"Huah-ha-ha-ha-hah! Di dunia ini mana ada perempuan yang mau mengakui penyelewengannya? Endang Patibroto, engkau bukan bocah lagi, engkau sudah dewasa dan sudah dapat mempertimbangkan. Katakanlah bahwa ibumu tidak mengaku sebagai kekasihku, akan tetapi betapapun juga, Roro Luhito sudah mengaku bahwa aku pernah memperkosa Kartikosari. Dan semenjak peristiwa itu Kartikosari tak pernah berdekatan dengan Pujo sampai engkau terlahir!" Ki Jatoko menyeringai penuh kemenangan dan menoleh kepada Kartikosari yang sudah mulai sadar.
"Kartikosari,
hayo sangkal kalau kau mampu. Semenjak peristiwa malam di dalam guha, bukankah
engkau meninggalkan Pujo dan melahirkan Endang Patibroto ini? Hayo jawablah!
Engkau tidak mungkin dapat menyembunyikan kenyataan ini!"
Wajah
Kartikosari pucat sekali. Terbayang dalam ingatannya semua pengalamannya
dahulu. Dahulupun ia sudah seringkali meragu dan keraguan inilah yang merupakan
siksaan batinnya sampat berbulan-bulan. Semenjak ia tahu bahwa ia mengandung,
ia sudah meragu dan hendak membunuh diri karena ia tidak tahu pasti anak
siapakah dalam kandungannya Itu. Bahkan setelah anak itu terlahir, pernah ia
melemparkan anak itu ke laut. Kinipun ia menjadi ragu-ragu, tak dapat
menjawab!”.
"Ibu,
jawablah, ibu. Jawablah sejujurnya!" Terdengar suara Endang Patibroto
mendesak.
Wajah
Kartikosari seperti wajah mayat. Pandang matanya kosong dan bibirnya menggigil.
"Apa apa
yang harus kujawab...? Betul semenjak itu aku....pergi meninggalkan kakangmas
Pujo....akan tetapi kuanggap kau anak kakangmas Pujo. Kalau kuanggap dahulu
bahwa engkau bukan anak kakangmas Pujo, tentu sudah kubunuh kau!" Setelah
berkata demikian, tiba-tiba Kartikosari menangis tersedu-sedu dan Roro Luhito
cepat merangkulnya dan membujuknya agar tidak melayani mereka itu.
Ayu Candra
hanya mendengarkan dengan muka pucat dan mata terbelalak, penuh kasihan kepada
Kartikosari dan penuh kebencian kepada Ki Jatoko. Diam-diam ia bergidik kalau
ia teringat betapa pernah ia mempercaya manusia iblis dan menyerahkan nasib
dirinya kepada Ki Jatoko!
Kembali
terdengar Jokowanengpati tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
"Ha-ha-ha-ha!
Anakku cah-ayu Endang Patibroto! Baru percayakah engkau sekarang, anakku?
Engkau anakku, engkau darah dagingku, tak salah lagi! Bukankah banyak persamaan
di antara kita? Bukankah cocok watak kita, sama-sama gagah perkasa, sama-sama
cerdik penuh akal dan kalau saja mukaku tidak menjadi rusak begini, wajahmu
sama benar dengan wajahku. Aku dahulu tampan, seorang ksatria yang elok, kau tanya
saja ibumu. Ha-ha, kau tanya juga Roro Luhito ini, dia dahulu di waktu perawan
telah diserahkan oleh ayahnya kepadaku untuk menjadi isteriku. Ha-ha, banyak
wanita tergila-gila kepadaku. Kau boleh bangga mempunyai ayah seperti aku ini,
Endang... heeee! Endang...! Mau.......mau apa kau...?" Tiba-tiba suara
yang penuh kemenangan itu berubah penuh ketakutan.
Endang
Patibroto kini berdiri memandang wajah si buntung yang mengaku ayahnya dan
keadaan gadis ini benar-benar amat mengerikan. Sepasang matanya penuh kemarahan,
penuh hawa nafsu membunuh, agaknya mata iblis seperti itulah. Mulutnya setengah
tersenyum, wajahnya pucat sekali. Jokowanengpati mundur-mundur ketakutan. Sinar
mata itu membisikkan maut, membuat ia bergidik ngeri.
