Badai Laut Selatan ; Bagian 032


"Raden, harap raden bersabar, menanti sampai datangnya paman Sunggono. Kita harus berhati-hati benar dan raden cukup maklum bahwa hanya paman Sunggono yang sudah hafal akan keadaan daerah ini. Dialah yang mengusulkan supaya pusaka itu disimpan di sebuah guha angker di lereng atas. Kita tunggu dia pulang, raden, kemudian setelah dana (makan) baru kita bersama pergi mengambilnya. "
"Baiklah kalau begitu."

Tak lama kemudian masuklah ke dalam pondok seorang laki-laki setengah tua berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, matanya bersinar tajam dan wajahnya membayangkan darah kebangsawanan. Inilah Sunggono yang sebenarnya memang masih keturunan seorang senopati. Ayahnya adalah seorang senopati yang dahulu menjadi kaki tangan Ki Patih Sepuh Hardogutomo, yaitu patih dari Sang Prabu Teguh Dharmawangsa. Patih ini bersama kaki tanganya pernah memberontak, bahkan bersekutu dengan kaum pemberontak dan tentara Sriwijaya sehingga Sang Prabu Teguh Dharmawangsa (ayah mertua Airlangga) tewas dan Kerajaan Medang (Mataram) terampas. Akan tetapi kemudian Airlangga berhasil merebut kembali kerajaan itu, membasmi musuh di antaranya Ki Patih Sepuh Hardogutomo dan kaki tangannya. Senopati itu, ayah Sunggono, yang menjadi kaki tangan Patih Sepuh Hardogutomo juga tewas dalam perang ini, akan tetapi Sunggono yang ketika itu masih muda, sempat melarikan diri.
"Wah, anakmas Jokowanengpati baru tiba? Sungguh anakmas telah membuat kami setengah mati menanti-nanti dengan hati gelisah." Begitu memasuki pondok, Sunggono menegur dengan kata-kata halus.
Jokowanengpati tersenyum dan menjawab,
"Maaf, paman. Banyak sekali soal penting yang menghalang sehingga saya tidak mendapat kesempatan untuk menyusul ke sini. Paman harus maklum bahwa kita harus menghilangkan jejak dan harus berhati-hati sekali agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan. Selama setahun lebih ini, saya bertemu dengan tokoh-tokoh sakti sehaluan, dan selalu bersama mereka di Selopenangkep. Biarpun mereka adalah sahabat-sahabat sehaluan, tetap saja saya harus merahasiakan tempat ini. Baru sekarang saya mendapat kesempatan menyusul ke sini, harap paman maafkan atas kelambatan ini sehingga paman menjadi tak enak di hati."
"Sudahlah, tidak apa karena sekarang anakmas sudah datang. Akan tetapi selama berbulan-bulan itu hati saya selalu gelisah dan ketakutan. Pusaka itu bertuah dan kita sama tahu betapa orang setanah Jawa ini ingin sekali memilikinya. Apalagi orang-orang sakti yang mendengar lenyapnya pusaka itu tentu berlomba untuk mendapatkannya. Pusaka itu lambang kejayaan kerajaan dan mendatangkan wahyu mahkota, pasti menarik semua orang gagah dari empat penjuru untuk mendapatkannya. Bagaimana hati saya bias enak kalau ditempati pusaka seampuh itu? Tidur tak nyenyak makan tak enak..... eh, Mirah! Mana jamuan ? Lekas hidangkan kepada anakmas Jokowanengpati. Perutku sendiripun sudah amat lapar!"

