"Kakang Joko Wandiro akan mampu melindungi diri sendiri," tiba-tiba terdengar suara Ayu Candra.
Wajah gadis
ini pucat, napasnya memburu, namun pandang matanya penuh kepercayaan. Tiga
orang itu lalu diam, seperti berdoa, terlalu tegang mereka untuk membuka mulut
lagi. Mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing, atau tertelan oleh suara
angina yang memanjang mengerikan. Badai Laut Selatan kembali mengamuk,
memperlihatkan keganasan dan kekuatannya.
Apa yang
terjadi pada saat itu di atas pulau, di dalam badai mengganas, benar amat hebat
mengagumkan. Dua orang muda itu agaknya tidak merasa bahwa badai mengamuk
hebat. Begitu Endang Patibroto menerjangnya dengan keris pusaka Brojol Luwuk di
tangan, Joko Wandiro maklum bahwa ia harus menghadapi gadis ini mati-matian.
Dari keris pusaka itu menyambar hawa panas yang membuat ia silau dan merasa
kaki tangannya lumpuh. Ia mengeraskan hati dan mengerahkan semua aji
kesaktiannya, namun tetap saja ia gemetar dan ketika mengelak, ia merasa betapa
gerakannya berkurang kegesitannya. Maklumlah ia bahwa keris pusaka itu
benar-benar amat ampuh dan mempunyai daya kekuatan yang jauh melampaui kekuatan
dan hawa saktinya sendiri.
Endang
Patibroto seperti sudah gila, atau seperti kesurupan hawa badai yang mengamuk.
Ia memekik-mekik dan menyambar-nyambar dengan kerisnya. Suara badai mengamuk
memasuki telinganya semerdu suara gamelan yang mendorongnya untuk bergerak
makin ganas lagi. Angin yang melengking-lengking meniup pergi suara yang keluar
dari mulut Endang Patibroto. Bagaikan mimpi gadis ini berteriak-teriak,
memekik-mekik,
”Joko Wandiro!
Kau menolak perjodohan denganku dan mencinta gadis lain? Baiklah, memang kau
harus mati di tanganku!" teriaknya berkali-kali, akan tetapi suara badai
yang hiruk-pikuk disertai lengking angin yang memanjang menulikan telinga,
membuat suara gadis ini tidak terdengar oleh Joko Wandiro. Pula, pemuda ini
memang sibuk sekali menghindarkan serangan-serangan Endang Patibroto yang amat
berbahaya. Karena sudah tidak ada jalan keluar lagi, Joka Wandiro mengelak
sambil balas memukul, menggerakkan tangan dengan Aji Bojro Dahono.
"Weerrr...!!"
Pukulan Joko Wandiro dahsyat sekali dan biasanya pukulannya ini tidak ada yang
kuat menahannya. Akan tetapi, ketika pukulan itu meluncur ke arah Endang
Patibroto, secara tiba-tiba pukulan itu terpental mundur oleh hawa yang panas,
yang menyerbu keluar dari keris pusaka Brojol Luwuk! Dan pada saat itu, keris
pusaka bagaikan naga sudah menyambar datang menusuk ke arah dadanya. Silau mata
Joko Wandiro oleh sinar yang menyambar keluar dari ujung keris pusaka itu.
"Celaka
....... !" serunya dan cepat ia membuang diri ke kiri. Ia berhasil lolos
dari cengkeraman maut, akan tetapi tak dapat menghindarkan diri ketika kaki
kanan Endang Patibroto menyambar, mencium lambungnya dan tubuh Joko Wandiro
roboh tersungkur.
"Matilah
kau, Joko Wandiro!"
Ketika itu
tubuh Joko Wandiro sudah rebah miring dan keris pusaka Brojol Luwuk menghujam
ke bawah mengarah dada. Tampak kilat menyambar dari angkasa, disusul bunyi
meledak dan menggeletar. Halilintar menyambar-nyambar dan pada saat itu tampak
pula sinar kuning emas menyilaukan mata, sinar yang menyambut datangnya keris
pusaka Brojol Luwuk.
"Cringgg
...!!" Bunga api berpijar dan hawa di sekitar tempat itu seperti terbakar.
