Badai Laut Selatan ; Bagian 154


"Dahulu aku tampan sekali, anakku. Tak usah kau malu, karena dahulu aku jadi seorang laki-laki yang dijadikan rebutan kaum wanita! Kau tanyakan saja kepada ibumu. Wajahmu mirip dengan wajahku ketika itu dan...”
"Cukup! Diam kau dan mari kau ikut bersamaku!"
"Ikut? Ke mana...?" Akan tetapi Ki Jatoko tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Endang Patibroto sudah menyambar tangannya dan menyeretnya dengan berlari cepat sekali. Ki Jatoko tak berdaya meronta, terpaksa iapun mengerahkan kepandaiannya untuk berlari cepat kalau tidak mau terseret-seret oleh gadis yang hebat ini. Hatinya mulai berdebar, akan tetapi ia mengandalkan kecerdikannya. Dengan akalnya, kali inipun ia terbebas daripada maut yang mengerikan di tangan Endang Patibroto. Karena itu, ia tidak mau bicara lagi hanya ikut lari, menyerahkan diri kepada nasib dan kecerdikannya.

Perang kecil yang terjadi di pertapaan Durgaloka berlangsung semalam suntuk dan amat serunya. Biarpun Dewi dan teman-temannya merupakan wanita-wanita terlatih dan rata-rata memilih ketangkasan, namun karena jumlah mereka kalah banyak sehingga setiap orang harus melayani pengeroyokan dua orang, bahkan Dewi dan adik-adiknya berlima dikeroyok oleh belasan orang, maka mereka menemui tanding yang berat dan banyaklah korban yang jatuh di antara kedua pihak. Joko Wandiro maklum akan hal ini. Akan tetapi ia hanya tega merobohkan para pengeroyok laki-laki saja karena ia merasa ragu-ragu kalau harus membunuh gadis-gadis yang mengeroyoknya. Baru setelah ia mendengar jerit Dewi menyebut namanya, la terkejut dan cepat kaki tangannya bekerja merobohkan para pengeroyoknya. Hanya dengan membuka jalan darah, merobohkan belasan orang di sebelah kiri, ia dapat lolos dari kepungan. Sambil menyerang kanan kiri dan depan, ia maju terus menuju ke arah suara panggilan Dewi. Betapa sedih hatinya ketika melihat bahwa anak buah Dewi banyak yang roboh tewas. Pertempuran tinggal beberapa kelompok dan yang terbanyak adalah mereka yang mengeroyoknya. Kini Joko Wandiro menjadi marah. Apalagi ketika ia menemukan Dewi rebah telentang dengan tombak menancap di lambungnya, Joko Wandiro mengeluarkan pekik dahsyat dan mengamuk seperti seekor banteng terluka. Anak buah pertapaan Durgaloka terkejut dan gentar, lalu mereka yang masih belum terluka melarikan diri tersebar ke segala penjuru. Sinar matahari mulai menerangi bumi. Hati Joko Wandiro makin hancur setelah ia dapat melihat keadaan Dewi dan teman-temannya. Dewi masih merintih-rintih ketika ia pangku kepalanya.
"Dewi..! Kau.. terluka.......” tanya Joko Wandiro lirih sambil memangku kepala gadis itu. Sekali pandang saja ia tahu bahwa gadis ini tak mungkin dapat ditolong lagi. Tombak yang menusuk lambung amat dalam, hampir tembus!
Dewi membuka matanya. Mulut yang tadinya menyeringai kesakitan itu kini tersenyum, bibirnya bergerak-gerak lemah,
"Joko.. kita.. kita menang....”
Joko Wandiro terharu, mengangguk dan mendekap kepala yang tersenyum-senyum itu ke dadanya. Ketika ia menengok ke kanan kiri, ia melihat bahwa Lasmi, Mini, Sari, dan Sundari juga sudah roboh tak bernyawa lagi. Ia terisak dan memejamkan matanya.
"Joko..."
Ia membuka mata, memangku kepala dan memandang wajah Dewi.
"Joko... tak perlu kau bersedih. Kami berkorban dengan segala kerelaan...hati... kami... kami puas... kami... telah menemukan kau... seorang yang... patut kami bela... kami mencintamu, Joko...!"
Kedua mata Joko Wandiro menjadi basah. Teringatlah ia betapa lima orang gadis ini selalu mengharapkan balasan cumbu rayu mereka. Akan tetapi ia selalu berteguh hati tidak melayani mereka. Kini ia merasa menyesal, ia selalu mengecewakan hati mereka, padahal mereka itu benar-benar mencintanya, bersetia sampai mati! Tanpa ia sadari, ia menundukkan mukanya dan mencium mulut yang menyatakctn cinta kasih di ambang maut itu. Kini ia mencium penuh perasaan, penuh cinta kasih, penuh berahi. Ia merasa dengan bibirnya betapa mulut itu terbuka, mengeluh dan keluar sedu-sedan dari dada Dewi yang terengah-engah. Ketika ia melepaskan ciumannya dan memandang, ternyata Dewi sudah tak bernafas lagi, sudah mati dalam keadaan masih tersenyum bahagia! Memang bahagialah siapa saja yang mati dengan keyakinan bahwa dirinya mencinta dan dicinta!
Tiga puluh orang anak buah Dewi kini tinggal dua belas orang saja. Yang lain sudah tewas. Joko Wandiro berulang kali menghela napas panjang penuh penyesalan dan kengerian. Mayat-mayat bergelimpangan. Mayat anak buah Dewi yang telah bertempur mati-matian, mati dengan senjata di tangan, dan mayat anak buah Bhagawan Kundilomuko, banyak yang telanjang bulat, menyeramkan. Ia juga menyesal sekali melihat mayat Sang Wiku Jaladara. Banyak sekali yang tewas dalam pertempuran semalam. Tidak kurang dari enam puluh orang anak buah Durgaloka tewas. Dua belas orang anak buah Dewi yang masih hidup semua menangisi teman-teman yang tewas, Joko Wandiro menjadi makin berduka. Tiba-tiba terdengar suara memanggil,
"Kakang...!”
Joko Wandiro menoleh dan sejenak terusirlah kedukaannya, wajahnya berseri ketika ia menghampiri dan berseru,
"Ayu Candra...!"

