Badai Laut Selatan ; Bagian 155


"Dan kau, kakang?"
"Aku lari di sebelahmu, apa kaukira kalah oleh kuda?"
"Hi-hik, kau memang seperti kuda!” Ayu Candra sudah mulai timbul kejenakaannya.
"Hushh, masa kakakmu seperti kuda? Kalau kakaknya kuda, adiknya apa?" Joko Wandiro mengimbangi kelakar adiknya.

Ayu Candra tersenyum dan melompat ke atas pelana kuda, lalu membalapkan kuda di sebelah Joko Wandiro yang mengerahkan ilmu lari cepat menuju ke barat. Setelah gelap baru mereka berhenti di bawah pohon besar untuk melewatkan malam, Joko Wandiro menangkap seekor ayam hutan. Malam itu setelah makan bakar ubi dan daging ayam hutan, mereka bercakap-cakap dan Joko Wandiro mulai menceritakan kepada Ayu Candra akan peristiwa belasan tahun yang lalu. Ia menceritakan hal yang ia dengar dari penuturan bibinya, Roro Luhito dan dari Kartikosari.
"Terus terang saja, Ayu, bahwa pokok pangkal segala peristiwa ini adalah karena kesalahan dua orang, yaitu yang pertama ayah kandungku sendiri, mendiang Raden Wisangjiwo, dan ke dua adalah seorang bernama Jokowanengpati. Paman Pujo dan isterinya, bibi Kartikosari yang mula-mula menjadi korban kejahatan."
Mulailah ia menuturkan betapa Kartikosari dan Pujo yang sedang bertapa itu diganggu oleh kedatangan Raden Wisangjiwo sehingga terjadi pertempuran dan yang membuat Pujo dan Kartikosari roboh pingsan. Ketika sadar Pujo tahu bahwa Kartikosari telah diperkosa orang yang tentu saja oleh mereka berdua dianggap bukan lain orang kecuali Raden Wisangjiwo. Perbuatan keji ini menimbulkan dendam sehingga Pujo yang hendak membalas dendam menyerbu ke Selopenangkep, kemudian karena Pujo tidak menemukan Wisangjiwo, dalam sakit hati dan kebencian membuta ia menculik Listyakumolo bersama anaknya.
"Akulah anak itu, Ayu. Aku baru berusia dua tahun ketika ibu diculik Pujo. Akan tetapi sebagai seorang ksatria utama, paman Pujo tidak tega untuk membalas dendam dengan memperkosa ibuku. Dia hanya pergi membawaku dan kemudian aku dianggapnya sebagai puteranya sendiri dan dididiknya seperti murid terkasih. Sampai menjadi dewasa, aku masih beranggapan bahwa aku adalah putera kandung paman Pujo."
Ayu Candra mendengarkan dengan muka pucat. Rasa kasihan yang besar terhadap Pujo dan Kartikosari sudah menghapus sebagian besar dendam hatinya. Tanpa mengganggu sedikitpun ia mendengarkan terus, pandang matanya bergantung pada bibir Joko Wandiro.
"Peristiwa itu membuat paman Pujo dan bibi Kartikosari berpisahan, mereka menderita lahir batin sampai belasan tahun dan bibi Kartikosari yang sudah mengandung kemudian melahirkan anak dalam keadaan yang mengerikan dan menderita sekali"
"Endang Patibroto !!" Ayu Candra memotong cepat.
"Benar," Joko Wandiro mengangguk.
"Kemudian ibumu, juga ibuku, Listyakumolo yang bernasib malang, karena kehilangan aku, menerima pukulan batin hebat sehingga terganggu pikirannya. Ayahku yang ketika itu masih menyeleweng dari kebenaran malah mengirimnya..... pulang kerumah orang tua ibu kita, di lereng Lawu. Kalau nasib sedang dirundung kemalangan, belum lama setelah ibu dipulangkan, daerah itu diserbu perampok, semua keluarga kakek kita di sana habis dibunuh, kecuali ibu kita yang diculik oleh kepala perampok."
"Ah, kasihan ibu...!" Ayu Candra terisak, teringat kepada ibunya yang tercinta.
"tentang nasib ibu kita selanjutnya, aku tidak pernah mendengar ceritanya, dan tahu-tahu ibu kita telah tinggal bersama ayahmu di Sarangan. Sangat boleh jadi ibu kita tertolong oleh ayahmu, kemudian mereka menjadi suami isteri dan lahirlah engkau."

