Badai Laut Selatan ; Bagian 024


Yang bicara dengan lagak lagu seperti Bhagawan Durno di zaman Mahabharata itu adalah seorang pertapa tua renta, tubuhnya tinggi kurus agak bongkok, tangannya membawa seuntai tasbih panjang berwarna hitam, pakaiannya seperti seorang cantrik (murid pendeta). Inilah Cekel Aksomolo, seorang pertapa di lereng Gunung Wilis, seorang sakti mandraguna yang puluhan tahun lamanya tidak pernah meninggalkan hutan Werdo di lereng itu. Dia bicara dengan Jokowanengpati, dan ketika ia menyebut Kerajaan Medang, ia maksudkan Kerajaan Mataram. Memang sesungguhnya, sejak permulaan abad ke sepuluh (kurang lebih tahun 928), Kerajaan Mataram dikenal pula dengan nama baru, yaitu Kerajaan Medangkamulan, atau Medang yang dimulai dengan rajanya yang bernama Empu Sindok (929 - 947).
"Eyang Cekel terlalu merendahkan diri," kata Jokowanengpati memuji.
"Siapakah yang tidak tahu bahwa sang pertapa Cekel Aksomolo amat sakti mandraguna, manusia setengah dewa yang sukar dicari tandingnya di seluruh jagat raya ini? Kita bersama telah mengalami penghinaan dari Raja Airlangga, anak Bali itu. Akan tetapi, karena Raja Mataram itu didukung oleh banyak orang pandai, bagaimana kita akan mampu menghadapinya untuk membalas dendam kalau kita tidak bersatu-padu? Oleh karena cita-cita yang murni inilah, eyang!. Maka paman Adipati Joyowiseso mengutus saya menghadap eyang Cekel Aksomolo, mohon bantuan eyang dalam menghadapi orang-orang sakti yang diperhamba oleh Mataram."
"Huh-huh-huh, lucu..... lucu.....! Bukankah engkau ini murid Bharodo, Raden Jokowanengpati? Dan Empu Bharodo adalah penasehat si putera Bali Raja Mataram! Heh-heh, orang muda, harap kau jangan mempermainkan aku si tua bangka!"
"Ah, tidak..... tidak sama sekali tidak, eyang! Bukan baru sekarang eyang mengenal saya, apakah pernah saya membohongi eyang? Mana saya berani? Memang betul bahwa guru saya Empu Bharodo mendukung Mataram, dan karena perbedaan faham inilah maka saya diusir pergi oleh bapa empu. Bapa Empu Bharodo terlalu lemah semangatnya, karena itu pula maka saya bersekutu dengan Adipati Joyowiseso dan mengumpulkan sahabat-sahabat sakti dari empat penjuru untuk menghadapi Mataram! Banyak tokoh sakti sudah menyiapkan diri membantu, di antaranya Ki Warok Gendroyono dari Ponorogo, Ki Krendoyakso dari Begelen. Ni Durgogini dewi sakti dari Girilimut, dan Ni Nogogini dewi Laut Selatan!"
"Wah-wah, begitu banyak tokoh sakti sudah membantu, mengapa kau masih mencari aku, raden?"
"Bukan begitu, eyang. Betapapun sakti mereka, tanpa bantuan eyang saya rasa akan sukar mengalahkan para senopati dan tokoh Mataram. Apalagi dalam menghadapi Resi Bhargowo, saya benar-benar mengharapkan bantuan eyang. Bahkan kedatangan saya menghadap eyang hari ini adalah untuk mohon bantuan eyang menghadapi Resi Bhargowo untuk merampas kembali cucu paman Adipati Joyowiseso dan seorang puterinya yang telah diculik Resi Bhargowo dan mantunya."
"Uh-uh-uh! Resi Bhargowo sampai berani menculik cucu dan puteri Adipati Selopenangkep?"
"Betul, eyang. Mantunya datang mengamuk di kadipaten, membunuh banyak pengawal dan hampir saja paman adipati juga terbunuh. Untung saya kebetulan berada di kadipaten dan saya berhasil menolong paman adipati, akan tetapi karena Resi Bhargowo membantu mantunya, maka mereka berhasil menculik cucu dan puteri paman adipati."

