"Ttriiiik!"
Wistoro tidak
terguncang sama sekali, hanya menoleh dan memandang dengan mata melotot.
"Uuuhhh-huh-huh,
kiranya engkau memiliki ilmu juga!"
Akhirnya Cekel
Aksomolo berkata sambil menghentikan bunyi tasbihnya dan melepas penutup
telinga. Jokowanengpati juga membuka penutup telinganya. Wistoro diam saja,
hanya mulai memapah saudara-saudaranya memasuki pondok, seorang demi seorang.
Kemudian ia pergi keluar lagi dan duduk bersila di depan pintu pondok, sama
sekali tidak memperdulikan Cekel Aksomolo yang menantang-nantangnya.
"Hayo
berdiri, cantrik bungkik! Hayo kita bertanding untuk menentukan
keunggulan!" Cekel Aksomolo mencak-mencak dan memutar-mutar tasbihnya di
atas kepala sampai mengeluarkan suara seperti lebah mengamuk. Namun Wistoro
yang ditantang itu hanya duduk bersila tanpa bergerak.
Melihat lagak
Cekel Aksomolo, diam-diam Jokowanengpati mendongkol. Ia sudah merasa kecewa
sekali melihat kenyataan bahwa Resi Bhargowo, Pujo dan Kartikosari tidak berada
di tempat itu. Perjalanannya sia-sia belaka, bahaya yang mengancam dirinya
belum dapat dilenyapkan. Kekecewaan itu menjadi rasa mendongkol ketika melihat
betapa Cekel Aksomolo "jagoannya" itu kini mencak-mencak dan
marah-marah terhadap seorang cantrik yang tiada artinya!
"Sudahlah,
eyang Cekel. Untuk apa melayani cantrik? Marilah kita pergi dari sini, kita
cari Resi Bhargowo dan Pujo sampai dapat." Ia membujuk.
"Dia
menghinaku benar-benar! Dia tidak memandang mata kepadaku! Suara sakti tasbihku
dianggap kentut saja! Tantanganku dianggap angin lalu! Biar dia sakti
mandraguna putera dewata sekalipun, akan mampus dia bertanding melawan Cekel
Aksomolo yang mbaurekso Wilis!"
Jokowanengpati
memegang lengan kanan kakek yang mencak-mencak itu sambil berbisik dekat telinganya,
"Eyang
Cekel, percuma eyang melayani dia! Dia itu adalah seorang yang tuli dan
gagu!"
"Hahh.......??!
Demi iblis puncak Wilis! Huuh-huh-huh, dasar pikun! Pantas saja suara sakti
tasbihku tidak mempengaruhinya! Kiranya kedua telinganya sudah bobrok! Yang
sudah bobrok, mana bisa rusak lagi?"
Cekel Aksomolo
menggaruk-garuk belakang telinganya, mukanya merah karena malu.
"Sudahlah,
eyang. Lebih baik kita pergi mencari Resi Bhargowo dan Pujo. Kurasa mereka
tidak pergi jauh dari sini."
Karena takut
kakek itu melakukan perbuatan edan-edanan lagi, Jokowanengpati menuntunnya
pergi dari situ, kembali ke tempat pasukan yang menanti. Diam-diam ia menyesal
juga mengapa kakek ini melukai para cantrik yang sama sekali tiada
sangkut-pautnya dengan urusan mereka, para cantrik yang seperti juga
cantrik-cantrik gurunya, merupakan orang-orang yang tekun mempelajari ilmu
kebatinan sambil melayani sang pertapa.
