Joko Wandiro dan Roro Luhito menghibur dan akhirnya Kartikosari yang sudah mengandung tua itu menurut juga ketika diajak oleh Joko Wandiro dan Roro Luhito untuk tinggal di Selopenangkep, bersama Joko Wandiro yang menganggap mereka berdua seperti orang-orang tua yang harus ia hormati dan junjung sebagai pengganti orang, tuanya.
"Mendiang
paman Pujo adalah ayah saya di dalam hati, bibi," katanya antara lain,
"karena
itu, bibi sebagai isterinya juga sudah sepatutnya kalau kuanggap sebagai ibu
sendiri bersama bibi Roro Luhito, sudilah bibi tinggal bersama saya di
Selopenangkep."
Pinangan
terhadap Ayu Candra dilakukan dan semua berlangsung lancar sampai tiba saat
pernikahan dirayakan. Ramai dan meriah pesta pernikahan ini. Bahkan sang prabu
di Panjalu sendiri berkenan hadir dan memberi doa restu. Seluruh rakyat
Selopenangkep bergembira ria. Mereka semua menaruh harapan baik atas diri
adipati muda di Selopenangkep yang kabarnya amat adil, arif bijaksana, dan
sakti mandraguna itu. Menaruh harapan agar di bawah bimbingannya, rakyat daerah
pantai selatan akan hidup aman makmur, tata tenteram, kerta raharja. Hanya
dapat dibayangkan, sungguh sukar dituturkan, betapa bahagia rasa hati Joko
Wandiro dan Ayu Candra ketika mereka bertemu sebagai sepasang mempelai. Mereka
tidak hanya saling mencinta dengan hati tulus ikhlas, juga yang terpenting dari
sebuah ikatan pernikahan, mereka sudah saling mengenal watak masing-masing,
sudah melihat dengan mata terbuka segala segi sifat buruknya. Karena hanya
pengertian dan pemakluman akan semua sifat baik maupun buruk dari sisihannya
inilah yang akan mengekalkan cinta kasih suami isteri, akan memperbesar
toleransi, saling mengasuh, saling mengalah, saling mengasih, saling mengolah
sehingga tercapailah keluarga bahagia yang menjadi idaman semua pasangan di
dunia ini.
Jauh di pantai
Laut Selatan, di tempat yang sunyi sepi, di antara batu-batu karang yang
berdiri kokoh kuat dan tegak bagaikan raksasa-raksasa, duduklah seorang wanita
di atas batu karang menghadapi Laut Selatan yang menggelora. Pantai itu adalah
pantai Karangracuk di Baron dan wanita itu bukan lain adalah Endang Patibroto!
Di sinilah ia hidup sejak kecil. Di sinilah ia dahulu diasuh ibunya, digembleng
dan dididik. Batu-batu karang ini tetap tidak berubah. Semua manusia berubah.
Ibu kandungnya sendiripun kini membencinya. Joko Wandiro membencinya. Bibi Roro
Luhito membencinya. Apalagi Ayu Candra. Tak seorangpun di dunia ini suka
kepadanya. Hanya batu karang-batu karang di tepi pantai Karangracuk tidak
berubah. Masih seperti dahulu ketika ia kecil. Dan ombak-ombak yang tak kunjung
henti itupun tidak pernah berubah. Masih berdendang menyanyikan lagu badai,
menghiburnya. Endang Patibroto sudah berhari-hari duduk di situ seperti arca.
Rambutnya kusut masai dan terurai berkibar-kibar ditiup angin Laut Selatan.
Wajahnya pucat, pandang matanya sayu, hatinya perih dan duka. Masih terngiang
di telinganya suara ibunya di Pulau Sempu,
"Engkau
anak durhaka, engkau anak yang mengotori pesan kakang-mas Pujo. Engkau pantas
menjadi anak Jokowanengpati, karena itu engkau patut pula menjadi
musuhku!"
