Badai Laut Selatan ; Bagian 156


"Tidak... kaulepaskan aku! Lepaskan.......! Manusia iblis kau, jahanam busuk, aku tidak mau dibujuk lagi! " Ayu Candra merenggutkan tangannya dan memutar tubuh sambil memukulkan tangan itu ke arah leher Ki Jatoko. Karena marah dan benci, Ayu Candra menjadi nekat dan serangannya cukup keras dan kuat.
"Wuuuttt.....!!" Dengan mudah Ki Jatoko yang memang memiliki ilmu kepandaian dan pengalaman jauh lebih tinggi daripada gadis jelita itu, miringkan tubuh mengelak dan secepat kilat lenganj kirinya melingkar dan memeluk pinggang Ayu Candra yang kecil ramping.
"Hemm, bocah bodoh!" Sambil berkata begini, dua buah jari tangan kanan Ki Jatoko menusuk tengkuk Ayu Candra, menotok jalah darah dengan kuat dan cepat sekali. Seketika tubuh Ayu Candral menjadi lemas karena ia telah pingsan. Ki Jatoko menangkap dan memondongnya.

Dalam pertandingan menghadapi Endang Patibroto kali ini, Joko Wandiro tidak bersikap mengalah seperti yang lalu. Ia merasa marah, apalagi iapun amat khawatir akan keselamatan Ayu Candra. Ia maklum bahwa kalau ia tidak cepat-cepat mengalahkan Endang Patibroto, Ayu Candra akan terancam keselamatannya, terutama oleh Ki Jatoko. Dan untuk mengalahkan Endang Patibroto, bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan pengerahan tenaga dan kepandaian sepenuhnya. Karena inilah maka begitu bertanding, ia mengirim pukulan-pukulan yang hebat dan dahsyat, mengisi kedua lengannya dengan Aji Bojro Dahono dan menggerakkan tubuhnya amat cepat dengan Ilmu Bramoro Seto.
Endang Patibroto terkejut bukan main. Terasa olehnya bahwa gerakan pemuda ini Jauh bedanya dengan dahulu. Kalau dahulu selalu terdesak olehnya dan hanya menggunakan siasat bertahan, kini dialah yang terdesak. Hawa pukulan yang amat panas membuyarkan Aji Wisangnala yang ia gunakan, dan kecepatan Joko Wandiro membingungkannya.
Pada saat Joko Wandiro berkesempatan mengerlingkan matanya ke arah Ayu Candra dan melihat betapa gadis itu telah pingsan dan dipondong oleh Ki Jatoko yang siap hendak melarikannya, kemarahannya memuncak. Pekik dahsyat keluar dari mulutnya dan terjangannya kali ini biarpun dapat ditangkis oleh Endang Patibroto, namun demikian dahsyatnya sehingga membuat gadis sakti ini terlempar ke belakang sampai lima meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah sehingga bergulingan! Ia tidak terluka hebat, namun hal ini membuat ia kaget setengah mati dan terutama malu yang berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap! Baru sekali ini selama hidupnya ia menerima hinaan, dipukul sampai terlempar dan terbanting terguling-guling!
"Joko Wandiro, sekali ini kau mampus di tanganku!" teriaknya sambil mencabut keris pusaka Brojol Luwuk dari pinggangnya!

