Juga Roro Luhito terkejut dan menegur keponakannya,
”Joko, kau
berjanji takkan melanjutkan permusuhan dan dendam, mengapa sekarang kau ajak
puteri mbok-ayu Listyakumolo ke sini?"
Mendengar kata
kata dan melihat sikap dua orang wanita cantik itu, Ayu Candra cepat maju dan
berkata, suaranya halus namun tegas,
"Harap
bibi berdua jangan khawatir. Memang benar aku pernah menurutkan dendam sakit
hati karena duka kehilangan ayah bunda, tanpa mengingat pesan terakhir ayah
yang melarangku membalas dendam, tadinya saya berniat untuk mencari bibi dan
melakukan pembalasan. Akan tetapi, setelah kakang Joko Wandiro menceritakan
semua sebab-sebab permusuhan, saya sudah sadar dan takkan melanjutkan
permusuhan ini."
Sejenak
Kartikosari dan gadis itu saling pandang, seperti hendak mengukur isi hati
masing-masing. Kemudian Kartikosari terisak dan melangkah maju, dan di lain
saat Ayu Candra sudah jatuh ke dalam pelukannya. Ayu Candra menangis,
Kartikosari juga bercucuran air mata.
"Aduh,
anak baik..! Sungguh besar hatiku mendengar kata-katamu. Kau patut menjadi
puteri seorang perkasa seperti Ki Adibroto! Akupun selalu rela untuk menebus
dosa puteriku, Ayu Candra. Aku siap untuk menerima pembalasan atas kematian
ayah bundamu, hanya aku ingin agar supaya anak yang kukandung ini terlahir
lebih dahulu, baru aku bersedia menerima kematian. Akan tetapi, kini engkau
telah sadar, menghabiskan permusuhan, alangkah bahagia hatiku!"
Setelah reda
keharuan hati mereka, Ayu Candra berkata,
"Sayangnya,
bibi, puterimu Endang Patibroto itu entah mengapa, setiap kali bertemu dengan
aku atau kakang Joko Wandiro, tentu menyerang dan hendak membunuh kami! Dia
amat benci kepadaku."
"Hemm,
kau tinggallah di sini. Biarlah dia datang! Hendak kulihat apakah dia masih
melanjutkan sikap gila itu kepadamu. Aku akan membela dan melindungimu dengan
taruhan nyawaku, Ayu Candra!" kata Kartikosari dan pada saat seperti itu,
wanita cantik ini sikapnya sama benar dengan Endang Patibroto, dadanya
dibusungkan, matanya berapi-api, kedua tangan dikepal, sepasang pipinya merah!
"Sudahlah,
kiranya tak perlu dibicarakan lagi hal-hal yang tidak menyenangkan hati ini.
Marilah kalian ikut kami ke pondok di mana kita dapat bicara dengan
leluasa," kata Roro Luhito.
Kartikosari
mengangguk dan berangkatlah mereka berempat ke pondok sederhana yang berada di
tengah Pulau Sempu. Di dalam pondok, Joko Wandiro lalu menceritakan semua
pengalaman dan semua peristiwa yang terjadi selama ini. Ia juga menceritakan
sepak terjang Endang Patibroto yang telah menewaskan Ni Durgogini, Ni Nogogini,
Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, dan betapa gadis itu
bersama Ayu Candra hampir mengalami malapetaka hebat di tangan Bhagawan
Kundilomuko. Juga tentang pertemuan-pertemuannya dengan Endang Patibroto, tentang
pertandingan di antara mereka. Setelah mendengar semua penuturan Joko Wandiro,
Kartikosari termenung, menarik napas panjang lalu berkata lirih,
"Betapapun
juga, dia telah dapat membalaskan sakit hati eyangnya dan membasmi orang-orang
jahat itu. Ahhh.. Endang,... kalau engkau tidak menjadi murid Dibyo Mamangkoro,
agaknya kau tidak akan menyeleweng sedemikian jauh.”
