"Raden, harap raden bersabar, menanti sampai datangnya paman Sunggono. Kita harus berhati-hati benar dan raden cukup maklum bahwa hanya paman Sunggono yang sudah hafal akan keadaan daerah ini. Dialah yang mengusulkan supaya pusaka itu disimpan di sebuah guha angker di lereng atas. Kita tunggu dia pulang, raden, kemudian setelah dana (makan) baru kita bersama pergi mengambilnya. "
"Baiklah
kalau begitu."
Tak lama
kemudian masuklah ke dalam pondok seorang laki-laki setengah tua berusia kurang
lebih empat puluh lima tahun, matanya bersinar tajam dan wajahnya membayangkan
darah kebangsawanan. Inilah Sunggono yang sebenarnya memang masih keturunan
seorang senopati. Ayahnya adalah seorang senopati yang dahulu menjadi kaki tangan
Ki Patih Sepuh Hardogutomo, yaitu patih dari Sang Prabu Teguh Dharmawangsa.
Patih ini bersama kaki tanganya pernah memberontak, bahkan bersekutu dengan
kaum pemberontak dan tentara Sriwijaya sehingga Sang Prabu Teguh Dharmawangsa
(ayah mertua Airlangga) tewas dan Kerajaan Medang (Mataram) terampas. Akan
tetapi kemudian Airlangga berhasil merebut kembali kerajaan itu, membasmi musuh
di antaranya Ki Patih Sepuh Hardogutomo dan kaki tangannya. Senopati itu, ayah
Sunggono, yang menjadi kaki tangan Patih Sepuh Hardogutomo juga tewas dalam
perang ini, akan tetapi Sunggono yang ketika itu masih muda, sempat melarikan
diri.
"Wah,
anakmas Jokowanengpati baru tiba? Sungguh anakmas telah membuat kami setengah
mati menanti-nanti dengan hati gelisah." Begitu memasuki pondok, Sunggono
menegur dengan kata-kata halus.
Jokowanengpati
tersenyum dan menjawab,
"Maaf,
paman. Banyak sekali soal penting yang menghalang sehingga saya tidak mendapat
kesempatan untuk menyusul ke sini. Paman harus maklum bahwa kita harus
menghilangkan jejak dan harus berhati-hati sekali agar jangan sampai
menimbulkan kecurigaan. Selama setahun lebih ini, saya bertemu dengan
tokoh-tokoh sakti sehaluan, dan selalu bersama mereka di Selopenangkep. Biarpun
mereka adalah sahabat-sahabat sehaluan, tetap saja saya harus merahasiakan
tempat ini. Baru sekarang saya mendapat kesempatan menyusul ke sini, harap
paman maafkan atas kelambatan ini sehingga paman menjadi tak enak di
hati."
"Sudahlah,
tidak apa karena sekarang anakmas sudah datang. Akan tetapi selama
berbulan-bulan itu hati saya selalu gelisah dan ketakutan. Pusaka itu bertuah
dan kita sama tahu betapa orang setanah Jawa ini ingin sekali memilikinya.
Apalagi orang-orang sakti yang mendengar lenyapnya pusaka itu tentu berlomba
untuk mendapatkannya. Pusaka itu lambang kejayaan kerajaan dan mendatangkan
wahyu mahkota, pasti menarik semua orang gagah dari empat penjuru untuk
mendapatkannya. Bagaimana hati saya bias enak kalau ditempati pusaka seampuh
itu? Tidur tak nyenyak makan tak enak..... eh, Mirah! Mana jamuan ? Lekas
hidangkan kepada anakmas Jokowanengpati. Perutku sendiripun sudah amat
lapar!"
Sunggono
berteriak-teriak, tidak tahu betapa beberapa detik lamanya Jokowanengpati
memandangnya dengan sinar mata tajam. Memang pemuda ini kaget sekali. Kiranya
orang tua inipun sudah tahu keampuhan pusaka yang mereka larikan dari istana
Kahuripan!.
"Paman
Sunggono, di manakah pusaka itu disimpannya? Aku ingin sekali menerimanya
sekarang juga."