Akan tetapi begitu ia berhasil merobohkan Endang Patibroto, sekali melompat Joko Wandiro sudah menerjang Ki Jatoko. Si buntung ini tadi sudah meloncat hendak lari, akan tetapi pekik dahsyat Dirodo Meto demikian hebat pengaruhnya sehingga ia terkejut dan kedua kaki buntungnya seakan-akan lumpuh. Pada saat itu, tangan kiri Joko Wandiro memukul punggungnya dengan Aji Pethit Nogo, sedangkan tangan kanan pemuda perkasa ini merenggut dan merampas tubuh Ayu Candra. Ki Jatoko sudah mengerahkan tenaga dalam untuk melawan, namun tetap saja ia terguling, tidak kuat menerima pukulan ini, dan ia roboh pingsan. Ketika Joko Wandiro yang kini memondong tubuh adiknya itu memutar tubuh dan melihat Endang Patibroto sudah menghunus keris, ia terkejut sekali. Keris di tangan gadis itu mengeluarkan hawa yang membuat bulu tengkuknya meremang dan jantungnya berdenyut keras. Itulah merupakan tanda bahwa keris pusaka di tangan gadis itu sebuah senjata pusaka yang ampuhnya menggila. Dan ia teringat akan peristiwa belasan tahun yang lalu. Tak salah lagi, keris itu adalah keris pusaka Brojol Luwuk, keris pusaka Mataram yang dulu dipilih oleh gadis itu di depan eyang guru mereka. Keris pusaka Mataram yamg tersimpan di dalam patung kencana Sri Bathara Wisnd! Akan tetapi mengapa berada di tangan gadis ini. Bukankah dahulu eyang guru mereka, Sang Bhagawan Rukmoseto atau Sang Bhargowo menyuruh mereka menyembunyikan pusaka masing-masing di Pulau Sempu?
"Berhenti kau Joko Wandiro dan mari lanjutkan sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa di sini!" bentak Endang Patibroto sambil menerjang maju.
Joko Wandiro tahu akan bahayanya. Dengan keris pusaka sehebat itu, yang hawanya saja hampir melumpuhkan semangatnya, apalagi dengan memondong tubuh Ayu Candra, andaikata tidak demikianpun, belum tentu ia cukup kuat untuk menandingi Endang Patibroto dengan keris pusakanya itu. Maka ia lalu cepat melompat jauh ke kiri? Sengaja memperlambat larinya. Endang Patibroto berseru nyaring,
"Berhenti kau! Jangan lari, pengecut!!" Gadis perkasa itu mengejar dengan keris di tangan.
Entah bagaimana, melihat kembali Joko Wandiro membela dan melindungi Ayu Candra, timbul kemarahan dan kebencian yang amat hebat di hatinya dan niat hatinya pada saat itu tiada lain, membunuh mereka berdua barulah ia akan merasa puas! Ketika melewati segerombolan pohon dan hampir dapat menyusul Joko Wandiro, tiba-tiba pemuda itu membelok ke kanan, memutari pohon dan kini menggunakan Aji Bayu Sakti melompat bagaikan terbang cepatnya, kembali ke tempat tadi atau lebih tepat berlari menuju ke tempat kudanya.
"Berhenti kau, keparat Joko Wandiro! Berhenti!!" Endang Patibroto mengejar dengan marah.

