Joko Wandiro termenung. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya dan bertanya dengan suara tegas,
"Ayah,
aku hanya mendengar dari ayah bahwa ibu telah dibunuh oleh si laknat
Wisangjiwo. Akan tetapi belum pernah ayah menceritakan kepadaku bagaimana
terjadinya pembunuhan itu dan di mana pula adanya makam ibuku."
Pujo
tercengang. Inilah sama sekali tak pernah disangkanya dan diperhitungkannya.
Akan tetapi ia dapat menguasai hatinya, lalu menjawab,
"Ketika
itu ibumu dan aku sedang berlatih samadhi dalam sebuah guha,, engkau baru
berusia setahun dan engkau tidur di sudut guha. Tiba-tiba muncul Wisangjiwo
yang tergila-gila kepada ibumu sehingga terjadi pertempuran. Aku berhasil
merobohkan dia, akan tetapi karena ibumu terluka, aku melupakan dia dan
menolong ibumu. Nah, dalam keadaan lengah itulah ia berlaku curang, menyerangku
dari belakang sehingga aku roboh pingsan. Kemudian ia..... ia..... memperkosa
ibumu lalu melarikan diri. Ibumu yang merasa dihina menjadi seperti gila lalu
lari keluar guha dan....... selanjutnya sampai kini aku tidak mendengar
beritanya lagi. Agaknya ibumu telah tewas, dan kalau ia tewas, bukankah sama
artinya dengan dibunuh oleh Wisangjiwo?"
Sejak
mendengar cerita dari semula, wajah Joko Wandiro menjadi merah sekali,
hidungnya berkembang-kempis dan dua butir air mata meloncat keluar dari pelupuk
matanya, kemudian ia bangkit berdiri, mengepal kedua tinju tangannya dan
berbisik,
"Jahanam
Wisangjiwo....... !"
Kemudian anak
ini berdiri termenung seperti sebuah arca. Pujo melirik dan tersenyum senang.
Berhasil ia memupuk kebencian dalam diri anak ini terhadap Wisangjiwo. Inilah
harapannya, untuk membalas dendam yang tak kunjung padam dalam hatinya terhadap
Wisangjiwo.
"Ayah,
apakah ibu juga seorang wanita sakti?"
"Ibumu adalah
puteri eyang gurumu, tentu saja iapun sakti, hanya kalah setingkat oleh ayahmu
ini."
"Kalau
begitu, tentu ibu belum tewas!" Joko Wandiro bersorak.
"Ayah,
aku akan mencari ibu!"
"Ahh,
andaikata belum tewas juga, ke mana engkau akan mencarinya? Sudahlah, kita
membuat persiapan. Hari Respati esok lusa ayah berangkat dan kau sekarang boleh
pergi ke dusun untuk mencarikan seekor kuda. Katakan saja kepada mereka bahwa
aku hendak pergi ke kota raja, memerlukan seekor kuda tunggangan dan katakan
pula bahwa kau hendak tinggal di sana selama aku pergi."
"Tidak,
ayah. Aku akan tinggal saja di sini, biar seorang diri. Aku tidak takut."
Pujo
tersenyum.
"Begitupun
lebih baik. Nah, tentang kuda itu, kalau ada cari yang pancai panggung, putih
ujung keempat kakinya. Biar agak mahal harganya, tidak mengapa."
Joko Wandiro
mentaati perintah ayahnya lalu berlari keluar pondok dan seperti seekor kijang
muda, anak ini berlari-larian menuju ke dusun yang cukup jauh dari tempat itu,
melalui sebuah hutan kecil di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kidul.
Hari sudah siang ketika Joko Wandiro memasuki hutan itu. Tiba-tiba ia mendengar
suara hiruk-pikuk, diseling suara lengking tinggi yang memekakkan telinga dan
suara-suara aneh lain. Suara-suara itu makin lama makin keras dan demikian
hebatnya sehingga menimbulkan gema yang luar biasa. Joko Wandiro merasa
tubuhnya menggigil, bukan karena takut melainkan karena pengaruh suara-suara
yang aneh itu.
