Ia menoleh ke arah laut dan berkata,
"Terima
kasih, ayahku Laut Selatan! Terima kasih! Kau telah mengembalikan cucumu
kepadaku! Baik, akan kurawat dia, akan kujadikan dia seorang gadis yang patut
menjadi cucu Laut Selatan!"
Kartikosari
lalu berlari-lari mendukung anaknya yang masih menyusu lahap itu menuju ke
dalam guha yang menjadi tempat tinggalnya. Semenjak saat itu, hidupnya
mempunyai arah dan tujuan. Tidak hanya untuk membalas dendam kepada Wisangjiwo,
akan tetapi juga untuk merawat dan mendidik puterinya. Endang Patibroto! Ya,
demikianlah ia memberi nama kepada puterinya. Endang Patibroto. Patibroto
berarti setia kepada suami. Ya, memang ia selalu setia kepada suaminya, bahkan
terjadinya peristiwa hina di malam jahanam dalam Guha Siluman sehingga
menimbulkan akibat seperti yang dideritanya sekarang, semata-mata karena
kesetiaannya kepada suaminya.
Tak peduli
anak siapa bayi itu, ia tetap setia kepada suaminya, setia lahir batin. Biarlah
dunia mengutuknya, biarlah suaminya mengumpat caci dan tidak mempercaya akan
kesetiaannya, namun Laut dan Badai tahu! Dia sendiri tahu! Puterinya tahu!
Karena itu, puterinya harus bernama Endang Patibroto sebagai bukti dan penguat
kesetiaannya. Mulailah Kartikosari memperhatikan kesehatannya, demi puterinya,
demi Endang Patibroto. Mulai ia membawa sisa perhiasan emasnya ke dusun dan
minta kepada penghuni dusun yang keheranan itu untuk membawa perhiasannya ke
kota, menjual dan menukarkan dengan pakaian dan kebutuhan lain. Mulailah ia
kini setiap hari mencari sarang burung di tempat-tempat yang sukar, lalu
menyuruh penghuni dusun menjualnya ke kota. Di kota banyak terdapat pedagang
yang suka berdagang ke kota-kota besar dan kabarnya sarang burung itu dijualnya
kepada Bangsa Cina dengan harga tinggi.
Ia merawat
puterinya penuh kasih sayang, penuh perhatian. Di samping ini ia tekun pula
bertapa, tekun menggembleng diri dengan ilmu-ilmu yang diperdalamnya, bahkan ia
mulai merangkai ilmu-ilmu pukulan sambil meneliti gerakan burung-burung walet
dan burung camar (elang laut), merangkai ilmu merayap sambil meneliti gerakan
bermacam kepiting dan ilmu meloncat berdasarkan gerakan monyet yang banyak
berkeliaran di pantai. Ia menghimpun tenaga, memperdalam ilmu, bukan hanya
untuk kelak membalas dendam kepada musuh besarnya, melainkan juga untuk
diturunkan kelak kepada Endang Patibroto!.
Mulailah ia
melihat matahari bersinar, mulailah sinar gembira bernyala dalam dadanya,
karena hidupnya kini ada artinya. Ia berpesan dan disertai ancaman kepada penghuni
dusun yang pernah menolongnya agar mereka itu tidak menceritakan keadaan
dirinya kepada orang lain. Karena penduduk dusun kini yakin, bahwa puteri
cantik ini benar-benar bukan manusia, kalau datang dan perginya bukan berjalan
melainkan terbang, tentu saja mereka ketakutan dan mentaati pesan ini.
Kartikosari sengaja memperlihatkan kepandaiannya dan bergerak secepat terbang
untuk memaksa mereka takut dan percaya kepadanya.
Kita
tinggalkan dulu Kartikosari yang hidup bersunyi dengan puterinya, dan mari kita
menjenguk sejenak keadaan Roro Luhito, wanita lain yang juga mengalami nasib
buruk akibat perbuatan terkutuk Jokowanengpati. Hanya saja, dibandingkan
Kartikosari, Roro Luhito tidaklah menanggung kesengsaraan batin yang terlalu
parah. Hal ini adalah karena di lubuk hatinya, gadis puteri Adipati Joyowiseso
ini menaruh cinta kepada Pujo! Oleh karena rasa cinta inilah maka peristiwa di
malam hari dalam kamarnya itu tidaklah amat disesalkannya, sungguhpun tentu
saja ia tidak menghendaki demikian. Namun hal itu telah terjadi, dan kini gadis
yang lincah ini melarikan diri dari orang tuanya. Mengapa? Untuk mencari Pujo!