Sunggono berteriak-teriak, tidak tahu betapa beberapa detik lamanya Jokowanengpati memandangnya dengan sinar mata tajam. Memang pemuda ini kaget sekali. Kiranya orang tua inipun sudah tahu keampuhan pusaka yang mereka larikan dari istana Kahuripan!.
"Paman Sunggono, di manakah pusaka itu disimpannya? Aku ingin sekali menerimanya sekarang juga."
"Sabar....., sabar anakmas. Setelah bersabar selama setahun lebih, hampir satu setengah tahun sehingga kami bertiga hidup seperti orang alasan (hutan), mengapa sekarang anakmas begitu tergesa-gesa? Kita makan lebih dulu, baru nanti bersama mengambilnya. Benda itu kami simpan di tempat rahasia yang aman."
Mirah memasuki pondok membawa satu kwali penuh sayur santen yang gurih baunya.
"Di gunung tidak ada daging, kangmas Joko. Kelapa inipun harus mencari ke bawah gunung. Sayur-sayuran sih banyak!" kata Mirah dengan senyum manis dan mata mengerling tajam ketika ia meletakkan kwali di atas meja, kemudian dengan lenggang dan gerak pinggul menggairahkan wanita ini pergi mengambil nasi dan piring tanah, sebuah kendi terisi air dingin dan batok (tempurung kelapa) untuk minum.
"Wah, sayur bobor.......! Seger dimakan panas-panas begini! Silakan, anakmas!" Sunggono berkata ramah.
Terpaksa Jokowanengpati menekan hasrat hatinya yang ingin cepat-cepat mengambil pusaka keraton Kahuripan, lalu ikut makan bersama. Sayur itu memang enak dan gurih, dan agak pahit karena dicampur dengan daun pepaya.
"Pahitkah daun pepayanya, kakang-mas?" tanya Mirah.
Emban Mirah ini memang dahulu menjadi seorang di antara kekasih Jokowanengpati ketika mereka berdua masih bertugas di Kahuripan.
"Memang daun pepaya biasanya pahit, akan tetapi kalau engkau yang memasaknya, eh..... menjadi sedap, Mirah."
Sunggono tertawa bergelak, Wiratmo tersenyum sambil menundukkan kepala dan Mirah tersipu-sipu malu akan tetapi juga senang. Wanita mana di dunia ini yang tidak senang kalau dipuji? Dipuji apa saja, wajahnya, pandainya memasak, suaranya atau apa saja, asal yang memuji itu pria tentu menyenangkan hatinya. Apalagi kalau pria itu seorang pemuda seganteng Jokowanengpati! Setelah kenyang makan nasi dan sayur sederhana diikuti air jernih yang amat dingin, bangkitlah Sunggono. Wajah orang tua itu berseri-seri ketika ia berkata,
"Marilah, anakmas Jokowanengpati. Mari kita pergi mengambil pusaka yang kusimpan dalam guha Margoleno. Hayo Wiratmo dan Mirah, kalian ikut pula. Urusan ini diawali kita berempat, harus diakhiri kita berempat pula."

Berangkatlah mereka mendaki lereng yang terjal menuju ke puncak yang penuh batu kapur.
"Mengapa guha itu bernama Margoleno (jalan maut), paman Sunggono?" tanya Jokowanengpati.
"Entahlah, anakmas. Mungkin karena pertapa Taru Jenar dahulu kabarnya mati di dalam guha ini selagi bertapa," jawab Sunggono.
Perjalanan dilanjutkan dan tak lama kemudian berhentilah mereka di depan sebuah guha yang besar dan gelap. Di atas guha yang merupakan puncak karang kapur, tumbuh rumpun yang lebat, juga di kanan kiri guha. Kelelawar terbang keluar masuk guha itu sehingga menambah serem.
"Mari kita masuk, anakmas," kata Sunggono agak takut-takut.
Namun Jokowanengpati sama sekali tidak takut. Dengan langkah lebar dan gagah ia memasuki guha itu dan sebentar saja mereka ditelan kegelapan, tak tampak dari luar. Terdengar suara Mirah menahan napas dan sedu, disusul suara Wiratmo mendesis mencegahnya bicara. Jokowanengpati menengok.
"Paman, kau di mana.......?" Tiada jawaban!
Jokowanengpati mendengar suara di sebelah kiri dan melihat dalam remang-remang itu tubuh Sunggono berjongkok lalu berdiri lagi.
"Majulah terus, anakmas......." Suara Sunggono gemetar dan tiba-tiba Jokowanengpati menerima pukulan yang cukup dahsyat dari belakang, mengenai punggungnya.
"Celaka.......!" seru pemuda ini, akan tetapi karena ia memang memiliki kepandaian tinggi dan tubuhnya sudah amat kuat, secepat kilat kakinya terayun dan sebelum ia terjerumus ke depan, kakinya yang diayun miring itu berhasil mendupak dada Sunggono yang terhuyung ke belakang.

