Matahari sudah naik tinggi ketika monyet putih itu tiba di puncak bukit yang tertutup halimun. Di tempat sunyi sejuk itu terdapat sebuah pondok sederhana. Ke dalam pondok inilah monyet putih masuk, terus menuju ke ruang dalam. Ruangan ini cukup luas, kosong tidak ada perabot rumahnya. Di sudut kiri terdapat sebuah arca sebesar satu setengah manusia, arca Sang Kapiworo Hanoman, tokoh besar berujud monyet berbulu putih yang menjadi senopati jaman Ramayana. Di depan arca Hanoman itu duduklah seorang kakek di atas batu yang bentuknya bundar dan halus. Kakek ini mukanya buruk bentuknya, seperti muka monyet. Hanya bedanya mukanya tidak berbulu seperti muka monyet. Rambutnya sudah putih semua, pakaian yang membungkus tubuhnya yang kurus juga serba putih. Kakek ini adalah seorang pertapa, berjuluk Resi Telomoyo, seorang yang menjadi pemuja Sang Hanoman! Dia seorang pertapa yang sakti mandraguna, akan tetapi mungkin sekali karena ia pemuja monyet sakti Hanoman, gerak-geriknya juga mirip monyet!. Biarpun sedang bersamadhi, suara "nguk-nguk" si monyet putih menyadarkan Resi Telomoyo. Ia membuka matanya, alisnya yang putih bergerak-gerak dan begitu pandang matanya bertemu dengan tubuh Roro Luhito yang menggeletak terlentang di atas lantai, ia berseru keras dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik dan kini ia duduk berjongkok di atas batu yang tadi ia duduki!
"Heh,
Wanoroseto (kera putih)! Apa yang kauperbuat ini??" Kakek itu marah
sekali, tubuhnya meloncat-loncat di atas batu, kadang-kadang ia mere-mere
(meringkik-ringkik) seperti monyet marah bibirnya bergerak-gerak memperlihatkan
gigi yang ompong!. Si monyet putih menjadi ketakutan, lalu mengeluarkan suara
ngak-nguk-ngak-nguk dan membuat gerakan seperti menari-nari meniru gerakan
lutung-lutung yang mengeroyok Roro Luhito dan menceritakan dengan suara
nguk-nguk disertai gerak-gerik lucu. Kakek itu menggaruk-garuk kepalanya dengan
gerakan monyet.
"Ah,
lutung-lutung hitam kurang ajar! Akan tetapi kau lebih kurang ajar lagi,
Wanoroseto, berani membawa tubuh seorang wanita muda yang begini ayu ke dalam
pondokku. Hayo bawa dia keluar! Tak bisa aku menemuinya di dalam pondok!"
Wanoroseto si
monyet putih itu sudah hafal akan perintah Resi Telomoyo, cepat ia membungkuk
dan mengangkat tubuh Roro Luhito dibawa keluar pondok, lalu meletakkannya di
atas tanah, di bawah sebatang pohon jeruk. Kakek itupun mengikuti dari
belakang, memandang tubuh Roro Luhito seperti orang takut-takut, kemudian
sekali tubuhnya bergerak, tubuh itu sudah melompat ke atas pohon, berjongkok di
atas cabang pohon terendah. Si kera putih juga memanjat pohon dan duduk pula di
belakang sang pertapa. Tanpa bergerak dan tanpa mengeluarkan suara kakek dan
kera ini menanti, pandang mata mereka menatap tubuh gadis yang rebah miring di
atas tanah. Tak lama kemudian Roro Luhito sadar dari pingsannya. Ia membuka
matanya dan mengeluh perlahan karena tubuhnya terasa sakit-sakit dan perih
bekas gigitan lutung-lutung hitam. Dengan tubuh lemah ia bangun duduk,
memandang ke sekeliling dengan terheran-heran. Tak jauh dari situ ia melihat
sebuah pondok kayu sederhana. Kemudian ia teringat. Ia dibawa lari seekor kera
putih besar. Matanya menjadi terbelalak ketakutan dan kembali ia memandang ke
kanan kiri, mencari-cari dan siap melawan bahaya.
