Akan tetapi hasil sepakan kaki Narotama ini malah merugikan ki patih sendiri oleh karena ketika pencurahan perhatiannya terbagi dalam penyerangan, pertahanannya agak kurang dan karenanya ia tidak dapat menghindarkan lagi hantaman ujung kolor Ki Warok Gendroyono ke arah lehernya. Untung ia masih sempat miringkan tubuh sehingga bukan lehernya yang terpukul melainkan pundaknya. Kalau lehernya yang terpukul, betapapun saktinya ki patih, agaknya akan berbahayalah akibatnya. Hanya pundaknya saja sudah membuat ki patih terlempar ke belakang bagaikan tertiup angin badai dan hanya berkat ketangkasan dan ilmunya yang tinggi saja yang mencegahnya terbanting jatuh. Ki patih berjungkir-balik mematahkan daya luncur tubuhnya dan turun ke tanah dalam keadaan berdiri. Pucat sedikit wajahnya, dan tulang pundaknya terasa ngilu, akan tetapi ia masih tidak kehilangan tenaga dan ketangkasannya. Rangsekan para pengeroyok yang masih banyak jumlahnya karena para anggota perampok semua ikut-maju, dapat ia sambut dengan baik, walaupun ia benar-benar terdesak sekarang.
Makin gaduh
suasana pertandingan, penuh teriakan dan gerengan, ribut oleh tiga senjata
ampuh para pengeroyok. Juga ki patih yang sudah marah itu kini memekik-mekik
ganas dan bertambah ganas pula kerisnya. Sudah dua orang perampok roboh
tertusuk keris Megantoro. Kalau keris pusaka sudah minum darah, ia akan menjadi
makin haus. Kini Narotama tak mungkin lagi menjaga serangannya agar jangan
membunuh orang, karena dalam keadaan terdesak itu ia harus mempertahankan diri
dengan membuka jalan darah. Pada saat ki patih amat terdesak itu, tiba-tiba
berkelebat bayangan putih dan terdengar bentakan,
"Orang-orang
tak tahu malu, begini banyak mengeroyok seorang tua!"
Hampir saja
Joko Wandiro berteriak kegirangan ketika mengenal ayahnya yang maju dengan
gerakan cepat. Akan tetapi tiba-tiba Pujo yang maju hendak membantu Narotama
itu dihadang oleh Ki Tejoranu!
"Olang
muda, gelakanmu tangkas. Aku juga tidak suka keloyokan, hayo kau layani aku
main-main sebental!"
Golok sepasang
itu sudah dicabut lagi dan diputar-putar di atas dan depan tubuhnya.
"Keparat
jangan sombong. Majulah!" seru Pujo yang sudah marah karena mengenal Ki
Patih Kanuruhan yang dikeroyok itu.
Ki Tejoranu
sudah menerjang maju, sinar goloknya berkelebat menyambar. Pujo maklum bahwa
lawannya bukan orang lemah, maka ia cepat menggunakan gerak Bayu Tantra
mengelak. Tubuhnya bagaikan seekor burung saja gesitnya sehingga serangan Ki
Tejoranu selalu gagal. Namun pertapa Danau Sarangan inipun amatlah sigapnya
sehingga balasan terjangan Pujo yang cepat dan kuat itu dapat pula ia
hindarkan.
Joko Wandiro
menggigil makin keras. Suara tasbih kakek bongkok benar-benar membuat ia
kedinginan dan hal ini membuat ia tersiksa karena ia terdorong keinginan membuang
air kecil! Tak dapat ditahannya pula keinginan itu. Untuk turun ia khawatir
ketahuan mereka. Maka anak itu lalu kencing dari atas pohon dan untuk
melampiaskan kegemasan dan kebenciannya terhadap kakek bongkok, ia sengaja
memilih saat si kakek bongkok bergerak tepat di bawahnya, lalu ia mengarahkan
air kencingnya kepada kakek bongkok itu.
"Huh-huh-huh,
Narotama orang Balidwipa! Kau mengundang bala bantuan? Heh-heh-heh tak
beranikah mati seorang diri? Ingin mengajak teman mati bersama? Uh-huhhuh,
katanya pemberani! Dasar......."