Ayu Candra mengangguk-angguk, air mata bertetesan di atas kedua pipi. Sejenak mereka diam, masing-masing tenggelam dalam lamunan. Ayu Candra mengenangkan ibunya yang tercinta. Adapun Joko Wandiro menekan perasaannya yang terasa perih dan sakit karena selama hidupnya, belum pernah ia berjumpa dengan ibu kandungnya, belum pernah ia melihat bagaimana wajah ibunya. Untuk mencegah agar kenangan pahit ini tidak meracuni hatinya, ia melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan betapa ayahnya, Raden Wisangjiwo, akhirnya sadar namun sudah terlambat karena ketika ayahnya mencari ibunya di lereng Lawu, ibunya sudah tidak ada. Diceritakan pula betapa ayahnya tewas dalam perang ketika membantu Pangeran Sepuh yang kini menjadi sang prabu di Panjalu.
"Akhirnya, paman Pujo dan bibi Kartikosari bertemu dengan ayahku dan barulah mereka itu tahu bahwa yang melakukan perbuatan keji terhadap diri bibi Kartikosari di dalam Guha Siluman itu bukanlah ayahku, melainkan Jokowanengpati. Paman Pujo menyesali perbuatannya, telah menculik aku dan menyengsarakan kehidupan ibuku. Karena itulah, ketika ibu kita bersama ayahmu datang ke Sungapan dan bertemu dengan paman Pujo, maka paman Pujo menyerahkan nyawanya di tangan ibu kita. Tanpa melawan paman Pujo rela ditusuk keris oleh ibu kita, untuk membalas dan menebus dosanya dahulu. Bahkan sebelum meninggal dunia, paman Pujo melarang bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito, yaitu adik kandung ayahku yang juga menjadi isteri paman Pujo, untuk membalas dendam. Paman Pujo rela menebus permusuhan itu dengan nyawa dan menghabiskan sampai di situ saja."
Ayu Candra memandang wajah kakaknya yang membayangkan keharuan, kekaguman dan kedukaan. Tahulah Ayu Candra bahwa guru kakaknya ini, Pujo, tentulah seorang ksatria yang amat gagah perkasa dan mulia sehingga rela menebus kesalahan dengan menyerahkan nyawa. Iapun menjadi terharu.
"Sayang sekali," Joko Wandiro menghela napas,
"manusia berdaya upaya, namun Sang Hyang Wisesa yang menentukan kesudahannya. Maksud mulia paman Pujo itu ternyata gagal karena pada saat itu sebelum ia mati, datang secara tiba-tiba Endang Patibroto yang telah menjadi murid Dibyo Mamangkoro dan memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa. Bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito mentaati pesan paman Pujo, akan tetapi tidak demikian dengan Endang Patibroto. Begitu mendengar bahwa paman Pujo adalah ayah kandungnya yang baru saja ia jumpai selama hidupnya, dan melihat betapa ayahnya yang baru dijumpainya itu tewas tanpa melawan oleh ibu kita yang masih berada di situ, ia lalu menerjang dan berhasil menewaskan ibu kita, bahkan melukai ayahmu sehingga ayahmu meninggal dunia."
Ayu Candra terisak menangis. Joko Wandiro mendiamkannya sampai tangis adiknya mereda. Barulah ia bicara lagi dengan suara halus,
"Demikianlah, adikku. Kita tidak boleh dihanyutkan oleh dendam. Kalau kita renungkan, bukankah perbuatan Endang Patibroto itupun wajar, seperti engkau pula yang melihat orang tua terbunuh lalu timbul kemarahan dan dendam? Memang, dia terlalu ganas sehingga tidak memperdulikan pesan ayahnya, tidak memperdulikan cegahan ibunya. Akan tetapi, apakah kita perlu meniru dia? Bukankah lebih sempurna kalau kita taati pesan paman Pujo yang hendak menghabiskan urusan permusuhan dengan penebusan nyawanya? Dan terutama sekali, bukankah ayahmu sendiri meninggalkan pesan terakhir sebelum meninggal dunia, bahwa kau dilarang membalas dendam, dilarang untuk melanjutkan permusuhan? Inilah sebabnya, adikku sayang, mengapa aku melarang engkau mencari bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito untuk membalas dendam."

