Badai Laut Selatan ; Bagian 157


Juga Roro Luhito terkejut dan menegur keponakannya,
”Joko, kau berjanji takkan melanjutkan permusuhan dan dendam, mengapa sekarang kau ajak puteri mbok-ayu Listyakumolo ke sini?"

Mendengar kata kata dan melihat sikap dua orang wanita cantik itu, Ayu Candra cepat maju dan berkata, suaranya halus namun tegas,
"Harap bibi berdua jangan khawatir. Memang benar aku pernah menurutkan dendam sakit hati karena duka kehilangan ayah bunda, tanpa mengingat pesan terakhir ayah yang melarangku membalas dendam, tadinya saya berniat untuk mencari bibi dan melakukan pembalasan. Akan tetapi, setelah kakang Joko Wandiro menceritakan semua sebab-sebab permusuhan, saya sudah sadar dan takkan melanjutkan permusuhan ini."
Sejenak Kartikosari dan gadis itu saling pandang, seperti hendak mengukur isi hati masing-masing. Kemudian Kartikosari terisak dan melangkah maju, dan di lain saat Ayu Candra sudah jatuh ke dalam pelukannya. Ayu Candra menangis, Kartikosari juga bercucuran air mata.
"Aduh, anak baik..! Sungguh besar hatiku mendengar kata-katamu. Kau patut menjadi puteri seorang perkasa seperti Ki Adibroto! Akupun selalu rela untuk menebus dosa puteriku, Ayu Candra. Aku siap untuk menerima pembalasan atas kematian ayah bundamu, hanya aku ingin agar supaya anak yang kukandung ini terlahir lebih dahulu, baru aku bersedia menerima kematian. Akan tetapi, kini engkau telah sadar, menghabiskan permusuhan, alangkah bahagia hatiku!"
Setelah reda keharuan hati mereka, Ayu Candra berkata,
"Sayangnya, bibi, puterimu Endang Patibroto itu entah mengapa, setiap kali bertemu dengan aku atau kakang Joko Wandiro, tentu menyerang dan hendak membunuh kami! Dia amat benci kepadaku."
"Hemm, kau tinggallah di sini. Biarlah dia datang! Hendak kulihat apakah dia masih melanjutkan sikap gila itu kepadamu. Aku akan membela dan melindungimu dengan taruhan nyawaku, Ayu Candra!" kata Kartikosari dan pada saat seperti itu, wanita cantik ini sikapnya sama benar dengan Endang Patibroto, dadanya dibusungkan, matanya berapi-api, kedua tangan dikepal, sepasang pipinya merah!
"Sudahlah, kiranya tak perlu dibicarakan lagi hal-hal yang tidak menyenangkan hati ini. Marilah kalian ikut kami ke pondok di mana kita dapat bicara dengan leluasa," kata Roro Luhito.

Kartikosari mengangguk dan berangkatlah mereka berempat ke pondok sederhana yang berada di tengah Pulau Sempu. Di dalam pondok, Joko Wandiro lalu menceritakan semua pengalaman dan semua peristiwa yang terjadi selama ini. Ia juga menceritakan sepak terjang Endang Patibroto yang telah menewaskan Ni Durgogini, Ni Nogogini, Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, dan betapa gadis itu bersama Ayu Candra hampir mengalami malapetaka hebat di tangan Bhagawan Kundilomuko. Juga tentang pertemuan-pertemuannya dengan Endang Patibroto, tentang pertandingan di antara mereka. Setelah mendengar semua penuturan Joko Wandiro, Kartikosari termenung, menarik napas panjang lalu berkata lirih,
"Betapapun juga, dia telah dapat membalaskan sakit hati eyangnya dan membasmi orang-orang jahat itu. Ahhh.. Endang,... kalau engkau tidak menjadi murid Dibyo Mamangkoro, agaknya kau tidak akan menyeleweng sedemikian jauh.”
"Semua sudah dikehendaki Dewata, ayunda Kartikosari," kata Roro Luhito menghibur.
"Kalau Endang tidak menjadi murid Dibyo Mamangkoro, kurasa juga bukan hal mudah baginya untuk dapat membasmi orang-orang sakti seperti Cekel Aksomolo dan kawan-kawannya!"
Setelah bertemu dengan dua orang wanita perkasa ini, Ayu Candra kembali harus membenarkan sikap kakaknya. Memang dua orang wanita ini jelas adalah orang-orang yang berpribudi tinggi sehingga sebentar saja ia sudah tidak ragu-ragu dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk bercakap-cakap dan menuturkan semua riwayatnya. Kartikosari dan Roro Luhito merasa terharu dan menaruh rasa sayang kepada gadis yang kehilangan ayah bunda ini. Sekali lagi Kartikosari menghibur hati Ayu Candra dan mengatakan bahwa kalau benar Endang Patibroto datang ke pulau itu, ia akan mencuci habis permusuhan yang mengotori hati dan pikiran anaknya.

