Badai Laut Selatan ; Bagian 038


Joko Wandiro termenung. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya dan bertanya dengan suara tegas,
"Ayah, aku hanya mendengar dari ayah bahwa ibu telah dibunuh oleh si laknat Wisangjiwo. Akan tetapi belum pernah ayah menceritakan kepadaku bagaimana terjadinya pembunuhan itu dan di mana pula adanya makam ibuku."
Pujo tercengang. Inilah sama sekali tak pernah disangkanya dan diperhitungkannya. Akan tetapi ia dapat menguasai hatinya, lalu menjawab,
"Ketika itu ibumu dan aku sedang berlatih samadhi dalam sebuah guha,, engkau baru berusia setahun dan engkau tidur di sudut guha. Tiba-tiba muncul Wisangjiwo yang tergila-gila kepada ibumu sehingga terjadi pertempuran. Aku berhasil merobohkan dia, akan tetapi karena ibumu terluka, aku melupakan dia dan menolong ibumu. Nah, dalam keadaan lengah itulah ia berlaku curang, menyerangku dari belakang sehingga aku roboh pingsan. Kemudian ia..... ia..... memperkosa ibumu lalu melarikan diri. Ibumu yang merasa dihina menjadi seperti gila lalu lari keluar guha dan....... selanjutnya sampai kini aku tidak mendengar beritanya lagi. Agaknya ibumu telah tewas, dan kalau ia tewas, bukankah sama artinya dengan dibunuh oleh Wisangjiwo?"
Sejak mendengar cerita dari semula, wajah Joko Wandiro menjadi merah sekali, hidungnya berkembang-kempis dan dua butir air mata meloncat keluar dari pelupuk matanya, kemudian ia bangkit berdiri, mengepal kedua tinju tangannya dan berbisik,
"Jahanam Wisangjiwo....... !"
Kemudian anak ini berdiri termenung seperti sebuah arca. Pujo melirik dan tersenyum senang. Berhasil ia memupuk kebencian dalam diri anak ini terhadap Wisangjiwo. Inilah harapannya, untuk membalas dendam yang tak kunjung padam dalam hatinya terhadap Wisangjiwo.
"Ayah, apakah ibu juga seorang wanita sakti?"
"Ibumu adalah puteri eyang gurumu, tentu saja iapun sakti, hanya kalah setingkat oleh ayahmu ini."
"Kalau begitu, tentu ibu belum tewas!" Joko Wandiro bersorak.
"Ayah, aku akan mencari ibu!"
"Ahh, andaikata belum tewas juga, ke mana engkau akan mencarinya? Sudahlah, kita membuat persiapan. Hari Respati esok lusa ayah berangkat dan kau sekarang boleh pergi ke dusun untuk mencarikan seekor kuda. Katakan saja kepada mereka bahwa aku hendak pergi ke kota raja, memerlukan seekor kuda tunggangan dan katakan pula bahwa kau hendak tinggal di sana selama aku pergi."
"Tidak, ayah. Aku akan tinggal saja di sini, biar seorang diri. Aku tidak takut."
Pujo tersenyum.
"Begitupun lebih baik. Nah, tentang kuda itu, kalau ada cari yang pancai panggung, putih ujung keempat kakinya. Biar agak mahal harganya, tidak mengapa."

