Badai Laut Selatan ; Bagian 151


"Di sana terdapat orang-orang yang sedang diliputi kegelapan yang mengeruhkan budi pekerti mereka sehingga menyelewengkan mereka daripada kebenaran. Menjauhi kekotoran dan mencegah kekerasan, pergi dengan tenang dan damai adalah pekerti orang-orang bijaksana. Orang muda, harap kauajak rombonganmu ini mengambil jalan lain."

Joko Wandiro bertukar pandang dengan Dewi. Gadis ini tersenyum lalu melangkah maju dan berkata lantang,
"Eyang, bukankah yang kaumaksudkan itu adalah pertapaan Durgaloka di mana Bhagawan Kundilomuko tinggal bersama murid-muridnya?"
Sejenak pendeta tua itu tertegun, memandang tajam kepada Dewi dan adik-adiknya, lalu mengelus jenggotnya dan menghela napas pula.
"Sadhu-sadhu-sadhu. semoga damai dan bahagialah diantara semua manusia di permukaan bumi!
Ah, nini, terutama sekali engkau dan teman-temanmu ini, seyogyanya jangan melanjutkan perjalanan melalui pertapaan Durgaloka. Sungguh baik kalau kalian sudah tahu, dan orang yang secara sadar menjauhkan diri daripada bencana, adalah seorang bijaksana."
Joko Wandiro cepat bertanya,
"Paman, kalau tidak keliru penglihatan saya, paman adalah seorang wiku. Sebagai seorang wiku yang sudah lanjut usia, paman menasehatkan kami orang-orang muda supaya menjauhi bahaya. Akan tetapi mengapa paman sendiri yang sudah tua malah hendak menempuh bahaya itu? Apakah kalau terhadap paman, orang-orang Durgaloka tidak akan mengganggu?"
Kakek itu kembali mengelus-elus jenggotnya dan memandang tajam kepada Joko Wandiro, kemudian berkata,
"Orang muda, aku yang tua dan bodoh memang sengaja hendak menemui Bhagawan Kundilomuko. Mendengar akan penyelewengannya, sudah menjadi kewajibanku untuk berusaha mengingatkannya agar jangan makin berlarut-larut dan banyak menimbulkan banyak korban."
"Maaf, paman wiku. Kalau begitu, tugas kita ada persamaannya, yaitu membersihkan dunia daripada yang kotor dan jahat. Hanya bedanya, kalau paman mengusahakan dengan jalan halus dan menyadarkan mereka dengan petuah, kami akan melenyapkan segala kekotoran itu dengan membasmi mereka kalau perlu!"
"Ahhh... manusia dapat berusaha, hanya Hyang Maha Agung yang menentukan. HambaMu sudah berusaha dan segalanya terserah.... terserah...!" Pendeta itu tidak bicara lagi, hanya berjalan dengan kedua tangan dirangkap dan ditaruh di depan dada, mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan doa.

