Badai Laut Selatan ; Bagian 161


Akan tetapi ia tidak melihat jalan lain. Ia harus tunduk dan taat kepada pesan terakhir ayahnya, pula ia harus taat kepada Joko Wandiro, kakaknya yang kini menjadi walinya, menjadi wakil dan pengganti ayah bundanya. Ingin ia menangis, namun ia tidak berani.

Ki Darmobroto menarik napas panjang. Begitu jelas elahan napas panjang ini, membayangkan kedukaan besar sehingga Joko Wandiro menjadi terkejut dan mengangkat muka memandang. Dilihatnya wajah tua itu berkerut-kerut, pandang matanya sayu dan dagunya mengeras dalam usaha menekan kedukaan hati.
"Ada apakah, paman? Apa yang terjadi?"
"Kedatanganmu terlambat, anakmas. Belum lama ini, ketika mendapat tugas memimpin pasukan yang diperbantukan oleh sang prabu untuk membantu Jenggala dan memukul Nusabarung, anakku Joko Seto telah tewas dalam medan perang. Tewas.... gugur sebagai seorang senopati muda....!"
Suara itu menggetar, tanda keharuan dan kedukaan hati seorang ayah yang ditinggal mati puteranya yang tunggal. Putera satu-satunya yang amat disayang, diharap-harapkan menjadi seorang penyambung riwayat hidupnya yang berguna, telah mati muda! Tiba-tiba terdengar isak tangis dan Ayu Candra sudah menubruk Joko Wandiro, memeluk dan menangis. Joko Wandiro dapat mengerti perasaan gadis itu, perasaan lega dan lapang seperti yang dirasainya sendiri pula. Dan Ki Darmobroto yang tak dapat menyelami isi hati gadis itu, menjadi makin terharu, juga terheran. Benarkah gadis ini menjadi sedih dan menangis karena kematian Joko Seto yang dipertunangkan kepadanya? Berjumpapun belum pernah. Akan tetapi sudah menangisi kematiannya? Akan tetapi setelah mendengar bisikan-bisikan yang keluar dari mulut gadis itu, pandangannya menjadi lain dan di dalam hatinya ia mengangguk-angguk. Gadis itu berkata dengan suara lirih,

"Kakang.. dewata telah menentukan, sekarang kau tidak bisa melarangku lagi, aku... aku selamanya takkan mau menikah dengan orang lain. Aku akan melayanimu selama hidupku, kakang... jangan paksa aku menikah dengan orang lain !"
Ki Darmobroto merasa jantungnya perih. Bibirnya bergerak-gerak dan keluarlah ucapan lirih,
"Anakku Joko Seto, kiranya kematianmu masih dapat membahagiakan hati orang lain"

