Setelah berkata demikian kakek itu mengeluarkan penutup-penutup telinga sambil berkata lagi,
"Aku
tidak mau membikin susah saudara-saudara yang hadir di sini, juga tidak
bermaksud memandang rendah. Karena itu aku sediakan penutup telinga ini dan
bagi siapa yang hendak menutupi telinganya, kupersilakan mengambil sendiri dan
memakainya. Akan tetapi kepada kanjeng adipati kunasehatkan untuk
memakainya."
Adipati
Joyowiseso sudah maklum akan keampuhan tasbih kakek ini, maka segera ia
menjumput dua buah benda seperti kapas, lalu tertawa sambil berkata,
"Suara
tasbih paman Cekel benar-benar hebat, saya tidak berani menghadapinya tanpa
memakai penolak ini."
Juga
Jokowanengpati segera mengambil sepasang benda itu. Melihat ini Wisangjiwo juga
mengambil dua buah. Akan tetapi lima orang sakti yang lain, Ni Nogogini, Ni
Durgogini, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendayakso, dan Ki Tejoranu, hanya
memandang sambil tersenyum saja, tidak mengambil alat penutup telinga.
Cekel Aksomolo
lalu memanggil dua orang penjaga. Mereka ini menjadi pucat, menggeleng-geleng
kepala dan hendak mengundurkan diri. Mereka maklum akan kesaktian kakek ini
yang sudah mereka saksikan sendiri ketika suara tasbih mempermainkan para
penabuh gamelan dan para waranggana. Akan tetapi bentakan Adipati joyowiseso
membuat mereka datang munduk-munduk (terbongkok-bongkok) dengan tubuh
menggigil.
"Uahh-huh-huh,
jangan takut kalian berdua. Aku tidak akan mencelakai kalian, hanya akan
mempermainkan kalian untuk sekedar pertunjukan dan menggembirakan
suasana," kata Cekel Aksomolo sambil menggerakkan tasbihnya.
Adipati
Joyowiseso, Jokowanengpati dan Wisangjiwo cepat menyumbat telinga mereka.
Tasbih di tangan Cekel Aksomolo berkeritik perlahan akan tetapi makin lama
makin cepat. Terciptalah suara aneh seperti tikus mengerikiti kayu dan
terkejutlah lima orang sakti yang hadir di situ. Suara ini seperti mengorek
kendangan telinga mereka, menimbulkan rasa keri (geli) yang tak tertahankan.
Cepat mereka mengerahkan tenaga batin, mengumpulkan hawa sakti dan
menyalurkannya ke telinga untuk melawan pengaruh aneh ini. Akan tetapi kedua
orang penjaga itu sudah gulung-kuming (bergulingan) dan tertawa-tawa
terpingkal-pingkal. Keadaan menjadi lucu sekali. Seperti dua orang badut,
mereka ini tertawa-tawa, Keadaan menjadi lucu sekali. Terkena pengaruh suara
tasbih Cekel Aksomolo, kedua penjaga itu tertawa terbahak-bahak tanpa berhenti.
Ada kalanya terkekeh lalu terbahak-bahak dan di lain saat terpingkal-pingkal
tanpa mengeluarkan suara. Kalau dilanjutkan, tentu mereka berdua akan kejang
bias mati tertawa! Akan tetapi tiba-tiba suara tasbih berhenti dan dua orang
itu mendadak berhenti pula tertawa, terengah-engah lalu bangkit berdiri. Akan
tetapi kembali Cekel Aksomolo menggerakkan tasbihnya dan kali ini yang terdengar
suara mbrengengeng (mengaung) seperti ratusan ekor nyamuk terbang di depan
telinga. Dua orang penjaga itu tiba-tiba menangis, tak tertahankan lagi,
menangis terisak-isak, jatuh berlutut, kmudian bergulingan dan masih menangis
menggerung-gerung! Hanya sebentar saja Cekel Aksomolo menyiksa mereka.
Tasbihnya segera berhenti bergerak dan dua orang penjaga itu sadar kembali.
Mereka masih terisak-isak ketika Cekel Aksomolo memberi tanda supaya mereka
pergi. Adipati Joyowiseso mengeluarkan penyumbat telinga, demikian pula
Jokowanengpati dan Wisangjiwo.