"Semua
sudah dikehendaki Dewata, ayunda Kartikosari," kata Roro Luhito menghibur.
"Kalau
Endang tidak menjadi murid Dibyo Mamangkoro, kurasa juga bukan hal mudah
baginya untuk dapat membasmi orang-orang sakti seperti Cekel Aksomolo dan
kawan-kawannya!"
Setelah
bertemu dengan dua orang wanita perkasa ini, Ayu Candra kembali harus
membenarkan sikap kakaknya. Memang dua orang wanita ini jelas adalah
orang-orang yang berpribudi tinggi sehingga sebentar saja ia sudah tidak
ragu-ragu dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk bercakap-cakap dan menuturkan
semua riwayatnya. Kartikosari dan Roro Luhito merasa terharu dan menaruh rasa
sayang kepada gadis yang kehilangan ayah bunda ini. Sekali lagi Kartikosari
menghibur hati Ayu Candra dan mengatakan bahwa kalau benar Endang Patibroto
datang ke pulau itu, ia akan mencuci habis permusuhan yang mengotori hati dan
pikiran anaknya.
Joko Wandiro
lalu minta diri kepada Kartikosari.
"Saya
hendak mencari pusaka Mataram yang dulu oleh eyang guru diberikan kepada saya
untuk disimpan. Pusaka itu masih saya simpan di pulau ini, bibi, dan sekarang
saya hendak mencarinya, untuk dikembalikan kepada yang berhak, yaitu sang prabu
di Panjalu."
Kartikosari
dan Roro Luhito tercengang. Baru sekarang mereka mendengar akan hal itu.
"Pusaka
Mataram?" Kartikosari bertanya heran.
"Ramanda
resi tak pernah menceritakan hal itu kepadaku. Joko Wandiro, bagaimanakah
pusaka Mataram dapat berada di tangan eyang gurumu?"
"Tadinya
saya pun tidak tahu, bibi. Akan tetapi ketika saya mengikuti guru saya di
Jalatunda, dan mendapat kesempatan bertemu dengan eyang guru yang mengabdi
kepada Sang Prabu Airlangga yang bertapa, eyang pernah menceritakannya kepada
saya bahwa pusaka Mataram yang lenyap itu sebenarnya dicuri oleh
Jokowanengpati. Secara kebetulan pusaka itu dapat dirampas oleh eyang resi dari
tangan bedebah itu. Ketika eyang berada di pulau ini dan tahu bahwa musuh-musuh
utusan Pangeran Anom datang untuk merampas pusaka, eyang guru lalu membagi
pusaka menjadi dua, selubungnya yang berbentuk patung kencana diserahkan kepada
saya untuk disimpan dan disembunyikan. Adapun isinya berupa keris pusaka berada
di tangan Endang Patibroto, juga untuk disembunyikan. Akan tetapi ketika saya
bertemu dengan Endang, dia mempergunakan pusaka itu yang ampuhnya menggila”
Kartikosari
mengangguk-angguk.
"Biar
lah, kalau dia datang, akan kuminta pusaka itu. Pusaka Mataram harus kembali
kepada sang prabu di Panjalu, karena tanpa adanya pusaka itu, kerajaan akan
selalu menjadi kacau, demikian dahulu rama resi pernah bercerita. Kau pergilah
dan cari kembali pusaka yang kausembunyikan dahulu, anakku."
Joko Wandiro
lalu keluar dari pondok itu. Masih teringat olehnya betapa selama dua tahun ia
bermain-main di pulau ini, bermain-main bersama Endang Patibroto, kadang-kadang
sama-sama berlatih ilmu. Kemudian ia teringat betapa ia membawa patung kencana
menyusup-nyusup ke tengah pulau menuju ke sebelah barat karena ia memang hendak
menyembunyikan pusaka itu di bagian barat pulau. Dari jauh sudah tampak olehnya
sebatang pohon randu alas yang besar, menjulang tinggi seperti raksasa. Hatinya
berdebar keras. Pohon itulah tempat rahasianya. Di sanalah ia menyimpan patung
kencana dan di sana pula dahulu ia digigit ular berbisa. Semua itu terbayang
jelas dan ketika ia sudah tiba di bawah pohon randu alas, ia berdiri termenung.