Mereka saling tubruk, dan saling peluk. Ayu Candra menangis sesenggukan di dada kakaknya. Tadi ketika ia siuman dan sadar akan keadaan dirinya, melihat pertempuran hebat, ia menyelinap mencari pakaiannya yang lalu dipakainya untuk mengganti pakaian sutera tipis yang menjijikan itu. Ia masih pening, masih belum sadar benar dan ntasih bingung. Maka ia menjauhkan diri lalu duduk bersila, bersamadhi untuk memulihkan tenaga dan mengusir sisa-sisa pengaruh buruk yang menguasai dirinya. Ketika ia sadar dari samadhinya, perang sudah berhenti, keadaan sunyi, hanya terdengar suara beberapa orang wanita menangis. Ia keluar dari tempat sembunyinya, melihat bahwa malam telah berganti pagi dan alangkah bahagia hatinya ketika ia melihat Joko Wandiro.
"Terima kasih kepada Hyang Maha Agung yang telah melindungimu sehingga kita dapat bertemu dalam keadaan selamat adikku," kata Joko Wandiro sambil mengelus rambut yang harum dan halus itu, membiarkan adiknya sesenggukan melepas perasaan hati.
"Aduh, kakang, alangkah banyak derita yang kualami....... semua karena aku tidak menurut nasehatmu kakang. Aku menyesal....... maafkan aku.......”
"Husshhh, sudahlah, adikku sayang. Kau perlu mengaso dulu. Kelak kita bicara karena sekarang aku harus mengurus semua jenazah yang begini banyak ini”.
Joko Wandiro melepaskan Ayu Candra yang ia suruh mengaso, kemudian ia minta bantuan dua belas orang anak buah Dewi untuk menggali lubang-lubang dan mengubur semua jenazah baik kawan maupun lawan, secara sederhana. Khusus untuk jenazah Wiku Jaladara, Dewi, Lasmi, Mini, Sari, dan Sundari mereka buatkan tempat kubur terpisah. Sehari penuh mereka bekerja dan baru selesai setelah matahari tenggelam. Joko Wandiro lalu mengumpulkan dua belas orang wanita itu dan berkata,
"Kalian semua dengarlah nasehatku baik-baik. Setelah Dewi dan adik-adiknya tewas dalam pertempuran semalam, kiranya tidak ada perlunya lagi kehidupan dalam hutan di Anjasmoro yang kalian tempuh selama ini dilarutkan. Seperti telah menjadi peraturanku, kalian masing-masing berhak untuk hidup wajar dalam masyarakat umum, mencari jodoh dan hidup berumah tangga membentuk keluarga. Kalian telah berjasa besar. Tempat ini, di dalam pondok Bhagawan Kundilomuko itu, banyak terdapat barang-barang berharga. Nah, kalian ambil dan bawa, bagi rata di antara kalian dan pergilah kalian, kembali ke masyarakat ramai. Kuanjurkan untuk kembali ke keluarga masing-masing."

