"Dan kau, kakang?"
"Aku lari
di sebelahmu, apa kaukira kalah oleh kuda?"
"Hi-hik,
kau memang seperti kuda!” Ayu Candra sudah mulai timbul kejenakaannya.
"Hushh,
masa kakakmu seperti kuda? Kalau kakaknya kuda, adiknya apa?" Joko Wandiro
mengimbangi kelakar adiknya.
Ayu Candra
tersenyum dan melompat ke atas pelana kuda, lalu membalapkan kuda di sebelah
Joko Wandiro yang mengerahkan ilmu lari cepat menuju ke barat. Setelah gelap
baru mereka berhenti di bawah pohon besar untuk melewatkan malam, Joko Wandiro
menangkap seekor ayam hutan. Malam itu setelah makan bakar ubi dan daging ayam
hutan, mereka bercakap-cakap dan Joko Wandiro mulai menceritakan kepada Ayu
Candra akan peristiwa belasan tahun yang lalu. Ia menceritakan hal yang ia
dengar dari penuturan bibinya, Roro Luhito dan dari Kartikosari.
"Terus
terang saja, Ayu, bahwa pokok pangkal segala peristiwa ini adalah karena
kesalahan dua orang, yaitu yang pertama ayah kandungku sendiri, mendiang Raden
Wisangjiwo, dan ke dua adalah seorang bernama Jokowanengpati. Paman Pujo dan
isterinya, bibi Kartikosari yang mula-mula menjadi korban kejahatan."
Mulailah ia
menuturkan betapa Kartikosari dan Pujo yang sedang bertapa itu diganggu oleh
kedatangan Raden Wisangjiwo sehingga terjadi pertempuran dan yang membuat Pujo
dan Kartikosari roboh pingsan. Ketika sadar Pujo tahu bahwa Kartikosari telah
diperkosa orang yang tentu saja oleh mereka berdua dianggap bukan lain orang
kecuali Raden Wisangjiwo. Perbuatan keji ini menimbulkan dendam sehingga Pujo
yang hendak membalas dendam menyerbu ke Selopenangkep, kemudian karena Pujo
tidak menemukan Wisangjiwo, dalam sakit hati dan kebencian membuta ia menculik
Listyakumolo bersama anaknya.
"Akulah
anak itu, Ayu. Aku baru berusia dua tahun ketika ibu diculik Pujo. Akan tetapi
sebagai seorang ksatria utama, paman Pujo tidak tega untuk membalas dendam
dengan memperkosa ibuku. Dia hanya pergi membawaku dan kemudian aku dianggapnya
sebagai puteranya sendiri dan dididiknya seperti murid terkasih. Sampai menjadi
dewasa, aku masih beranggapan bahwa aku adalah putera kandung paman Pujo."
Ayu Candra
mendengarkan dengan muka pucat. Rasa kasihan yang besar terhadap Pujo dan
Kartikosari sudah menghapus sebagian besar dendam hatinya. Tanpa mengganggu
sedikitpun ia mendengarkan terus, pandang matanya bergantung pada bibir Joko
Wandiro.
"Peristiwa
itu membuat paman Pujo dan bibi Kartikosari berpisahan, mereka menderita lahir
batin sampai belasan tahun dan bibi Kartikosari yang sudah mengandung kemudian
melahirkan anak dalam keadaan yang mengerikan dan menderita sekali"
"Endang
Patibroto !!" Ayu Candra memotong cepat.
"Benar,"
Joko Wandiro mengangguk.
"Kemudian
ibumu, juga ibuku, Listyakumolo yang bernasib malang, karena kehilangan aku,
menerima pukulan batin hebat sehingga terganggu pikirannya. Ayahku yang ketika
itu masih menyeleweng dari kebenaran malah mengirimnya..... pulang kerumah
orang tua ibu kita, di lereng Lawu. Kalau nasib sedang dirundung kemalangan,
belum lama setelah ibu dipulangkan, daerah itu diserbu perampok, semua keluarga
kakek kita di sana habis dibunuh, kecuali ibu kita yang diculik oleh kepala
perampok."