"Sabar.....,
sabar anakmas. Setelah bersabar selama setahun lebih, hampir satu setengah
tahun sehingga kami bertiga hidup seperti orang alasan (hutan), mengapa
sekarang anakmas begitu tergesa-gesa? Kita makan lebih dulu, baru nanti bersama
mengambilnya. Benda itu kami simpan di tempat rahasia yang aman."
Mirah memasuki
pondok membawa satu kwali penuh sayur santen yang gurih baunya.
"Di
gunung tidak ada daging, kangmas Joko. Kelapa inipun harus mencari ke bawah
gunung. Sayur-sayuran sih banyak!" kata Mirah dengan senyum manis dan mata
mengerling tajam ketika ia meletakkan kwali di atas meja, kemudian dengan
lenggang dan gerak pinggul menggairahkan wanita ini pergi mengambil nasi dan
piring tanah, sebuah kendi terisi air dingin dan batok (tempurung kelapa) untuk
minum.
"Wah,
sayur bobor.......! Seger dimakan panas-panas begini! Silakan, anakmas!"
Sunggono berkata ramah.
Terpaksa
Jokowanengpati menekan hasrat hatinya yang ingin cepat-cepat mengambil pusaka
keraton Kahuripan, lalu ikut makan bersama. Sayur itu memang enak dan gurih,
dan agak pahit karena dicampur dengan daun pepaya.
"Pahitkah
daun pepayanya, kakang-mas?" tanya Mirah.
Emban Mirah
ini memang dahulu menjadi seorang di antara kekasih Jokowanengpati ketika
mereka berdua masih bertugas di Kahuripan.
"Memang
daun pepaya biasanya pahit, akan tetapi kalau engkau yang memasaknya, eh.....
menjadi sedap, Mirah."
Sunggono
tertawa bergelak, Wiratmo tersenyum sambil menundukkan kepala dan Mirah
tersipu-sipu malu akan tetapi juga senang. Wanita mana di dunia ini yang tidak
senang kalau dipuji? Dipuji apa saja, wajahnya, pandainya memasak, suaranya
atau apa saja, asal yang memuji itu pria tentu menyenangkan hatinya. Apalagi
kalau pria itu seorang pemuda seganteng Jokowanengpati! Setelah kenyang makan
nasi dan sayur sederhana diikuti air jernih yang amat dingin, bangkitlah Sunggono.
Wajah orang tua itu berseri-seri ketika ia berkata,
"Marilah,
anakmas Jokowanengpati. Mari kita pergi mengambil pusaka yang kusimpan dalam
guha Margoleno. Hayo Wiratmo dan Mirah, kalian ikut pula. Urusan ini diawali
kita berempat, harus diakhiri kita berempat pula."
Berangkatlah
mereka mendaki lereng yang terjal menuju ke puncak yang penuh batu kapur.
"Mengapa
guha itu bernama Margoleno (jalan maut), paman Sunggono?" tanya
Jokowanengpati.
"Entahlah,
anakmas. Mungkin karena pertapa Taru Jenar dahulu kabarnya mati di dalam guha
ini selagi bertapa," jawab Sunggono.
Perjalanan
dilanjutkan dan tak lama kemudian berhentilah mereka di depan sebuah guha yang
besar dan gelap. Di atas guha yang merupakan puncak karang kapur, tumbuh rumpun
yang lebat, juga di kanan kiri guha. Kelelawar terbang keluar masuk guha itu
sehingga menambah serem.
"Mari
kita masuk, anakmas," kata Sunggono agak takut-takut.
Namun
Jokowanengpati sama sekali tidak takut. Dengan langkah lebar dan gagah ia
memasuki guha itu dan sebentar saja mereka ditelan kegelapan, tak tampak dari
luar. Terdengar suara Mirah menahan napas dan sedu, disusul suara Wiratmo
mendesis mencegahnya bicara. Jokowanengpati menengok.
"Paman,
kau di mana.......?" Tiada jawaban!
