Benar bahwa Pujo dahulu menyatakan bahwa Kartikosari seakan-akan sudah mati, akan tetapi betulkah itu? Menghadapi Pujo ia tidak takut, juga tentang ilmu kepandaian Kartikosari, iapun tidak takut. Yang membuat ia gelisah adalah jika Kartikosari berada di situ, terdapat bahaya akan terbongkar rahasia perbuatannya di malam badai dalam Guha Siluman itu. Memang, Kartikosari tidak akan menduganya, namun apabila wanita itu melihat buntungnya kelingking kiri tangannya, tentu akan menimbulkan dugaan dan curiga. Betapapun juga, hati Jokowanengpati menjadi besar lagi kalau ia teringat akan kedigdayaan Cekel Aksomolo dan mereka melangkah terus mendekati pondok sunyi. Selain itu, Pujo sendiri tampak jelas sikapnya bahwa ia tidak tahu akan rahasia itu. Andaikata Kartikosari berada dengan suaminya, tentu wanita itu akan menceritakan tentang buntungnya kelingking tangan dan tentu Pujo sudah akan menyangka dia, atau setidaknya akan bercuriga. Peristiwa itu sudah lewat setahun lebih, dan ia tidak perlu takut-takut lagi, karena andaikata diketahui sekalipun, tetap ia akan menjadi lawan mereka. Sekutunya memiliki banyak orang sakti, takut apa ?
Telah kita
ketahui bahwa setahun kurang semenjak terjadinya badai Laut Selatan yang
mengamuk hebat dan menghancurkan pondok, Resi Bhargowo meninggalkan Bayuwismo
di Sungapan, meninggalkan pondok yang sudah dibangun lagi itu kepada para
cantriknya, bahkan lalu meninggalkan nama lama, mengganti julukan dengan
Bhagawan Rukmoseto dan melakukan perjalanan lelana brata untuk menghibur
batinnya yang terguncang hebat setelah menduga bahwa puteri dan mantunya tentu
tewas ditelan badai. Pertapa ini meninggalkan pondoknya Bayuwismo di Sungapan
dan menyerahkan pondok itu di bawah pengawasan dan dalam pemeliharaan enam
orang cantriknya yang dipimpin oleh cantrik Wisudo. Karena pondok itu berdiri
si tepi pantai terbuka, maka kedatangan Cekel Aksomolo yang langkahnya
terseok-seok dan terbongkok-bongkok bersama Jokowanengpati, segera terlihat
oleh enam orang cantrik. Para cantrik itu sedang sibuk, ada yang memperbaiki
perahu bocor, ada yang menambal jala, karena di daerah yang tanahnya tidak
subur seperti pantai selatan itu, mereka bekerja sebagai nelayan, mencari ikan
di sepanjang pantai dan muara Sungai Progo. Kini mereka meninggalkan pekerjaan
masing-masing, berkumpul dan menyambut kedatangan dua orang itu dengan sikap
tenang juga heran. Apalagi setelah kedua pendatang itu dekat, cantrik paling
tua yang pernah bertemu dengan Empu Bharodo, segera mengenal Jokowanengpati. Akan
tetapi tak seorangpun di antara mereka mengenal kakek tua tinggi kurus dan
bongkok yang membawa seuntai tasbih hitam itu. Cantrik Wisudo memimpin lima
orang saudaranya menyambut di luar pondok, cepat memberi hormat dan berkata,
"Selamat
datang di Bayuwismo, Raden Jokowanengpati! Selamat datang saudara tua cantrik,
apakah saudara ini seorang cantrik dari Lembah Konta?"
Wisudo
menyangka bahwa cantrik tua yang dating bersama Jokowanengpati itu seorang
cantrik pengikut Empu Bharodo yang bertapa di lembah Sungai Konta di lereng
Gunung Anjasmoro.
"Hoh-hoh-hoh,
bukan..... bukan!" jawab Cekel Aksomolo terkekeh-kekeh.
"Aku
adalah cantrik yang sudah berdikari! Bukan cantrik yang menghamba kepada
seorang pendeta, melainkan bekas cantrik yang kini menjadi pertapa. Aku Cekel
Aksomolo, pertapa di hutan Werdo. akulah yang mbaurekso (dewa penjaga) Gunung
Wilis, huh-huh-huh!"