"Ah,
kasihan ibu...!" Ayu Candra terisak, teringat kepada ibunya yang tercinta.
"tentang
nasib ibu kita selanjutnya, aku tidak pernah mendengar ceritanya, dan tahu-tahu
ibu kita telah tinggal bersama ayahmu di Sarangan. Sangat boleh jadi ibu kita
tertolong oleh ayahmu, kemudian mereka menjadi suami isteri dan lahirlah
engkau."
Ayu Candra
mengangguk-angguk, air mata bertetesan di atas kedua pipi. Sejenak mereka diam,
masing-masing tenggelam dalam lamunan. Ayu Candra mengenangkan ibunya yang
tercinta. Adapun Joko Wandiro menekan perasaannya yang terasa perih dan sakit
karena selama hidupnya, belum pernah ia berjumpa dengan ibu kandungnya, belum
pernah ia melihat bagaimana wajah ibunya. Untuk mencegah agar kenangan pahit
ini tidak meracuni hatinya, ia melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan betapa
ayahnya, Raden Wisangjiwo, akhirnya sadar namun sudah terlambat karena ketika
ayahnya mencari ibunya di lereng Lawu, ibunya sudah tidak ada. Diceritakan pula
betapa ayahnya tewas dalam perang ketika membantu Pangeran Sepuh yang kini
menjadi sang prabu di Panjalu.
"Akhirnya,
paman Pujo dan bibi Kartikosari bertemu dengan ayahku dan barulah mereka itu
tahu bahwa yang melakukan perbuatan keji terhadap diri bibi Kartikosari di
dalam Guha Siluman itu bukanlah ayahku, melainkan Jokowanengpati. Paman Pujo
menyesali perbuatannya, telah menculik aku dan menyengsarakan kehidupan ibuku.
Karena itulah, ketika ibu kita bersama ayahmu datang ke Sungapan dan bertemu
dengan paman Pujo, maka paman Pujo menyerahkan nyawanya di tangan ibu kita.
Tanpa melawan paman Pujo rela ditusuk keris oleh ibu kita, untuk membalas dan
menebus dosanya dahulu. Bahkan sebelum meninggal dunia, paman Pujo melarang
bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito, yaitu adik kandung ayahku yang juga
menjadi isteri paman Pujo, untuk membalas dendam. Paman Pujo rela menebus
permusuhan itu dengan nyawa dan menghabiskan sampai di situ saja."
Ayu Candra
memandang wajah kakaknya yang membayangkan keharuan, kekaguman dan kedukaan.
Tahulah Ayu Candra bahwa guru kakaknya ini, Pujo, tentulah seorang ksatria yang
amat gagah perkasa dan mulia sehingga rela menebus kesalahan dengan menyerahkan
nyawa. Iapun menjadi terharu.
"Sayang
sekali," Joko Wandiro menghela napas,
"manusia
berdaya upaya, namun Sang Hyang Wisesa yang menentukan kesudahannya. Maksud
mulia paman Pujo itu ternyata gagal karena pada saat itu sebelum ia mati,
datang secara tiba-tiba Endang Patibroto yang telah menjadi murid Dibyo
Mamangkoro dan memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa. Bibi Kartikosari dan
bibi Roro Luhito mentaati pesan paman Pujo, akan tetapi tidak demikian dengan
Endang Patibroto. Begitu mendengar bahwa paman Pujo adalah ayah kandungnya yang
baru saja ia jumpai selama hidupnya, dan melihat betapa ayahnya yang baru
dijumpainya itu tewas tanpa melawan oleh ibu kita yang masih berada di situ, ia
lalu menerjang dan berhasil menewaskan ibu kita, bahkan melukai ayahmu sehingga
ayahmu meninggal dunia."
Ayu Candra
terisak menangis. Joko Wandiro mendiamkannya sampai tangis adiknya mereda.
