Jantung Joko Wandiro berdebar keras, kedua kakinya menggigil. Ia. mengucek mata dengan tangan kanan, seakan-akan ia tidak percaya akan semua yang dihadapinya ini, khawatir kalau-kalau ini hanya terjadi dalam mimpi. Melihat keadaan pemuda ini, Ayu Candra melangkah maju setindak dan bertanya,
"Kau.....
kau kenapa...??”
Joko Wandiro
menangkap tangan gadis itu, memandang tajam, bertanya dengan suara lirih
gemetar,
"Jadi
kau.. kau bukan adikku. ...... ?”
Ayu Candra
menggeleng kepala.
"Bukan,
bukan apa-apa”
"Siapa
bilang bukan apa-apa? Kau bukan adik memang dan terima kasih kepada Dewata
bahwa kau bukan adikku, akan tetapi kau... kau... kekasihku..!" Sebelum
Ayu Candra sempat menjawab, Joko Wandiro sudah menarik tangannya, memeluknya
erat-erat.
"Aahhhh,
kakang......."
Akan tetapi
Joko Wandiro sudah memotong protes lemah ini dengan menutup mulut yang mungil
itu dengan bibirnya. Naik sedu-sedan dari dalam rongga dada Ayu Candra dan
gadis itu merangkulkan kedua lengannya, memeluk ketat. Demikian besar rasa
bahagia hati mereka berdua, dan Ayu Candra hanya meramkan kedua mata dengan air
mata bercucuran ketika orang yang paling dikasihinya di dunia ini memeluk dan
menciumi seluruh mukanya. Air mata itu bagaikan air embun menyegarkan hati Joko
Wandiro, dikecup dan dihisapnya.
"Ayu.......
Ayu.. tidak mimpikah kita.....?" Akhirnya setelah mampu menguasai hatinya,
ia berbisik di dekat telinga.
Suara Ayu
Candra juga gemetar dan hanya dapat berbisik lemah,
"...
entahlah, kakang... entahlah... serasa.. mimpi.."
Memang
kebahagiaan itu terlalu besar bagi mereka, serasa tidak mungkin terjadi. Rasa
cinta kasih yang besar sejak dahulu memenuhi perasaan hati mereka, akan tetapj,
secara terpaksa harus mereka tindih dengan kesadaran akan kenyataan bahwa mereka
itu saudara sekandung, tak mungkin dilanjutkan pertalian cinta kasih antara
pria dan wanita itu. Akan tetapi sekarang keadaan berubah sama sekali. Mereka
bukan saudara sekandung, bahkan saudara tiripun bukan. Mereka orang-orang lain!
"Kalau
begitu, mari kita buktikan, Ayu. Kalau hanya mimpi, biar kita sadar!"
Sebelum gadis
itu mengerti akan maksud kata-katanya, Joko Wandiro sudah memondong gadis itu
dan langsung membawanya....... terjun ke dalam kolam ikan!
"Byuuurrr...!!"
Kolam itu
tidak terlalu dalam, hanya sebatas dada. Akan tetapi karena Joko Wandiro yang
mabuk kebahagiaan itu membawa Ayu Candra terjun dengan kepala lebih dahulu,
gelagapan juga dan basah kuyup. Mereka tertawa-tawa dan saling rangkul dalam
keadaan basah kuyup, berdiri di dalam kolam ikan.
"Eh-eh...
auuupphh... kau nakal,.. kakang......!" Ayu Candra gelagapan, akan tetapi
membalas peluk cium pemuda itu dengan mesra dan penuh kasih.
"Ha-ha-ha!
Kita tidak mimpi...!"
"Aiihhh...!!"
Tiba-tiba Ayu Candra menjerit kegelian dan Joko Wandiro terbahak tertawa sambil
menarik keluar seekor ikan emas kecil yang dengan nakalnya menyusup di balik
kemben Ayu Candra. Kembali mereka tertawa-tawa sambil berpelukan, seperti dua
orang anak-anak bermain dalam kolam air.