"Aihhhh
....... !!!" Endang Patibroto menjerit dan tubuhnya mencelat ke belakang.
Ia memandang dengan mata terbelalak, marah, penasaran dan juga kaget melihat
betapa pusakanya kali ini dapat tertangkis sehingga tubuhnya seperti
dilontarkan. Ketika ia sudah dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan
memandang, ternyata Joko Wandiro sudah berdiri dan tangan kanannya memegang
sebuah patung kencana Sri Bhatara Whisnu! Golek kencana yang dulu menjadi bahan
ejekannya, atau warangka dari keris pusaka Brojol Luwuk! Kiranya benda itulah
yang telah dipergunakan pemuda itu untuk menangkis kerisnya. Dan ternyata dari
patung kencana itu keluar hawa yang adem dan mempunyai pengaruh yang
menggiriskan!
Namun
kenyataan ini bukan meredakan amarahnya, bahkan membuat gadis ini menjadi
penasaran sekali. Sambil memekik nyaring ia lalu meloncat maju dan menerjang
lagi dengan kecepatan dan kekuatan dahsyat. Joko Wandiro juga sudah timbul
kemarahannya. Berkali-kali ia hampir tewas di tangan gadis yang amat ganas ini.
Dengan hati-hati ia melayani Endang Patibroto. Hatinya kini besar dan tenang
karena tanpa disengaja ia mendapatkan senjata yang ampuh, yang dapat menandingi
keris pusaka Brojol Luwuk. Tadi ia telah berhasil menemukan patung kencana Sri
Bhatara Whisnu di dalam cabang pohon dan mengambilnya. Ketika ia kembali ke
pondok, ternyata Endang Patibroto telah membunuh Ki Jatoko dan sedang mengancam
hendak membunuh Ayu Candra. Tadi ia teiah terdesak hebat dan hampir tewas.
Dalam keadaan kepepet ia tadi secara kebetulan menggunakan patung kencana untuk
menangkis keris pusaka dan hasilnya menakjubkan. Kini hatinya besar dan tahulah
ia bahwa keris pusaka itu kehilangan pengaruhnya menghadapi warangkanya.
Hebat bukan
main pertandingan kali ini antara Endang Patibroto dan Joko Wandiro. Pemuda itu
maklum dari gerak-gerik gadis itu bahwa sekali ini Endang Patibroto hendak
mengadu nyawa, bertanding mati-matian. Joko Wandiro betapapun juga tak seujung
rambut mempunyai niat untuk membunuh Endang Patibroto, dan ia masih khawatir
kalau-kalau gadis sakti yang ganas ini masih akan mengalihkan perhatian untuk
mencoba menyerang Ayu Candra. Oleh karena itu, setelah kini ia dapat
mengimbangi gerakan lawan dengan patung kencana di tangan, Joko Wandiro main
mundur dan memancing Endang Patibroto bertanding makin menjauhi pondok itu.
Dalam keadaan marah yang hebat, juga dalam tiupan angin badai yang menggelora,
Endang Patibroto tidak sadar akan hal ini dan tahu-tahu ia bersama lawannya
telah bertanding di pinggir pantai. Ombak air Laut Selatan mengamuk naik ke
pulau dan di antara sambaran lidah-lidah ombak inilah mereka kini bertanding.
Gerakan mereka amat hebat, berloncatan dari karang ke karang, saling sambar di
antara kilatan halilintar. Tubuh mereka sudah basah kuyup, namun semangat
bertanding makin menggelora. Untuk kesekian kalinya Endang Patibroto memekik
dengan Aji Sardulo Bairowo dan tubuhnya melayang ke atas udara, kemudian dengan
ganasnya ia meluncur turun sambil menggerakkan keris pusaka Brojol Luwuk
menyerang dada sedangkan tangan kiri melancarkan serangan pukulan jarak jauh
dengan Aji Wisangnala yang amat ampuh! Namun Joko Wandiro sudah bersiap sedia
menanti datangnya serangan. Kedua kakinya memasang kuda-Kuda kokoh kuat. Dalam
keadaan seperti itu, biarpun diserang ombak besar membadai, ia tidak akan
roboh. Kaki kiri di belakang, kaki kanan di depan, kedua telapak kaki
seakan-akan sudah berakar pada batu karang yang dipijaknya. Tangan kiri dengan
jari-jari terbuka menjaga di depan dada, kemudian ketika ia melihat datangnya
keris pusaka, tangan kanan yang memegang patung kencana digerakkan ke atas,
menangkis, sedangkan tangan kiri dengan Aji Bojro Dahono mendorong ke depan
menerima pukulan Wisangnala.
