"Aku.. aku tidak tahu....... mungkin ....... ke mana lagi kalau tidak ke hutan Gumukmas dekat pantai?"
"Gumukmas.
Tempat apa itu dan di mana? Jawab cepat!"
Endang
Patibroto sudah mencengkeram lengan kanan orang itu, membuat gerakan ancaman
untuk mematahkan lagi lengan ini.
"Am.......
ampun.....Gumukmas tempat pertapaan juga dari sini terus ke selatan.......
mungkin dia belum jauh......."
Hanya sampai
di situ, anak murid ini dapat bicara karena tiba-tiba jari tangan kiri Endang
Patibroto sudah menyambar ke lehernya dan terdengar suara tulang patah.
Laki-laki itu tewas di saat itu juga! Endang Patibroto melempar pandang ke
sekelilingnya. Pertandingan masih berlangsung hebat. Joko Wandiro boleh jadi
sakti mandraguna, akan tetapi ia melihat bahwa pemuda itu terlalu lemah
hatinya. Dikeroyok banyak wanita telanjang itu kelihatan gugup dan agaknya
pemuda itu tidak cukup tega untuk menjatuhkan tangan maut, hanya merobohkan
mereka tanpa melukai berat. Tentu saja hal ini membuat para pengeroyoknya makin
ganas dan berani sehingga pertempuran menjadi makin lama. Sementara itu, para
wanita yang merupakan pasukan yang datang bersama Joko Wandiro juga bertanding
ramai sekali melawan anak murid Durgaloka. Harus diakui bahwa anak murid Durgaloka
rata-rata memiliki kepandaian yang lumayan dan karena jumlah mereka jauh lebih
besar, maka para penyerbu menghadapi perlawanan berat dan banyak di antara para
penyerbu roboh pula. Endang Patibroto tersenyum mengejek ke arah Joko Wandiro,
kemudian seperti seekor burung srikatan saja gesitnya, ia sudah melompat dari
situ, lenyap di antara pohon-pohon kemudian lari bagaikan seekor kijang menuju
ke arah selatan, melakukan pengejaran terhadap dua orang yang melarikan diri
itu.
Pemberitahuan
anak murid Durgaloka yang bernasib sial itu tadi memang tidak bohong. Ketika
Dhagawan Kundilomuko dan Ki Jatoko tahu bahwa gadis sakti itu sudah sadar
kembali dari pengaruh jampi dan guna-guna, mereka menjadi terkejut dan
ketakutan, menggunakan kesempatan selagi gadis itu belum sadar benar, cepat
mereka berdua melarikan diri. Setelah di situ muncul seorang pemuda sakti
seperti Joko Wandiro, ditambah lagi Endang Patibroto yang sudah sadar, tentu
saja mereka berdua tidak berani membahayakan keselamatan diri untuk melawan
pendekar-pendekar muda itu. Dan satu-satunya tempat yang dianggap paling aman
oleh Dhagawan Kundilomuko adalah hutan Gumuk-mas, tempat pertapaannya yang
kedua karena tempat ini berada di dekat pantai dan dekat pula dengan Pulau
Darung (Nusabarung).
Semalam suntuk
mereka lari dengan kecepatan mereka. Pada keesokan harinya, setelah matahari
terbit, barulah kedua orang ini tiba di hutan Gumuk-mas. Biarpun Bhagawan
Kundilomuko seorang tua yang sakti, namun oleh karena ia terlalu suka mengumbar
nafsu keadaan tubuhnya kekurangan daya sakti sehingga dipakai lari semalam
suntuk itu ia merasa lelah dan kehabisan tenaga. Terengah-engah ia lari
menubruk dan memeluk kaki sebuah arca Sang Bathari Durgo yang menjadi dewi
pujaannya, kemudian mengeluh,
"Duh Sang
Bathari pujaan hamba! Hamba mohon perlindungan, Sang Dewi.... "
Ki Jatoko yang
sepagi itu sudah berpeluh seluruh muka dan lehernya, mengusap peluh sambil
memandang dengan hati kecut. Kecewa ia melihat keadaan pendeta itu. Ternyata
biarpun sakti mandraguna, pendeta ini seorang pengecut dan penakut. Pertapaan
dan anak muridnya diserbu musuh, malah lari seperti seekor anjing digebuk!
