Akan tetapi ia tidak melihat jalan lain. Ia harus tunduk dan taat kepada pesan terakhir ayahnya, pula ia harus taat kepada Joko Wandiro, kakaknya yang kini menjadi walinya, menjadi wakil dan pengganti ayah bundanya. Ingin ia menangis, namun ia tidak berani.
Ki Darmobroto
menarik napas panjang. Begitu jelas elahan napas panjang ini, membayangkan
kedukaan besar sehingga Joko Wandiro menjadi terkejut dan mengangkat muka
memandang. Dilihatnya wajah tua itu berkerut-kerut, pandang matanya sayu dan
dagunya mengeras dalam usaha menekan kedukaan hati.
"Ada
apakah, paman? Apa yang terjadi?"
"Kedatanganmu
terlambat, anakmas. Belum lama ini, ketika mendapat tugas memimpin pasukan yang
diperbantukan oleh sang prabu untuk membantu Jenggala dan memukul Nusabarung,
anakku Joko Seto telah tewas dalam medan perang. Tewas.... gugur sebagai
seorang senopati muda....!"
Suara itu
menggetar, tanda keharuan dan kedukaan hati seorang ayah yang ditinggal mati
puteranya yang tunggal. Putera satu-satunya yang amat disayang,
diharap-harapkan menjadi seorang penyambung riwayat hidupnya yang berguna,
telah mati muda! Tiba-tiba terdengar isak tangis dan Ayu Candra sudah menubruk
Joko Wandiro, memeluk dan menangis. Joko Wandiro dapat mengerti perasaan gadis
itu, perasaan lega dan lapang seperti yang dirasainya sendiri pula. Dan Ki
Darmobroto yang tak dapat menyelami isi hati gadis itu, menjadi makin terharu,
juga terheran. Benarkah gadis ini menjadi sedih dan menangis karena kematian
Joko Seto yang dipertunangkan kepadanya? Berjumpapun belum pernah. Akan tetapi
sudah menangisi kematiannya? Akan tetapi setelah mendengar bisikan-bisikan yang
keluar dari mulut gadis itu, pandangannya menjadi lain dan di dalam hatinya ia
mengangguk-angguk. Gadis itu berkata dengan suara lirih,
"Kakang..
dewata telah menentukan, sekarang kau tidak bisa melarangku lagi, aku... aku
selamanya takkan mau menikah dengan orang lain. Aku akan melayanimu selama
hidupku, kakang... jangan paksa aku menikah dengan orang lain !"
Ki Darmobroto
merasa jantungnya perih. Bibirnya bergerak-gerak dan keluarlah ucapan lirih,
"Anakku
Joko Seto, kiranya kematianmu masih dapat membahagiakan hati orang lain"
Ayu Candra
adalah seorang gadis yang memiliki dasar pribudi tinggi dan mulia. Memang tak
dapat disangkal lagi bahwa berita kematian Joko Seto ini mendatangkan rasa lega
dan lapang di dalam dadanya, seakan-akan berita itu telah mengusili batu besar
yang tadinya selalu menekan dan menindih perasaannya. Saking girangnyalah maka
tadi ia menubruk dan memeluk Joko Wandiro, lupa akan keadaan sekelilingnya.
Akan tetapi ketika ia mendengar bisikan lirih Darmobroto, ia dapat menangkap
rintih hati yang hancur. Maka ia segera melepaskan pelukannya, memandang Ki
Darmobroto dan menyembah di depan orang tua itu sambil berkata, suaranya
gemetar,
"Ampunkanlah
saya, paman Darmobroto. Sudah seringkali ayah saya dahulu bercerita tentang
paman dan tentang kebaikan paman. Saya tidaklah sekeji itu, paman. Saya tidak
hendak menarik kesenangan dari penderitaan paman. Saya tahu betapa hancur dan
duka hati paman karena kehilangan putera paman. Saya sendiri ikut berduka
mendengar berita kematian... kakangmas Joko Seto. Saya... tadi lupa diri dan
bergembira bukan karena kematian puteramu, melainkan karena aku tidak bisa
berpisah dari kakang Joko Wandiro, pengganti orang tuaku...” Gadis itu menangis
perlahan.