Pada saat itu
terdengar suara Ki Darmobroto yang tahu-tahu sudah berada di taman,
"Eehh....
ehhh ...... anakku..... Ayu Candra, engkau sedang apa itu? Dan....siapakah
orang muda yang kurang.... eh, kiranya anak-mas adipati! Wah-wah, bagaimana
ini? Kolam ikan bukan tempat mandi, anak-mas adipati. Anakku Ayu Candra,
bagaimana kau ini? Tamu agung kita kauajak mandi dalam kolam ikan? Ataukah
anak-mas adipati yang memaksamu mandi di situ?"
Sejenak muka
kedua orang muda itu menjadi merah sekali. Akan tetapi Joko Wandiro lalu
menuntun Ayu Candra, diajak keluar dari dalam kolam. Basah kuyup tubuh mereka.
Pakaian yang basah itu menempel ketat di tubuh Ayu Candra, mencetak tubuh itu
sehingga tampak jelas bentuk tubuh yang menggairahkan. Gadis itu cepat-cepat
duduk bersimpuh di depan Ki Darmobroto. Joko Wandiro juga cepat-cepat memberi
hormat kepada Ki Darmobroto. Kini pandangannya terhadap Ki Darmobroto berubah
sama sekali, bukan lagi sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang tua.
Bukankah orang tua ini sekarang menjadi ayah Ayu Candra?
"Mohon
maaf sebanyaknya, paman. Baru saja saya mendengar dari Ayu Candra bahwa....
bahwa di antara kami... tidak ada ikatan keluarga. Maka dari ...itu..... eh,
saking girang..... eh, bukan,....karena merasa aneh dan ingin mendapat
kepastian apakah kami mimpi, kami lalu.. eh, .......mandi di kolam!" Baru
kali ini selama hidupnya Joko Wandiro tergagap-gagap.
Ki Darmobroto
tertawa, suara ketawanya seorang tua yang maklum akan keadaan dan menganggapnya
sebagai sebuah lelucon yang wajar. Iapun pernah muda dan tahu apa artinya sikap
aneh-aneh orang muda yang mabuk asmara.
"Saya
tahu, anak-mas. Saya sudah mendengar dari Ayu tentang hubungan andika berdua
sebelum terjadi salah sangka antara kalian sebagai kakak beradik itu, Sayapun
sudah dapat menduganya ketika melihat sikap andika berdua pada waktu mendengar
tentang kematian puteraku. Karena itulah maka saya mengangkat Ayu Candra
sebagai anak. Dia seorang bocah lola, dan sekarang akulah yang menjadi walinya.
Aku memang seperti saudara atau kakak sendiri dengan mendiang ayahnya. Dengan
ada walinya, maka derajatnya sebagai seorang gadis akan pulih kembali sebagai
seorang gadis terhormat, anakmas. Saya yakin anakmas maklum akan maksud hati
saya."
Joko Wandiro
mengangguk-angguk. Tentu saja ia maklum. Setelah ternyata bahwa Ayu Candra bukan
adiknya, berarti ia akan dapat melanjutkan tali perjodohan yang terputus,
melanjutkan tali asmara yang tadinya terpaksa diputuskan. Dan alangkah buruknya
dalam mata umum apabila ia mengambil Ayu sebagai isteri begitu saja,
seakan-akan seorang adipati memungut seorang perawan terlantar di tepi jalan.
Kini Ayu mempunyai ayah angkat, mempunyai wali yang cukup terhormat. Sehingga
ia dapat mengajukan pinangan secara terhormat pula dan dengan demikian, derajat
Ayu Candra sebagai calon isterinya, sebagai calon isteri adipati, akan
terangkat naik di mata umum. Tanpa ragu-ragu lagi Joko Wandiro lalu maju dan
menghaturkan sembah dengan khidmat. Cepat-cepat Ki Darmobroto mencegahnya.