Cantrik Wisudo
dan saudara-saudaranya merasa tak senang mendengar dan melihat sikap
pembicaraan Cekel Aksomolo yang jelas membayangkan kesombongan. Akan tetapi
mereka juga merasa geli dalam hati melihat persamaan kakek itu dengan tokoh
cerita Maha Bharata, yaitu tokoh Begawan Durno! Karena maklum bahwa dia
menghadapi seorang kakek yang sombong, Wisudo lalu tidak mau mengacuhkan lagi
dan berpaling kepada Jokowanengpati yang sedang mencari-cari dengan pandang
matanya ke arah pondok dan sekitarnya.
"Raden
Jokowanengpati, ada keperluan apakah raden datang ke tempat sunyi ini? Apakah
diutus oleh paman Empu Bharodo?"
"Eh,
kakang cantrik Wisudo!" Pemuda ini berkata tak senang.
"Kami
sudah datang ke sini, mengapa engkau tidak lekas-lekas melaporkan kedatangan
kami kepada paman Resi Bhargowo? Mengapa engkau lancang mengadakan penyambutan
sendiri?"
"Huh-huh-huh,
benar..... benar....., segala macam cantrik cilik mau tahu saja, heh-heh!"
Panas hati
Wisudo dan saudara-saudaranya mendengar ucapan Cekel Aksomolo itu, akan tetapi
karena kakek itu datang bersama Jokowanengpati, mereka menahan sabar. Wisudo
menjawab,
"Ketahuilah,
raden. Baru beberapa hari ini sang resi telah pergi meninggalkan pondok, karena
sang resi tidak ada maka saya berani mewakilinya menyambut tamu yang
datang."
Jokowanengpati
kecewa.
"Paman
Resi Bhargowo bepergian? Ke mana.......??"
"Raden,
sebagai murid terkasih paman Empu Bharodo, bagaimana raden masih mengajukan
pertanyaan ini? Kemanakah perginya seorang pertapa? Kemana lagi kalau tidak
melakukan lelana brata, melaksanakan tugas suci memberi penerangan bagi yang
gelap, mencarikan tongkat bagi yang pincang dan mengulurkan tangan menolong
mereka yang memerlukan pertolongan."
"Cukup!
Tak perlu kau memberi wejangan! Lalu......., di mana adanya Pujo dan
Kartikosari?"
Kembali
pandang mata Jokowanengpati liar mencari-cari. Mulai tak enaklah hati para
cantrik Bayuwismo, dan makin panas hati Wisudo.
"Merekapun
tidak berada di sini, dan harap jangan tanyakan kepada kami ke mana mereka
pergi, karena kami sendiri tidak tahu."
Jokowanengpati
tampak kecewa sekali. Ia menoleh kepada Cekel Aksomolo dengan kening berkerut.
"Bagaimana
ini, eyang? Kedatangan kita sia-sia....."
"Ooohh-hoh,
jangan percaya segala cantrik cilik yang omongannya molak-malik. Tentu mereka
ini tahu di mana sembunyinya Resi Bhargowo dan Pujo! Resi pengecut itu bersama
mantunya tentu telah melihat kita datang, lalu mereka pergi menyembunyikan diri,
dan cantrlk-cantrik penguk ini sengaja membohong."
Jokowanengpati
dalam hatinya tidak percaya bahwa orang seperti paman gurunya itu akan lari
menyembunyikan diri, akan tetapi dia diam saja, lalu ia berkata,
"Kakang
cantrik Wisudo, aku akan melihat apakah benar-benar paman resi tidak berada di
dalam pondok!"
Setelah
berkata demikian, cepat sekali tubuhnya berkelebat memasuki pondok. Enam orang
cantrik Bayuwismo marah melihat kelancangan Jokowanengpati, akan tetapi tak
mungkin mereka dapat menghalangi karena pemuda itu mempergunakan Aji Bayu Sakti
sehingga gerakannya seperti terbang saja. Oleh karena tidak berdaya menghadapi
murid Empu Bharodo yang sakti itu, cantrik Wisudo dan lima orang saudaranya
menumpahkan kemarahan hati kepada Cekel Aksomolo!. Cantrik Wisudo melotot
memandang kepada kakek itu dan membentak.