Betapapun juga, tubuh Jokowanengpati yang sudah terjerumus itu tak dapat ditahannya dan begitu ia melangkahkan kaki, tubuhnya terjeblos ke dalam sumur. Kiranya guha itu di dalamnya merupakan sumur yang entah sampai di mana dasarnya. Jokowanengpati tentu saja kaget sekali. Tahulah ia sekarang mengapa guha ini disebut jalan maut, kiranya merupakan jebakan yang amat berbahaya. Untung ia memiliki Aji Bayu Sakti, sebuah aji meringankan tubuh yang tiada keduanya. Begitu tubuhnya terguling masuk sumur, Jokowanengpati mementang kedua lengannya, sekali menyentuh pinggiran sumur ia dapat menahan tubuhnya dan tidak terjerumus ke bawah. Ia berdongak dan mendapat kenyataan bahwa ia telah jatuh sedalam dua tiga tombak. Ia menahan napas, mengerahkan Aji Bayu Sakti. Tenaganya terkumpul pada kedua lengan dan tubuhnya menjadi ringan sehingga ketika ia menggerakkan kedua lengan mendorong, perlahan-lahan ia dapat merayap ke atas seperti seekor kadal saja!.
Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Jokowanengpati. Begitu ia melompat keluar dari sumur, ia menyerbu keluar. Akan tetapi sebuah batu besar bergerak menutup lubang guha, dan terdengar suara Sunggono tertawa,
"Ha-ha-ha, Jokowanengpati! Kau tahu sekarang mengapa kunamakan guha itu Margoleno? Mengasolah dengan tenang, orang muda!"
Kaget juga Jokowanengpati melihat batu sebesar itu bergerak menutup guha. Mungkinkah Sunggono, dibantu oleh Wiratmo dan Mirah, mampu menggerakkan batu sebesar itu yang tentu amat-berat? Akan tetapi ia tidak mau terheran lebih lama, cepat ia melompat maju dan sekali dorong sambil membentak marah, batu itu tertolak keluar dan tubuhnya sudah melompat keluar guha! Kiranya di situ sudah berdiri lima orang laki-laki tinggi besar yang mengepungnya dengan golok di tangan. Adapun Sunggono sudah berdiri agak jauh, mendekap sebuah bungkusan kuning di dadanya. Wiratmo dan Mirah juga berdiri di dekat Sunggono. Mereka bertiga memandangnya, Wiratmo dan Mirah agak pucat, akan tetapi Sunggono masih tertawa.
"Paman Sunggono, apa artinya ini semua?" Jokowanengpati masih bertanya saking herannya, suaranya dingin sekali membuat tengkuk Wiratmo dan Mirah meremang. Akan tetapi Sunggono berkata dengan suara mengejek.
"Artinya, Jokowanengpati, saat ini adalah saat kematianmu, karena akulah yang berhak memiliki wahyu mahkota Mataram! Engkau ini ular kepala dua, mau enaknya saja. Bunuh dia!"