"Harap
anakmas jangan sungkan-sungkan. Percayalah, apa yang Saya lakukan ini sama
sekali bukan untuk menanam budi, bukan pula menolong andika, melainkan menjadi
sebuah kebahagiaan bagi saya orang tua. Dengan mempunyai seorang anak seperti
Ayu Candra dan kelak mempunyai mantu seperti andika, akan terobati luka di hati
kehilangan Joko Seto.”
Joko Wandiro
terharu hatinya. Orang tua ini amat bijaksana, mulia budinya.
"Terima
kasih saya kepada paman, hanya Dewata yang mengetahuinya. Semua yang paman
nyatakan benar adanya. Setelah kini Ayu Candra di tangan yang tepat dan
mempunyai wali yang terhormat, sayapun hendak menemui bibi saya sebagai
pengganti orang tua saya."
"Baik
sekjali, anak-mas. Memang sebaiknya demikian. Anak-mas berangkatlah ke
Selopenangkep dengan hati lapang dan setelah urusan di Selopenangkep beres,
anak-mas boleh memilih hari baik mengajukan pinangan resmi."
Joko Wandiro
ingin sekali menari-nari saking girangnya. Kalau nasib sedang mujur,
bertumpuk-tumpuk dan berlimpah-limpah berkat menghujani dirinya. Diangkat
menjadi Adipati Selopenangkep disusul berita bahagia bahwa Ayu Candra bukan
adiknya sehingga tiada halangan untuk menjadi isterinya, ditambah lagi campur
tangan Ki Darmobroto yang melancarkan segala urusan!
"Terima
kasih, paman. Kalau begitu, saya bermohon diri untuk memimpin pasukan ke
Selopenangkep."
"Selamat
jalan, anak-mas. Doa restu paman saja mengiringi anak-mas."
"Terima
kasih, paman. Ayu, kau di sini dulu, Ayu, aku hendak membereskan urusan di
Selopenangkep."
"Kakang,
jangan terlalu lama....!"
"Tentu
saja tidak, Ayu. Aku sendiri mana senang bersunyi diri berjauhan dengan engkau?
Selamat tinggal, Ayu."
"Selamat
jalan, kakang..!"
Setelah
pandang mata mereka sejenak bertaut penuh kasih mesra, Joko Wandiro lalu
membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari taman sari.
"Kakang..!"
Joko Wandiro
menengok. Kiranya Ki Darmobroto sudah tidak ada di situ dan tampak Ayu Candra
berlari-lari mengejarnya.
"Ada apa,
Ayu?"
Ayu Candra
memegang tangannya.
"Pakaianmu
itu, kakang. Basah semua. Masa engkau akan melakukan perjalanan dalam pakaian
basah kuyup begitu?"
"tidak
apa, sayang."
"Engkau
masuk angin nanti, kakang."
"Ah,
tidak, Ayu. Pula, pasukanku telah lama menanti di alun-alun. Aku harus
berangkat sekarang, dewiku. Selamat tinggal." Joko Wandiro membalikkan
tubuhnya.
"Kakang-mas..."
Joko Wandiro
kembali membalikkan tubuh.
"Ada apakah,
sayang?"
Ayu Candra
terisak dan menubruknya.
"Jangan
lama-lama, kakang. Aku tak tahan terlalu lama kau tinggalkan"
Joko Wandiro
tersenyum, memeluk dan mengangkat muka yang jelita itu, lalu menciumnya mesra.
"Tidak
sayang. Aku segera datang bersama bibi Roro Luhito untuk meminangmu secara
resmi."
Sejenak mereka
berpelukan dan berciuman, kemudian Joko Wandiro melepaskan rangkulannya dan
melangkah pergi dengan tindakan lebar, diikuti pandang mata Ayu Candra yang
berlinang air mata bahagia!
Semenjak pusaka
Mataram kembali ke tangan sang prabu di Panjalu, keadaan menjadi berubah.
