"Tidak... kaulepaskan aku! Lepaskan.......! Manusia iblis kau, jahanam busuk, aku tidak mau dibujuk lagi! " Ayu Candra merenggutkan tangannya dan memutar tubuh sambil memukulkan tangan itu ke arah leher Ki Jatoko. Karena marah dan benci, Ayu Candra menjadi nekat dan serangannya cukup keras dan kuat.
"Wuuuttt.....!!"
Dengan mudah Ki Jatoko yang memang memiliki ilmu kepandaian dan pengalaman jauh
lebih tinggi daripada gadis jelita itu, miringkan tubuh mengelak dan secepat kilat
lenganj kirinya melingkar dan memeluk pinggang Ayu Candra yang kecil ramping.
"Hemm,
bocah bodoh!" Sambil berkata begini, dua buah jari tangan kanan Ki Jatoko
menusuk tengkuk Ayu Candra, menotok jalah darah dengan kuat dan cepat sekali.
Seketika tubuh Ayu Candral menjadi lemas karena ia telah pingsan. Ki Jatoko
menangkap dan memondongnya.
Dalam
pertandingan menghadapi Endang Patibroto kali ini, Joko Wandiro tidak bersikap
mengalah seperti yang lalu. Ia merasa marah, apalagi iapun amat khawatir akan
keselamatan Ayu Candra. Ia maklum bahwa kalau ia tidak cepat-cepat mengalahkan
Endang Patibroto, Ayu Candra akan terancam keselamatannya, terutama oleh Ki
Jatoko. Dan untuk mengalahkan Endang Patibroto, bukanlah hal yang mudah dan
membutuhkan pengerahan tenaga dan kepandaian sepenuhnya. Karena inilah maka
begitu bertanding, ia mengirim pukulan-pukulan yang hebat dan dahsyat, mengisi
kedua lengannya dengan Aji Bojro Dahono dan menggerakkan tubuhnya amat cepat
dengan Ilmu Bramoro Seto.
Endang
Patibroto terkejut bukan main. Terasa olehnya bahwa gerakan pemuda ini Jauh
bedanya dengan dahulu. Kalau dahulu selalu terdesak olehnya dan hanya
menggunakan siasat bertahan, kini dialah yang terdesak. Hawa pukulan yang amat
panas membuyarkan Aji Wisangnala yang ia gunakan, dan kecepatan Joko Wandiro
membingungkannya.
Pada saat Joko
Wandiro berkesempatan mengerlingkan matanya ke arah Ayu Candra dan melihat
betapa gadis itu telah pingsan dan dipondong oleh Ki Jatoko yang siap hendak
melarikannya, kemarahannya memuncak. Pekik dahsyat keluar dari mulutnya dan
terjangannya kali ini biarpun dapat ditangkis oleh Endang Patibroto, namun
demikian dahsyatnya sehingga membuat gadis sakti ini terlempar ke belakang
sampai lima meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah sehingga bergulingan! Ia
tidak terluka hebat, namun hal ini membuat ia kaget setengah mati dan terutama
malu yang berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap! Baru sekali ini selama
hidupnya ia menerima hinaan, dipukul sampai terlempar dan terbanting
terguling-guling!
"Joko Wandiro,
sekali ini kau mampus di tanganku!" teriaknya sambil mencabut keris pusaka
Brojol Luwuk dari pinggangnya!
Akan tetapi
begitu ia berhasil merobohkan Endang Patibroto, sekali melompat Joko Wandiro
sudah menerjang Ki Jatoko. Si buntung ini tadi sudah meloncat hendak lari, akan
tetapi pekik dahsyat Dirodo Meto demikian hebat pengaruhnya sehingga ia
terkejut dan kedua kaki buntungnya seakan-akan lumpuh. Pada saat itu, tangan
kiri Joko Wandiro memukul punggungnya dengan Aji Pethit Nogo, sedangkan tangan kanan
pemuda perkasa ini merenggut dan merampas tubuh Ayu Candra. Ki Jatoko sudah
mengerahkan tenaga dalam untuk melawan, namun tetap saja ia terguling, tidak
kuat menerima pukulan ini, dan ia roboh pingsan. Ketika Joko Wandiro yang kini
memondong tubuh adiknya itu memutar tubuh dan melihat Endang Patibroto sudah
menghunus keris, ia terkejut sekali. Keris di tangan gadis itu mengeluarkan
hawa yang membuat bulu tengkuknya meremang dan jantungnya berdenyut keras.