Akhirnya setelah diberi janji-janji muluk oleh Jokowanengpati, bahwa kelak apabila mereka berhasil menjatuhkan Sang Prabu Airlangga, tentu kakek ini akan diberi hadiah kedudukan tinggi di kota raja, Cekel Aksomolo menjadi tertarik dan berangkatlah mereka keluar dari hutan Werdo di lereng Gunung Wilis, melakukan perjalanan ke barat untuk mencari Resi Bhargowo dan Pujo!. Mereka berdua mampir di Kadipaten Selopenangkep dan tentu saja Adipati Joyowiseso menyambut kedatangan Cekel Aksomolo dengan penuh penghormatan, menjamunya dengan hidangan-hidangan istimewa, bahkan pada malam harinya tamu kakek yang bungkuk dan aneh ini disuguhi tari-tarian yang ditarikan wanita-wanita cantik jelita dan muda genit!. Sambil minum tuwak (minuman keras) Cekel Aksomolo tertawa-tawa dilayani Jokowanengpati dan Adipati Joyowiseso sendiri. Untuk menyenangkan tamu dan tuan rumah Jokowanengpati menceritakan tentang kehebatan ilmu kesaktian pertapa Gunung Wilis itu.
"Paman adipati, biarpun kelihatannya eyang Cekel Aksomolo sudah beryuswa (berusia) lanjut, namun kekuatannya masih luar biasa dan gerakannya cepat sekali. Kalau tidak menyaksikan sendiri tentu tidak percaya. Saya sendiri ketika mengajak beliau ini ke sini dan melakukan perjalanan bersama, harus mengerahkan seluruh ilmu berlari cepat agar tidak ketinggalan, padahal Ilmu Bayu Sakti yang saya pergunakan itu biasanya tidak pernah kalah oleh ilmu lain golongan!"
"Heh-heh-uh-uh-uh, bisa saja Raden Jokowanengpati memuji!" Si kakek berkata sambil tertawa sedangkan di dalam hatinya terasa bangga sekali.
"Mana aku yang tua mampu menandingi Bayu Sakti? Harap kanjeng adipati jangan percaya akan obrolan seorang muda!"
Adipati Joyowiseso tertawa.
"Biarpun anakmas Jokowanengpati tidak menceritakannya, sayapun sudah mendengar tentang kehebatan ilmu bapa cekel yang sakti mandraguna. Bukannya saya kurang percaya, akan tetapi saya mohon sudilah bapa memberi sedikit petunjuk untuk lebih menggembirakan pesta kecil ini."
"Uh-huh-huh, saya tua bangka ini bisa apa sih? Hanya kulihat tiga orang penari yang denok ayu itu terlalu lambat tariannya. Bagaimana pendapat paduka kalau saya membuat mereka menari lebih cepat lagi?"
Adipati Joyowiseso merasa heran, akan tetapi ia mengangguk tanda menyetujui. Sambil tertawa-tawa kakek pertapa Gunung Wilis itu kemudian menggerak-gerakkan tasbih hitam yang tak pernah terlepas dari tangannya. Terdengarlah bunyi tak-tik-tak-tik yang aneh, tidak keras namun nyatanya dapat menyusup di antara suara gamelan, bahkan makin lama makin menguasai suara dan menelan semua suara gamelan. Anehnya, para penabuh gamelan itu tidak merasa betapa irama lagu kini makin lama makin cepat, terseret oleh arus yang keluar dari suara berketiknya biji-biji tasbih, dan beberapa menit kemudian suara gamelan menjadi cepat menggila, dan hebatnya, para penari kinipun menari cepat sekali seperti kesetanan! Tentu saja pertunjukan ini menjadi aneh sekali karena para penari itu menari seperti orang kesurupan, membuat gerakan-gerakan yang menggairahkan, membusung-busung dada, memutar-mutar pinggul, menggeleng-geleng kepala, matanya mengerling ke kanan kiri dan mulut yang tersenyum-senyum itu kini mulai tertawa-tawa!.