Memang agaknya tidak percuma kepercayaan umum bahwa pusaka Mataram itu
sedemikian ampuhnya sehingga apabila berada di tempatnya, yaitu di kerajaan,
maka seluruh kerajaan akan menjadi aman, tenteram dan damai. Entah sampai di
mana kebenaran ini, akan tetapi nyatanya, pengiriman pasukan besar untuk kedua
kalinya telah dapat bekerja sama amat baiknya dengan pasukan Jenggala sehingga
pemberontakan di Nusabarung dapat dipadamkan dengan segera. Adipati Jagalmanik
di Nusabarung dapat ditawan, pasukannya dihancurkan dan Nusabarung ditaklukkan.
Dengan kemenangan besar pasukan Panjalu kembali. Demikian pula pasukan Jenggala
pulang sambil membawa tawanan yang segera dijatuhi hukuman mati oleh sang prabu
di Jenggala. Bukan hanya kemenangan atas Nusabarung saja yang menggirangkan
hati rakyat. Juga bantuan Panjalu itu merupakan jembatan pendamai antara kakak
beradik, antara Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala. Pertama tama, untuk
menyatakan terima kasihnya atas bantuan kakaknya, sang prabu di Jenggala
mengirim upeti dan mengirim sebagian harta rampasan Nusabarung berikut sejumlah
wanita-wanita cantik hasil rampasan dari Kerajaan Nusabarung kepada sang prabu
di Panjalu. Kiriman ini diterima dengan hati gembira dan dibalas dengan kiriman
berharga disertai doa restu seorang kakak terhadap adik.
"Hubungan
dilanjutkan dan tak lama kemudian sang prabu di Jenggala berkenan datang
mengunjungi kakaknya di Panjalu. Semenjak itu, kedua kerajaan menjadi akur
kembali. Peristiwa menggembirakan ini disambut rakyat kedua kerajaan dengan
penuh kegembiraan. Terhentinya perang berarti terhentinya segala malapetaka dan
kesukaran bagi rakyat. Hubungan baik itu bahkan kemudian dipererat dengan
pernikahan antara Pangeran Darmokusumo, Pangeran Panjalu yang tampan, dengan
Puteri Mayagaluh, Puteri Jenggala!
Rakyat
berpesta-pora. Tentu saja tidak semua orang di Panjalu dan Jenggala menyambut
hubungan baik antara kedua kerajaan itu dengan hati gembira. Banyak pula yang
menaruh hati dengki, dan tidak kurang pula yang merasa terancam kedudukannya
atau dirugikan. Mereka adalah orang-orang yang mendapat keuntungan dengan
adanya permusuhan. Diam-diam mereka ini berprihatin dan mencari kesempatan
untuk mengeruhkan suasana, mengacaukan keadaan. Namun pengaruh mereka tidak
besar dan usaha-usaha buruk mereka itu tidak ada artinya, tenggelam dalam
lautan damai.
Seperti telah
direncanakan semula, Roro Luhito dihubungi Joko Wandiro atau Adipati
Tejolaksono. Ketika Joko Wandiro tiba di Pulau Sempu, ia hanya mendapatkan
Kartikosari dan Roro Luhito, Endang Patibroto tidak berada di pulau itu lagi.
”Dia telah
pergi.......! Tidak mau di sini bersamaku. Dia merasa hancur hatinya, dia
merasa tidak ada orang di dunia ini yang mengasihinya, dia ingin hidup sendiri,
entah di mana. Ahh, aku tidak dapat membayangkan apa jadinya dengan Endang
Patibroto," kata Kartikosari dengan wajah muram.
Diam-diam Joko
Wandiro menaruh kasihan kepada Kartikosari yang banyak mengalami penderitaan
ini.
"Salahku
sendiri," wanita itu melanjutkan,
"aku
tidak menyalahkan Endang Patibroto........ terlahir dalam keadaan tidak
sewajarnya, dia pernah dilanda kebencian dalam hatiku, pernah kulemparkan dia
dalam badai. Sekarang semua ini hanyalah buah yang harus kupetik dari pohon
yang kutanam sendiri. Dewata adil, dan aku akan menerima segala derita dan
hukumannya...”
No comments:
Post a Comment