Dengan tangan
hampa Jokowanengpati bersama Cekel Aksomolo meninggalkan Sungapan, diikuti oleh
pasukan yang mengawal. Di sepanjang jalan mereka bertanya-tanya kepada para
penduduk di dusun pasisir, namun tak seorangpun di antara mereka tahu ke mana
perginya Resi Bhargowo. Ada yang melihat kakek pertapa itu berjalan kaki
seorang diri, akan tetapi tidak ada yang tahu hendak kemana. Juga tentang Pujo
dan Kartikosari, tidak ada orang yang mengetahuinya. Namun Jokowanengpati tidak
putus harapan. Pemuda ini maklum bahwa sebelum Resi Bhargowo dan Pujo ditumpas,
hidupnya selalu akan terancam bahaya. Atau lebih aman lagi kalau la bisa
mendapatkan Kartikosari! Mengingat dan membayangkannya saja membuat
Jokowanengpati menggigil. Wanita hebat! Belum pernah selama hidupnya ia
mendapatkan seorang wanita seperti Kartikosari. Akan tetapi juga wanita
berbahaya, karena hanya Kartikosari seoranglah yang akan dapat membuka
rahasianya, akan dapat mengenalnya sekali melihat jari tangan kirinya. Karena
itu, wanita ini perlu dipaksa menjadi miliknya selamanya, atau dibunuh!. Karena
ada Cekel Aksomolo di sampingnya, tanpa ragu-ragu Jokowanengpati menuruni
tebing dan mendatangi guha.
Guha Siluman
di mana pada malam hari itu, setahun yang lalu, ia menggagahi Kartikosari. Akan
tetapi guha itu kosong, kosong dan sunyi. Sejenak hatinya ikut kosong dan sunyi
ketika ia berdiri di mulut guha. Terbayanglah semua peristiwa di malam gelap
itu, terngiang di telinganya jerit dan rintih Kartikosari, dan pada saat itu
rindu dendam menenggelamkan hatinya. Kartikosari, di manakah engkau sekarang,
manis? Pertanyaan hatinya ini dijawab oleh gulungan ombak yang memecah batu
karang, menggelepar seperti halilintar. Jokowanengpati bergidik, merasa serem.
Seakan-akan suara itu merupakan geraman marah yang mengancamnya. Tergesa-gesa
ia mengajak Cekel Aksomolo untuk mendaki naik kembali meninggalkan guha yang
menimbulkan kenangan nikmat, juga menimbulkan rasa ngeri dan serem itu. Setelah
sebulan lamanya mencari-cari tanpa hasil, akhirnya Jokowanengpati mengajak
rombongan kembali ke Selopenangkep. Sebetulnya ia masih ingin mencari sampai
dapat, akan tetapi Cekel Aksomolo mengomel saja menyatakan kesal dan bosan
berkeliaran di tepi laut, kedua karena waktu untuk mengadakan pertemuan besar
antara para tokoh sakti yang akan bersekutu dengan Adipati Joyowiseso sudah
dekat, maka terpaksa mereka beramai kembali ke Selopenangkep.
Pada suatu
hari tibalah rombongan ini dalam sebuah hutan penuh pohon randu alas dan jati.
Untuk menghibur hati yang kesal, Jokowanengpati mengajak rombongannya
menggunakan kesempatan terluang untuk sekalian berburu binatang. Oleh karena
itu mereka sengaja mencari jalan melalui gunung yang banyak hutannya. Semua
pendapatan berburu dimakan dagingnya di tempat dan dalam perburuan ini, Cekel
Aksomolo memperlihatkan kepandaiannya. Kalau para pengawal berburu binatang
dengan anak panah, sedangkan Jokowanengpati yang memiliki Aji Bayu Sakti dapat
mengejar dan membunuh kijang dengan pukulan tangannya, adalah kakek sakti ini
hanya dengan segenggam isi mianding sekali lempar berhasil menjatuhkan belasan
ekor burung derkuku atau kepodang yang sedang terbang lewat di atas!. Akan
tetapi hutan-hutan di Pegunungan Kidul tidaklah kaya dengan binatang. Apalagi
hutan randu alas yang mereka masuki pagi hari itu, amat sunyi. Tidak ada
kijang, tidak ada babi hutan, yang ada hanya monyet dan harimau. Memburu
harimau sangat sukar karena begitu rombongan itu memasuki hutan, semua harimau
sudah lari bersembunyi jauh. Adapun monyet-monyet merupakan binatang yang tak
mereka sukai dagingnya.
"Sayang
sekali perjalananku jauh-jauh dari Wilis sia-sia belaka." Untuk ke sekian
kalinya Cekel Aksomolo mengomel.
