Badai Laut Selatan ; Bagian 026


"Ttriiiik!"
Wistoro tidak terguncang sama sekali, hanya menoleh dan memandang dengan mata melotot.
"Uuuhhh-huh-huh, kiranya engkau memiliki ilmu juga!"
Akhirnya Cekel Aksomolo berkata sambil menghentikan bunyi tasbihnya dan melepas penutup telinga. Jokowanengpati juga membuka penutup telinganya. Wistoro diam saja, hanya mulai memapah saudara-saudaranya memasuki pondok, seorang demi seorang. Kemudian ia pergi keluar lagi dan duduk bersila di depan pintu pondok, sama sekali tidak memperdulikan Cekel Aksomolo yang menantang-nantangnya.
"Hayo berdiri, cantrik bungkik! Hayo kita bertanding untuk menentukan keunggulan!" Cekel Aksomolo mencak-mencak dan memutar-mutar tasbihnya di atas kepala sampai mengeluarkan suara seperti lebah mengamuk. Namun Wistoro yang ditantang itu hanya duduk bersila tanpa bergerak.

Melihat lagak Cekel Aksomolo, diam-diam Jokowanengpati mendongkol. Ia sudah merasa kecewa sekali melihat kenyataan bahwa Resi Bhargowo, Pujo dan Kartikosari tidak berada di tempat itu. Perjalanannya sia-sia belaka, bahaya yang mengancam dirinya belum dapat dilenyapkan. Kekecewaan itu menjadi rasa mendongkol ketika melihat betapa Cekel Aksomolo "jagoannya" itu kini mencak-mencak dan marah-marah terhadap seorang cantrik yang tiada artinya!
"Sudahlah, eyang Cekel. Untuk apa melayani cantrik? Marilah kita pergi dari sini, kita cari Resi Bhargowo dan Pujo sampai dapat." Ia membujuk.
"Dia menghinaku benar-benar! Dia tidak memandang mata kepadaku! Suara sakti tasbihku dianggap kentut saja! Tantanganku dianggap angin lalu! Biar dia sakti mandraguna putera dewata sekalipun, akan mampus dia bertanding melawan Cekel Aksomolo yang mbaurekso Wilis!"
Jokowanengpati memegang lengan kanan kakek yang mencak-mencak itu sambil berbisik dekat telinganya,
"Eyang Cekel, percuma eyang melayani dia! Dia itu adalah seorang yang tuli dan gagu!"
"Hahh.......??! Demi iblis puncak Wilis! Huuh-huh-huh, dasar pikun! Pantas saja suara sakti tasbihku tidak mempengaruhinya! Kiranya kedua telinganya sudah bobrok! Yang sudah bobrok, mana bisa rusak lagi?"
Cekel Aksomolo menggaruk-garuk belakang telinganya, mukanya merah karena malu.
"Sudahlah, eyang. Lebih baik kita pergi mencari Resi Bhargowo dan Pujo. Kurasa mereka tidak pergi jauh dari sini."
Karena takut kakek itu melakukan perbuatan edan-edanan lagi, Jokowanengpati menuntunnya pergi dari situ, kembali ke tempat pasukan yang menanti. Diam-diam ia menyesal juga mengapa kakek ini melukai para cantrik yang sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan urusan mereka, para cantrik yang seperti juga cantrik-cantrik gurunya, merupakan orang-orang yang tekun mempelajari ilmu kebatinan sambil melayani sang pertapa.