Ki Darmobroto
memaksa senyum dan meraba kepala gadis itu.
"Ah,
anakku bocah ayu. Engkau mewarisi watak ayahmu. Seakan kulihat adikku Adibroto
dalam dirimu, Ayu Candra. Dia benar sekali dengan menjodohkan kau dengan
puteraku. Akan tetapi, dewata kuasa atas mati hidup manusia. Dan kakakmu ini,
dia seorang satria perkasa, satria utama yang memang patut sekali kau junjung
tinggi, patut sekali kaucinta. Akan tetapi Ayu Candra, Anak-mas adipati ini
adalah seorang jejaka dan baru saja menerima pangkat. Dia akan sibuk sekali
mengurus kadipaten. Agaknya akan lebih baik kalau untuk sementara engkau
tinggal bersamaku, Ayu, sebagai pengganti puteraku yang gugur. Biarkan anak-mas
adipati menyelesaikan tugasnya. Setelah ia berumah tangga....... barulah kau
ikut dengannya. Kurasa setelah membereskan Kadipaten Selopenangkep, anak-mas
adipati tentu akan memilih seorang wanita untuk menjadi timbangannya "
"Saya.......
saya takkan menikah paman!" Tiba-tiba Joko Wandiro berkata gagap.
"Dan..
saya rasa tidak ada salahnya kalau saya mengajak Ayu Candra ke Kadipaten
Selopenangkep. Sebagai kakak kandungnya, saya adalah walinya, saya pengganti
ayah bundanya."
"Kakak
kandung..?" Ki Darmobroto bertanya, suaranya meragu.
Joko Wandiro
mengira bahwa kakek ini belum tahu akan duduknya persoalan, maka ia lalu
berkata,
"Paman
Darmobroto, agaknya paman belum tahu. Ketika ibu saya menikah dengan paman
Adibroto, ibu telah mempunyai anak saya. Oleh karena itu, saya dan Ayu Candra
adalah saudara sekandung, seibu berlainan ayah. Ibu kami telah tiada, juga ayah
kami kedua-duanya sudah tiada, kami berdua adalah anak-anak lola (yatim piatu),
maka kalau bukan saya yang menjadi pengganti orang tuanya, siapa lagi?"
Ki Darmobroto
tersenyum dan mengangguk-angguk, kemudian dengan suara halus ia berkata,
"Sesungguhnya
tepat sekali ucapan anak-mas adipati. Akan tetapi, melihat Ayu Candra, saya
merasa seakan-akan berjumpa dengan saudara saya tercinta Adibroto. Biarpun Ayu
Candra gagal menjadi anak mantu saya, namun dia ini masih keponakan saya.
Ayahnya adalah sahabat baik dan juga saudara seperguruan saya. Maka, harap
kalian suka menaruh kasihan kepada saya orang tua. Saya masih kangen, ingin
bercakap-cakap dengan Ayu Candra. Biarkan dia menemani saya untuk beberapa
hari, anak-mas, sementara anak-mas adipati mengurus dan mempersiapkan
keberangkatan ke Selopenangkep. Sebelum berangkat, saya rasa banyak hal harus
dibicarakan lebih dahulu dengan Ki Patih Suroyudo, tentang peraturan dan sebagainya
mengenai tugas-tugas anak-mas. Setelah semua selesai dan hendak berangkat,
barulah anak-mas datang menjemput Ayu Candra di pondok saya ini. Tentu saja
kalau anak-mas dan nini Ayu Candra menyetujui."