Tak enak hati
Jokowanengpati. Memang sudah jauh-jauh ia mengundang orang tua sakti ini,
kiranya sekarang hanya diajak berputar-putar mencari orang tanpa hasil sampai
sebulan lebih.
"Agaknya
benar dugaan eyang bahwa Resi Bhargowo dan Pujo sudah mendengar akan kedatangan
kita. Resi Bhargowo tentu takut mendengar bahwa eyang ikut datang, maka lebih
dulu menyingkir dan bersembunyi. Kalau tidak demikian, tentu ada penduduk yang
mengetahui di mana dia pergi. Agaknya mereka semua pergi dengan diam-diam."
Cekel Aksomolo
menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku
pernah bertemu dengan gurumu, Ki Empu Bharodo, akan tetapi Resi Bhargowo hanya
baru kudengar suaranya saja. Akan tetapi mengingat dia itu adik seperguruan
Empu Bharodo kurasa tak mungkin ia takut menghadap lawan yang belum pernah
dicobanya."
"Betapapun
saktinya, dia pasti akan mati konyol bertanding melawan eyang"
Jokowanengpati memuji.
"Guru
saya sendiri takkan menang melawan eyang."
Kakek tua
renta itu memang seorang yang haus akan puji dan umpak. Ia terkekeh senang.
"Jelek-jelek,
kalau hanya menghadapi Resi Bhargowo saja, tasbih ini pasti masih sanggup
menghancurkan kepalanya!"
Pada saat itu
terdengar bunyi tertawa meringkik. Kiranya seekor kera jantan sedang
mengenjot-enjot batang pohon di atas mereka sambil terkekeh-kekeh entah apa
yang ditertawakan dan entah binatang itu sedang tertawa ataukah menangis, akan
tetapi lagaknya seperti seorang anak kecil bermain-main sambil tertawa. Agaknya
kelakuan kera itu menggemaskan hati Cekel Aksomolo. Dari atas kuda ia
menggerakkan tangannya, dikebutkan ke atas dan........ kera itu memekik lalu
terguling jatuh terbanting ke bawah. Dari hidung, mulut dan telinganya mengalir
darah dan ia mati seketika!.
"Huh,
sayang dia bukan Resi Bhargowo! Resi Bhargowo, di mana engkau? Muncullah di
sini, aku siap menghadapimu, Resi Bhargowo.....!!"
Cekel Aksomolo
dengan tingkah sombong menantang-nantang memanggil Resi Bhargowo, Tiba-tiba
dari atas pohon melayang turun bayangan orang. Jokowanengpati dan Cekel
Aksomolo terkejut memandang gerakan orang itu gesit sekali dan ternyata dia
adalah seorang kakek yang sudah tua sekali, rambut dan jenggotnya putih semua,
pakaiannya juga putih, kakinya telanjang. Tanpa menghiraukan mereka yang duduk
di atas kuda, kakek ini mengeluarkan suara ngak-ngak nguk-nguk seperti kera,
langsung menghampiri kera yang terbanting mati, lalu menangis! Masih
terisak-isak kakek tua itu membongkar dan menggali tanah, kemudian mengubur
bangkai kera dan menangis lagi!.
"Heh-heh,
kau ini orang gila ataukah kera mabok kecubung?" Cekel Aksomolo menegur
karena merasa mendongkol melihat si kakek itu sama sekali tidak
memperdulikannya, sedangkan cara mengubur bangkai kera itu merupakan perbuatan
yang terang-terangan berlawanan dan mencela perbuatannya membunuh kera tadi.
Kini kakek itu
membalikkan tubuh dan memandang penuh perhatian. Hanya sejenak saja ia
memandang Cekel Aksomolo, akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan
Jokowanengpati, ia segera bertanya, suaranya parau,
"Apakah
engkau yang bernama Pujo anak mantu Resi Bhargowo?"
Jokowanengpati
terkejut dan diam-diam timbul harapan hatinya untuk mendengar dari kakek aneh
ini di mana adanya Resi Bhargowo.
