Badai Laut Selatan ; Bagian 158


"Huah-ha-ha-ha-hah! Di dunia ini mana ada perempuan yang mau mengakui penyelewengannya? Endang Patibroto, engkau bukan bocah lagi, engkau sudah dewasa dan sudah dapat mempertimbangkan. Katakanlah bahwa ibumu tidak mengaku sebagai kekasihku, akan tetapi betapapun juga, Roro Luhito sudah mengaku bahwa aku pernah memperkosa Kartikosari. Dan semenjak peristiwa itu Kartikosari tak pernah berdekatan dengan Pujo sampai engkau terlahir!" Ki Jatoko menyeringai penuh kemenangan dan menoleh kepada Kartikosari yang sudah mulai sadar.
"Kartikosari, hayo sangkal kalau kau mampu. Semenjak peristiwa malam di dalam guha, bukankah engkau meninggalkan Pujo dan melahirkan Endang Patibroto ini? Hayo jawablah! Engkau tidak mungkin dapat menyembunyikan kenyataan ini!"
Wajah Kartikosari pucat sekali. Terbayang dalam ingatannya semua pengalamannya dahulu. Dahulupun ia sudah seringkali meragu dan keraguan inilah yang merupakan siksaan batinnya sampat berbulan-bulan. Semenjak ia tahu bahwa ia mengandung, ia sudah meragu dan hendak membunuh diri karena ia tidak tahu pasti anak siapakah dalam kandungannya Itu. Bahkan setelah anak itu terlahir, pernah ia melemparkan anak itu ke laut. Kinipun ia menjadi ragu-ragu, tak dapat menjawab!”.
"Ibu, jawablah, ibu. Jawablah sejujurnya!" Terdengar suara Endang Patibroto mendesak.
Wajah Kartikosari seperti wajah mayat. Pandang matanya kosong dan bibirnya menggigil.
"Apa apa yang harus kujawab...? Betul semenjak itu aku....pergi meninggalkan kakangmas Pujo....akan tetapi kuanggap kau anak kakangmas Pujo. Kalau kuanggap dahulu bahwa engkau bukan anak kakangmas Pujo, tentu sudah kubunuh kau!" Setelah berkata demikian, tiba-tiba Kartikosari menangis tersedu-sedu dan Roro Luhito cepat merangkulnya dan membujuknya agar tidak melayani mereka itu.
Ayu Candra hanya mendengarkan dengan muka pucat dan mata terbelalak, penuh kasihan kepada Kartikosari dan penuh kebencian kepada Ki Jatoko. Diam-diam ia bergidik kalau ia teringat betapa pernah ia mempercaya manusia iblis dan menyerahkan nasib dirinya kepada Ki Jatoko!
Kembali terdengar Jokowanengpati tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
"Ha-ha-ha-ha! Anakku cah-ayu Endang Patibroto! Baru percayakah engkau sekarang, anakku? Engkau anakku, engkau darah dagingku, tak salah lagi! Bukankah banyak persamaan di antara kita? Bukankah cocok watak kita, sama-sama gagah perkasa, sama-sama cerdik penuh akal dan kalau saja mukaku tidak menjadi rusak begini, wajahmu sama benar dengan wajahku. Aku dahulu tampan, seorang ksatria yang elok, kau tanya saja ibumu. Ha-ha, kau tanya juga Roro Luhito ini, dia dahulu di waktu perawan telah diserahkan oleh ayahnya kepadaku untuk menjadi isteriku. Ha-ha, banyak wanita tergila-gila kepadaku. Kau boleh bangga mempunyai ayah seperti aku ini, Endang... heeee! Endang...! Mau.......mau apa kau...?" Tiba-tiba suara yang penuh kemenangan itu berubah penuh ketakutan.