"Nguk,
nguk, kerrr.......!"
Roro Luhito
terkejut, cepat ia berdongak memandang ke atas pohon. Hampir ia menjerit kaget
ketika melihat kera putih yang tadi memanggulnya ternyata berada di atas cabang
pohon, tepat di atasnya dan seorang kakek aneh, lebih mirip seekor kera putih
besar memakai pakaian seperti pendeta, tengah sibuk menaruh telunjuk di depan
mulut menyuruh diam si kera putih. Ketika kakek itu menoleh ke arahnya, baru
Roro Luhito tidak ragu lagi bahwa kakek yang me-thangkrong (jongkok di dahan) itu
adalah seorang manusia, tentu seorang pertapa, pikirnya. Serta-merta ia
menjatuhkan diri berlutut dan menyembah sambil berkata,
"Eyang
wiku (pertapa) yang budiman, mohon eyang sudi menolong saya!" Teringat
akan penderitaannya, Roro Luhito menangis.
Melihat Roro
Luhito menangis sedih, monyet putih itu tiba-tiba ikut menangis, sedangkan
kakek itu melompat turun dengan gerakan ringan sekali. Dua kali tangannya
mendekati pundak Roro Luhito, akan tetapi ditariknya kembali seakan-akan takut
tangannya terbakar atau menjadi kotor.
"Anak
baik, kau bangkitlah. Tentu aku suka menolongmu." Suara itu parau akan
tetapi diucapkan dengan halus sehingga Roro Luhito hilang takutnya, lalu
bangkit dengan hormat.
"Eyang
wiku, nasibku amat buruk, hampir aku mati. Agaknya Dewata menolongku dengan
kehadiran, eyang......"
"Sudah,
jangan menangis. Maafkan aku yang sudah terlalu lama tidak bertemu manusia,
apalagi seorang puteri cantik jelita seperti engkau, maka aku menjadi bingung,
gugup dan curiga. Bocah manis, siapakah yang mengganggumu? Ceritakan kepada
Resi Telomoyo! Ahhh, si jahat itu tentu akan kucekik lehernya!"
Diam-diam Roro
Luhito terkejut dan terheran. Sikap dan gerak-gerik kakek ini seperti seorang
pertapa, akan tetapi ucapannya mengapa begini ganas? Namun ia dapat menduga
bahwa kakek ini tentulah seorang sakti, maka ia segera bercerita,
"Eyang
resi, ketika saya sedang berjalan di hutan, saya diserang lima ekor lutung
hitam. Kemudian muncul kera putih itu....." Ia menuding ke arah kera putih
yang masih duduk di atas cabang pohon,
"dia......dia
itu memanggulku dan membawaku lari! Harap eyang suka menghukum dia!"
"Si
Wanoroseto? Ha-ha-ha-ha, lucunya! Kau dengar ini, Wanoroseto? Kau dituduh
jahat, disangka menculiknya. Haha-ha!"
Kakek itu
tiba-tiba meloncat ke atas, berjungkir balik kembali dan tahu-tahu sudah
berdiri lagi di depan Roro Luhito, masih tertawa terpingkal-pingkal. Celaka dua
belas! Roro Luhito menjadi pucat wajahnya. Dasar nasibnya sialan! Bebas dari
lutung-lutung hitam terjatuh ke tangan kera putih, kini bebas dari kera putih
terjatuh ke tangan seorang kakek yang miring otaknya! Akan tetapi dasar Roro
Luhito seorang gadis yang lincah dan pemberani. Memang ia jijik dan geli
menghadapi kera-kera liar, akan tetapi menghadapi seorang manusia, ia tidak
takut. Tegurnya marah,
"Eyang
resi, mengapa eyang malah mentertawakan aku?"
"Ha-ha-ha,
ini namanya air susu dibalas air tuba, yang menolong dibalas pentung! Cah ayu
(anak cantik), kalau tidak ada Wanoroseto ini, agaknya kau sudah mati di tangan
lima ekor lutung hitam! Dia menolongmu dan membawamu ke sini menghadapku,
bagaimana kau minta aku menghukum Wanoroseto?"