Joko Wandiro mentaati perintah ayahnya lalu berlari keluar pondok dan seperti seekor kijang muda, anak ini berlari-larian menuju ke dusun yang cukup jauh dari tempat itu, melalui sebuah hutan kecil di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kidul. Hari sudah siang ketika Joko Wandiro memasuki hutan itu. Tiba-tiba ia mendengar suara hiruk-pikuk, diseling suara lengking tinggi yang memekakkan telinga dan suara-suara aneh lain. Suara-suara itu makin lama makin keras dan demikian hebatnya sehingga menimbulkan gema yang luar biasa. Joko Wandiro merasa tubuhnya menggigil, bukan karena takut melainkan karena pengaruh suara-suara yang aneh itu.
Dia seorang anak gemblengan sejak kecil, tentu saja ia tidak merasa takut. Suara gaduh yang luar biasa itu datangnya dari tengah hutan. Memang ada rasa ngeri di hatinya karena ia teringat akan dongeng-dongeng yang didengarnya dari anak-anak nelayan tentang setan dan iblis yang berkeliaran didalam hutan, setan dan iblis yang muncul dari dalam lautan di waktu malam bulan pernama. Malam tadi bulan purnama, apakah kini setan dan iblis itu kesiangan di dalam hutan dan beramai-ramai hendak kembali ke laut? Namun, kengerian ini kalah oleh keinginan hatinya untuk menyaksikan apa gerangan yang menyebabkan suara-suara itu. Maka Joko Wan-diro lalu berindap-indap menuju ke arah datangnya suara. Makin dekat, makin tergetarlah isi dadanya, maka cepat-cepat Joko Wandir mengerahkan tenaga sakti seperti yang ia latih bersama ayahnya. Kemudian ia maju lagi. Setelah tiba di tengah hutan, di tempat terbuka yang dikelilingi pohon-pohon tinggi, tampaklah olehnya apa yang menyebabkan suara gaduh itu. Sama sekali bukan iblis atau setan yang bentuknya menakutkan. Andaikata benar iblis dan setan, akan tetapi iblis dan setan ini berbentuk manusia biasa, manusia-manusia yang sedang bertanding mati-matian! Demikian cepat gerakan mereka sehingga mata Joko Wandiro menjadi kabur dan ia segera dapat memaklumi bahwa yang tengah bertanding itu adalah orang-orang sakti yang berilmu tinggi. Ia khawatir kalau-kalau ia terlihat oleh mereka dan selain kekhawatiran ini, iapun ingin sekali menonton pertandingan. Bagaimana akalnya? Ia memandang ke atas lalu cepat-cepat seperti seekor kera Joko Wandiro memanjat pohon, berloncatan dari dahan ke dahan sampai akhirnya ia berada di atas mereka yang sedang bertanding mati-matian. Enak menonton di tempat itu dan jelas kelihatan mereka yang sedang beryuda. Ia memandang penuh perhatian, tetap mengerahkan tenaga dan hawa sakti karena suara berkeritik aneh membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Pertandingan itu tidak seimbang jumlahnya. Seorang laki-laki tua yang gagah perkasa, bertangan kosong, dikeroyok oleh delapan orang! Dan di sekeliling tempat itu terdapat belasan orang lain yang mengepung dan menonton sambil bersorak memberi semangat kepada delapan orang yang mengeroyok itu!.
"Tak pantas ! Tak tahu malu!" Joko Wandiro memaki-maki di dalam hatinya, akan tetapi ia kagum bukan main menyaksikan sepak terjang orang tua yang dikeroyok itu. Gerakannya tangkas, matanya berkilat, tangannya ampuh dan kuat, dapat menangkis senjata-senjata tajam lawan yang menyambarnya bagaikan hujan.