Endang Patibroto kini berdiri memandang wajah si buntung yang mengaku ayahnya dan keadaan gadis ini benar-benar amat mengerikan. Sepasang matanya penuh kemarahan, penuh hawa nafsu membunuh, agaknya mata iblis seperti itulah. Mulutnya setengah tersenyum, wajahnya pucat sekali. Jokowanengpati mundur-mundur ketakutan. Sinar mata itu membisikkan maut, membuat ia bergidik ngeri.
"Endang...... Endang Patibroto... ingat, kau ...anakku... mau apa kau... ?"
Endang Patibroto melangkah maju, perlahan-lahan, mengikuti gerakan Jokowanengpati yang mundur-mundur. Bibirnya bergerak-gerak, mula-mula hanya bisikan-bisikan lirih yang tidak terdengar orang lain, kemudian makin keras bisikan-bisikannya itu,
”....kubunuh kau.... ayahku atau bukan... kau yang menyebabkan ibuku sengsara... kau yang... mendatangkan kutuk atas diriku... kubunuh kau... kubunuh kau..."
Jokowanengpati takut bukan main. Ke manapun ia mundur, gadis itu terus mengikutinya sehingga mereka berdua makin menjauhi pondok Kartikosari. Tiga orang wanita di depan pondok itu mengikuti mereka berdua dengan pandang mata penuh kengerian. Kartikosati mendekap mulut menahan jerit yang hendak keluar. Biarlah, bisik hatinya, biarlah. Kini ia tidak meragu lagi. Sepatutnya gadis itu memang keturunan Jokowanengpati. Keturunan Pujo tidak seperti itu! Biarlah, biarlah anak dan ayah laknat itu saling bunuh!
"Endang Patibroto... ingatlah,.. aku... ayahmu..." Jokowanegpati berkali-kali memperingatkan dan mohon dikasihani.
"Ayahku atau bukan, harus kubunuh engkau... kubunuh... kubunuh... "
Tiba-tiba Jokowanengpati atau Ki Jatoko yang sudah ketakutan setengah mati itu meloncat jauh untuk melarikan diri akan tetapi tubuhnya roboh terguling karena Endang Patibroto sudah memukulnya dengan ilmu pukulan jarak jauh. Dan sebelum ia sempat lari lagi, Endang Patibroto sudah meloncat di depannya. Saking takutnya, Jokowanengpati menjadi nekat. Begitu gadis itu mendekat, ia menubruk dengan pukulan keras ke arah pusar.
"Bagus, kaulawanlah!" kata Endang Patibroto sambil miringkan tubuh mengelak, kemudian kedua tangannya bagaikan dua ekor ular cepatnya menyambar dan sudah mencekik leher Jokowanengpati.
"Endang... auughhh...!" Jokowanengpati menggunakan kedua tangannya mencengkeram tangan gadis itu, membetot-betot dan meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Namun usahanya sia-sia. Kedua lengan gadis itu yang berkulit halus putih seolah-olah telah berubah menjadi sepasang jepitan baja yang kokoh kuat. Mata gadis itu masih melotot mengerikan, sama sekali tak pernah berkedip, dan mulutnya yang agak terbuka mengeluarkan kata-kata lirih,
"Kubunuh... kau... kubunuh kau... kubunuh kau...”