Jokowanengpati
mendengar suara di sebelah kiri dan melihat dalam remang-remang itu tubuh
Sunggono berjongkok lalu berdiri lagi.
"Majulah
terus, anakmas......." Suara Sunggono gemetar dan tiba-tiba Jokowanengpati
menerima pukulan yang cukup dahsyat dari belakang, mengenai punggungnya.
"Celaka.......!"
seru pemuda ini, akan tetapi karena ia memang memiliki kepandaian tinggi dan
tubuhnya sudah amat kuat, secepat kilat kakinya terayun dan sebelum ia
terjerumus ke depan, kakinya yang diayun miring itu berhasil mendupak dada
Sunggono yang terhuyung ke belakang.
Betapapun
juga, tubuh Jokowanengpati yang sudah terjerumus itu tak dapat ditahannya dan
begitu ia melangkahkan kaki, tubuhnya terjeblos ke dalam sumur. Kiranya guha
itu di dalamnya merupakan sumur yang entah sampai di mana dasarnya.
Jokowanengpati tentu saja kaget sekali. Tahulah ia sekarang mengapa guha ini
disebut jalan maut, kiranya merupakan jebakan yang amat berbahaya. Untung ia
memiliki Aji Bayu Sakti, sebuah aji meringankan tubuh yang tiada keduanya.
Begitu tubuhnya terguling masuk sumur, Jokowanengpati mementang kedua
lengannya, sekali menyentuh pinggiran sumur ia dapat menahan tubuhnya dan tidak
terjerumus ke bawah. Ia berdongak dan mendapat kenyataan bahwa ia telah jatuh
sedalam dua tiga tombak. Ia menahan napas, mengerahkan Aji Bayu Sakti. Tenaganya
terkumpul pada kedua lengan dan tubuhnya menjadi ringan sehingga ketika ia
menggerakkan kedua lengan mendorong, perlahan-lahan ia dapat merayap ke atas
seperti seekor kadal saja!.
Dapat
dibayangkan betapa marahnya hati Jokowanengpati. Begitu ia melompat keluar dari
sumur, ia menyerbu keluar. Akan tetapi sebuah batu besar bergerak menutup
lubang guha, dan terdengar suara Sunggono tertawa,
"Ha-ha-ha,
Jokowanengpati! Kau tahu sekarang mengapa kunamakan guha itu Margoleno?
Mengasolah dengan tenang, orang muda!"
Kaget juga
Jokowanengpati melihat batu sebesar itu bergerak menutup guha. Mungkinkah
Sunggono, dibantu oleh Wiratmo dan Mirah, mampu menggerakkan batu sebesar itu
yang tentu amat-berat? Akan tetapi ia tidak mau terheran lebih lama, cepat ia
melompat maju dan sekali dorong sambil membentak marah, batu itu tertolak
keluar dan tubuhnya sudah melompat keluar guha! Kiranya di situ sudah berdiri
lima orang laki-laki tinggi besar yang mengepungnya dengan golok di tangan.
Adapun Sunggono sudah berdiri agak jauh, mendekap sebuah bungkusan kuning di
dadanya. Wiratmo dan Mirah juga berdiri di dekat Sunggono. Mereka bertiga
memandangnya, Wiratmo dan Mirah agak pucat, akan tetapi Sunggono masih tertawa.
"Paman
Sunggono, apa artinya ini semua?" Jokowanengpati masih bertanya saking
herannya, suaranya dingin sekali membuat tengkuk Wiratmo dan Mirah meremang.
Akan tetapi Sunggono berkata dengan suara mengejek.
"Artinya,
Jokowanengpati, saat ini adalah saat kematianmu, karena akulah yang berhak
memiliki wahyu mahkota Mataram! Engkau ini ular kepala dua, mau enaknya saja.
Bunuh dia!"