"Endang......
Endang Patibroto... ingat, kau ...anakku... mau apa kau... ?"
Endang
Patibroto melangkah maju, perlahan-lahan, mengikuti gerakan Jokowanengpati yang
mundur-mundur. Bibirnya bergerak-gerak, mula-mula hanya bisikan-bisikan lirih
yang tidak terdengar orang lain, kemudian makin keras bisikan-bisikannya itu,
”....kubunuh
kau.... ayahku atau bukan... kau yang menyebabkan ibuku sengsara... kau yang...
mendatangkan kutuk atas diriku... kubunuh kau... kubunuh kau..."
Jokowanengpati
takut bukan main. Ke manapun ia mundur, gadis itu terus mengikutinya sehingga
mereka berdua makin menjauhi pondok Kartikosari. Tiga orang wanita di depan
pondok itu mengikuti mereka berdua dengan pandang mata penuh kengerian.
Kartikosati mendekap mulut menahan jerit yang hendak keluar. Biarlah, bisik hatinya,
biarlah. Kini ia tidak meragu lagi. Sepatutnya gadis itu memang keturunan
Jokowanengpati. Keturunan Pujo tidak seperti itu! Biarlah, biarlah anak dan
ayah laknat itu saling bunuh!
"Endang
Patibroto... ingatlah,.. aku... ayahmu..." Jokowanegpati berkali-kali
memperingatkan dan mohon dikasihani.
"Ayahku
atau bukan, harus kubunuh engkau... kubunuh... kubunuh... "
Tiba-tiba
Jokowanengpati atau Ki Jatoko yang sudah ketakutan setengah mati itu meloncat
jauh untuk melarikan diri akan tetapi tubuhnya roboh terguling karena Endang
Patibroto sudah memukulnya dengan ilmu pukulan jarak jauh. Dan sebelum ia
sempat lari lagi, Endang Patibroto sudah meloncat di depannya. Saking takutnya,
Jokowanengpati menjadi nekat. Begitu gadis itu mendekat, ia menubruk dengan
pukulan keras ke arah pusar.
"Bagus,
kaulawanlah!" kata Endang Patibroto sambil miringkan tubuh mengelak,
kemudian kedua tangannya bagaikan dua ekor ular cepatnya menyambar dan sudah
mencekik leher Jokowanengpati.
"Endang...
auughhh...!" Jokowanengpati menggunakan kedua tangannya mencengkeram
tangan gadis itu, membetot-betot dan meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
Namun usahanya sia-sia. Kedua lengan gadis itu yang berkulit halus putih
seolah-olah telah berubah menjadi sepasang jepitan baja yang kokoh kuat. Mata
gadis itu masih melotot mengerikan, sama sekali tak pernah berkedip, dan
mulutnya yang agak terbuka mengeluarkan kata-kata lirih,
"Kubunuh...
kau... kubunuh kau... kubunuh kau...”
Makin takutlah
Jokowanengpati. Ia kini tahu betul bahwa maut telah membayang di depan matanya.
Kalau tadi ia mencengkeram kedua lengan Endang Patibroto berusaha melepaskan
cekikan, kini ia mengepal kedua tangannya dan menghantam sekenanya. Terdengar
suara bak-bik-buk ketika pukulan-pukulannya mengenai perut, lambung dan pangkal
lengan Endang Patibroto, namun agaknya sama sekali tidak terasa oleh gadis
perkasa itu. Jokowanengpati menjadi makin ngeri dan takut. Sudah ia kerahkan
tenaga untuk melawan dan untuk menahan cekikan, namun cekikan makin erat dan ia
sudah tak dapat bernapas lagi, matanya berkunang-kunang telinganya
terngiang-ngiang kepalanya berdenyut-denyut. Saking takutnya, kedua tangannya
kini tidak memukul-mukul lagi, melainkan menyembah-nyembah minta ampun. Matanya
yang melotot membayangkan rasa takut hebat dan mulutnya terbuka memperlihatkan
gigi yang besar-besar dan tidak karuan bentuknya, lidahnya mulai terjulur.
