Badai Laut Selatan ; Bagian 031


Setelah berkata demikian kakek itu mengeluarkan penutup-penutup telinga sambil berkata lagi,
"Aku tidak mau membikin susah saudara-saudara yang hadir di sini, juga tidak bermaksud memandang rendah. Karena itu aku sediakan penutup telinga ini dan bagi siapa yang hendak menutupi telinganya, kupersilakan mengambil sendiri dan memakainya. Akan tetapi kepada kanjeng adipati kunasehatkan untuk memakainya."
Adipati Joyowiseso sudah maklum akan keampuhan tasbih kakek ini, maka segera ia menjumput dua buah benda seperti kapas, lalu tertawa sambil berkata,
"Suara tasbih paman Cekel benar-benar hebat, saya tidak berani menghadapinya tanpa memakai penolak ini."
Juga Jokowanengpati segera mengambil sepasang benda itu. Melihat ini Wisangjiwo juga mengambil dua buah. Akan tetapi lima orang sakti yang lain, Ni Nogogini, Ni Durgogini, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendayakso, dan Ki Tejoranu, hanya memandang sambil tersenyum saja, tidak mengambil alat penutup telinga.
Cekel Aksomolo lalu memanggil dua orang penjaga. Mereka ini menjadi pucat, menggeleng-geleng kepala dan hendak mengundurkan diri. Mereka maklum akan kesaktian kakek ini yang sudah mereka saksikan sendiri ketika suara tasbih mempermainkan para penabuh gamelan dan para waranggana. Akan tetapi bentakan Adipati joyowiseso membuat mereka datang munduk-munduk (terbongkok-bongkok) dengan tubuh menggigil.
"Uahh-huh-huh, jangan takut kalian berdua. Aku tidak akan mencelakai kalian, hanya akan mempermainkan kalian untuk sekedar pertunjukan dan menggembirakan suasana," kata Cekel Aksomolo sambil menggerakkan tasbihnya.
Adipati Joyowiseso, Jokowanengpati dan Wisangjiwo cepat menyumbat telinga mereka. Tasbih di tangan Cekel Aksomolo berkeritik perlahan akan tetapi makin lama makin cepat. Terciptalah suara aneh seperti tikus mengerikiti kayu dan terkejutlah lima orang sakti yang hadir di situ. Suara ini seperti mengorek kendangan telinga mereka, menimbulkan rasa keri (geli) yang tak tertahankan. Cepat mereka mengerahkan tenaga batin, mengumpulkan hawa sakti dan menyalurkannya ke telinga untuk melawan pengaruh aneh ini. Akan tetapi kedua orang penjaga itu sudah gulung-kuming (bergulingan) dan tertawa-tawa terpingkal-pingkal. Keadaan menjadi lucu sekali. Seperti dua orang badut, mereka ini tertawa-tawa, Keadaan menjadi lucu sekali. Terkena pengaruh suara tasbih Cekel Aksomolo, kedua penjaga itu tertawa terbahak-bahak tanpa berhenti. Ada kalanya terkekeh lalu terbahak-bahak dan di lain saat terpingkal-pingkal tanpa mengeluarkan suara. Kalau dilanjutkan, tentu mereka berdua akan kejang bias mati tertawa! Akan tetapi tiba-tiba suara tasbih berhenti dan dua orang itu mendadak berhenti pula tertawa, terengah-engah lalu bangkit berdiri. Akan tetapi kembali Cekel Aksomolo menggerakkan tasbihnya dan kali ini yang terdengar suara mbrengengeng (mengaung) seperti ratusan ekor nyamuk terbang di depan telinga. Dua orang penjaga itu tiba-tiba menangis, tak tertahankan lagi, menangis terisak-isak, jatuh berlutut, kmudian bergulingan dan masih menangis menggerung-gerung! Hanya sebentar saja Cekel Aksomolo menyiksa mereka. Tasbihnya segera berhenti bergerak dan dua orang penjaga itu sadar kembali. Mereka masih terisak-isak ketika Cekel Aksomolo memberi tanda supaya mereka pergi. Adipati Joyowiseso mengeluarkan penyumbat telinga, demikian pula Jokowanengpati dan Wisangjiwo.
"Hebat sekali kepandaian paman Cekel," kata sang adipati.