Itulah merupakan tanda bahwa keris pusaka di tangan gadis itu sebuah senjata
pusaka yang ampuhnya menggila. Dan ia teringat akan peristiwa belasan tahun
yang lalu. Tak salah lagi, keris itu adalah keris pusaka Brojol Luwuk, keris
pusaka Mataram yang dulu dipilih oleh gadis itu di depan eyang guru mereka.
Keris pusaka Mataram yamg tersimpan di dalam patung kencana Sri Bathara Wisnd!
Akan tetapi mengapa berada di tangan gadis ini. Bukankah dahulu eyang guru
mereka, Sang Bhagawan Rukmoseto atau Sang Bhargowo menyuruh mereka
menyembunyikan pusaka masing-masing di Pulau Sempu?
"Berhenti
kau Joko Wandiro dan mari lanjutkan sampai seorang di antara kita menggeletak
tak bernyawa di sini!" bentak Endang Patibroto sambil menerjang maju.
Joko Wandiro
tahu akan bahayanya. Dengan keris pusaka sehebat itu, yang hawanya saja hampir
melumpuhkan semangatnya, apalagi dengan memondong tubuh Ayu Candra, andaikata
tidak demikianpun, belum tentu ia cukup kuat untuk menandingi Endang Patibroto
dengan keris pusakanya itu. Maka ia lalu cepat melompat jauh ke kiri? Sengaja
memperlambat larinya. Endang Patibroto berseru nyaring,
"Berhenti
kau! Jangan lari, pengecut!!" Gadis perkasa itu mengejar dengan keris di
tangan.
Entah
bagaimana, melihat kembali Joko Wandiro membela dan melindungi Ayu Candra,
timbul kemarahan dan kebencian yang amat hebat di hatinya dan niat hatinya pada
saat itu tiada lain, membunuh mereka berdua barulah ia akan merasa puas! Ketika
melewati segerombolan pohon dan hampir dapat menyusul Joko Wandiro, tiba-tiba
pemuda itu membelok ke kanan, memutari pohon dan kini menggunakan Aji Bayu
Sakti melompat bagaikan terbang cepatnya, kembali ke tempat tadi atau lebih
tepat berlari menuju ke tempat kudanya.
"Berhenti
kau, keparat Joko Wandiro! Berhenti!!" Endang Patibroto mengejar dengan
marah.
Akan tetapi
Joko Wandiro sambil memondong tubuh Ayu Candra yang masih pingsan sudah
melompat bagaikan seekor kijang, hinggap di atas pelana kuda. dan pada detik
selanjutnya kuda itu sudah dibalapkan cepat meninggalkan tempat itu. Endang
Patibroto berhenti mengejar, memandang debu yang mengepul tinggi di belakang
kuda. Ia membanting-banting kaki, memaki-maki dan akhirnya ia menjatuhkan diri
di atas tanah, menangis terisak-isak dengan perasaan yang tidak karuan. Marah,
malu, benci, duka, dan entah perasaan pahit apa lagi yang saat itu mengamuk di
dalam hatinya.
Setelah
akhirnya gelora hatinya dapat ditekan, Endang Patibroto bangkit, menyimpan
keris pusakanya lalu menghampiri tubuh Ki Jatoko yang masih belum bangun.
Dengan ujung kakinya ia membalikkan tubuh yang tertelungkup itu, mengguncang-guncangkannya.
Ki Jatoko mengeluh dan merangkak bangun. Ketika bagaikan orang bangun dari
mimpi buruk ia mengangkat muka dan melihat Endang Patibroto, teringatlah ia
akan semua peristiwa dan matanya mencari-cari ke kanan kiri.