"Tranggg..!
Dessss ...."
Tubuh Endang
Patibroto terhuyung-huyung dan pada saat itu, lidah ombak yang besar panjang
datang menyambar dan menyeret tubuhnya ke laut! Akan tetapi, gadis perkasa ini
mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas dari dalam
air, kemudian dengan gerakan kacau-balau dan dahsyat bagaikan badai Laut Selatan
sendiri, ia sudah menerjang lagi ke arah berdirinya Joko Wandiro! Bertubi-tubi
keris pusakanya menyerang dan bertubi-tubi pula kena ditangkis oleh Joko
Wandiro. Namun sekali lagi Joko Wandiro kena diakali karena secara tiba-tiba
kaki kiri Endang Patibroto berhasil menendang lututnya sehingga Joko Wandiro
terpeleset dan terguling. Kali ini dialah yang digulung ombak. Untung bahwa
ombak itu cukup besar sehingga menutup dan menenggelamkan tubuh Joko Wandiro,
karena pada saat itu Endang Patibroto sudah terjun pula ke dalam air untuk
mengirim tusukan maut. Karena besarnya ombak, tubuh Joko Wandiro lenyap dan hal
ini menolongnya. Ketika ombak sudah pergi, mereka berdiri berhadapan di atas
pasir dan ternyata jarak di antara mereka amat dekat.
"Singgg...."
Keris pusaka
Brojol Luwuk menyambar ke depan. Hawanya yang panas membuat tubuh Joko Wandiro
setengah lumpuh rasanya. Namun pemuda ini dapat menggerakkan patung kencana
menangkis. Karena kedudukannya agak miring, maka kini ia menangkis dari samping
dan kaki patung yang meluncur di depan.
"Siuuuttt.......
cappp.......!!"
Entah
bagaimana kedua orang muda itu sendiri tidak tahu. Bagaikan besi yang tersedot
besi sembrani, keris pusaka dan patung kencana itu saling tarik-menarik dan
tanpa dapat dicegah lagi, keris pusaka itu menancap ke dalam lubang di bagian
bawah patung, masuk ke dalam warangka dan tak dapat dicabut kembali! Joko
Wandiro melihat kesempatan baik ini, mengerahkan tenaga di tangan kanan,
merenggut patung dan tangan kirinya menampar dengan Aji Pethit Nogo.
"Plakk..!
Aduhhh..!!"
Tubuh Endang
Patibroto terjengkang dan kebetulan pada saat itu, ombak badai sudah datang
lagi sehingga tubuhnya diterima ombak dan dilontarkan sampai jauh! Joko Wandiro
cepat meloncat ke atas batu karang dan cepat-cepat ia meloncat lagi menjauhi
jangkauan ombak. Hanya sebentar tubuh Endang Patibroto ditelan ombak. Agaknya,
ombak badai Laut Selatan masih belum cukup kuat untuk menelan dan melenyapkan
tubuh gadis perkasa yang semenjak lahir sudah berada di antara ombak dan badai
ini. Segera ia sudah tampak berloncat-loncatan mengejar Joko Wandiro, rambutnya
riap-riapan membasah, pakaiannyapun basah kuyup sehingga menempel pada
tubuhnya, menempel ketat mencetak bentuk tubuh yang menggairahkan? Sepasang
matanya bersinar-sinar marah mulutnya berteriak-teriak di antara gemuruh badai,
"Joko
Wandiro! Kembalikan pusakaku! Keparat, kembalikan.....!!!"
Bagaikan
seorang mabuk ia menerjang lagi, dengan kedua tangan terbuka jarinya,
mencengkeram dan menonjok. Namun dengan mudah Joko Wandiro mengelak dan sekali
kakinya menyabet, gadis itu jatuh terduduk.
