Badai Laut Selatan ; Bagian 162


Jantung Joko Wandiro berdebar keras, kedua kakinya menggigil. Ia. mengucek mata dengan tangan kanan, seakan-akan ia tidak percaya akan semua yang dihadapinya ini, khawatir kalau-kalau ini hanya terjadi dalam mimpi. Melihat keadaan pemuda ini, Ayu Candra melangkah maju setindak dan bertanya,
"Kau..... kau kenapa...??”
Joko Wandiro menangkap tangan gadis itu, memandang tajam, bertanya dengan suara lirih gemetar,
"Jadi kau.. kau bukan adikku. ...... ?”
Ayu Candra menggeleng kepala.
"Bukan, bukan apa-apa”
"Siapa bilang bukan apa-apa? Kau bukan adik memang dan terima kasih kepada Dewata bahwa kau bukan adikku, akan tetapi kau... kau... kekasihku..!" Sebelum Ayu Candra sempat menjawab, Joko Wandiro sudah menarik tangannya, memeluknya erat-erat.
"Aahhhh, kakang......."
Akan tetapi Joko Wandiro sudah memotong protes lemah ini dengan menutup mulut yang mungil itu dengan bibirnya. Naik sedu-sedan dari dalam rongga dada Ayu Candra dan gadis itu merangkulkan kedua lengannya, memeluk ketat. Demikian besar rasa bahagia hati mereka berdua, dan Ayu Candra hanya meramkan kedua mata dengan air mata bercucuran ketika orang yang paling dikasihinya di dunia ini memeluk dan menciumi seluruh mukanya. Air mata itu bagaikan air embun menyegarkan hati Joko Wandiro, dikecup dan dihisapnya.
"Ayu....... Ayu.. tidak mimpikah kita.....?" Akhirnya setelah mampu menguasai hatinya, ia berbisik di dekat telinga.
Suara Ayu Candra juga gemetar dan hanya dapat berbisik lemah,
"... entahlah, kakang... entahlah... serasa.. mimpi.."
Memang kebahagiaan itu terlalu besar bagi mereka, serasa tidak mungkin terjadi. Rasa cinta kasih yang besar sejak dahulu memenuhi perasaan hati mereka, akan tetapj, secara terpaksa harus mereka tindih dengan kesadaran akan kenyataan bahwa mereka itu saudara sekandung, tak mungkin dilanjutkan pertalian cinta kasih antara pria dan wanita itu. Akan tetapi sekarang keadaan berubah sama sekali. Mereka bukan saudara sekandung, bahkan saudara tiripun bukan. Mereka orang-orang lain!
"Kalau begitu, mari kita buktikan, Ayu. Kalau hanya mimpi, biar kita sadar!"
Sebelum gadis itu mengerti akan maksud kata-katanya, Joko Wandiro sudah memondong gadis itu dan langsung membawanya....... terjun ke dalam kolam ikan!
"Byuuurrr...!!"