Ia telah menjadi milik Pujo, dan ia rela menyerahkan jiwa raganya kepada Pujo.
Rela pula andaikata ia hanya menjadi isteri ke dua.
Akan tetapi,
ke manakah ia harus mencari Pujo? Inilah yang menyusahkan hatinya. Memang
semestinya ia tidak secara membabi buta pergi sendiri mencari Pujo, akan tetapi
ia telah mendengar bahwa ia hendak dijodohkan dengan Jokowanengpati dan ia sama
sekali tidak menghendaki hal ini terjadi! Andaikata tidak terjadi peristiwa
dengan Pujo, agaknya ia tidaklah akan berkukuh benar.
Namun, setelah
tubuhnya menjadi milik Pujo, bagaimana ia bisa menjadi isteri orang lain?
Apalagi isteri Jokowanengpati yang mengetahui akan terjadinya peristiwa itu?
Tidak! Ia tentu kelak hanya akan menjadi bahan hinaan dan cemoohan
Jokowanengpati belaka. Ia harus mencari Pujo, sekarang juga. Tadinya Roro
Luhito hendak mencari ke daerah pantai. Akan tetapi gadis ini membatalkan
niatnya ketika ia berpikir bahwa setelah melakukan perbuatan di Kadipaten
Selopenangkep, agaknya tak mungkin Pujo akan kembali ke pesisir. Tentu Pujo
juga maklum bahwa adipati akan mengerahkan pasukannya mencarinya di daerah
pantai di sekitar Sungapan atau di Guha Siluman. Masa Pujo begitu bodoh akan
menanti datangnya serbuan di sana? Pasti orang muda itu sudah berlari ke
jurusan lain! Karena pendapat inilah maka Roro Luhito bukannya lari ke selatan
melainkan sebaliknya, ia lari ke utara! Selain menduga bahwa Pujo tidak berada
di selatan, juga gadis ini ingin menghindari pengejaran ayahnya.
Roro Luhito
biarpun seorang wanita, namun ia pernah mempelajari olah keprajuritan. Tubuhnya
yang ramping padat itu kuat sekali, gerak-geriknya tangkas cekatan. Oleh karena
inilah maka perjalanan naik turun gunung itu tidak amat menyukarkan benar
padanya. Beberapa hari kemudian ia telah menyeberangi Gunung Merbabu yang besar
dan pada hari Selasa Kliwon menjelang senja, ia telah berada di lereng Gunung
Telomoyo yang terletak di sebelah utara Gunung Merbabu. Di dalam hatinya Roro
Luhito mulai mengeluh. Sudah banyak bukit kecil ia lalui, bahkan kini gunung
yang amat besar berada di belakangnya, menghadapi puncak gunung lain yang
kelihatan menyeramkan. Akan tetapi belum kelihatan sedikitpun jejak Pujo!
Sering sudah ia bertanya-tanya orang di jalan, setiap dusun ia singgahi, namun
tak seorangpun tahu akan Pujo. Dan pada senja hari ini ia kemalaman di dalam
hutan di lereng sebuah sebuah gunung yang puncaknya kelihatan serem menakutkan.
Ia harus terpaksa bermalam di dalam hutan yang sunyi dan besar, sedangkan malam
nanti gelap tiada bulan.
"Sebelum
gelap benar, aku harus mencari tempat mengaso yang enak," pikirnya dan
mulailah ia mencari-cari. Hutan itu luas, penuh pohon-pohon besar yang sudah
ribuan tahun umurnya. Dari dalam hutan itu terdengar suara bermacam binatang
buas. Mendengar aum harimau, Roro Luhito bergidik. Ia sebenarnya tidak takut
berhadapan dengan harimau buas, dan ia berani melawannya dengan keris di
tangan. Pernah ketika di Kadipaten Selopenangkep diadakan keramaian mengurung
harimau, ia tidak ketinggalan ikut pula menghadapi kebuasan harimau. Akan
tetapi di dalam hutan sebesar ini, apalagi di waktu malam gelap kalau ia sedang
tertidur lalu muncul banyak harimau! Siapa orangnya tidak gentar? Ia menoleh ke
atas. Lebih baik aku mengaso di dalam pohon besar, pikirnya. Sebuas-buasnya
harimau, tidak mungkin dapat mencapaiku di atas pohon.