Mukanya menjadi merah sekali seperti kepiting direbus. Endang Patibroto seperti
orang mabuk. Tubuhnya bergoyang-goyang, matanya melotot, napasnya keluar dari
mulut, terengah-engah. Cekikannya makin diperkuat. Darah mulai menetes turun
dari kedua telinga, mata, hidung dan mulut Jokowanengpatil Muka yang merah itu
kini membiru, matanya melotot seperti hendak meloncat keluar dari tempatnya.
Lidahnya terjulur keluar seperti ditarik. Tubuhnya mengejang, kaki tangannya
berkelojotan. Terdengar suara mengorok di kerongkongan. Endang Patibroto makin
memperkuat cekikannya.
”Krokkk...”
Batang leher
itu patah! Tubuh Jokowanengpati atau Ki Jatoko tidak bergerak lagi. Endang
Patibroto melepaskan tangannya dan mendorong tubuh yang sudah tak bernyawa itu
ke samping. Kemudian perlahan-lahan pandang matanya bergerak, beralih dari
tubuh yang tak bernyawa itu, kini memandang ke depan, ke arah tiga orang wanita
yang berdiri di depan pondok.
Isak tangis
keluar dari kerongkongan Kartikosari yang mendekap mulutnya dengan tangan yang
menggigil. Ayu Candra berdiri dengan muka pucat saking seremnya. Juga Roro
Luhito pucat wajahnya, akan tetapi wanita ini merasa jijik. Pandang mata Endang
Patibroto kini seluruhnya ditujukan kepada Ayu Candra. Kemudian terdengar ia
berseru,
"Ayu
Candra, majulah! Kaupun harus mati di tanganku!"
Tiba-tiba,
seperti mendapat aba-aba, Kartikosari dan Roro Luhito maju ke depan, melindungi
Ayu Candra dengan sikap siap bertanding. Kartikosari berkata, suaranya tenang
namun mengandung kemarahan ditahan-tahan,
"Endang
Patibroto! Pergilah kau dari sini dan jangan memperlihatkan diri kepadaku lagi!
Agaknya engkau memang patut menjadi anak Jokowanengpati dan karena itu
aku....... benci kepadamu! Kau akan membunuh Ayu Candra? Boleh, akan tetapi
melalui mayat kami berdua!"
Endang
Patibroto mengeluarkan pekik dahsyat Sardulo Bairowo. Kemudian ia menjerit,
"Ibu, dia
itu musuh kita! Kau hendak melindunginya?" Pertanyaannya ini diajukan
penuh penasaran, penuh kekecewaan, penuh kedukaan.
"Kalau
mau bicara tentang musuh, agaknya engkaulah musuh kami!" jawab pula
Kartikosari dengan pandang mata penuh amarah.
Endang
Patibroto kembali memekik. Air matanya bercucuran keluar, tangannya menggigil,
siap menerjang.
"Ibu....!....Ibu
! Begitukah anggapanmu tentang....diriku??"
"Apa
boleh buat, engkau anak durhaka, engkau anak yang mengotori pesan kakangmas
Pujo. Engkau memang pantas menjadi anak Jokowanengpati, karena itu engkau patut
pula menjadi musuhku. Hayo, jangan kepalang melakukan kekejian. Aku ibumu, aku
yang melahirkanmu, hayo kaubunuhlah aku sekalian, kalau kau berani!"
"Ibu...!!"
Jerit ini bercampur isak.
"Hayo
pergilah, pergi jangan datang kembali atau....... kau maju dan serang aku,
bunuh aku!"
"Ibu.....!"
Pekik yang dikeluarkan Endang Patibroto menyayat hati.
"Ayu
Candra, kau pengecut! Hayo maju dan lawanlah aku, jangan kau berlindung di
belakang orang-orang tua!".
Pada saat itu,
terdengar lengking tinggi di sebelah belakang Endang Patibroto disusul suara
yang tenang namun tegar.
