"Dahulu aku tampan sekali, anakku. Tak usah kau malu, karena dahulu aku jadi seorang laki-laki yang dijadikan rebutan kaum wanita! Kau tanyakan saja kepada ibumu. Wajahmu mirip dengan wajahku ketika itu dan...”
"Cukup! Diam
kau dan mari kau ikut bersamaku!"
"Ikut? Ke
mana...?" Akan tetapi Ki Jatoko tak dapat melanjutkan kata-katanya karena
tiba-tiba Endang Patibroto sudah menyambar tangannya dan menyeretnya dengan
berlari cepat sekali. Ki Jatoko tak berdaya meronta, terpaksa iapun mengerahkan
kepandaiannya untuk berlari cepat kalau tidak mau terseret-seret oleh gadis
yang hebat ini. Hatinya mulai berdebar, akan tetapi ia mengandalkan
kecerdikannya. Dengan akalnya, kali inipun ia terbebas daripada maut yang
mengerikan di tangan Endang Patibroto. Karena itu, ia tidak mau bicara lagi
hanya ikut lari, menyerahkan diri kepada nasib dan kecerdikannya.
Perang kecil
yang terjadi di pertapaan Durgaloka berlangsung semalam suntuk dan amat
serunya. Biarpun Dewi dan teman-temannya merupakan wanita-wanita terlatih dan
rata-rata memilih ketangkasan, namun karena jumlah mereka kalah banyak sehingga
setiap orang harus melayani pengeroyokan dua orang, bahkan Dewi dan
adik-adiknya berlima dikeroyok oleh belasan orang, maka mereka menemui tanding
yang berat dan banyaklah korban yang jatuh di antara kedua pihak. Joko Wandiro
maklum akan hal ini. Akan tetapi ia hanya tega merobohkan para pengeroyok
laki-laki saja karena ia merasa ragu-ragu kalau harus membunuh gadis-gadis yang
mengeroyoknya. Baru setelah ia mendengar jerit Dewi menyebut namanya, la
terkejut dan cepat kaki tangannya bekerja merobohkan para pengeroyoknya. Hanya
dengan membuka jalan darah, merobohkan belasan orang di sebelah kiri, ia dapat
lolos dari kepungan. Sambil menyerang kanan kiri dan depan, ia maju terus
menuju ke arah suara panggilan Dewi. Betapa sedih hatinya ketika melihat bahwa
anak buah Dewi banyak yang roboh tewas. Pertempuran tinggal beberapa kelompok
dan yang terbanyak adalah mereka yang mengeroyoknya. Kini Joko Wandiro menjadi
marah. Apalagi ketika ia menemukan Dewi rebah telentang dengan tombak menancap
di lambungnya, Joko Wandiro mengeluarkan pekik dahsyat dan mengamuk seperti
seekor banteng terluka. Anak buah pertapaan Durgaloka terkejut dan gentar, lalu
mereka yang masih belum terluka melarikan diri tersebar ke segala penjuru.
Sinar matahari mulai menerangi bumi. Hati Joko Wandiro makin hancur setelah ia
dapat melihat keadaan Dewi dan teman-temannya. Dewi masih merintih-rintih
ketika ia pangku kepalanya.
"Dewi..! Kau..
terluka.......” tanya Joko Wandiro lirih sambil memangku kepala gadis itu.
Sekali pandang saja ia tahu bahwa gadis ini tak mungkin dapat ditolong lagi.
Tombak yang menusuk lambung amat dalam, hampir tembus!
Dewi membuka
matanya. Mulut yang tadinya menyeringai kesakitan itu kini tersenyum, bibirnya
bergerak-gerak lemah,
"Joko..
kita.. kita menang....”
Joko Wandiro
terharu, mengangguk dan mendekap kepala yang tersenyum-senyum itu ke dadanya.
Ketika ia menengok ke kanan kiri, ia melihat bahwa Lasmi, Mini, Sari, dan
Sundari juga sudah roboh tak bernyawa lagi. Ia terisak dan memejamkan matanya.
"Joko..."
Ia membuka
mata, memangku kepala dan memandang wajah Dewi.
