Badai Laut Selatan ; Bagian 152


"Aku.. aku tidak tahu....... mungkin ....... ke mana lagi kalau tidak ke hutan Gumukmas dekat pantai?"
"Gumukmas. Tempat apa itu dan di mana? Jawab cepat!"
Endang Patibroto sudah mencengkeram lengan kanan orang itu, membuat gerakan ancaman untuk mematahkan lagi lengan ini.
"Am....... ampun.....Gumukmas tempat pertapaan juga dari sini terus ke selatan....... mungkin dia belum jauh......."
Hanya sampai di situ, anak murid ini dapat bicara karena tiba-tiba jari tangan kiri Endang Patibroto sudah menyambar ke lehernya dan terdengar suara tulang patah. Laki-laki itu tewas di saat itu juga! Endang Patibroto melempar pandang ke sekelilingnya. Pertandingan masih berlangsung hebat. Joko Wandiro boleh jadi sakti mandraguna, akan tetapi ia melihat bahwa pemuda itu terlalu lemah hatinya. Dikeroyok banyak wanita telanjang itu kelihatan gugup dan agaknya pemuda itu tidak cukup tega untuk menjatuhkan tangan maut, hanya merobohkan mereka tanpa melukai berat. Tentu saja hal ini membuat para pengeroyoknya makin ganas dan berani sehingga pertempuran menjadi makin lama. Sementara itu, para wanita yang merupakan pasukan yang datang bersama Joko Wandiro juga bertanding ramai sekali melawan anak murid Durgaloka. Harus diakui bahwa anak murid Durgaloka rata-rata memiliki kepandaian yang lumayan dan karena jumlah mereka jauh lebih besar, maka para penyerbu menghadapi perlawanan berat dan banyak di antara para penyerbu roboh pula. Endang Patibroto tersenyum mengejek ke arah Joko Wandiro, kemudian seperti seekor burung srikatan saja gesitnya, ia sudah melompat dari situ, lenyap di antara pohon-pohon kemudian lari bagaikan seekor kijang menuju ke arah selatan, melakukan pengejaran terhadap dua orang yang melarikan diri itu.
Pemberitahuan anak murid Durgaloka yang bernasib sial itu tadi memang tidak bohong. Ketika Dhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko tahu bahwa gadis sakti itu sudah sadar kembali dari pengaruh jampi dan guna-guna, mereka menjadi terkejut dan ketakutan, menggunakan kesempatan selagi gadis itu belum sadar benar, cepat mereka berdua melarikan diri. Setelah di situ muncul seorang pemuda sakti seperti Joko Wandiro, ditambah lagi Endang Patibroto yang sudah sadar, tentu saja mereka berdua tidak berani membahayakan keselamatan diri untuk melawan pendekar-pendekar muda itu. Dan satu-satunya tempat yang dianggap paling aman oleh Dhagawan Kundilomuko adalah hutan Gumuk-mas, tempat pertapaannya yang kedua karena tempat ini berada di dekat pantai dan dekat pula dengan Pulau Darung (Nusabarung).