Dengan tangan hampa Jokowanengpati bersama Cekel Aksomolo meninggalkan Sungapan, diikuti oleh pasukan yang mengawal. Di sepanjang jalan mereka bertanya-tanya kepada para penduduk di dusun pasisir, namun tak seorangpun di antara mereka tahu ke mana perginya Resi Bhargowo. Ada yang melihat kakek pertapa itu berjalan kaki seorang diri, akan tetapi tidak ada yang tahu hendak kemana. Juga tentang Pujo dan Kartikosari, tidak ada orang yang mengetahuinya. Namun Jokowanengpati tidak putus harapan. Pemuda ini maklum bahwa sebelum Resi Bhargowo dan Pujo ditumpas, hidupnya selalu akan terancam bahaya. Atau lebih aman lagi kalau la bisa mendapatkan Kartikosari! Mengingat dan membayangkannya saja membuat Jokowanengpati menggigil. Wanita hebat! Belum pernah selama hidupnya ia mendapatkan seorang wanita seperti Kartikosari. Akan tetapi juga wanita berbahaya, karena hanya Kartikosari seoranglah yang akan dapat membuka rahasianya, akan dapat mengenalnya sekali melihat jari tangan kirinya. Karena itu, wanita ini perlu dipaksa menjadi miliknya selamanya, atau dibunuh!. Karena ada Cekel Aksomolo di sampingnya, tanpa ragu-ragu Jokowanengpati menuruni tebing dan mendatangi guha.
Guha Siluman di mana pada malam hari itu, setahun yang lalu, ia menggagahi Kartikosari. Akan tetapi guha itu kosong, kosong dan sunyi. Sejenak hatinya ikut kosong dan sunyi ketika ia berdiri di mulut guha. Terbayanglah semua peristiwa di malam gelap itu, terngiang di telinganya jerit dan rintih Kartikosari, dan pada saat itu rindu dendam menenggelamkan hatinya. Kartikosari, di manakah engkau sekarang, manis? Pertanyaan hatinya ini dijawab oleh gulungan ombak yang memecah batu karang, menggelepar seperti halilintar. Jokowanengpati bergidik, merasa serem. Seakan-akan suara itu merupakan geraman marah yang mengancamnya. Tergesa-gesa ia mengajak Cekel Aksomolo untuk mendaki naik kembali meninggalkan guha yang menimbulkan kenangan nikmat, juga menimbulkan rasa ngeri dan serem itu. Setelah sebulan lamanya mencari-cari tanpa hasil, akhirnya Jokowanengpati mengajak rombongan kembali ke Selopenangkep. Sebetulnya ia masih ingin mencari sampai dapat, akan tetapi Cekel Aksomolo mengomel saja menyatakan kesal dan bosan berkeliaran di tepi laut, kedua karena waktu untuk mengadakan pertemuan besar antara para tokoh sakti yang akan bersekutu dengan Adipati Joyowiseso sudah dekat, maka terpaksa mereka beramai kembali ke Selopenangkep.

Pada suatu hari tibalah rombongan ini dalam sebuah hutan penuh pohon randu alas dan jati. Untuk menghibur hati yang kesal, Jokowanengpati mengajak rombongannya menggunakan kesempatan terluang untuk sekalian berburu binatang. Oleh karena itu mereka sengaja mencari jalan melalui gunung yang banyak hutannya. Semua pendapatan berburu dimakan dagingnya di tempat dan dalam perburuan ini, Cekel Aksomolo memperlihatkan kepandaiannya. Kalau para pengawal berburu binatang dengan anak panah, sedangkan Jokowanengpati yang memiliki Aji Bayu Sakti dapat mengejar dan membunuh kijang dengan pukulan tangannya, adalah kakek sakti ini hanya dengan segenggam isi mianding sekali lempar berhasil menjatuhkan belasan ekor burung derkuku atau kepodang yang sedang terbang lewat di atas!. Akan tetapi hutan-hutan di Pegunungan Kidul tidaklah kaya dengan binatang. Apalagi hutan randu alas yang mereka masuki pagi hari itu, amat sunyi. Tidak ada kijang, tidak ada babi hutan, yang ada hanya monyet dan harimau. Memburu harimau sangat sukar karena begitu rombongan itu memasuki hutan, semua harimau sudah lari bersembunyi jauh. Adapun monyet-monyet merupakan binatang yang tak mereka sukai dagingnya.
"Sayang sekali perjalananku jauh-jauh dari Wilis sia-sia belaka." Untuk ke sekian kalinya Cekel Aksomolo mengomel.
Tak enak hati Jokowanengpati. Memang sudah jauh-jauh ia mengundang orang tua sakti ini, kiranya sekarang hanya diajak berputar-putar mencari orang tanpa hasil sampai sebulan lebih.
"Agaknya benar dugaan eyang bahwa Resi Bhargowo dan Pujo sudah mendengar akan kedatangan kita. Resi Bhargowo tentu takut mendengar bahwa eyang ikut datang, maka lebih dulu menyingkir dan bersembunyi. Kalau tidak demikian, tentu ada penduduk yang mengetahui di mana dia pergi. Agaknya mereka semua pergi dengan diam-diam."
Cekel Aksomolo menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku pernah bertemu dengan gurumu, Ki Empu Bharodo, akan tetapi Resi Bhargowo hanya baru kudengar suaranya saja. Akan tetapi mengingat dia itu adik seperguruan Empu Bharodo kurasa tak mungkin ia takut menghadap lawan yang belum pernah dicobanya."
"Betapapun saktinya, dia pasti akan mati konyol bertanding melawan eyang" Jokowanengpati memuji.
"Guru saya sendiri takkan menang melawan eyang."
Kakek tua renta itu memang seorang yang haus akan puji dan umpak. Ia terkekeh senang.
"Jelek-jelek, kalau hanya menghadapi Resi Bhargowo saja, tasbih ini pasti masih sanggup menghancurkan kepalanya!"