Akan tetapi Joko Wandiro sambil memondong tubuh Ayu Candra yang masih pingsan sudah melompat bagaikan seekor kijang, hinggap di atas pelana kuda. dan pada detik selanjutnya kuda itu sudah dibalapkan cepat meninggalkan tempat itu. Endang Patibroto berhenti mengejar, memandang debu yang mengepul tinggi di belakang kuda. Ia membanting-banting kaki, memaki-maki dan akhirnya ia menjatuhkan diri di atas tanah, menangis terisak-isak dengan perasaan yang tidak karuan. Marah, malu, benci, duka, dan entah perasaan pahit apa lagi yang saat itu mengamuk di dalam hatinya.
Setelah akhirnya gelora hatinya dapat ditekan, Endang Patibroto bangkit, menyimpan keris pusakanya lalu menghampiri tubuh Ki Jatoko yang masih belum bangun. Dengan ujung kakinya ia membalikkan tubuh yang tertelungkup itu, mengguncang-guncangkannya. Ki Jatoko mengeluh dan merangkak bangun. Ketika bagaikan orang bangun dari mimpi buruk ia mengangkat muka dan melihat Endang Patibroto, teringatlah ia akan semua peristiwa dan matanya mencari-cari ke kanan kiri.
"Bangunlah dan hayo kita melanjutkan perjalanan."
"Mana.. mana.. Ayu Candra..”
"Cerewet! Hayo jalan!" Encang Patibroto menarik lengan Ki Jatoko dan menyeretnya bangun dengan sentakan kasar sekali.
"Aduh..! Aku...punggungku terpukul, sakit bukan main ...!" Ki Jatoko mengeluh lagi.
"Kita mengaso dulu, Endang..."
"Tidak! Hayo jalan terus!"
"Kasihanilah, Endang. Aku letih dan lapar, haus dan sakit-sakit tubuhku kau kasihanilah, aku ayah...”
"Diam! Sebelum tiba di Sempu, jangan sebut-sebut lagi hal itu atau kuhancurkan kepalamu!"
Melihat pandang mata yang dingin itu, Ki Jatoko bergidik, kemudian karena maklum bahwa di tangan gadis ini ia tidak akan dapat berbuat sesuatu, iapun lalu mengikutinya melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, Joko Wandiro sudah membawa lari Ayu Candra. Setelah tiba di tepi pantai dari mana tampak Pulau Sempu, barulah ia turun dari kuda. Ayu Candra sudah siuman. Di tengah jalan tadi dengan mengurut punggungnya, Joko Wandiro telah membebaskan pengaruh totokan Ki Jatoko.
"Kakang, kenapa kau tidak lawan dan bunuh saja Endang Patibroto itu? Biarpun kita tidak akan mendendam kepadanya, akan tetapi dia itu seorang gadis jahat dan ganas seperti iblis. Dia yang selalu memusuhi dan menyerangmu terlebih dulu. Mengapa kau selalu mengalah kepadanya?"
"Ah, kau tidak tahu adikku. Dia itu bagaimanapun juga adalah puteri paman Pujo dan bibi Kartikosari, bagaimana aku tega untuk membunuhnya? Selain itu, dengan keris pusaka Mataram di tangannya, tak mungkin aku dapat menang melawan dia. Sudahlah, mari kita mencari perahu. Kuda ini cukup ditukar dengan sebuah perahu kecil."
Dan memang betul dugaannya. Seorang nelayan dengan senang hati menukarkan perahu kecilnya yang butut dengan kuda itu, karena memang kuda ini jauh lebih mahal harganya. Penukaran ini mendatangkan untung besar baginya. Demikianlah, tanpa membuang waktu lagi Joko Wandiro lalu mengajak Ayu Candra untuk berlayar, menyeberang ke Pulau Sempu yang sudah tampak dari pantai Laut Selatan.