"Heh,
Cekel Aksomolo! Kau ini seorang tua bangka yang tak patut dihormati orang muda.
Pekertimu seperti ini sungguh tidak patut, apalagi mengingat pengakuanmu bahwa
engkau sudah menjadi pertapa. Kata-katamu berbisa seperti Durno, tingkahmu
sombong dan tak tahu malu. Ingatkah kau bahwa kami ini tuan rumah sedangkan
engkau hanyalah seorang tamu tak diundang?"
"Wuah-wah,
huh-huh, kurang ajar! Bocah cilik kurang ajar! Cantrik okrak-akrik bocah kemarin
sore, berani kurang ajar terhadap Cekel Aksomolo? Apakah sudah bosan
hidup?"
"Mengapa
tidak berani? Bukan usia tua yang kulawan, bukan pula orangnya yang kucela,
melainkan pekertinya! Biarpun engkau tua, pekertimu seperti bocah nylelek.
Apalagi engkaupun hanya seorang cekel, seorang cantrik, sama dengan kami! Hayo
pergi dari sini, tak sudi kami melihat tingkahmu lebih lama lagi!"
Kini Wisudo
sudah maju dengan sikap menantang.
"Waduhhh,
kalau aku tidak mau pergi bagaimana?"
"Akan
kami usir dengan kekerasan!" bentak cantrik Wisudo yang sudah marah.
"Uuhhh,
uuhh, tidak kajen (terhormat) awakku.......! Cantrik cilik kalian minta
dihajar, biar kalian rasakan kesaktian Cekel Aksomolo!"
Tiba-tiba
kakek ini menggerakkan tasbih hitamnya, diputar-putar di udara dan terdengarlah
suara nyaring dan aneh. Tadinya cantrik Wisudo dan lima orang saudaranya
menyangka bahwa kakek yang seperti orang gila itu hendak menyerang mereka
dengan hantaman tasbih, akan tetapi ternyata tasbih itu hanya diputar-putar di
atas kepala dan sama sekali kakek itu tidak menyerang mereka.
Tentu saja
mereka merasa heran dan geli, mengira bahwa kakek ini benar-benar miring
otaknya. Akan tetapi mendadak cantrik Wisudo merasa betapa suara yang
berkeritikan dan aneh itu kini mengaung-ngaung dan menyerang telinga dan
menimbulkan rasa nyeri seakan-akan telinganya ditusuk-tusuk lidi! Kagetlah
Wisudo, dan lebih lagi kagetnya melihat seorang di antara saudaranya sudah
roboh terguling, mengaduh-aduh karena telinga kirinya mengeluarkan darah! Cepat
cantrik Wisudo menjatuhkan diri duduk bersila mengerahkan kekuatan batinnya.
Saudara-saudaranya juga cepat mencontoh perbuatan Wisudo, hanya seorang cantrik
yang masih berdiri, bahkan kini bingung menolong cantrik yang telinga kirinya
berdarah. Cantrik ini adalah cantrik Wistoro. Cantrik Wistoro bingung sekali
melihat akibat yang amat hebat, karena biarpun sudah bersila mengerahkan tenaga
batin, tetap saja cantrik-cantrik Bayuwismo itu tidak tahan terhadap suara
mujijat dari tasbih itu. Memang hebat bukan main akibat suara ini. Para
cantrik, kecuali Wistoro, sudah duduk bersila meramkan mata. Namun, seorang
demi seorang tak kuat bertahan, mulailah darah menetes-netes keluar dari dalam
telinga mereka dan yang paling akhir, cantrik Wisudo sendiri yang ilmunya
paling tinggi di antara saudara-saudaranya, juga tidak tahan lagi dan kedua
telinganya mengeluarkan darah dari luka di dalam karena kendangan telinga
mereka telah pecah oleh suara mujijat.