Pada saat itu terdengar bunyi tertawa meringkik. Kiranya seekor kera jantan sedang mengenjot-enjot batang pohon di atas mereka sambil terkekeh-kekeh entah apa yang ditertawakan dan entah binatang itu sedang tertawa ataukah menangis, akan tetapi lagaknya seperti seorang anak kecil bermain-main sambil tertawa. Agaknya kelakuan kera itu menggemaskan hati Cekel Aksomolo. Dari atas kuda ia menggerakkan tangannya, dikebutkan ke atas dan........ kera itu memekik lalu terguling jatuh terbanting ke bawah. Dari hidung, mulut dan telinganya mengalir darah dan ia mati seketika!.
"Huh, sayang dia bukan Resi Bhargowo! Resi Bhargowo, di mana engkau? Muncullah di sini, aku siap menghadapimu, Resi Bhargowo.....!!"
Cekel Aksomolo dengan tingkah sombong menantang-nantang memanggil Resi Bhargowo, Tiba-tiba dari atas pohon melayang turun bayangan orang. Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo terkejut memandang gerakan orang itu gesit sekali dan ternyata dia adalah seorang kakek yang sudah tua sekali, rambut dan jenggotnya putih semua, pakaiannya juga putih, kakinya telanjang. Tanpa menghiraukan mereka yang duduk di atas kuda, kakek ini mengeluarkan suara ngak-ngak nguk-nguk seperti kera, langsung menghampiri kera yang terbanting mati, lalu menangis! Masih terisak-isak kakek tua itu membongkar dan menggali tanah, kemudian mengubur bangkai kera dan menangis lagi!.
"Heh-heh, kau ini orang gila ataukah kera mabok kecubung?" Cekel Aksomolo menegur karena merasa mendongkol melihat si kakek itu sama sekali tidak memperdulikannya, sedangkan cara mengubur bangkai kera itu merupakan perbuatan yang terang-terangan berlawanan dan mencela perbuatannya membunuh kera tadi.
Kini kakek itu membalikkan tubuh dan memandang penuh perhatian. Hanya sejenak saja ia memandang Cekel Aksomolo, akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan Jokowanengpati, ia segera bertanya, suaranya parau,
"Apakah engkau yang bernama Pujo anak mantu Resi Bhargowo?"
Jokowanengpati terkejut dan diam-diam timbul harapan hatinya untuk mendengar dari kakek aneh ini di mana adanya Resi Bhargowo.
Maka ia lalu menjawab, "Kalau aku betul Pujo bagaimana dan kalau bukan bagaimana?"
"Krrrr! Krrrrr! Betul sombong...... sombong sekali.......!" Kakek putih itu berjingkrak-jingkrak lalu bertanya kepada Cekel Aksomolo,
"Dan engkau ini tua bangka buruk apakah seorang cantrik pengikut Resi Bhargowo?"
"Uuhh-huh-huh, sialan awakku! Eh , kera monyet ketek kunyuk lutung!" la memaki.
"Kalau benar bagaimana kalau bukan bagaimana? " Ia meniru jawaban Jokowanengpati.