Barulah ia bicara lagi dengan suara halus,
"Demikianlah,
adikku. Kita tidak boleh dihanyutkan oleh dendam. Kalau kita renungkan,
bukankah perbuatan Endang Patibroto itupun wajar, seperti engkau pula yang
melihat orang tua terbunuh lalu timbul kemarahan dan dendam? Memang, dia
terlalu ganas sehingga tidak memperdulikan pesan ayahnya, tidak memperdulikan
cegahan ibunya. Akan tetapi, apakah kita perlu meniru dia? Bukankah lebih sempurna
kalau kita taati pesan paman Pujo yang hendak menghabiskan urusan permusuhan
dengan penebusan nyawanya? Dan terutama sekali, bukankah ayahmu sendiri
meninggalkan pesan terakhir sebelum meninggal dunia, bahwa kau dilarang
membalas dendam, dilarang untuk melanjutkan permusuhan? Inilah sebabnya, adikku
sayang, mengapa aku melarang engkau mencari bibi Kartikosari dan bibi Roro
Luhito untuk membalas dendam."
Ayu Candra
tidak menjawab, hanya menubruk kakaknya dan menangis dengan muka di atas
pangkuan Joko Wandiro. Sampai lama sekali Ayu Candra menangis dan Joko Wandiro
mendiamkannya saja, membiarkan gadis itu menghanyutkan semua rasa dendam dan
sakit hati keluar bersama air matanya. Setelah Ayu Candra kini mingsek-mingsek
sebagai sisa tangisnya, Joko Wandiro lalu memegang kedua pundaknya dan
mendorongnya duduk kembali.
"Sekarang,
aku sengaja akan mengajakmu ke Pulau Sempu menemui mereka berdua, Ayu, dan aku
yakin bahwa kalau kau telah bicara dengan mereka berdua, kaupun pasti akan
membenarkan pendapatku bahwa mereka berdua itu bukanlah orang-orang jahat yang
patut dijadikan musuh. Kita pergi mengunjungi Pulau Sempu yang tak jauh lagi,
kemudian dari sana aku akan mengajakmu ke Panjalu untuk mencari Joko Seto"
"Siapa?"
Suara Ayu Candra masih gemetar.
"Joko
Seto, putera paman Darmobroto. Lupakah kau akan pesan ayahmu? Engkau dijodohkan
dengan Joko Seto, dan sudah menjadi kewajibanku untuk mengurus perjodohanmu,
karena sekarang akulah yang menjadi pengganti orang tuamu, akulah yang menjadi
walimu karena aku adalah kakak kandungmu!"
Ayu Candra
mengerutkan keningnya yang bagus, lalu menggeleng kepalanya.
”ku....... aku
tidak mau menikah!"
"Eh,
jangan begitu, adikku. Tak mungkin pesan terakhir ayahmu akan engkau abaikan
begitu saja dan "
"Sudahlah,
aku tidak suka bcara tentang itu. Terserah saja kepadamu kelak. Tentang Pulau
Sempu.. kakang, perlu benarkah kita ke sana? Rasanya tidak nyaman hatiku kalau
harus bertemu dengan mereka, sungguhpun penuturanmu tadi cukup menekan dan
menghilangkan tekadku untuk membalas dendam."
Joko Wandiro
memegang jari-jari tangan adiknya yang kecil-kecil dan halus.
"Ayu
Candra, sesungguhnya bukan hanya untuk menghadap kedua orang bibi itu,
melainkan aku mempunyai kepentingan yang besar di Pulau Sempu. Aku hendak
mengambil pusaka yang kusimpan di sana. Urusan ini amat pentingnya, karena itu
adalah urusan Kerajaan Panjalu dan aku harus mentaati pesan eyang guru Resi
Bhargowo dan bapa guru Narotama."
Ayu Candra
mengangguk-angguk. Sebagai puteri seorang pendekar sakti, ia tahu akan kepentingan
ini.
"Akan
tetapi setelah itu, mengapa harus ke Panjalu? Aku lebih senang kalau kau ajak
kembali ke Sarangan, aku... aku kepingin nyekar (menabur bunga) di telaga untuk
arwah ayahku ..."
Joko Wandiro
menarik napas panjang. Ia maklum bahwa sebetulnya gadis ini menyatakan
keberatannya pergi ke Panjalu untuk mencari Joko Seto. Diam-diam ia menjadi
bingung. Ada rasa syukur dan senang di sudut hatinya melihat betapa gadis ini
agaknya tidak suka berjodoh dengan lain orang, berarti tak dapat menghapus
cinta kasih di antara mereka, akan tetapi kesadarannya membisukan bahwa ia
harus berusaha merangkap perjodohan yang sudah dipesankan oleh ayah gadis ini.
