Yang bicara dengan lagak lagu seperti Bhagawan Durno di zaman Mahabharata itu adalah seorang pertapa tua renta, tubuhnya tinggi kurus agak bongkok, tangannya membawa seuntai tasbih panjang berwarna hitam, pakaiannya seperti seorang cantrik (murid pendeta). Inilah Cekel Aksomolo, seorang pertapa di lereng Gunung Wilis, seorang sakti mandraguna yang puluhan tahun lamanya tidak pernah meninggalkan hutan Werdo di lereng itu. Dia bicara dengan Jokowanengpati, dan ketika ia menyebut Kerajaan Medang, ia maksudkan Kerajaan Mataram. Memang sesungguhnya, sejak permulaan abad ke sepuluh (kurang lebih tahun 928), Kerajaan Mataram dikenal pula dengan nama baru, yaitu Kerajaan Medangkamulan, atau Medang yang dimulai dengan rajanya yang bernama Empu Sindok (929 - 947).
"Eyang
Cekel terlalu merendahkan diri," kata Jokowanengpati memuji.
"Siapakah
yang tidak tahu bahwa sang pertapa Cekel Aksomolo amat sakti mandraguna,
manusia setengah dewa yang sukar dicari tandingnya di seluruh jagat raya ini?
Kita bersama telah mengalami penghinaan dari Raja Airlangga, anak Bali itu.
Akan tetapi, karena Raja Mataram itu didukung oleh banyak orang pandai,
bagaimana kita akan mampu menghadapinya untuk membalas dendam kalau kita tidak
bersatu-padu? Oleh karena cita-cita yang murni inilah, eyang!. Maka paman
Adipati Joyowiseso mengutus saya menghadap eyang Cekel Aksomolo, mohon bantuan
eyang dalam menghadapi orang-orang sakti yang diperhamba oleh Mataram."
"Huh-huh-huh,
lucu..... lucu.....! Bukankah engkau ini murid Bharodo, Raden Jokowanengpati?
Dan Empu Bharodo adalah penasehat si putera Bali Raja Mataram! Heh-heh, orang
muda, harap kau jangan mempermainkan aku si tua bangka!"
"Ah,
tidak..... tidak sama sekali tidak, eyang! Bukan baru sekarang eyang mengenal
saya, apakah pernah saya membohongi eyang? Mana saya berani? Memang betul bahwa
guru saya Empu Bharodo mendukung Mataram, dan karena perbedaan faham inilah
maka saya diusir pergi oleh bapa empu. Bapa Empu Bharodo terlalu lemah
semangatnya, karena itu pula maka saya bersekutu dengan Adipati Joyowiseso dan
mengumpulkan sahabat-sahabat sakti dari empat penjuru untuk menghadapi Mataram!
Banyak tokoh sakti sudah menyiapkan diri membantu, di antaranya Ki Warok
Gendroyono dari Ponorogo, Ki Krendoyakso dari Begelen. Ni Durgogini dewi sakti
dari Girilimut, dan Ni Nogogini dewi Laut Selatan!"
"Wah-wah,
begitu banyak tokoh sakti sudah membantu, mengapa kau masih mencari aku,
raden?"
"Bukan
begitu, eyang. Betapapun sakti mereka, tanpa bantuan eyang saya rasa akan sukar
mengalahkan para senopati dan tokoh Mataram. Apalagi dalam menghadapi Resi
Bhargowo, saya benar-benar mengharapkan bantuan eyang. Bahkan kedatangan saya
menghadap eyang hari ini adalah untuk mohon bantuan eyang menghadapi Resi
Bhargowo untuk merampas kembali cucu paman Adipati Joyowiseso dan seorang
puterinya yang telah diculik Resi Bhargowo dan mantunya."
"Uh-uh-uh!
Resi Bhargowo sampai berani menculik cucu dan puteri Adipati
Selopenangkep?"
"Betul,
eyang. Mantunya datang mengamuk di kadipaten, membunuh banyak pengawal dan
hampir saja paman adipati juga terbunuh. Untung saya kebetulan berada di
kadipaten dan saya berhasil menolong paman adipati, akan tetapi karena Resi
Bhargowo membantu mantunya, maka mereka berhasil menculik cucu dan puteri paman
adipati."