Makin takutlah Jokowanengpati. Ia kini tahu betul bahwa maut telah membayang di depan matanya. Kalau tadi ia mencengkeram kedua lengan Endang Patibroto berusaha melepaskan cekikan, kini ia mengepal kedua tangannya dan menghantam sekenanya. Terdengar suara bak-bik-buk ketika pukulan-pukulannya mengenai perut, lambung dan pangkal lengan Endang Patibroto, namun agaknya sama sekali tidak terasa oleh gadis perkasa itu. Jokowanengpati menjadi makin ngeri dan takut. Sudah ia kerahkan tenaga untuk melawan dan untuk menahan cekikan, namun cekikan makin erat dan ia sudah tak dapat bernapas lagi, matanya berkunang-kunang telinganya terngiang-ngiang kepalanya berdenyut-denyut. Saking takutnya, kedua tangannya kini tidak memukul-mukul lagi, melainkan menyembah-nyembah minta ampun. Matanya yang melotot membayangkan rasa takut hebat dan mulutnya terbuka memperlihatkan gigi yang besar-besar dan tidak karuan bentuknya, lidahnya mulai terjulur. Mukanya menjadi merah sekali seperti kepiting direbus. Endang Patibroto seperti orang mabuk. Tubuhnya bergoyang-goyang, matanya melotot, napasnya keluar dari mulut, terengah-engah. Cekikannya makin diperkuat. Darah mulai menetes turun dari kedua telinga, mata, hidung dan mulut Jokowanengpatil Muka yang merah itu kini membiru, matanya melotot seperti hendak meloncat keluar dari tempatnya. Lidahnya terjulur keluar seperti ditarik. Tubuhnya mengejang, kaki tangannya berkelojotan. Terdengar suara mengorok di kerongkongan. Endang Patibroto makin memperkuat cekikannya.
”Krokkk...”
Batang leher itu patah! Tubuh Jokowanengpati atau Ki Jatoko tidak bergerak lagi. Endang Patibroto melepaskan tangannya dan mendorong tubuh yang sudah tak bernyawa itu ke samping. Kemudian perlahan-lahan pandang matanya bergerak, beralih dari tubuh yang tak bernyawa itu, kini memandang ke depan, ke arah tiga orang wanita yang berdiri di depan pondok.
Isak tangis keluar dari kerongkongan Kartikosari yang mendekap mulutnya dengan tangan yang menggigil. Ayu Candra berdiri dengan muka pucat saking seremnya. Juga Roro Luhito pucat wajahnya, akan tetapi wanita ini merasa jijik. Pandang mata Endang Patibroto kini seluruhnya ditujukan kepada Ayu Candra. Kemudian terdengar ia berseru,
"Ayu Candra, majulah! Kaupun harus mati di tanganku!"
Tiba-tiba, seperti mendapat aba-aba, Kartikosari dan Roro Luhito maju ke depan, melindungi Ayu Candra dengan sikap siap bertanding. Kartikosari berkata, suaranya tenang namun mengandung kemarahan ditahan-tahan,
"Endang Patibroto! Pergilah kau dari sini dan jangan memperlihatkan diri kepadaku lagi! Agaknya engkau memang patut menjadi anak Jokowanengpati dan karena itu aku....... benci kepadamu! Kau akan membunuh Ayu Candra? Boleh, akan tetapi melalui mayat kami berdua!"
Endang Patibroto mengeluarkan pekik dahsyat Sardulo Bairowo. Kemudian ia menjerit,
"Ibu, dia itu musuh kita! Kau hendak melindunginya?" Pertanyaannya ini diajukan penuh penasaran, penuh kekecewaan, penuh kedukaan.
"Kalau mau bicara tentang musuh, agaknya engkaulah musuh kami!" jawab pula Kartikosari dengan pandang mata penuh amarah.
Endang Patibroto kembali memekik. Air matanya bercucuran keluar, tangannya menggigil, siap menerjang.
"Ibu....!....Ibu ! Begitukah anggapanmu tentang....diriku??"
"Apa boleh buat, engkau anak durhaka, engkau anak yang mengotori pesan kakangmas Pujo. Engkau memang pantas menjadi anak Jokowanengpati, karena itu engkau patut pula menjadi musuhku. Hayo, jangan kepalang melakukan kekejian. Aku ibumu, aku yang melahirkanmu, hayo kaubunuhlah aku sekalian, kalau kau berani!"
"Ibu...!!" Jerit ini bercampur isak.
"Hayo pergilah, pergi jangan datang kembali atau....... kau maju dan serang aku, bunuh aku!"
"Ibu.....!" Pekik yang dikeluarkan Endang Patibroto menyayat hati.
"Ayu Candra, kau pengecut! Hayo maju dan lawanlah aku, jangan kau berlindung di belakang orang-orang tua!".