Juga lima orang sakti itu diam-diam terkejut dan kagum. Pantas saja nama Cekel Aksomolo amat terkenal, kiranya kakek itu memiliki tenaga dalam dan hawa sakti yang amat kuat sehingga mampu menggerakkan tasbih sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan suara-suara mujijat yang amat berbahaya bagi musuh. Akan tetapi, dalam pertunjukan tadi, kelima orang itupun masing-masing secara tidak langsung telah memperlihatkan kekuatan tenaga dalam mereka dengan kesanggupan mereka melawan pengaruh suara tasbih itu.
"Uuh-huh-huh, apa sih artinya kepandaian seperti itu? Aku seorang tua yang tiada gunanya. Mana bisa dibandingkan dengan Ni Durgogini dan Ni Nogogini? Nama mereka menjulang tinggi di angkasa, tentu kepandaian mereka berdua ini juga setinggi langit!"
"Saya tidak berani menyusahkan kedua Nini Dewi, akan tetapi karena semua sudah memberi pertunjukan kiranya anda berdua takkan berkeberatan pula menambah kegembiraan pertemuan ini," kata Adipati Joyowiseso yang merasa sungkan karena mereka berdua adalah wanita-wanita dan seorang di antara mereka malah guru puteranya..
Ni Durgogini tersenyum. Bibirnya yang bawah bergerak-gerak aneh menimbulkan kemanisan luar biasa dan memperlihatkan bibir sebelah dalam yang halus kemerahan dan basah.
"Kami adalah wanita, lebih mengutamakan kehalusan, biarlah aku main-main dengan segelas arak ini!"
Dengan gerakan lemah gemulai dan cekatan ia mengisi gelas araknya yang terbuat daripada perak, lalu mengangkat dan menggenggam dalam tangan kanannya. Ia bangkit berdiri dengan gelas arak di tangan sambil mengerahkan tenaga sakti Bromosari yang ia ciptakan dan latih selama tinggal di Girilimut. Hebat bukan main kesudahannya. Arak dalam gelas itu bergerak-gerak dan tak lama kemudian mengeluarkan uap terus mendidih! Semerbak bau arak ketika arak mendidih itu mengeluarkan uap makin banyak lagi. Ni Durgogini tersenyum, lalu meletakkan gelas arak itu di atas meja. Masih mendidih araknya dan begitu gelas diletakkan di atas meja kayu, papan di bawahnya menjadi hitam karena panas!
"Hi-hik, aku mau meniru pertunjukan mbok ayu Durgogini!" tiba-tiba Ni Nogogini berkata, mengisi cawan araknya sendiri lalu bangkit berdiri sambil memegangi cawan atau gelas araknya seperti yang dilakukan Ni Durgogini tadi.
Akan tetapi kini terjadi sebaliknya. Mula-mula tampak butiran-butiran air di sekitar gelas perak dan arak itupun mengeluarkan uap, dingin dan tak lama kemudian araknya membeku dalam gelas! Ni Nogogini membalikkan cawan, akan tetapi arak tidak tertumpah seperti benda cair, melainkan jatuh ke atas meja seperti sepotong es!
"Hebat......!" seru Adipati Joyowiseso yang merasa terheran-heran. Semua pertunjukan yang diperlihatkan enam orang sakti itu baginya seperti sihir dan sulap saja, dan hatinya benar-benar menjadi besar.

