"Dukkk...!!"
Tubuh Endang
Patibroto yang masih di atas itu terlempar ke belakang dan gadis ini merasa
pundaknya kaku dan amat dingin. Ia kaget dan marah sekali, apalagi melihat
pendeta tua itu terkekeh mentertawakannya. Dengan muka beringas Endang
Patibroto menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan mengebutlah asap dari
kedua tangannya itu sedang telapak tangannya menjadi makin merah. Itulah aji
Wisangnolo, aji pukulan jarak jauh Api Beracun yang ia warisi dari gurunya,
Dibyo Mamangkoro! Menyaksikan kehebatan ini, seketika terhenti suara ketawa
Bhagawan Kundilomuko, akan tetapi kekagetannya ini masih kalah oleh rasa
kagetnya ketika pada saat itu terdengar suara mendesir dari sebelah kiri. Cepat
ia mengebutkan tangan kirinya dan runtuhlah tiga batang jarum hitam. Ia
memandang Ki Jatoko dengan mata mendelik, saking marahnya tak dapat
mengeluarkan kata-kata, seperti hendak menelan hidup-hidup orang buntung itu.
Ki Jatoko menjadi pucat wajahnya. Tak disangkanya bahwa sang bhagawan itu
benar-benar sakti dan tinggi kepandaiannya. Sementara itu, ketika Endang
Patibroto melihat bantuan ini, ia bukan menjadi girang, sebaliknya ia memaki,
"Iblis
buntung! Siapa sudi akan bantuanmu? Berdiamlah kau di situ menanti
giliran!"
Setelah berkata
demikian, tanpa memperdulkan si buntung yang berdiri di dekat arca dengan muka
pucat dan dahi penuh keringat, Endang Patibroto sudah menerjang maju,
menggunakan tangan kanan yang penuh dengan saluran tenaga Wisangnala untuk
menyerang lawan. Bhagawan Kundilomuko melangkah mundur menghindar, kemudian
balas memukul dengan tangan kiri. Endang Patibroto yang sudah mengerahkan Aji
Wisangnala, tidak takut bahkan sengaja menangkis dengan tangan kanannya.
"Plakkkk"
Lengan kiri
Bhagawan Kundilomuko dan tangan kanan Endang Patibroto bertemu seakan-akan
lengket. Mereka berdua tak bergerak seperti patung, namun kedua lengan yang
bertemu itu menggigil karena di situ terjadi adu kekuatan yang dahsyat. Hawa
dingin yang keluar dari tangan kiri pendeta itu bertemu dengan hawa panas yang
keluar dari tangan Endang Patibroto! Beberapa menit mereka dalam keadaan
seperti ini, muka Endang Patibroto menjadi kemerahan dan muka pendeta itu makin
lama makin pucat.
Sebagai
seorang yang memiliki ilmu tinggi, Ki Jatoko maklum apa yang sedang terjadi. Ia
bukan seorang bodoh. Kalau Sang Bhagawan Kundilomuko menang, dia tentu akan
diserang kakek itu dan melihat kesaktian kakek ini dalam pertandingan melawan
Endang Patibroto, ia merasa tidak kuat untuk menandinginya. Sebaliknya, kalau Endang
Patibroto yang menang, biarpun mungkin ia dapat membujuknya namun masih tetap
ada bahayanya, mengingat akan watak gadis itu yang liar dan ganas. Mengapa
kesempatan sebaik ini tidak ia pergunakan? Mereka sedang mengadu tenaga sakti,
siapa yang mengalihkan perhatian akan kalah. Oleh karena itu, diam-diam kakinya
yang buntung bergerak dan ia menyelinap pergi dari tempat itu. Ia harus
melarikan diri, lebih cepat lebih baik. Tak lama setelah bayangan Ki Jatoko
menyelinap pergi, terdengar Endang Patibroto mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo
sedangkan Bhagawan Kundilomuko juga mengeluarkan lengking panjang. Keduanya
terhuyung ke belakang, akan tetapi keadaan Bhagawan Kundilomuko lebih payah
karena tangan kirinya menjadi lumpuh dan tergantung lemas di samping pinggangnya.