Demikianlah maka Joko Wandiro bersama anak buahnya datang ke Durgaloka bersama dengan Wiku Jaladara ini. Dan atas desakan dan anjuran sang wiku pula maka perjalanan itu diteruskan biarpun malam sudah tiba. Sang Wiku Jaladara yang sudah awas paningal (berpemandangan waspada) ini tahu bahwa pada malam bulan purnama itu tentulah terjadi hal-hal mengerikan dan hebat di Durgaloka. Dan untunglah bahwa Sang Wiku Jaladara mendesak Joko Wandiro melanjutkan perjalanan di malam itu, karena terlambat sebentar saja, keadaan Ayu Candra dan Endang Patibroto tak mungkin dapat tertolong lagi! Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Joko Wandiro ketika dalam penyusupannya ke Durgaloka itu ia melihat Ayu Candra dan Endang Patibroto yang duduk seperti arca hidup itu sedang dirangkul oleh Ki Jatoko dan Bhagawan Kundilomuko untuk diberi minum dari sebuah cawan. Karena dapat menduga bahwa isi cawan itu tentulah benda yang amat berbahaya, maka ia cepat bertindak. Kemarahan yang membakar hatinya jauh melampauhi kekagetannya, maka begitu kedua tangannya bergerak, dua buah batu kerikil terbang dan berhasil memukul jatuh cawan berisi anggur darah yang mengerikan itu. Sementara itu, Dewi dan adik-adiknya serta anak buahnya sudah pula menyerbu dan mereka ini mendapat sambutan dari para anak murid Bhagawan Kundilomuko sehingga terjadilah perang tanding yang amat seru di sekitar tempat pemujaan dan taman belukar sekeliling sumber mata air Sungai Bondoyudo. Pertandingan mati-matian yang hanya diterangi sinar bulan purnama.
Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko sudah menerjang dengan berbareng, menyerang Joko Wandiro. Ki Jatoko maklum bahwa pemuda ini sakti luar biasa, akan tetapi karena di situ terdapat Bhagawan Kundilomuko, maka ia tidak takut. Dengan keris di tangan ia menerjang Joko Wandiro, sedangkan Bhagawan Kundilomuko juga sudah menubruk maju sambil menggerakkan sebatang tongkat yang bentuknya seperti seekor ular. Melihat gerakan mereka berdua itu, Joko Wandiro yang sudah siap lalu memapaki mereka dengan gerak tangan yang melancarkan pukulan Bojro Dahono.
"Werrrrr.. desssss.......!!" Ki Jatoko terjungkir-balik oleh hawa pukulan yang dahsyat itu, bahkan Bhagawan Kundilomuko juga terkejut karena tubuhnya terhuyung ke belakang sampai dua langkah. Maklumlah sang bhagawan bahwa pemuda ganteng yang datang ini memiliki kesaktian yang hebat, maka ia cepat berteriak minta bantuan murid-muridnya, Memang jumlah anak murid Bhagawan Kundilomuko jauh lebih banyak, ada kurang lebih seratus orang sedangkan Joko Wandiro hanya diikuti oleh Dewi dan adik-adiknya dan anak buahnya yang jumlahnya hanya tiga puluh orang. Maka kini belasan orang anak murid Bhagawan Kundilomuko sudah menerjang naik ke atas tempat pemujaan untuk mengurung dan mengeroyok Joko Wandiro.