Semalam suntuk mereka lari dengan kecepatan mereka. Pada keesokan harinya, setelah matahari terbit, barulah kedua orang ini tiba di hutan Gumuk-mas. Biarpun Bhagawan Kundilomuko seorang tua yang sakti, namun oleh karena ia terlalu suka mengumbar nafsu keadaan tubuhnya kekurangan daya sakti sehingga dipakai lari semalam suntuk itu ia merasa lelah dan kehabisan tenaga. Terengah-engah ia lari menubruk dan memeluk kaki sebuah arca Sang Bathari Durgo yang menjadi dewi pujaannya, kemudian mengeluh,
"Duh Sang Bathari pujaan hamba! Hamba mohon perlindungan, Sang Dewi.... "
Ki Jatoko yang sepagi itu sudah berpeluh seluruh muka dan lehernya, mengusap peluh sambil memandang dengan hati kecut. Kecewa ia melihat keadaan pendeta itu. Ternyata biarpun sakti mandraguna, pendeta ini seorang pengecut dan penakut. Pertapaan dan anak muridnya diserbu musuh, malah lari seperti seekor anjing digebuk! Diam-diam ia merasa kecewa telah bersekutu dengan seorang yang sama sekali tak dapat diandalkan itu.
"Paman, kenapa kita berhenti di sini? Bukankah lebih baik kita terus saja berlindung di Nusabarung?"
Bhagawan Kundilomuko menggeleng kepala, menarik napas panjang. Wajahnya muram dan ia berduka juga mengingat anak-anak muridnya yang terkasih itu yang tentu akan terbasmi oleh dua orang muda sakti bersama pasukannya.
"Tidak, anak-mas, aku tidak akan pergi ke Nusabarung! Setelah kawan-kawan seperti Cekel Aksomolo dan yang lain-lain tewas, siapa lagi boleh diandalkan? Tentu Jenggala akan mengerahkan pasukan besar menyerang Nusabarung dan kalau kita berada di sana, sama dengan mencari mampus. Tidak, anak-mas, biarpun sudah tua, aku belum kepingin mati. Aku hendak pergi kepada keponakanku, Adipati Blambangan."
"Kenapa, paman bhagawan? Kalau kita membantunya dan mengerahkan pasukan mempertahankan Nusabarung, belum tentu kalah oleh barisan Jenggala."
"Tidak, kau pergilah ke Nusabarung kalau kaukehendaki, anak-mas. Aku tetap akan pergi ke Blambangan."

Tiba-tiba wajah Ki Jatoko menjadi pucat, matanya terbelalak. Tanpa mereka ketahui datangnya, tahu-tahu ia melihat bayangan....... Endang Patibroto di balik sebatang pohon, di belakang Bhagawan Kundilomuko! Rasa takut yang hebat menggetarkan jantung Ki Jatoko. Namun tidak menghilangkan kecerdikannya yang luar biasa. Ia maklum dalam sedetik itu bahwa jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri haruslah mengambil sikap tepat dan cepat. Ia pura-pura tidak melihat bayangan Endang Patibroto dan meloncat ke depan Bhagawan Kundilomuko, menudingkan telunjuknya ke hidung pendeta itu sambil membentak.
"Huh, kau pendeta bajul buntung! Sudah kusangka bahwa engkau adalah seorang pendeta yang tak patut, siapa kira kenyataannya lebih buruk lagi. Engkau tidak setia, pengecut dan pengkhianat! Sungguh aku menyesal sekali telah mendengar bujukanmu. Dengan baik-baik aku mengajak Endang Patibroto untuk merundingkan perihal perang antara Jenggala dan Nusabarung, tahu-tahu engkau gunakan akal keji untuk merobohkannya! Karena aku tidak ingin melihat dua orang gadis itu kaubunuh, terpaksa aku menurut dan......."
“Jatoko! Tutup mulutmu yang busuk....! Kau... kau.......!"
Pendeta itu marah sekali sehingga tak dapat melanjutkan kata-katanya dan langsung saja ia menerjang ke depan dan menghantamkan kepalan tangan kanan ke arah dada Ki Jatoko. Melihat pukulan yang mendatangkan angin dingin itu, Ki Jatoko cepat mengangkat lengan kanan pula dan menangkis dari samping. Inilah kesalahannya. Ia tidak tahu bahwa biarpun dalam ilmu silat ia belum tentu kalah oleh sang pendeta, namun dalam hal tenaga mujijat ia kalah ampuh, kalah kuat. Pendeta ini seorang ahli ilmu hitam, tenaga sakti di tubuhnya memang melemah karena ia hamburkan untuk mengumbar nafsu, akan tetapi tenaga yang timbul dari ilmu hitam amat kuat dan hebat.
"Dukkk !!"
Hebat pertemuan kedua lengan ini dan Ki Jatoko terkejut sekali, berseru keras ketika tubuhnya terlempar ke belakang sampai beberapa meter jauhnya, kemudian ia terbanting roboh di depan arca Bathari Durgo yang sebesar manusia itu. Untuk mencegah tubuhnya terhuyung-huyung, Ki Jatoko memeluk arca itu sehingga kelihatannya ia memeluk dan mencium tubuh arca yang telanjang! Cepat sekali Ki Jatoko menjatuhkan diri untuk mengelak kalau-kalau lawannya melanjutkan serangannya dari belakang. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring,
"Kundilomuko, bersiaplah kau menerima hukumanku!!"