Kakek tua aneh itu bukan lain adalah Resi Telomoyo, pertapa di puncak Gunung Telomoyo. Dia memang berwatak aneh dan edan-edanan, kadang-kadang seperti seekor kera. Akan tetapi ia amat marah kalau melihat seekor kera diganggu, maka sekarang ia marah bukan main melihat seekor kera dibunuh secara keji. Agaknya karena ia pemuja Hanoman, tokoh kera sakti, ia lalu menganggap binatang kera sebagai segolongannya dan amat menyayang binatang ini. Mendengar jawaban-jawaban itu ia makin marah dan berjingkrak, mengeluarkan gerangan-gerengan seperti seekor kera jantan marah.
"Cantrik tua mau mampus! Tanpa sebab kau membunuh seekor kera yang tidak berdosa. Biarlah kubunuh juga engkau dan kau lihat siapakah di antara kau dan kera tadi yang akan mendapat tempat lebih nikmat di alam halus!"
Baru saja ucapannya habis, tubuhnya sudah meloncat dan ia menerkam Cekel Aksomolo yang masih duduk di atas kuda! Menyaksikan gerakan orang yang amat cekatan ini dan sambaran angin pukulan amat dahsyat keluar dari tangan yang hendak mencengkeram, Cekel Aksomolo terkejut sekali dan cepat ia menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Bressss!!"
Hebat sekali tenaga sakti kedua orang tokoh tua ini, sama dahsyat dan kuatnya berjumpa di tengah udara dan akibatnya, keduanya terpental seperti disambar halilintar! Resi Telomoyo terpental dan berjungkir balik sampai lima kali di udara, baru tubuhnya turun ke arah tanah sejauh lima meter. Adapun Cekel Aksomolo juga terpental dari atas kudanya, melayang seperti sebuah layang-layang putus talinya, dan turun ke atas tanah seperti sehelai daun kering sambil menyumpah-nyumpah! Sejenak keduanya saling pandang dari jarak sepuluh meter, Saling pandang dengan terheran-heran dan kedua mulut mereka tiada hentinya mengeluarkan bunyi aneh. Resi Telomoyo mengeluarkan suara meringkik-ringkik sedangkan Cekel Aksomolo menyumpah-nyumpah. Dua puluh empat orang pengawal yang melihat pertandingan dimulai, cepai melompat tutun dari kuda masing-masing dan lari mendekati, mencabut pedang dan golok lalu mengurung tempat pertandingan, siap untuk mengeroyok kakek seperti kera itu. Adapun Jokowanengpati diam-diam merasa gembira sekali karena agaknya kini Cekel Aksomolo bertemu tanding. Betapapun juga, ia ingin mendengar dari kakek aneh ini apa sebabnya mencari Pujo dan apakah kakek ini mengetahui tempat sembunyi Resi Bhargowo Di samping itu, iapun bersiap-siap untuk mengeroyok jika Cekel Aksomolo tidak mampu mengalahkan lawannya. Untuk menguji kepandaian kakek aneh ini, ia lalu memberi tanda kepada kepala pasukan untuk maju menangkap Resi Telomoyo. Kepala pasukan memberi aba-aba dan dua belas orang pengawal serentak maju dengan senjata di tangan mengurung kakek yang sudah mulai menggaruk-garuk punggung seperti seekor kera.

<<< Bagian 025                                                                                    Bagian 027 >>>

No comments:

Post a Comment