"Bangunlah
dan hayo kita melanjutkan perjalanan."
"Mana..
mana.. Ayu Candra..”
"Cerewet!
Hayo jalan!" Encang Patibroto menarik lengan Ki Jatoko dan menyeretnya
bangun dengan sentakan kasar sekali.
"Aduh..!
Aku...punggungku terpukul, sakit bukan main ...!" Ki Jatoko mengeluh lagi.
"Kita
mengaso dulu, Endang..."
"Tidak!
Hayo jalan terus!"
"Kasihanilah,
Endang. Aku letih dan lapar, haus dan sakit-sakit tubuhku kau kasihanilah, aku
ayah...”
"Diam!
Sebelum tiba di Sempu, jangan sebut-sebut lagi hal itu atau kuhancurkan
kepalamu!"
Melihat
pandang mata yang dingin itu, Ki Jatoko bergidik, kemudian karena maklum bahwa
di tangan gadis ini ia tidak akan dapat berbuat sesuatu, iapun lalu
mengikutinya melanjutkan perjalanan.
Sementara itu,
Joko Wandiro sudah membawa lari Ayu Candra. Setelah tiba di tepi pantai dari
mana tampak Pulau Sempu, barulah ia turun dari kuda. Ayu Candra sudah siuman.
Di tengah jalan tadi dengan mengurut punggungnya, Joko Wandiro telah
membebaskan pengaruh totokan Ki Jatoko.
"Kakang,
kenapa kau tidak lawan dan bunuh saja Endang Patibroto itu? Biarpun kita tidak
akan mendendam kepadanya, akan tetapi dia itu seorang gadis jahat dan ganas
seperti iblis. Dia yang selalu memusuhi dan menyerangmu terlebih dulu. Mengapa
kau selalu mengalah kepadanya?"
"Ah, kau
tidak tahu adikku. Dia itu bagaimanapun juga adalah puteri paman Pujo dan bibi
Kartikosari, bagaimana aku tega untuk membunuhnya? Selain itu, dengan keris
pusaka Mataram di tangannya, tak mungkin aku dapat menang melawan dia.
Sudahlah, mari kita mencari perahu. Kuda ini cukup ditukar dengan sebuah perahu
kecil."
Dan memang
betul dugaannya. Seorang nelayan dengan senang hati menukarkan perahu kecilnya
yang butut dengan kuda itu, karena memang kuda ini jauh lebih mahal harganya.
Penukaran ini mendatangkan untung besar baginya. Demikianlah, tanpa membuang
waktu lagi Joko Wandiro lalu mengajak Ayu Candra untuk berlayar, menyeberang ke
Pulau Sempu yang sudah tampak dari pantai Laut Selatan.
Kartikosari
dari Roro Luhito hidup dengan aman dan tenang di Pulau Sempu. Pulau ini kosong
dan tanahnya cukup subur sehingga dua orang wanita perkasa itu tidak mendapat
kesukaran untuk hidup mengasingkan diri di situ. Mereka bercocok tanam dan
mendirikan sebuah pondok baru karena pondok bekas tempat tinggal Resi Bhargowo
telah rusak. Kandungan mereka sudah makin tua. Kartikosari mengandung tujuh
bulan sedangkan Roro Luhito mengandung lima bulan. Sebagai puteri-puteri yang
memiliki kepandaian tinggi, hidup menyendiri di pulau itu bukanlah hal yang
sukar bagi mereka, bahkan menenangkan pikiran setelah mereka mengalami hal-hal
yang menegangkan di masa yang lalu. Juga merupakan hiburan atas kedukaan hati
mereka kehilangan suami. Yang terutama sekali, tempat yang sunyi dan jauh dari
dunia ramai ini merupakan tempat sembunyi yang paling aman sehingga tak mungkin
ada musuh yang dapat mengganggu mereka. Hanya Joko Wandiro seorang yang tahu
akan tempat sembunyi mereka ini. Orang lain siapakah dapat menduga bahwa dua
orang puteri itu bersembunyi di pulau kosong?