Ayu Candra tidak menjawab, hanya menubruk kakaknya dan menangis dengan muka di atas pangkuan Joko Wandiro. Sampai lama sekali Ayu Candra menangis dan Joko Wandiro mendiamkannya saja, membiarkan gadis itu menghanyutkan semua rasa dendam dan sakit hati keluar bersama air matanya. Setelah Ayu Candra kini mingsek-mingsek sebagai sisa tangisnya, Joko Wandiro lalu memegang kedua pundaknya dan mendorongnya duduk kembali.
"Sekarang, aku sengaja akan mengajakmu ke Pulau Sempu menemui mereka berdua, Ayu, dan aku yakin bahwa kalau kau telah bicara dengan mereka berdua, kaupun pasti akan membenarkan pendapatku bahwa mereka berdua itu bukanlah orang-orang jahat yang patut dijadikan musuh. Kita pergi mengunjungi Pulau Sempu yang tak jauh lagi, kemudian dari sana aku akan mengajakmu ke Panjalu untuk mencari Joko Seto"
"Siapa?" Suara Ayu Candra masih gemetar.
"Joko Seto, putera paman Darmobroto. Lupakah kau akan pesan ayahmu? Engkau dijodohkan dengan Joko Seto, dan sudah menjadi kewajibanku untuk mengurus perjodohanmu, karena sekarang akulah yang menjadi pengganti orang tuamu, akulah yang menjadi walimu karena aku adalah kakak kandungmu!"
Ayu Candra mengerutkan keningnya yang bagus, lalu menggeleng kepalanya.
”ku....... aku tidak mau menikah!"
"Eh, jangan begitu, adikku. Tak mungkin pesan terakhir ayahmu akan engkau abaikan begitu saja dan "
"Sudahlah, aku tidak suka bcara tentang itu. Terserah saja kepadamu kelak. Tentang Pulau Sempu.. kakang, perlu benarkah kita ke sana? Rasanya tidak nyaman hatiku kalau harus bertemu dengan mereka, sungguhpun penuturanmu tadi cukup menekan dan menghilangkan tekadku untuk membalas dendam."
Joko Wandiro memegang jari-jari tangan adiknya yang kecil-kecil dan halus.
"Ayu Candra, sesungguhnya bukan hanya untuk menghadap kedua orang bibi itu, melainkan aku mempunyai kepentingan yang besar di Pulau Sempu. Aku hendak mengambil pusaka yang kusimpan di sana. Urusan ini amat pentingnya, karena itu adalah urusan Kerajaan Panjalu dan aku harus mentaati pesan eyang guru Resi Bhargowo dan bapa guru Narotama."
Ayu Candra mengangguk-angguk. Sebagai puteri seorang pendekar sakti, ia tahu akan kepentingan ini.
"Akan tetapi setelah itu, mengapa harus ke Panjalu? Aku lebih senang kalau kau ajak kembali ke Sarangan, aku... aku kepingin nyekar (menabur bunga) di telaga untuk arwah ayahku ..."
Joko Wandiro menarik napas panjang. Ia maklum bahwa sebetulnya gadis ini menyatakan keberatannya pergi ke Panjalu untuk mencari Joko Seto. Diam-diam ia menjadi bingung. Ada rasa syukur dan senang di sudut hatinya melihat betapa gadis ini agaknya tidak suka berjodoh dengan lain orang, berarti tak dapat menghapus cinta kasih di antara mereka, akan tetapi kesadarannya membisukan bahwa ia harus berusaha merangkap perjodohan yang sudah dipesankan oleh ayah gadis ini.
"Begini, adikku. Setelah aku mengambil pusaka, aku harus menghaturkan pusaka itu kepada sang prabu di Panjalu, maka terpaksa aku harus ke sana. Setelah hal itu beres, barulah aku akan mengantarmu ke Sarangan."