"Begini,
adikku. Setelah aku mengambil pusaka, aku harus menghaturkan pusaka itu kepada
sang prabu di Panjalu, maka terpaksa aku harus ke sana. Setelah hal itu beres,
barulah aku akan mengantarmu ke Sarangan."
Ayu Candra
tidak membantah lagi dan malam itu ia tertidur dengan kepala berbantal paha
Joko Wandiro yang duduk bersila. Kuda tunggangan mereka juga mengaso di bawah
pohon, kadang-kadang menyabetkan ekornya, kadang-kadang mendengus mengusir
nyamuk.
Ketika Joko
Wandiro dan Ayu Candra sudah sampai di hutan terakhir di Pegunungan Kidul,
dekat pantai selatan, tiba-tiba pemuda itu berhenti berlari dan Ayu Candra juga
menahan kendali kuda. Dua orang muda ini berdiri memandang ke depan dengan mata
terbelalak, karena di depan mereka telah menghadang dua orang yang sama sekali
tak pernah mereka sangka-sangka akan mereka jumpai di situ. Mereka berdua itu
adalah Endang Patibroto dari Ki Jatoko!!
Endang
Patibroto tersenyum mengejek ketika Ayu Candra meloncat turun dari kuda dan
menggandeng tangan kiri Joko Wandiro karena gadis ini merasa gelisah dan ngeri.
Ia mengenal dua orang itu dan tahu bahwa mereka adalah iblis-iblis yang ganas
dan keji lagi berbahaya. Ayu Candra sama sekali tidak tahu bahwa sikapnya yang
tampak mesra ini bagi Endang Patibroto merupakan minyak yang menyiram api
didada, membuat Endang Patibroto tersenyum dingin untuk menyembunyikan hati
yang panas.
"Hernm,
bagus sekali! Kebetulan di sini kita bertemu, Joko Wandiro. Di sinilah kita
lanjutkan pertandingan kita dahulu. Terimalah seranganku!!"
Endang
Patibroto sama sekali tidak mau memberi kesempatan kepada Joko Wandiro dan
langsung menerjang dengan gerakan kilat, memukulkan tapak tangannya ke arah
dada pemuda itu. Joko Wandiro kaget dan cepat ia mendorong tubuh Ayu Candra ke
kiri, kemudian mengelak ke kanan sambil menggerakkan tangan menangkis pukulan
Endang Patibroto.
"Dukk...!!"
Dua orang itu terdorong mundur.
"Endang
Patibroto ! Gilakah engkau? Begitu tak berbudikah engkau sehingga kau lupa
bahwa kakang Joko yang menyelamatkan engkau dari tangan Bhagawan
Kundilomuko?"
Ayu Candra
berteriak-teriak untuk mencegah pertandingan yang seru. Akan tetapi sia-sia belaka.
Endang Patibroto mana mau mendengarkan cegahannya? Gadis ini dengan ganas
menerjang terus, seperti dahulu ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan
semua kepandaiannya.
"Hemm,
Endang Patibroto. Engkau benar keterlaluan sekali! Juga kau sombong bukan main.
Apa kaukira aku tak dapat menanggulangimu?" bentak Joko Wandiro yang mulai
marah dan pemuda inipun balas menyerang dengan antep dan cepat.
Ketika Ayu
Candra yang gelisah hendak mencegah, tiba-tiba lengannya dipegang orang dari
belakang. Ia menjerit dan menampar ke belakang, akan tetapi kembali tangannya
itu tertangkap. Melihat bahwa yang menangkapnya adalah Ki Jatoko, ia
meronta-ronta sekuatnya.
"Heh-heh,
cah ayu, biarkan mereka berdua saling hantam. Mari menyelamatkan diri
bersamaku. Mari kita cari musuh-musuh kita, kita hancurkan mereka. Lekas, kau
ikut denganku!!"
No comments:
Post a Comment