Joko Wandiro lalu minta diri kepada Kartikosari.
"Saya hendak mencari pusaka Mataram yang dulu oleh eyang guru diberikan kepada saya untuk disimpan. Pusaka itu masih saya simpan di pulau ini, bibi, dan sekarang saya hendak mencarinya, untuk dikembalikan kepada yang berhak, yaitu sang prabu di Panjalu."
Kartikosari dan Roro Luhito tercengang. Baru sekarang mereka mendengar akan hal itu.
"Pusaka Mataram?" Kartikosari bertanya heran.
"Ramanda resi tak pernah menceritakan hal itu kepadaku. Joko Wandiro, bagaimanakah pusaka Mataram dapat berada di tangan eyang gurumu?"
"Tadinya saya pun tidak tahu, bibi. Akan tetapi ketika saya mengikuti guru saya di Jalatunda, dan mendapat kesempatan bertemu dengan eyang guru yang mengabdi kepada Sang Prabu Airlangga yang bertapa, eyang pernah menceritakannya kepada saya bahwa pusaka Mataram yang lenyap itu sebenarnya dicuri oleh Jokowanengpati. Secara kebetulan pusaka itu dapat dirampas oleh eyang resi dari tangan bedebah itu. Ketika eyang berada di pulau ini dan tahu bahwa musuh-musuh utusan Pangeran Anom datang untuk merampas pusaka, eyang guru lalu membagi pusaka menjadi dua, selubungnya yang berbentuk patung kencana diserahkan kepada saya untuk disimpan dan disembunyikan. Adapun isinya berupa keris pusaka berada di tangan Endang Patibroto, juga untuk disembunyikan. Akan tetapi ketika saya bertemu dengan Endang, dia mempergunakan pusaka itu yang ampuhnya menggila”
Kartikosari mengangguk-angguk.
"Biar lah, kalau dia datang, akan kuminta pusaka itu. Pusaka Mataram harus kembali kepada sang prabu di Panjalu, karena tanpa adanya pusaka itu, kerajaan akan selalu menjadi kacau, demikian dahulu rama resi pernah bercerita. Kau pergilah dan cari kembali pusaka yang kausembunyikan dahulu, anakku."
Joko Wandiro lalu keluar dari pondok itu. Masih teringat olehnya betapa selama dua tahun ia bermain-main di pulau ini, bermain-main bersama Endang Patibroto, kadang-kadang sama-sama berlatih ilmu. Kemudian ia teringat betapa ia membawa patung kencana menyusup-nyusup ke tengah pulau menuju ke sebelah barat karena ia memang hendak menyembunyikan pusaka itu di bagian barat pulau. Dari jauh sudah tampak olehnya sebatang pohon randu alas yang besar, menjulang tinggi seperti raksasa. Hatinya berdebar keras. Pohon itulah tempat rahasianya. Di sanalah ia menyimpan patung kencana dan di sana pula dahulu ia digigit ular berbisa. Semua itu terbayang jelas dan ketika ia sudah tiba di bawah pohon randu alas, ia berdiri termenung. Pohon itu kini sudah menjadi pohon raksasa. Biarpun ia kinipun sudah menjadi seorang dewasa, namun dibandingkan dengan pohon ini, ia kalah jauh pesatnya dalam pertumbuhan. Di manakah kira-kira pusaka itu? Ia masih ingat betul. Dahulu patung kencana itu ia masukkan dalam sebatang cabang yang berlubang, cabang besar yang letaknya paling tinggi. Akan tetapi pohon itu kini sudah amat banyak cabangnya sehingga sukar baginya untuk menentukan cabang yang mana yang menyimpan patung kencana. Dengan jantung berdebar Joko Wandiro lalu melompat naik dan memanjat pohon. Karena ingat bahwa dulu ia pernah digigit ular berbisa di sini, kini ia memandang teliti kalau-kalau ada ular lagi. Akan tetapi tidak ada ular di situ. Mulailah ia mencari-cari, meneliti setiap cabang besar.

