Badai Laut Selatan ; Bagian 025


Benar bahwa Pujo dahulu menyatakan bahwa Kartikosari seakan-akan sudah mati, akan tetapi betulkah itu? Menghadapi Pujo ia tidak takut, juga tentang ilmu kepandaian Kartikosari, iapun tidak takut. Yang membuat ia gelisah adalah jika Kartikosari berada di situ, terdapat bahaya akan terbongkar rahasia perbuatannya di malam badai dalam Guha Siluman itu. Memang, Kartikosari tidak akan menduganya, namun apabila wanita itu melihat buntungnya kelingking kiri tangannya, tentu akan menimbulkan dugaan dan curiga. Betapapun juga, hati Jokowanengpati menjadi besar lagi kalau ia teringat akan kedigdayaan Cekel Aksomolo dan mereka melangkah terus mendekati pondok sunyi. Selain itu, Pujo sendiri tampak jelas sikapnya bahwa ia tidak tahu akan rahasia itu. Andaikata Kartikosari berada dengan suaminya, tentu wanita itu akan menceritakan tentang buntungnya kelingking tangan dan tentu Pujo sudah akan menyangka dia, atau setidaknya akan bercuriga. Peristiwa itu sudah lewat setahun lebih, dan ia tidak perlu takut-takut lagi, karena andaikata diketahui sekalipun, tetap ia akan menjadi lawan mereka. Sekutunya memiliki banyak orang sakti, takut apa ?

Telah kita ketahui bahwa setahun kurang semenjak terjadinya badai Laut Selatan yang mengamuk hebat dan menghancurkan pondok, Resi Bhargowo meninggalkan Bayuwismo di Sungapan, meninggalkan pondok yang sudah dibangun lagi itu kepada para cantriknya, bahkan lalu meninggalkan nama lama, mengganti julukan dengan Bhagawan Rukmoseto dan melakukan perjalanan lelana brata untuk menghibur batinnya yang terguncang hebat setelah menduga bahwa puteri dan mantunya tentu tewas ditelan badai. Pertapa ini meninggalkan pondoknya Bayuwismo di Sungapan dan menyerahkan pondok itu di bawah pengawasan dan dalam pemeliharaan enam orang cantriknya yang dipimpin oleh cantrik Wisudo. Karena pondok itu berdiri si tepi pantai terbuka, maka kedatangan Cekel Aksomolo yang langkahnya terseok-seok dan terbongkok-bongkok bersama Jokowanengpati, segera terlihat oleh enam orang cantrik. Para cantrik itu sedang sibuk, ada yang memperbaiki perahu bocor, ada yang menambal jala, karena di daerah yang tanahnya tidak subur seperti pantai selatan itu, mereka bekerja sebagai nelayan, mencari ikan di sepanjang pantai dan muara Sungai Progo. Kini mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing, berkumpul dan menyambut kedatangan dua orang itu dengan sikap tenang juga heran. Apalagi setelah kedua pendatang itu dekat, cantrik paling tua yang pernah bertemu dengan Empu Bharodo, segera mengenal Jokowanengpati. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka mengenal kakek tua tinggi kurus dan bongkok yang membawa seuntai tasbih hitam itu. Cantrik Wisudo memimpin lima orang saudaranya menyambut di luar pondok, cepat memberi hormat dan berkata,
"Selamat datang di Bayuwismo, Raden Jokowanengpati! Selamat datang saudara tua cantrik, apakah saudara ini seorang cantrik dari Lembah Konta?"
Wisudo menyangka bahwa cantrik tua yang dating bersama Jokowanengpati itu seorang cantrik pengikut Empu Bharodo yang bertapa di lembah Sungai Konta di lereng Gunung Anjasmoro.
"Hoh-hoh-hoh, bukan..... bukan!" jawab Cekel Aksomolo terkekeh-kekeh.
"Aku adalah cantrik yang sudah berdikari! Bukan cantrik yang menghamba kepada seorang pendeta, melainkan bekas cantrik yang kini menjadi pertapa. Aku Cekel Aksomolo, pertapa di hutan Werdo. akulah yang mbaurekso (dewa penjaga) Gunung Wilis, huh-huh-huh!"