Akhirnya
setelah diberi janji-janji muluk oleh Jokowanengpati, bahwa kelak apabila
mereka berhasil menjatuhkan Sang Prabu Airlangga, tentu kakek ini akan diberi
hadiah kedudukan tinggi di kota raja, Cekel Aksomolo menjadi tertarik dan
berangkatlah mereka keluar dari hutan Werdo di lereng Gunung Wilis, melakukan
perjalanan ke barat untuk mencari Resi Bhargowo dan Pujo!. Mereka berdua mampir
di Kadipaten Selopenangkep dan tentu saja Adipati Joyowiseso menyambut
kedatangan Cekel Aksomolo dengan penuh penghormatan, menjamunya dengan
hidangan-hidangan istimewa, bahkan pada malam harinya tamu kakek yang bungkuk
dan aneh ini disuguhi tari-tarian yang ditarikan wanita-wanita cantik jelita
dan muda genit!. Sambil minum tuwak (minuman keras) Cekel Aksomolo tertawa-tawa
dilayani Jokowanengpati dan Adipati Joyowiseso sendiri. Untuk menyenangkan tamu
dan tuan rumah Jokowanengpati menceritakan tentang kehebatan ilmu kesaktian
pertapa Gunung Wilis itu.
"Paman
adipati, biarpun kelihatannya eyang Cekel Aksomolo sudah beryuswa (berusia)
lanjut, namun kekuatannya masih luar biasa dan gerakannya cepat sekali. Kalau
tidak menyaksikan sendiri tentu tidak percaya. Saya sendiri ketika mengajak
beliau ini ke sini dan melakukan perjalanan bersama, harus mengerahkan seluruh
ilmu berlari cepat agar tidak ketinggalan, padahal Ilmu Bayu Sakti yang saya
pergunakan itu biasanya tidak pernah kalah oleh ilmu lain golongan!"
"Heh-heh-uh-uh-uh,
bisa saja Raden Jokowanengpati memuji!" Si kakek berkata sambil tertawa
sedangkan di dalam hatinya terasa bangga sekali.
"Mana aku
yang tua mampu menandingi Bayu Sakti? Harap kanjeng adipati jangan percaya akan
obrolan seorang muda!"
Adipati
Joyowiseso tertawa.
"Biarpun
anakmas Jokowanengpati tidak menceritakannya, sayapun sudah mendengar tentang
kehebatan ilmu bapa cekel yang sakti mandraguna. Bukannya saya kurang percaya,
akan tetapi saya mohon sudilah bapa memberi sedikit petunjuk untuk lebih
menggembirakan pesta kecil ini."
"Uh-huh-huh,
saya tua bangka ini bisa apa sih? Hanya kulihat tiga orang penari yang denok
ayu itu terlalu lambat tariannya. Bagaimana pendapat paduka kalau saya membuat
mereka menari lebih cepat lagi?"
Adipati
Joyowiseso merasa heran, akan tetapi ia mengangguk tanda menyetujui. Sambil
tertawa-tawa kakek pertapa Gunung Wilis itu kemudian menggerak-gerakkan tasbih
hitam yang tak pernah terlepas dari tangannya. Terdengarlah bunyi
tak-tik-tak-tik yang aneh, tidak keras namun nyatanya dapat menyusup di antara
suara gamelan, bahkan makin lama makin menguasai suara dan menelan semua suara
gamelan. Anehnya, para penabuh gamelan itu tidak merasa betapa irama lagu kini
makin lama makin cepat, terseret oleh arus yang keluar dari suara berketiknya
biji-biji tasbih, dan beberapa menit kemudian suara gamelan menjadi cepat
menggila, dan hebatnya, para penari kinipun menari cepat sekali seperti
kesetanan! Tentu saja pertunjukan ini menjadi aneh sekali karena para penari
itu menari seperti orang kesurupan, membuat gerakan-gerakan yang menggairahkan,
membusung-busung dada, memutar-mutar pinggul, menggeleng-geleng kepala, matanya
mengerling ke kanan kiri dan mulut yang tersenyum-senyum itu kini mulai
tertawa-tawa!.