Diam-diam ia merasa kecewa telah bersekutu dengan seorang yang sama sekali tak
dapat diandalkan itu.
"Paman,
kenapa kita berhenti di sini? Bukankah lebih baik kita terus saja berlindung di
Nusabarung?"
Bhagawan
Kundilomuko menggeleng kepala, menarik napas panjang. Wajahnya muram dan ia
berduka juga mengingat anak-anak muridnya yang terkasih itu yang tentu akan
terbasmi oleh dua orang muda sakti bersama pasukannya.
"Tidak,
anak-mas, aku tidak akan pergi ke Nusabarung! Setelah kawan-kawan seperti Cekel
Aksomolo dan yang lain-lain tewas, siapa lagi boleh diandalkan? Tentu Jenggala
akan mengerahkan pasukan besar menyerang Nusabarung dan kalau kita berada di
sana, sama dengan mencari mampus. Tidak, anak-mas, biarpun sudah tua, aku belum
kepingin mati. Aku hendak pergi kepada keponakanku, Adipati Blambangan."
"Kenapa,
paman bhagawan? Kalau kita membantunya dan mengerahkan pasukan mempertahankan
Nusabarung, belum tentu kalah oleh barisan Jenggala."
"Tidak,
kau pergilah ke Nusabarung kalau kaukehendaki, anak-mas. Aku tetap akan pergi
ke Blambangan."
Tiba-tiba
wajah Ki Jatoko menjadi pucat, matanya terbelalak. Tanpa mereka ketahui
datangnya, tahu-tahu ia melihat bayangan....... Endang Patibroto di balik
sebatang pohon, di belakang Bhagawan Kundilomuko! Rasa takut yang hebat
menggetarkan jantung Ki Jatoko. Namun tidak menghilangkan kecerdikannya yang
luar biasa. Ia maklum dalam sedetik itu bahwa jalan satu-satunya untuk
menyelamatkan diri haruslah mengambil sikap tepat dan cepat. Ia pura-pura tidak
melihat bayangan Endang Patibroto dan meloncat ke depan Bhagawan Kundilomuko,
menudingkan telunjuknya ke hidung pendeta itu sambil membentak.
"Huh, kau
pendeta bajul buntung! Sudah kusangka bahwa engkau adalah seorang pendeta yang
tak patut, siapa kira kenyataannya lebih buruk lagi. Engkau tidak setia,
pengecut dan pengkhianat! Sungguh aku menyesal sekali telah mendengar
bujukanmu. Dengan baik-baik aku mengajak Endang Patibroto untuk merundingkan
perihal perang antara Jenggala dan Nusabarung, tahu-tahu engkau gunakan akal
keji untuk merobohkannya! Karena aku tidak ingin melihat dua orang gadis itu
kaubunuh, terpaksa aku menurut dan......."
“Jatoko! Tutup
mulutmu yang busuk....! Kau... kau.......!"
Pendeta itu
marah sekali sehingga tak dapat melanjutkan kata-katanya dan langsung saja ia
menerjang ke depan dan menghantamkan kepalan tangan kanan ke arah dada Ki
Jatoko. Melihat pukulan yang mendatangkan angin dingin itu, Ki Jatoko cepat
mengangkat lengan kanan pula dan menangkis dari samping. Inilah kesalahannya.
Ia tidak tahu bahwa biarpun dalam ilmu silat ia belum tentu kalah oleh sang
pendeta, namun dalam hal tenaga mujijat ia kalah ampuh, kalah kuat. Pendeta ini
seorang ahli ilmu hitam, tenaga sakti di tubuhnya memang melemah karena ia
hamburkan untuk mengumbar nafsu, akan tetapi tenaga yang timbul dari ilmu hitam
amat kuat dan hebat.
"Dukkk
!!"
Hebat
pertemuan kedua lengan ini dan Ki Jatoko terkejut sekali, berseru keras ketika
tubuhnya terlempar ke belakang sampai beberapa meter jauhnya, kemudian ia
terbanting roboh di depan arca Bathari Durgo yang sebesar manusia itu. Untuk
mencegah tubuhnya terhuyung-huyung, Ki Jatoko memeluk arca itu sehingga
kelihatannya ia memeluk dan mencium tubuh arca yang telanjang! Cepat sekali Ki
Jatoko menjatuhkan diri untuk mengelak kalau-kalau lawannya melanjutkan
serangannya dari belakang. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan
nyaring,
"Kundilomuko,
bersiaplah kau menerima hukumanku!!"