Akan tetapi
pada saat itu, daun-daun besar bergoyang-goyang, terdengar suara cecowetan dan
muncullah banyak lutung (monyet hitam) yang besar-besar! Roro Luhito bergidik.
Lutung-lutung itu tidaklah sebuas harimau, akan tetapi kalau orang sedang
berada di pohon lalu dikeroyok lutung, alangkah ngerinya. Hendak melawanpun
bagaimana caranya kalau sedang berada di pohon? Roro Luhito segera mengambil
batu-batu kecil dan menyambiti lutung-lutung itu, maksud hatinya hendak
mengusir binatang-binatang itu agar pohon besar itu kosong. Sambil menyambit ia
membentak,
"Lutung-lutung
busuk, pergi dari pohon! Pohon ini tempatku untuk malam ini, kalian tidak boleh
mendekat!"
Belasan ekor
lutung itu melarikan diri berloncatan sambil mengeluarkan bunyi ramai cecowetan
seakan-akan mengumpat caci kepada gadis nakal yang mengganggu mereka. Roro
Luhito tertawa geli, kemudian dengan cepat ia mengenjot tubuhnya ke atas,
menyambar cabang pohon terendah, lalu mengayun tubuhnya ke atas dan mulailah ia
memanjat pohon besar itu. Dipilihnya cabang yang berdempetan, membabati
daun-daun dengan kerisnya, kemudian ia membuat tempat duduk yang cukup enak.
Lumayan, pikirnya sambil duduk di atas anyaman ranting di atas cabang. Namun,
setelah matahari terbenam dan ia tenggelam pula dalam lautan hitam yang gelap,
datanglah gangguan-gangguan yang membuat Roro Luhito semalam suntuk tak dapat
tidur dan mengalami kecemasan. Hanya sinar bintang-bintang di angkasa yang
menerangi kegelapan. Sinar remang-remang namun cukup bagi Roro Luhito untuk
melihat betapa tiga ekor harimau yang besar-besar berkeliaran di bawah pohon.
Tiga ekor macan loreng itu berhenti di bawah pohon, mendengus-dengus lalu
mengaum seakan-akan kegirangan mencium bau manusia akan tetapi kecewa karena
bau itu datangnya dari atas pohon. Dari atas pohon, Roro Luhito melihat tiga
pasang mata macan seperti lampu menyala bergerak-gerak, kuning kehijauan
warnanya. Kemudian ia melihat binatang-binatang buas itu berdiri dengan kedua
kaki depan menggaruk-garuk batang pohon, agaknya hendak merobohkan pohon agar
calon mangsa yang baunya membuat mereka mengilar itu ikut pula jatuh ke bawah.
Beberapa jam lamanya tiga ekor harimau itu mendekam di bawah pohon, seakan-akan
hendak menanti turunnya orang yang berada di atasnya. Kemudian mereka pergi
dengan langkah malas dan legalah hati Roro Luhito. Akan tetapi, kekhawatirannya
membuat gadis itu tak dapat tidur, takut kalau-kalau ia akan terjatuh dari atas
pohon, atau kalau-kalau dalam keadaan pulas ia diserang binatang buas. Terutama
sekali banyak lutung di sekitar pohon itu mendatangkan gaduh, membuat bising.
Beberapa kali ia membentak-bentak mengusir binatang itu, menyuruh mereka diam.
Namun sia-sia. Sebentar mereka diam ketakutan, di lain saat mereka sudah
cecowetan lagi.
Ketika sinar
matahari mulai mengusir embun pagi, saking lelahnya Roro Luhito tertidur. Entah
berapa lama ia pulas, ia sendiri tidak tahu. Akan tetapi mendadak ia kaget
sekali dan tersentak bangun. Lima ekor lutung jantan besar telah berada di
sekelilingnya dan memperlihatkan taring. Rofo Luhito terpekik dan meraba
kerisnya. Kerisnya tidak ada lagi. Di tempat agak jauh ia melihat seekor lutung
betina memegang-megang kerisnya! Celaka, kerisnya telah dicuri lutung-lutung
ini di waktu ia pulas. Sambil berpegang kepada dahan pohon, Roro Luhito
mengayun kakinya.