Mula-mula para
tamu, termasuk Adipati Joyowiseso bergelak dan terpingkal-pingkal, tetapi
akhirnya mereka memandang dengan khawatir karena di antara para penabuh gamelan
ada yang roboh pingsan, sedangkan para penari juga sudah mulai pucat, keringat
mereka membuat wajah dan leher sampai ke pundak berkilau, langkah kaki mereka
mulai terhuyung-huyung!.
"Bapa
Cekel, saya rasa cukuplah, harap bapa menaruh kasihan kepada mereka."
Mendengar
permintaan adipati ini, Cekel Aksomolo menghentikan gerakan tasbihnya dan
otomatis suara gamelan terhenti karena sudah tidak karuan lagi iramanya. Tiga
orang penari itupun dengan tubuh lemas menjatuhkan diri di atas lantai, duduk
dan menghapus keringat dengan selendang mereka. Seorang di antara mereka, yang
paling muda dan paling cantik, menoleh ke arah Cekel Aksomolo, merengut dan
melerok, agaknya tahu bahwa yang main-main tadi adalah kakek tua yang aneh ini.
Cekel Aksomolo
tertawa.
"Huh-huh,
penari-penarimu denok-denok dan ayu, kanjeng adipati, terutama sekali yang
berselendang hijau itu. Harap paduka suka menyuruh dia berdiri, saya ingin
sekali melihat bentuk tubuhnya...... heh-heh-heh."
Adipati
Joyowiseso tersenyum. Ia sudah mendengar dari Jokowanengpati bahwa kakek sakti
ini mempunyai semacam penyakit, yaitu suka menggodai wanita-wanita muda! Maka
ia lalu berkata perlahan,
"Dia
memang paling muda dan pandai, bapa, dan selain menari dan bertembang, iapun
pandai sekali memijati urat mengusir pegal lelah."
Dengan
tangannya sang adipati memberi isyarat. Penari muda berselendang hijau itu
segera bangkit berdiri, tunduk akan perintah junjungannya. Adipati Joyowiseso
lalu memberi isyarat supaya gamelan ditabuh kembali dan mengisyaratkan si
selendang hijau untuk menari seorang diri.
Agaknya penari
muda ini dapat menduga pula bahwa kakek itulah agaknya yang minta kepada sang
adipati untuk memerintahnya menari lagi, maka sekali lagi ia melempar kerling
ke arah Cekel Aksomolo. Dua orang penari lain mengundurkan diri duduk dekat
para penabuh gamelan. Agaknya memang penari muda yang banyak disuka ini
biasanya dimanjakan orang, maka kali ini ia menumpahkan kemarahan hatinya
kepada Cekel Aksomolo. Ketika ia mulai menembang sambil menari mengikuti irama
gamelan, ia sengaja memasukkan kata-kata sindiran kepada Cekel Aksomolo yang
menimbulkan kemendongkolan hatinya.
"Kakek
tuwek untune entek clelak-clelek tur elek, ora melek kok isih arep golek-golek!
(Kakek tua giginya habis, menjemukan dan buruk, tak membuka mata masih ingin
mencari-cari!)"
"Uuuh-huh-huh,
sialan awakku!" Cekel Aksomolo mengeluh sambil terkekeh.
"Di cuci
habis-habisan oleh si denok ayu!"
"Akan
kuhukum dia, bapa.......!" kata Adipati Joyowiseso, mukanya menjadi merah
karena iapun dapat menangkap sindiran yang ditujukan si penari berselendang
hijau kepada Cekel Aksomolo.
"Aahhh,
jangan, kanjeng adipati. Dia benar! Biarlah nanti saja sehabis menari dia
memijat punggungku yang lelah. Uhhuh-huh, sekarang ingin kulihat bentuk
tubuhnya......."