"Keparat!
Pengecut, kembalikan pusakaku!"
"Endang,
ingatlah. Pusaka ini bukan milikmu, bukan pula milikku. Lupakah kau bahwa
pusaka itu oleh mendiang eyang Resi Bhargowo dititipkan kepada kita untuk
disembunyikan dan disimpan agar tidak terjatuh ke tangan orang jahat? Kita tiba
saatnya aku mengumpulkan dua pusaka itu dan mengembalikan kepada yang berhak,
Endang."
"Kembalikan
padaku...! Ahh, kembalikan...!" Kini gadis itu sudah menyergap lagi, tangan
kirinya meraih ke arah patung kencana, tangan kanannya memukul dada.
Namun sekarang
hati Joko Wandiro sudah lega dan besar. Dengan pusaka di tangan, kesaktiannya
makin hebat. Ia membiarkan saja pukulan tangan gadis itu mengenai dadanya.
"Bukk!"
Tubuhnya tak bergeming dan sekali dorong, kembali Endang Patibroto terjengkang
di atas tanah sampai rambut dan pakaiannya kotor semua terkena tanah.
"Endang,
ingatlah. Pusaka ini miliki kerajaan, hendak kukembalikan ke Panjalu. Dahulu
guruku berpesan bahwa lenyapnya pusaka menimbulkan geger dan kekacauan, hanya
kalau pusaka sudah kembali ke tempatnya, maka negara akan menjadi tata tenteram
kerta raharja. Engkau bertobatlah, Endang, kembalilah kepada ibumu. Dia
menunggu. Kembalilah dan bebaskan dirimu daripada pengaruh buruk, jangan
membiarkan dirimu diperhamba hawa nafsumu sendiri, Endang, kau ingatlah!"
Namun bujukan
Joko Wandiro tak pernah didengarkan oleh Endang Patibroto. Beberapa kali ia
masih menerjang dengan nekat dan ganas sehingga akhirnya Joko Wandiro terpaksa
menampar kepalanya dengan Aji Pethit Nogo sehingga Endang Patibroto terbanting
dan roboh pingsan. Badai mulai mengendur dan mereda. Joko Wandiro masih berdiri
tegak dengan kedua kaki terpentang lebar memandang tubuh Endang Patibroto.
Dalam keadaan pingsan, gadis ini kelihatan cantik jelita, luar biasa sekali
kecantikan gadis ini setelah sifat-sifat keji dan ganas lenyap dari permukaan
wajahnya. Joko Wandiro menarik napas berkali-kali, kemudian ia membungkuk dan
mengempit tubuh Endang Patibroto dan larilah ia dengan ilmu lari cepat menuju
ke pondok.
Setelah badai
mereda, Kartikosari, Roro Luhito, dan Ayu Candra sudah kembali ke pondok, atau
lebih tepat, ke bekas pondok karena pondok itu sendiri hanya tinggal beberapa
buah tiang dan lantainya saja. Bilik dan atapnya sudah lenyap dibawa badai!
"Maafkan
saya, bibi. Untuk mengakhiri pertandingan yang tak kunjung henti karena
kenekatan Endang, terpaksa saya memukulnya pingsan. Saya menyerahkannya
kepadamu, bibi. Semoga bibi dapat menyadarkannya daripada jalan sesat. Pusaka
Mataram saya bawa untuk saya kembalikan ke Panjalu, dan lebih baik saya segera
pergi bersama Ayu Candra sebelum dia sadar untuk mencegah hal-hal yang tidak
menyenangkan."
Kartikosari
hanya dapat menggangguk, tak kuasa mengeluarkan kata-kata saking terharu
hatinya. Ia memangku anaknya yang pingsan sambil bercucuran air mata. Roro
Luhito memandang keponakannya dengan bangga ketika berkata,
"Joko
Wandiro, kau pergilah dan laksanakan kewajibanmu dengan baik. Kami hanya dapat
memberi bekal doa restu semoga ke manapun juga kau akan selalu bersikap sebagai
seorang satria utama dan akan selalu mendapat perlindungan Hyang Maha Wisesa,
anakku."
No comments:
Post a Comment