Ki Jatoko cepat menengok dan melihat betapa Endang Patibroto telah menyerang Bhagawan Kundilomuko dengan garang, ia menonton dengan hati risau dan gelisah sekali. Memang ia telah dapat menyelamatkan diri dari tangan Endang Patibroto untuk sementara waktu dengan jalan "mengadu" gadis sakti itu melawan Bhagawan Kundilomuko. Akan tetapi sampai di manakah hasil daripada akalnya tadi itu? Keadaannya sekarang masih tidak lebih baik daripada tadi. Sebelum ia menjalankan siasat "membalikkan kepala" menentang Bhagawan Kundilomuko, ancaman mutlak datang dari Endang Patibroto, akan tetapi ia masih bersahabat dengan pendeta itu. Kini ia telah merobah keadaannya sendiri. Ia menjadikan pendeta itu sebagai musuhnya, akan tetapi mungkin sekali gadis itu dapat ia bujuk kembali dan sikapnya tadi mungkin akan berhasil mengurangi kebencian Endang Patibroto kepadanya. Kini ia gelisah sendiri. Gadis itu sakti mandraguna, andaikata ia membantu Bhagawan Kundilomuko, belum tentu dapat menangkan gadis itu. Kalau kini ia membantu Endang Patibroto seperti pernah ia lakukan ketika gadis itu bertanding melawan Joko Wandiro, tentu sang bhagawan akan dapat dirobohkan lebih cepat dan ia akan menggunakan kecerdikannya untuk membujuk gadis yang masih hijau ini. Diam-diam Ki Jatoko sudah mempersiapkan jarum racun ular di tangannya. Pertandingan antara Endang Patibroto dan Bhagawan Kundilomuko berlangsung seru dan mati-matian. Sang bhagawan mula-mula menerjang hebat mengerahkan semua kepandaian dan mengerahkan tenaga dalamnya, menghujankan pukulan-pukulan tangan miring ke arah tubuh Endang Patibroto. Namun dengan mudah Endang Patibroto mengelak dan menangkis. Melihat rangkaian serangannya gagal sama sekali, sang bhagawan meloncat mundur dan berkata,
"Endang Patibroto, aku masih merasa sayang kepadamu. Mengapa kau berkeras hendak bertanding melawanku? Sayang kalau sampai kau roboh binasa. Sebelum terlambat, kuperingatkan kau bahwa lebih baik kita bersahabat. Aku sayang kepadamu, manis. Engkau akan bahagia hidup menjadi isteri Bhagawan Kundilomuko, minta apapun akan terlaksana."
"Tua bangka jahanam! Sudah mendekati mampus masih banyak cakap?" bentak Endang Patibroto gemas.