"Bukkk!"
Lutung jantan
yang berada paling dekat dengannya terpental dan memekik kesakitan, namun tidak
sampai terjatuh ke bawah karena tangannya sudah berhasil menyambar ranting
pohon. Lima ekor lutung itu kini meringis-ringis, menggeram-geram dengan sikap
mengancam. Melihat gelagat amat tidak baik dan berbahaya bagi dirinya yang
sudah tidak memegang senjata, Roro Luhito bertindak cepat. Ia meloncat ke bawah
menangkap dahan pohon, lalu meloncat lagi, akhirnya ia tiba di atas tanah.
Gerakannya cepat dan tangkas sekali, dan andaikata ia tidak sedang dalam
bahaya, belum tentu ia berani menuruni pohon secara itu. Akan tetapi, begitu ia
tiba di atas tanah, lima ekor lutung jantan itu telah berada di sekelilingnya
dan mulailah binatang-binatang itu memekik-mekik dan menyerangnya. Menyerang
secara liar, ganas dan membabi-buta! Roro Luhito meloncat mundur, tidak mau
sampai terpegang oleh binatang-binatang liar itu, maka kaki tangannya lalu
bergerak, memukul dan menendang. Namun, betapa pun tangkasnya, Roro Luhito
tidak dapat menandingi ketangkasan lima ekor lutung jantan yang besar. Pukulan
dan tendangannya semua meleset, tidak mengenai sasaran sedangkan lima ekor
lutung itu kini serentak melompat dan menyerbu. Ada yang hinggap di pundak dan
menjambaki rambutnya, ada yang memegangi kaki, ada yang menarik dan merobek
pakaian. Roro Luhito hampir pingsan karena geli dan jijik, apalagi ketika
jari-jari tangan yang panjang berbulu itu mengcengkerami tubuhnya di tengkuk,
di dada, di pinggang, mulailah Roro Luhito, puteri adipati yang biasanya merasa
gagah perkasa itu, berteriak-teriak minta tolong. Rambutnya awut-awutan,
pakaiannya robek-robek dan darah mulai mengucur dari luka-luka gigitan
lutung-lutung jantan!
"Toloooonggggg.....
tolongggg.....! Ah..... ini..... tolonggg.....!" teriaknya,geli, jijik dan
takut.
Mendadak
terdengar suara gerengan hebat, disusul berkelebatnya bayangan putih
menyambar-nyambar dan dalam sekejap mata saja lima ekor lutung itu sudah tidak
mengeroyok Roro Luhito lagi, akan tetapi sudah menggeletak di atas tanah dan
mati dengan leher berdarah! Roro Luhito berdiri tertegun, terbelalak matanya memandang
kepada seekor monyet putih sebesar anak-anak belasan tahun, monyet berbulu
putih bermata merah taringnya tampak merah oleh darah lima ekor lutung yang
tadi disambar dan digigit lehernya. Melihat monyet putih itu datang mendekat,
Roro Luhito sudah lemas dan menjerit lirih dan pingsan. Tubuhnya tentu akan
terbanting ke tanah kalau monyet putih itu tidak cepat menyambarnya,
memanggulnya dan membawanya lari berloncatan dari pohon ke pohon. Hebat tenaga
monyet putih ini. Memanggul tubuh Roro Luhito yang lebih besar dari padanya, ia
kelihatan enak saja dan masih dapat berloncatan dengan tangkas dan ringan,
kadang-kadang turun ke tanah dan berlari-lari mendekati puncak Gunung Telomoyo.
Di tengah
jalan Roro Luhito siuman dari pingsannya. Akan tetapi begitu membuka mata dan
mendapat kenyataan bahwa ia dibawa berlari-lari meloncat-loncat dari batu ke
batu di atas jurang yang curam sekali, tubuhnya dipanggul di atas pundak kera
berbulu putih, ia mengeluh perlahan dan pingsan lagi!.
No comments:
Post a Comment