Kolam itu tidak terlalu dalam, hanya sebatas dada. Akan tetapi karena Joko Wandiro yang mabuk kebahagiaan itu membawa Ayu Candra terjun dengan kepala lebih dahulu, gelagapan juga dan basah kuyup. Mereka tertawa-tawa dan saling rangkul dalam keadaan basah kuyup, berdiri di dalam kolam ikan.
"Eh-eh... auuupphh... kau nakal,.. kakang......!" Ayu Candra gelagapan, akan tetapi membalas peluk cium pemuda itu dengan mesra dan penuh kasih.
"Ha-ha-ha! Kita tidak mimpi...!"
"Aiihhh...!!" Tiba-tiba Ayu Candra menjerit kegelian dan Joko Wandiro terbahak tertawa sambil menarik keluar seekor ikan emas kecil yang dengan nakalnya menyusup di balik kemben Ayu Candra. Kembali mereka tertawa-tawa sambil berpelukan, seperti dua orang anak-anak bermain dalam kolam air.
Pada saat itu terdengar suara Ki Darmobroto yang tahu-tahu sudah berada di taman,
"Eehh.... ehhh ...... anakku..... Ayu Candra, engkau sedang apa itu? Dan....siapakah orang muda yang kurang.... eh, kiranya anak-mas adipati! Wah-wah, bagaimana ini? Kolam ikan bukan tempat mandi, anak-mas adipati. Anakku Ayu Candra, bagaimana kau ini? Tamu agung kita kauajak mandi dalam kolam ikan? Ataukah anak-mas adipati yang memaksamu mandi di situ?"
Sejenak muka kedua orang muda itu menjadi merah sekali. Akan tetapi Joko Wandiro lalu menuntun Ayu Candra, diajak keluar dari dalam kolam. Basah kuyup tubuh mereka. Pakaian yang basah itu menempel ketat di tubuh Ayu Candra, mencetak tubuh itu sehingga tampak jelas bentuk tubuh yang menggairahkan. Gadis itu cepat-cepat duduk bersimpuh di depan Ki Darmobroto. Joko Wandiro juga cepat-cepat memberi hormat kepada Ki Darmobroto. Kini pandangannya terhadap Ki Darmobroto berubah sama sekali, bukan lagi sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang tua. Bukankah orang tua ini sekarang menjadi ayah Ayu Candra?
"Mohon maaf sebanyaknya, paman. Baru saja saya mendengar dari Ayu Candra bahwa.... bahwa di antara kami... tidak ada ikatan keluarga. Maka dari ...itu..... eh, saking girang..... eh, bukan,....karena merasa aneh dan ingin mendapat kepastian apakah kami mimpi, kami lalu.. eh, .......mandi di kolam!" Baru kali ini selama hidupnya Joko Wandiro tergagap-gagap.
Ki Darmobroto tertawa, suara ketawanya seorang tua yang maklum akan keadaan dan menganggapnya sebagai sebuah lelucon yang wajar. Iapun pernah muda dan tahu apa artinya sikap aneh-aneh orang muda yang mabuk asmara.
"Saya tahu, anak-mas. Saya sudah mendengar dari Ayu tentang hubungan andika berdua sebelum terjadi salah sangka antara kalian sebagai kakak beradik itu, Sayapun sudah dapat menduganya ketika melihat sikap andika berdua pada waktu mendengar tentang kematian puteraku. Karena itulah maka saya mengangkat Ayu Candra sebagai anak. Dia seorang bocah lola, dan sekarang akulah yang menjadi walinya. Aku memang seperti saudara atau kakak sendiri dengan mendiang ayahnya. Dengan ada walinya, maka derajatnya sebagai seorang gadis akan pulih kembali sebagai seorang gadis terhormat, anakmas. Saya yakin anakmas maklum akan maksud hati saya."
Joko Wandiro mengangguk-angguk. Tentu saja ia maklum. Setelah ternyata bahwa Ayu Candra bukan adiknya, berarti ia akan dapat melanjutkan tali perjodohan yang terputus, melanjutkan tali asmara yang tadinya terpaksa diputuskan. Dan alangkah buruknya dalam mata umum apabila ia mengambil Ayu sebagai isteri begitu saja, seakan-akan seorang adipati memungut seorang perawan terlantar di tepi jalan. Kini Ayu mempunyai ayah angkat, mempunyai wali yang cukup terhormat. Sehingga ia dapat mengajukan pinangan secara terhormat pula dan dengan demikian, derajat Ayu Candra sebagai calon isterinya, sebagai calon isteri adipati, akan terangkat naik di mata umum. Tanpa ragu-ragu lagi Joko Wandiro lalu maju dan menghaturkan sembah dengan khidmat. Cepat-cepat Ki Darmobroto mencegahnya.
"Harap anakmas jangan sungkan-sungkan. Percayalah, apa yang Saya lakukan ini sama sekali bukan untuk menanam budi, bukan pula menolong andika, melainkan menjadi sebuah kebahagiaan bagi saya orang tua. Dengan mempunyai seorang anak seperti Ayu Candra dan kelak mempunyai mantu seperti andika, akan terobati luka di hati kehilangan Joko Seto.”