Tiba-tiba
suaranya berhenti, tasbih yang diputar-putar di atas kepalanya dan mengeluarkan
suara dahsyat itupun terhenti gerakannya, matanya mendelik, hidungnya kembang
kempis menyedot-nyedot ketika kepala dan tubuhnya tersiram air panas dari atas
pohon! Cekel Aksomolo mengangkat muka ke atas dan malang baginya, karena
gerakan ini air kencing itu tepat mengenai muka, memasuki hidung dan mulutnya!
Ia terbangkis-bangkis, terbatuk-batuk dan seketika tubuhnya menjadi lemas
seakan-akan semua urat syarafnya menjadi lumpuh.
"Aihhh......
aihh...... celaka awak...... sial dangkalan..... bocah edan kau... "
Ia melihat
seorang anak laki-laki tertawa di atas pohon. Ingin ia meloncat, ingin ia
menghajar dan membunuh anak itu, akan tetapi tubuhnya sudah lemas, kekuatannya
hilang. Inilah sirikannya, inilah pantangannya. Terkena air kencing anak-anak,
ia seperti balon kehabisan angin, kempis dan peyot, seperti api tersiram air,
ngebos dan padam! Saking lemasnya ia lalu mendeprok, kakinya dengkelen (tak
dapat berjalan) dan ia hanya dapat merangkak keluar dari medan pertandingan.
Cekel Aksomolo
merupakan tenaga yang paling kuat di antara mereka yang mengeroyok Narotama,
maka setelah ia tidak aktif lagi, pengeroyokan itu mengendur dan empat orang
perampok kembali roboh oleh tusukan pusaka dan tendangan ki patih yang sakti
mandraguna. Pertandingan antara Ki Tejoranu dan Pujo berlangsung amat hebatnya.
Karena pertandingan itu satu lawan satu, maka jauh lebih seru daripada
pengeroyokan yang kacau-balau itu. Ki Tejoranu benar-benar hebat permainan
sepasang goloknya, berdasarkan ilmu silat yang tinggi mutunya dan latihan yang
sudah matang. Sekiranya Pujo hanya mengandalkan ilmu silat, ia takkan dapat
menang melawan Ki Tejoranu. Akan tetapi semenjak kecil Pujo telah digembleng
oleh Resi Bhargowo dalam hal ilmu kesaktian yang tidak hanya diperoleh dengan
latihan, melainkan terutama sekali dengan ketekunan bertapa sehingga ia
berhasil memupuk hawa kesaktian yang di dalam tubuh dan panca indera. Oleh
karena itu, dalam hal kesaktian ilmu alam dan mantera ini ia lebih tinggi
tingkatnya. Melihat betapa hebat permainan golok lawannya, Pujo segera
mengerahkan aji kesaktiannya, menyalurkan hawa sakti ke dalam kedua lengan
sampai terasa getarannya ke ujung-ujung jari tangan, kemudian ia memekik dan
mainkan Aji Pethit Nogo! Bukan main hebatnya aji ini. Sepuluh jari tangannya
menjadi kuat melebihi baja dan sekali ia mencengkeram, golok kiri lawan sudah
berada dalam genggamannya. Ki Tejoranu terkejut sekali dan juga heran. Manusia
aneh ini memang paling senang berkelahi, paling senang menguji kepandaian orang
lain dan agaknya memang itulah "hobbynya". Agaknya itu pula yang
membuat ia pergi merantau meninggalkan negaranya yang begitu jauh, menempuh
pelayaran yang memakan waktu berpekan-pekan. Di manapun ia tiba, ia selalu
mencari-cari orang pandai untuk diadu ilmunya! Ia maklum bahwa Jawa-dwipa
merupakan pulau aneh yang mempunyai banyak orang-orang sakti, tempat
orang-orang bertapa. Ia maklum pula bahwa rakyat pulau ini adalah orang-orang
tahan tapa, orang-orang yang memiliki kekuatan batin hebat sekali, dan untuk
menghadapai orang sakti yang memiliki daya getaran aneh dalam gerakannya,
kadang-kadang ilmu silat tidak dapat menahan. Kini menyaksikan betapa orang
muda ini dengan tangan kosong berani mencengkeram goloknya, ia menjadi kaget.
