekali banting, laki-laki itu roboh dan Endang
Patibroto menggerakkan tangan kirinya, menangkap lengan kiri laki-laki itu dan
memilinnya.
"Krekk"
Lengan itu patah tulangnya dan laki-Iaki itu melolong kesakitan,
"Hayo
katakan, ke mana larinya gurumu dan Ki Jatoko?"
No comments:
Post a Comment