Sambil menangis dua beias orang wanita itu mentaati perintah Joko Wandiro, mengumpulkan emas intan dan benda berharga yang banyak terdapat di Durgaloka, kemudian setelah berpamit mereka pergi berbondong meninggalkan tempat itu, menuju penghidupan baru. Setelah semua wanita Gunung Anjasmoro itu pergi, Ayu Candra yang sudah pulih kembali kesehatannya lalu menghampiri Joko Wandiro yang masih termenung karena belum lenyap kedukaannya oleh jatuhnya demikian banyak korban dalam pertempuran semalam.
"Kakang Joko Wandiro, kau berduka karena akibat perbuatanku, ya?" Suara gadis itu penuh haru dan penyesalan, tangannya merangkul lengan Joko Wandiro.
Joko Wandiro menoleh, lalu merangkul pundak gadis itu.
"Tidak karena perbuatanmu, Ayu. Jatuhnya banyak korban ini adalah sewajarnya. Untuk memberantas kejahatan harus pula berani berkorban. Dewi dan saudara-saudaranya tewas sebagai wanita-wanita perkasa yang patut dipuji, demikian pula Wiku Jaladara sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang suci. Aku tidak marah kepadamu, adikku, bahkan aku bahagia sekali dapat bertemu denganmu dalam keadaan selamat. Mengapa engkau meninggalkan aku, adikku? Bencikah engkau kepadaku?”
Ayu Candra memundurkan mukanya dan dua butir air mata menetes turun. Ia menarik napas panjang berkali-kali kemudian berkata lirih,
"Aku seperti menjadi buta karena bujukan dan hasutan Ki Jatoko, manusia buntung yang amat keji dan jahat itu. Kau maafkan aku, kakang. Terus terang saja semenjak berpisah denganmu di Sarangan.. semenjak...... semenjak kau menjadi... eh, kakak...kandungku....aku kecewa dan... seperti membencimu. Kemudian ditambah oleh hasutan Ki Jatoko, aku makin curiga kepadamu...... ah, aku menyesal, kakang Joko......."
Joko Wandiro memegang kedua tangan gadis itu. Sejenak mereka saling pandang dan rasa haru menyelinap ke dalam jantung masing-masing. Betapapun, keduanya harus mengaku di dalam hati bahwa mereka tak dapat melenyapkan cinta kasih diantara mereka. Hanya oleh kenyataan bahwa mereka bersaudara sekandung, mereka memaksa diri, memaksa menyelimuti rasa cinta kasih dengan rasa persaudaraan yang dipaksakan. Hal ini menimbulkan rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum dalam hati.
"Ki Jatoko memang seorang jahat yang amat berbahaya dan curang. Engkau yang masih belum berpengalaman sampai terkena hasutan dan terbujuk, hal ini tidak dapat aku menyalahkan engkau, Ayu. Bahkan seorang gadis sakti mandraguna dan ganas seperti Endang Patibroto pun jatuh ke dalam bujukannya sehingga sampai menjadi tawanan di sini. Apalagi engkau yang jujur dan polos. Ah, tentu engkau banyak menderita kesengsaraan, adikku. Kalau saja dahulu kau lebih percaya kepadaku, takkan terjadi semua itu."