Roro Luhito
terkejut dan memandang ke arah kera putih yang msih duduk di atas cabang pohon.
"Ahhhh......,
kalau begitu aku telah salah sangka......!" seru Roro Luhito penuh
penyesalan.
"Tadinya
kusangka dia seekor kera liar yang ganas."
"Ha-ha,
Wanoroseto adalah seekor kera putih, cerdas tidak kalah oleh manusia, bahkan
hatinya jauh lebih baik daripada manusia. Dia peliharaanku yang amat setia.
Bocah ayu, kau siapakah dan mengapa kau seorang gadis muda sampai berada di
dalam hutan liar seorang diri?"
Roro Luhito
menangis lagi, menyusuti air matanya dengan ujung kemben. Kemudian ia
menuturkan riwayatnya dengan terus terang karena ia yakin berhadapan dengan
seorang pertapa sakti yang dapat menolongnya.
"Demikianlah,
eyang......." ia menutup penuturannya, "karena saya merasa bahwa diri
saya adalah milik Pujo, maka saya bermaksud mencarinya dan akan bersuwito
(menghamba) kepada Pujo. Saya rela menjadi isteri ke dua, daripada hidup di
kadipaten ayah dan menjadi bahan percakapan orang."
Berkerut-kerut
dahi Resi Telomoyo, keningnya bergerak-gerak. Ia membanting-banting kakinya dan
tiba-tiba bertanya dengan suara membentak marah,
"Dia
sudah beristeri??"
Roro Luhito
terkejut.
"Siapa......eyang.......?"
tanyanya gagap.
"Si Pujo
itu! Dia sudah beristeri dan masih berani mengganggumu?"
"Sudah,
eyang. Kakangmas Pujo adalah murid yang diambil mantu oleh Resi
Bhargowo......."
"Resi
Bhargowo? Di Sungapan Kali Progo??"
"Betul,
eyang resi."
"Jagad
Dewa Batara! Tua bangka itu membiarkan saja anak mantunya melakukan perbuatan
sewenang-wenang? Jangan kau khawatir, Luhito, biarlah kelak aku yang akan
menegur Resi Bhargowo atas perbuatan anak mantunya. Dia harus bertanggung
jawab!"
"Terima
kasih atas pembelaan eyang resi, akan tetapi eyang, yang saya butuhkan adalah
kakangmas Pujo. Saya tidak ingin mencari Resi Bhargowo, melainkan hendak
bertemu dengan kakangmas Pujo. Eyang resi, tolonglah saya agar saya dapat
bertemu dan bersatu dengan kakangmas Pujo......."
Kini Resi
Telomoyo menggaruk-garuk kepalanya dengan kedua tangan dan melihat ini,
Wanoroseto si kera putih juga sibuk sekali menggaruki kepalanya.
"Roro
Luhito, cah ayu, urusan orang muda aku tidak berani mencampuri. Kalau berurusan
dengan si tua bangka Resi Bhargowo, biarlah aku yang akan menegurnya dan kalau
dia tidak mau mengurus kejahatan anak mantunya, aku akan menantangnya
bertanding selama seratus hari! Akan tetapi untuk mencari Pujo, hal itu adalah
urusan dan kewajibanmu. Jadi kau sendirilah yang harus pergi mencarinya. Cuma
saja dalam keadaanmu selemah sekarang ini, aku tidak membiarkan kau pergi
mencari Pujo karena kau tentu akan mengalami hal-hal yang akan mencelakaimu.
Kau harus tinggal dulu di sini mempelajari ilmu, setelah cukup kuat, baru kau
boleh turun gunung mencari Pujo."
Hati Roro
Luhito girang mendengar ia akan diajar ilmu, akan tetapi juga kecewa karena ia
ingin segera bertemu dengan pria pujaan hatinya.
"Eyang
resi, berapa lamakah saya harus belajar ilmu?"
