Joko Wandiro menggandeng tangan Ayu Candra lalu mengundurkan diri, pergi mencari perahunya. Untung ia mengikat perahunya kuat-kuat pada pohon di pantai, kalau tidak tentu perahunya akan lenyap tertiup badai.
Kali ini ketika
Joko Wandiro mohon menghadap sang prabu di Panjalu, bergegas para penjaga
mempersilahkannya menanti dan cepat-cepat orang melaporkan permohonannya kepada
sang prabu. Semua orang telah mengenal pemuda sakti ini. Diam-diam Joko Wandiro
melihat kenyataan akan bukti watak manusia yang serba palsu ini. Dahulu, ketika
pertama kali menghadap, ia dihina dan dipandang rendah, tidak dilayani
sebagaimana mestinya. Sekarang, setelah mereka tahu bahwa dia memiliki
kedigdayaan, mereka bersikap berlebih-lebihan. Adakah manusia di dunia ini yang
bersikap sewajarnya, tidak membeda-bedakan antara manusia, tidak memandang
kekayaan, kedudukan, dan kepandaian? Mungkin sekali ada akan tetapi.......ah,
alangkah sukarnya mendapatkan manusia seperti itu! Pada waktu itu, sang prabu
di Panjalu sedang dihadap para hulubalang, menteri, dan penasehat, merundingkan
tentang peristiwa pemberontakan Nusabarung terhadap Kerajaan Jenggala. Biarpun
sejak menjadi pangeran dahulu, sang prabu di Jenggala selalu memperlihatkan
sikap bermusuh terhadap sang prabu di Panjalu, akan tetapi permusuhan itu
merupakan pertikaian keluarga, merupakan urusan dalam. Kini begitu mendengar
bahwa Kerajaan Jenggala dimusuhi oleh Nusabarung yang memberontak, sang prabu
di Panjalu ikut menjadi marah! Betapapun juga, Kerajaan Jenggala merupakan
sebagian daripada wilayah kerajaan mendiang Sang Prabu Airlangga, ayah mereka
berdua. Dan betapapun juga, sang prabu di Jenggala adalah adik sendiri, adik
tiri, serama berlainan ibu. Karena mendengar betapa kuatnya pemberontak
Nusabarung yang dibantu oleh adipati-adipati di sebelah timur, sang prabu di
Panjalu sudah mengutus pasukan untuk membantu Jenggala secara diam-diam dan
menggempur Nusabarung. Ketika pasukan pertama ini yang tidak begitu besar
menderita kerugian dan terpukul oleh Nusabarung, sang prabu telah mengirim
pasukan yang lebih besar lagi!
Pada saat sang
prabu merundingkan urusan ini bersama para hulubalangnya, penjaga datang
menghadap melaporkan kedatangan Joko Wandiro bersama adiknya yang bernama Ayu
Candra mohon menghadap sang prabu. Mendengar disebutkan nama Joko Wandiro ini,
seketika berseri wajah sang prabu. Juga para hulubalang dan Ki Patih Suroyudo
berubah wajahnya. Tentu saja mereka semua teringat akan pemuda yang dahulu
pernah mengusir Ni Durgogini dan Ni Nogogini itu. Bahkan ketika sang prabu
mendengar tentang sepak terjang pemuda itu, sang prabu lalu mengutus para
senopati untuk pergi menyelidik, siapakah sesungguhnya pemuda perkasa yang
tadinya mereka pandang rendah itu. Ketika akhirnya mendengar bahwa Joko Wandiro
yang semula mereka sangka seorang anak dusun yang ingin mencari kedudukan di
kerajaan itu ternyata adalah murid Ki Patih Narotama, sang prabu dan semua
senopati menjadi terkejut dan menyesal bukan main mengapa mereka kurang menaruh
perhatian dan penghargaan kepada pemuda itu. Apalagi ketika Ki Darmobroto dan
juga puteranya, Joko Seto, datang ke kota raja dan menceritakan keadaan Joko
Wandiro, sang prabu merasa makin menyesal. Kini secara tiba-tiba pemuda itu
datang hendak menghadap. Hati siapa tidak menjadi kaget dan girang?