Suara Sunggono
penuh wibawa ketika ia memberi aba-aba kepada lima orang anak buahnya itu. Lima
orang ini adalah jagoan-jagoan yang dulu juga merupakan panglima-panglima
perang dari Sang Prabu Digdyamenggala, Raja Kerajaan Wura-Wari di daerah
Ponorogo. Mendengar aba-aba ini, lima orang jago tua yang tubuhnya tinggi besar
itu mengeluarkan suara bentakan keras dan menyerbulah mereka dengan golok besar
yang datang sebagai hujan membacoki tubuh Jokowanengpati. Namun Jokowanengpati
mengeluarkan suara ketawa mengejek, tubuhnya tiba-tiba lenyap berubah menjadi
bayangan hitam yang berkelebat ke sana ke mari, menyelinap di antara sinar
golok yang gemerlapan. Bukan main hebatnya gerakan Jokowanengpati ini, bagaikan
seekor burung kepinis gesitnya sehingga tak pernah ada sebatangpun golok mampu
menyentuhnya. Lima orang jagoan Wurawari itu kaget dan penasaran. Ketika mereka
menghentikan serangan, Jokowanengpati juga berhenti bergerak dan berdiri dengan
kedua tangan bertolak pinggang sambil tersenyum mengejek.
"Sudah
lelahkah kalian?" ejeknya, akan tetapi matanya selalu melirik ke arah
Sunggono. Ia tak menghendaki orang tua yang curang itu melarikan diri membawa
pusaka itu selagi ia dikeroyok.
Seorang pengeroyok
di depannya mendengus, goloknya menusuk ke arah perut pemuda itu, agaknya
saking marah dan penasarannya ia hendak merobek perut dan mengeluarkan usus
lawannya. Akan tetapi kini Jokowanengpati tidak lagi mempergunakan Bayu Sakti
karena yang menyerangnya hanya seorang saja. la miringkan tubuh membiarkan
golok menyambar lewat, kemudian secepat kilat tangan kirinya mengetuk
pergelangan tangan kanan lawan dan tangan kanannya mengepal dan menghantam
dahi. Hampir berbareng golok itu terlepas dan dahi itu pecah sehingga otaknya
berhamburan! Empat orang jagoan Wura-Wari terkejut sekali. Hampir mereka tak
dapat percaya. Bagaimana seorang kawan mereka dapat binasa sedemikian mudahnya?
Keherangan dan kekejutan ini berubah menjadi kemarahan meluap-luap, dan kembali
mereka menerjang dengan sabetan dan bacokan membabi-buta.
Jokowanengpati
tidak mau bersabar atau main-main lagi. Kembali tubuhnya berkelebat menggunakan
Bayu Sakti, namun ia tidak hanya mengelak melainkan balas menyerang dengan
hebat karena ia telah mainkan Ilmu Jonggring Saloko! Ilmu ini adalah ciptaan
Empu Bharodo, seorang sakti mandraguna Biarpun hanya merupakan pecahan dari
ilmu aslinya permainan tombak, namun sudah amat hebat dan ampuh. Mana mungkin
empat orang jagoan Wurawari itu mampu menghadapinya? Segera terdengar suara
berkerontangan dan golok beterbangan, disusul pekik mengaduh dan robohlah empat
orang itu satu demi satu, roboh untuk tidak bangkit kembali karena pukulan
Jokowanengpati yang mempergunakan Aji Siyung Warak adalah pukulan mematikan yang
menghancurkan kepala atau memecahkan dada.
"Kau
hendak lari ke mana??" Jokowanengpati melompat dan mengejar Sunggono yang
sudah lari kencang meninggalkan tempat itu sambil mendekap bungkusan sutera
kuning di depan dadanya.
Sunggono juga
bukan seorang lemah. Sebagai putera seorang senopati, ia memiliki ilmu juga.
Akan tetapi ia tidak dapat menandingi kecepatan Jokowanengpati yang
mempergunakan Bayu Sakti dalam pengejaran ini. Beberapa kali lompatan saja
cukup bagi Jokowanengpati untuk menyusulnya.
Tiba-tiba
Sunggono yang tahu bahwa lari tiada gunanya, berhenti dan membalikkan tubuh.
Tangannya sudah memegang sebatang keris, sikapnya mengancam.
No comments:
Post a Comment