Goloknya adalah golok terbuat daripada baja murni dan amat kuat dan tajam.
Kalau sekali ia menarik golok dibarengi tenaga dalam, bukankah jari-jari orang
muda itu akan putus semua?
"Wah, kau
hebat, olang muda! Lepaskan golokku, bial kita mencoba dengan tangan
kosong!"
Pujo menjadi
gemas hatinya. Ia datang untuk membantu Rakyana Patih Kanuruhan dikeroyok,
siapa tahu kini ia dihalangi seorang yang agaknya haus akan perkelahian! Ia
melepaskan goloknya lalu mengirim serangan dengan Pethit Nogo yang ampuh.
"Hayaaa.......!
Tunggu dulu.......!"
Hebat gerakan
Ki Tejoranu karena tubuhnya sudah mencelat ke udara, jungkir balik beberapa
kali dan ketika tubuhnya turun ke atas tanah, ia telah menyarungkan sepasang
goloknya dan kini memasang kuda-kuda dengan tangan kosong! Kuda-kudanya kokoh
kuat seperti batu gunung, tubuhnya agak merendah, tangan kanan dikepal mepet di
lambung kanan sedangkan tangan kiri dengan ibu jari ditekuk ke tengah dan
jari-jari lainnya lurus tegak, berdiri di depan dada! Pujo yang tergesa-gesa
ingin lekas dapat membantu ki patih, segera menerjang maju. Gerakannya adalah
gerakan Bayu Tantra, ilmu pukulannya adalah Pethit Nogo, hebatnya bukan main,
dahsyat bagaikan badai mengamuk, panas bagaikan kawah meletus!
"Haaiiiitt.......!"
Ki Tejoranu kagum dan kaget menghadapi serbuan dahsyat ini, cepat kakinya
bergerak miringkan tubuh dan tangannya menangkis dengan gerakan menekuk, lalu
pada detik berikutnya tangan kanannya yang menempel lambung tadi sudah mencuat
ke depan dengan dua jari tangan, telunjuk dan jari tengah, mengarah pada mata
lawan.
"Yaaaaattt!"
Hebat
kesudahannya! Gempuran lengan tadi membuat tubuh Ki Tejoranu terdorong ke
belakang, namun serangan jarinya ke arah mata membuat Pujo kaget sekali dan
cepat-cepat mencelat mundur. Pujo melompat ke belakang dengan kaget sedang Ki
Tejoranu terhuyung-huyung ke belakang, kuda-kuda kakinya tergempur oleh
kekuatan mujijat Aji Pethit Nogo! Pada saat itu, Narotama sudah mengamuk makin
hebat karena Cekel Aksomolo tak dapat aktip lagi dalam pertempuran karena
tubuhnya masih lemas dan mlempem seperti kerupuk dingin. Sudah ada sembilan
orang perampok roboh olehnya. Melihat ini, Ki Warok Gendroyono dan Ki
Krendoyakso menjadi gentar juga. Ki Krendoyakso lalu membaca mantera, tangannya
bertepuk tiga kali dan sekali ia berteriak seperti lolong serigala, keadaan di
situ seketika menjadi gelap seperti diliputi halimun! Juga kolor sakti Ki Warok
Gendroyono meledak-ledak hebat ditambah penggada Wojo Ireng diputar-putar.
Terpaksa Narotama yang maklum bahwa kepala rampok Bagelen itu mempergunakan
ilmu hitam, meloncat ke belakang untuk menjaga diri dan memusatkan panca
indera. Karena keadaan gelap, otomatis pertandingan antara Pujo dan Ki Tejoranu
berhenti dengan sendirinya. Pujo juga cepat melompat mundur dan berdiri tegak,
bersedakep dan memusatkan panca indera untuk melawan pengaruh ilmu hitam. Pujo
berdiri di sebelah barat dan Narotama berdiri di sebelah timur!
