Badai Laut Selatan ; Bagian 040


Akan tetapi hasil sepakan kaki Narotama ini malah merugikan ki patih sendiri oleh karena ketika pencurahan perhatiannya terbagi dalam penyerangan, pertahanannya agak kurang dan karenanya ia tidak dapat menghindarkan lagi hantaman ujung kolor Ki Warok Gendroyono ke arah lehernya. Untung ia masih sempat miringkan tubuh sehingga bukan lehernya yang terpukul melainkan pundaknya. Kalau lehernya yang terpukul, betapapun saktinya ki patih, agaknya akan berbahayalah akibatnya. Hanya pundaknya saja sudah membuat ki patih terlempar ke belakang bagaikan tertiup angin badai dan hanya berkat ketangkasan dan ilmunya yang tinggi saja yang mencegahnya terbanting jatuh. Ki patih berjungkir-balik mematahkan daya luncur tubuhnya dan turun ke tanah dalam keadaan berdiri. Pucat sedikit wajahnya, dan tulang pundaknya terasa ngilu, akan tetapi ia masih tidak kehilangan tenaga dan ketangkasannya. Rangsekan para pengeroyok yang masih banyak jumlahnya karena para anggota perampok semua ikut-maju, dapat ia sambut dengan baik, walaupun ia benar-benar terdesak sekarang.

Makin gaduh suasana pertandingan, penuh teriakan dan gerengan, ribut oleh tiga senjata ampuh para pengeroyok. Juga ki patih yang sudah marah itu kini memekik-mekik ganas dan bertambah ganas pula kerisnya. Sudah dua orang perampok roboh tertusuk keris Megantoro. Kalau keris pusaka sudah minum darah, ia akan menjadi makin haus. Kini Narotama tak mungkin lagi menjaga serangannya agar jangan membunuh orang, karena dalam keadaan terdesak itu ia harus mempertahankan diri dengan membuka jalan darah. Pada saat ki patih amat terdesak itu, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan terdengar bentakan,
"Orang-orang tak tahu malu, begini banyak mengeroyok seorang tua!"
Hampir saja Joko Wandiro berteriak kegirangan ketika mengenal ayahnya yang maju dengan gerakan cepat. Akan tetapi tiba-tiba Pujo yang maju hendak membantu Narotama itu dihadang oleh Ki Tejoranu!
"Olang muda, gelakanmu tangkas. Aku juga tidak suka keloyokan, hayo kau layani aku main-main sebental!"
Golok sepasang itu sudah dicabut lagi dan diputar-putar di atas dan depan tubuhnya.
"Keparat jangan sombong. Majulah!" seru Pujo yang sudah marah karena mengenal Ki Patih Kanuruhan yang dikeroyok itu.
Ki Tejoranu sudah menerjang maju, sinar goloknya berkelebat menyambar. Pujo maklum bahwa lawannya bukan orang lemah, maka ia cepat menggunakan gerak Bayu Tantra mengelak. Tubuhnya bagaikan seekor burung saja gesitnya sehingga serangan Ki Tejoranu selalu gagal. Namun pertapa Danau Sarangan inipun amatlah sigapnya sehingga balasan terjangan Pujo yang cepat dan kuat itu dapat pula ia hindarkan.
Joko Wandiro menggigil makin keras. Suara tasbih kakek bongkok benar-benar membuat ia kedinginan dan hal ini membuat ia tersiksa karena ia terdorong keinginan membuang air kecil! Tak dapat ditahannya pula keinginan itu. Untuk turun ia khawatir ketahuan mereka. Maka anak itu lalu kencing dari atas pohon dan untuk melampiaskan kegemasan dan kebenciannya terhadap kakek bongkok, ia sengaja memilih saat si kakek bongkok bergerak tepat di bawahnya, lalu ia mengarahkan air kencingnya kepada kakek bongkok itu.
"Huh-huh-huh, Narotama orang Balidwipa! Kau mengundang bala bantuan? Heh-heh-heh tak beranikah mati seorang diri? Ingin mengajak teman mati bersama? Uh-huhhuh, katanya pemberani! Dasar......."
Tiba-tiba suaranya berhenti, tasbih yang diputar-putar di atas kepalanya dan mengeluarkan suara dahsyat itupun terhenti gerakannya, matanya mendelik, hidungnya kembang kempis menyedot-nyedot ketika kepala dan tubuhnya tersiram air panas dari atas pohon! Cekel Aksomolo mengangkat muka ke atas dan malang baginya, karena gerakan ini air kencing itu tepat mengenai muka, memasuki hidung dan mulutnya! Ia terbangkis-bangkis, terbatuk-batuk dan seketika tubuhnya menjadi lemas seakan-akan semua urat syarafnya menjadi lumpuh.
"Aihhh...... aihh...... celaka awak...... sial dangkalan..... bocah edan kau... "
Ia melihat seorang anak laki-laki tertawa di atas pohon. Ingin ia meloncat, ingin ia menghajar dan membunuh anak itu, akan tetapi tubuhnya sudah lemas, kekuatannya hilang. Inilah sirikannya, inilah pantangannya. Terkena air kencing anak-anak, ia seperti balon kehabisan angin, kempis dan peyot, seperti api tersiram air, ngebos dan padam! Saking lemasnya ia lalu mendeprok, kakinya dengkelen (tak dapat berjalan) dan ia hanya dapat merangkak keluar dari medan pertandingan.