Cantrik Wisudo dan saudara-saudaranya merasa tak senang mendengar dan melihat sikap pembicaraan Cekel Aksomolo yang jelas membayangkan kesombongan. Akan tetapi mereka juga merasa geli dalam hati melihat persamaan kakek itu dengan tokoh cerita Maha Bharata, yaitu tokoh Begawan Durno! Karena maklum bahwa dia menghadapi seorang kakek yang sombong, Wisudo lalu tidak mau mengacuhkan lagi dan berpaling kepada Jokowanengpati yang sedang mencari-cari dengan pandang matanya ke arah pondok dan sekitarnya.
"Raden Jokowanengpati, ada keperluan apakah raden datang ke tempat sunyi ini? Apakah diutus oleh paman Empu Bharodo?"
"Eh, kakang cantrik Wisudo!" Pemuda ini berkata tak senang.
"Kami sudah datang ke sini, mengapa engkau tidak lekas-lekas melaporkan kedatangan kami kepada paman Resi Bhargowo? Mengapa engkau lancang mengadakan penyambutan sendiri?"
"Huh-huh-huh, benar..... benar....., segala macam cantrik cilik mau tahu saja, heh-heh!"
Panas hati Wisudo dan saudara-saudaranya mendengar ucapan Cekel Aksomolo itu, akan tetapi karena kakek itu datang bersama Jokowanengpati, mereka menahan sabar. Wisudo menjawab,
"Ketahuilah, raden. Baru beberapa hari ini sang resi telah pergi meninggalkan pondok, karena sang resi tidak ada maka saya berani mewakilinya menyambut tamu yang datang."
Jokowanengpati kecewa.
"Paman Resi Bhargowo bepergian? Ke mana.......??"
"Raden, sebagai murid terkasih paman Empu Bharodo, bagaimana raden masih mengajukan pertanyaan ini? Kemanakah perginya seorang pertapa? Kemana lagi kalau tidak melakukan lelana brata, melaksanakan tugas suci memberi penerangan bagi yang gelap, mencarikan tongkat bagi yang pincang dan mengulurkan tangan menolong mereka yang memerlukan pertolongan."
"Cukup! Tak perlu kau memberi wejangan! Lalu......., di mana adanya Pujo dan Kartikosari?"
Kembali pandang mata Jokowanengpati liar mencari-cari. Mulai tak enaklah hati para cantrik Bayuwismo, dan makin panas hati Wisudo.
"Merekapun tidak berada di sini, dan harap jangan tanyakan kepada kami ke mana mereka pergi, karena kami sendiri tidak tahu."
Jokowanengpati tampak kecewa sekali. Ia menoleh kepada Cekel Aksomolo dengan kening berkerut.
"Bagaimana ini, eyang? Kedatangan kita sia-sia....."
"Ooohh-hoh, jangan percaya segala cantrik cilik yang omongannya molak-malik. Tentu mereka ini tahu di mana sembunyinya Resi Bhargowo dan Pujo! Resi pengecut itu bersama mantunya tentu telah melihat kita datang, lalu mereka pergi menyembunyikan diri, dan cantrlk-cantrik penguk ini sengaja membohong."