"Joko...
tak perlu kau bersedih. Kami berkorban dengan segala kerelaan...hati... kami...
kami puas... kami... telah menemukan kau... seorang yang... patut kami bela...
kami mencintamu, Joko...!"
Kedua mata
Joko Wandiro menjadi basah. Teringatlah ia betapa lima orang gadis ini selalu
mengharapkan balasan cumbu rayu mereka. Akan tetapi ia selalu berteguh hati
tidak melayani mereka. Kini ia merasa menyesal, ia selalu mengecewakan hati
mereka, padahal mereka itu benar-benar mencintanya, bersetia sampai mati! Tanpa
ia sadari, ia menundukkan mukanya dan mencium mulut yang menyatakctn cinta
kasih di ambang maut itu. Kini ia mencium penuh perasaan, penuh cinta kasih,
penuh berahi. Ia merasa dengan bibirnya betapa mulut itu terbuka, mengeluh dan
keluar sedu-sedan dari dada Dewi yang terengah-engah. Ketika ia melepaskan
ciumannya dan memandang, ternyata Dewi sudah tak bernafas lagi, sudah mati
dalam keadaan masih tersenyum bahagia! Memang bahagialah siapa saja yang mati
dengan keyakinan bahwa dirinya mencinta dan dicinta!
Tiga puluh
orang anak buah Dewi kini tinggal dua belas orang saja. Yang lain sudah tewas.
Joko Wandiro berulang kali menghela napas panjang penuh penyesalan dan
kengerian. Mayat-mayat bergelimpangan. Mayat anak buah Dewi yang telah
bertempur mati-matian, mati dengan senjata di tangan, dan mayat anak buah
Bhagawan Kundilomuko, banyak yang telanjang bulat, menyeramkan. Ia juga
menyesal sekali melihat mayat Sang Wiku Jaladara. Banyak sekali yang tewas
dalam pertempuran semalam. Tidak kurang dari enam puluh orang anak buah
Durgaloka tewas. Dua belas orang anak buah Dewi yang masih hidup semua menangisi
teman-teman yang tewas, Joko Wandiro menjadi makin berduka. Tiba-tiba terdengar
suara memanggil,
"Kakang...!”
Joko Wandiro
menoleh dan sejenak terusirlah kedukaannya, wajahnya berseri ketika ia
menghampiri dan berseru,
"Ayu
Candra...!"
Mereka saling
tubruk, dan saling peluk. Ayu Candra menangis sesenggukan di dada kakaknya.
Tadi ketika ia siuman dan sadar akan keadaan dirinya, melihat pertempuran
hebat, ia menyelinap mencari pakaiannya yang lalu dipakainya untuk mengganti
pakaian sutera tipis yang menjijikan itu. Ia masih pening, masih belum sadar
benar dan ntasih bingung. Maka ia menjauhkan diri lalu duduk bersila,
bersamadhi untuk memulihkan tenaga dan mengusir sisa-sisa pengaruh buruk yang
menguasai dirinya. Ketika ia sadar dari samadhinya, perang sudah berhenti,
keadaan sunyi, hanya terdengar suara beberapa orang wanita menangis. Ia keluar
dari tempat sembunyinya, melihat bahwa malam telah berganti pagi dan alangkah
bahagia hatinya ketika ia melihat Joko Wandiro.
"Terima
kasih kepada Hyang Maha Agung yang telah melindungimu sehingga kita dapat
bertemu dalam keadaan selamat adikku," kata Joko Wandiro sambil mengelus
rambut yang harum dan halus itu, membiarkan adiknya sesenggukan melepas
perasaan hati.
"Aduh,
kakang, alangkah banyak derita yang kualami....... semua karena aku tidak
menurut nasehatmu kakang. Aku menyesal....... maafkan aku.......”
"Husshhh,
sudahlah, adikku sayang. Kau perlu mengaso dulu. Kelak kita bicara karena
sekarang aku harus mengurus semua jenazah yang begini banyak ini”.