Hebat
kata-kata ini, menusuk jantungnya sampai tembus. Ucapan itulah yang membuat ia
segera pergi meninggalkan Sempu setelah ia siuman dalam pelukan ibunya. Ibunya
menangisinya, menahannya, namun ia tidak mau. Ia tahu bahwa di lubuk hati
ibunya sudah terdapat keraguan, mengira ia anak Jokowanengpati yang harus
dibencinya! Endang Patibroto menutupi muka dengan kedua tangannya. Pundaknya
terguncang tanda bahwa ia menangis. Semenjak kemarin dulu ia selalu begini.
Termenung atau menangis. Ia tidak tahu batapa udara menjadi gelap, tidak tahu
bahwa mendung mulai berkumpul, tidak tahu betapa laut menjadi tenang, terlalu
tenang sebagai tanda akan datangnya badai yang mengamuk. Biasanya kalau badai
akan mengamuk, Laut Selatan menjadi tenang, tenang sekali seakan-akan raksasa
yang tidur atau samadhi mengumpulkan tenaganya sebelum mengamuk dahsyat. Ia
tidak tahu pula betapa angin seperti berhenti meniup.
"Apa
dosaku?" Pertanyaan ini berkali-kali menghantam hati dan pikirannya.
"Apa
salahku kalau aku benar keturunan Jokowanengpati? Salahkah aku kalau aku
menjadi murid Dibyo Mamangkoro? Salahkah aku kalau aku membenci Joko Wandiro
dan Ayu Candra karena mereka saling mencinta dan karena pemuda itu tidak
memperdulikan diriku? Salahkah aku kalau aku mencinta Joko Wandiro dengan
sepenuh hatiku, kemudian berbalik benci karena dia tidak memperdulikanku?
Salahkah aku kalau aku membunuh Jokowanengpati? Salahkah aku kalau aku membunuh
Listyakumolo yang telah membunuh Pujo ayahku?"
Pertanyaan-pertanyaan
ini selalu mengiang di telinganya dan tiada seorangpun menjawab. Jawaban yang
ia terima hanya dari Laut Selatan yang bergemuruh seperti kakek-kakek menggumam
dan tiupan angin yang melengking seperti tangis perawan cengeng. Kini angin
mulai bertiup kencang. Air mulai mendidih. Makin lama angin bertiup makin
kencang, air laut mulai berguncang dan menggelora. Badai mulai datang. Cuaca
makin gelap. Akan tetapi Endang Patibroto seperti tidak merasakan itu semua. Ia
menangis tersedu-sedu, persis seperti Kartikosari dulu menangis, di atas batu
karang itu pula. Hanya bedanya, kalau Kartikosari menangis karena teringat
Pujo, Endang Patibroto kini menangis bukan hanya teringat kepada Joko Wandiro,
melainkan terutama sekali teringat akan keadaan dirinya. Tiba-tiba Endang
Patibroto memandang ke depan. Ombak Laut Selatan mengamuk setinggi bukit,
saling terjang dengan ombak yang kembali dari pantai, menimbulkan suara
menjelegur, bergemuruh.
“Kenapa”
Endang Patibroto memekik, seakan-akan ia bertanya, kepada badai.
"Kenapa
semua orang membenciku?"
Sebagai
jawaban, sebuah ombak yang besar menyambar dan menubruknya, kemudian pecah di
sekitar tubuhnya. Namun Endang Patibroto masih duduk di situ, tak bergeming. Hanya
tubuhnya basah kuyup. Terasa asin di mulutnya dan tidak tahu lagi, air lautkah
atau air matanya yang asin itu. Ia tidak peduli akan amukan badai Laut Selatan
karena badai di dalam hatinya mengamuk lebih hebat, menggelora daripada badai
Laut Selatan.
Makan sering
lah ombak mencambuknya, makin lama makin kuat. Kalau saja Endang Patibroto
seorang biasa, tentu tubuhnya sudah rusak-rusak dibanting lidah ombak yang amat
kuat itu kepada batu karang. Akan tegapi Endang Patibroto merasa seperti
dielu-elukan, seperti dibuai dan dicumbu. Wajahnya berubah, makin bersinar
mukanya dan kini ia bangkit berdiri tegak menanti datangnya lidah ombak dengan
penuh penyerahan, seperti menanti datangnya kekasih yang hendak menjemputnya.