Pohon itu kini sudah menjadi pohon raksasa. Biarpun ia kinipun sudah menjadi
seorang dewasa, namun dibandingkan dengan pohon ini, ia kalah jauh pesatnya
dalam pertumbuhan. Di manakah kira-kira pusaka itu? Ia masih ingat betul.
Dahulu patung kencana itu ia masukkan dalam sebatang cabang yang berlubang,
cabang besar yang letaknya paling tinggi. Akan tetapi pohon itu kini sudah amat
banyak cabangnya sehingga sukar baginya untuk menentukan cabang yang mana yang
menyimpan patung kencana. Dengan jantung berdebar Joko Wandiro lalu melompat
naik dan memanjat pohon. Karena ingat bahwa dulu ia pernah digigit ular berbisa
di sini, kini ia memandang teliti kalau-kalau ada ular lagi. Akan tetapi tidak
ada ular di situ. Mulailah ia mencari-cari, meneliti setiap cabang besar.
Pada saat Joko
Wandiro mencari kembali pusaka yang belasan tahun yang lalu ia sembunyikan di
dalam cabang pohon randu alas, di pantai sebelah selatan mendaratlah Endang
Patibroto bersama Jokowanengpati atau Ki Jatoko! Ki Jatoko merasa gelisah dan
kecut-kecut hatinya, namun ia tidak dapat mundur lagi. Ia telah menjalankan
siasat, membujuk gadis itu dan ia maklum bahwa gadis ini tentu hendak
membuktikan kebenaran pengakuannya dengan menanyakan hal itu kepada
Kartikosari. Apa boleh buat, pikir Ki Jatoko. Pengakuannya ini bukan ngawur
belaka. Semenjak ia memperkosa Kartikosari, wanita itu berpisah dari suaminya. Kemudian
melahirkan Endang Patibroto. Bukankah amat mungkin sekali bahwa gadis ini
adalah anaknya? Keturunannya? Ia tak dapat mundur lagi, sekali melangkah harus
terus nekat maju.
"Ibu.......!!"
Suara Endang Patibroto tercampur isak ketika ia memanggil ibunya.
Kartikosari
yang sedang duduk di luar bersama Roro Luhito dan Ayu Candra, cepat menoleh dan
ia melompat bangun. Wajahnya tegang, matanya bersinar.
"Endang
Patibroto! Engkau datang........!!" Kemudian matanya menyapu ke arah orang
buntung itu, keningnya berkerut, pandangnya tajam penuh selidik.
"Ahhhh...!!!"
Roro Luhito menjerit dan mencengkeram tangan Kartikosari.
Wanita ini
sekali pandang saja sudah mengenal Ki Jatoko. Sebaliknya, Kartikosari hanya
merasa seperti pernah bertemu dengan orang buntung ini, akan tetapi lupa lagi
di mana dan kapan.
"Yunda
...... dia.. dia... " Roro Luhito tak dapat melanjutkan kata-katanya,
mukanya pucat.
"Bibi,
dia itu adalah Ki Jatoko yang jahat!" kata Ayu Candra.
Sementara itu,
Endang Patibroto juga mengerutkan keningnya ketika melihat Ayu Candra di situ
bersama ibunya.
"Ibu, dia
anak musuh kital" bentaknya marah.
"Yunda
Sari yunda dia... dia Jokowanengpati...!" Roro Luhito kembali berbisik
dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Kartikosari
kini mengenal pula si buntung itu dan mukanya menjadi pucat, matanya
mengeluarkan cahaya berkilat dan ia membentak puterinya,
"Endang
Patibroto! Tahukah engkau, dengan siapa kau datang ini?"