Cekel Aksomolo merupakan tenaga yang paling kuat di antara mereka yang mengeroyok Narotama, maka setelah ia tidak aktif lagi, pengeroyokan itu mengendur dan empat orang perampok kembali roboh oleh tusukan pusaka dan tendangan ki patih yang sakti mandraguna. Pertandingan antara Ki Tejoranu dan Pujo berlangsung amat hebatnya. Karena pertandingan itu satu lawan satu, maka jauh lebih seru daripada pengeroyokan yang kacau-balau itu. Ki Tejoranu benar-benar hebat permainan sepasang goloknya, berdasarkan ilmu silat yang tinggi mutunya dan latihan yang sudah matang. Sekiranya Pujo hanya mengandalkan ilmu silat, ia takkan dapat menang melawan Ki Tejoranu. Akan tetapi semenjak kecil Pujo telah digembleng oleh Resi Bhargowo dalam hal ilmu kesaktian yang tidak hanya diperoleh dengan latihan, melainkan terutama sekali dengan ketekunan bertapa sehingga ia berhasil memupuk hawa kesaktian yang di dalam tubuh dan panca indera. Oleh karena itu, dalam hal kesaktian ilmu alam dan mantera ini ia lebih tinggi tingkatnya. Melihat betapa hebat permainan golok lawannya, Pujo segera mengerahkan aji kesaktiannya, menyalurkan hawa sakti ke dalam kedua lengan sampai terasa getarannya ke ujung-ujung jari tangan, kemudian ia memekik dan mainkan Aji Pethit Nogo! Bukan main hebatnya aji ini. Sepuluh jari tangannya menjadi kuat melebihi baja dan sekali ia mencengkeram, golok kiri lawan sudah berada dalam genggamannya. Ki Tejoranu terkejut sekali dan juga heran. Manusia aneh ini memang paling senang berkelahi, paling senang menguji kepandaian orang lain dan agaknya memang itulah "hobbynya". Agaknya itu pula yang membuat ia pergi merantau meninggalkan negaranya yang begitu jauh, menempuh pelayaran yang memakan waktu berpekan-pekan. Di manapun ia tiba, ia selalu mencari-cari orang pandai untuk diadu ilmunya! Ia maklum bahwa Jawa-dwipa merupakan pulau aneh yang mempunyai banyak orang-orang sakti, tempat orang-orang bertapa. Ia maklum pula bahwa rakyat pulau ini adalah orang-orang tahan tapa, orang-orang yang memiliki kekuatan batin hebat sekali, dan untuk menghadapai orang sakti yang memiliki daya getaran aneh dalam gerakannya, kadang-kadang ilmu silat tidak dapat menahan. Kini menyaksikan betapa orang muda ini dengan tangan kosong berani mencengkeram goloknya, ia menjadi kaget. Goloknya adalah golok terbuat daripada baja murni dan amat kuat dan tajam. Kalau sekali ia menarik golok dibarengi tenaga dalam, bukankah jari-jari orang muda itu akan putus semua?
"Wah, kau hebat, olang muda! Lepaskan golokku, bial kita mencoba dengan tangan kosong!"
Pujo menjadi gemas hatinya. Ia datang untuk membantu Rakyana Patih Kanuruhan dikeroyok, siapa tahu kini ia dihalangi seorang yang agaknya haus akan perkelahian! Ia melepaskan goloknya lalu mengirim serangan dengan Pethit Nogo yang ampuh.
"Hayaaa.......! Tunggu dulu.......!"