Endang Patibroto hanya merasa betapa lengan kanannya kaku dan kesemutan saja.
Sang Bhagawan Kundilomuko menjadi makin marah. Sambil berteriak keras ia
melolos ikat pinggangnya yang terbuat daripada logam kuning seperti emas.
Senjata itu ia pegang dengan tangan kanan, diputar di atas kepala dan
menerjanglah ia dengan dahsyat.
"Trang-trang..!!"
Alangkah kaget
hati pendeta ini ketika melihat ikat pinggangnya patah-patah menjadi beberapa
potong ketika bertemu dengan sebatang keris yang mengeluarkan cahaya
menyeramkan. Kiranya Endang Patibroto yang marah sudah pula mencabut keris
pusaka Brojol Luwuk dan dengan mudah keris pusaka ini membabat putus senjata
lawan.
“Celaka..!"
Teriakan Bhagawan Kundilomuko ini disusul dengan jerit mengerikan ketika ujung
keris pusaka Brojol Luwuk menyentuh lambungnya. Kembali keris yang ganas ini
telah mendapat mangsa. Seketika tubuh pendeta tua itu roboh dan kering
menghitam, tewas di saat itu juga!
Endang
Patibroto menyimpan kerisnya, sepasang matanya mencari-cari dengan pandang mata
liar, kemudian tubuhnya berkelebat cepat menyelinap di antara pohon-pohon. Ia
tadi juga melihat betapa Ki Jatoko pergi namun karena pertandingan melawan
Bhagawan Kundilomuko tadi membutuhkan pencurahan tenaga dan perhatian, terpaksa
ia mendiamkannya saja. Belum lama si buntung pergi, maka iapun cepat mengejar
dan mencari. Setelah beberapa kali melayang naik ke atas pohon yang tinggi,
akhirnya ia melihat betapa si buntung berlari-lari cepat menuju ke arah barat.
Senyum mengejek mengembang di bibirnya ketika Endang Patibroto melayang turun
kembali lalu mengerahkan aji berlari cepat melakukan pengejaran ke barat. Agak
lega rasa hati Ki Jatoko setelah ia meninggalkan hutan Gumukmas dan memasuki
hutan lain di sebelah barat. Bhagawan Kundilomuko berniat pergi ke Blambangan
yang letaknya di sebelah timur. Nusabarung letaknya di seberang pantai selatan
dan Jenggala berada di sebelah utara. Agaknya, siapapun yang menang di antara
dua orang itu, tidak akan ada yang mengejar ke arah barat. Hatinya lega, dadanya
terlalu lapang. Akan tetapi ia cukup hati-hati dan terus mempergunakan ilmu
lari cepat. Ia akan berlari-lari terus sehari penuh itu dan takkan mau berhenti
sebelum dunia menjadi gelap yang berarti bahwa ia sudah bebas dan aman betul
daripada ancaman dua orang sakti itu.
"Ha-ha-ha!
Siapa yang kalah okol (kuat) harus mencari kemenangan mengandalkan akal"
katanya dalam hati, akan tetapi saking girangnya, suara hati ini terucapkan
keluar melalui mulutnya. Akan tetapi, bibirnya yang belum tertutup rapat sehabis
mengeluarkan kata-kata itu, kini terbuka lebar, bersaing lebar dengan kedua
matanya. Kedua kakinya yang buntung otomatis berhenti bergerak, tubuhnya
menggigil dan merasa betapa rambut di tengkuknya bergerak-gerak meremang dan
leher terasa kering, jantung di dada berdetak-detak seperti genderang. Tak jauh
di depannya, hanya empat meter jauhnya, berdiri Endang Patibroto dengan senyum
di bibir, senyum yang dingin mengerikan! Beberapa kali Ki Jatoko berusaha
mengeluarkan suara. Kecerdikannya membuat otaknya bekerja cepat dan ia hendak
menyelamatkan diri menggunakan kata-kata, akan tetapi celaka, lidahnya serasa
menempel dengan telak, mulutnya tak dapat digerakkan! Dan senyum itu makin
melebar, makin manis makin mengerikan, sepasang mata yang bening itu bersinar-sinar
seperti hendak menembus jantungnya.