Tak enak hati
Ayu Candra mendengar permintaan ini. Orang tua ini amat baik, bekas calon ayah
mertuanya, juga sahabat baik serta saudara seperguruan ayahnya. Maka ia lalu
memberi isyarat, mengangguk kepada Joko Wandiro. Pemuda itu merasa lega. Memang
iapun merasa kebenaran omongan kakek itu. Ia harus mempersiapkan segalanya
dengan Ki Patih Suroyudo. Maka berpamitlah Joko Wandiro dengan hati lapang. Ia
percaya penuh bahwa di tangan Ki Darmobroto, Ayu Candra akan berada dalam
keadaan aman sentausa. Ia segera menghadap Ki Patih Suroyudo untuk menerima
segala petunjuk dan mempersiapkan segalanya sebelum ia berangkat membawa
pasukannya ke Selopenangkep. Di lubuk hatinya, ia merasa terharu sekali karena
ia akan melanjutkan jabatan kakeknya yang belum sempat dipegang ayahnya. Ia
akan menjadi adipati, menjadi yang dipertuan dan menjadi orang pertama yang
bertanggung jawab, berwenang, berhak dan berkewajiban di Selopenangkep, di
rumah di mana ia dahulu dilahirkan! Ia akan kembali ke tempat asalnya, tempat
di mana seharusnya ia berada.
Persiapan itu
makan waktu sampai tiga hari. Pada hari ke tiga, Joko Wandiro sudah berubah,
dari seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan berjalan kaki menjadi seorang
adipati muda yang berpakaian indah dan menunggang seekor kuda putih sehingga
wajahnya menjadi makin tampan dan gagah. Pagi hari itu pasukannya sudah siap.
Pasukan terdiri dari prajurit-prajurit pilihan, muda-muda dan gagah perkasa.
Setelah bermohon diri dan mendapat restu dari sang prabu sendiri, Joko Wandiro
yang kini menjadi Adipati Tejolaksono memimpin pasukannya menuju ke pondok Ki
Darmobroto. Ia bergegas mengeprak kudanya mendahului pasukan dan memesan agar
pasukan siap menantinya di alun-alun karena ia hendak singgah di pondok Ki
Darmobroto untuk menjemput Ayu Candra.
Hatinya
berdebar keras. Apa yang akan dikatakan Ayu Candra melihat ia kini telah
berubah menjadi seorang adipati muda ini? Adiknya tentu akan girang dan bangga,
dan ia sudah mereka-reka bagaimana adiknya itu harus berpakaian, sebagai
seorang puteri bangsawan, adik seorang adipati yang terkasih! Pondok Ki
Darmobroto sunyi. Seorang pelayan menyambutnya dengan sembah. Joko Wandiro
tidak sabar lagi.
"Di
manakah paman Darmobroto? Dan di mana pula diajeng Ayu Candra?"
Pelayan itu
sambil menyembah berkata,
"Hamba
telah dipesan oleh gusti puteri bahwa apabila paduka datang berkunjung, paduka
dipersilahkan terus saja masuk ke taman sari menjumpai beliau." Sambil
berkata demikian, pelayan wanita ini dengan ibu jarinya menunjuk ke pintu
samping yang menuju ke taman bunga.
Joko Wandiro
hampir tak dapat menahan ketawanya. Benar-benar canggung dan aneh rasanya
disambut oleh seorang pelayan dengan sikap menghormat. Dan apa pula sikap
kekanak-kanakan dan aneh dari Ayu Candra ini? Mengapa tidak langsung
menyambutnya dan di mana pula Ki Darmobroto? Akan tetapi karena ingin
cepat-cepat bertemu dengan Ayu Candra, maka ia segera memasuki pintu kecil itu
dan berjalan memasuki taman bunga yang amat indah.
Dari jauh ia
sudah melihat Ayu Candra. Tentu Ayu Candra yang duduk membelakanginya,
menghadapi sebuah kolam ikan itu, di antara kembang-kembang mawar yang semerbak
harum. Memang pakaiannya amat indah, serba baru dan pakaian seorang puteri
bangsawan. Akan tetapi rambut terurai yang hitam itu, bentuk tubuh itu, di
dunia ini takkan ada gadis lain dengan rambut dan bentuk tubuh seperti itu
kecuali Ayu Candra, adiknya yang terkasih. Sejenak ia menahan napas, matanya
menatap gadis itu seperti orang mengagumi matahari muncul di pagi hari,
seringkali dilihat akan tetapi tak pernah berhenti mengaguminya. Kemudian ia
berlari maju dan berteriak memanggil,
"Ayu
Candra....!!"
Gadis itu
terkejut, bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Joko Wandiro sudah lari
mendekat. Mereka berdiri, berhadapan, saling pandang seakan-akan baru bertemu
setelah berpisah berbulan-bulan. Padahal baru tiga hari mereka saling berpisah.