Hebat gerakan Ki Tejoranu karena tubuhnya sudah mencelat ke udara, jungkir balik beberapa kali dan ketika tubuhnya turun ke atas tanah, ia telah menyarungkan sepasang goloknya dan kini memasang kuda-kuda dengan tangan kosong! Kuda-kudanya kokoh kuat seperti batu gunung, tubuhnya agak merendah, tangan kanan dikepal mepet di lambung kanan sedangkan tangan kiri dengan ibu jari ditekuk ke tengah dan jari-jari lainnya lurus tegak, berdiri di depan dada! Pujo yang tergesa-gesa ingin lekas dapat membantu ki patih, segera menerjang maju. Gerakannya adalah gerakan Bayu Tantra, ilmu pukulannya adalah Pethit Nogo, hebatnya bukan main, dahsyat bagaikan badai mengamuk, panas bagaikan kawah meletus!
"Haaiiiitt.......!" Ki Tejoranu kagum dan kaget menghadapi serbuan dahsyat ini, cepat kakinya bergerak miringkan tubuh dan tangannya menangkis dengan gerakan menekuk, lalu pada detik berikutnya tangan kanannya yang menempel lambung tadi sudah mencuat ke depan dengan dua jari tangan, telunjuk dan jari tengah, mengarah pada mata lawan.
"Yaaaaattt!"
Hebat kesudahannya! Gempuran lengan tadi membuat tubuh Ki Tejoranu terdorong ke belakang, namun serangan jarinya ke arah mata membuat Pujo kaget sekali dan cepat-cepat mencelat mundur. Pujo melompat ke belakang dengan kaget sedang Ki Tejoranu terhuyung-huyung ke belakang, kuda-kuda kakinya tergempur oleh kekuatan mujijat Aji Pethit Nogo! Pada saat itu, Narotama sudah mengamuk makin hebat karena Cekel Aksomolo tak dapat aktip lagi dalam pertempuran karena tubuhnya masih lemas dan mlempem seperti kerupuk dingin. Sudah ada sembilan orang perampok roboh olehnya. Melihat ini, Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso menjadi gentar juga. Ki Krendoyakso lalu membaca mantera, tangannya bertepuk tiga kali dan sekali ia berteriak seperti lolong serigala, keadaan di situ seketika menjadi gelap seperti diliputi halimun! Juga kolor sakti Ki Warok Gendroyono meledak-ledak hebat ditambah penggada Wojo Ireng diputar-putar. Terpaksa Narotama yang maklum bahwa kepala rampok Bagelen itu mempergunakan ilmu hitam, meloncat ke belakang untuk menjaga diri dan memusatkan panca indera. Karena keadaan gelap, otomatis pertandingan antara Pujo dan Ki Tejoranu berhenti dengan sendirinya. Pujo juga cepat melompat mundur dan berdiri tegak, bersedakep dan memusatkan panca indera untuk melawan pengaruh ilmu hitam. Pujo berdiri di sebelah barat dan Narotama berdiri di sebelah timur!