Setelah
berkata demikian, Cekel Aksomolo menggerakkan tangan kirinya seperti mendorong,
kemudian memutarkan tangan itu ke depan. Terjadilah keanehan. Dari tangan itu
menyambar hawa berciutan ke arah si penari dan tiba-tiba pakaian si penari
berselendang hijau itu terlepas semua!. Sejenak ia berdiri bengong dalam
keadaan telanjang bulat, kemudian ia menjerit-jerit dan dengan gugup menyambar
pakaiannya yang sudah terlepas di bawahnya, menarik pakaian itu sedapatnya
menutupi tubuhnya lalu ia lari sambil menangis kesamping pendopo yang gelap!.
Sejenak orang terkesima, akan tetapi lalu terdengar suara ketawa meledak
terkekeh-kekeh. Adipati Joyowiseso memberi perintah agar gamelan dilanjutkan,
kini dua orang penari itu yang menari dan menembang bergantian. Jokowanengpati
memberi keterangan kepada Adipati Joyowiseso yang mendengarkan penuh kagum.
"Paman,
alanglah hebatnya kepandaian eyang Cekel."
"Bukankah
itu ilmu sihir?" tanya sang adipati.
"Sama
sekali bukan, paman. Eyang Cekel Aksomolo terkenal karena senjatanya yang ampuh
dan yang juga menjadi nama julukannya, yaitu Aksomolo Ireng (Tasbih Hitam).
Baru suaranya ketika digerakkan saja mampu menimbulkan suasana mujijat, apalagi
kalau dipergunakan untuk bertanding! Pula, yang menelanjangi penari kewek
(genit) tadi bukanlah ilmu sihir, melainkan ilmu pukulan jarak jauh yang sudah
mencapai puncak kesempurnaan!"
Makin kagum
dan hormatlah Adipati Joyowiseso terhadap tamu agungnya. Malam itu si penari
remaja yang denok ayu, penari berselendang hijau itu harus menebus
kelancangannya sore tadi dengan penyerahan dirinya kepada si tua bangka!
Tebusan yang amat hebat mengerikan baginya, yang membuat ia pada keesokan
harinya seperti orang kehilangan semangat, dan membuat ia pada malam-malam
berikutnya sering girap-girap (menjerit-jerit dalam tidur)!.
Setelah
bermalam selama sepekan di Kadipaten Selopenangkep, berangkatlah Jokowanengpati
bersama Cekel Aksomolo menuju Sungapan. Untuk memperkuat tugas mereka sebagai
utusan kadipaten, sepasukan prajurit kadipaten terdiri dari dua lusin orang
mengawal mereka. Kali ini Cekel Aksomolo dan Jokowanengpati menunggang kuda,
juga pasukan prajurit itu semua berkuda. Ketika pondok Bayuwismo yang terletak
di depat pantai dan Sungapan Kali Progo sudah tampak dari jauh, Cekel Aksomolo
menyuruh dua lusin orang pengawal itu berhenti,
"Kalian
tak boleh masuk rumah itu, bahkan jangan terlalu dekat. Berhentilah di sini,
berjaga-jaga saja menanti perintah."
Kemudian la
mengeluarkan dua bungkusan kain kecil dan memberikannya kepada Jokowanengpati.
"Raden,
kalau sewaktu-waktu aku terpaksa menggunakan suara tasbih, akan kuberi tanda
dan kau harus memasukkan benda-benda ini menutupi kedua lubang telingamu."
Jokowanengpati
menerima dan mengangguk, maklum akan keampuhan tasbih itu. Mereka berdua lalu
melangkah mendekati pondok yang bersunyi sendiri tanpa tetangga di tepi pantai.
Berdebar juga hati Jokowanengpati. Yang sedang ia datangi ini adalah pondok
Resi Bhargowo, paman gurunya yang ia ketahui memiliki kesaktian yang sukar
dicari tandingnya. Untuk menghadapi Pujo ia tidak takut. Dan untuk menghadapi
Resi Bhargowo, kiranya Cekel Aksomolo merupakan lawan setingkat. Akan tetapi ia
gentar kalau teringat kepada Kartikosari.
No comments:
Post a Comment