Bukan saling melihat pakaian mereka yang indah-indah, sama sekali bukan.
Pakaian indah itu bagi mereka tidak ada artinya, dan orangnyalah yang penting.
Pandang mata mereka bertaut, akhirnya, aneh sekali, Ayu Candra menundukkan
matanya dan kedua pipinya kemerahan!
"Kakang..
mas... adipati " Gadis itu membuka mulut, suaranya gemetar, mukanya
menunduk.
Joko Wandiro
coba mengusir suasana lucu dan aneh itu dengan ketawanya.
"Ha-ha-ha!
Ayu Candra! Apa-apaan ini? Aku masih tetap kakang Joko, kakakmu yang nakal,
kakakmu yang terkasih. Mengapa mesti mengubah kebiasaan? Bagi orang lain aku
adalah kanjeng adipati, akan tetapi bagimu tetap kakang Joko Wandiro Kau anak
nakal, mana paman Darmobroto?"
Joko Wandiro
melompat dan memegang tangan yang halus dan aneh sekali. Tangan yang biasanya
hangat dan jari-jari tangan yang biasanya mencengkeram jari-jarinya itu kini
menggigil dingin. Muka itu masih belum terangkat, bahkan kini Ayu Candra
menarik tangannya yang terpegang Joko Wandiro.
"Ayah...
ayah... masih bersamadhi... silahkan duduk, kakang-mas adipati aku... aku
"
"Eh, eh,
bocah nakal! Hentikan kelakarmu! Apa artinya semua ini? Ayah? Siapa ayahmu? Kau
mengapa, Ayu?" Kembali Joko Wandiro memegang tangan adiknya, dan sekali
lagi Ayu Candra merenggut lepas tangannya.
"Aku...
telah menjadi anak ramanda Darmobroto, dan kau..”
"Apa
katamu? Mengapa begitu? Eh, Ayu Candra, bukannya aku melarang engkau menjadi
anak angkat paman Darmobroto, akan tetapi, mengapa kau tidak tanya dulu
kepadaku? Aku pengganti ayah bundamu, aku walimu, aku kakak kandungmu!"
"Bukan..!"
Tiba-tiba Ayu Candra mengangkat mukanya yang kemerahan, membentak keras.
"Bukan
apa-apakul Bukan kakak kandung, sama sekali bukan. Kakak tiripun bukan! Di
antara kita tidak ada hubungan darah...!"
"Apa...???
Ayu Candra, apa artinya ...semua ini? Kau bukan adikku??" Joko Wandiro
memandang adiknya dengan mata terbelalak dan kerling berkerut. Gilakah gadis
ini? Atau... jangan-jangan...terkena bujukan orang lain. Apakah Ki Darmobroto
juga berhati palsu dan sejahat Ki Jatoko? Gadis itu dengan muka masih kemerahan
akan tetapi sinar matanya tajam dan nakal seperti biasa, agaknya sudah pulih
ketegangan hatinya, menggeleng kepala dan berkata lagi,
"Bukan
adikmu, bukan apa-apa, karena itu jangan kau pegang-pegang tanganku, tidak
pantas dilihat orang, tidak sopan.... !"
Saking kaget
dan herannya, Joko Wandiro tidak melihat betapa gadis itu menggigit bibir
dengan sikap nakal menggoda.
"Ayu...
Siapa bilang begitu? Dari mana kau tahu...?" Kini suara Joko Wandiro
gemetar. Urusan ini bukan kecil artinya bagi dia, hampir sama dengan urusan
mati atau hidup!
"Ramanda
Darmobroto yang bilang. Dia mengenal ayah semenjak muda, dan dia tahu bahwa
ibuku bernama Rasmi, sudah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Jadi, ayah
adalah seorang duda dan sudah mempunyai anak aku ketika bertemu dengan ibumu
dan menikah dengannya, ibumu yang sudah meninggalkan anak, yaitu engkau.
Jadi... kita ini... bukan apa-apa, tidak seayah tidak seibu..”
No comments:
Post a Comment