"Hebat
sekali kepandaian paman Cekel," kata sang adipati.
Juga lima
orang sakti itu diam-diam terkejut dan kagum. Pantas saja nama Cekel Aksomolo
amat terkenal, kiranya kakek itu memiliki tenaga dalam dan hawa sakti yang amat
kuat sehingga mampu menggerakkan tasbih sedemikian rupa sehingga dapat
menciptakan suara-suara mujijat yang amat berbahaya bagi musuh. Akan tetapi,
dalam pertunjukan tadi, kelima orang itupun masing-masing secara tidak langsung
telah memperlihatkan kekuatan tenaga dalam mereka dengan kesanggupan mereka
melawan pengaruh suara tasbih itu.
"Uuh-huh-huh,
apa sih artinya kepandaian seperti itu? Aku seorang tua yang tiada gunanya.
Mana bisa dibandingkan dengan Ni Durgogini dan Ni Nogogini? Nama mereka
menjulang tinggi di angkasa, tentu kepandaian mereka berdua ini juga setinggi
langit!"
"Saya
tidak berani menyusahkan kedua Nini Dewi, akan tetapi karena semua sudah
memberi pertunjukan kiranya anda berdua takkan berkeberatan pula menambah
kegembiraan pertemuan ini," kata Adipati Joyowiseso yang merasa sungkan
karena mereka berdua adalah wanita-wanita dan seorang di antara mereka malah
guru puteranya..
Ni Durgogini
tersenyum. Bibirnya yang bawah bergerak-gerak aneh menimbulkan kemanisan luar
biasa dan memperlihatkan bibir sebelah dalam yang halus kemerahan dan basah.
"Kami
adalah wanita, lebih mengutamakan kehalusan, biarlah aku main-main dengan
segelas arak ini!"
Dengan gerakan
lemah gemulai dan cekatan ia mengisi gelas araknya yang terbuat daripada perak,
lalu mengangkat dan menggenggam dalam tangan kanannya. Ia bangkit berdiri
dengan gelas arak di tangan sambil mengerahkan tenaga sakti Bromosari yang ia
ciptakan dan latih selama tinggal di Girilimut. Hebat bukan main kesudahannya.
Arak dalam gelas itu bergerak-gerak dan tak lama kemudian mengeluarkan uap
terus mendidih! Semerbak bau arak ketika arak mendidih itu mengeluarkan uap
makin banyak lagi. Ni Durgogini tersenyum, lalu meletakkan gelas arak itu di
atas meja. Masih mendidih araknya dan begitu gelas diletakkan di atas meja
kayu, papan di bawahnya menjadi hitam karena panas!
"Hi-hik,
aku mau meniru pertunjukan mbok ayu Durgogini!" tiba-tiba Ni Nogogini
berkata, mengisi cawan araknya sendiri lalu bangkit berdiri sambil memegangi
cawan atau gelas araknya seperti yang dilakukan Ni Durgogini tadi.
Akan tetapi
kini terjadi sebaliknya. Mula-mula tampak butiran-butiran air di sekitar gelas
perak dan arak itupun mengeluarkan uap, dingin dan tak lama kemudian araknya
membeku dalam gelas! Ni Nogogini membalikkan cawan, akan tetapi arak tidak
tertumpah seperti benda cair, melainkan jatuh ke atas meja seperti sepotong es!
"Hebat......!"
seru Adipati Joyowiseso yang merasa terheran-heran. Semua pertunjukan yang
diperlihatkan enam orang sakti itu baginya seperti sihir dan sulap saja, dan
hatinya benar-benar menjadi besar.