Cekel Aksomolo
tertawa terkekeh-kekeh. Akan tetapi tiba-tiba matanya terbelalak heran ketika
ia melihat seorang diantara para cantrik itu tidak apa-apa, tidak terpengaruh
oleh suara tasbihnya. Cantrik Wistoro ini sama sekali tidak mengeluarkan darah
dari kedua telinganya, bahkan kini ia sibuk merawat saudara-saudaranya, mengusap
dan membersihkan darah yang keluar dari telinganya, sambil matanya
kadang-kadang melotot ke arah Cekel Aksomolo! Tentu saja Cekel Aksomolo
terkejut sekali! Ia tidak percaya ada seorang cantrik yang mampu menahan suara
tasbihnya, maka ia melangkah mendekati dan kini ia menggoyangkan tasbihnya
lebih keras lagi, dekat telinga cantrik Wistoro! Para cantrik lainnya hanya
memandang, mereka sudah tidak lagi terpengaruh suara tasbih karena sudah tak
dapat mendengar, hanya merasakan nyerinya bekas kendangan telinga yang pecah.
Biarpun diserang suara sedemikian hebatnya, cantrik Wistoro enak-enak saja,
sama sekali tidak mengerahkan tenaga batin untuk menahan, akan tetapi
sedikitpun ia tidak terpengaruh! Bimbanglah hati Cekel Aksomolo! Betapapun
saktinya seorang lawan, kalau diserang suara tasbihnya dari jarak sedekat itu
dengan telinga, pula tanpa pengerahan tenaga sakti untuk melawan, tak mungkin
akan kuat bertahan. Akan tetapi cantrik muda ini enak-enak saja. Dapat
dibayangkan betapa saktinya cantrik ini! Ataukah tasbihnya yang kehilangan
keampuhan?. Pada saat itu Jokowanengpati sudah melompat keluar dari pondok
setelah sia-sia melakukan penggeledahan. Begitu keluar ia terkejut mendengar
suara berkeritikan yang amat kecil dan tinggi nadanya, menyerang telinganya serasa
jarum menusuk. Cepat ia mengeluarkan benda pemberian Cekel Aksomolo dan
menyumpal kedua telinganya. Dengan alat penahan ini, tanpa pengerahan tenaga
sakti ia dapat mendekat. Iapun ikut terheran-heran melihat seorang cantrik muda
yang tak dikenalnya sedang merawat lima orang cantrik lain yang rebah tidak
karuan dengan telinga berdarah, dan melihat Cekel Aksomolo membunyikan tasbih
di dekat telinga cantrik muda itu, ia makin heran lalu mendekat. Cekel Aksomolo
menghentikan bunyi tasbihnya dan menghapus keringat dengan ujung lengan baju.
Menggerakkan tasbih mengeluarkan suara mujijat membutuhkan pengerahan tenaga
sakti yang besar dan dia tadi sudah bersusah payah dalam penasarannya untuk
merobohkan Wistoro, namun sia-sia.
Kini ia
mengulur tangan membuka penutup telinga yang ia pakai sendiri sambil menjenguk
ke arah lubang telinga Wistoro untuk melihat kalau-kalau cantrik itu
menggunakan alat penutup lubang telinga. Akan tetapi sama sekali tidak. Ketika
ia mengincar ke arah lubang kedua telinga cantrik itu, ia hanya melihat tai
telinga dan bulu-bulu telinga! Makin penasaranlah dia. Kalau begini, tentu
tasbihku yang kehilangan keampuhannya. Maka ia mendekatkan tasbih di depan
telinga kanannya, lalu mengguncang tasbih itu.
"Ttrrrriiiikk!"
Dan
akhirnya...... Cekel Aksomolo roboh terguling! Cepat-cepat ia melompat bangun
dan matanya berair. Sakit sekali rasa telinga kanannya sampai air matanya
keluar. Ternyata tasbihnya masih ampuh, tenaga saktinya masih hebat! Akan
tetapi mengapa cantrik muda itu tidak terpengaruh? Ia menutupi lagi telinganya
dan mendekati cantrik Wistoro, menggerakkan tasbih di dekat telinganya.
No comments:
Post a Comment