Mula-mula para tamu, termasuk Adipati Joyowiseso bergelak dan terpingkal-pingkal, tetapi akhirnya mereka memandang dengan khawatir karena di antara para penabuh gamelan ada yang roboh pingsan, sedangkan para penari juga sudah mulai pucat, keringat mereka membuat wajah dan leher sampai ke pundak berkilau, langkah kaki mereka mulai terhuyung-huyung!.
"Bapa Cekel, saya rasa cukuplah, harap bapa menaruh kasihan kepada mereka."
Mendengar permintaan adipati ini, Cekel Aksomolo menghentikan gerakan tasbihnya dan otomatis suara gamelan terhenti karena sudah tidak karuan lagi iramanya. Tiga orang penari itupun dengan tubuh lemas menjatuhkan diri di atas lantai, duduk dan menghapus keringat dengan selendang mereka. Seorang di antara mereka, yang paling muda dan paling cantik, menoleh ke arah Cekel Aksomolo, merengut dan melerok, agaknya tahu bahwa yang main-main tadi adalah kakek tua yang aneh ini.
Cekel Aksomolo tertawa.
"Huh-huh, penari-penarimu denok-denok dan ayu, kanjeng adipati, terutama sekali yang berselendang hijau itu. Harap paduka suka menyuruh dia berdiri, saya ingin sekali melihat bentuk tubuhnya...... heh-heh-heh."
Adipati Joyowiseso tersenyum. Ia sudah mendengar dari Jokowanengpati bahwa kakek sakti ini mempunyai semacam penyakit, yaitu suka menggodai wanita-wanita muda! Maka ia lalu berkata perlahan,
"Dia memang paling muda dan pandai, bapa, dan selain menari dan bertembang, iapun pandai sekali memijati urat mengusir pegal lelah."
Dengan tangannya sang adipati memberi isyarat. Penari muda berselendang hijau itu segera bangkit berdiri, tunduk akan perintah junjungannya. Adipati Joyowiseso lalu memberi isyarat supaya gamelan ditabuh kembali dan mengisyaratkan si selendang hijau untuk menari seorang diri.
Agaknya penari muda ini dapat menduga pula bahwa kakek itulah agaknya yang minta kepada sang adipati untuk memerintahnya menari lagi, maka sekali lagi ia melempar kerling ke arah Cekel Aksomolo. Dua orang penari lain mengundurkan diri duduk dekat para penabuh gamelan. Agaknya memang penari muda yang banyak disuka ini biasanya dimanjakan orang, maka kali ini ia menumpahkan kemarahan hatinya kepada Cekel Aksomolo. Ketika ia mulai menembang sambil menari mengikuti irama gamelan, ia sengaja memasukkan kata-kata sindiran kepada Cekel Aksomolo yang menimbulkan kemendongkolan hatinya.
"Kakek tuwek untune entek clelak-clelek tur elek, ora melek kok isih arep golek-golek! (Kakek tua giginya habis, menjemukan dan buruk, tak membuka mata masih ingin mencari-cari!)"
"Uuuh-huh-huh, sialan awakku!" Cekel Aksomolo mengeluh sambil terkekeh.
"Di cuci habis-habisan oleh si denok ayu!"
"Akan kuhukum dia, bapa.......!" kata Adipati Joyowiseso, mukanya menjadi merah karena iapun dapat menangkap sindiran yang ditujukan si penari berselendang hijau kepada Cekel Aksomolo.
"Aahhh, jangan, kanjeng adipati. Dia benar! Biarlah nanti saja sehabis menari dia memijat punggungku yang lelah. Uhhuh-huh, sekarang ingin kulihat bentuk tubuhnya......."

