Badai Laut Selatan ; Bagian 022


Ia menoleh ke arah laut dan berkata,
"Terima kasih, ayahku Laut Selatan! Terima kasih! Kau telah mengembalikan cucumu kepadaku! Baik, akan kurawat dia, akan kujadikan dia seorang gadis yang patut menjadi cucu Laut Selatan!"
Kartikosari lalu berlari-lari mendukung anaknya yang masih menyusu lahap itu menuju ke dalam guha yang menjadi tempat tinggalnya. Semenjak saat itu, hidupnya mempunyai arah dan tujuan. Tidak hanya untuk membalas dendam kepada Wisangjiwo, akan tetapi juga untuk merawat dan mendidik puterinya. Endang Patibroto! Ya, demikianlah ia memberi nama kepada puterinya. Endang Patibroto. Patibroto berarti setia kepada suami. Ya, memang ia selalu setia kepada suaminya, bahkan terjadinya peristiwa hina di malam jahanam dalam Guha Siluman sehingga menimbulkan akibat seperti yang dideritanya sekarang, semata-mata karena kesetiaannya kepada suaminya.

Tak peduli anak siapa bayi itu, ia tetap setia kepada suaminya, setia lahir batin. Biarlah dunia mengutuknya, biarlah suaminya mengumpat caci dan tidak mempercaya akan kesetiaannya, namun Laut dan Badai tahu! Dia sendiri tahu! Puterinya tahu! Karena itu, puterinya harus bernama Endang Patibroto sebagai bukti dan penguat kesetiaannya. Mulailah Kartikosari memperhatikan kesehatannya, demi puterinya, demi Endang Patibroto. Mulai ia membawa sisa perhiasan emasnya ke dusun dan minta kepada penghuni dusun yang keheranan itu untuk membawa perhiasannya ke kota, menjual dan menukarkan dengan pakaian dan kebutuhan lain. Mulailah ia kini setiap hari mencari sarang burung di tempat-tempat yang sukar, lalu menyuruh penghuni dusun menjualnya ke kota. Di kota banyak terdapat pedagang yang suka berdagang ke kota-kota besar dan kabarnya sarang burung itu dijualnya kepada Bangsa Cina dengan harga tinggi.
Ia merawat puterinya penuh kasih sayang, penuh perhatian. Di samping ini ia tekun pula bertapa, tekun menggembleng diri dengan ilmu-ilmu yang diperdalamnya, bahkan ia mulai merangkai ilmu-ilmu pukulan sambil meneliti gerakan burung-burung walet dan burung camar (elang laut), merangkai ilmu merayap sambil meneliti gerakan bermacam kepiting dan ilmu meloncat berdasarkan gerakan monyet yang banyak berkeliaran di pantai. Ia menghimpun tenaga, memperdalam ilmu, bukan hanya untuk kelak membalas dendam kepada musuh besarnya, melainkan juga untuk diturunkan kelak kepada Endang Patibroto!.
Mulailah ia melihat matahari bersinar, mulailah sinar gembira bernyala dalam dadanya, karena hidupnya kini ada artinya. Ia berpesan dan disertai ancaman kepada penghuni dusun yang pernah menolongnya agar mereka itu tidak menceritakan keadaan dirinya kepada orang lain. Karena penduduk dusun kini yakin, bahwa puteri cantik ini benar-benar bukan manusia, kalau datang dan perginya bukan berjalan melainkan terbang, tentu saja mereka ketakutan dan mentaati pesan ini. Kartikosari sengaja memperlihatkan kepandaiannya dan bergerak secepat terbang untuk memaksa mereka takut dan percaya kepadanya.