Mendapat bantuan enam orang ini, ia yakin kelak cita-citanya akan terlaksana. Bukan hanya Adipati Joyowiseso yang memuji, juga empat orang sakti yang hadir diam-diam terkejut dan kagum menyaksikan kehebatan tenaga dalam dan hawa sakti yang dimiliki dua orang wanita itu. Itulah tenaga sakti yang luar biasa, yang membuat tangan mereka ampuh melebihi senjata tajam, ampuh, kuat dan beracun pula. Hebat memang! Pesta dilanjutkan dalam suasana meriah. Mereka telah mengambil keputusan untuk bersekutu dan melakukan kegiatan-kegiatan seperti berikut. Pertama, masing-masing berlomba mencari pusaka patung kencana yang hilang dari istana Kahuripan (Mataram). Ke dua, masing-masing dengan caranya sendiri menghimpun tenaga membentuk pasukan-pasukan yang kuat dan menghubungi adipati-adipati dan golongan-golongan di empat penjuru yang anti Kahuripan. Ke tiga, mereka akan berusaha melemahkan Kahuripan dengan jalan memusuhi para senopati dan tokoh-tokohnya, kalau mungkin membunuh mereka seorang demi seorang dengan dalih permusuhan pribadi.

Langit di atas istana Kahuripan telah mendung. Kerajaan Mataram telah terancam bahaya yang datangnya dari Selopenangkep, dan semua itu didahului dengan peristiwa yang merupakan ramalan, yaitu dengan lenyapnya pusaka patung kencana. Lenyapnya pusaka keramat ini menjadi tanda kesuraman kerajaan. Beberapa bulan kemudian, Jokowanengpati melakukan perjalanan seorang diri mendaki Gunung Lawu. Dengan ilmu kepandaiannya, ia dapat mendaki dengan tangkas, melompat-lompat melalui jurang yang curam. Pemandangan alam di lereng Lawu amatlah indahnya, namun pada saat itu Jokowanengpati seperti buta terhadap keindahan pemandangan alam. Ia tergesa-gesa sekali dan kadang-kadang ia berhenti hanya untuk memandang ke sekelilingnya. Bukan sama sekali menikmati pemandangan alam, melainkan untuk melihat kalau-kalau ada orang lain yang melihat pendakiannya. Ia sedang menuju ke tempat rahasia, tidak ingin ada orang lain melihatnya. Jokowanengpati adalah seorang pemuda yang selain tangkas dan berilmu, juga amat cerdik dan hati-hati. Lega hatinya melihat keadaan sekeliling lereng itu sunyi senyap. Bahkan kini ia telah jauh meninggalkan kelompok dusun terakhir di lereng sebelah bawah. Makin ke atas makin sunyilah keadaan dan tidak tampak adanya dusun lagi. Orang-orang pencari kayupun tidak akan sampai ke tempat setinggi ini, tempat yang berbahaya dan sukar didatangi. Kemudian dengan cekatan ia melompat dan merayap ke arah batu gunung yang merupakan karang tinggi. Dari tempat tinggi itulah ia mengintai dan tiba-tiba ia tersenyum puas. Di sebelah kiri sana, sebelah barat dekat dengan sungai gunung, tampak sekelompok cemara yang pendek dan agak kekuningan daunnya.
"Ah, tentu itulah tempatnya. Bekas pertapaan Taru Jenar (Pohon Kuning) yang sudah kosong! Tentu di sana, tak salah lagi!" kata hatinya dan cepat ia turun dan segera berlompatan lagi menuju ke barat. Tak lama kemudian tibalah ia di tempat yang dituju dan dari jauh ia sudah melihat sebuah pondok kecil. Di samping pondok tampak seorang wanita tengah menghadapi tungku dan asap mengepul dari kwali di atasnya.
"Mirah......!" tegur Jokowanengpati dengan suara gembira sambil lari menghampiri. Wanita itu kaget dan menoleh.
Ternyata ia seorang wanita muda yang cukup cantik, berkulit kuning bersih dan kembennya yang berkembang itu menandakan bahwa ia bukanlah seorang dusun. Memang sesungguhnyalah. Mirah bukan seorang wanita dusun. Dia bekas abdi dalam istana Prabu Airlangga.
"Kakangmas Jo ko.......!?!"
Sukar diduga perasaan apa yang membayang pada wajah ayu itu, akan tetapi ia tidak menolak dan mandah saja ketika Jokowanengpati memeluk, mendekap dan menciuminya sambil membelai leher yang indah bentuknya.
"Manis, di mana kakang Wiratmo? Dan paman Sunggono?"
"Di....... di dalam....... eh, mencari kayu........"