Maka ia lalu
menjawab, "Kalau aku betul Pujo bagaimana dan kalau bukan bagaimana?"
"Krrrr!
Krrrrr! Betul sombong...... sombong sekali.......!" Kakek putih itu
berjingkrak-jingkrak lalu bertanya kepada Cekel Aksomolo,
"Dan
engkau ini tua bangka buruk apakah seorang cantrik pengikut Resi
Bhargowo?"
"Uuhh-huh-huh,
sialan awakku! Eh , kera monyet ketek kunyuk lutung!" la memaki.
"Kalau
benar bagaimana kalau bukan bagaimana? " Ia meniru jawaban Jokowanengpati.
Kakek tua aneh
itu bukan lain adalah Resi Telomoyo, pertapa di puncak Gunung Telomoyo. Dia
memang berwatak aneh dan edan-edanan, kadang-kadang seperti seekor kera. Akan
tetapi ia amat marah kalau melihat seekor kera diganggu, maka sekarang ia marah
bukan main melihat seekor kera dibunuh secara keji. Agaknya karena ia pemuja
Hanoman, tokoh kera sakti, ia lalu menganggap binatang kera sebagai
segolongannya dan amat menyayang binatang ini. Mendengar jawaban-jawaban itu ia
makin marah dan berjingkrak, mengeluarkan gerangan-gerengan seperti seekor kera
jantan marah.
"Cantrik
tua mau mampus! Tanpa sebab kau membunuh seekor kera yang tidak berdosa.
Biarlah kubunuh juga engkau dan kau lihat siapakah di antara kau dan kera tadi
yang akan mendapat tempat lebih nikmat di alam halus!"
Baru saja
ucapannya habis, tubuhnya sudah meloncat dan ia menerkam Cekel Aksomolo yang
masih duduk di atas kuda! Menyaksikan gerakan orang yang amat cekatan ini dan
sambaran angin pukulan amat dahsyat keluar dari tangan yang hendak
mencengkeram, Cekel Aksomolo terkejut sekali dan cepat ia menangkis dengan
tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Bressss!!"
Hebat sekali
tenaga sakti kedua orang tokoh tua ini, sama dahsyat dan kuatnya berjumpa di
tengah udara dan akibatnya, keduanya terpental seperti disambar halilintar!
Resi Telomoyo terpental dan berjungkir balik sampai lima kali di udara, baru
tubuhnya turun ke arah tanah sejauh lima meter. Adapun Cekel Aksomolo juga
terpental dari atas kudanya, melayang seperti sebuah layang-layang putus
talinya, dan turun ke atas tanah seperti sehelai daun kering sambil
menyumpah-nyumpah! Sejenak keduanya saling pandang dari jarak sepuluh meter,
Saling pandang dengan terheran-heran dan kedua mulut mereka tiada hentinya
mengeluarkan bunyi aneh. Resi Telomoyo mengeluarkan suara meringkik-ringkik
sedangkan Cekel Aksomolo menyumpah-nyumpah. Dua puluh empat orang pengawal yang
melihat pertandingan dimulai, cepai melompat tutun dari kuda masing-masing dan
lari mendekati, mencabut pedang dan golok lalu mengurung tempat pertandingan,
siap untuk mengeroyok kakek seperti kera itu. Adapun Jokowanengpati diam-diam
merasa gembira sekali karena agaknya kini Cekel Aksomolo bertemu tanding.
Betapapun juga, ia ingin mendengar dari kakek aneh ini apa sebabnya mencari
Pujo dan apakah kakek ini mengetahui tempat sembunyi Resi Bhargowo Di samping
itu, iapun bersiap-siap untuk mengeroyok jika Cekel Aksomolo tidak mampu mengalahkan
lawannya. Untuk menguji kepandaian kakek aneh ini, ia lalu memberi tanda kepada
kepala pasukan untuk maju menangkap Resi Telomoyo. Kepala pasukan memberi
aba-aba dan dua belas orang pengawal serentak maju dengan senjata di tangan
mengurung kakek yang sudah mulai menggaruk-garuk punggung seperti seekor kera.
No comments:
Post a Comment