Badai Laut Selatan ; Bagian 023


Matahari sudah naik tinggi ketika monyet putih itu tiba di puncak bukit yang tertutup halimun. Di tempat sunyi sejuk itu terdapat sebuah pondok sederhana. Ke dalam pondok inilah monyet putih masuk, terus menuju ke ruang dalam. Ruangan ini cukup luas, kosong tidak ada perabot rumahnya. Di sudut kiri terdapat sebuah arca sebesar satu setengah manusia, arca Sang Kapiworo Hanoman, tokoh besar berujud monyet berbulu putih yang menjadi senopati jaman Ramayana. Di depan arca Hanoman itu duduklah seorang kakek di atas batu yang bentuknya bundar dan halus. Kakek ini mukanya buruk bentuknya, seperti muka monyet. Hanya bedanya mukanya tidak berbulu seperti muka monyet. Rambutnya sudah putih semua, pakaian yang membungkus tubuhnya yang kurus juga serba putih. Kakek ini adalah seorang pertapa, berjuluk Resi Telomoyo, seorang yang menjadi pemuja Sang Hanoman! Dia seorang pertapa yang sakti mandraguna, akan tetapi mungkin sekali karena ia pemuja monyet sakti Hanoman, gerak-geriknya juga mirip monyet!. Biarpun sedang bersamadhi, suara "nguk-nguk" si monyet putih menyadarkan Resi Telomoyo. Ia membuka matanya, alisnya yang putih bergerak-gerak dan begitu pandang matanya bertemu dengan tubuh Roro Luhito yang menggeletak terlentang di atas lantai, ia berseru keras dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik dan kini ia duduk berjongkok di atas batu yang tadi ia duduki!
"Heh, Wanoroseto (kera putih)! Apa yang kauperbuat ini??" Kakek itu marah sekali, tubuhnya meloncat-loncat di atas batu, kadang-kadang ia mere-mere (meringkik-ringkik) seperti monyet marah bibirnya bergerak-gerak memperlihatkan gigi yang ompong!. Si monyet putih menjadi ketakutan, lalu mengeluarkan suara ngak-nguk-ngak-nguk dan membuat gerakan seperti menari-nari meniru gerakan lutung-lutung yang mengeroyok Roro Luhito dan menceritakan dengan suara nguk-nguk disertai gerak-gerik lucu. Kakek itu menggaruk-garuk kepalanya dengan gerakan monyet.
"Ah, lutung-lutung hitam kurang ajar! Akan tetapi kau lebih kurang ajar lagi, Wanoroseto, berani membawa tubuh seorang wanita muda yang begini ayu ke dalam pondokku. Hayo bawa dia keluar! Tak bisa aku menemuinya di dalam pondok!"