Setelah berkata demikian, Cekel Aksomolo menggerakkan tangan kirinya seperti mendorong, kemudian memutarkan tangan itu ke depan. Terjadilah keanehan. Dari tangan itu menyambar hawa berciutan ke arah si penari dan tiba-tiba pakaian si penari berselendang hijau itu terlepas semua!. Sejenak ia berdiri bengong dalam keadaan telanjang bulat, kemudian ia menjerit-jerit dan dengan gugup menyambar pakaiannya yang sudah terlepas di bawahnya, menarik pakaian itu sedapatnya menutupi tubuhnya lalu ia lari sambil menangis kesamping pendopo yang gelap!. Sejenak orang terkesima, akan tetapi lalu terdengar suara ketawa meledak terkekeh-kekeh. Adipati Joyowiseso memberi perintah agar gamelan dilanjutkan, kini dua orang penari itu yang menari dan menembang bergantian. Jokowanengpati memberi keterangan kepada Adipati Joyowiseso yang mendengarkan penuh kagum.
"Paman, alanglah hebatnya kepandaian eyang Cekel."
"Bukankah itu ilmu sihir?" tanya sang adipati.
"Sama sekali bukan, paman. Eyang Cekel Aksomolo terkenal karena senjatanya yang ampuh dan yang juga menjadi nama julukannya, yaitu Aksomolo Ireng (Tasbih Hitam). Baru suaranya ketika digerakkan saja mampu menimbulkan suasana mujijat, apalagi kalau dipergunakan untuk bertanding! Pula, yang menelanjangi penari kewek (genit) tadi bukanlah ilmu sihir, melainkan ilmu pukulan jarak jauh yang sudah mencapai puncak kesempurnaan!"
Makin kagum dan hormatlah Adipati Joyowiseso terhadap tamu agungnya. Malam itu si penari remaja yang denok ayu, penari berselendang hijau itu harus menebus kelancangannya sore tadi dengan penyerahan dirinya kepada si tua bangka! Tebusan yang amat hebat mengerikan baginya, yang membuat ia pada keesokan harinya seperti orang kehilangan semangat, dan membuat ia pada malam-malam berikutnya sering girap-girap (menjerit-jerit dalam tidur)!.

Setelah bermalam selama sepekan di Kadipaten Selopenangkep, berangkatlah Jokowanengpati bersama Cekel Aksomolo menuju Sungapan. Untuk memperkuat tugas mereka sebagai utusan kadipaten, sepasukan prajurit kadipaten terdiri dari dua lusin orang mengawal mereka. Kali ini Cekel Aksomolo dan Jokowanengpati menunggang kuda, juga pasukan prajurit itu semua berkuda. Ketika pondok Bayuwismo yang terletak di depat pantai dan Sungapan Kali Progo sudah tampak dari jauh, Cekel Aksomolo menyuruh dua lusin orang pengawal itu berhenti,
"Kalian tak boleh masuk rumah itu, bahkan jangan terlalu dekat. Berhentilah di sini, berjaga-jaga saja menanti perintah."
Kemudian la mengeluarkan dua bungkusan kain kecil dan memberikannya kepada Jokowanengpati.
"Raden, kalau sewaktu-waktu aku terpaksa menggunakan suara tasbih, akan kuberi tanda dan kau harus memasukkan benda-benda ini menutupi kedua lubang telingamu."
Jokowanengpati menerima dan mengangguk, maklum akan keampuhan tasbih itu. Mereka berdua lalu melangkah mendekati pondok yang bersunyi sendiri tanpa tetangga di tepi pantai. Berdebar juga hati Jokowanengpati. Yang sedang ia datangi ini adalah pondok Resi Bhargowo, paman gurunya yang ia ketahui memiliki kesaktian yang sukar dicari tandingnya. Untuk menghadapi Pujo ia tidak takut. Dan untuk menghadapi Resi Bhargowo, kiranya Cekel Aksomolo merupakan lawan setingkat. Akan tetapi ia gentar kalau teringat kepada Kartikosari.

<<< Bagian 023                                                                                    Bagian 025 >>>

No comments:

Post a Comment