Ayu Candra tidak membantah lagi dan malam itu ia tertidur dengan kepala berbantal paha Joko Wandiro yang duduk bersila. Kuda tunggangan mereka juga mengaso di bawah pohon, kadang-kadang menyabetkan ekornya, kadang-kadang mendengus mengusir nyamuk.
Ketika Joko Wandiro dan Ayu Candra sudah sampai di hutan terakhir di Pegunungan Kidul, dekat pantai selatan, tiba-tiba pemuda itu berhenti berlari dan Ayu Candra juga menahan kendali kuda. Dua orang muda ini berdiri memandang ke depan dengan mata terbelalak, karena di depan mereka telah menghadang dua orang yang sama sekali tak pernah mereka sangka-sangka akan mereka jumpai di situ. Mereka berdua itu adalah Endang Patibroto dari Ki Jatoko!!
Endang Patibroto tersenyum mengejek ketika Ayu Candra meloncat turun dari kuda dan menggandeng tangan kiri Joko Wandiro karena gadis ini merasa gelisah dan ngeri. Ia mengenal dua orang itu dan tahu bahwa mereka adalah iblis-iblis yang ganas dan keji lagi berbahaya. Ayu Candra sama sekali tidak tahu bahwa sikapnya yang tampak mesra ini bagi Endang Patibroto merupakan minyak yang menyiram api didada, membuat Endang Patibroto tersenyum dingin untuk menyembunyikan hati yang panas.
"Hernm, bagus sekali! Kebetulan di sini kita bertemu, Joko Wandiro. Di sinilah kita lanjutkan pertandingan kita dahulu. Terimalah seranganku!!"
Endang Patibroto sama sekali tidak mau memberi kesempatan kepada Joko Wandiro dan langsung menerjang dengan gerakan kilat, memukulkan tapak tangannya ke arah dada pemuda itu. Joko Wandiro kaget dan cepat ia mendorong tubuh Ayu Candra ke kiri, kemudian mengelak ke kanan sambil menggerakkan tangan menangkis pukulan Endang Patibroto.
"Dukk...!!" Dua orang itu terdorong mundur.
"Endang Patibroto ! Gilakah engkau? Begitu tak berbudikah engkau sehingga kau lupa bahwa kakang Joko yang menyelamatkan engkau dari tangan Bhagawan Kundilomuko?"
Ayu Candra berteriak-teriak untuk mencegah pertandingan yang seru. Akan tetapi sia-sia belaka. Endang Patibroto mana mau mendengarkan cegahannya? Gadis ini dengan ganas menerjang terus, seperti dahulu ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.
"Hemm, Endang Patibroto. Engkau benar keterlaluan sekali! Juga kau sombong bukan main. Apa kaukira aku tak dapat menanggulangimu?" bentak Joko Wandiro yang mulai marah dan pemuda inipun balas menyerang dengan antep dan cepat.

Ketika Ayu Candra yang gelisah hendak mencegah, tiba-tiba lengannya dipegang orang dari belakang. Ia menjerit dan menampar ke belakang, akan tetapi kembali tangannya itu tertangkap. Melihat bahwa yang menangkapnya adalah Ki Jatoko, ia meronta-ronta sekuatnya.
"Heh-heh, cah ayu, biarkan mereka berdua saling hantam. Mari menyelamatkan diri bersamaku. Mari kita cari musuh-musuh kita, kita hancurkan mereka. Lekas, kau ikut denganku!!"

<<< Bagian 154                                                                                     Bagian 156 >>>

No comments:

Post a Comment