Wanoroseto si monyet putih itu sudah hafal akan perintah Resi Telomoyo, cepat ia membungkuk dan mengangkat tubuh Roro Luhito dibawa keluar pondok, lalu meletakkannya di atas tanah, di bawah sebatang pohon jeruk. Kakek itupun mengikuti dari belakang, memandang tubuh Roro Luhito seperti orang takut-takut, kemudian sekali tubuhnya bergerak, tubuh itu sudah melompat ke atas pohon, berjongkok di atas cabang pohon terendah. Si kera putih juga memanjat pohon dan duduk pula di belakang sang pertapa. Tanpa bergerak dan tanpa mengeluarkan suara kakek dan kera ini menanti, pandang mata mereka menatap tubuh gadis yang rebah miring di atas tanah. Tak lama kemudian Roro Luhito sadar dari pingsannya. Ia membuka matanya dan mengeluh perlahan karena tubuhnya terasa sakit-sakit dan perih bekas gigitan lutung-lutung hitam. Dengan tubuh lemah ia bangun duduk, memandang ke sekeliling dengan terheran-heran. Tak jauh dari situ ia melihat sebuah pondok kayu sederhana. Kemudian ia teringat. Ia dibawa lari seekor kera putih besar. Matanya menjadi terbelalak ketakutan dan kembali ia memandang ke kanan kiri, mencari-cari dan siap melawan bahaya.
"Nguk, nguk, kerrr.......!"
Roro Luhito terkejut, cepat ia berdongak memandang ke atas pohon. Hampir ia menjerit kaget ketika melihat kera putih yang tadi memanggulnya ternyata berada di atas cabang pohon, tepat di atasnya dan seorang kakek aneh, lebih mirip seekor kera putih besar memakai pakaian seperti pendeta, tengah sibuk menaruh telunjuk di depan mulut menyuruh diam si kera putih. Ketika kakek itu menoleh ke arahnya, baru Roro Luhito tidak ragu lagi bahwa kakek yang me-thangkrong (jongkok di dahan) itu adalah seorang manusia, tentu seorang pertapa, pikirnya. Serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan menyembah sambil berkata,
"Eyang wiku (pertapa) yang budiman, mohon eyang sudi menolong saya!" Teringat akan penderitaannya, Roro Luhito menangis.
Melihat Roro Luhito menangis sedih, monyet putih itu tiba-tiba ikut menangis, sedangkan kakek itu melompat turun dengan gerakan ringan sekali. Dua kali tangannya mendekati pundak Roro Luhito, akan tetapi ditariknya kembali seakan-akan takut tangannya terbakar atau menjadi kotor.
"Anak baik, kau bangkitlah. Tentu aku suka menolongmu." Suara itu parau akan tetapi diucapkan dengan halus sehingga Roro Luhito hilang takutnya, lalu bangkit dengan hormat.
"Eyang wiku, nasibku amat buruk, hampir aku mati. Agaknya Dewata menolongku dengan kehadiran, eyang......"
"Sudah, jangan menangis. Maafkan aku yang sudah terlalu lama tidak bertemu manusia, apalagi seorang puteri cantik jelita seperti engkau, maka aku menjadi bingung, gugup dan curiga. Bocah manis, siapakah yang mengganggumu? Ceritakan kepada Resi Telomoyo! Ahhh, si jahat itu tentu akan kucekik lehernya!"
Diam-diam Roro Luhito terkejut dan terheran. Sikap dan gerak-gerik kakek ini seperti seorang pertapa, akan tetapi ucapannya mengapa begini ganas? Namun ia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang sakti, maka ia segera bercerita,
"Eyang resi, ketika saya sedang berjalan di hutan, saya diserang lima ekor lutung hitam. Kemudian muncul kera putih itu....." Ia menuding ke arah kera putih yang masih duduk di atas cabang pohon,
"dia......dia itu memanggulku dan membawaku lari! Harap eyang suka menghukum dia!"
"Si Wanoroseto? Ha-ha-ha-ha, lucunya! Kau dengar ini, Wanoroseto? Kau dituduh jahat, disangka menculiknya. Haha-ha!"