Siapakah gerangan orang tua yang gagah perkasa itu? Dia bukan lain adalah Rakyana Patih Kanuruhan atau Sang Narotama Patih Kahuripan yang gagah perkasa dan sakti mandraguna. Karena segala usaha yang dikerahkan untuk mendapatkan kembali pusaka keraton yang hilang, sang patih tiada bosannya ikut pula berusaha sendiri mencari dan pada hari itu iapun tengah berkelana mencari pusaka itu. Akan tetapi setibanya di hutan ini ia telah dikurung oleh banyak orang. Ia tentu saja tidak tahu bahwa memang sejak kepergiannya dari kerajaan, ia telah dibayangi dan di tempat ini dia sengaja dihadang oleh musuh-musuh ini. Dapat dibayangkan betapa heran hati sang patih ketika melihat di antara para penghadang yang bersikap mengancam dan bermusuhan ini, ia mengenal Ki Warok Gendroyono, yang pernah dihukum kemudian dibebaskan oleh Sang Prabu Airlangga, kemudian mengenal pula Ki Krendoyakso kepala perampok dari daerah Bagelen yang pernah dihancurkan gerombolannya oleh bala tentara Mataram. Di samping dua orang sakti ini, ia melihat pula seorang berpakaian cantrik yang sudah tua sekali usianya, bertubuh tinggi kurus dan bongkok akan tetapi sikapnya membayangkan kesaktian yang tak boleh dipandang ringan, dan di sebelahnya berdiri pula seorang tua yang pucat wajahnya, bermata sipit dan berkulit kekuningan, di pinggangnya tergantung sepasang golok. Dua orang yang tidak dikenalnya ini jelas bukan orang sembarangan. Adapun mereka yang berdiri di belakang, belasan orang banyaknya, adalah orang-orang tinggi besar dan kasar, dipimpin oleh lima orang yang bercambang bauk, dan sikapnya seperti kepala perampok.
"Narotama, saat kematianmu tibalah sekarang!"
Demikianlah bentakan Ki Warok Gendroyono begitu mereka berjumpa. Narotama tersenyum. Sebutan namanya itu saja sudah membuktikan bahwa orang-orang ini menghendaki permusuhan, sama sekali tidak menganggapnya sebagai patih dalam yang terhormat dari Kahuripan.
"Wah, kiranya Ki Warok Gendroyono ini!" ujarnya sambil tersenyum tenang,
"Juga Ki Krendoyakso dari Bagelen! Siapa gerangan paman cantrik dan kisanak yang lain ini?"
"Uuh-huh-huh, aku cantrik bukan sembarang cantrik, biar cekel juga cekel pilihan, gegeduk, benggolan dan pentolan di antara segala cekel! Akulah Cekel Aksomolo dari lereng Wilis!"
"Saya olang Salangan, nama saya Ki Tejolanu, sudah lama mendengal kesaktian ki patih, ingin coba-coba. Hayo lawan saya!" Begitu habis kata-katanya, Ki Tejoranu menggerakkan tangannya dan "syuuuttt!" dua sinar tampak dan tahu-tahu sepasang golok telah berada di tangannya. Langsung saja ia memasang kuda-kuda menghadapi Ki Patih Narotama!.
Diam-diam Narotama terkejut juga mendengar nama Cekel Aksomolo yang sudah tersohor sakti, juga orang yang berbicara pelo ini, biarpun namanya belum pernah ia dengar, akan tetapi melihat gerakannya tadi benar-benar membuktikan keahlian bermain sepasang golok yang hebat. Ia maklum bahwa ia berhadapan dengan empat orang tokoh sakti. Belum lagi lima orang pimpinan gerombolan itu yang kelihatan kuat! Namun ia bukanlah Sang Narotama manusia sakti mandraguna dari Bali-dwipa kalau ia gentar menghadapi ancaman ini. Sambil tersenyum tenang Narotama bertanya,
"Kalian berempat ini orang-orang berilmu, ada keperluan apakah agaknya sengaja mencegat perjalananku di tempat ini?"