"E..eh..
Endang.. eh, syukurlah.. syukur kau menang! Pendeta kementhus (sombong) itu
memang patut mampus! Aku... hemm, aku tadi berusaha membunuhnya dengan jarum,
tapi.. tapi ia terlampau sakti.. sehingga tak... berhasil... hehheh, Endang,
kau sungguh hebat, sakti mandraguna. Sungguh bagaikan dewi kahyangan saja..
heh-heh" Ki Jatoko yang sudah pulih kembali perasaannya makin lancar
bicaranya, mulutnya menyeringai, sikapnya menjilat-jilat.
"Cukup!
Kau manusia jahanam, jangan mengira aku akan terbujuk oleh omonganmu yang manis
lagi! Kau sengaja menjebakku di Durgaloka, kau bersekongkol dengan Bhagawan
Kundilomuko untuk menangkap aku! Manusia macam engkau ini sudah selayaknya
mampus!" Endang Patibroto maju perlahan, senyumnya makin dingin, matanya
seperti mata harimau marah. Serasa lolos melayang semangat Ki Jatoko dari
raganya. Ia mundur-mundur dan wajahnya pucat.
"Jangan..
! Endang Patibroto, jangan........ aku.. aku tertipu oleh Kundilomuko, aku
terbujuk... apakah kau tadi tidak melihat betapa aku marah dan menyerangnya?
Aku ... aku... tidak berniat busuk terhadapmu, mana aku berani? Selain tidak
berani, akupun tidak sudi berlaku jahat kepadamu, Endang, karena kau sudah baik
kepadaku.... kau tidak membunuh Ayu Candra....."
"Tutup
mulut” Endang Patibroto menerjang maju dan sebuah tamparan tangannya tak dapat
dielakkan Ki Jatoko, tepat mengenai pipinya.
"Plakkk!"
Serasa kiamat dunia ini bagi Ki Jatoko. Matanya berkunang-kunang, tubuhnya
terhuyung ke belakang. Untung ia seorang yang memiliki kesaktian, kalau tidak
tentu sudah pecah kepalanya terkena tamparan itu.
"Endang,
jangan bunuh aku... ingat... aku bukan musuhmu... aku sudah membuka
rahasia..."
"Wuuuutt...dessss
!!"
"Aduh
mati aku...!" Tubuh Ki Jatoko bergulingan. Untung pukulan pertama yang
mengarah pelipisnya dapat ia elakkan dan hanya sebuah tendangan saja yang
membuat ia terjungkal dan bergulingan. Kalau pukulan tadi yang mengenainya,
belum tentu ia dapat menahannya.
"Memang
kau akan mati di tanganku! Hayo bangkit lah. Kau bukan seorang lemah. Kau
memiliki kesaktian. Bangkitlah dan mari kita bertanding, jijik aku melihat
lawan yang tidak mau bertanding. Jijik aku membunuh orang yang tidak mau
melawan. Hayo bangkit!"
"Endang...
betul-betulkah kau berniat membunuh aku.......??” Suara Ki Jatoko gemetar dan
nadanya menimbulkan iba.
"Betul!
Mengapa tidak” bentak Endang Patibroto, kedua tangannya sudah menegang, siap
mengirim pukulan maut.
"Tidak
........ tidak ! Jangan bunuh aku, aku tidak mau melawanmu. Jangan kaubunuh
aku, anakku........ jangan !"
"Wuuuuttt..!!"
Pukulan ini merupakan tamparan yang hebat sekali, akan tetapi untung bagi Ki
Jatoko bahwa ia sudah siap dan cepat-cepat ia menggulingkan tubuh di atas tanah
terus menggelinding menjauhkan diri. Endang Patibroto dengan langkah ringan
mengejar.
"Hayo
bangun! Pengecut menjijikkan! Hayo bangun dan pergunakan kepandaianmu. Bukankah
kau laki-laki? Hayo kaulawan aku!"
'Tidak! Tidak
bisa kau membunuh aku, Endang Patibroto!"
"Mengapa
tidak?"
"Lupakah
kau akan ceritaku, akan pembukaan rahasia besar dalam kehidupanmu? Ceritaku
belum habis, kau ingatkah ?”