Yang naik adalah murid-murid wanita sehingga dalam sekejap mata saja Joko Wandiro menjadi merah padam mukanya karena harus menghadapi pengeroyokan hampir dua puluh orang gadis yang sebagian besar bertelanjang bulat tidak berpakaian sama sekali! Ia menjadi muak dan marah, akan tetapi juga bingung karena wataknya yang baik membuat ia tidak tega menjatuhkan tangan maut kepada wanita-wanita muda itu. Sang Wiku Jaladara juga sudah naik ke tempat pemujaan. Ia menghela napas panjang menyaksikan pertempuran yang tak mungkin dapat dicegah lagi itu, kemudian ia lari menghampiri Endang Patibroto dan Ayu Candra. Dipegangnya kedua tangan gadis ini dan ditariknya mereka itu ke pinggir. Kemudian ia cepat-cepat mengambil secepuk obat dari dalam sakunya dan ditekankan cepuk yang sudah dibukanya itu di bawah hidung Ayu Candra, kemudian di bawah hidung Endang Patibroto. Dua orang gadis yang menurut saja seperti arca hidup itu kini terbangkis-bangkis sampai beberapa kali. Mereka berbangkis terus ketika Wiku Jaladara menaruh kedua tangan di atas kepala mereka sambil membaca mantera dan mengerahkan kekuatan batinnya untuk mengusir hawa beracun dan awan hitam yang menyelimuti kesadaran dan ingatan kedua orang gadis itu.
Kakek ini begitu tekun dalam usahanya menyadarkan mereka berdua sehingga ia sama sekali tidak memperdulikan pertempuran yang makin menghebat di sekelilingnya. Sang Wiku Jaladara sama sekali tidak tahu betapa Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko menghampirinya dengan mata mendelik saking marahnya. Dua orang ini dapat menduga apa yang sedang dikerjakan oleh pendeta Buddha itu, maka tanpa diberi komando lagi keduanya meloncat maju dengan keris dan tongkat di tangan.
"Cepp! Trakkkk!!" Keris di tangan Ki Jatoko menancap lambung, sedangkan tongkat ular di tangan Bhagawan Kundilomuko menghantam pelipis kepala sampai pecah!
Tanpa mengeluh tubuh Wiku Jaladara menjadi lemas dan terguling. Dari mulutnya terdengar ucapan lemah,
"Semoga Sang Buddha memberi penerangan kepada kalian..!"
Ayu Candra ikut pula terguling dan roboh pingsan. Akan tetapi tidak demikian dengan Endang Patibroto. Tentu saja Endang Patibroto memiliki daya tahan dan kekuatan sakti yang jauh lebih unggul daripada Ayu Candra, maka usaha sang wiku tadi sudah berhasil. Begitu ia terlepas daripada penyelimutan hawa hitam dari ilmu sihir dan racun, ia meloncat dan membuka mata lebar-lebar. Seketika ingatlah ia akan semua pengalamannya, maka sambil mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo, tubuhnya menerjang ke depan. Kaki kanannya menendang dada Ki Jatoko membuat si buntung ini terguling-guling jauh sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Bhagawan Kundilomuko. Bhagawan itu kaget sekali, cepat membanting tubuh ke belakang, lalu melarikan diri secepatnya. Juga Ki Jatoko sudah melarikan diri.

Sejenak Endang Patibroto tertegun, lalu ia menggoyang-goyang kepalanya mengusir sisa kepeningan dan kehampaan. Ketika ia memandang sekeliling, ia menjadi terheran-heran melihat sekian banyaknya orang bertanding, sebagian besar wanita. Ia tidak tahu siapa kawan siapa lawan, dan makin heranlah ia ketika melihat Joko Wandiro dikeroyok oleh dua puluh lebih gadis-gadis cantik yang telanjang. Mereka itu mengeroyok sambil cekikikan dan merayu-rayu! Muak rasa perutnya, dan ia segera meloncat dari situ. Satu-satunya yang ia ketahui benar adalah bahwa Ki Jatoko harus ia bunuh, karena Ki Jatoko inilah yang menyebabkannya. Dan juga kakek tua bangka yang datang bersama Ki Jatoko itu agaknya Bhagawan Kundilomuko, maka kakek itupun harus ia bunuh. Ia dapat menduga! bahwa ia tentu terpedaya oleh kakek itu dengan ilmu mujijat. Cepat-cepat ia lari mencari pondok di mana ia dikeram untuk mengambil kembali pusakanya yang ia sembunyikan. Dengan hati lega dan gembira Endang Patibroto mendapatkan kembali keris pusakanya, Brojol Luwuk. Ia merasa bersyukur bahwa sebelum ia pingsan, ia masin ingat untuk menyembunyikan pusakanya. Kalau tidak, tentu pusaka itu terjatuh ke tangan musuh dan hal ini amat berbahaya. Kini dengan Brojol Luwuk di tangannya, pulih kembali semua kekuatan dan kegagahannya, maka ia lalu berlari keluar. Begitu ia meloncat keluar, tiga orang laki-laki anak murid Bhagawan Kundilomuko mencegat dan serta-merta menubruk hendak menangkapnya.
"Mampuslah kalian anjing-anjing keparat!" bentak Endang Patibroto, tangan kirinya menampar. Terdengar suara keras dan tiga orang laki-laki itu roboh dengan kepala pecah terkena pukulan halilintar tangan kiri Endang Patibroto! Gadis perkasa ini segera mulai mencari dua ocang yang amat dibencinya di saat itu. Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko! Dengan sikap beringas penuh amarah bagaikan seekor singa betina, Endang Patibroto mencari Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko. Ia melihat betapa Joko Wandiro dikeroyok puluhan orang wanita telanjang dan anak murid Bhagawan Kundilomuko, melihat pula sepasukan wanita berperang tanding mati-matian melawan para anak murid sang bhagawan, namun ia tidak memperdulikan itu semua.