Mudah dimengerti bahwa mereka ini adalah sekutu Adipati Joyowiseso, dan memang menjadi sebuah di antara usaha mereka untuk melemahkan Kahuripan dengan jalan membunuhi tokoh-tokoh penting dan sakti, tentu saja terutama sekali Ki Patih Narotama yang semenjak Sang Prabu Airlangga mengundurkan diri menjadi pertapa, merupakan orang pertama yang paling disegani di seluruh Mataram Akan tetapi karena mereka bekerja dengan hati-hati, mereka tidak mau mengakui hal ini. Ki Warok Gendroyono yang menjawab dengan bentakan,
"Lupakah engkau bahwa engkaulah orangnya yang menangkapku dahulu sehingga aku menerima penghinaan dengan hukum penggal?"
Narotama tersenyum lagi.
"Ki Warok, sudah jamak orang salah dihukum. Mungkin ia dapat membebaskan diri daripada hukum negara, namun hukum karma akan terus mengejarnya dan takkan melepaskannya sebelum ia menerima buah daripada perbuatan sendiri. Engkau dahulu dijatuhi hukuman sudahlah tepat dengan hukum NGUNDHUH WOHING PAKARTI (memetik buah perbuatan pribadi). Akan tetapi sang prabu yang bijaksana membebaskanmu karena engkau ternyata dapat membebaskan diri daripada hukuman itu. Mengapa engkau sekarang masih penasaran dan mendendam kepadaku, Ki Warok?"
"Hukuman bisa bebas, namun penghinaan tak pernah bebas dari hatiku sebelum aku mampu membalasmu, Narotama!"
"Wah, wah, nyata engkau orang nekat yang mendasari kebenaran sendiri dengan pengumbaran hawa nafsu. Dan engkau, Ki Krendoyakso? Juga mendendam kepadaku karena gerombolan perampok yang kau pimpin dahulu diobrak-abrik?"
"Masih bertanya lagi, ki patih? Hutang sakit bayar sakit, hutang nyawa bayar nyawa!"
"Waduh, waduh! Seperti lupa saja bahwa gerombolanmu telah membunuh rakyat tak berdosa entah berapa banyaknya, merampok harta benda dan mengganggu anak bini orang. Hemm, paman Cekel Aksomolo yang sudah begini sepuh, apakah juga ada petunjuk untuk saya? Seingat saya, belum pernah saya mendapat kehormatan bertemu dengan paman Cekel, apa pula yang menyebabkan dan mendorong paman saat ini ikut mencegat saya?"
"Luh-luh-luh! Pakai tanya-tanya segala seperti hakim. Aku hanya membantu sahabat-sahabatku dan pula....... hemm, aku mendengar bahwa kau adalah seorang patih gemblengan, patih jagoan, patih yang kemlinti (sombong), mengandalkan kepandaian yang kau bawa dari Bali-dwipa. Huh-huh-huh, aku paling tidak suka melihat orang yang angkuh dan sombong!"
Narotama menggoyang-goyang kepalanya. Benar-benar orang aneh kakek tua renta ini, pikirnya. Aneh seperti anak kecil saja, mudah mendengar hasutan dan omongan orang yang tentu saja ada yang suka ada pula yang membencinya. Apakah benar anggapan bahwa orang yang sudah terlalu tua itu kembali menjadi seperti kanak-kanak lagi? Kalau benar demikian, contoh dan buktinya adalah cekel tua ini! Ia menoleh kepada orang bermata sipit pelo yang masih memasang kuda-kuda dan memegang kedua goloknya.
"Dan engkau bagaimana, kisanak? Siapa namamu tadi? Ki Tejolanu? Tejolanu ataukah Tejoranu?"
"Tejolanu!"
"Hmmm, agaknya kau pelo dan melihat kulit serta mripatmu (matamu), agaknya engkau ini seorang dari Negeri Cina. Apa pula sebabnya engkau ikut mencegatku padahal di antara kita tidak pernah ada hubungan sesuatu?"
"Saya....... saya ingin menantang pibu (mengadu ilmu) dengan ki patih! Saya paling senang pibu dengan olang-olang pandai. Mati dalam pibu adalah matinya olang gagah!"

Narotama makin terheran. Ini lebih aneh lagi, pikirnya. Apakah orang mempelajari ilmu hanya untuk saling uji? Ilmu lain boleh saja diuji dan diperlombakan, akan tetapi ilmu berkelahi? Bisa mati konyol. Akan tetapi orang ini menganggap mati konyol dalam adu ilmu adalah matinya seorang gagah!

<<< Bagian 037                                                                                    Bagian 039 >>>

No comments:

Post a Comment