Berubah wajah
Endang Patibroto, keningnya yang bagus bentuknya itu berkerut-kerut, matanya
menyinarkan kebimbangan hatinya dan mata itu menjadi basah. Cerita itu mengguncangkan
hatinya. Dia bukan puteri Pujo? Ayah kandungnya Jokowanengpati yang telah
dibunuh ibunya dan isteri muda Pujo?
"Andaikata
benar dongengmu itu, tetap tidak ada hubungannya dengan kau. Justeru karena kau
menceritakan dongeng busuk kepadaku, kemudian menjebakku bersama Bhagawan
Kundilomuko, maka sekarang kau akan kubunuh?”
Kembali Endang
Patibroto menerjang dengan tamparan tangannya yang ampuh. Dua kali ia menampar,
sekali kena dielakkan oleh Ki Jatoko, yang kedua kali ditangkis, membuat tubuh
si buntung kembali jungkir balik dan roboh. Sebelum Endang Patibroto mengirim
pukulan terakhir, Ki Jatoko berteriak,
"Jangan
bunuh aku! Aku.. aku ayahmu! Aku ayah kandungmu, karena akulah
Jokowanengpati!"
Tangan yang
sudah diangkat ke atas dan sudah menegang penuh tenaga sakti itu, tertahan,
menggigil kemudian menjadi lemas dan turun kembali. Sepasang mata itu memandang
wajah Ki Jatoko, terbelalak dan kosong, bergerak-gerak bingung, hidungnya
kembang-kempis, bibir yang tersenyum dingin kini tertarik seperti orang
menderita nyeri yang hebat.
"Kau
bohong... kau ... kau bohong........ kuhancurkan kepalamu...”
"Boleh.
Kaupukullah, kaubunuhlah, akan tetapi ingat, aku benar-benar ayah kandungmu.
Aku Jokowanengpati dan kau ini anakku, karena dahulu akulah kekasih ibumu,
Kartikosari!"
Kini suara Ki
Jatoko tenang, hilang rasa takutnya karena ia sudah mempunyai pegangan.
Pegangan yang menguatkan hatinya, yang menimbulkan keyakinannya bahwa hanya
inilah jalan keluar dari bahaya maut di tangan gadis sakti ini.
"Bohong!
Tak mungkin ibu sudi dengan manusia buruk macam engkau! Kau bukan
Jokowanengpati karena orang itu sudah tewas di tangan ibuku "
"Ha-ha-ha!
Memang mereka mengira aku telah tewas. Memang, ibumu bersama Roro Luhito
mengeroyokku di pantai Laut Selatan. Aku terpelanting dan terjatuh ke dalam
lautan. Ibumu dan Roro Luhito tak dapat mengejarku. Akan tetapi malang bagiku,
seekor ikan hiu besar menyergap dan menyeretku. Biarpun aku berhasil membunuh
ikan itu, akan tetapi kedua Kakiku menjadi buntung, tubuhku menjadi cacat dan
mukaku rusak. Mereka tentu mengira aku mati karena melihat aku diseret ikan.
Kautanyalah ibumu. Biarpun aku sudah menjadi begini, ibumu tentu akan mengenal
aku. Ha ha-ha, karena aku kekasihnya dahulu, aku ayahmu. Ha-haha!" Ki
Jatoko tertawa bergelak ketika melihat betapa Endang Patibroto terhuyung ke
belakang seperti disambar petir. Dialah yang kini melangkah maju dan menantang,
"Endang
Patibroto, kau anakku, karena itu mana mungkin aku berniat buruk dan jahat
terhadap dirimu? Tidak, anakku, sama sekali tidak. Kalau kau tidak percaya dan
membunuhku, silahkan. Ini kepalaku, pukullah. Ini dadaku, tusuklah, aku takkan
melawan anak kandungku sendiri!"
"Diam!
Cukup!!" Endang Patibroto menyumbat kedua telinga dengan jari telunjuknya,
matanya dipejamkan. Ki Jatoko tertawa bergelak dan baru berhenti ketika gadis
itu membuka matanya.
No comments:
Post a Comment