Yang merasa
heran sekali adalah Joko Wandiro. Karena ia berada di atas pohon, agaknya dia
seoranglah yang terbebas daripada pengaruh ilmu hitam! Ia memang melihat betapa
medan pertempuran itu menjadi gelap seperti tertutup awan hitam, akan tetapi ia
dapat melihat betapa sibuknya para pengeroyok itu berkemas, menolong
teman-teman yang luka, kemudian meninggalkan tempat itu tergesa-gesa. Sedangkan
kakek yang dikeroyok tadi dan ayahnya hanya berdiri saja bersedakap seperti
arca, sama sekali tidak bergerak, juga tidak mencegah lawan mereka itu
melarikan diri! Narotama membuka matanya, menggerakkan kedua lengannya
mendorong ke depan beberapa kali dan ambyarlah halimun gelap itu. Keadaan
sebentar saja menjadi terang kembali dan di situ ternyata telah sunyi. Gerombolan
musuh tadi sudah lenyap, seorangpun tak tampak. Yang tampak hanya seorang
pemuda tampan yang tadi dilihatnya membantunya dan bertanding melawan Ki
Tejoranu yang ampuh sepasang goloknya. Pujo juga menghentikan samadhinya dan
kini dia maju bertekuk lutut, bersembah sujut di depan Narotama.
"Hamba
menghaturkan sembah ke hadapan Gusti Rakyana Patih!" kata Pujo dengan
hormat.
Narotama
sejenak memandang tajam, lalu bertanya, nada suaranya lembut.
"Orang
muda, terima kasih atas bantuanmu. Musuh terlampau banyak dan amat kuat.
Siapakah engkau, wahai orang muda yang perkasa?"
"Ampunkan
hamba yang bodoh sehingga tidak berhasil membasmi orang-orang jahat yang
menyerang paduka. Hamba bernama Pujo......."
"Pujo?"
Narotama mengerutkan kening, pandang matanya tajam sekali penuh selidik ke arah
orang muda yang masih berlutut itu. "Engkau dan Resi Bhargowo.......?
"
Pujo terheran.
"Resi
Bhargowo adalah guru dan ayah mertua hamba......."
"Jagad
Dewa Batara! Engkaukah yang bernama Pujo? Heh, Pujo apakah engkau kira dosa-dosamu
dapat kau tebus hanya dengan membantuku tadi?"
Pujo makin
terheran, mengangkat mukanya memandang wajah ki patih. Namun ia segera
menundukkan mukanya lagi, tak kuasa lama-lama menentang pandang mata yang tajam
berwibawa itu.
"Ampun,
gusti patih. Sesungguhnya hamba tidak mengerti apa gerangan maksud kata-kata
paduka tadi."
"Heh,
Pujo! Masih berpura-pura lagi-kah engkau? Engkau dan Resi Bhargowo telah
berusaha memberontak kepada Kahuripan! Masih engkau hendak menyangkal?"
Andaikata ada
petir menyambar kepalanya di saat itu, belum tentu Pujo akan sekaget ketika
mendengar ucapan ini. Kembali ia menengadah dan memandang kali ini lebih berani
terdorong kebersihan hatinya.
"Sama
sekali tidak, gusti patih! Mana hamba berani memberontak?"
Narotama
tersenyum.
"Hemm,
orang muda. Kulihat engkau seorang yang cukup perkasa. Orang yang melakukan
sesuatu, baik atau keliru, akan tetapi berani mempertanggung jawabkan
perbuatannya, dialah baru disebut gagah. Kau yang semuda dan segagah ini apakah
hendak menyangkal hal-hal yang telah kau lakukan? Bukankah engkau telah
menyerbu Kadipaten Selopenangkep, membuat kekacauan di sana, berusaha membunuh
Adipati Joyowiseso dan melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk?"
Lega kini hati
Pujo. Kiranya itukah yang dijadikan alasan dia memberontak? Ternyata orang
telah memutar balikkan fakta, menyampaikan kepada ki patih secara terbalik
sehingga dia yang terkena fitnah memberontak!
No comments:
Post a Comment