Dia seorang
anak gemblengan sejak kecil, tentu saja ia tidak merasa takut. Suara gaduh yang
luar biasa itu datangnya dari tengah hutan. Memang ada rasa ngeri di hatinya
karena ia teringat akan dongeng-dongeng yang didengarnya dari anak-anak nelayan
tentang setan dan iblis yang berkeliaran didalam hutan, setan dan iblis yang
muncul dari dalam lautan di waktu malam bulan pernama. Malam tadi bulan
purnama, apakah kini setan dan iblis itu kesiangan di dalam hutan dan
beramai-ramai hendak kembali ke laut? Namun, kengerian ini kalah oleh keinginan
hatinya untuk menyaksikan apa gerangan yang menyebabkan suara-suara itu. Maka
Joko Wan-diro lalu berindap-indap menuju ke arah datangnya suara. Makin dekat,
makin tergetarlah isi dadanya, maka cepat-cepat Joko Wandir mengerahkan tenaga
sakti seperti yang ia latih bersama ayahnya. Kemudian ia maju lagi. Setelah
tiba di tengah hutan, di tempat terbuka yang dikelilingi pohon-pohon tinggi,
tampaklah olehnya apa yang menyebabkan suara gaduh itu. Sama sekali bukan iblis
atau setan yang bentuknya menakutkan. Andaikata benar iblis dan setan, akan
tetapi iblis dan setan ini berbentuk manusia biasa, manusia-manusia yang sedang
bertanding mati-matian! Demikian cepat gerakan mereka sehingga mata Joko
Wandiro menjadi kabur dan ia segera dapat memaklumi bahwa yang tengah
bertanding itu adalah orang-orang sakti yang berilmu tinggi. Ia khawatir
kalau-kalau ia terlihat oleh mereka dan selain kekhawatiran ini, iapun ingin
sekali menonton pertandingan. Bagaimana akalnya? Ia memandang ke atas lalu
cepat-cepat seperti seekor kera Joko Wandiro memanjat pohon, berloncatan dari
dahan ke dahan sampai akhirnya ia berada di atas mereka yang sedang bertanding
mati-matian. Enak menonton di tempat itu dan jelas kelihatan mereka yang sedang
beryuda. Ia memandang penuh perhatian, tetap mengerahkan tenaga dan hawa sakti
karena suara berkeritik aneh membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Pertandingan itu tidak seimbang jumlahnya. Seorang laki-laki tua yang gagah
perkasa, bertangan kosong, dikeroyok oleh delapan orang! Dan di sekeliling
tempat itu terdapat belasan orang lain yang mengepung dan menonton sambil
bersorak memberi semangat kepada delapan orang yang mengeroyok itu!.
"Tak
pantas ! Tak tahu malu!" Joko Wandiro memaki-maki di dalam hatinya, akan
tetapi ia kagum bukan main menyaksikan sepak terjang orang tua yang dikeroyok
itu. Gerakannya tangkas, matanya berkilat, tangannya ampuh dan kuat, dapat
menangkis senjata-senjata tajam lawan yang menyambarnya bagaikan hujan.
Siapakah
gerangan orang tua yang gagah perkasa itu? Dia bukan lain adalah Rakyana Patih
Kanuruhan atau Sang Narotama Patih Kahuripan yang gagah perkasa dan sakti
mandraguna. Karena segala usaha yang dikerahkan untuk mendapatkan kembali
pusaka keraton yang hilang, sang patih tiada bosannya ikut pula berusaha
sendiri mencari dan pada hari itu iapun tengah berkelana mencari pusaka itu.