Joko Wandiro
melepaskan Ayu Candra yang ia suruh mengaso, kemudian ia minta bantuan dua
belas orang anak buah Dewi untuk menggali lubang-lubang dan mengubur semua
jenazah baik kawan maupun lawan, secara sederhana. Khusus untuk jenazah Wiku
Jaladara, Dewi, Lasmi, Mini, Sari, dan Sundari mereka buatkan tempat kubur
terpisah. Sehari penuh mereka bekerja dan baru selesai setelah matahari
tenggelam. Joko Wandiro lalu mengumpulkan dua belas orang wanita itu dan
berkata,
"Kalian
semua dengarlah nasehatku baik-baik. Setelah Dewi dan adik-adiknya tewas dalam
pertempuran semalam, kiranya tidak ada perlunya lagi kehidupan dalam hutan di
Anjasmoro yang kalian tempuh selama ini dilarutkan. Seperti telah menjadi
peraturanku, kalian masing-masing berhak untuk hidup wajar dalam masyarakat
umum, mencari jodoh dan hidup berumah tangga membentuk keluarga. Kalian telah
berjasa besar. Tempat ini, di dalam pondok Bhagawan Kundilomuko itu, banyak
terdapat barang-barang berharga. Nah, kalian ambil dan bawa, bagi rata di
antara kalian dan pergilah kalian, kembali ke masyarakat ramai. Kuanjurkan
untuk kembali ke keluarga masing-masing."
Sambil
menangis dua beias orang wanita itu mentaati perintah Joko Wandiro,
mengumpulkan emas intan dan benda berharga yang banyak terdapat di Durgaloka,
kemudian setelah berpamit mereka pergi berbondong meninggalkan tempat itu,
menuju penghidupan baru. Setelah semua wanita Gunung Anjasmoro itu pergi, Ayu
Candra yang sudah pulih kembali kesehatannya lalu menghampiri Joko Wandiro yang
masih termenung karena belum lenyap kedukaannya oleh jatuhnya demikian banyak
korban dalam pertempuran semalam.
"Kakang
Joko Wandiro, kau berduka karena akibat perbuatanku, ya?" Suara gadis itu
penuh haru dan penyesalan, tangannya merangkul lengan Joko Wandiro.
Joko Wandiro
menoleh, lalu merangkul pundak gadis itu.
"Tidak
karena perbuatanmu, Ayu. Jatuhnya banyak korban ini adalah sewajarnya. Untuk
memberantas kejahatan harus pula berani berkorban. Dewi dan saudara-saudaranya
tewas sebagai wanita-wanita perkasa yang patut dipuji, demikian pula Wiku
Jaladara sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang suci. Aku tidak marah
kepadamu, adikku, bahkan aku bahagia sekali dapat bertemu denganmu dalam
keadaan selamat. Mengapa engkau meninggalkan aku, adikku? Bencikah engkau
kepadaku?”
Ayu Candra
memundurkan mukanya dan dua butir air mata menetes turun. Ia menarik napas
panjang berkali-kali kemudian berkata lirih,
"Aku
seperti menjadi buta karena bujukan dan hasutan Ki Jatoko, manusia buntung yang
amat keji dan jahat itu. Kau maafkan aku, kakang. Terus terang saja semenjak
berpisah denganmu di Sarangan.. semenjak...... semenjak kau menjadi... eh,
kakak...kandungku....aku kecewa dan... seperti membencimu. Kemudian ditambah
oleh hasutan Ki Jatoko, aku makin curiga kepadamu...... ah, aku menyesal,
kakang Joko......."
Joko Wandiro
memegang kedua tangan gadis itu. Sejenak mereka saling pandang dan rasa haru
menyelinap ke dalam jantung masing-masing. Betapapun, keduanya harus mengaku di
dalam hati bahwa mereka tak dapat melenyapkan cinta kasih diantara mereka.
Hanya oleh kenyataan bahwa mereka bersaudara sekandung, mereka memaksa diri,
memaksa menyelimuti rasa cinta kasih dengan rasa persaudaraan yang dipaksakan.
Hal ini menimbulkan rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum dalam hati.