Suara Sunggono penuh wibawa ketika ia memberi aba-aba kepada lima orang anak buahnya itu. Lima orang ini adalah jagoan-jagoan yang dulu juga merupakan panglima-panglima perang dari Sang Prabu Digdyamenggala, Raja Kerajaan Wura-Wari di daerah Ponorogo. Mendengar aba-aba ini, lima orang jago tua yang tubuhnya tinggi besar itu mengeluarkan suara bentakan keras dan menyerbulah mereka dengan golok besar yang datang sebagai hujan membacoki tubuh Jokowanengpati. Namun Jokowanengpati mengeluarkan suara ketawa mengejek, tubuhnya tiba-tiba lenyap berubah menjadi bayangan hitam yang berkelebat ke sana ke mari, menyelinap di antara sinar golok yang gemerlapan. Bukan main hebatnya gerakan Jokowanengpati ini, bagaikan seekor burung kepinis gesitnya sehingga tak pernah ada sebatangpun golok mampu menyentuhnya. Lima orang jagoan Wurawari itu kaget dan penasaran. Ketika mereka menghentikan serangan, Jokowanengpati juga berhenti bergerak dan berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang sambil tersenyum mengejek.
"Sudah lelahkah kalian?" ejeknya, akan tetapi matanya selalu melirik ke arah Sunggono. Ia tak menghendaki orang tua yang curang itu melarikan diri membawa pusaka itu selagi ia dikeroyok.
Seorang pengeroyok di depannya mendengus, goloknya menusuk ke arah perut pemuda itu, agaknya saking marah dan penasarannya ia hendak merobek perut dan mengeluarkan usus lawannya. Akan tetapi kini Jokowanengpati tidak lagi mempergunakan Bayu Sakti karena yang menyerangnya hanya seorang saja. la miringkan tubuh membiarkan golok menyambar lewat, kemudian secepat kilat tangan kirinya mengetuk pergelangan tangan kanan lawan dan tangan kanannya mengepal dan menghantam dahi. Hampir berbareng golok itu terlepas dan dahi itu pecah sehingga otaknya berhamburan! Empat orang jagoan Wura-Wari terkejut sekali. Hampir mereka tak dapat percaya. Bagaimana seorang kawan mereka dapat binasa sedemikian mudahnya? Keherangan dan kekejutan ini berubah menjadi kemarahan meluap-luap, dan kembali mereka menerjang dengan sabetan dan bacokan membabi-buta.

Jokowanengpati tidak mau bersabar atau main-main lagi. Kembali tubuhnya berkelebat menggunakan Bayu Sakti, namun ia tidak hanya mengelak melainkan balas menyerang dengan hebat karena ia telah mainkan Ilmu Jonggring Saloko! Ilmu ini adalah ciptaan Empu Bharodo, seorang sakti mandraguna Biarpun hanya merupakan pecahan dari ilmu aslinya permainan tombak, namun sudah amat hebat dan ampuh. Mana mungkin empat orang jagoan Wurawari itu mampu menghadapinya? Segera terdengar suara berkerontangan dan golok beterbangan, disusul pekik mengaduh dan robohlah empat orang itu satu demi satu, roboh untuk tidak bangkit kembali karena pukulan Jokowanengpati yang mempergunakan Aji Siyung Warak adalah pukulan mematikan yang menghancurkan kepala atau memecahkan dada.
"Kau hendak lari ke mana??" Jokowanengpati melompat dan mengejar Sunggono yang sudah lari kencang meninggalkan tempat itu sambil mendekap bungkusan sutera kuning di depan dadanya.
Sunggono juga bukan seorang lemah. Sebagai putera seorang senopati, ia memiliki ilmu juga. Akan tetapi ia tidak dapat menandingi kecepatan Jokowanengpati yang mempergunakan Bayu Sakti dalam pengejaran ini. Beberapa kali lompatan saja cukup bagi Jokowanengpati untuk menyusulnya.
Tiba-tiba Sunggono yang tahu bahwa lari tiada gunanya, berhenti dan membalikkan tubuh. Tangannya sudah memegang sebatang keris, sikapnya mengancam.

<<< Bagian 031                                                                                    Bagian 033 >>>

No comments:

Post a Comment