Joko Wandiro terharu hatinya. Orang tua ini amat bijaksana, mulia budinya.
"Terima kasih saya kepada paman, hanya Dewata yang mengetahuinya. Semua yang paman nyatakan benar adanya. Setelah kini Ayu Candra di tangan yang tepat dan mempunyai wali yang terhormat, sayapun hendak menemui bibi saya sebagai pengganti orang tua saya."
"Baik sekjali, anak-mas. Memang sebaiknya demikian. Anak-mas berangkatlah ke Selopenangkep dengan hati lapang dan setelah urusan di Selopenangkep beres, anak-mas boleh memilih hari baik mengajukan pinangan resmi."
Joko Wandiro ingin sekali menari-nari saking girangnya. Kalau nasib sedang mujur, bertumpuk-tumpuk dan berlimpah-limpah berkat menghujani dirinya. Diangkat menjadi Adipati Selopenangkep disusul berita bahagia bahwa Ayu Candra bukan adiknya sehingga tiada halangan untuk menjadi isterinya, ditambah lagi campur tangan Ki Darmobroto yang melancarkan segala urusan!
"Terima kasih, paman. Kalau begitu, saya bermohon diri untuk memimpin pasukan ke Selopenangkep."
"Selamat jalan, anak-mas. Doa restu paman saja mengiringi anak-mas."
"Terima kasih, paman. Ayu, kau di sini dulu, Ayu, aku hendak membereskan urusan di Selopenangkep."
"Kakang, jangan terlalu lama....!"
"Tentu saja tidak, Ayu. Aku sendiri mana senang bersunyi diri berjauhan dengan engkau? Selamat tinggal, Ayu."
"Selamat jalan, kakang..!"
Setelah pandang mata mereka sejenak bertaut penuh kasih mesra, Joko Wandiro lalu membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari taman sari.
"Kakang..!"
Joko Wandiro menengok. Kiranya Ki Darmobroto sudah tidak ada di situ dan tampak Ayu Candra berlari-lari mengejarnya.
"Ada apa, Ayu?"
Ayu Candra memegang tangannya.
"Pakaianmu itu, kakang. Basah semua. Masa engkau akan melakukan perjalanan dalam pakaian basah kuyup begitu?"
"tidak apa, sayang."
"Engkau masuk angin nanti, kakang."
"Ah, tidak, Ayu. Pula, pasukanku telah lama menanti di alun-alun. Aku harus berangkat sekarang, dewiku. Selamat tinggal." Joko Wandiro membalikkan tubuhnya.
"Kakang-mas..."
Joko Wandiro kembali membalikkan tubuh.
"Ada apakah, sayang?"
Ayu Candra terisak dan menubruknya.
"Jangan lama-lama, kakang. Aku tak tahan terlalu lama kau tinggalkan"
Joko Wandiro tersenyum, memeluk dan mengangkat muka yang jelita itu, lalu menciumnya mesra.
"Tidak sayang. Aku segera datang bersama bibi Roro Luhito untuk meminangmu secara resmi."
Sejenak mereka berpelukan dan berciuman, kemudian Joko Wandiro melepaskan rangkulannya dan melangkah pergi dengan tindakan lebar, diikuti pandang mata Ayu Candra yang berlinang air mata bahagia!