"Lekas
persilahkan dia masuk dan menghadap padaku!" teriak sang prabu dengan
wajah riang.
Sepasang mata
sang prabu masih bersinar-sinar terang dan semua mata para hulubalang yang
hadir ditujukan kepada Joko Wandiro ketika pemuda ini dengan sikap hormat
sekali memasuki ruangan diikuti oleh Ayu Candra. Gadis itu saking kagum
menyaksikan ruangan keraton, masuk sambil memandang ke kanan kiri, kemudian
ketika ia melihat sang prabu yang duduk penuh wibawa ia menjadi takut dan menundukkan
muka, berjalan perlahan memegangi lengan kakaknya.
"Hemm,
bagus sekali, Joko Wandiro. Kedatanganmu menghadap kami benar-benar
mendatangkan rasa syukur dan gembira di hati kami. Sayang bahwa dahulu ketika
engkau datang menghadap, kami belum tahu siapa engkau dan tidak dapat
bercakap-cakap sebagaimana mestinya," demikian sang prabu menyambut ketika
pemuda itu sudah menghaturkan sembah, adapun Ayu Candra menyembah tanpa dapat
mengeluarkan kata saking tertegun dan gentar di hati.
"Joko
Wandiro, setelah diri kami mengetahui bahwa engkau adalah murid tersayang
mendiang paman Patih Narotama, kami harap kau suka membantu kami di sini
mengatur pemerintahan dan memperkuat barisan Panjalu. Kami yakin andaikata
paman Patih Narotama masih hidup, tentu akan menganjurkan engkau untuk mengabdi
kepada Panjalu."
"Semua
sabda paduka gusti benar dan tepat. Memang sesungguhnya dahulu bapa guru
meninggalkan pesan agar hamba bersuwita (menghambakan diri) kepada Kerajaan
Panjalu. Akan tetapi ketika hamba untuk pertama kali menghadap paduka, sengaja
hamba tidak menyebut nama bapa guru oleh karena hamba sungguh merasa malu untuk
mencari kedudukan mengandalkan nama besar guru. Menurut pendapat hamba yang
picik, pahala harus diperoleh dengan jasa sendiri, barulah berharga. Pada waktu
itu, hamba sama sekali belum melakukan sesuatu untuk paduka, sama sekali belum
berjasa. Kalau dahulu paduka memberi kedudukan kepada hamba mengingat akan
jasa-jasa bapa guru, bukankah hal itu amat mengecewakan dan bukan sepantasnya
diterima oleh seorang satria? Harap paduka sudi mengampuni hamba, jika
sekiranya pendapat hamba itu keliru."
Sang prabu
tertawa bergelak sambil mengelus dagu yang tak berjenggot. Pandang matanya
makin berseri-seri dan diangkatnyalah wajahnya memandang para senopati dan hulubalang
yang hadir. Suaranya lantang ketika sang prabu berkata,
"Heh para
senopati dan hulubalang, kalian sudah mendengar ucapan seorang satria.
Camkanlah baik-baik ucapan itu karena di dalam kata-katanya aku seperti
mendengar suara mendiang paman Patih Narotama yang kalian semua sudah
mengetahui sebagai seorang yang arif bijaksana dan sakti mandraguna. Inilah
Joko Wandiro muridnya yang memiliki pandangan serta pendirian yang sama dengan
mendiang paman Patih Narotama. Rendah hati, tidak gila kedudukan, setia, dan
jujur." Kemudian sri baginda menoleh kepada Joko Wandiro, bertanya,
"Aku
girang mendengar pendapatmu itu, Joko Wandiro. Sekarang kau datang menghadap,
aku tidak mengharapkan jasamu, hanya aku percaya penuh akan kesanggupanmu.
Biarpun kau tidak mengutarakannya kepadaku, aku sudah mendengar betapa engkau
mengusir dua orang wanita iblis dari Panjalu, bahkan aku mendengar pula akan
sepak terjangmu menolong nini Mayagaluh keponakanku dari Jenggala, mendengar
pula tentang bantuan-bantuanmu kepada Kerajaan Jenggala. Setelah kau datang
menghadap, aku harapkan engkau, suka membantuku dan menerima kedudukan yang
akan kuberikan kepadamu. Aku sudah tahu bahwa engkau adalah putera Raden
Wisangjiwo dari Selopenangkep, kau cucu bekas Adipati Selopenangkep. Ayahmupun
tewas dalam perang membelaku sehingga jasa ayahmu saja sudah cukup bagiku untuk
memberi imbangan jasa kepada puteranya."