"Endang
Patibroto, mengapa engkau selalu haus darah? Kaulihat, Ayu Candra sebagai
puteri suami isteri yang telah kaubunuh, mau melihat kenyataan dan tidak
menaruh dendam, berdamai dengan ibu kandungmu. Akan tetapi engkau, mengapa
begini ganas Endang, kau insyaflah, mintalah ampun kepada bibi Kartikosari dan
mari kita semua hidup dalam suasana persaudaraan, melenyapkan segala dendam
dan"
"Joko
Wandiro, keparat! Kau sombong sekali! Kau kira aku takut kepadamu? Kau hendak
membela Ayu Candra mati-matian? Boleh, hayo kau majulah!" Setelah berkata
demikian, Endang Patibroto sudah meloncat bagaikan terbang menerjang Joko
Wandiro yang sudah muncul dan berdiri tak jauh di depannya.
"Endang.......!
Jangan.." Kartikosari berseru keras penuh kekhawatiran.
Pada saat itu,
udara menjadii gelap dan angin bertiup kencang dari arah utara. Daun-daun pohon
rontok tertiup angin dan terdengarlah suara angin rnnenggiriskan. Langit
mendadak menjadi gelap dan dari dalam mendung tebal tampak kilat
menyambar-nyambar.
"Badai.......!"
seru Roro Luhito terkejut.
"Badai
Laut Selatan mengamuk! Mari berlindung!"
Kartikosari
yang mengkhawatiran keadaan Endang Patibroto dan Joko Wandiro, tidak mau
meninggalkan tempat itu. Akan tetapi Roro Luhito yang maklum akan bahaya,
menarik lengan madunya itu.
"Ayu
Candra, bantu aku, mari ajak bibimu berlindung. Berbahaya. Badai Laut Selatan
mengamuk. Ganas... ganas...!!"
Selama tinggal
di pulau itu, pernah satu kali badai Laut Selatan mengamuk dan hampir saja
keduanya tewas. Kini Roro Luhito sudah berpengalaman, maka cepat ia menyeret
Kartikosari yang berteriak-teriak memanggil anaknya, dibantu oleh Ayu Candra
yang juga menangis, karena gadis ini teringat akan kakaknya. Akhirnya mereka
itu sambil berlari-lari setengah merangkak di antara tiupan angin yang amat
keras, berhasil tiba di gunungan batu di mana terdapat sebuah guha besar dan di
sinilah mereka berlindung.
Angin bertiup
amat kerasnya sehingga terdengar suaranya melengking bersiuran. Seluruh pohon
di pulau itu diamuk, daun-daun beterbangan, bahkan ada pohon yang tercabut
berikut akar-akarnya. Pondok kecil tempat tinggal Kartikosari dan Roro Luhito
sudah diterbangkan pula oleh angin, dibawa ke laut dan disambut ombak
menggelombang. Dari atas pulau tampak betapa ombak sebesar gunung
bergerak-gerak menuju kepantai selatan. Kepalanya putih, badannya panjang
seperti naga hitam berkepala putih. Kilat yang menyambar-nyambar seperti keluar
dari mulut naga. Angin datang membawa air hujan. Basah kuyup tubuh tiga orang
wanita itu. Pakaian mereka kusut, rambut awut-awutan. Kartikosari menangis
ketika Roro Luhito membereskan rambutnya dan menyusut! air yang membasahi
seluruh muka.
"Anakku..
dan Joko....... di mana ..mereka.. ehhh !"
"Tenanglah,
ayunda Sari. Mereka berdua bukan orang-orang lemah. Badai Laut Selatan takkan
mencelakai mereka. Hanya aku khawatir, Endang Patibroto, takkan mau sudah
sebelum menandingi Joko Wandiro.."
"Ahhh..bagaimana
baiknya? Anakku... dia durhaka...ah, ketika.. terlahir dulu juga disambut
badai... dia... ganas seperti badai selatan, dia kejam seperti gelombang Laut
Selatan. Bagaimana kalau Joko Wandiro..."
No comments:
Post a Comment