Ayu Candra adalah seorang gadis yang memiliki dasar pribudi tinggi dan mulia. Memang tak dapat disangkal lagi bahwa berita kematian Joko Seto ini mendatangkan rasa lega dan lapang di dalam dadanya, seakan-akan berita itu telah mengusili batu besar yang tadinya selalu menekan dan menindih perasaannya. Saking girangnyalah maka tadi ia menubruk dan memeluk Joko Wandiro, lupa akan keadaan sekelilingnya. Akan tetapi ketika ia mendengar bisikan lirih Darmobroto, ia dapat menangkap rintih hati yang hancur. Maka ia segera melepaskan pelukannya, memandang Ki Darmobroto dan menyembah di depan orang tua itu sambil berkata, suaranya gemetar,
"Ampunkanlah saya, paman Darmobroto. Sudah seringkali ayah saya dahulu bercerita tentang paman dan tentang kebaikan paman. Saya tidaklah sekeji itu, paman. Saya tidak hendak menarik kesenangan dari penderitaan paman. Saya tahu betapa hancur dan duka hati paman karena kehilangan putera paman. Saya sendiri ikut berduka mendengar berita kematian... kakangmas Joko Seto. Saya... tadi lupa diri dan bergembira bukan karena kematian puteramu, melainkan karena aku tidak bisa berpisah dari kakang Joko Wandiro, pengganti orang tuaku...” Gadis itu menangis perlahan.
Ki Darmobroto memaksa senyum dan meraba kepala gadis itu.
"Ah, anakku bocah ayu. Engkau mewarisi watak ayahmu. Seakan kulihat adikku Adibroto dalam dirimu, Ayu Candra. Dia benar sekali dengan menjodohkan kau dengan puteraku. Akan tetapi, dewata kuasa atas mati hidup manusia. Dan kakakmu ini, dia seorang satria perkasa, satria utama yang memang patut sekali kau junjung tinggi, patut sekali kaucinta. Akan tetapi Ayu Candra, Anak-mas adipati ini adalah seorang jejaka dan baru saja menerima pangkat. Dia akan sibuk sekali mengurus kadipaten. Agaknya akan lebih baik kalau untuk sementara engkau tinggal bersamaku, Ayu, sebagai pengganti puteraku yang gugur. Biarkan anak-mas adipati menyelesaikan tugasnya. Setelah ia berumah tangga....... barulah kau ikut dengannya. Kurasa setelah membereskan Kadipaten Selopenangkep, anak-mas adipati tentu akan memilih seorang wanita untuk menjadi timbangannya "
"Saya....... saya takkan menikah paman!" Tiba-tiba Joko Wandiro berkata gagap.
"Dan.. saya rasa tidak ada salahnya kalau saya mengajak Ayu Candra ke Kadipaten Selopenangkep. Sebagai kakak kandungnya, saya adalah walinya, saya pengganti ayah bundanya."
"Kakak kandung..?" Ki Darmobroto bertanya, suaranya meragu.
Joko Wandiro mengira bahwa kakek ini belum tahu akan duduknya persoalan, maka ia lalu berkata,
"Paman Darmobroto, agaknya paman belum tahu. Ketika ibu saya menikah dengan paman Adibroto, ibu telah mempunyai anak saya. Oleh karena itu, saya dan Ayu Candra adalah saudara sekandung, seibu berlainan ayah. Ibu kami telah tiada, juga ayah kami kedua-duanya sudah tiada, kami berdua adalah anak-anak lola (yatim piatu), maka kalau bukan saya yang menjadi pengganti orang tuanya, siapa lagi?"