Joko Wandiro
menyembah
"Sebelumnya
hamba menghaturkan terima kasih atas kurnia paduka kepada hamba. Sesungguhnya,
kedatangan hamba menghadap ke depan kaki paduka adalah untuk menyerahkan
kembali pusaka Mataram yang lenyap sejak belasan tahun yang lalu."
Saking
kagetnya, sang prabu sampai bangkit dari tempat duduknya. Bahkan. Ki Patih
Suroyuda dan para senopati sepuh menjadi pucat wajahnya.
"Pusaka...
pusaka Mataram...?"
Sang prabu
bertanya, suaranya gemetar karena tegangnya. Pusaka ini sudah dianggap lenyap
dan hal itu membuat semua keluarga menjadi berduka dan gelisah. Kini secara
tiba-tiba Joko Wandiro menyebut-nyebut tentang pusaka, tentu saja mereka semua
menjadi terkejut dan heran.
"Benar
sabda paduka, gusti. Inilah pusaka Mataram yang baru hari ini dapat hamba
persembahkan kepada paduka." Ia mengeluarkan patung kencana dari
bungkusan, patung kencana Sri Bhatara Whisnu, lengkap dengan isinya, yaitu
keris pusaka Brojoi Luwuk. Patung itu mencorong cahayanya dan semua orang
menjadi silau memandangnya.
"Duh
Jagad Dewa Bathara....!!" Sang prabu bersabda dengan wajah berseri dan
bergegas menerima patung kencana itu, diangkatnya patung kencana dengan kedua
tangan, dibawanya ke atas ubun-ubun kepalanya dengan khidmat, kemudian
diturunkannya ke muka dan diciumnya kaki patung atau gagang keris pusaka.
Setelah itu dipeluknya patung kencana, dekat dengan hatinya seakan-akan
khawatir kalau-kalau patung kencana itu terlepas lagi dari tangannya.
”Dewata telah
mengabulkan doaku siang malam, dan semoga arwah ramanda prabu mengampuni
dosaku. Dengan kembalinya pusaka Mataram, akan pulih kembali kebesaran Mataram
yang jaya. Akan lenyap segala rubeda (rintangan) dan rakyat senegara akan
mengecap kenikmatan tata tenteram kerta raharja!" Suara sang prabu berubah
menjadi terharu sekali, dan para senopati mendengarkan dengan muka tertunduk.
"Bocah
bagus Joko Wandiro! Tak terkira besar dan bahagianya hati dengan persembahanmu
yang sungguh di luar dugaan ini. Satria yang perkasa, coba ceritakanlah
bagaimana pusaka yang sudah sekian lamanya lenyap ini dapat terjatuh ke dalam
tanganmu."
Keadaan di
ruang persidangan sunyi sekali. Semua orang seakan-akan menahan napas dan tidak
mau kehilangan sepatahpun kata yang keluar dari mulut Joko Wandiro ketika
pemuda ini menceritakan secara singkat tentang pusaka Mataram yang hilang.
Betapa pusaka itu dicuri oleh Jokowanengpati, kemudian betapa pusaka itu
dirampas dari tangan orang jahat ini oleh Resi Bhargowo yang kemudian
menyerahkannya kepada Joko Wandiro dan Endang Patibroto untuk disembunyikan
ketika orang-orang sakti utusan Pangeran Anom menyerbu ke Pulau Sempu untuk
merampasnya. Kemudian betapa baru-baru ini ia mengambil kembali pusaka itu dan
menerima kerisnya dari Endang Patibroto. Ia tentu saja tidak menceritakan
tentang peristiwa pribadi yang menyangkut dirinya dan Endang Patibroto.