Pada saat Joko Wandiro mencari kembali pusaka yang belasan tahun yang lalu ia sembunyikan di dalam cabang pohon randu alas, di pantai sebelah selatan mendaratlah Endang Patibroto bersama Jokowanengpati atau Ki Jatoko! Ki Jatoko merasa gelisah dan kecut-kecut hatinya, namun ia tidak dapat mundur lagi. Ia telah menjalankan siasat, membujuk gadis itu dan ia maklum bahwa gadis ini tentu hendak membuktikan kebenaran pengakuannya dengan menanyakan hal itu kepada Kartikosari. Apa boleh buat, pikir Ki Jatoko. Pengakuannya ini bukan ngawur belaka. Semenjak ia memperkosa Kartikosari, wanita itu berpisah dari suaminya. Kemudian melahirkan Endang Patibroto. Bukankah amat mungkin sekali bahwa gadis ini adalah anaknya? Keturunannya? Ia tak dapat mundur lagi, sekali melangkah harus terus nekat maju.
"Ibu.......!!" Suara Endang Patibroto tercampur isak ketika ia memanggil ibunya.
Kartikosari yang sedang duduk di luar bersama Roro Luhito dan Ayu Candra, cepat menoleh dan ia melompat bangun. Wajahnya tegang, matanya bersinar.
"Endang Patibroto! Engkau datang........!!" Kemudian matanya menyapu ke arah orang buntung itu, keningnya berkerut, pandangnya tajam penuh selidik.
"Ahhhh...!!!" Roro Luhito menjerit dan mencengkeram tangan Kartikosari.
Wanita ini sekali pandang saja sudah mengenal Ki Jatoko. Sebaliknya, Kartikosari hanya merasa seperti pernah bertemu dengan orang buntung ini, akan tetapi lupa lagi di mana dan kapan.
"Yunda ...... dia.. dia... " Roro Luhito tak dapat melanjutkan kata-katanya, mukanya pucat.
"Bibi, dia itu adalah Ki Jatoko yang jahat!" kata Ayu Candra.
Sementara itu, Endang Patibroto juga mengerutkan keningnya ketika melihat Ayu Candra di situ bersama ibunya.
"Ibu, dia anak musuh kital" bentaknya marah.
"Yunda Sari yunda dia... dia Jokowanengpati...!" Roro Luhito kembali berbisik dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Kartikosari kini mengenal pula si buntung itu dan mukanya menjadi pucat, matanya mengeluarkan cahaya berkilat dan ia membentak puterinya,
"Endang Patibroto! Tahukah engkau, dengan siapa kau datang ini?"
Karena memang maksud kunjungannya ini untuk mempertemukan ibu kandungnya dengan orang yang mengaku ayahnya; maka seketika Endang Patibroto melupakan urusan Ayu Candra. Ia lalu berkata, suaranya lantang menantang,
"Ibu, justeru aku yang ingin bertanya apakah ibu mengenal orang ini?"
"Dia.......dia.. Iblis telah melindunginya, dia inilah Jokowanengpati si keparat jahanam!!"
"Ahh, sampai bagaimanapun, mana bisa kau lupakan aku, Kartikosari?" Ki Jatoko berkata lirih, cukup jelas terdengar oleh Endang Patibroto.
"Ibu, baik sekali bahwa ibu seketika mengenal dia. Ada hubungan apakah dia dengan ibu? Jokowanengpati ini mengaku bahwa dia adalah ayah kandungku! Benarkah ibu dahulu menjadi kekasihnya sebelum menikah dengan Pujo, dan benarkah bahwa aku ini... anaknya?"