Mendapat
bantuan enam orang ini, ia yakin kelak cita-citanya akan terlaksana. Bukan
hanya Adipati Joyowiseso yang memuji, juga empat orang sakti yang hadir
diam-diam terkejut dan kagum menyaksikan kehebatan tenaga dalam dan hawa sakti
yang dimiliki dua orang wanita itu. Itulah tenaga sakti yang luar biasa, yang
membuat tangan mereka ampuh melebihi senjata tajam, ampuh, kuat dan beracun
pula. Hebat memang! Pesta dilanjutkan dalam suasana meriah. Mereka telah
mengambil keputusan untuk bersekutu dan melakukan kegiatan-kegiatan seperti
berikut. Pertama, masing-masing berlomba mencari pusaka patung kencana yang
hilang dari istana Kahuripan (Mataram). Ke dua, masing-masing dengan caranya
sendiri menghimpun tenaga membentuk pasukan-pasukan yang kuat dan menghubungi
adipati-adipati dan golongan-golongan di empat penjuru yang anti Kahuripan. Ke
tiga, mereka akan berusaha melemahkan Kahuripan dengan jalan memusuhi para
senopati dan tokoh-tokohnya, kalau mungkin membunuh mereka seorang demi seorang
dengan dalih permusuhan pribadi.
Langit di atas
istana Kahuripan telah mendung. Kerajaan Mataram telah terancam bahaya yang
datangnya dari Selopenangkep, dan semua itu didahului dengan peristiwa yang
merupakan ramalan, yaitu dengan lenyapnya pusaka patung kencana. Lenyapnya
pusaka keramat ini menjadi tanda kesuraman kerajaan. Beberapa bulan kemudian,
Jokowanengpati melakukan perjalanan seorang diri mendaki Gunung Lawu. Dengan
ilmu kepandaiannya, ia dapat mendaki dengan tangkas, melompat-lompat melalui
jurang yang curam. Pemandangan alam di lereng Lawu amatlah indahnya, namun pada
saat itu Jokowanengpati seperti buta terhadap keindahan pemandangan alam. Ia
tergesa-gesa sekali dan kadang-kadang ia berhenti hanya untuk memandang ke
sekelilingnya. Bukan sama sekali menikmati pemandangan alam, melainkan untuk
melihat kalau-kalau ada orang lain yang melihat pendakiannya. Ia sedang menuju
ke tempat rahasia, tidak ingin ada orang lain melihatnya. Jokowanengpati adalah
seorang pemuda yang selain tangkas dan berilmu, juga amat cerdik dan hati-hati.
Lega hatinya melihat keadaan sekeliling lereng itu sunyi senyap. Bahkan kini ia
telah jauh meninggalkan kelompok dusun terakhir di lereng sebelah bawah. Makin
ke atas makin sunyilah keadaan dan tidak tampak adanya dusun lagi. Orang-orang
pencari kayupun tidak akan sampai ke tempat setinggi ini, tempat yang berbahaya
dan sukar didatangi. Kemudian dengan cekatan ia melompat dan merayap ke arah
batu gunung yang merupakan karang tinggi. Dari tempat tinggi itulah ia
mengintai dan tiba-tiba ia tersenyum puas. Di sebelah kiri sana, sebelah barat
dekat dengan sungai gunung, tampak sekelompok cemara yang pendek dan agak
kekuningan daunnya.
"Ah,
tentu itulah tempatnya. Bekas pertapaan Taru Jenar (Pohon Kuning) yang sudah
kosong! Tentu di sana, tak salah lagi!" kata hatinya dan cepat ia turun
dan segera berlompatan lagi menuju ke barat. Tak lama kemudian tibalah ia di
tempat yang dituju dan dari jauh ia sudah melihat sebuah pondok kecil. Di samping
pondok tampak seorang wanita tengah menghadapi tungku dan asap mengepul dari
kwali di atasnya.
"Mirah......!"
tegur Jokowanengpati dengan suara gembira sambil lari menghampiri. Wanita itu
kaget dan menoleh.
Ternyata ia
seorang wanita muda yang cukup cantik, berkulit kuning bersih dan kembennya
yang berkembang itu menandakan bahwa ia bukanlah seorang dusun. Memang
sesungguhnyalah. Mirah bukan seorang wanita dusun. Dia bekas abdi dalam istana
Prabu Airlangga.
"Kakangmas
Jo ko.......!?!"
Sukar diduga
perasaan apa yang membayang pada wajah ayu itu, akan tetapi ia tidak menolak
dan mandah saja ketika Jokowanengpati memeluk, mendekap dan menciuminya sambil
membelai leher yang indah bentuknya.