Ki Darmobroto tersenyum dan mengangguk-angguk, kemudian dengan suara halus ia berkata,
"Sesungguhnya tepat sekali ucapan anak-mas adipati. Akan tetapi, melihat Ayu Candra, saya merasa seakan-akan berjumpa dengan saudara saya tercinta Adibroto. Biarpun Ayu Candra gagal menjadi anak mantu saya, namun dia ini masih keponakan saya. Ayahnya adalah sahabat baik dan juga saudara seperguruan saya. Maka, harap kalian suka menaruh kasihan kepada saya orang tua. Saya masih kangen, ingin bercakap-cakap dengan Ayu Candra. Biarkan dia menemani saya untuk beberapa hari, anak-mas, sementara anak-mas adipati mengurus dan mempersiapkan keberangkatan ke Selopenangkep. Sebelum berangkat, saya rasa banyak hal harus dibicarakan lebih dahulu dengan Ki Patih Suroyudo, tentang peraturan dan sebagainya mengenai tugas-tugas anak-mas. Setelah semua selesai dan hendak berangkat, barulah anak-mas datang menjemput Ayu Candra di pondok saya ini. Tentu saja kalau anak-mas dan nini Ayu Candra menyetujui."
Tak enak hati Ayu Candra mendengar permintaan ini. Orang tua ini amat baik, bekas calon ayah mertuanya, juga sahabat baik serta saudara seperguruan ayahnya. Maka ia lalu memberi isyarat, mengangguk kepada Joko Wandiro. Pemuda itu merasa lega. Memang iapun merasa kebenaran omongan kakek itu. Ia harus mempersiapkan segalanya dengan Ki Patih Suroyudo. Maka berpamitlah Joko Wandiro dengan hati lapang. Ia percaya penuh bahwa di tangan Ki Darmobroto, Ayu Candra akan berada dalam keadaan aman sentausa. Ia segera menghadap Ki Patih Suroyudo untuk menerima segala petunjuk dan mempersiapkan segalanya sebelum ia berangkat membawa pasukannya ke Selopenangkep. Di lubuk hatinya, ia merasa terharu sekali karena ia akan melanjutkan jabatan kakeknya yang belum sempat dipegang ayahnya. Ia akan menjadi adipati, menjadi yang dipertuan dan menjadi orang pertama yang bertanggung jawab, berwenang, berhak dan berkewajiban di Selopenangkep, di rumah di mana ia dahulu dilahirkan! Ia akan kembali ke tempat asalnya, tempat di mana seharusnya ia berada.
Persiapan itu makan waktu sampai tiga hari. Pada hari ke tiga, Joko Wandiro sudah berubah, dari seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan berjalan kaki menjadi seorang adipati muda yang berpakaian indah dan menunggang seekor kuda putih sehingga wajahnya menjadi makin tampan dan gagah. Pagi hari itu pasukannya sudah siap. Pasukan terdiri dari prajurit-prajurit pilihan, muda-muda dan gagah perkasa. Setelah bermohon diri dan mendapat restu dari sang prabu sendiri, Joko Wandiro yang kini menjadi Adipati Tejolaksono memimpin pasukannya menuju ke pondok Ki Darmobroto. Ia bergegas mengeprak kudanya mendahului pasukan dan memesan agar pasukan siap menantinya di alun-alun karena ia hendak singgah di pondok Ki Darmobroto untuk menjemput Ayu Candra.
Hatinya berdebar keras. Apa yang akan dikatakan Ayu Candra melihat ia kini telah berubah menjadi seorang adipati muda ini? Adiknya tentu akan girang dan bangga, dan ia sudah mereka-reka bagaimana adiknya itu harus berpakaian, sebagai seorang puteri bangsawan, adik seorang adipati yang terkasih! Pondok Ki Darmobroto sunyi. Seorang pelayan menyambutnya dengan sembah. Joko Wandiro tidak sabar lagi.
"Di manakah paman Darmobroto? Dan di mana pula diajeng Ayu Candra?"
Pelayan itu sambil menyembah berkata,
"Hamba telah dipesan oleh gusti puteri bahwa apabila paduka datang berkunjung, paduka dipersilahkan terus saja masuk ke taman sari menjumpai beliau." Sambil berkata demikian, pelayan wanita ini dengan ibu jarinya menunjuk ke pintu samping yang menuju ke taman bunga.