Ki Jatoko
cepat menengok dan melihat betapa Endang Patibroto telah menyerang Bhagawan
Kundilomuko dengan garang, ia menonton dengan hati risau dan gelisah sekali.
Memang ia telah dapat menyelamatkan diri dari tangan Endang Patibroto untuk
sementara waktu dengan jalan "mengadu" gadis sakti itu melawan
Bhagawan Kundilomuko. Akan tetapi sampai di manakah hasil daripada akalnya tadi
itu? Keadaannya sekarang masih tidak lebih baik daripada tadi. Sebelum ia
menjalankan siasat "membalikkan kepala" menentang Bhagawan
Kundilomuko, ancaman mutlak datang dari Endang Patibroto, akan tetapi ia masih
bersahabat dengan pendeta itu. Kini ia telah merobah keadaannya sendiri. Ia
menjadikan pendeta itu sebagai musuhnya, akan tetapi mungkin sekali gadis itu
dapat ia bujuk kembali dan sikapnya tadi mungkin akan berhasil mengurangi
kebencian Endang Patibroto kepadanya. Kini ia gelisah sendiri. Gadis itu sakti
mandraguna, andaikata ia membantu Bhagawan Kundilomuko, belum tentu dapat
menangkan gadis itu. Kalau kini ia membantu Endang Patibroto seperti pernah ia
lakukan ketika gadis itu bertanding melawan Joko Wandiro, tentu sang bhagawan
akan dapat dirobohkan lebih cepat dan ia akan menggunakan kecerdikannya untuk
membujuk gadis yang masih hijau ini. Diam-diam Ki Jatoko sudah mempersiapkan
jarum racun ular di tangannya. Pertandingan antara Endang Patibroto dan
Bhagawan Kundilomuko berlangsung seru dan mati-matian. Sang bhagawan mula-mula
menerjang hebat mengerahkan semua kepandaian dan mengerahkan tenaga dalamnya,
menghujankan pukulan-pukulan tangan miring ke arah tubuh Endang Patibroto.
Namun dengan mudah Endang Patibroto mengelak dan menangkis. Melihat rangkaian
serangannya gagal sama sekali, sang bhagawan meloncat mundur dan berkata,
"Endang
Patibroto, aku masih merasa sayang kepadamu. Mengapa kau berkeras hendak
bertanding melawanku? Sayang kalau sampai kau roboh binasa. Sebelum terlambat,
kuperingatkan kau bahwa lebih baik kita bersahabat. Aku sayang kepadamu, manis.
Engkau akan bahagia hidup menjadi isteri Bhagawan Kundilomuko, minta apapun
akan terlaksana."
"Tua
bangka jahanam! Sudah mendekati mampus masih banyak cakap?" bentak Endang
Patibroto gemas.
Bhagawan
Kundilomuko tiba-tiba tertawa, tertawa bergelak sampai suaranya menggetarkan
seluruh hutan. Ki Jatoko yang menonton, tiba-tiba merasa perutnya kegelian dan
tak dapat tertahan lagi iapun tertawa-tawa mengikuti suara ketawa sang
bhagawan. Makin lama makin hebat sampai Ki Jatoko terpingkal-pingkal dan
bergulingan di atas tanah, di depan kaki arca Bathari Durgo. Endang Patibroto
juga merasa geli dan ingin sekali tertawa, sukar untuk mempertahankannya.