"Manis,
di mana kakang Wiratmo? Dan paman Sunggono?"
"Di.......
di dalam....... eh, mencari kayu........"
Wanita muda
itu menggeliat kegelian oleh jari-jari tangan Jokowanengpati yang nakal. Pada
saat itu terdengar suara seorang laki-laki penuh kegembiraan,
"Adikku
Mirah pujaan hatiku, sudah matangkah masakanmu? Perutku lapar se...."
Ucapannya itu
berhenti seakan-akan lehernya dicekik dan mukanya yang berseri berubah pucat
ketika laki-laki muda itu melihat Jokowanengpati di situ.
"
Ah.......... Raden Jokowanengpati......... sudah..... sudah lamakah........?
Maafkan saya tidak tahu akan kedatangan raden sehingga tidak
menyambut......."
Jokowanengpati
sudah melepaskan tangannya yang tadi membelai wanita itu, tersenyum dan berkata
manis,
"Kakang
Wiratmo, baru saja aku tiba. Di mana paman Sunggono? Dan bagaimana
dengan....... anu itu? Tentu selamat sampai kalian bawa ke sini, bukan?"
Tergopoh-gopoh Wiratmo menjawab,
"Jangan
khawatir, raden. Semua beres. Paman Sunggono tadi baru mencari kayu di hutan
sana. Biar saya panggil dia!"
Tanpa menanti
jawaban Wiratmo segera menaruh kedua tangan di kanan kiri mulutnya kemudian
berteriak keras sambil menghadap ke kanan.
"Paman
Sunggonooooo.....!! Raden Joko sudah datangggg.......!!! "
Suaranya keras
bergema di dalam hutan itu. Orang muda berusia tiga puluhan dan berwajah cukup
ganteng itu segera berpaling kepada Jokowanengpati sambil berkata,
"Marilah,
raden, kita bercakap-cakap di dalam, sebentar lagi paman Sunggono tentu datang.
Mirah, segera selesaikan masakanmu untuk menjamu Raden Jokowanengpati."
Jokowanengpati
mengangguk dan keduanya memasuki pondok. Setelah mereka duduk di atas bangku
bambu menghadapi meja jati, Jokowanengpati segera bertanya,
"Bagaimana
perjalanan kalian bertiga ke sini? Tidak terjadi sesuatu dan tidak ada yang
tahu, kan?"
"Semua
beres, raden, tepat seperti yang kita rencanakan. Setelah mendapatkan pusaka
itu dari tangan raden, Mirah memohon kepada kanjeng ratu untuk pulang ke dusun
dengan alasan rindu orang tua dan ingin menikah. Untung tidak ada kecurigaan
apa-apa dan Mirah dapat keluar istana bersama pusaka itu dengan mudah. Sebagai
seorang abdi dalam, emban kanjeng ratu, siapakah yang mencurigai dan berani
mengganggunya? Saya menjemputnya di luar istana, mengaku kakak misannya dan
kami berdua keluar dari kota raja. Di luar kota raja, paman Sunggono sudah
menjemput dengan kuda maka kami bertiga dapat melarikan diri dengan
cepat."
"Bagus!
Aku tidak akan melupakan jasa kalian bertiga, Wiratmo. Dengan adanya pusaka itu
di tanganku, hemmmm..... siapa tahu kelak kau dan paman Sunggono akan dapat
terangkat menjadi pembesar-pembesar tinggi! Eh, Wiratmo, di mana pusaka itu?
Lekas kau keluarkan, aku sudah ingin sekali melihat."
"Ah,
raden, mana berani kami menyimpannya di pondok ini? Pusaka itu kami simpan di
tempat lain, tempat tersembunyi. Kami orang-orang pelarian siapa tahu
sewaktu-waktu datang pengejaran dari istana! Kalau benda itu tidak terdapat
bersama kami, tentu kami akan bebas daripada tuduhan-tuduhan."
Jokowanengpati
mengangguk-angguk.
"Bagus,
bagus! Memang seharusnya demikian, kakang Wiratmo. Mari kita ambil pusaka
itu."
No comments:
Post a Comment