Kita tinggalkan dulu Kartikosari yang hidup bersunyi dengan puterinya, dan mari kita menjenguk sejenak keadaan Roro Luhito, wanita lain yang juga mengalami nasib buruk akibat perbuatan terkutuk Jokowanengpati. Hanya saja, dibandingkan Kartikosari, Roro Luhito tidaklah menanggung kesengsaraan batin yang terlalu parah. Hal ini adalah karena di lubuk hatinya, gadis puteri Adipati Joyowiseso ini menaruh cinta kepada Pujo! Oleh karena rasa cinta inilah maka peristiwa di malam hari dalam kamarnya itu tidaklah amat disesalkannya, sungguhpun tentu saja ia tidak menghendaki demikian. Namun hal itu telah terjadi, dan kini gadis yang lincah ini melarikan diri dari orang tuanya. Mengapa? Untuk mencari Pujo! Ia telah menjadi milik Pujo, dan ia rela menyerahkan jiwa raganya kepada Pujo. Rela pula andaikata ia hanya menjadi isteri ke dua.
Akan tetapi, ke manakah ia harus mencari Pujo? Inilah yang menyusahkan hatinya. Memang semestinya ia tidak secara membabi buta pergi sendiri mencari Pujo, akan tetapi ia telah mendengar bahwa ia hendak dijodohkan dengan Jokowanengpati dan ia sama sekali tidak menghendaki hal ini terjadi! Andaikata tidak terjadi peristiwa dengan Pujo, agaknya ia tidaklah akan berkukuh benar.
Namun, setelah tubuhnya menjadi milik Pujo, bagaimana ia bisa menjadi isteri orang lain? Apalagi isteri Jokowanengpati yang mengetahui akan terjadinya peristiwa itu? Tidak! Ia tentu kelak hanya akan menjadi bahan hinaan dan cemoohan Jokowanengpati belaka. Ia harus mencari Pujo, sekarang juga. Tadinya Roro Luhito hendak mencari ke daerah pantai. Akan tetapi gadis ini membatalkan niatnya ketika ia berpikir bahwa setelah melakukan perbuatan di Kadipaten Selopenangkep, agaknya tak mungkin Pujo akan kembali ke pesisir. Tentu Pujo juga maklum bahwa adipati akan mengerahkan pasukannya mencarinya di daerah pantai di sekitar Sungapan atau di Guha Siluman. Masa Pujo begitu bodoh akan menanti datangnya serbuan di sana? Pasti orang muda itu sudah berlari ke jurusan lain! Karena pendapat inilah maka Roro Luhito bukannya lari ke selatan melainkan sebaliknya, ia lari ke utara! Selain menduga bahwa Pujo tidak berada di selatan, juga gadis ini ingin menghindari pengejaran ayahnya.
Roro Luhito biarpun seorang wanita, namun ia pernah mempelajari olah keprajuritan. Tubuhnya yang ramping padat itu kuat sekali, gerak-geriknya tangkas cekatan. Oleh karena inilah maka perjalanan naik turun gunung itu tidak amat menyukarkan benar padanya. Beberapa hari kemudian ia telah menyeberangi Gunung Merbabu yang besar dan pada hari Selasa Kliwon menjelang senja, ia telah berada di lereng Gunung Telomoyo yang terletak di sebelah utara Gunung Merbabu. Di dalam hatinya Roro Luhito mulai mengeluh. Sudah banyak bukit kecil ia lalui, bahkan kini gunung yang amat besar berada di belakangnya, menghadapi puncak gunung lain yang kelihatan menyeramkan. Akan tetapi belum kelihatan sedikitpun jejak Pujo! Sering sudah ia bertanya-tanya orang di jalan, setiap dusun ia singgahi, namun tak seorangpun tahu akan Pujo. Dan pada senja hari ini ia kemalaman di dalam hutan di lereng sebuah sebuah gunung yang puncaknya kelihatan serem menakutkan. Ia harus terpaksa bermalam di dalam hutan yang sunyi dan besar, sedangkan malam nanti gelap tiada bulan.
"Sebelum gelap benar, aku harus mencari tempat mengaso yang enak," pikirnya dan mulailah ia mencari-cari. Hutan itu luas, penuh pohon-pohon besar yang sudah ribuan tahun umurnya. Dari dalam hutan itu terdengar suara bermacam binatang buas. Mendengar aum harimau, Roro Luhito bergidik. Ia sebenarnya tidak takut berhadapan dengan harimau buas, dan ia berani melawannya dengan keris di tangan. Pernah ketika di Kadipaten Selopenangkep diadakan keramaian mengurung harimau, ia tidak ketinggalan ikut pula menghadapi kebuasan harimau. Akan tetapi di dalam hutan sebesar ini, apalagi di waktu malam gelap kalau ia sedang tertidur lalu muncul banyak harimau! Siapa orangnya tidak gentar? Ia menoleh ke atas. Lebih baik aku mengaso di dalam pohon besar, pikirnya. Sebuas-buasnya harimau, tidak mungkin dapat mencapaiku di atas pohon.