Yang merasa heran sekali adalah Joko Wandiro. Karena ia berada di atas pohon, agaknya dia seoranglah yang terbebas daripada pengaruh ilmu hitam! Ia memang melihat betapa medan pertempuran itu menjadi gelap seperti tertutup awan hitam, akan tetapi ia dapat melihat betapa sibuknya para pengeroyok itu berkemas, menolong teman-teman yang luka, kemudian meninggalkan tempat itu tergesa-gesa. Sedangkan kakek yang dikeroyok tadi dan ayahnya hanya berdiri saja bersedakap seperti arca, sama sekali tidak bergerak, juga tidak mencegah lawan mereka itu melarikan diri! Narotama membuka matanya, menggerakkan kedua lengannya mendorong ke depan beberapa kali dan ambyarlah halimun gelap itu. Keadaan sebentar saja menjadi terang kembali dan di situ ternyata telah sunyi. Gerombolan musuh tadi sudah lenyap, seorangpun tak tampak. Yang tampak hanya seorang pemuda tampan yang tadi dilihatnya membantunya dan bertanding melawan Ki Tejoranu yang ampuh sepasang goloknya. Pujo juga menghentikan samadhinya dan kini dia maju bertekuk lutut, bersembah sujut di depan Narotama.
"Hamba menghaturkan sembah ke hadapan Gusti Rakyana Patih!" kata Pujo dengan hormat.
Narotama sejenak memandang tajam, lalu bertanya, nada suaranya lembut.
"Orang muda, terima kasih atas bantuanmu. Musuh terlampau banyak dan amat kuat. Siapakah engkau, wahai orang muda yang perkasa?"
"Ampunkan hamba yang bodoh sehingga tidak berhasil membasmi orang-orang jahat yang menyerang paduka. Hamba bernama Pujo......."
"Pujo?" Narotama mengerutkan kening, pandang matanya tajam sekali penuh selidik ke arah orang muda yang masih berlutut itu. "Engkau dan Resi Bhargowo.......? "
Pujo terheran.
"Resi Bhargowo adalah guru dan ayah mertua hamba......."
"Jagad Dewa Batara! Engkaukah yang bernama Pujo? Heh, Pujo apakah engkau kira dosa-dosamu dapat kau tebus hanya dengan membantuku tadi?"
Pujo makin terheran, mengangkat mukanya memandang wajah ki patih. Namun ia segera menundukkan mukanya lagi, tak kuasa lama-lama menentang pandang mata yang tajam berwibawa itu.
"Ampun, gusti patih. Sesungguhnya hamba tidak mengerti apa gerangan maksud kata-kata paduka tadi."
"Heh, Pujo! Masih berpura-pura lagi-kah engkau? Engkau dan Resi Bhargowo telah berusaha memberontak kepada Kahuripan! Masih engkau hendak menyangkal?"

Andaikata ada petir menyambar kepalanya di saat itu, belum tentu Pujo akan sekaget ketika mendengar ucapan ini. Kembali ia menengadah dan memandang kali ini lebih berani terdorong kebersihan hatinya.
"Sama sekali tidak, gusti patih! Mana hamba berani memberontak?"
Narotama tersenyum.
"Hemm, orang muda. Kulihat engkau seorang yang cukup perkasa. Orang yang melakukan sesuatu, baik atau keliru, akan tetapi berani mempertanggung jawabkan perbuatannya, dialah baru disebut gagah. Kau yang semuda dan segagah ini apakah hendak menyangkal hal-hal yang telah kau lakukan? Bukankah engkau telah menyerbu Kadipaten Selopenangkep, membuat kekacauan di sana, berusaha membunuh Adipati Joyowiseso dan melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk?"
Lega kini hati Pujo. Kiranya itukah yang dijadikan alasan dia memberontak? Ternyata orang telah memutar balikkan fakta, menyampaikan kepada ki patih secara terbalik sehingga dia yang terkena fitnah memberontak!

<<< Bagian 039                                                                                    Bagian 041 >>>

No comments:

Post a Comment