"Tidak
ada manusia yang cinta kepadaku! Tapi badai Laut Selatan mencintakan Mengapa
tidak? Marilah, badai majulah. Marilah kekasihku, jemputlah aku"
Bagaikan
seorang gila, Endang Patibroto menyambut datangnya serbuan ombak yang amat
kuat. Kalau tadi ia duduk, lidah ombak menelannya dan kekuatan lidah ombak yang
mencambuk itu lewat di atas kepalanya. Akan tetapi kini lidah ombak itu
langsung menghantam tubuhnya yang berdiri. Ia kuat menahan, namun tubuhnya
bergoyang-goyang. Terdengar suara lengking tawanya di antara gemuruh suara
ombak. Suara ketawa yang nyaring dan bebas sewajarnya, seperti anak-anak
bermain atau seperti seorang gadis manja digoda kekasihnya.
"Endangggg...!
Endaannng.....,.! Endang Patibroto”
Suara
panggilan ini sebetulnya sudah sejak tadi diteriakkan orang. Seorang laki-laki
yang dengan susah payah menempuh angin badai. Beberapa kali orang roboh itu
terjengkang tertiup angin bergulingan, akan tetapi ia berhasil memegang batu
karang dan merangkak maju lagi. Kini ia sudah dekat dengan batu-batu karang
besar yang berbaris di tepi pantai, di mana lidah-lidah ombak memecah dahsyat.
Ia maju terus, tertatih tatih, terhuyung-huyung, kadang-kadang merangkak, maju
demi sedikit terus berteriak memanggil dengan suara serak,
"Endaaaangggg...!!”
Lidah ombak
melampaui batu karang, menyambar laki-laki itu, menyeret kakinya sehingga ia
jatuh dan terbawa ke darat kembali. Namun ia bangkit berdiri dan lari ke
pinggir, tidak perduli badai yang mengamuk hebat, tak perduli, bahwa
keselamatan nyawanya sendiri terancam kalau ia sempat diseret ombak ke tengah,
dibanting ke atas batu karang sampai tubuhnya akan hancur berkeping-keping. Ia
terhuyung-huyung maju, memanggil-manggil nama Endang Patibroto Sudah tampak
olehnya tubuh gadis itu berdiri tegak di atas batu karang, menantang ombak dan
badai, dengan kedua lengan direntangkan, seperti hendak memeluk kekasih yang
datang dari depan. Sudah terdengar olehnya suara ketawa Endang Patibroto, dan
semua itu membangkitkan tekadnya, memperkuat tenaganya yang sudah rnulai lelah.
"Endang.......!
Eindang.. ! Jangan.... jangan pergi, Endang kekasihku..... Tunggulah
aku........ tunggu.......!!”
Sebuah ombak
yang besar datang menerjang melenyapkan tubuh Endang Patibroto, terus menelan
batu karang dan menelah tubuh laki-laki itu. Laki-laki itu meramkan mata,
mulutnya menyebut nama dewata dan ia tertelungkup, merangkul sebuah batu
karang. Ketika ombak itu menipis dan kembali ke laut, Endang Patibroto masih
berdiri tegak, dan laki-laki itu setengah pingsan. Namun ia masih memaksa diri
mendaki, batu karang yang runcing tajam-tajam dan amat tinggi itu. Akhirnya
dengan susah payah sampailah ia di puncak batu karang, lalu tanpa memperdulikan
ancaman ombak badai ia menubruk dan merangkul kaki Endang Patibroto sambil
memekik,
"Endang
Patibroto..., kekasihku...... aku cinta kepadamu, Endang.......!"
Laki-laki itu jatuh bergelimpangan, pingsan sambil memeluk kedua kaki Endang
Patibroto!
Bagaikan sadar
dari sebuah mimpi buruk, Endang Patibroto menundukkan mukanya, terkejut melihat
laki-laki itu.
"Pangeran
Panjirawit.......!!"