Kakek itu tiba-tiba meloncat ke atas, berjungkir balik kembali dan tahu-tahu sudah berdiri lagi di depan Roro Luhito, masih tertawa terpingkal-pingkal. Celaka dua belas! Roro Luhito menjadi pucat wajahnya. Dasar nasibnya sialan! Bebas dari lutung-lutung hitam terjatuh ke tangan kera putih, kini bebas dari kera putih terjatuh ke tangan seorang kakek yang miring otaknya! Akan tetapi dasar Roro Luhito seorang gadis yang lincah dan pemberani. Memang ia jijik dan geli menghadapi kera-kera liar, akan tetapi menghadapi seorang manusia, ia tidak takut. Tegurnya marah,
"Eyang resi, mengapa eyang malah mentertawakan aku?"
"Ha-ha-ha, ini namanya air susu dibalas air tuba, yang menolong dibalas pentung! Cah ayu (anak cantik), kalau tidak ada Wanoroseto ini, agaknya kau sudah mati di tangan lima ekor lutung hitam! Dia menolongmu dan membawamu ke sini menghadapku, bagaimana kau minta aku menghukum Wanoroseto?"
Roro Luhito terkejut dan memandang ke arah kera putih yang msih duduk di atas cabang pohon.
"Ahhhh......, kalau begitu aku telah salah sangka......!" seru Roro Luhito penuh penyesalan.
"Tadinya kusangka dia seekor kera liar yang ganas."
"Ha-ha, Wanoroseto adalah seekor kera putih, cerdas tidak kalah oleh manusia, bahkan hatinya jauh lebih baik daripada manusia. Dia peliharaanku yang amat setia. Bocah ayu, kau siapakah dan mengapa kau seorang gadis muda sampai berada di dalam hutan liar seorang diri?"
Roro Luhito menangis lagi, menyusuti air matanya dengan ujung kemben. Kemudian ia menuturkan riwayatnya dengan terus terang karena ia yakin berhadapan dengan seorang pertapa sakti yang dapat menolongnya.
"Demikianlah, eyang......." ia menutup penuturannya, "karena saya merasa bahwa diri saya adalah milik Pujo, maka saya bermaksud mencarinya dan akan bersuwito (menghamba) kepada Pujo. Saya rela menjadi isteri ke dua, daripada hidup di kadipaten ayah dan menjadi bahan percakapan orang."

Berkerut-kerut dahi Resi Telomoyo, keningnya bergerak-gerak. Ia membanting-banting kakinya dan tiba-tiba bertanya dengan suara membentak marah,
"Dia sudah beristeri??"
Roro Luhito terkejut.
"Siapa......eyang.......?" tanyanya gagap.
"Si Pujo itu! Dia sudah beristeri dan masih berani mengganggumu?"
"Sudah, eyang. Kakangmas Pujo adalah murid yang diambil mantu oleh Resi Bhargowo......."
"Resi Bhargowo? Di Sungapan Kali Progo??"
"Betul, eyang resi."
"Jagad Dewa Batara! Tua bangka itu membiarkan saja anak mantunya melakukan perbuatan sewenang-wenang? Jangan kau khawatir, Luhito, biarlah kelak aku yang akan menegur Resi Bhargowo atas perbuatan anak mantunya. Dia harus bertanggung jawab!"
"Terima kasih atas pembelaan eyang resi, akan tetapi eyang, yang saya butuhkan adalah kakangmas Pujo. Saya tidak ingin mencari Resi Bhargowo, melainkan hendak bertemu dengan kakangmas Pujo. Eyang resi, tolonglah saya agar saya dapat bertemu dan bersatu dengan kakangmas Pujo......."
Kini Resi Telomoyo menggaruk-garuk kepalanya dengan kedua tangan dan melihat ini, Wanoroseto si kera putih juga sibuk sekali menggaruki kepalanya.
"Roro Luhito, cah ayu, urusan orang muda aku tidak berani mencampuri. Kalau berurusan dengan si tua bangka Resi Bhargowo, biarlah aku yang akan menegurnya dan kalau dia tidak mau mengurus kejahatan anak mantunya, aku akan menantangnya bertanding selama seratus hari! Akan tetapi untuk mencari Pujo, hal itu adalah urusan dan kewajibanmu. Jadi kau sendirilah yang harus pergi mencarinya. Cuma saja dalam keadaanmu selemah sekarang ini, aku tidak membiarkan kau pergi mencari Pujo karena kau tentu akan mengalami hal-hal yang akan mencelakaimu. Kau harus tinggal dulu di sini mempelajari ilmu, setelah cukup kuat, baru kau boleh turun gunung mencari Pujo."
Hati Roro Luhito girang mendengar ia akan diajar ilmu, akan tetapi juga kecewa karena ia ingin segera bertemu dengan pria pujaan hatinya.
"Eyang resi, berapa lamakah saya harus belajar ilmu?"
Resi Telomoyo menjelajahi tubuh gadis itu penuh perhatian, lalu berkata,
"Hemm, tergantung kepada bakat dan ketekunanmu. Mungkin sampai lima tahun, mungkin juga kurang......."
"Lima tahun?" Roro Luhito bertanya kaget.
Sang pertapa mengelus jenggotnya yang putih.
"Begini saja. Asal engkau sudah mampu mengalahkan Wanoroseto dalam latihan, kau boleh turun gunung."
Lega hati Roro Luhito. Kera putih itu, betapapun juga hanya seekor binatang, pikirnya. Betapapun besarnya masih jauh lebih kecil daripada manusia. Berapa hebat sih tenaga dan kepandaian seekor kera? Paling-paling hanya cekatan dan gesit, akan tetapi ia sudah pernah belajar ilmu silat, kalau kini digembleng lagi oleh Resi Telomoyo yang sakti, kiranya dalam beberapa bulan saja ia akan mampu menandingi Wanoroseto!.