Kartikosari dari Roro Luhito hidup dengan aman dan tenang di Pulau Sempu. Pulau ini kosong dan tanahnya cukup subur sehingga dua orang wanita perkasa itu tidak mendapat kesukaran untuk hidup mengasingkan diri di situ. Mereka bercocok tanam dan mendirikan sebuah pondok baru karena pondok bekas tempat tinggal Resi Bhargowo telah rusak. Kandungan mereka sudah makin tua. Kartikosari mengandung tujuh bulan sedangkan Roro Luhito mengandung lima bulan. Sebagai puteri-puteri yang memiliki kepandaian tinggi, hidup menyendiri di pulau itu bukanlah hal yang sukar bagi mereka, bahkan menenangkan pikiran setelah mereka mengalami hal-hal yang menegangkan di masa yang lalu. Juga merupakan hiburan atas kedukaan hati mereka kehilangan suami. Yang terutama sekali, tempat yang sunyi dan jauh dari dunia ramai ini merupakan tempat sembunyi yang paling aman sehingga tak mungkin ada musuh yang dapat mengganggu mereka. Hanya Joko Wandiro seorang yang tahu akan tempat sembunyi mereka ini. Orang lain siapakah dapat menduga bahwa dua orang puteri itu bersembunyi di pulau kosong?
Mereka mempunyai sebuah perahu dan dengan perahu inilah kadang-kadang Roro Luhito menyeberang untuk mencari kebutuhan mereka yang tak dapat ditemukan di atas pulau. Dan pada siang hari itu, Roro Luhito baru saja datang dari darat, di mana ia mencari dan membeli bumbu-bumbu masak karena persediaan di pulau sudah habis. Mereka berdua duduk meneduh di bawah pohon sambil menikmati angin semilir dan memandang ombak-ombak Laut Selatan yang menggelora ke pantai.
"Kak Sari, ada orang datang berperahu ..!" Tiba-tiba Roro Luhito berbisik sambil menudingkan telunjuknya ke arah pantai.
Kartikosari cepat memandang dan bangkit berdiri. Betul saja. Sebuah perahu makin mendekati pulau. Keduanya menduga-duga dengan hati berdebar dan tanpa disadari mereka sudah berpindah tempat, menyelinap di balik segerombolan tanaman untuk menyembunyikan diri. Mereka tidak ingin dilihat orang luar. Sambil bersembunyi dua orang wanita perkasa itu mengintai.
"Mereka Joko Wandiro dan Endang Patibroto...!" Kartikosari berseru setelah perahu itu makin dekat pulau. Suaranya terdengar penuh kegembiraan dan kini mereka berdua melompat keluar dari tempat sembunyi. Setengah berlari mereka menuju ke tepi laut dan melambai-lambaikan tangan.
"Joko...Endang...! Ke sini....!"
Kartikosari berseru keras. Suaranya nyaring terbawa angina melalui atas ombak samudera. Agaknya terdengar oleh Joko Wandiro karena pemuda itu sambil mendayung, sejenak melambaikan tangan ke atas.
"Kak Sari, gadis itu bukan Endang ....!!" Roro Luhito berkata, suaranya mulai tegang.
"Bu.. bukan Endang.., benar, dia bukan anakku..!" Suara Kartikosari tidak hanya tegang, bahkan gemetar.
Roro Luhito dengan halus memegang tangan madunya, menepuk-nepuk perlahan untuk menenangkan hati dan menghiburnya.
"Siapapun dia, kalau datang bersama Joko Wandiro, tentu seorang baik-baik."

Mereka berdua berdiri sambil bergandeng tangan, menanti datangnya perahu itu. Setelah perahu tiba di pantai, mereka melihat bahwa gadis itu benar bukan Endang Patibroto, melainkan seorang gadis cantik jelita yang juga memandang mereka penuh perhatian. Joko Wandiro meloncat ke atas pantai dan menyeret perahunya naik. Ayu Candra juga meloncat turun, membantu kakaknya menyeret perahu. Kemudian keduanya berjalan menghampiri dua orang wanita yang telah menunggu.
"Joko Wandiro, di mana Endang Patibroto? Tak berhasilkah engkau membujuknya ikut ke sini?” Kartikosari menegur setelah Joko Wandiro menghaturkan sembah.

"Maafkan saya, bibi Kartikosari. Sudah dua kali saya membujuk dengan kata-kata halus sampai dengan kekerasan, namun sia-sia hasilnya. Hatinya terlalu keras dan kesaktiannya terlalu hebat sehingga saya tidak berhasil. Akan tetapi, saya rasa tak lama lagi ia akan ke sini, bibi. Tak jauh dari pantai saya telah bertemu dengan dia."
"Betulkah?" Kartikosari menjadi gembira
"Coba ceritakan apa yang telah terjadi dan gadis ini siapakah?"
"Bibi, inilah Ayu Candra, adik kandung saya......"
Seketika wajah Kartikosari berubah pucat. Ia berseru perlahan dan melangkah mundur.
"Kau.. ? Kau.... membawa puteri Listyakumolo ke sini? Joko Wandiro! Kalau kau memang berniat membalas dendam atas kematian ibu kandungmu, mengapa tidak kaulakukan sendiri ketika kita saling bertemu di Bayuwismo? Mengapa baru sekarang"

<<< Bagian 155                                                                                      Bagian 157 >>>

No comments:

Post a Comment