Karena memang
maksud kunjungannya ini untuk mempertemukan ibu kandungnya dengan orang yang
mengaku ayahnya; maka seketika Endang Patibroto melupakan urusan Ayu Candra. Ia
lalu berkata, suaranya lantang menantang,
"Ibu,
justeru aku yang ingin bertanya apakah ibu mengenal orang ini?"
"Dia.......dia..
Iblis telah melindunginya, dia inilah Jokowanengpati si keparat jahanam!!"
"Ahh,
sampai bagaimanapun, mana bisa kau lupakan aku, Kartikosari?" Ki Jatoko
berkata lirih, cukup jelas terdengar oleh Endang Patibroto.
"Ibu,
baik sekali bahwa ibu seketika mengenal dia. Ada hubungan apakah dia dengan
ibu? Jokowanengpati ini mengaku bahwa dia adalah ayah kandungku! Benarkah ibu
dahulu menjadi kekasihnya sebelum menikah dengan Pujo, dan benarkah bahwa aku
ini... anaknya?"
Hebat bukan
main kata-kata ini bagi Kartikosari. Bagaikan sebatang pedang beracun karatan
menusuk tembus jantungnya. Matanya terbelalak, mukanya tak berdarah lagi, ingin
ia menjerit, memaki, berteriak, namun tenggorokannya penuh sesak oleh hawa
amarah yang menyesak ke atas sehingga akhirnya ia terguling dan roboh pingsan!
Tentu ia akan terbanting roboh kalau tidak cepat-cepat Ayu Candra memeluknya.
Gadis ini lalu duduk dan memangku kepala Kartikosari yang pingsan. Roro Luhito
meloncat bangun, menudingkan telunjuknya dengan marah kepada Endang Patibroto
sambil berseru,
"Endang
Patibroto! Engkau sungguh terlalu! Sampai hati engkau menghina ibumu sendiri
sampai begitu? Engkau telah terkena bujukan iblis ini! Huh, Jokowanengpati,
semua keteranganmu tentang Kartikosari dan engkau bohong semua!"
"Hemm,
bagaimana bibi Roro Luhito bisa tahu?" Endang Patiproto bertanya,
mengejek.
"Mengapa
aku tidak tahu.. Ah, kau anak durhaka kepada ibu kandung! Endang Patibroto,
jangan percaya mulut bangsat rendah, keparat hina ini. Tahukah engkau bahwa
tidak hanya ibumu menjadi korban kekejiannya, akan tetapi juga aku? Ibumu sedang
bertapa bersama... ayahmu di dalam Guha Siluman, tidak tahu bahwa di dalam guha
itu bersembunyi si keparat Jokowanengpati ini. Karena ayah dan ibumu pingsan
setelah bertanding melawan kakak kandungku, Wisangjiwo ayah Joko Wandiro,
mereka tak berdaya. Jokowanengpati si keparat ini lalu memperkosa ibumu, di
depan mata ayahmu! Kemudian ia melarikan diri! Dan bukan itu saja, diapun
menggunakan nama kakangmas Pujo untuk memperkosa diriku di tengah malam! Dia
ini manusia rendah, iblis bermuka manusia, serigala bertubuh manusia, kau
jangan percaya omongannya yang berbisa. Kami, ibumu dan aku sudah menghukumnya
sehingga ia terjungkal ke laut, disambar ikan, kami kira sudah mampus...
ah...."
Biarpun
mulutnya masih tersenyum mengejek, namun di dalam hatinya, Endang Patibroto
merasa lega. Iapun tidak suka kalau betul-betul ayah kandungnya adalah si
buntung ini. Kini dengan pandang mata dingin ia menoleh kepada Ki Jatoko,
suaranya juga dingin sekali ketika bertanya,
"Jokowanengpati,
betulkah apa yang dikatakan bibi Roro Luhito?"
Maklum bahwa
percuma saja untuk berbantah karena tentu Roro Luhito dan Kartikosari akan
membuka semua rahasianya, Jokowanengpati atau Ki Jatoko lalu tertawa bergelak.
No comments:
Post a Comment