Akan tetapi setibanya di hutan ini ia telah dikurung oleh banyak orang. Ia
tentu saja tidak tahu bahwa memang sejak kepergiannya dari kerajaan, ia telah
dibayangi dan di tempat ini dia sengaja dihadang oleh musuh-musuh ini. Dapat
dibayangkan betapa heran hati sang patih ketika melihat di antara para
penghadang yang bersikap mengancam dan bermusuhan ini, ia mengenal Ki Warok
Gendroyono, yang pernah dihukum kemudian dibebaskan oleh Sang Prabu Airlangga,
kemudian mengenal pula Ki Krendoyakso kepala perampok dari daerah Bagelen yang
pernah dihancurkan gerombolannya oleh bala tentara Mataram. Di samping dua
orang sakti ini, ia melihat pula seorang berpakaian cantrik yang sudah tua
sekali usianya, bertubuh tinggi kurus dan bongkok akan tetapi sikapnya
membayangkan kesaktian yang tak boleh dipandang ringan, dan di sebelahnya
berdiri pula seorang tua yang pucat wajahnya, bermata sipit dan berkulit
kekuningan, di pinggangnya tergantung sepasang golok. Dua orang yang tidak
dikenalnya ini jelas bukan orang sembarangan. Adapun mereka yang berdiri di
belakang, belasan orang banyaknya, adalah orang-orang tinggi besar dan kasar,
dipimpin oleh lima orang yang bercambang bauk, dan sikapnya seperti kepala
perampok.
"Narotama,
saat kematianmu tibalah sekarang!"
Demikianlah
bentakan Ki Warok Gendroyono begitu mereka berjumpa. Narotama tersenyum.
Sebutan namanya itu saja sudah membuktikan bahwa orang-orang ini menghendaki
permusuhan, sama sekali tidak menganggapnya sebagai patih dalam yang terhormat
dari Kahuripan.
"Wah,
kiranya Ki Warok Gendroyono ini!" ujarnya sambil tersenyum tenang,
"Juga Ki
Krendoyakso dari Bagelen! Siapa gerangan paman cantrik dan kisanak yang lain
ini?"
"Uuh-huh-huh,
aku cantrik bukan sembarang cantrik, biar cekel juga cekel pilihan, gegeduk, benggolan
dan pentolan di antara segala cekel! Akulah Cekel Aksomolo dari lereng
Wilis!"
"Saya
olang Salangan, nama saya Ki Tejolanu, sudah lama mendengal kesaktian ki patih,
ingin coba-coba. Hayo lawan saya!" Begitu habis kata-katanya, Ki Tejoranu
menggerakkan tangannya dan "syuuuttt!" dua sinar tampak dan tahu-tahu
sepasang golok telah berada di tangannya. Langsung saja ia memasang kuda-kuda
menghadapi Ki Patih Narotama!.
Diam-diam
Narotama terkejut juga mendengar nama Cekel Aksomolo yang sudah tersohor sakti,
juga orang yang berbicara pelo ini, biarpun namanya belum pernah ia dengar,
akan tetapi melihat gerakannya tadi benar-benar membuktikan keahlian bermain
sepasang golok yang hebat. Ia maklum bahwa ia berhadapan dengan empat orang
tokoh sakti. Belum lagi lima orang pimpinan gerombolan itu yang kelihatan kuat!
Namun ia bukanlah Sang Narotama manusia sakti mandraguna dari Bali-dwipa kalau
ia gentar menghadapi ancaman ini. Sambil tersenyum tenang Narotama bertanya,
"Kalian
berempat ini orang-orang berilmu, ada keperluan apakah agaknya sengaja mencegat
perjalananku di tempat ini?"
Mudah
dimengerti bahwa mereka ini adalah sekutu Adipati Joyowiseso, dan memang
menjadi sebuah di antara usaha mereka untuk melemahkan Kahuripan dengan jalan
membunuhi tokoh-tokoh penting dan sakti, tentu saja terutama sekali Ki Patih
Narotama yang semenjak Sang Prabu Airlangga mengundurkan diri menjadi pertapa,
merupakan orang pertama yang paling disegani di seluruh Mataram Akan tetapi
karena mereka bekerja dengan hati-hati, mereka tidak mau mengakui hal ini. Ki
Warok Gendroyono yang menjawab dengan bentakan,
"Lupakah
engkau bahwa engkaulah orangnya yang menangkapku dahulu sehingga aku menerima
penghinaan dengan hukum penggal?"