Pada saat itu, terdengar lengking tinggi di sebelah belakang Endang Patibroto disusul suara yang tenang namun tegar.
"Endang Patibroto, mengapa engkau selalu haus darah? Kaulihat, Ayu Candra sebagai puteri suami isteri yang telah kaubunuh, mau melihat kenyataan dan tidak menaruh dendam, berdamai dengan ibu kandungmu. Akan tetapi engkau, mengapa begini ganas Endang, kau insyaflah, mintalah ampun kepada bibi Kartikosari dan mari kita semua hidup dalam suasana persaudaraan, melenyapkan segala dendam dan"
"Joko Wandiro, keparat! Kau sombong sekali! Kau kira aku takut kepadamu? Kau hendak membela Ayu Candra mati-matian? Boleh, hayo kau majulah!" Setelah berkata demikian, Endang Patibroto sudah meloncat bagaikan terbang menerjang Joko Wandiro yang sudah muncul dan berdiri tak jauh di depannya.
"Endang.......! Jangan.." Kartikosari berseru keras penuh kekhawatiran.
Pada saat itu, udara menjadii gelap dan angin bertiup kencang dari arah utara. Daun-daun pohon rontok tertiup angin dan terdengarlah suara angin rnnenggiriskan. Langit mendadak menjadi gelap dan dari dalam mendung tebal tampak kilat menyambar-nyambar.
"Badai.......!" seru Roro Luhito terkejut.
"Badai Laut Selatan mengamuk! Mari berlindung!"
Kartikosari yang mengkhawatiran keadaan Endang Patibroto dan Joko Wandiro, tidak mau meninggalkan tempat itu. Akan tetapi Roro Luhito yang maklum akan bahaya, menarik lengan madunya itu.
"Ayu Candra, bantu aku, mari ajak bibimu berlindung. Berbahaya. Badai Laut Selatan mengamuk. Ganas... ganas...!!"
Selama tinggal di pulau itu, pernah satu kali badai Laut Selatan mengamuk dan hampir saja keduanya tewas. Kini Roro Luhito sudah berpengalaman, maka cepat ia menyeret Kartikosari yang berteriak-teriak memanggil anaknya, dibantu oleh Ayu Candra yang juga menangis, karena gadis ini teringat akan kakaknya. Akhirnya mereka itu sambil berlari-lari setengah merangkak di antara tiupan angin yang amat keras, berhasil tiba di gunungan batu di mana terdapat sebuah guha besar dan di sinilah mereka berlindung.

Angin bertiup amat kerasnya sehingga terdengar suaranya melengking bersiuran. Seluruh pohon di pulau itu diamuk, daun-daun beterbangan, bahkan ada pohon yang tercabut berikut akar-akarnya. Pondok kecil tempat tinggal Kartikosari dan Roro Luhito sudah diterbangkan pula oleh angin, dibawa ke laut dan disambut ombak menggelombang. Dari atas pulau tampak betapa ombak sebesar gunung bergerak-gerak menuju kepantai selatan. Kepalanya putih, badannya panjang seperti naga hitam berkepala putih. Kilat yang menyambar-nyambar seperti keluar dari mulut naga. Angin datang membawa air hujan. Basah kuyup tubuh tiga orang wanita itu. Pakaian mereka kusut, rambut awut-awutan. Kartikosari menangis ketika Roro Luhito membereskan rambutnya dan menyusut! air yang membasahi seluruh muka.
"Anakku.. dan Joko....... di mana ..mereka.. ehhh !"
"Tenanglah, ayunda Sari. Mereka berdua bukan orang-orang lemah. Badai Laut Selatan takkan mencelakai mereka. Hanya aku khawatir, Endang Patibroto, takkan mau sudah sebelum menandingi Joko Wandiro.."
"Ahhh..bagaimana baiknya? Anakku... dia durhaka...ah, ketika.. terlahir dulu juga disambut badai... dia... ganas seperti badai selatan, dia kejam seperti gelombang Laut Selatan. Bagaimana kalau Joko Wandiro..."

<<< Bagian 157                                                                                      Bagian 159 >>>

No comments:

Post a Comment