Mereka
mempunyai sebuah perahu dan dengan perahu inilah kadang-kadang Roro Luhito
menyeberang untuk mencari kebutuhan mereka yang tak dapat ditemukan di atas
pulau. Dan pada siang hari itu, Roro Luhito baru saja datang dari darat, di
mana ia mencari dan membeli bumbu-bumbu masak karena persediaan di pulau sudah
habis. Mereka berdua duduk meneduh di bawah pohon sambil menikmati angin
semilir dan memandang ombak-ombak Laut Selatan yang menggelora ke pantai.
"Kak
Sari, ada orang datang berperahu ..!" Tiba-tiba Roro Luhito berbisik
sambil menudingkan telunjuknya ke arah pantai.
Kartikosari
cepat memandang dan bangkit berdiri. Betul saja. Sebuah perahu makin mendekati
pulau. Keduanya menduga-duga dengan hati berdebar dan tanpa disadari mereka
sudah berpindah tempat, menyelinap di balik segerombolan tanaman untuk
menyembunyikan diri. Mereka tidak ingin dilihat orang luar. Sambil bersembunyi
dua orang wanita perkasa itu mengintai.
"Mereka
Joko Wandiro dan Endang Patibroto...!" Kartikosari berseru setelah perahu
itu makin dekat pulau. Suaranya terdengar penuh kegembiraan dan kini mereka
berdua melompat keluar dari tempat sembunyi. Setengah berlari mereka menuju ke
tepi laut dan melambai-lambaikan tangan.
"Joko...Endang...!
Ke sini....!"
Kartikosari
berseru keras. Suaranya nyaring terbawa angina melalui atas ombak samudera.
Agaknya terdengar oleh Joko Wandiro karena pemuda itu sambil mendayung, sejenak
melambaikan tangan ke atas.
"Kak
Sari, gadis itu bukan Endang ....!!" Roro Luhito berkata, suaranya mulai
tegang.
"Bu..
bukan Endang.., benar, dia bukan anakku..!" Suara Kartikosari tidak hanya
tegang, bahkan gemetar.
Roro Luhito
dengan halus memegang tangan madunya, menepuk-nepuk perlahan untuk menenangkan
hati dan menghiburnya.
"Siapapun
dia, kalau datang bersama Joko Wandiro, tentu seorang baik-baik."
Mereka berdua
berdiri sambil bergandeng tangan, menanti datangnya perahu itu. Setelah perahu
tiba di pantai, mereka melihat bahwa gadis itu benar bukan Endang Patibroto,
melainkan seorang gadis cantik jelita yang juga memandang mereka penuh
perhatian. Joko Wandiro meloncat ke atas pantai dan menyeret perahunya naik.
Ayu Candra juga meloncat turun, membantu kakaknya menyeret perahu. Kemudian
keduanya berjalan menghampiri dua orang wanita yang telah menunggu.
"Joko
Wandiro, di mana Endang Patibroto? Tak berhasilkah engkau membujuknya ikut ke
sini?” Kartikosari menegur setelah Joko Wandiro menghaturkan sembah.
"Maafkan
saya, bibi Kartikosari. Sudah dua kali saya membujuk dengan kata-kata halus
sampai dengan kekerasan, namun sia-sia hasilnya. Hatinya terlalu keras dan
kesaktiannya terlalu hebat sehingga saya tidak berhasil. Akan tetapi, saya rasa
tak lama lagi ia akan ke sini, bibi. Tak jauh dari pantai saya telah bertemu
dengan dia."
"Betulkah?"
Kartikosari menjadi gembira
"Coba
ceritakan apa yang telah terjadi dan gadis ini siapakah?"
"Bibi,
inilah Ayu Candra, adik kandung saya......"
Seketika wajah
Kartikosari berubah pucat. Ia berseru perlahan dan melangkah mundur.
"Kau.. ?
Kau.... membawa puteri Listyakumolo ke sini? Joko Wandiro! Kalau kau memang
berniat membalas dendam atas kematian ibu kandungmu, mengapa tidak kaulakukan
sendiri ketika kita saling bertemu di Bayuwismo? Mengapa baru sekarang"
No comments:
Post a Comment