Ayu Candra memberengut. Setelah berkumpul dengan Joko Wandiro, timbul pula gaya manjanya. Entah mengapa, di dekat, pemuda ini. selalu ia mempunyai hasrat ingin bermanja, baik dahulu sebagai kekasih maupun kini sebagai adik!
"Kalau dipikir, engkau pula yang menjadi biang keladinya, kakang! Mengapa pula engkau tidak mau menuruti keinginan hatiku membalas dendam kepada mereka yang memusuhi ayahku dan ibunda kita? Mengapa engkau tidak membolehkan aku menuntut balas kepada orang yang membunuh ayah bundaku?"
"Panjang sekali ceritanya, adikku. Kalau kau sudah mendengar semua penuturanku, tentu kau akan mengerti dan akan sependapat dengan aku bahwa permusuhan itu tidak semestinya dilanjutkan sampai berlarut-larut. Terputus atau tersambungnya rantai karena tergantung daripada kita sendiri. Kalau balas-membalas dan permusuhan dilanjutkan, takkan ada habisnya. Kita tidak boleh hanya dipengaruhi oleh akibat dan bertindak tanpa menyelidiki sebabnya terlebih dahulu. Adikku, kematian kedua orang tuamu adalah akibat daripada sebab-sebab yang amat panjang dan nanti akan kuceritakan kepadamu. Sekarang lebih baik kita meninggalkan tempat ini."
"Ke mana, kakang?"
“Kau ikut lah saja, aku akan pergi ke Pulau Sempu."
Ayu Candra kelihatan kaget dan ia melepaskan tangannya dari pegangan Joko Wandiro,
"Ke Pulau Sempu? Di sana tinggal Kartikosari dan Roro Luhito, musuh besarku!"
Joko Wandiro segera merangkul adiknya.
"Ssttt, kau masih belum dapat melenyapkan pengaruh bujukan beracun dari mulut Ki Jatoko. Kau percayalah kepadaku dan sebelum kau kuajak bertemu dengan mereka, kau akan mendengarkan cerita yang menjadi sebab kematian ayah bundamu, Ayu."
Sejenak Ayu Candra diam, bingung dan ragu. Kemudian ia menubruk Joko Wandiro dan menangis di dada pemuda itu. Joko Wandiro mengerti akan perasaan adiknya, maka ia hanya mengelus-elus rambut yang halus itu sambil meramkan mata menahan hati yang seperti akan mencair oleh rasa cinta kasih. Akhirnya Ayu Candra dapat menekan perasaannya dan berkata,
"Aku menurut, kakang. Mulai sekarang aku akan mentaati segala perintahmu, kau... kau pengganti orang tuaku dan apapun yang kaukatakan, akan kutaati."
Joko Wandiro mencium rambut di ubun-ubun kepala gadis itu.
"Aku tahu, kau seorang gadis yang mulia, Ayu. Mari kita pergi, tidak enak lama-lama berada di tempat yang sudah berubah menjadi kuburan ini."
Mereka bergandeng tangan meninggalkan tempat itu. Ketika hendak keluar dari hutan, mereka melihat seekor kuda yang sedang makan rumput. Kuda itu cukup baik, lengkap dengan pelananya.
"Ah, tentu ini kuda Durgaloka, yang lain-lain tentu telah melarikan diri dalam keributan tadi. Lumayan kuda ini, lebih baik kau naiki, adikku. Malam hampir tiba, mari kita cepat-cepat pergi dari sini."

<<< Bagian 153                                                                                      Bagian 155 >>>

No comments:

Post a Comment