Akan tetapi pada saat itu, daun-daun besar bergoyang-goyang, terdengar suara cecowetan dan muncullah banyak lutung (monyet hitam) yang besar-besar! Roro Luhito bergidik. Lutung-lutung itu tidaklah sebuas harimau, akan tetapi kalau orang sedang berada di pohon lalu dikeroyok lutung, alangkah ngerinya. Hendak melawanpun bagaimana caranya kalau sedang berada di pohon? Roro Luhito segera mengambil batu-batu kecil dan menyambiti lutung-lutung itu, maksud hatinya hendak mengusir binatang-binatang itu agar pohon besar itu kosong. Sambil menyambit ia membentak,
"Lutung-lutung busuk, pergi dari pohon! Pohon ini tempatku untuk malam ini, kalian tidak boleh mendekat!"
Belasan ekor lutung itu melarikan diri berloncatan sambil mengeluarkan bunyi ramai cecowetan seakan-akan mengumpat caci kepada gadis nakal yang mengganggu mereka. Roro Luhito tertawa geli, kemudian dengan cepat ia mengenjot tubuhnya ke atas, menyambar cabang pohon terendah, lalu mengayun tubuhnya ke atas dan mulailah ia memanjat pohon besar itu. Dipilihnya cabang yang berdempetan, membabati daun-daun dengan kerisnya, kemudian ia membuat tempat duduk yang cukup enak. Lumayan, pikirnya sambil duduk di atas anyaman ranting di atas cabang. Namun, setelah matahari terbenam dan ia tenggelam pula dalam lautan hitam yang gelap, datanglah gangguan-gangguan yang membuat Roro Luhito semalam suntuk tak dapat tidur dan mengalami kecemasan. Hanya sinar bintang-bintang di angkasa yang menerangi kegelapan. Sinar remang-remang namun cukup bagi Roro Luhito untuk melihat betapa tiga ekor harimau yang besar-besar berkeliaran di bawah pohon. Tiga ekor macan loreng itu berhenti di bawah pohon, mendengus-dengus lalu mengaum seakan-akan kegirangan mencium bau manusia akan tetapi kecewa karena bau itu datangnya dari atas pohon. Dari atas pohon, Roro Luhito melihat tiga pasang mata macan seperti lampu menyala bergerak-gerak, kuning kehijauan warnanya. Kemudian ia melihat binatang-binatang buas itu berdiri dengan kedua kaki depan menggaruk-garuk batang pohon, agaknya hendak merobohkan pohon agar calon mangsa yang baunya membuat mereka mengilar itu ikut pula jatuh ke bawah. Beberapa jam lamanya tiga ekor harimau itu mendekam di bawah pohon, seakan-akan hendak menanti turunnya orang yang berada di atasnya. Kemudian mereka pergi dengan langkah malas dan legalah hati Roro Luhito. Akan tetapi, kekhawatirannya membuat gadis itu tak dapat tidur, takut kalau-kalau ia akan terjatuh dari atas pohon, atau kalau-kalau dalam keadaan pulas ia diserang binatang buas. Terutama sekali banyak lutung di sekitar pohon itu mendatangkan gaduh, membuat bising. Beberapa kali ia membentak-bentak mengusir binatang itu, menyuruh mereka diam. Namun sia-sia. Sebentar mereka diam ketakutan, di lain saat mereka sudah cecowetan lagi.