Narotama
tersenyum lagi.
"Ki
Warok, sudah jamak orang salah dihukum. Mungkin ia dapat membebaskan diri
daripada hukum negara, namun hukum karma akan terus mengejarnya dan takkan
melepaskannya sebelum ia menerima buah daripada perbuatan sendiri. Engkau
dahulu dijatuhi hukuman sudahlah tepat dengan hukum NGUNDHUH WOHING PAKARTI
(memetik buah perbuatan pribadi). Akan tetapi sang prabu yang bijaksana
membebaskanmu karena engkau ternyata dapat membebaskan diri daripada hukuman
itu. Mengapa engkau sekarang masih penasaran dan mendendam kepadaku, Ki
Warok?"
"Hukuman
bisa bebas, namun penghinaan tak pernah bebas dari hatiku sebelum aku mampu
membalasmu, Narotama!"
"Wah,
wah, nyata engkau orang nekat yang mendasari kebenaran sendiri dengan
pengumbaran hawa nafsu. Dan engkau, Ki Krendoyakso? Juga mendendam kepadaku
karena gerombolan perampok yang kau pimpin dahulu diobrak-abrik?"
"Masih
bertanya lagi, ki patih? Hutang sakit bayar sakit, hutang nyawa bayar
nyawa!"
"Waduh,
waduh! Seperti lupa saja bahwa gerombolanmu telah membunuh rakyat tak berdosa
entah berapa banyaknya, merampok harta benda dan mengganggu anak bini orang.
Hemm, paman Cekel Aksomolo yang sudah begini sepuh, apakah juga ada petunjuk
untuk saya? Seingat saya, belum pernah saya mendapat kehormatan bertemu dengan
paman Cekel, apa pula yang menyebabkan dan mendorong paman saat ini ikut
mencegat saya?"
"Luh-luh-luh!
Pakai tanya-tanya segala seperti hakim. Aku hanya membantu sahabat-sahabatku
dan pula....... hemm, aku mendengar bahwa kau adalah seorang patih gemblengan,
patih jagoan, patih yang kemlinti (sombong), mengandalkan kepandaian yang kau
bawa dari Bali-dwipa. Huh-huh-huh, aku paling tidak suka melihat orang yang
angkuh dan sombong!"
Narotama
menggoyang-goyang kepalanya. Benar-benar orang aneh kakek tua renta ini,
pikirnya. Aneh seperti anak kecil saja, mudah mendengar hasutan dan omongan
orang yang tentu saja ada yang suka ada pula yang membencinya. Apakah benar
anggapan bahwa orang yang sudah terlalu tua itu kembali menjadi seperti
kanak-kanak lagi? Kalau benar demikian, contoh dan buktinya adalah cekel tua
ini! Ia menoleh kepada orang bermata sipit pelo yang masih memasang kuda-kuda
dan memegang kedua goloknya.
"Dan
engkau bagaimana, kisanak? Siapa namamu tadi? Ki Tejolanu? Tejolanu ataukah
Tejoranu?"
"Tejolanu!"
"Hmmm,
agaknya kau pelo dan melihat kulit serta mripatmu (matamu), agaknya engkau ini
seorang dari Negeri Cina. Apa pula sebabnya engkau ikut mencegatku padahal di
antara kita tidak pernah ada hubungan sesuatu?"
"Saya.......
saya ingin menantang pibu (mengadu ilmu) dengan ki patih! Saya paling senang
pibu dengan olang-olang pandai. Mati dalam pibu adalah matinya olang
gagah!"
Narotama makin
terheran. Ini lebih aneh lagi, pikirnya. Apakah orang mempelajari ilmu hanya
untuk saling uji? Ilmu lain boleh saja diuji dan diperlombakan, akan tetapi
ilmu berkelahi? Bisa mati konyol. Akan tetapi orang ini menganggap mati konyol
dalam adu ilmu adalah matinya seorang gagah!
No comments:
Post a Comment