Jokowanengpati dalam hatinya tidak percaya bahwa orang seperti paman gurunya itu akan lari menyembunyikan diri, akan tetapi dia diam saja, lalu ia berkata,
"Kakang cantrik Wisudo, aku akan melihat apakah benar-benar paman resi tidak berada di dalam pondok!"
Setelah berkata demikian, cepat sekali tubuhnya berkelebat memasuki pondok. Enam orang cantrik Bayuwismo marah melihat kelancangan Jokowanengpati, akan tetapi tak mungkin mereka dapat menghalangi karena pemuda itu mempergunakan Aji Bayu Sakti sehingga gerakannya seperti terbang saja. Oleh karena tidak berdaya menghadapi murid Empu Bharodo yang sakti itu, cantrik Wisudo dan lima orang saudaranya menumpahkan kemarahan hati kepada Cekel Aksomolo!. Cantrik Wisudo melotot memandang kepada kakek itu dan membentak.
"Heh, Cekel Aksomolo! Kau ini seorang tua bangka yang tak patut dihormati orang muda. Pekertimu seperti ini sungguh tidak patut, apalagi mengingat pengakuanmu bahwa engkau sudah menjadi pertapa. Kata-katamu berbisa seperti Durno, tingkahmu sombong dan tak tahu malu. Ingatkah kau bahwa kami ini tuan rumah sedangkan engkau hanyalah seorang tamu tak diundang?"
"Wuah-wah, huh-huh, kurang ajar! Bocah cilik kurang ajar! Cantrik okrak-akrik bocah kemarin sore, berani kurang ajar terhadap Cekel Aksomolo? Apakah sudah bosan hidup?"
"Mengapa tidak berani? Bukan usia tua yang kulawan, bukan pula orangnya yang kucela, melainkan pekertinya! Biarpun engkau tua, pekertimu seperti bocah nylelek. Apalagi engkaupun hanya seorang cekel, seorang cantrik, sama dengan kami! Hayo pergi dari sini, tak sudi kami melihat tingkahmu lebih lama lagi!"
Kini Wisudo sudah maju dengan sikap menantang.
"Waduhhh, kalau aku tidak mau pergi bagaimana?"
"Akan kami usir dengan kekerasan!" bentak cantrik Wisudo yang sudah marah.
"Uuhhh, uuhh, tidak kajen (terhormat) awakku.......! Cantrik cilik kalian minta dihajar, biar kalian rasakan kesaktian Cekel Aksomolo!"
Tiba-tiba kakek ini menggerakkan tasbih hitamnya, diputar-putar di udara dan terdengarlah suara nyaring dan aneh. Tadinya cantrik Wisudo dan lima orang saudaranya menyangka bahwa kakek yang seperti orang gila itu hendak menyerang mereka dengan hantaman tasbih, akan tetapi ternyata tasbih itu hanya diputar-putar di atas kepala dan sama sekali kakek itu tidak menyerang mereka.
Tentu saja mereka merasa heran dan geli, mengira bahwa kakek ini benar-benar miring otaknya. Akan tetapi mendadak cantrik Wisudo merasa betapa suara yang berkeritikan dan aneh itu kini mengaung-ngaung dan menyerang telinga dan menimbulkan rasa nyeri seakan-akan telinganya ditusuk-tusuk lidi! Kagetlah Wisudo, dan lebih lagi kagetnya melihat seorang di antara saudaranya sudah roboh terguling, mengaduh-aduh karena telinga kirinya mengeluarkan darah! Cepat cantrik Wisudo menjatuhkan diri duduk bersila mengerahkan kekuatan batinnya. Saudara-saudaranya juga cepat mencontoh perbuatan Wisudo, hanya seorang cantrik yang masih berdiri, bahkan kini bingung menolong cantrik yang telinga kirinya berdarah. Cantrik ini adalah cantrik Wistoro. Cantrik Wistoro bingung sekali melihat akibat yang amat hebat, karena biarpun sudah bersila mengerahkan tenaga batin, tetap saja cantrik-cantrik Bayuwismo itu tidak tahan terhadap suara mujijat dari tasbih itu. Memang hebat bukan main akibat suara ini. Para cantrik, kecuali Wistoro, sudah duduk bersila meramkan mata. Namun, seorang demi seorang tak kuat bertahan, mulailah darah menetes-netes keluar dari dalam telinga mereka dan yang paling akhir, cantrik Wisudo sendiri yang ilmunya paling tinggi di antara saudara-saudaranya, juga tidak tahan lagi dan kedua telinganya mengeluarkan darah dari luka di dalam karena kendangan telinga mereka telah pecah oleh suara mujijat.