Bhagawan Kundilomuko tiba-tiba tertawa, tertawa bergelak sampai suaranya menggetarkan seluruh hutan. Ki Jatoko yang menonton, tiba-tiba merasa perutnya kegelian dan tak dapat tertahan lagi iapun tertawa-tawa mengikuti suara ketawa sang bhagawan. Makin lama makin hebat sampai Ki Jatoko terpingkal-pingkal dan bergulingan di atas tanah, di depan kaki arca Bathari Durgo. Endang Patibroto juga merasa geli dan ingin sekali tertawa, sukar untuk mempertahankannya. Mulutnya sudah bergerak-gerak, bibirnya tersenyum-senyum, akan tetapi sebagai murid tunggal Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna, ia teringat bahwa ini adalah pengaruh ilmu hitam yang hebat. Maka ia segera mengerahkan Aji Sardulo Birowo (Pekik Harimau) lalu menjerit atau mengaum dengan keras dan nyaring sekali. Hebat sekali pengaruh pekik mujijat yang disalurkan dengan dorongan tenaga sakti ini. Seketika Bhagawan Kundilomuko menghentikan tawanya, mukanya pucat dan dahinya penuh keringat. Begitu sang bhagawan berhenti tertawa, Ki Jatoko juga otomatis berhenti tertawa. Ki jatoko terkejut dan melompat bangun, mukanya pucat napasnya terengah-engah. Celaka pikirnya, hampir ia menjadi korban. Ia kurang berhati-hati tadi sehingga terseret hawa mujijat dari suara ketawa kakek itu. Bhagawan Kundilomuko kini berdiri dengan kedua lengannya bergoyang-goyang ke atas dan jari-jari tangannya bergerak-gerak mencengkeram membuka seperti kuku harimau. jari-jari tangan ini tergetar dan terdengarlah suara "kletak-kletuk" seakan-akan semua kuku-kuku jarinya meledak-ledak. Bibirnya berkemak kemik dan kulit tubuhnya seakan-akan mengeluarkan minyak, menjadi mengkilat. Sang Bhagawan Kundilomuko sedang mengerahkan kesaktiannya dan dalam keadaan seperti itu ia seakan-akan berotot kawat bertulang besi!
"Bocah perawan sombong! Tak boleh diberi hati! Tidak bisa menjadi isteriku, kau akan menjadi mangsaku. Kuminum darahmu, kuganyang dagingmu, kuhisap sumsummu!"
Setelah mengeluarkan ancaman yang menyeramkan ini, sang bhagawan meloncat ke depan. Ki Jatoko hampir berteriak kaget ketika dalam pandangan matanya, kakek itu berubah menjadi seekor ular naga yang bertubuh manusia, atau manusia berkepala ular naga! Endang Patibroto juga melihat perubahan ini, namun sekali lagi ia memekik dengan Aji Sardulo Bairowo dan lenyap pula perubahan itu dalam pandang matanya, kemudian ia mempergunakan kegesitan tubuhnya untuk menyelinap ke samping, menghindarkan diri dari tubrukan yang disertai cengkeraman ganas itu. Kemudian, dari samping ia mengirim pukulan dengan jari-jari tangan dikembangkan dan ia telah menggunakan aji pukulan Gelap Musti yang ia pelajari dari kakeknya dahulu. Sang bhagawan menangkis dan ketika dua lengan bertemu, terdengar suara keras seperti logam beradu. Endang Patibroto terkejut karena ia merasa betapa lengan tangannya dingin sekali, rasa dingin yang meresap ke dalam tulang dan membuatnya bergidik kedinginan. Pada saat itu, sang bhagawan sudah menerjang lagi dan kini hawa pukulannya mengandung hawa dingin yang mengejutkan. Endang Patibroto harus mempergunakan gerak kecepatan Bayu Tantra untuk menyelamatkan diri, bahkan ia lalu memakai ilmu ibunya, yaitu gerakan burung walet dan camar. Dengan gesit sekali tubuhnya berkelebatan, kadang-kadang melompat tinggi seperti burung terbang dan menyelinap dari bawah amat cepatnya. Kakek ini menjadi geram dan penasaran. Ia maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan tangguh dan harus mengerahkan seluruh aji dan kepandaiannya, karena pertandingan ini adalah pertandingan mengadu nyawa! Sambil memekik dahsyat, ia meloncat ke depan, mencegat tubuh gadis itu yang baru melayang turun ketika menghindar dari tendangan kakinya. Sebelum tubuh Endang Patibroto tiba kembali di atas tanah, Bhagawan Kundilomuko sudah menyambutnya dengan pukulan kedua tangannya yang dilakukan berbareng, yang kanan menghantam perut, yang kiri menampar ke arah muka.

Pukulan yang amat berbahaya ini menyambar cepat sekali, mengeluarkan hawa yang amat dingin. Endang Patibroto terkejut, tidak menyangka lawannya dapat bergerak secepat itu. Pukulan ke arah muka mudah saja dielakkan, akan tetapi pukulan tangan terbuka dan miring ke arah perutnya tak mungkin dielakkan lagi. Terpaksa ia menangkis ke bawah.

<<< Bagian 151                                                                                      Bagian 153 >>>

No comments:

Post a Comment