Mulutnya sudah bergerak-gerak, bibirnya tersenyum-senyum, akan tetapi sebagai
murid tunggal Dibyo Mamangkoro yang sakti mandraguna, ia teringat bahwa ini
adalah pengaruh ilmu hitam yang hebat. Maka ia segera mengerahkan Aji Sardulo
Birowo (Pekik Harimau) lalu menjerit atau mengaum dengan keras dan nyaring
sekali. Hebat sekali pengaruh pekik mujijat yang disalurkan dengan dorongan
tenaga sakti ini. Seketika Bhagawan Kundilomuko menghentikan tawanya, mukanya
pucat dan dahinya penuh keringat. Begitu sang bhagawan berhenti tertawa, Ki
Jatoko juga otomatis berhenti tertawa. Ki jatoko terkejut dan melompat bangun,
mukanya pucat napasnya terengah-engah. Celaka pikirnya, hampir ia menjadi
korban. Ia kurang berhati-hati tadi sehingga terseret hawa mujijat dari suara
ketawa kakek itu. Bhagawan Kundilomuko kini berdiri dengan kedua lengannya
bergoyang-goyang ke atas dan jari-jari tangannya bergerak-gerak mencengkeram
membuka seperti kuku harimau. jari-jari tangan ini tergetar dan terdengarlah
suara "kletak-kletuk" seakan-akan semua kuku-kuku jarinya
meledak-ledak. Bibirnya berkemak kemik dan kulit tubuhnya seakan-akan
mengeluarkan minyak, menjadi mengkilat. Sang Bhagawan Kundilomuko sedang
mengerahkan kesaktiannya dan dalam keadaan seperti itu ia seakan-akan berotot
kawat bertulang besi!
"Bocah
perawan sombong! Tak boleh diberi hati! Tidak bisa menjadi isteriku, kau akan
menjadi mangsaku. Kuminum darahmu, kuganyang dagingmu, kuhisap sumsummu!"
Setelah
mengeluarkan ancaman yang menyeramkan ini, sang bhagawan meloncat ke depan. Ki
Jatoko hampir berteriak kaget ketika dalam pandangan matanya, kakek itu berubah
menjadi seekor ular naga yang bertubuh manusia, atau manusia berkepala ular
naga! Endang Patibroto juga melihat perubahan ini, namun sekali lagi ia memekik
dengan Aji Sardulo Bairowo dan lenyap pula perubahan itu dalam pandang matanya,
kemudian ia mempergunakan kegesitan tubuhnya untuk menyelinap ke samping,
menghindarkan diri dari tubrukan yang disertai cengkeraman ganas itu. Kemudian,
dari samping ia mengirim pukulan dengan jari-jari tangan dikembangkan dan ia
telah menggunakan aji pukulan Gelap Musti yang ia pelajari dari kakeknya
dahulu. Sang bhagawan menangkis dan ketika dua lengan bertemu, terdengar suara
keras seperti logam beradu. Endang Patibroto terkejut karena ia merasa betapa
lengan tangannya dingin sekali, rasa dingin yang meresap ke dalam tulang dan
membuatnya bergidik kedinginan. Pada saat itu, sang bhagawan sudah menerjang
lagi dan kini hawa pukulannya mengandung hawa dingin yang mengejutkan. Endang
Patibroto harus mempergunakan gerak kecepatan Bayu Tantra untuk menyelamatkan
diri, bahkan ia lalu memakai ilmu ibunya, yaitu gerakan burung walet dan camar.
Dengan gesit sekali tubuhnya berkelebatan, kadang-kadang melompat tinggi
seperti burung terbang dan menyelinap dari bawah amat cepatnya. Kakek ini
menjadi geram dan penasaran. Ia maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan
tangguh dan harus mengerahkan seluruh aji dan kepandaiannya, karena
pertandingan ini adalah pertandingan mengadu nyawa! Sambil memekik dahsyat, ia
meloncat ke depan, mencegat tubuh gadis itu yang baru melayang turun ketika
menghindar dari tendangan kakinya. Sebelum tubuh Endang Patibroto tiba kembali
di atas tanah, Bhagawan Kundilomuko sudah menyambutnya dengan pukulan kedua
tangannya yang dilakukan berbareng, yang kanan menghantam perut, yang kiri
menampar ke arah muka.
Pukulan yang
amat berbahaya ini menyambar cepat sekali, mengeluarkan hawa yang amat dingin.
Endang Patibroto terkejut, tidak menyangka lawannya dapat bergerak secepat itu.
Pukulan ke arah muka mudah saja dielakkan, akan tetapi pukulan tangan terbuka
dan miring ke arah perutnya tak mungkin dielakkan lagi. Terpaksa ia menangkis
ke bawah.
No comments:
Post a Comment