Resi Telomoyo
menjelajahi tubuh gadis itu penuh perhatian, lalu berkata,
"Hemm,
tergantung kepada bakat dan ketekunanmu. Mungkin sampai lima tahun, mungkin
juga kurang......."
"Lima
tahun?" Roro Luhito bertanya kaget.
Sang pertapa
mengelus jenggotnya yang putih.
"Begini
saja. Asal engkau sudah mampu mengalahkan Wanoroseto dalam latihan, kau boleh
turun gunung."
Lega hati Roro
Luhito. Kera putih itu, betapapun juga hanya seekor binatang, pikirnya.
Betapapun besarnya masih jauh lebih kecil daripada manusia. Berapa hebat sih
tenaga dan kepandaian seekor kera? Paling-paling hanya cekatan dan gesit, akan
tetapi ia sudah pernah belajar ilmu silat, kalau kini digembleng lagi oleh Resi
Telomoyo yang sakti, kiranya dalam beberapa bulan saja ia akan mampu menandingi
Wanoroseto!.
Hal ini hanya
sangkaan dan harapan Roro Luhito saja maka ia cepat-cepat menyatakan setuju dan
mengangkat resi itu menjadi gurunya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dalam
latihan pertama setelah ia tiga bulan mempelajari ilmu, belum juga lima jurus
ia sudah dibikin roboh oleh si kera putih yang kemudian mentertawakannya sambil
bertepuk-tepuk tangan! Roro Luhito mendongkol bukan main. Timbul panas hatinya
dan ia belajar makin tekun. Bahkan kera putih itu menjadi sahabat baiknya, yang
merupakah hiburan dalam kehidupan sunyi itu. Selain sahabat yang pandai
menghibur, ternyata Wanoroseto juga merupakan teman berlatih yang hebat.
Biarpun ia maklum bahwa akan makan waktu lama sebelum ia dapat menandingi
Wanoroseto, namun diam-diam ia girang sekali karena kini ia merasa makin yakin
akan kepandaian gurunya. Melatih seekor kera saja dapat menjadi kera sakti yang
kepandaiannya tinggi, apalagi melatih manusia! Gurunya menurunkan dua macam
ilmu silat tangan kosong yang disebut Sosro Satwo (Seribu Binatang) dan Kapi
Dibyo (Kera Sakti) yang juga meliputi ilmu gerak dan loncat seperti seekor
kera, tangkas, cepat dan ringan. Ilmu silat tangan kosong ini dapat dimainkan
dengan keris karena setiap pukulan dapat diubah menjadi tikaman keris. Adapun
ilmu silat senjata ia diajar menggunakan sebatang tongkat yang dapat diganti
dengan ranting pohon, pedang, tombak atau apa saja yang agak panjang. Kalau
perlu, gagang sapu dari bambu juga dapat menggantikan kedudukan tongkat yang
dapat dimainkan dengan ampuh! Akan tetapi, untuk mempelajari ini semua dan
dapat melatih dengan sempurna, membutuhkan waktu cukup lama dan Roro Luhito
harus berlatih dengan tekun dan sabar. Demikianlah, mulai hari itu gadis puteri
adipati ini belajar ilmu dari Resi Telomoyo yang sudah bertahun-tahun menyembunyikan
diri dan puncak Gunung Telomoyo seakan-akan menjadi terang dan gembira sejak
hadirnya Roro Luhito di situ. Dasar gadis ini wataknya Jenaka lincah, maka
Wanoroseto si kera putih sering kali memekik-mekik gembira di kala bermain-main
dengan Roro Luhito. Bahkan kini pertapa itu seringkali terdengar suaranya
terkekeh-kekeh dan wataknya menjadi periang.
"Heh-heh-heh-heh,
huh-huh-huh, seorang tua Bangka macam aku ini, mengapa masih dibutuhkan oleh
Adipati Joyowiseso, raden? Untuk menghadapi Kerajaan Medang, sepantasnya
dibutuhkan orang-orang muda seperti angger, raden. Tua bangka seperti aku ini
untuk apa? Huh-huh-huh!"
No comments:
Post a Comment