Semenjak pusaka Mataram kembali ke tangan sang prabu di Panjalu, keadaan menjadi berubah. Memang agaknya tidak percuma kepercayaan umum bahwa pusaka Mataram itu sedemikian ampuhnya sehingga apabila berada di tempatnya, yaitu di kerajaan, maka seluruh kerajaan akan menjadi aman, tenteram dan damai. Entah sampai di mana kebenaran ini, akan tetapi nyatanya, pengiriman pasukan besar untuk kedua kalinya telah dapat bekerja sama amat baiknya dengan pasukan Jenggala sehingga pemberontakan di Nusabarung dapat dipadamkan dengan segera. Adipati Jagalmanik di Nusabarung dapat ditawan, pasukannya dihancurkan dan Nusabarung ditaklukkan. Dengan kemenangan besar pasukan Panjalu kembali. Demikian pula pasukan Jenggala pulang sambil membawa tawanan yang segera dijatuhi hukuman mati oleh sang prabu di Jenggala. Bukan hanya kemenangan atas Nusabarung saja yang menggirangkan hati rakyat. Juga bantuan Panjalu itu merupakan jembatan pendamai antara kakak beradik, antara Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala. Pertama tama, untuk menyatakan terima kasihnya atas bantuan kakaknya, sang prabu di Jenggala mengirim upeti dan mengirim sebagian harta rampasan Nusabarung berikut sejumlah wanita-wanita cantik hasil rampasan dari Kerajaan Nusabarung kepada sang prabu di Panjalu. Kiriman ini diterima dengan hati gembira dan dibalas dengan kiriman berharga disertai doa restu seorang kakak terhadap adik.
"Hubungan dilanjutkan dan tak lama kemudian sang prabu di Jenggala berkenan datang mengunjungi kakaknya di Panjalu. Semenjak itu, kedua kerajaan menjadi akur kembali. Peristiwa menggembirakan ini disambut rakyat kedua kerajaan dengan penuh kegembiraan. Terhentinya perang berarti terhentinya segala malapetaka dan kesukaran bagi rakyat. Hubungan baik itu bahkan kemudian dipererat dengan pernikahan antara Pangeran Darmokusumo, Pangeran Panjalu yang tampan, dengan Puteri Mayagaluh, Puteri Jenggala!
Rakyat berpesta-pora. Tentu saja tidak semua orang di Panjalu dan Jenggala menyambut hubungan baik antara kedua kerajaan itu dengan hati gembira. Banyak pula yang menaruh hati dengki, dan tidak kurang pula yang merasa terancam kedudukannya atau dirugikan. Mereka adalah orang-orang yang mendapat keuntungan dengan adanya permusuhan. Diam-diam mereka ini berprihatin dan mencari kesempatan untuk mengeruhkan suasana, mengacaukan keadaan. Namun pengaruh mereka tidak besar dan usaha-usaha buruk mereka itu tidak ada artinya, tenggelam dalam lautan damai.

Seperti telah direncanakan semula, Roro Luhito dihubungi Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono. Ketika Joko Wandiro tiba di Pulau Sempu, ia hanya mendapatkan Kartikosari dan Roro Luhito, Endang Patibroto tidak berada di pulau itu lagi.
”Dia telah pergi.......! Tidak mau di sini bersamaku. Dia merasa hancur hatinya, dia merasa tidak ada orang di dunia ini yang mengasihinya, dia ingin hidup sendiri, entah di mana. Ahh, aku tidak dapat membayangkan apa jadinya dengan Endang Patibroto," kata Kartikosari dengan wajah muram.
Diam-diam Joko Wandiro menaruh kasihan kepada Kartikosari yang banyak mengalami penderitaan ini.
"Salahku sendiri," wanita itu melanjutkan,
"aku tidak menyalahkan Endang Patibroto........ terlahir dalam keadaan tidak sewajarnya, dia pernah dilanda kebencian dalam hatiku, pernah kulemparkan dia dalam badai. Sekarang semua ini hanyalah buah yang harus kupetik dari pohon yang kutanam sendiri. Dewata adil, dan aku akan menerima segala derita dan hukumannya...”

<<< Bagian 161                                                                                      Bagian 163 >>>

No comments:

Post a Comment