Hebat bukan main kata-kata ini bagi Kartikosari. Bagaikan sebatang pedang beracun karatan menusuk tembus jantungnya. Matanya terbelalak, mukanya tak berdarah lagi, ingin ia menjerit, memaki, berteriak, namun tenggorokannya penuh sesak oleh hawa amarah yang menyesak ke atas sehingga akhirnya ia terguling dan roboh pingsan! Tentu ia akan terbanting roboh kalau tidak cepat-cepat Ayu Candra memeluknya. Gadis ini lalu duduk dan memangku kepala Kartikosari yang pingsan. Roro Luhito meloncat bangun, menudingkan telunjuknya dengan marah kepada Endang Patibroto sambil berseru,
"Endang Patibroto! Engkau sungguh terlalu! Sampai hati engkau menghina ibumu sendiri sampai begitu? Engkau telah terkena bujukan iblis ini! Huh, Jokowanengpati, semua keteranganmu tentang Kartikosari dan engkau bohong semua!"
"Hemm, bagaimana bibi Roro Luhito bisa tahu?" Endang Patiproto bertanya, mengejek.
"Mengapa aku tidak tahu.. Ah, kau anak durhaka kepada ibu kandung! Endang Patibroto, jangan percaya mulut bangsat rendah, keparat hina ini. Tahukah engkau bahwa tidak hanya ibumu menjadi korban kekejiannya, akan tetapi juga aku? Ibumu sedang bertapa bersama... ayahmu di dalam Guha Siluman, tidak tahu bahwa di dalam guha itu bersembunyi si keparat Jokowanengpati ini. Karena ayah dan ibumu pingsan setelah bertanding melawan kakak kandungku, Wisangjiwo ayah Joko Wandiro, mereka tak berdaya. Jokowanengpati si keparat ini lalu memperkosa ibumu, di depan mata ayahmu! Kemudian ia melarikan diri! Dan bukan itu saja, diapun menggunakan nama kakangmas Pujo untuk memperkosa diriku di tengah malam! Dia ini manusia rendah, iblis bermuka manusia, serigala bertubuh manusia, kau jangan percaya omongannya yang berbisa. Kami, ibumu dan aku sudah menghukumnya sehingga ia terjungkal ke laut, disambar ikan, kami kira sudah mampus... ah...."
Biarpun mulutnya masih tersenyum mengejek, namun di dalam hatinya, Endang Patibroto merasa lega. Iapun tidak suka kalau betul-betul ayah kandungnya adalah si buntung ini. Kini dengan pandang mata dingin ia menoleh kepada Ki Jatoko, suaranya juga dingin sekali ketika bertanya,
"Jokowanengpati, betulkah apa yang dikatakan bibi Roro Luhito?"

Maklum bahwa percuma saja untuk berbantah karena tentu Roro Luhito dan Kartikosari akan membuka semua rahasianya, Jokowanengpati atau Ki Jatoko lalu tertawa bergelak.

<<< Bagian 156                                                                                     Bagian 158 >>>

No comments:

Post a Comment