"Demikianlah,
gusti. Setelah hamba berhasil mendapatkan kembali pusaka Mataram dalam keadaan
utuh, hamba bergegas menghadap kepada paduka untuk mempersembahkan kembali
pusaka ini sesuai dengan perintah eyang Resi Bhargowo dan bapa guru
Narotama."
Amat bahagia
dan gembira hati sang prabu mendengar penuturan itu. Sambil memeluk keris
pusaka dalam patung kencana, sang prabu berkata,
"Joko
Wandiro, jasamu besar tak ternilai. Dan siapakah gadis jelita yang ikut datang
menghadap bersamamu ini?"
Mendengar
dirinya disebut-sebut, Ayu Candra menundukkan mukanya yang menjadi merah,
dadanya berdebar penuh ketegangan
"Dia ini
adik kandung hamba, Ayu Candra namanya, gusti."
"Hemm,
patut menjadi adikmu. Cantik jelita penuh susila. Heh, Joko Wandiro, sebagai
imbalan jasamu, mulai saat ini kuangkat engkau menjadi adipati di Selopenangkep
dengan julukan Adipati Tejolaksono. Kakang Patih Suroyudo, siapkan sepasukan
prajurit pilihan untuk membantu Adipati Tejolaksono memerintah di
Selopenangkep. Persidangan kububarkan sekarang juga!" Sang prabu yang
masih terharu memeluk pusaka Mataram, memandang ke arah Joko Wandiro yang
menyembah dan menghaturkan terima kasih dengan sinar mata penuh haru dan
syukur. Sang prabu ingin cepat-cepat menyendiri agar dapat menikmati saat yang
amat bahagia itu, saat kembalinya pusaka Mataram yang amat dirindukan oleh
segenap isi istana.
Joko Wandiro
membalas ucapan selamat para senopati dengan sikap sederhana dan merendah.
Matanya memandang ke kanan kiri, mencari-cari. Akhirnya ia mendapatkan orang
yang dicarinya dan segera dengan langkah lebar ia menghampiri Ki Darmobroto
yang memang tadi ikut menghadap sang prabu.
"Selamat,
anak-mas Joko Wandiro. Aku merasa ikut gembira, bukan hanya karena kembalinya
pusaka Mataram, akan tetapi karena engkaulah yang berhasil mengembalikannya.
Selamatlah, anakmas adipati"
"Paman
Darmobroto, selain bermaksud mempersembahkan pusaka kepada sri baginda,
kedatangan saya di kota raja memang khusus hendak menemui paman. Dapatkah kita
bicara leluasa?"
Ki Darmobroto
melirik ke arah Ayu Candra dan berkata,
"Marilah,
anak-mas. Mari ke pondokku."
Setelah
memberitahu kepada Ki Patih Suroyudo bahwa dia bersama adiknya hendak
berkunjung lebih dulu ke pondok Ki Darmobroto, Joko Wandiro lalu menggandeng
tangan adiknya. Pondok itu merupakan pasanggrahan yang disediakan oleh kerajaan
untuk para satria yang menjadi pembantu luar kerajaan. Pondok yang cukup mewah
dan bersih menyenangkan, dengan ruangan muka luas. Di ruangan inilah Ki
Darmobroto menerima dua orang tamunya. Setelah mempersilahkan mereka duduk di
atas lantai bertilamkan tikar indah, Ki Darmobroto lalu bertanya,
"Silahkan,
anak-mas. Keperluan apakah gerangan yang hendak anda sampaikan kepadaku?"
Joko Wandiro
menggandeng tangan adiknya dan berkata,
"Inilah
dia adikku, paman. Inilah adikku Ayu Candra. Seperti pernah saya katakan kepada
paman, mengenai pesan paman Adibroto, adikku Ayu Candra ini dengan putera paman
Joko Seto... eh, di mana pula adanya adimas Joko Seto? Mengapa tidak paman
perkenalkan kepada kami?"
Ayu Candra
mendengarkan semua ini dengan muka tertunduk, wajahnya agak pucat dan hatinya
seperti diiris-iris rasanya. Ia tidak rela mendengar betapa nasib hidupnya
diatur dan dibicarakan oleh dua orang itu, ia tidak rela untuk berpisah dari
Joko Wandiro dan menjadi isteri siapapun juga.
No comments:
Post a Comment