Cekel Aksomolo tertawa terkekeh-kekeh. Akan tetapi tiba-tiba matanya terbelalak heran ketika ia melihat seorang diantara para cantrik itu tidak apa-apa, tidak terpengaruh oleh suara tasbihnya. Cantrik Wistoro ini sama sekali tidak mengeluarkan darah dari kedua telinganya, bahkan kini ia sibuk merawat saudara-saudaranya, mengusap dan membersihkan darah yang keluar dari telinganya, sambil matanya kadang-kadang melotot ke arah Cekel Aksomolo! Tentu saja Cekel Aksomolo terkejut sekali! Ia tidak percaya ada seorang cantrik yang mampu menahan suara tasbihnya, maka ia melangkah mendekati dan kini ia menggoyangkan tasbihnya lebih keras lagi, dekat telinga cantrik Wistoro! Para cantrik lainnya hanya memandang, mereka sudah tidak lagi terpengaruh suara tasbih karena sudah tak dapat mendengar, hanya merasakan nyerinya bekas kendangan telinga yang pecah. Biarpun diserang suara sedemikian hebatnya, cantrik Wistoro enak-enak saja, sama sekali tidak mengerahkan tenaga batin untuk menahan, akan tetapi sedikitpun ia tidak terpengaruh! Bimbanglah hati Cekel Aksomolo! Betapapun saktinya seorang lawan, kalau diserang suara tasbihnya dari jarak sedekat itu dengan telinga, pula tanpa pengerahan tenaga sakti untuk melawan, tak mungkin akan kuat bertahan. Akan tetapi cantrik muda ini enak-enak saja. Dapat dibayangkan betapa saktinya cantrik ini! Ataukah tasbihnya yang kehilangan keampuhan?. Pada saat itu Jokowanengpati sudah melompat keluar dari pondok setelah sia-sia melakukan penggeledahan. Begitu keluar ia terkejut mendengar suara berkeritikan yang amat kecil dan tinggi nadanya, menyerang telinganya serasa jarum menusuk. Cepat ia mengeluarkan benda pemberian Cekel Aksomolo dan menyumpal kedua telinganya. Dengan alat penahan ini, tanpa pengerahan tenaga sakti ia dapat mendekat. Iapun ikut terheran-heran melihat seorang cantrik muda yang tak dikenalnya sedang merawat lima orang cantrik lain yang rebah tidak karuan dengan telinga berdarah, dan melihat Cekel Aksomolo membunyikan tasbih di dekat telinga cantrik muda itu, ia makin heran lalu mendekat. Cekel Aksomolo menghentikan bunyi tasbihnya dan menghapus keringat dengan ujung lengan baju. Menggerakkan tasbih mengeluarkan suara mujijat membutuhkan pengerahan tenaga sakti yang besar dan dia tadi sudah bersusah payah dalam penasarannya untuk merobohkan Wistoro, namun sia-sia.

Kini ia mengulur tangan membuka penutup telinga yang ia pakai sendiri sambil menjenguk ke arah lubang telinga Wistoro untuk melihat kalau-kalau cantrik itu menggunakan alat penutup lubang telinga. Akan tetapi sama sekali tidak. Ketika ia mengincar ke arah lubang kedua telinga cantrik itu, ia hanya melihat tai telinga dan bulu-bulu telinga! Makin penasaranlah dia. Kalau begini, tentu tasbihku yang kehilangan keampuhannya. Maka ia mendekatkan tasbih di depan telinga kanannya, lalu mengguncang tasbih itu.
"Ttrrrriiiikk!"
Dan akhirnya...... Cekel Aksomolo roboh terguling! Cepat-cepat ia melompat bangun dan matanya berair. Sakit sekali rasa telinga kanannya sampai air matanya keluar. Ternyata tasbihnya masih ampuh, tenaga saktinya masih hebat! Akan tetapi mengapa cantrik muda itu tidak terpengaruh? Ia menutupi lagi telinganya dan mendekati cantrik Wistoro, menggerakkan tasbih di dekat telinganya.

<<< Bagian 024                                                                                    Bagian 026 >>>

No comments:

Post a Comment