Wanita muda itu menggeliat kegelian oleh jari-jari tangan Jokowanengpati yang nakal. Pada saat itu terdengar suara seorang laki-laki penuh kegembiraan,
"Adikku Mirah pujaan hatiku, sudah matangkah masakanmu? Perutku lapar se...."
Ucapannya itu berhenti seakan-akan lehernya dicekik dan mukanya yang berseri berubah pucat ketika laki-laki muda itu melihat Jokowanengpati di situ.
" Ah.......... Raden Jokowanengpati......... sudah..... sudah lamakah........? Maafkan saya tidak tahu akan kedatangan raden sehingga tidak menyambut......."
Jokowanengpati sudah melepaskan tangannya yang tadi membelai wanita itu, tersenyum dan berkata manis,
"Kakang Wiratmo, baru saja aku tiba. Di mana paman Sunggono? Dan bagaimana dengan....... anu itu? Tentu selamat sampai kalian bawa ke sini, bukan?" Tergopoh-gopoh Wiratmo menjawab,
"Jangan khawatir, raden. Semua beres. Paman Sunggono tadi baru mencari kayu di hutan sana. Biar saya panggil dia!"
Tanpa menanti jawaban Wiratmo segera menaruh kedua tangan di kanan kiri mulutnya kemudian berteriak keras sambil menghadap ke kanan.
"Paman Sunggonooooo.....!! Raden Joko sudah datangggg.......!!! "
Suaranya keras bergema di dalam hutan itu. Orang muda berusia tiga puluhan dan berwajah cukup ganteng itu segera berpaling kepada Jokowanengpati sambil berkata,
"Marilah, raden, kita bercakap-cakap di dalam, sebentar lagi paman Sunggono tentu datang. Mirah, segera selesaikan masakanmu untuk menjamu Raden Jokowanengpati."
Jokowanengpati mengangguk dan keduanya memasuki pondok. Setelah mereka duduk di atas bangku bambu menghadapi meja jati, Jokowanengpati segera bertanya,
"Bagaimana perjalanan kalian bertiga ke sini? Tidak terjadi sesuatu dan tidak ada yang tahu, kan?"
"Semua beres, raden, tepat seperti yang kita rencanakan. Setelah mendapatkan pusaka itu dari tangan raden, Mirah memohon kepada kanjeng ratu untuk pulang ke dusun dengan alasan rindu orang tua dan ingin menikah. Untung tidak ada kecurigaan apa-apa dan Mirah dapat keluar istana bersama pusaka itu dengan mudah. Sebagai seorang abdi dalam, emban kanjeng ratu, siapakah yang mencurigai dan berani mengganggunya? Saya menjemputnya di luar istana, mengaku kakak misannya dan kami berdua keluar dari kota raja. Di luar kota raja, paman Sunggono sudah menjemput dengan kuda maka kami bertiga dapat melarikan diri dengan cepat."
"Bagus! Aku tidak akan melupakan jasa kalian bertiga, Wiratmo. Dengan adanya pusaka itu di tanganku, hemmmm..... siapa tahu kelak kau dan paman Sunggono akan dapat terangkat menjadi pembesar-pembesar tinggi! Eh, Wiratmo, di mana pusaka itu? Lekas kau keluarkan, aku sudah ingin sekali melihat."
"Ah, raden, mana berani kami menyimpannya di pondok ini? Pusaka itu kami simpan di tempat lain, tempat tersembunyi. Kami orang-orang pelarian siapa tahu sewaktu-waktu datang pengejaran dari istana! Kalau benda itu tidak terdapat bersama kami, tentu kami akan bebas daripada tuduhan-tuduhan."
Jokowanengpati mengangguk-angguk.
"Bagus, bagus! Memang seharusnya demikian, kakang Wiratmo. Mari kita ambil pusaka itu."

<<< Bagian 030                                                                                   Bagian 032 >>>

No comments:

Post a Comment