Pada saat itu,
kembali ombak besar datang menyerbu. Endang Patibroto yang sudah sadar, cepat
meraih tubuh itu dan mengangkatnya naik, mengerahkan tenaganya dan sambil
memondong tubuh itu melompat ke atas batu karang yang lebih tinggi,
satu-satunya batu karang yang tak pernah dilanda ombak dalam badai itu, hanya
dihujani percikan ombak yang pecah menjadi atom. Laki-laki itu sudah siuman,
segera sadar dan ingat akan keadaannya yang sudah dirangkul. Keduanya
berangkulan. Bertangisan.
"Endang...
Endang Patibroto.... aku menyusulmu dan bertanya-tanya ke... Selopenangkep.....
aku mendengar dari ibumu....... beliaulah yang mengatakan bahwa mungkin kau
kembali ke tempat ini, tempat kau dibesarkan... aku.......aku khawatir sekali
Endang, aku mencintamu engkau dewi pujaan hatiku, tak tahukah engkau? Aku cinta
kepadamu ....... eh, betapa bahagia melihatmu masih hidup......."
"Sstttt,
diamlah....... diamlah.......biarkan aku menikmati kebahagiaan ini tanpa
suara......." Endang Patibroto merangkul, mencium, menangis, kemudian ia
menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Pangeran Panjirawit.
Pangeran
itupun tersedu dan mengangkat bangun tubuh Endang Patibroto, merangkulnya erat-
erat tak hendak dilepaskannya lagi.
"Endang,
tak boleh kau meninggalkan aku lagi......." bisiknya.
"Tapi,
gusti......."
"Husshhh,
aku bukan gustimu, aku kekasihmu, calon suamimu......."
"Tapi.....
tapi aku....... seorang yang...”
Pangeran
Panjirawit menutup mulut itu dengan sebuah ciuman mesra.
"Engkau
seorang dewi, dewiku. Engkau akan menjadi isteriku "
"Akan
tetapi aku tidak mau hidup di istana, tak mau terlibat dalam perang dan
pertandingan..."
"Takkan
ada perang, takkan ada pertandingan, dan aku sendiripun sudah mendapat ijin
dari ramanda prabu untuk tinggal di luar istana, membentuk keluarga bersamamu.
Perang sudah berakhir, yang ada hanya damai dan tenteram. Jangan khawatir,
jiwaku, engkau takkan bertanding lagi. Engkau akan mengganti keris dengan
pisau..."
"Pisau..?"
"Ya,
pisau dapur karena engkau harus pandai masak untukku, untuk kita, untuk
anak-anak kita." Pangeran itu tersenyum. "Endang, jiwaku, kekasihku,
mari kita pulang......."
"Pulang...?"
"Ya,
pulang ke rumah kita, sayang. Mempersiapkan upacara pernikahan. Kita undang
mereka semua. Ibumupun sudah siap. Kita undang mereka semua agar mereka dapat
menyaksikan dan ikut bergembira. Bukankah kau bahagia, Endang?"
"Aku..
aku... ahhhhh... " Gadis itu menangis tersedu-sedu dalam pelukan Pangeran
Panjirawit yang membiarkannya menangis untuk menguras habis semua kepahitan dan
kedukaaan hati.
Kalau kepahitan
sudah dikuras oleh tangis, maka tangis itu akan berubah menjadi tangis bahagia.
Sementara itu, ombak badai Laut Selatan mulai mereda. Tiada keadaan yang tak
berubah di dunia ini. Badai akan mereda, hujan akan berhenti, tangispun akan
berhenti dan mengalah, memberikan kesempatan kepada tawa. Yang gelap terganti
terang, mendung mer ijadi cerah, tangis menjadi tawa dan duka berganti suka.
Tiada yang langgeng di dalam kehidupan ini, semua akan berubah, berubah dan
berubah lagi. Berubahkah semua itu? Sesungguhnyalah, namun perubahan itu memang
wajar, sudah semestinya, dan wajar inilah langgeng.
TAMAT
No comments:
Post a Comment