Setiap kali ada anak buah Durgaloka menghadap di depannya, tangan kirinya menampar dan robohlah si penghadang itu dengan kepala pecah atau dada remuk! Gadis ini sudah marah sekali sehingga setiap gerakannya mengandung hawa pukulan yang amat ganas dan keji. Semua rumah dimasukinya, diobrak-abrik dalam usahanya mencari Bhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko. Bahkan setiap kali keluar dari pondok kosong, gadis ini mendorong dan menendang roboh pondok itu, kemudian memasuki pondok lain untuk mencari dua orang yang disangkanya bersembunyi di sebuah di antara pondok-pondoK itu. Ketika ia memasuki pondok di mana selama ini ia ditahan dan di mana ia tadi mendapatkan kembali pusakanya, ia melihat pakaiannya bertumpuk di atas pembaringan. Teringatlah ia bahwa ia masih mengenakan pakaian sutera putih halus yang amat memalukan itu. Cepat-cepat ia berganti pakaian, memakai pakaiannya sendiri. Kemudian ia melanjutkan usahnya mencari dua orang yang amat dibencinya itu.
Setelah semua pondoK ia robohkan dan belum juga ia menemukan dua orang yang dicarinya, Endang Patibroto menjadi marah sekali. Ia meloncat keluar dan menyambar seorang anak murid pertapaan yang terdekat. Anak murid itu wanita dan melihat bahwa ia tidak telanjang, tentu bukan seorang di antara tiga puluh orang penari tadi. Wanita itu berusaha melawan dan menusukkan kerisnya ke arah Endang Patibroto.
"Takk!"
Wanita itu menjerit dan memandang dengan muka pucat. Bukan perut gadis itu yang pecah, melainkan keris di tangannya yang patah dan tinggal gagangnya saja! Sebelum hilang kagetnya, tangan kiri Endang Patibroto sudah mencengkeran pundaknya. Wanita itu menjerit-jerit. Rasa nyeri yang amat luar biasa menembus jantung meresap ke seluruh tulang sumsum seakan-akan ribuan ekor semut memasuki tubuhnya dan menggigitnya dari dalam.
"Aduh, mati aku aduhh ampun....... bunuh saja aku" Wanita itu bersambat, menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas. Namun Endang Patibroto tidak melepaskan cengkeraman pada pundaknya.
"Hayo katakan di mana tempat sembunyi gurumu dan Ki Jatoko!" Endang Patibroto membentak sambil memandang penuh kebencian.
"Aduhh....... ah, kau....... kau mencari pengantin pria.......? Auggghh!!" Wanita itu tak sempat melanjutkan kata-katanya karena sebuah tamparan tangan kiri Endang yang amat keras membuat rahang bawah mukanya remuk. Ia berkelojotan sekarat, tak dapat bicara lagi.

Endang Patibroto kini melompat ke depan dan menyambar seorang anak murid pria, tidak perduli bahwa anak murid ini masih telanjang dan sedang sibuk mengeroyok Joko Wandiro di barisan terbelakang. Sekali banting, laki-laki itu roboh dan Endang Patibroto menggerakkan tangan kirinya, menangkap lengan kiri laki-laki itu dan memilinnya.
"Krekk" Lengan itu patah tulangnya dan laki-Iaki itu melolong kesakitan,
"Hayo katakan, ke mana larinya gurumu dan Ki Jatoko?"

<<< Bagian 150                                                                                     Bagian 152 >>>

No comments:

Post a Comment