Joko Wandiro hampir tak dapat menahan ketawanya. Benar-benar canggung dan aneh rasanya disambut oleh seorang pelayan dengan sikap menghormat. Dan apa pula sikap kekanak-kanakan dan aneh dari Ayu Candra ini? Mengapa tidak langsung menyambutnya dan di mana pula Ki Darmobroto? Akan tetapi karena ingin cepat-cepat bertemu dengan Ayu Candra, maka ia segera memasuki pintu kecil itu dan berjalan memasuki taman bunga yang amat indah.
Dari jauh ia sudah melihat Ayu Candra. Tentu Ayu Candra yang duduk membelakanginya, menghadapi sebuah kolam ikan itu, di antara kembang-kembang mawar yang semerbak harum. Memang pakaiannya amat indah, serba baru dan pakaian seorang puteri bangsawan. Akan tetapi rambut terurai yang hitam itu, bentuk tubuh itu, di dunia ini takkan ada gadis lain dengan rambut dan bentuk tubuh seperti itu kecuali Ayu Candra, adiknya yang terkasih. Sejenak ia menahan napas, matanya menatap gadis itu seperti orang mengagumi matahari muncul di pagi hari, seringkali dilihat akan tetapi tak pernah berhenti mengaguminya. Kemudian ia berlari maju dan berteriak memanggil,
"Ayu Candra....!!"
Gadis itu terkejut, bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Joko Wandiro sudah lari mendekat. Mereka berdiri, berhadapan, saling pandang seakan-akan baru bertemu setelah berpisah berbulan-bulan. Padahal baru tiga hari mereka saling berpisah. Bukan saling melihat pakaian mereka yang indah-indah, sama sekali bukan. Pakaian indah itu bagi mereka tidak ada artinya, dan orangnyalah yang penting. Pandang mata mereka bertaut, akhirnya, aneh sekali, Ayu Candra menundukkan matanya dan kedua pipinya kemerahan!
"Kakang.. mas... adipati " Gadis itu membuka mulut, suaranya gemetar, mukanya menunduk.
Joko Wandiro coba mengusir suasana lucu dan aneh itu dengan ketawanya.
"Ha-ha-ha! Ayu Candra! Apa-apaan ini? Aku masih tetap kakang Joko, kakakmu yang nakal, kakakmu yang terkasih. Mengapa mesti mengubah kebiasaan? Bagi orang lain aku adalah kanjeng adipati, akan tetapi bagimu tetap kakang Joko Wandiro Kau anak nakal, mana paman Darmobroto?"
Joko Wandiro melompat dan memegang tangan yang halus dan aneh sekali. Tangan yang biasanya hangat dan jari-jari tangan yang biasanya mencengkeram jari-jarinya itu kini menggigil dingin. Muka itu masih belum terangkat, bahkan kini Ayu Candra menarik tangannya yang terpegang Joko Wandiro.
"Ayah... ayah... masih bersamadhi... silahkan duduk, kakang-mas adipati aku... aku "
"Eh, eh, bocah nakal! Hentikan kelakarmu! Apa artinya semua ini? Ayah? Siapa ayahmu? Kau mengapa, Ayu?" Kembali Joko Wandiro memegang tangan adiknya, dan sekali lagi Ayu Candra merenggut lepas tangannya.
"Aku... telah menjadi anak ramanda Darmobroto, dan kau..”
"Apa katamu? Mengapa begitu? Eh, Ayu Candra, bukannya aku melarang engkau menjadi anak angkat paman Darmobroto, akan tetapi, mengapa kau tidak tanya dulu kepadaku? Aku pengganti ayah bundamu, aku walimu, aku kakak kandungmu!"
"Bukan..!" Tiba-tiba Ayu Candra mengangkat mukanya yang kemerahan, membentak keras.
"Bukan apa-apakul Bukan kakak kandung, sama sekali bukan. Kakak tiripun bukan! Di antara kita tidak ada hubungan darah...!"
"Apa...??? Ayu Candra, apa artinya ...semua ini? Kau bukan adikku??" Joko Wandiro memandang adiknya dengan mata terbelalak dan kerling berkerut. Gilakah gadis ini? Atau... jangan-jangan...terkena bujukan orang lain. Apakah Ki Darmobroto juga berhati palsu dan sejahat Ki Jatoko? Gadis itu dengan muka masih kemerahan akan tetapi sinar matanya tajam dan nakal seperti biasa, agaknya sudah pulih ketegangan hatinya, menggeleng kepala dan berkata lagi,
"Bukan adikmu, bukan apa-apa, karena itu jangan kau pegang-pegang tanganku, tidak pantas dilihat orang, tidak sopan.... !"

Saking kaget dan herannya, Joko Wandiro tidak melihat betapa gadis itu menggigit bibir dengan sikap nakal menggoda.
"Ayu... Siapa bilang begitu? Dari mana kau tahu...?" Kini suara Joko Wandiro gemetar. Urusan ini bukan kecil artinya bagi dia, hampir sama dengan urusan mati atau hidup!
"Ramanda Darmobroto yang bilang. Dia mengenal ayah semenjak muda, dan dia tahu bahwa ibuku bernama Rasmi, sudah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Jadi, ayah adalah seorang duda dan sudah mempunyai anak aku ketika bertemu dengan ibumu dan menikah dengannya, ibumu yang sudah meninggalkan anak, yaitu engkau. Jadi... kita ini... bukan apa-apa, tidak seayah tidak seibu..”

<<< Bagian 160                                                                                     Bagian 162 >>>

No comments:

Post a Comment