Ketika sinar matahari mulai mengusir embun pagi, saking lelahnya Roro Luhito tertidur. Entah berapa lama ia pulas, ia sendiri tidak tahu. Akan tetapi mendadak ia kaget sekali dan tersentak bangun. Lima ekor lutung jantan besar telah berada di sekelilingnya dan memperlihatkan taring. Rofo Luhito terpekik dan meraba kerisnya. Kerisnya tidak ada lagi. Di tempat agak jauh ia melihat seekor lutung betina memegang-megang kerisnya! Celaka, kerisnya telah dicuri lutung-lutung ini di waktu ia pulas. Sambil berpegang kepada dahan pohon, Roro Luhito mengayun kakinya.
"Bukkk!"
Lutung jantan yang berada paling dekat dengannya terpental dan memekik kesakitan, namun tidak sampai terjatuh ke bawah karena tangannya sudah berhasil menyambar ranting pohon. Lima ekor lutung itu kini meringis-ringis, menggeram-geram dengan sikap mengancam. Melihat gelagat amat tidak baik dan berbahaya bagi dirinya yang sudah tidak memegang senjata, Roro Luhito bertindak cepat. Ia meloncat ke bawah menangkap dahan pohon, lalu meloncat lagi, akhirnya ia tiba di atas tanah. Gerakannya cepat dan tangkas sekali, dan andaikata ia tidak sedang dalam bahaya, belum tentu ia berani menuruni pohon secara itu. Akan tetapi, begitu ia tiba di atas tanah, lima ekor lutung jantan itu telah berada di sekelilingnya dan mulailah binatang-binatang itu memekik-mekik dan menyerangnya. Menyerang secara liar, ganas dan membabi-buta! Roro Luhito meloncat mundur, tidak mau sampai terpegang oleh binatang-binatang liar itu, maka kaki tangannya lalu bergerak, memukul dan menendang. Namun, betapa pun tangkasnya, Roro Luhito tidak dapat menandingi ketangkasan lima ekor lutung jantan yang besar. Pukulan dan tendangannya semua meleset, tidak mengenai sasaran sedangkan lima ekor lutung itu kini serentak melompat dan menyerbu. Ada yang hinggap di pundak dan menjambaki rambutnya, ada yang memegangi kaki, ada yang menarik dan merobek pakaian. Roro Luhito hampir pingsan karena geli dan jijik, apalagi ketika jari-jari tangan yang panjang berbulu itu mengcengkerami tubuhnya di tengkuk, di dada, di pinggang, mulailah Roro Luhito, puteri adipati yang biasanya merasa gagah perkasa itu, berteriak-teriak minta tolong. Rambutnya awut-awutan, pakaiannya robek-robek dan darah mulai mengucur dari luka-luka gigitan lutung-lutung jantan!
"Toloooonggggg..... tolongggg.....! Ah..... ini..... tolonggg.....!" teriaknya,geli, jijik dan takut.
Mendadak terdengar suara gerengan hebat, disusul berkelebatnya bayangan putih menyambar-nyambar dan dalam sekejap mata saja lima ekor lutung itu sudah tidak mengeroyok Roro Luhito lagi, akan tetapi sudah menggeletak di atas tanah dan mati dengan leher berdarah! Roro Luhito berdiri tertegun, terbelalak matanya memandang kepada seekor monyet putih sebesar anak-anak belasan tahun, monyet berbulu putih bermata merah taringnya tampak merah oleh darah lima ekor lutung yang tadi disambar dan digigit lehernya. Melihat monyet putih itu datang mendekat, Roro Luhito sudah lemas dan menjerit lirih dan pingsan. Tubuhnya tentu akan terbanting ke tanah kalau monyet putih itu tidak cepat menyambarnya, memanggulnya dan membawanya lari berloncatan dari pohon ke pohon. Hebat tenaga monyet putih ini. Memanggul tubuh Roro Luhito yang lebih besar dari padanya, ia kelihatan enak saja dan masih dapat berloncatan dengan tangkas dan ringan, kadang-kadang turun ke tanah dan berlari-lari mendekati puncak Gunung Telomoyo.

Di tengah jalan Roro Luhito siuman dari pingsannya. Akan tetapi begitu membuka mata dan mendapat kenyataan bahwa ia dibawa berlari-lari meloncat-loncat dari batu ke batu di atas jurang yang curam sekali, tubuhnya dipanggul di atas pundak kera berbulu putih, ia mengeluh perlahan dan pingsan lagi!.

<<< Bagian 021                                                                                    Bagian 023 >>>

No comments:

Post a Comment