Hal ini hanya sangkaan dan harapan Roro Luhito saja maka ia cepat-cepat menyatakan setuju dan mengangkat resi itu menjadi gurunya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dalam latihan pertama setelah ia tiga bulan mempelajari ilmu, belum juga lima jurus ia sudah dibikin roboh oleh si kera putih yang kemudian mentertawakannya sambil bertepuk-tepuk tangan! Roro Luhito mendongkol bukan main. Timbul panas hatinya dan ia belajar makin tekun. Bahkan kera putih itu menjadi sahabat baiknya, yang merupakah hiburan dalam kehidupan sunyi itu. Selain sahabat yang pandai menghibur, ternyata Wanoroseto juga merupakan teman berlatih yang hebat. Biarpun ia maklum bahwa akan makan waktu lama sebelum ia dapat menandingi Wanoroseto, namun diam-diam ia girang sekali karena kini ia merasa makin yakin akan kepandaian gurunya. Melatih seekor kera saja dapat menjadi kera sakti yang kepandaiannya tinggi, apalagi melatih manusia! Gurunya menurunkan dua macam ilmu silat tangan kosong yang disebut Sosro Satwo (Seribu Binatang) dan Kapi Dibyo (Kera Sakti) yang juga meliputi ilmu gerak dan loncat seperti seekor kera, tangkas, cepat dan ringan. Ilmu silat tangan kosong ini dapat dimainkan dengan keris karena setiap pukulan dapat diubah menjadi tikaman keris. Adapun ilmu silat senjata ia diajar menggunakan sebatang tongkat yang dapat diganti dengan ranting pohon, pedang, tombak atau apa saja yang agak panjang. Kalau perlu, gagang sapu dari bambu juga dapat menggantikan kedudukan tongkat yang dapat dimainkan dengan ampuh! Akan tetapi, untuk mempelajari ini semua dan dapat melatih dengan sempurna, membutuhkan waktu cukup lama dan Roro Luhito harus berlatih dengan tekun dan sabar. Demikianlah, mulai hari itu gadis puteri adipati ini belajar ilmu dari Resi Telomoyo yang sudah bertahun-tahun menyembunyikan diri dan puncak Gunung Telomoyo seakan-akan menjadi terang dan gembira sejak hadirnya Roro Luhito di situ. Dasar gadis ini wataknya Jenaka lincah, maka Wanoroseto si kera putih sering kali memekik-mekik gembira di kala bermain-main dengan Roro Luhito. Bahkan kini pertapa itu seringkali terdengar suaranya terkekeh-kekeh dan wataknya menjadi periang.

"Heh-heh-heh-heh, huh-huh-huh, seorang tua Bangka macam aku ini, mengapa masih dibutuhkan oleh Adipati Joyowiseso, raden? Untuk menghadapi Kerajaan Medang, sepantasnya dibutuhkan orang-orang muda seperti angger, raden. Tua bangka seperti aku ini untuk apa? Huh-huh-huh!"

<<< Bagian 022                                                                                    Bagian 024 >>>

No comments:

Post a Comment