"Ki
Jatoko memang seorang jahat yang amat berbahaya dan curang. Engkau yang masih
belum berpengalaman sampai terkena hasutan dan terbujuk, hal ini tidak dapat
aku menyalahkan engkau, Ayu. Bahkan seorang gadis sakti mandraguna dan ganas
seperti Endang Patibroto pun jatuh ke dalam bujukannya sehingga sampai menjadi
tawanan di sini. Apalagi engkau yang jujur dan polos. Ah, tentu engkau banyak
menderita kesengsaraan, adikku. Kalau saja dahulu kau lebih percaya kepadaku,
takkan terjadi semua itu."
Ayu Candra
memberengut. Setelah berkumpul dengan Joko Wandiro, timbul pula gaya manjanya.
Entah mengapa, di dekat, pemuda ini. selalu ia mempunyai hasrat ingin bermanja,
baik dahulu sebagai kekasih maupun kini sebagai adik!
"Kalau
dipikir, engkau pula yang menjadi biang keladinya, kakang! Mengapa pula engkau
tidak mau menuruti keinginan hatiku membalas dendam kepada mereka yang memusuhi
ayahku dan ibunda kita? Mengapa engkau tidak membolehkan aku menuntut balas
kepada orang yang membunuh ayah bundaku?"
"Panjang
sekali ceritanya, adikku. Kalau kau sudah mendengar semua penuturanku, tentu
kau akan mengerti dan akan sependapat dengan aku bahwa permusuhan itu tidak
semestinya dilanjutkan sampai berlarut-larut. Terputus atau tersambungnya
rantai karena tergantung daripada kita sendiri. Kalau balas-membalas dan
permusuhan dilanjutkan, takkan ada habisnya. Kita tidak boleh hanya dipengaruhi
oleh akibat dan bertindak tanpa menyelidiki sebabnya terlebih dahulu. Adikku,
kematian kedua orang tuamu adalah akibat daripada sebab-sebab yang amat panjang
dan nanti akan kuceritakan kepadamu. Sekarang lebih baik kita meninggalkan
tempat ini."
"Ke mana,
kakang?"
“Kau ikut lah
saja, aku akan pergi ke Pulau Sempu."
Ayu Candra
kelihatan kaget dan ia melepaskan tangannya dari pegangan Joko Wandiro,
"Ke Pulau
Sempu? Di sana tinggal Kartikosari dan Roro Luhito, musuh besarku!"
Joko Wandiro
segera merangkul adiknya.
"Ssttt,
kau masih belum dapat melenyapkan pengaruh bujukan beracun dari mulut Ki
Jatoko. Kau percayalah kepadaku dan sebelum kau kuajak bertemu dengan mereka,
kau akan mendengarkan cerita yang menjadi sebab kematian ayah bundamu,
Ayu."
Sejenak Ayu
Candra diam, bingung dan ragu. Kemudian ia menubruk Joko Wandiro dan menangis
di dada pemuda itu. Joko Wandiro mengerti akan perasaan adiknya, maka ia hanya
mengelus-elus rambut yang halus itu sambil meramkan mata menahan hati yang
seperti akan mencair oleh rasa cinta kasih. Akhirnya Ayu Candra dapat menekan
perasaannya dan berkata,
"Aku
menurut, kakang. Mulai sekarang aku akan mentaati segala perintahmu, kau... kau
pengganti orang tuaku dan apapun yang kaukatakan, akan kutaati."
Joko Wandiro
mencium rambut di ubun-ubun kepala gadis itu.
"Aku
tahu, kau seorang gadis yang mulia, Ayu. Mari kita pergi, tidak enak lama-lama
berada di tempat yang sudah berubah menjadi kuburan ini."
Mereka
bergandeng tangan meninggalkan tempat itu. Ketika hendak keluar dari hutan,
mereka melihat seekor kuda yang sedang makan rumput. Kuda itu cukup baik,
lengkap dengan pelananya.
"Ah,
tentu ini kuda Durgaloka, yang lain-lain tentu telah melarikan diri dalam
keributan tadi. Lumayan kuda ini, lebih baik kau naiki, adikku. Malam hampir
tiba, mari kita cepat-cepat pergi dari sini."
No comments:
Post a Comment